Senin, 31 Mei 2010

Saya Bukan Perokok. Anda?


Gambar dipinjam dari sini.

Saya Bukan Perokok. Anda?

Melalui blog ini lagi-lagi saya menulis secara agak personal. Itu ditandai dengan kata ganti “saya”. Memang, terkadang lebih mudah menulis secara personal dengan kata ganti “saya”. Pengalaman “saya” itulah yang paling dekat dengan saya sehingga dengan mudah terekpresi dalam bentuk tulisan.

Dengan itu mungkin saya tergolong narsis dan barangkali akan membuat Anda jenuh. Sebagaimana Anda ketahui bahwa sebagian tulisan di blog saya ini tentang saya. Kita ketahui pula dalam menulis itu bisa berdasarkan dari sudut pandang “saya”, “dia”, “kami”, “mereka” maupun “kita”. Di balik itu, semua bergantung pada sang penulis dalam mengolah tulisannya.

Baiklah, kembali pada judul di atas. Saya yang akhir tahun 2010 ini akan berumur 26 tahun, bukan seorang perokok aktif. Ini sekaligus bentuk kampanye saya agar jangan merokok. Terlebih memperingati hari tanpa tembakau yang jatuh pada 31 Mei 2010 kemarin. Katanya lingkungan berpengaruh terhadap pilihan seseorang. Lingkungan saya tergolong sebagai perokok. Ayah saya seorang perokok aktif, bahkan merokok sejak masih muda. Paman saya yang tinggal di sebelah rumah saya juga perokok aktif. Di antara empat anggota keluarga saya, hanya ayah saya yang perokok.

Tidak lazim seorang perempuan merokok. Dalam hal ini ibu saya dan seorang adik saya yang perempuan tidak merokok. Dalam perjalanan naik kereta api kelas bisnis, Jember-Surabaya, saya pernah ditanyai oleh seorang laki-laki yang duduk di sebelah saya. Dia bertanya apakah saya merokok. “Enggak,” jawab saya. Katanya, tidak pas jika laki-laki tidak merokok. Maka dari itu, merokok agaknya didominasi oleh kalangan laki-laki.

Apabila perempuan yang merokok dianggap tidak lazim maka laki-laki yang tidak merokok dianggap lazim-lazim saja. Dalam hubungan ini, kita sepakat bahwa merokok juga tidak lazim, bahkan tidak boleh dilakukan oleh anak-anak. Kita juga wajib prihatin jika seorang balita merokok. Sebagaimana kita saksikan di televisi seorang balita yang merokok. Kita juga saksikan kameramen menyamarkan si balita yang perokok.

Merokok atau tidak merokok itu bergantung pada orangnya atau kembali pada pribadi masing-masing. Begitu kata orang-orang. Kiranya orang dewasa sudah tahu tentang baik buruk merokok. Jadi, meskipun lingkungan perokok maka bukan berarti membuat seseorang menjadi perokok.

Hampir semua tahu akibat yang ditimbulkan dari kebiasaan merokok. Khususnya akibat terhadap gangguan kesehatan. Contohnya adalah ayah saya yang setiap paginya batuk-batuk karena kebiasaan merokoknya. Saya sudah seringkali mengingatkannya, tetapi ini belum bisa menghentikannya dari ketagihan merokok.

Terkadang, saat ayah saya duduk dan merokok dan asap rokoknya itu menghampiri saya maka saya tak sungkan untuk memintanya agar pindah tempat. Saya tidak mau menjadi perokok pasif. Bayangkan, ayah saya itu rata-rata bisa menghabiskan lima batang rokok dalam sehari.

Karena tidak ingin menjadi perokok pasif, sampai hari ini saya enggan ikut kegiatan yasinan. Tentu ini hanya satu alasan saya saja saya tidak lagi mengikuti kegiatan yasinan yang selenggarakan setiap Kamis malam Jumat itu. Namun, terkadang saya ikut tahlil dan tetap berusaha menghindarkan diri dari asap para perokok. Di samping itu, konon, kalangan perempuan lebih menyukai laki-laki yang bukan perokok.

Seorang perokok tentu merasakan “nikmatnya” rokok. Saya juga perlu jujur bahwa saat kelas 5 SD saya pernah mencoba rasanya merokok. Itu pun hanya beberapa kali isapan dan saya tidak sampai menghabiskan satu batang rokok. Itu juga sebagai rokok yang pertama dan terakhir untuk saya. Dari hal itu, seorang perokok kira-kira akan merasakan manisnya rokok. Saat diterpa masalah, merokok barangkali bisa mengalihkan perhatian atas masalah. Namun, tentu itu tidak bisa jadi alat pembenar agar merokok. Lagi pula, tidak merokok juga tidak apa-apa.

Suatu hari saya juga pernah bertemu dengan seorang wartawan yang sekaligus seorang perokok. Dia ingin berhenti dari merokok, tetapi belum bisa. Dia pun mengatakan, fatwa tentang hukum merokok itu haram yang televisi wartakan justru akan meningkatkan penjualan rokok. Katanya pula, jika hukum rokok itu haram karena berdampak terhadap kesehatan maka mengonsumsi gula juga akan diharamkan karena bisa menyebabkan kencing manis.

Wartawan tadi juga mengatakan bahwa lebih banyak orang yang meninggal karena kencing manis daripada orang yang meninggal karena merokok. Dia juga menambahkan bahwa produk pertanian yang kita makan juga mengandung bahan pestisida yang sesungguhnya juga berbahaya bagi tubuh. Entah bagaimana kebenaran ilmiah atas pendapat kawan saya itu. Namun, itu hasil perbincangan kami terkait rokok yang melebar sampai ke situ.

Kita juga tahu bahwa dalam kehidupan bernegara, rokok ini juga sarat kepentingan, khususnya ekonomi. Negara menarik cukai atas rokok. Maka dari itu, negara dapat uang. Industri rokok pun menyerap tenaga kerja. Konser musik, film, dan iklan-iklan di media, baik cetak maupun elektronik juga melibatkan industri rokok. Di balik itu, kita mungkin juga tahu bahwa negara mengeluarkan biaya kesehatan yang tinggi karena penyakit yang diderita warganya yang disebabkan oleh rokok.

Sampai hari ini, saya sudah memilih bahwa saya bukan perokok. Anda?












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar