Jumat, 08 Februari 2013

Sang Komandan



Sang Komandan
                Suatu hari saat berlangsung upacara bendera hari Senin di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Nganjuk tempat saya mengajar, komandan upacaranya seorang siswi. Upacara saat itu sekaligus penyerahan hadiah juara I, II, dan III olimpiade sains tingkat tsanawiyah dan atau sekolah menengah pertama yang diadakan oleh MAN Nganjuk dalam rangka HUT MAN Nganjuk yang ke-19. Sebagai komandan upacara perempuan, suaranya lantang. Dia tidak tampak grogi meskipun pertama kali menjadi komandan upacara. Postur badannya juga sesuai sebagai komandan upacara. “Kepada pembina ucapara, hormaaaaat gerak!”, kata sang komandan upacara. Penampilannya sebagai komandan upacara pun memukau.
                Maklum. Sang komandan upacara ini bergabung dengan ekstrakurikuler pasukan pengibar bendera pusaka (paskibraka) yang relatif baru terbentuk di MAN Nganjuk. Sebelum bergabung dengan ekstrakurikuler paskibraka kiranya dia sudah mengenali dirinya. Misalnya bakat suaranya, diterimanya di ekstrakurikuler ini, maupun kemungkinannya akan menjadi komandan upacara. Melalui proses, sekian waktu tertentu, lewat ekstrakurikuler ini komandan upacara yang duduk di bangku kelas XI ini dikenali dan diakui kemampuannya.
                Kisah nyata sang komandan upacara ini sebentuk pembelajaran. Bagaimana seorang individu mengenali bakat. Dengan bakatnya dia mengambil kesempatan, bisa merasa menjadi komandan upacara. Berdiri di antara ratusan peserta upacara dan menjadi pusat perhatian saat menjalankan tugasnya. Paling tidak sebelum itu dia memiliki bayangan tentang tugas yang akan dijalankannya. Karenanya, tidak setiap individu berani menjadi komandan upacara. Kalaupun seseorang berani, tetapi dirinya tahu jika suaranya tidak bisa melengking maka individu akan berpikir ulang menjadi komandan upacara. 
Pengenalan diri itu tadi tergolong dalam kecerdasan. Dalam hal ini, pengakuan kemampuan menjadi komandan upacara. Akan tetapi, pengakuannya terbatas di lingkup sekolah. Lebih khusus lagi dalam upacara bendera. Dalam menyerap pelajaran kemampuan sang komandan upacara ini sulit tiga besar nilai rapot tertinggi di kelasnya. Namun, jika siswa yang peringkat satu itu menjadi komandan upacara maka juga tidak sehebat sang komandan ini. Ini pun membuktikan jika kemampuan individu berbeda-beda.
Mengenal diri maupun kesadaran diri yang diasah sepanjang hidup kiranya penting. Dalam hubungan sosial yang lebih luas lagi, di luar lingkungan sekolah, tentu saja mengenal diri tidak terbatas menjadi komandan upacara saja. Setelah seseorang lulus dari sekolah justru kesadaran diri demi derajat hidup layaknya perlu terus menerus diperjuangkan. Begitu juga dengan kesadaran diri dalam proses belajar sepanjang hidup. Dalam kepastian maupun ketidakpastian hidup.
                               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar