Rabu, 11 Mei 2011

Lebih Baik Tidak Bersekolah?

Lebih Baik Tidak Bersekolah?

Tetangga saya di dusun, tidak menyekolahkan anaknya yang laki-laki ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dia yang anak pertama dari dua bersaudara itu cukup disekolahkan sampai Sekolah Dasar (SD). Dia lulus SD tahun 2009 silam. Setelah lulus aktifitasnya antara lain mencari rumput untuk pakan sapinya. Terkadang juga membantu ayahnya di sawah.

Sebetulnya orang tuanya bisa menyekolahkan anaknya ke SMP. Jaraknya sekitar 1 km dari rumahnya. Namun, mungkin orang tuanya berpikir, sekolah di jenjang menengah pertama itu buang-buang uang. Lagi pula setelah lulus SMP maka masih harus meneruskan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) atau yang sederajat. Lagi pula, jika lulus dari SMP, tidak ada jaminan dapat pekerjaan. Lowongan kerja di kota sebagai karyawan toko pun umumnya mensyaratkan lulusan SMA.

Ada data. Di Kabupaten Kediri (Radar Kediri, 2 Mei 2011) pada tahun 2010, dari 24.000 siswa lulusan SD, 22.400 (93,24%) siswa meneruskan ke jenjang SMP. Lalu 1.600 (6,58%) siswa tidak melanjutkan ke SMP. Dalam tulisan di koran tersebut, pola pikir dan kemiskinan dianggap sebagai faktor utama bersekolah itu cukup sampai SD.

Tahun 2002 saat saya SMA, saya pernah satu kelas dengan teman yang tergolong pandai di kelas. Maret 2011 lalu lewat sms saat saya bertanya pekerjaannya dia menjawab dia jadi kuli. Menurut informasi, dia karyawan toko. Pendidikan terakhirnya SMA dari SMA yang dianggap favorit di lingkup kabupaten. Saat SMA saya berpikir paling tidak dia akan kuliah di sekolah tinggi ikatan dinas dan menjadi PNS. Namun, kenyataan berkata lain.

Teman SMA saya yang juga tergolong pandai di kelas sudah beberapa tahun ini bekerja di perusahaan multinasional yang bergerak di bidang pertambangan minyak. Setelah lulus dari SMA dia kuliah di institut terkemuka di negara ini. Gajinya lebih besar daripada gaji seorang bupati. Saya bisa memaklumi dia saat ini jika melihat sosoknya saat SMA.

Teman SMA saya juga ada yang menjadi guru. Mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK) sampai jenjang perguruan tinggi. Mereka semua lulusan perguruan tinggi (PT). Masih tentang teman SMA saya. Beberapa di antaranya ada yang bekerja di bank, kantor pemerintah kecamatan, kantor pemerintah kabupaten, sampai kantor pemerintah pusat, yakni tingkat kementerian yang lembaga sejenisnya. Sekali lagi mereka semua lulusan PT, entah di akademi, sekolah tinggi, universitas, maupun institut.

Paparan tersebut berhubungan dengan sekolah. Dalam arti tertentu bersekolah itu pilihan. Orang menganggap bersekolah cukup sampai SD saja itu bisa jadi bentuk ketidakpercayaan pada sekolah. Lagi pula jika sekolah tinggi-tinggi, saat ini terkadang perlu menyogok dengan uang agar mendapat jabatan atau pekerjaan. Bapak dari anak tetangga saya itu mungkin tahu tentang praktik itu. Bisa jadi pula pemerintah menganggap bersekolah cukup sampai SD maka pemerintah negara ini bisa malu dengan negara tetangga. Potret akan warga negaranya yang berpendidikan rendah.


0 komentar:

Poskan Komentar