<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104</id><updated>2012-01-30T06:43:40.255-08:00</updated><category term='Puisi'/><category term='Kutipan dari Sumber Lain'/><category term='Catatan Perjalanan'/><category term='Kamus Kecil'/><category term='Seputar Nganjuk'/><category term='Tentang Aku'/><category term='Topik lainnya'/><category term='Cerita dari Dusunku'/><category term='Artikel'/><category term='Resensi Buku'/><category term='Mengenai Menulis'/><category term='Cerita dari SMA'/><category term='Cerita Pendek'/><category term='Esai'/><category term='Analisis Sosiologi'/><category term='Peristiwa'/><category term='Prediksi Soal UN  Sosiologi 2009 dan Pembahasannya'/><category term='Tentang Sosiologi'/><title type='text'>puguh sosiologi</title><subtitle type='html'>TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI BLOG INI. 
Blog ini berisi pandangan saya dlm bentuk tulisan. Silakan mengomentari dan bertanya terkait blog ini. Profil diri saya umumnya memengaruhi tulisan-tulisan dlm blog ini. Tautan blog ini jg ada di facebook. Semoga isi dalam blog ini bermanfaat.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>136</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-116899740788064778</id><published>2011-12-28T19:46:00.000-08:00</published><updated>2011-12-28T19:46:26.085-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seputar Nganjuk'/><title type='text'>Perpanjangan SIM C</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div align="CENTER" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;PerpanjanganSIM C&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Selasa, 27 Desember 2011 saya mengurus perpanjangan SIM C dikepolisian resor (Polres) Nganjuk. Saya tiba sekitar pukul 07.30.Dengan datang pagi, saya berharap tidak antre terlalu lama. Begitusaya memarkir sepeda motor, saya diminta oleh seorang bapak yangmemarkir motornya dekat motor saya. Beliau meminta agar bersama-samadalam perpanjangan SIM ini. Orang yang tidak terbiasa dalampengurusan SIM memang bisa merasa bingung. &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Setelah membayar parkir Rp 1.000,- saya langsung menuju foto kopi.Saya berusaha mengingat-ingat perpanjangan SIM sebelumnya.Perpanjangan ini merupakan kali kedua. Kali pertama perpanjangantahun 2006. Seperti halnya saat saya ke tempat foto kopi. Di tempatfoto kopi ini KTP dan SIM lama difoto kopi. Kalau tidak salah rangkapsatu. Saya juga diberi wadah SIM. Di tempat foto kopi ini sayamembayar Rp 6.000,-. &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Kemudian, saya menuju loket untuk mengambil map. Perpanjangan kaliini memang berbeda dibandingkan dengan perpanjangan, misalnya tahun2009 silam. Perbedaannya misalnya meja pengambilan map. Setelahmendapatkan map saya menuju ruangan tempat mengambil blangko sidikjari. Setelah mengisi blangko lalu menghubungi petugas yang membantusidik jari. Dalam pengisian ini saya sengaja membawa pena sendiriuntuk memperlancar pengisian. &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Begitu selesai saya kembali ke ruangan tempat mengambil blangko tadi.Di ruangan ini pula saya mengumpulkan foto berwarna 3 x 4 dua lembar.Saya memang sudah menyiapkan foto dari rumah. Sebab untuk fotomendadak di sana perlu biaya Rp 15.000,-. Letak studio fotonya diseberang jalan komplek Polres. Begitu map distempel telah sidik jarisaya langsung menuju loket pembayaran seperti kata petugas di ruanganini. &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Dalam hati saya bertanya, apakah tidak perlu cek kesehatan. Ternyatapetugas di loket pembayaran meminta saya agar cek kesehatan terlebihdahulu. Dokter yang memberikan surat keterangan sehat terletak diseberang jalan. Bersebelahan dengan studio foto. Jika sepi biasanyacek kesehatan ini paling lama butuh waktu 20 menit. Namun, hari itusaya berdiri kurang lebih satu jam sebab saking banyaknya orang yangmengantre. Map dari loket pembayaran tadi dipakai sebagai tandaantrean. Surat keterangan sehat ini sebagai salah satu syaratkelengkapan administrasi. Katanya itu terkait libur Natal dan cutiNatal pada Senin. Terlebih itu hari pertama di minggu akhir Desember.Konon, hari Sabtu lebih sepi pengantre daripada hari kerja lainnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Begitu mendapatkan surat keterangan sehat saya langsung ke loketpembayaran. SIM lama juga disertakan dalam map. Setelah menunggubeberapa saat nama saya dipanggil. Saya membayar Rp 75.000,- untukbiaya perpanjangan itu. Lalu saya diberi nomor antrean yang tercetaksecara elektronik. oleh petugas disebelahnya. Saat itu nomor antreansaya 134. Pada saat yang sama, nomor yang dilayani saat itu baruantrean nomor 100. &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Pemanggilan nomor antrean dilakukan mesin pemanggil. Begitu nomorantrean saya dipanggil, saya menuju ruang foto untuk SIM. Rata-ratadi ruangan ini dipanggil empat sampai enam orang. Begitu difoto, sayamenunggu SIM saya dicetak. Beberapa menit kemudian, SIM dicetak. Sayapun langsung meninggalkan Polres sekitar pukul 11.00. Saat saya masuktadi dan saat saya keluar saya melewati gerbang yang baru bagi saya.Begitu saya meninggalkan Polres masih tampak orang mengantre untukmendapatkan surat keterangan sehat.  &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-116899740788064778?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/116899740788064778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/12/perpanjangan-sim-c.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/116899740788064778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/116899740788064778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/12/perpanjangan-sim-c.html' title='Perpanjangan SIM C'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-2061067429458957179</id><published>2011-12-25T19:45:00.000-08:00</published><updated>2011-12-28T19:47:06.173-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamus Kecil'/><title type='text'>Kamus Kecil</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Abduksi&lt;/b&gt;adalah penalaran untuk merumuskan hipotesis berupa pernyataan &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;umum yang kemungkinan kebenarannya masih perlu diuji coba. &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Misalnya diketahui bahwa semua pohon mangga di kebun Pak Amat adalah &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;mangga jenis manalagi. Di dapur Pak Amat ada banyak buah mangga dan &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;semuanya berjenis manalagi. Ada kemungkinan besar bahwa mangga-mangga&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;itu dipetik dari kebun Pak Amat sendiri (Sudarminta, 2002:39).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Agnostik&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;orang yang berpandangan bahwa kebenaran tertinggi(msl Tuhan) &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;tidak dapat diketahui dan mungkin tidak akan diketahui (KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Agnostisisme&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;i&gt;Sos&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;paham yang mempertahankanpendapat bahwa manusia itu &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;kekurangan informasi atau kemampuan rasional untuk membuatpertimbangan &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;tentang kebenaran tertinggi (KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Aksiologi&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n &lt;/i&gt;kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Anotasi&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt; catatan yang dibuat oleh pengarang atau orang lain untukmenerangkan, &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;mengomentari, atau mengkritik teks karya sastra atau bahan tertulislain&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Antropologi&lt;/b&gt;pengaruh norma, nilai dan kepercayaan pada kesehatan jiwa, &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;pengaruh keluarga, pernikahan, perceraian, struktur keluarga, fungsi &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;keluarga, gangguan keluarga, umpanya keluarga yang berantakan, &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;yang aneh, terpecah belah, yang mempunyai cara berkomunikasi yang &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;kasar, keluarga yang berkekurangan psikologik, umpamanya &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;ketidakmatangan yang hebat, retardasi mental, kegagalan orang tua &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;untuk menjadi contoh, ayah atau ibu yang masih terlalu bergantungpada &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;orang tuanya sendiri atau menuntut prestasi yang berlebihan (Maramis,&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;1980:23-24).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Apokrifa&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt; 1 yang diragukan keasliannya; tidak dapat dipercaya (ttasal usul naskah); &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;2 bagian-bagian Al kitab yang diakui Gereja Katolik, tetapi tidakdiakui oleh&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Gereja Protestan dan Yahudi&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Apostasi&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;keingkaran terhadap agama (KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Apostolik&lt;/b&gt;&lt;i&gt;a&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;berhubungan dengan atau berdasarkan ajaran pararasul (KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Apriori&lt;/b&gt;&lt;i&gt;a&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;berpraanggapan sebelum mengetahui (melihat,menyelidiki, dsb) &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;keadaan yang sebenarnya (KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Begitu&lt;/b&gt;&lt;i&gt;cak&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;segera setelah&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Bermanjau&lt;/b&gt;&lt;i&gt;v&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;bertandang (tt anak laki-laki ke rumah gadis)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Bioritme&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;teori yang berdasar pada pendapat ilmiah bahwa ditubuh manusia &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; margin-left: 0.5in;"&gt;sejak lahir sudah tersimpul tiga macam siklus (ritme) yang bekerjasecara aktif sampai saat meninggal, yaitu siklus fisik, siklusemosional, dan siklus intelektual (KBBI).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Coercion&lt;/b&gt;kb. (penggunaan) paksaan, kekerasan (Hasan Shadily dan JhonEchols)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; margin-left: 0.5in;"&gt;Keadaan atau syarat yang sangat diperlukan (yang sangat mutlak)&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Conditio sine qua non&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Dayarasa &lt;/b&gt;atau emosionalitas; salah satu komponen temperamen disamping&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;daya gerak (mobilitas) dan daya hidup (vitalitas); kemampuan &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;merasakan sesuatu, kemampuan menyatakan perasaan secara spontan; &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;mungkin terbuka, hangat atau tertutup, dingin (Maramis, 2004: 728).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Dayahidup &lt;/b&gt;atau vitalitas; salah satu komponen temperamen disampingdaya &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;gerak (mobilitas) dan daya rasa (emosionalitas); kegairahan hidup dan&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;berusaha, bertindak serta berbuat sesuatu; mungkin tinggi atau rendah&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;(Maramis, 2004: 728). &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Deifikasi&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;pendewaan&lt;b&gt; (KBBI).&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Deisme&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;pandangan hidup atau ajaran yang mengakui adanyaTuhan sbg &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;pencipta alam semesta, tetapi tidak mengakui agama krn ajarannya &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;didasarkan atas keyakinannya pada akal dan kenyataan hidup (KBBI).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Deisme&lt;/b&gt;merupakan suatu aliran yang mengakui adanya pencipta terhadap alam &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;semesta ini. Akan tetapi setelah alam semesta selesai diciptakan,Tuhan &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;menyerahkan dunia pada nasibnya sendiri (Charris, 1997: 11).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Delirium&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;gangguan mental yang ditandai oleh ilusi,halusinasi, ketegangan otak, &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;dan kegelisahan fisik (KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Dereistik&lt;/b&gt;bentuk pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan, logika atau &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;pengalaman, masih dalam batas-batas normal, tetapi sering disamakan &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;dengan nonrealistik otistik (Lih. Nonrealistik dan otisme) (Maramis,2004: &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;730).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Demensia&lt;/b&gt;suatu keadaan sindroma otak organik yang menahun karena dengan &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;terutama penurunan intelegensi disamping gangguan sifat kepribadian, &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;gangguan pertimbangan dan juga afek; karena kerusakan jaringan otakyang &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;ireversibel (kalau delirium itu reversibel) (Maramis, 2004: 729).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Disensus&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;situasi sosial yang memperlihatkan terjadinyaketidaksepakatan &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;mengenai penerapan nilai-nilai tertentu (KBBI).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Diskresi&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt; kebebasan mengambil keputusan sendiri dalam setiapsituasi &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;yang dihadapi&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Disorganisasiperorangan &lt;/b&gt;suatu kondisi dalam hal seseorang tidak mampu &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;berfungsi secara efektif karena adanya kebimbangan yang biasanya &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;karena orang tersebut mendapatkan dua standar perilaku yang &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; margin-left: 0.5in;"&gt;bertentangan. Keadaan ini dapat bersifat sementara atau transisional,tetapi dapat juga tertanam lama di dalam jiwa seorang individu (PusatPembinaan dan Pengembangan Bahasa Depertemen Pendidikan danKebudayaan, 1984:14)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Disorganization,personal &lt;/b&gt;suatu kondisi merosotnya kemampuan seseorang untuk &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;menyerasikan diri dengan pola perilaku yang dianut (disorganisasipribadi)—&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Soekanto—. &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Disorganization,social &lt;/b&gt;berkurangnya pengaruh kekuatan norma-norma terhadap &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;warga-warga masyarakat (disorganisasi sosial)—Soekanto—.&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Disorganisasiatau disintegrasi &lt;/b&gt;suatu disorganisasi atau disintegrasi mungkindapat &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;dirumuskan sebagai suatu proses berpudarnya norma-norma dannilai-nilai &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;dalam masyarakat, karena perubahan-perubahan yang terjadi padalembaga-&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;lembaga masyarakat (Soekanto)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Dispersi&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt; pergerakan untuk perpindahan individual, terutama untukmendiami &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;lingkunganbaru. &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Disposotio&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n Bio&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;pembawaan mudah mendapat suatu penyakit&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Ecumenical&lt;/b&gt;yang berhubungan dengan gereja Kristen&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Eidetik&lt;/b&gt;&lt;i&gt;a&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Psi&lt;/i&gt; berkenaan dengan kemampuan melihat kembalisecara &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;jelas hal-hal yang dialami pada masa lampau&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Eksoterik&lt;/b&gt;pengetahuan yang boleh diketahui atau dimengerti oleh siapa saja&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Ekolalia&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;dorongan yang kuat tidak terkendalikan daripenderita &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;gangguan jiwa untuk meniru ucapan atau perbuatan yang &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;dilakukan orang lain; kelatahan&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Elusif&lt;/b&gt;a&lt;b&gt; &lt;/b&gt;1 sukar dipahami atau diartikan; 2 sukar diidentifikasi(KBBI).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Emanasi&lt;/b&gt;pancaran (Ensiklopedia Islam, 1994. 75. Ciri-ciri umum tasawuf)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Emotif&lt;/b&gt;&lt;i&gt;a&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;1 berkenaan dgn (berhubungan dengan) emosi; 2bersifat menimbulkan &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;(membangkitkan) emosi; &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Epikuris&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;orang yang mempunyai paham bahwa kenikmatanrohaniah lebih &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;tinggi daripada kenikmatan jasmaniah (KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Epistemologi&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;cabang ilmu filsafat tentang dasar-dasar danbatas-batas ilmu &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;pengetahuan&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Esensi&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;hakikat; inti; hal yang pokok; -- pertikaianantara kedua tokoh itu ialah &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;pertentangan ideologi (KBBI).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Esoteric&lt;/b&gt;hanya diketahui dan dipahami oleh beberapa orang tertentu saja. &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Esoteris&lt;/b&gt;bersifat khusus (rahasia, terbatas).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Eksaltasi&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;1 keriangan spiritual; 2 peningkatan suasana hatisecara abnormal; &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;keriangan yang kuat (KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Ekskursi&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; 1 &lt;/b&gt;perjalanan untuk bersenang-senang; piknik;darmawisata;&lt;b&gt; 2 &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;penyimpangan dr arah yang pasti; &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Eklektik&lt;/b&gt;&lt;i&gt;a&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;bersifat memilih yang terbaik dari berbagaisumber (tt orang, gaya, &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;metode) (KBBI).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Ekskursif&lt;/b&gt;&lt;i&gt;a &lt;/i&gt;ditandai dengan adanya penyimpangan&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Ekualitas&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;kesamaan status, hak, dan kewajiban yg dimilikioleh sesama &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;anggota masyarakat, kelompok tertentu, atau sebuah keluarga (KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Ekumenisme&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt; usaha untuk mendapatkan kembali persatuan penuh semuaorang &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;yang beriman Kristen (KBBI).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Evokatif&lt;/b&gt;&lt;i&gt;a &lt;/i&gt;mampu menggugah rasa&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Exegesis&lt;/b&gt;kb. Penjelasan penafsiran&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Eksegesis&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n &lt;/i&gt;penjelasan atau penafsiran teks, msl kitab suci agama(KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Extradition&lt;/b&gt;penyerahan tawanan (ektradisi)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Flegmatis&lt;/b&gt;&lt;i&gt;a&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;bertemperamen lamban, tidak mudah terangsang, danmempunyai &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;kebiasaan yang sukar diubah (KBBI). &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Gnosis&lt;/b&gt;pengetahuan religius (Ensiklopedia Islam, 1994. 75. Ciri-ciriumum tasawuf)&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Fenomenologi yangkhas dari fenomenologi adalah bahwa gejala-gejala yang &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;hendak diselidiki itu haruslah berupa gejala yang “murni” atau“asli”. &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;Artinya, gejala tersebut jangan dicampurbarukan dengan gejala lain&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;yang tidak berhubungan, atau diintervensi olehinterpretasi-interpretasi &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;lain yang berasal dari kebudayaan, kepercayaan, atau bahkan dariilmu &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;pengetahuan yang telah kita miliki tentang gejala tersebut. Inisesuai &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;dengan tujuan dari fenomenologi itu sendiri, yakni “kembali pada&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;realitasnya sendiri” (zu den sachen selbst). Realitas yangdimaksud tidak &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;lain adalah gejala pertama, murni, dan asli (Abidin, 2002:7). &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;Fenomenologi adalah metode yang bisa membantu kita untuk mendekati&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;gejala sebagaimana kita menghayati, menghidupi, atau mengalamigejala &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;itu secara sebenarnya (Abidin, 2002:69) Abidin, Zainal(Penyunting). &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;2002. Analisis Eksistensial untuk Psikologi dan Psikiatri. PTRefika &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;Aditama: Bandung.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Frame ofReference &lt;/b&gt;latar belakang dari dorongan (stimuli) yangmempengaruhi &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;kelakuanpandangan seseorang dalam keadaan tertentu (Vredenbregt, &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;1984:138).&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Friksi&lt;/b&gt; n 1.pergeseran yang menimbulkan perbedaan pendapat; 2 perpecahan&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Heuristik &lt;/b&gt;jalanyang dilalui menuju ilmu&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Heuristis &lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;Ling&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;bersangkutan dengan prosedur analitis yangdimulai dengan &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;perkiraanyang tepat dan mengecek ulang sebelum memberi kepastian (KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Ilmujiwa atau psikologi &lt;/b&gt;menambah pengertian tentang persepsi, kognisi(hal &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;berpikir dan memecahkan masalah), ingatan, pelbagai teori tentang &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;belajar, motivasi dan komunikasi antarmanusia (Maramis, 1980:23)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Insubordinasi&lt;/b&gt;n&lt;b&gt; 1 &lt;/b&gt;perlawanan atau pemberontakan terhadap atasan dlhubungan &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;dinas,msl awak kapal melawan nakhoda ; &lt;b&gt;2 &lt;/b&gt;keadaan membangkang atautidak &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;tundukpada perintah; &lt;b&gt;3 &lt;/b&gt;&lt;i&gt;Pol &lt;/i&gt;pembangkangan; pendurhakaan;ketidaktaatan; &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;ketidakpatuhan(KBBI).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Hibridisasi&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt; persilangan dari populasi yang berbeda &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002, Balai Pustaka)&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Imanen &lt;/b&gt;&lt;i&gt;a&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;berada dl kesadaran atau dl akal budi—pikiran—(KBBI).&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Immanent &lt;/b&gt;tetapada&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Imprecision&lt;/b&gt;kb ketidaksamaan, ketidaktepatan&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Impresionisme&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;aliran dalam seni lukis, seni sastra, dan senimusik yang lebih &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;mengutamakan pemberian kesan atau pengaruh terhadap perasaan &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;daripada kenyataan atau keadaan sebenarnya (KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Infantilisasi&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;proses, cara, perbuatan membuat seseorang menjadiseperti kanak-&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;kanak (KBBI).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Insubordinasi&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;1 perlawanan atau pemberontakan terhadap atasandalam &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;hubungan dinas, misal awak kapal melawan nakhoda; 2 keadaan &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;membangkang atau tidak tunduk pada perintah; 3 &lt;i&gt;Pol&lt;/i&gt;pembangkangan, &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;pendurhakaan, ketidaktaatan, ketidakpatuhan (KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Integumen&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;1 sesuatu yang meliputi atau melapisi; 2 &lt;i&gt;Bio&lt;/i&gt;lapisan terluar bakal biji &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;yang akan berkembang menjadi selaput biji (KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;inversi&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;1 pembalikan posisi, arah, susunan, dsb; 2 &lt;i&gt;Ling&lt;/i&gt;pembalikan susunan &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;bagian kalimat yang berbeda dari susunan yang lazim (msl &lt;i&gt;ia makanroti&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;menjadi &lt;i&gt;makan roti ia&lt;/i&gt;); 3 &lt;i&gt;Dok&lt;/i&gt; sungsang; 4 nafsu birahithd kelamin &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;sejenis (KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Kebatinan&lt;/b&gt;atau aliran kebatinan; suatu pandangan hidup dengan cara-caratertentu &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;untuk hidup; dinamakan juga aliran kepercayaan; bukan agama (Maramis,&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;2004:745)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Kemat&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;kemampuan adikodrati (KBBI).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Kerahiban&lt;/b&gt;atau monastisisme&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Kinetika&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n &lt;/i&gt;cabang pengetahuan dinamika tt pengaruh suatu gaya padagerakan &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;benda; ilmu gerak (KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Klenik&lt;/b&gt;kegiatan perdukunan (pengobatan dsb) dengan cara yang sangatrahasia &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;dan tidak masuk akal, tetapi dipercayai oleh banyak orang.&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Kohabitasi&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt; perihal tinggal serumah tanpa ikatan perkawinan&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Konstruk &lt;/b&gt;hasil abstraksi terhadap gejala-gejala yang dikonstruksikan &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;dalam pikiran belaka &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;(&lt;i&gt;Kamus Sosiologi&lt;/i&gt;, Prof. Dr. Soerjono Soekanto, S.H.,M.A., &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Cet. Ketiga Agustus 1993)&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Koinsidensi&lt;/b&gt;,kejadian yang kebetulan. Hal terjadinya peristiwa dalam waktu yang &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;sama&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Kataklisme&lt;/b&gt;n 1. banjir besar; 2. hura-hura hebat; &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;3. perubahan sosiopolitik yang membawa petaka (&lt;i&gt;cataclysmic&lt;/i&gt;).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Katalisator&lt;/b&gt;n 1 &lt;i&gt;kim&lt;/i&gt; katalis; 2 seseorang atau sesuatu yang menyebabkan &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;terjadinya perubahan dan menimbulkan kejadian baru atau &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;mempercepat suatu peristiwa.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Konflik&lt;/b&gt;perbedaan-perbedaan pendapat yang berkembang dalam masyarakat &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;dan perbedaan itudiakui sebagai sistem nilai yang harus dikembangkan&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;(RadikalismeKaum Pinggiran: Studi Tentang Issue, Strategi dan Dampak&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;Gerakan. Drs.Zaiyardam Zubir, M. Hum. Proyek Peningkatan Penelitian &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;Pendidikan TinggiDirektorat Jendral Pendidikan Tinggi &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;DepertemenPendidikan Nasional 2002).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Konvergensi&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;1 keadaan menuju satu titik pertemuan; memusat;(KBBI).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Mantiki&lt;/b&gt;a&lt;b&gt; &lt;/b&gt;berdasarkan pikiran (bukan berdasarkan emosi); logis&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Melankolia&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;kelainan jiwa yang ditandai oleh keadaan depresidan ketidakaktifan &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;fisik&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Melankolis&lt;/b&gt;&lt;i&gt;a &lt;/i&gt;dl keadaan pembawaan lamban, pendiam, murung, sayu;sedih; &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;muram&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Maqamat&lt;/b&gt;tangga, stasion, tempat pemberhentian sementara, digunakan untuk &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;menunjukkan pada tangga yang harus dilalui oleh orang yang inginmenjadi &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;sufi (Nata, 1995:206).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Nerosa&lt;/b&gt;suatu gangguan jiwa yang ditandai oleh kecemasan. Kecemasan itu &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;dapat dirasakan dan diexpresikan secara langsung atau dapat diubah &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;(dikonversikan), di-salah-pindakahkan atau diwujudkan pada tubuh. &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Meskipun nerosa tidak menunjukkan disintegrasi kepribadian atau &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;distorsi kenyataan (realitas) yang nyata, tetapi dapat juga cukuphebat &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;sehingga mengganggu seseorang berfungsi sehari-hari; dahulu &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;dinamakan psikonerosa. Dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu nerosa &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;cemas, histerik, fobik, obsesif-kompulsif, depresif, nerastenik, &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;depersonalisasi dan hipokondrik. (Maramis, 2004: 755).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Neurosis&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;i&gt;Dok&lt;/i&gt; penyakit saraf yang berhubungan denganfungsinya tanpa ada &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;kerusakan organik pada bagian susunan saraf (spt histeri, depresi,fobi); &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;psikoneurosis&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Neurotik&lt;/b&gt;&lt;i&gt;a&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;i&gt;Dok&lt;/i&gt; ada gangguan pd urat saraf; dl keadaansakit saraf (KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Nomotetis&lt;/b&gt;ilmu yang bertujuan memperkembangkan teori-teori umum &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;(Vredenbregt, 1984:138). Vredenbregt, Jacob. 1984. &lt;i&gt;Metode danTeknik &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;Penelitian Masyarakat (Cet. VI)&lt;/i&gt;. PT Gramedia: Jakarta. &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Obstruksi1&lt;/b&gt; sumbatan, rintangan (cairan yg tidak dapat mengalir ataubergerak &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;dl saluran, spt adanya batu dl empadu, adanya lumpur dl pipa air); &lt;b&gt;2&lt;/b&gt;&lt;i&gt;Pol&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;penghambatan yang dilakukan oleh golongan politik tertentu untuk &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;menghalangi diterimanya suatu undang-undang atau peraturan oleh &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Dewan Perwakilan Rakyat (KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Obskurantisme&lt;/b&gt;kecenderungan secara umum untuk menentang penelitian, &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;pembaruan atau kemajuan ilmu pengetahuan.-J-D. (Mudhofir)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Ontologi&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n &lt;/i&gt;cabang ilmu filsafat yang berkaitan dengan atau yangberhubungan&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;dengan hakekat hidup&lt;/div&gt;&lt;div lang="id-ID" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;PaguyubanNgesti Tunggal (Pangestu)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;P&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;arafrase&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;U&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;penguraian kembali isi sebuah kalimatatau penggalan teks; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;penjelasanmaksud suatu teks dengan kata-kata yang berbeda dari kata-&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;katateks itu (Rozak (dkk.), 1994:146) &lt;i&gt;Kamus Istilah Sastra&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Parafrase&lt;/b&gt;penguraian kembali isi sebuah kalimat atau &lt;span lang="id-ID"&gt;penggalan&lt;/span&gt;teks. &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Penguraiankembali ini biasanya menggunakan kata-kata lain, dan &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;maksudnyamemperjelas (Sudjiman e.d., 1984:56)&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Patron Client&lt;/b&gt;pola hubungan antara atasan dengan bawahan. Pola ini bersifat atasan&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; margin-left: 0.5in;"&gt;melindungi bawahan. (Radikalisme Kaum Pinggiran: Studi Tentang Issue,Strategi dan Dampak Gerakan. Drs. Zaiyardam Zubir, M. Hum. ProyekPeningkatan Penelitian Pendidikan Tinggi Direktorat JendralPendidikan Tinggi Depertemen Pendidikan Nasional 2002).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;Pembaharuanide, cara, dsb.&lt;b&gt; Aggiornamento&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Perseverasi&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;kemampuan berpegang teguh pada suatu pokok ajarantertentu &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;ketika berpikir atau menafsirkan sesuatu ataupun ketika mengamat-&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;amati (KBBI).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Predestinasi&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;ketentuan Tuhan; yang sudah lebih dahuluditentukan oleh &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Tuhan; takdir (KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Predisposisi&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;1 kecenderungan khusus ke arah suatu keadaan atauperkembangan&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;tertentu; 2 kecenderungan untuk menerima atau menolak sesuatuberdasarkan&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;pengalaman dan norma yang dimilikinya (KBBI).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Premis&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;1 apa yang dianggap benar sebagai landasankesimpulan kemudian; &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;pemikiran; alasan; 2 asumsi; 3 kalimat atau proposisi yang dijadikan &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;dasar penarikan kesimpulan di dalam logika (KBII).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Proforma&lt;/b&gt;&lt;i&gt;a&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;untuk pantas-pantas atau untuk basa-basi sekedarmengikuti tata &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;cara yang berlaku (KBBI).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Proliferasi&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;i&gt;Bio&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;1 pembiakan yg subur; 2perbanyakan bentuk yang sama, &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;terutama sel dan kista yg abnormal (KBBI, 2002)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Polarisasi&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;pembagian atas dua bagian (kelompok orang yangberkepentingan, dsb) &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;yang berlawanan.&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Reshuffle&lt;/b&gt;perubahan susunan (of a cabinet)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Retardasi&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;perlambatan pembaharuan (sebagai lawanakselerasi);&lt;b&gt; --mental &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;gangguan perkembangan inteligensi, disebabkan oleh gangguan sejal dl &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;kandungan sampai masa perkembangan dini sekitar lima tahun (BalaiPustaka, &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;2002:953)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Retreatisme&lt;/b&gt;&lt;i&gt;Sos&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;proses yang terjadi apabila nilai-nilai yangberlaku tidak dapat&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;dicapai melalui cara yang telah melembaga, tetapi warga masyarakat&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;mempunyai kepercayaan yang mendalam sehingga mereka tidak mau&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;menyimpang dari kaidah yang telah melambaga&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Retrogresi&lt;/b&gt;n 1 kemunduran; 2 pemburukkan; penurunan &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;(Kamus Besar Bahasa &lt;span lang="id-ID"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;, 2002, BalaiPustaka)&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; margin-left: 0.52in; text-indent: -0.52in;"&gt;&lt;b&gt;Revivalisme, bagi umat Kristen, merupakan kebangkitan rohani yangdalam kehidupan sehari-hari lebih lazim disebut kebangunan rohani.Revival sendiri berarti kebangkitan. Revivalisme merupakan suatubentuk kehidupan beragama dan peribadahan yang mengutamakan usahauntuk membangkitkan semangat kerohanian melalui khotbah dengandukungan suasana ibadah yang menunjang, termasuk paduan suara gereja,orkestra, dll. Yang menjadi sasaran di dalam kebangunan rohani adalahhati, bukan otak (Ensiklopedi Nasional Indonesia. 1990. &lt;/b&gt;&lt;i&gt;EnsiklopediNasional Indonesia&lt;/i&gt;&lt;b&gt; (Cet. I). PT Adi Pustaka: Jakarta.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; margin-left: 0.52in; text-indent: -0.52in;"&gt;&lt;b&gt;Revivalism 1 : the spirit or kind of religion or the methodscharacteristic of religious revivals 2: a tendency or desire torevive or restore (Babcock G., 1996:1994) Babcock G., Philip (Ed.).1996. Webster’s Third New International Dictionary of the LanguageUnabridged. G. &amp;amp; C. Merriam Company: Springfield, Massachussetts,U.S.A.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Sinektika&lt;/b&gt; &lt;i&gt;n&lt;/i&gt;teori atau sistem tentang pernyataan persoalan dan pemecahannya&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;berdasarkanpemikiran kreatif dengan menerapkan analogi dan majas dalam &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;pertemuan ataudiskusi tidak formal di antara sejumlah kecil peserta dari &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;berbagai bidangkeahlian. KBBI.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Segregasi&lt;/b&gt; &lt;i&gt;n&lt;/i&gt;pemisahan (suatu golongan dari golongan lainnya); pengasingan; &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;pengucilan.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Seketika &lt;/b&gt;&lt;i&gt;adv&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;saat itu juga; waktu yang tidak lama (KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Sirr &lt;/b&gt;hatinuraninya (Ibn Abi Ishaq Muhammad ibn Ibrahim Ibn Ya’qub Al-Bukhari&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Al-Kalabadzi.Cet. V. 1995. Al-Ta’aruf li-Madzhabi Ahl Al-Tashawwuf. &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;PenerbitMizan. Bandung. Hlm. 27)&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Skisma &lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;perpecahan dl agama (KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Skisma&lt;/b&gt;, yaituperpecahan di antara pemeluk setia (Jurnal Ilmu Sosial, LIPI)&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Skizofrenia &lt;/b&gt;suatupsikosa fungsional dengan gangguan utama pada proses &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; margin-left: 0.5in;"&gt;berpikirserta disharmoni (perpecahan, keretakan) antara proses berpikir,afek/emosi, kemauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataan,terutama karena waham dan halusinasi; asosiasi terbagi-bagi sehinggatimbul inkoherensi, afek dan emosi menjadi inadequat, psikomotormenunjukan penarikan diri, ambivalensi dan perilaku bizar.Jenis-jenis : simplex, hebefrenik, katatonik, paranoid, episodaskizofrenia akut, skizo-afektif, residual dan skizofrenia anak(Maramis, 2004: 766)&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Sofistikis&lt;/b&gt;bersifat pemikiran yang mendalam (Nata, 1995:207)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Sosiologi&lt;/b&gt;pengetahuan atau ilmu tt sifat, perilaku, dan perkembangan &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;masyarakat; ilmu tt struktur sosial, proses sosial, dan perubahannya &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;(KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Sosiologi&lt;/b&gt;“Sociology is the study of social proces revealed in thecontinuity of &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;grouplife” (Bogardus dalam Susanto, 1986: 50). Susanto, Astrid S. 1986. &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;FilsafatKomunikasi&lt;/i&gt;. Penerbit Binacipta: Bandung.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Sociology&lt;/b&gt;studi ilmiah; organized community&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Sosiologi&lt;/b&gt;“the study of the social processes which function through socialgroups in &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;thedeveloping and naturing of personalities” (Bogardus dalam Susanto, &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;1986:51).&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Sosiologi&lt;/b&gt;pengaruh faktor-faktor sosial terhadap kesehatan dan gangguanjiwa, &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;sepertistruktur dari fungsi sosial, perubahan sosial, interaksi individu &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;dankelompok serta interaksi antar-kelompok (Maramis, 1980:23).&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Substansi &lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;1 watak yang sebenarnya dr sesuatu; isi; pokok; inti; 2 unsur;zat: &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;pembakaranterjadi sebagai hasil persenyawaan sebuah – dgn oksigen; dl &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;konferensiakan dihimpun – masalah yang akan kita bicarakan dl &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;pertemuantingkat tinggi mendatang;&lt;/i&gt; 3 kekayaan; 4 harta: &lt;i&gt;pikiran itu &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;merupakan– yg tidak kelihatan;&lt;/i&gt; (KBBI).&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Subversi &lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;gerakan dl usaha atau rencana menjatuhkan kekuasaan yang sahdengan &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;menggunakancara di luar undang-undang (KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Sufisme &lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;nama umum bagi berbagai aliran sufi dl agama Islam (KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Sufisme&lt;/b&gt;suatu gerakan klasik mistisisme dan reaksi atas legalisme dankekakuan &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;ortodoks. Sufisme merupakan suatu sekte yang berusaha mencapaihubungan&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;yang lebih dekat dengan Tuhan. Hal ini dilakukan dengan pengamatanyang&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;hati-hati atas kaidah-kaidah keagamaan. - H.H.T.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Suluk&lt;/b&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;1&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;1 jalan ke arah kesempurnaan batin; tasawuf;tarekat; mistik 2 pengasingan &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;diri;khalwat.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Suluk&lt;/b&gt;&lt;sup&gt;&lt;b&gt;1&lt;/b&gt;&lt;/sup&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;Jw n&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;nyanyian (tembang) dalang yang dilakukanketika akan melakukan suatu&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;adegan(babak) dalam pertunjukan wayang.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Susila BudiDharma (Subud)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Tarekat satariah&lt;/b&gt;tarekat Syekh As-Syatari yang di Indonesia dikembangkan oleh &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;syekhAbdul Rauf (Kamus Bahasa Indonesia)&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Tarantisme &lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;Dok&lt;/i&gt; penyakit histeria yang menyebabkan penderitamenari-nari &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;(KBBI).&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Tawassul&lt;/b&gt;memohon kepada Allah melalui orang yang diyakini memiliki derajat &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;kemuliaan&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Tasawuf &lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;ajaran (cara dsb) untuk mengenal dan mendekatkan diri kpd Allah &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;sehinggamemperolah hubungan langsung secara sadar dng-Nya (KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Tipologi &lt;/b&gt;berartisuatu cara menggolong-golongkan sejumlah orang yang dipandang &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;memilikitipe yang hampir bersamaan (Sujanto, Agus (et.al). 2004. &lt;i&gt;Psikologi&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;Kepribadian&lt;/i&gt;.Bumi Aksara: Jakarta. Hlm. 19). &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Tipologi &lt;/b&gt;ilmuwatak tentang bagian manusia dalam golongan-golongan menurut &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;corakwatak masing-masing (KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; margin-left: 0.52in; text-indent: -0.52in;"&gt;&lt;b&gt;typology ty.pol.o.gy …d: study and esp. analysis or division ofhumanity in terms of social types &lt;the of="" union="" ~=""&gt;&lt;/the&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Sylfaen,serif;"&gt;&lt;b&gt;=&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;managementrelations &lt;the groups="" of="" religious="" ~=""&gt; (Bobcock, 1966:247).&lt;/the&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; margin-left: 0.52in; text-indent: -0.52in;"&gt;&lt;b&gt;Tipologi&lt;/b&gt;:&lt;b&gt; &lt;/b&gt;salah satu metode yang digunakan ahlisosiologi untuk mengklasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya,kemudian dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yangsama. Pendekatan ini sering digunakan untuk memahami ilmu-ilmumanusia, dan dapat digunakan dalam ilmu perbandingan agama (Tholchah,et.al., 2003:214). Tholchah H., Muhammad et.al. 2003. &lt;i&gt;MetodologiPenelitian Kualitatif: Tinjauan Teoritis dan Praktis&lt;/i&gt;. LembagaPenelitian Universitas Islam Malang kerjasama dengan Visipress:Surabaya.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Tariqat &lt;/b&gt;alirandalam tasawuf, perkumpulan para pengamal ajaran tasawuf, organisasi &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;tasawuf, terdapat guru, murid, wirid dan seterusnya (Nata, 1995:207)&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Teleologi &lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;teori atau ajaran bahwa semua kejadian (setiap gejala) terarahpada &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;suatutujuan (KBBI)&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;Sebab yangsebanarnya&lt;b&gt; vera causa &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Wahdat al-wujud&lt;/b&gt;kesatuan eksistensi (Kazemi M., Ahmad. 2005. Kehadiran &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Tasawuf-Persiadalam Literatur Nusantara (Malaysia-Indonesia) dalam &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;majalahIslamia VOL II NO.3/Desember 2005. hlm. 105).&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Waham  &lt;/b&gt;&lt;i&gt;n&lt;/i&gt;keyakinan atau pikiran yang salah karena bertentangan dengan dunianyata &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;sertadibangun atas unsur yang tidak berdasarkan logika; sangka; curiga &lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;(KBBI).&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Waham&lt;/b&gt;suatu gangguan isi pikiran; sebuah keyakinan yang tidak sesuai dengan&lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;kenyataan; diwarnai oleh latar belakang kebudayaan serta inteligensiorang itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;Terdapat bermacam-macam waham yang dinamai sesuai dengan keyakinan &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;itu, umpamanya: waham paranoid, kejaran, sindiran, hubungan, dosa, &lt;/div&gt;&lt;div align="JUSTIFY" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;nihilistik, kebesaran dan sebagainya (Maramis, 2004: 770).&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;b&gt;Wasilah&lt;/b&gt;mediator atau perantara.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-2061067429458957179?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/2061067429458957179/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/12/kamus-kecil.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/2061067429458957179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/2061067429458957179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/12/kamus-kecil.html' title='Kamus Kecil'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-4762560321563705452</id><published>2011-08-15T18:03:00.000-07:00</published><updated>2011-08-15T18:04:54.239-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Topik lainnya'/><title type='text'>Dari Dalam Nurani</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cmunhamir%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5Cmunhamir%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5Cmunhamir%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:113.4pt 85.05pt 85.05pt 113.4pt; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Dari Dalam Nurani&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tengah hari, Selasa, 29 2011 di telpon seluler (ponsel) milik saya ada pesan pendek (sandek). Bunyinya “Ikuti sayembara menulis di catatan &lt;i style=""&gt;facebook&lt;/i&gt; (fb) tentang Nurani Soyomukti. Berhadiah 23 buku Karya Nurani Soyomukti.” Pengirim sandek itu Nurani Soyomukti sendiri. Jika Mas Nurani ini tidak mengirim sandek, mungkin saya tidak tahu jika ada sayembara itu. Lagi pula, saya jarang &lt;i style=""&gt;on line&lt;/i&gt;. Juga jarang kunjungi fb miliknya. Namun, di fb saya ada grup Pembaca Buku Nurani. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kira-kira semester IV saat kuliah di Program Studi (Prodi) Sosiologi saya mengenal Nurani. Saya angkatan 2003, sedangkan Mas Nurani di Hubungan Internasional (HI) angkatan 1999. Kami di fakultas yang sama. Kalau tidak salah saat itu dia menjadi narasumber dalam sebuah diskusi kecil di kampus. Saya mengenal Nurani sebagai sebagai aktivis salah satu organisasi mahasiswa ekstra kampus (Ormek). Juga berperan dalam demonstrasi mahasiswa dengan mengusung isu tertentu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lalu secara lebih akrab saya mengenal Nurani akhir tahun 2009 di akhir masa studi saya. Pertama kali tahu kamar kosnya, di dalamnya terdapat lebih dari 100 judul buku. Dia juga memiliki kliping. Misalnya seputar topik sosial, politik maupun ekonomi. Termasuk artikelnya yang dimuat di koran. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada saat itulah saya mengenal Nurani sebagai seorang penulis. Beberapa buku yang dia tulis dan diterbitkan oleh penerbit membuktikan dirinya seorang penulis. Entah berapa judul buku yang dia tulis dan telah diterbitkan. Sebelumnya saya hanya mengenal Nurani sebagai penulis artikel pada kolom opini di koran. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nurani pula yang saat itu membuatkan saya sebuah blog. Sebelumnya, saya memang memiliki tulisan sederhana. Namun, itu belum pernah saya taruh di tempat umum seperti blog. Pergaulan sesama orang yang hobi menulis itu terkadang juga mendorong saya mengerjakan hobi menulis. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya akui. Daya tahan menulis seorang Nurani luar biasa. Saya kalah dengannya. Buktinya dari buku yang telah telah dia tulis dan telah diterbitkan. Produktifitasnya juga tampak di catatan fbnya. Beberapa di antaranya menuai setuju dan tidak setuju. Misalnya tulisannya tentang “Makhluk Parasit itu Bernama PNS”. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebagai aktivis gerakan, tulisannya seputar demokrasi, radikalisasi, revolusi dan lain sebagainya. Topik-topik itu pun menandai pandangan-pandangan “kiri”. Pandangan kiri ini secara sederhana berarti individu atau kelompok yang menyuarakan ideologi kiri. Karl Marx yang idenya dikenal dengan Marxisme dekat dengan ideologi kiri ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ideologi kiri ini dikenal sekuler, bersifat duniawi. Karenanya ideologi kiri ini sering berbeda pandangan dengan agamais. Biasanya ideologi kiri ini berdasar pada filsafat materialisme. Sesuatu itu didasarkan atas materi. Sebagaimana itu pandangan Marxisme. Marxisme ini juga berkaitan dengan sosialisme. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Karenanya hampir pada setiap tulisannya, Nurani menyelipkan filsafat materialisme. Dalam salah satu bukunya yang mencoba mengikuti tren, yakni yang mengulas tentang cinta, sepertinya juga tak luput dari pandangan-pandangan dari filsafat materalisme. Sampai pandangan yang sering diulang-ulang itu terkadang membuat orang bosan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Filsafat materialisme ini memang bisa menggoda. Misalnya, sesuatu itu terdiri dari materi. Jika materi itu bekerja secara terus menerus maka materi itu akan habis. Pada tahap tertentu filsafat itu mengabaikan peran Tuhan. Misalnya jika materi itu adalah manusia. Ciptaan manusia yang baru bisa jadi bukan karena peran Tuhan. Namun, itu terjadi karena bekerjanya materi itu sendiri. Contoh lagi, jika suatu revolusi benar-benar dijalankan maka tidak ada lagi orang kaya dan tidak ada lagi orang miskin. Setiap orang mendapatkan haknya secara sama. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Terkadang pandangan itu dinilai khayal. Mungkin jika memang tiba saatnya pandangan itu bisa menjadi tren. Sebagaimana ramai-ramainya tentang Marxisme itu. Kasus Indonesia adalah keberadaan partai komunis. Walaupun setiap filsafat maupun setiap ideologi juga bisa bersifat seperti halnya filsafat materialisme maupun ideologi lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Itulah Nurani dari satu sisi. Dia mencoba bereskpresi dalam dari dalam dirinya. Dari dalam dia sebagai Nurani. Sebagaimana sosok manusia biasa juga tak luput dari permasalahan kemanusiaannya. Tentang cinta, keluarga, teman, kuliahnya dan lain sebagainya. Namun, saat Nurani berekspresi dalam bentuk tulis dan kita membacanya mungkin kita akan merasakan tulisan itu melampaui apa yang kita rasakan jika melihat Nurani langsung. Barangkali itulah sifat dari sebuah tulisan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Akhirnya, menanggapi sandek itu seperti menulis kata pengantar untuk biografi Nurani Soyomukti. Lagi pula saya sebagai teman yang sama-sama hobi menulis, tak ingin melewatkan sayembara ini. Bukan semata-mata karena hadiahnya, melainkan perasaan sebagai sesama orang yang hobi berekspresi dalam bentuk tulis. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-4762560321563705452?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/4762560321563705452/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/08/dari-dalam-nurani.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/4762560321563705452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/4762560321563705452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/08/dari-dalam-nurani.html' title='Dari Dalam Nurani'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-3614906079404584679</id><published>2011-06-22T20:17:00.000-07:00</published><updated>2011-06-22T20:18:27.991-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Topik lainnya'/><title type='text'>Bergantung Pada Orangnya</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Bergantung Pada Orangnya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Apakah seorang sarjana akan lebih kaya daripada lulusan SMA? Apakah lulusan IPA akan senantiasa sukses daripada lulusan IPS maupun bahasa? Apakah orang yang kaya itu selalu bahagia? Apakah orang yang miskin itu selalu tidak bahagia? Kiranya masih banyak sederet pertanyaan-pertanyaan maupun pernyataan-pernyataan lainnya.   &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Mungkin di antara kita pernah terlibat perbincangan seputar satu atau dua yang berkaitan dengan pertanyaan di atas. Saya sendiri pernah terlibat dalam perbincangan berkait dengan pertanyaan pertama di atas. Dalam perbincangan itu muncul pernyataan “bergantung pada orangnya”.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pada akhirnya memang bergantung pada orang sebagai pelaku. “Pelaku” ini kita anggap sebagai “dia”. Artinya pula jika kita menilai sesuatu kita juga perlu menilainya dari sudut pandang mana. Misalnya pertanyaan apakah seseorang sarjana akan lebih kaya daripada lulusan SMA? Barangkali kita tahu jawabannya. Mungkin kita mendasarkan pada orang-orang di sekitar kita. Ada seorang sarjana, tetapi kekayaannya kalah dengan lulusan SMA. Ada juga seorang sarjana yang kekayaannya melebihi kekayaan seorang lulusan SMA.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Seseorang kaya hanya dengan lulus SMA karena mungkin orang tuanya kaya. Seseorang bisa mengelola kekayaan dari orang tuanya bersama pasangan hidupnya. Misalnya lulusan SMA itu diserahi toko serba ada oleh orang tuanya. Sementara ada lulusan sarjana yang hanya mengandalkan dia diterima menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) walaupun pada akhirnya dia tidak bisa menjadi PNS. PNS nyatanya hanya impian bagi si sarjana.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pertanyaan-pertanyaan di atas sebetulnya sebuah dramatisasi. Kita memang sah-sah saja saat dihadapkan pada sesuatu, lalu kita berkata “bergantung pada orangnya”. Namun, kita juga perlu ingat, dalam kasus-kasus tertentu dalam memandang sesuatu itu hendaknya juga melihatnya tidak hanya dari si pelaku semata.  &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-3614906079404584679?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/3614906079404584679/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/06/bergantung-pada-orangnya.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/3614906079404584679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/3614906079404584679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/06/bergantung-pada-orangnya.html' title='Bergantung Pada Orangnya'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-6653884320347915679</id><published>2011-06-18T19:47:00.000-07:00</published><updated>2011-06-18T19:48:33.768-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Topik lainnya'/><title type='text'>Sebuah Situasi di Kelas</title><content type='html'>&lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt; &lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Sebuah Situasi di Kelas&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Seseorang yang berprofesi sebagai guru sukarelawan (sukwan) di sebuah sekolah dasar (SD) di sebuah kota menceritakan pengalamannya pada saya. Sebutlah namanya M. Akhir Mei 2011 lalu M seakan putus asa dengan salah satu siswanya yang bandel. Sebutlah namanya S. Saat pelajaran berlangsung, S merebut tempat pensil milik temannya. S juga mudah berkata-kata kotor. Suatu hari tanpa alasan S mengucapkan kata-kata yang tidak pantas itu pada M. M sendiri baru setengah tahun mengajar di SD tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;  Seakan-akan M putus asa dengan polah S. Teguran secara lisan sudah dia lakukan. Termasuk nasihatnya agar S tidak berkata-kata kotor lagi. Memanggil nama dengan keras juga sudah dilakukan M. Terkadang perilaku S itu mengganggu siswa lain, khususnya selama kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung di kelas. M sendiri tampaknya belum pernah menghukum, misalnya menyuruh S berdiri di depan kelas.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Rotasi tempat duduk juga sudah dilakukan. Tujuannya agar terjadi penyegaran penghuni kelas. Misalnya, siswa yang biasanya mengganggu siswa di sebelahnya bisa terpisah. Paling tidak rotasi itu bisa memisahkan untuk sementara waktu. Selain itu, sudut pandang mata siswa terhadap papan tulis juga tidak monoton meskipun hanya beberapa derajat.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kemudian, dari pengakuan S, dirinya berujar jika pendukung kesebelasan sepak bola di daerahnya juga ada kata-kata seperti yang dia ungkapkan itu. Kata M, S juga memiliki saudara yang di bagian tubuhnya ditindik. Orang tua dari S menurut M tampaknya juga tidak begitu perhatian pada S.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. S ini agaknya mencitrakan bahwa di kelas II tempat M menjadi guru kelas bisa menjadi kelas yang sulit dikelola. Memang, dalam satu kelas yang terdiri atas 30 siswa itu sekaligus ada 30 karakter yang berbeda-beda. Pada saat yang sama, katakanlah gaya belajar setiap siswa juga berbeda-beda.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; M sebagai guru tentu ingin agar KBM berlangsung lancar. Terkadang saat kelas ramai dan sulit dikendalikan, M sampai memukulkan penggaris pada meja. M sendiri menyadari jika situasi ramai itu bisa saja terjadi. Termasuk M memaklumi dengan tingkah laku anak di kelas tersebut. Karenanya M ingin tetap sabar dalam menjalankan tugasnya sebagai guru.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-6653884320347915679?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/6653884320347915679/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/06/sebuah-situasi-di-kelas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/6653884320347915679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/6653884320347915679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/06/sebuah-situasi-di-kelas.html' title='Sebuah Situasi di Kelas'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-4034497322906131224</id><published>2011-06-07T21:03:00.000-07:00</published><updated>2011-06-07T21:04:59.634-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Perjalanan'/><title type='text'>Buku di Malang Tempoe Doeloe</title><content type='html'>&lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt; &lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Buku di Malang Tempoe Doeloe&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Karena sebuah alasan, Sabtu, 21 Mei 2011 saat itu saya pergi ke Malang. Saya berangkat dari rumah, Nganjuk, pukul 08.00 dengan mengendarai sepeda motor dengan silinder 110 cc. Saya tiba di salah satu kabupaten di Jawa Timur itu pukul 11.45, di sebuah tempat di kawasan kampus. Perjalanan melewati Kecamatan Pare, Kediri, dan Pujon, Malang itu merupakan kali pertama bagi saya. Jika melihat atlas maka rute itu menembus kompleks pegunungan Anjasmoro dan pegunungan Kawi. Jalan beraspal yang berkelak kelok, tebing di sisi jalan, dan aroma hutan pegunungan pun menjadi pemandangan yang khas.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sabtu itu pula, sekitar pukul 13.00, agenda selama di Malang adalah mengunjungi Malang Tempoe Doeloe (MTD). MTD ini mirip bazar, tetapi dengan nuansa zaman dulu. Misalnya bangunan stan, pakaian yang dikenakan, sebuah motor juga satu dua mobil yang dipamerkan, serba mengesankan zaman dulu. Kebanyakan stan menyajikan makanan, minuman yang mengingatkan saat masa kecil. Misalnya gulali. Jadi, makanan di stan itu juga dijual. Selain itu, juga ada stan yang menawarkan hasil kerajinan. Misalnya wayang.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Awalnya, saya bertanya-tanya dalam hati apakah di MTD ini ada stan yang menjual buku, khususnya buku-buku lama. Akhirnya ada juga sebuah stan yang khusus menjual buku-buku terbitan lama. Selain buku juga ada majalah yang juga terbitan lama. Misalnya terbitan sebelum tahun 1995. Semua bacaan itu dijual.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya terkesan dengan stan khusus yang menyediakan buku maupun majalah terbitan lama ini. Ada sejumlah buku jenis pemikiran. Misalnya pemikiran intelektual Muhammadiyah. Ada juga karya sastra berjudul &lt;i&gt;Karier dan Jodoh&lt;/i&gt; karya La Rose. Entah semuanya terbitan kapan, yang jelas diterbitkan sebelum tahun 2000. Sepertinya pemilik stan itu sengaja membidik pembaca dari kalangan mahasiswa dan umum.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya juga heran dengan diri saya sendiri. Dulu sewaktu masih menjadi mahasiswa, khususnya rentang antara tahun 2007 sampai 2008 terkadang saya tidak bisa menahan untuk tidak membeli buku terbitan lama yang menarik saya. Misalnya buku berjudul &lt;i&gt;Sinonim&lt;/i&gt; (1989) oleh Soedjito, terbitan Sinar Baru Bandung. Saat itu kalau tidak salah harganya Rp 15.000,-. Namun, 21 Mei 2011 itu saya tertarik dengan judul &lt;i&gt;Karier dan Jodoh&lt;/i&gt; karya La Rose itu. Akan tetapi, saya tidak ingin membelinya. Bahkan, menanyakan berapa harganya pada penjual pun saya enggan. Akhirnya setelah itu saya menyesal mengapa saya tidak menanyakan harganya.  &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-4034497322906131224?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/4034497322906131224/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/06/buku-di-malang-tempoe-doeloe.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/4034497322906131224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/4034497322906131224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/06/buku-di-malang-tempoe-doeloe.html' title='Buku di Malang Tempoe Doeloe'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-1533787609896649828</id><published>2011-06-07T20:48:00.000-07:00</published><updated>2011-06-07T20:49:43.895-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita dari Dusunku'/><title type='text'>Gagal Panen</title><content type='html'>&lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt; &lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Gagal Panen&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Daun tanaman padi milik Pak Tomo (60 tahun) yang berumur sekitar 65 hari itu mengering karena wereng coklat (7/06/2011). Tanaman padi di sawah milik Pak Rakidi (56 tahun) malah lebih buruk lagi. Semua daunnya mengering menjadi jerami. Hampir dapat dipastikan tanaman padi milik Pak Tomo akan seperti milik Pak Rakidi. Tanaman padi mengering dan akhirnya mati. Tinggal menunggu hitungan hari. Hama wereng coklat juga mengganas di sawah milik petani lainnya.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dipastikan pula pada musim tanam April-Juni 2011 ini sawah di Dusun Wates, Desa Balongrejo, Kecamatan Bagor, Nganjuk, akan puso, gagal panen. Masa tanam antara April-Juni dalam sejarahnya memang tidak menguntungkan. Namun, agaknya lebih dari dua puluh tahun terakhir ini tingkat kerusakannya tidak seperti masa tanam kali ini. Benar-benar parah.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Padahal, dengan umur seperti itu padi bisa dipanen sekitar satu bulan lagi. Awal Juni 2011 ini adalah saat panen. Selama itu pula, para petani bisa rugi ratusan ribu sampai puluhan juta. Bahkan, untuk lingkup satu dusun saja seperti Dusun Wates itu, kerugian bisa mencapai 100 juta lebih. Pada panen yang lalu Pak Tomo bisa mendapatkan uang Rp 12 juta. Namun, dengan situasi sekarang, lebih buruk lagi sawah tidak menghasilkan Rp 1,- pun.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sebelum ada wereng, tanaman padi yang kebanyakan dari varietas Bagendit itu tumbuh subur. Konon, kerusakan tanaman padi dari varietas Membramo lebih cepat dibandingkan dengan Bagendit. Para petani sangat berharap mereka dapat memanennya. Maklum, pada panen sebelumnya kuantitas padi juga merosot. Bulir padi banyak yang kosong, tetapi petani masih bisa memanen.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Namun, sudah beberapa minggu ini hama wereng menggila. Hama wereng, yakni sejenis hewan yang bisa terbang dan ukurannya kurang lebih seperti biji jambu biji itu makan tak pernah kenyang. Hewan yang berwarna hitam kecoklatan ini jumlahnya ribuan. Menempel pada daun, batang, hampir pada seluruh tanaman. Perkembangbiakannya juga cepat. Karenanya, sepanjang mata mamandang dalam waktu 24 jam bisa mengeringkan daun tanaman padi di sawah. Tanaman menjadi jerami, tetapi masih menancap di tanah.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Ada cerita yang beredar di kalangan petani. Daun tanaman padi yang kering itu jika diberikan pada sapi maka sapi bisa mati. Karenanya, tidak ada satu pun petani yang berani memberikannya pada sapinya. Petani memilih mencari rumput di pematang untuk pakan ternaknya.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pada minggu kedua di bulan Juni 2011 ini, ada pula salah seorang petani yang telah membakar sedikit tanaman padinya di sawah. Ada juga sebagian petani yang membiarkan tanaman padinya diporakporandakan oleh wereng. Selama itu ada pula petani yang masih berusaha menyelamatkan tanaman padinya dari serbuan wereng yang ganas.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Caranya dengan menyemprotkan pestisida dengan alat semprot tangan. Seperti yang dilakukan oleh Puguh (27 tahun). Sejak masa tanam, yaitu awal April 2011 lalu Puguh telah memakai berbagai jenis merek pestisida. Sejak itu sampai sekarang Puguh telah kurang lebih empat kali menyemprot. Dalam keadaan normal Puguh menyemprot sawah milik ayahnya itu sekitar 9 tangki.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pada minggu kedua di bulan Juni 2011 ini sawah yang diserang wereng disemprot sebanyak 4 tangki. Sebelum diserang cukup 2 tangki. Dengan volume itu Puguh berharap wereng bisa mati. Namun, sehari setelah disemprot wereng masih saja belum mati. Kalaupun mati maka masih ada telur wereng yang menggantikan wereng yang sudah mati.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Satu dua petani lainnya pun seakan kehilangan cara. Ada petani yang mencampur pestisida dengan deterjen yang biasa dipakai untuk mencuci baju. Ada pula yang mencampurnya dengan merek untuk pelembut atau pewangi pakaian. Bahkan, ada petani yang mencampurnya dengan solar ataupun oli dengan dosis tertentu. Ada juga salah seorang petani yang menyemprot tanaman padinya dengan cairan yang biasanya dipakai sebagai obat nyamuk. Deterjen, solar, maupun oli ini sebetulnya tak lazim untuk menyemprot tanaman padi.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Satu dua petani juga berusaha lewat supranatural. Ada yang meminta bantuan orang pintar. Caranya orang tersebut mengelilingi tanaman padi saat malam hari. Orang itu tidak tidur selama satu malam. Di setiap sudut petak sawah diberi batang daun pisang yang sudah kering. Beberapa petani juga memberi sesajen berupa &lt;i&gt;karak&lt;/i&gt; atau bekas nasi yang dijemur dengan lauk balur yang sebelumnya telah diberi doa. Namun, upaya itu tak mampu menghalau wereng yang tidak punya belas kasihan.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dampak dari kegagalan panen kali ini memang besar. Dalam jangka sekitar empat bulan ke depan keganasan hama wereng ini membuat sapi tidak bisa makan jerami. Secara umum petani bisa-bisa menunggak membayar utang dari pupuk yang dibeli dari kelompok tani. Mereka terancam tidak bisa membayar utangnya. Lagi pula, dalam keadaan tanaman subur, modal untuk pemeliharaan tanaman padi sejak awal sampai panen rata-rata 40 % dari total hasil panen. Belum lagi beban biaya untuk menanam padi selanjutnya.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pada pertengahan minggu kedua di bulan Juni 2011 ini sedikit petani mulai memanen padinya, lebih awal. Padahal, normalnya padi baru bisa dipanen kurang dari satu bulan lagi. Dengan hasil yang sedikit itu mereka berharap hasilnya bisa dimakan. Sambil berharap masa tanam selanjutnya tidak seburuk seperti sekarang ini.  &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-1533787609896649828?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/1533787609896649828/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/06/gagal-panen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/1533787609896649828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/1533787609896649828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/06/gagal-panen.html' title='Gagal Panen'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-318949356674797658</id><published>2011-05-24T18:59:00.000-07:00</published><updated>2011-05-24T19:01:16.999-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Sosiologi'/><title type='text'>Metode Belajar Sosiologi di Kelas</title><content type='html'>&lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt; &lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Metode Belajar Sosiologi di Kelas&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya sangat berharap tahun ajaran baru 2010/2011 ini bisa diterima menjadi guru tidak tetap (GTT) yang mengajar sosiologi di sebuah madrasah aliyah di kabupten ini. Menurut kalender akademik, tahun ajaran baru dimulai Juli 2011 ini. Namun, sampai awal Mei saat saya menulis ini, pihak madrasah belum memanggil saya. Dengan kata lain, pihak madrasah belum memberi kepastian pada saya.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Namun, dalam penantian itu saya sedikit demi sedikit belajar kurikulum sosiologi, utamanya kelas X SMA/MA. Saya mulai belajar mengenai standar kompetensi (SK), kemampuan dasar (KD), silabus, dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Saya juga belajar soal-soal sosiologi. Termasuk saya juga belajar filsafat pendidikan itu sendiri.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya memang belum tahu persis kalender akademik untuk dua semester ke depan. Akan tetapi di internet ada contoh kalender akademik. Semester gasal ini perkiraan akan ada 16 kali pertemuan yang efektif. Jadi, kemungkinan tengah semester gasal ini ada 8 kali pertemuan yang efektif. Dalam 8 kali pertemuan itu ada dua bab yang harus disampaikan. Anggaplah 4 kali pertemuan itu khusus untuk menyelesaikan dua bab tersebut. Sisanya misalnya dipakai untuk latihan soal-soal sosiologi maupun ulangan harian.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;  Kemudian, tiga bulan terakhir di semester gasal ada satu bab. Jadi, masih ada beberapa sisa pertemuan. Sisa pertemuan ini dipakai untuk pendalaman soal-soal sosiologi. Materi yang ada di buku dipelajari sambil mengerjakan soal-soal sosiologi. Jadi, guru tidak perlu menjelaskan secara langsung materi di buku.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pertemuan atau belajar di kelas itu pun dengan metode ceramah. Metode ceramah ini sebagaimana umumnya pembelajaran sosiologi di kelas. Pada praktiknya guru belajar bersama-sama dengan siswa. Dengan praktik itu pembelajaran bisa berlangsung dialogis. Meskipun demikian, kuncinya ada pada kreativitas guru dalam mengajar.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dengan kacamata sosiologi, guru bertindak seperti seorang penceramah atau pembicara yang ulung. Saya mengambil contoh diri saya sendiri. Misalnya dalam bab 1 &lt;i&gt;Mengenal Sosiologi dan Masyarakat&lt;/i&gt; siswa diminta membaca tulisan dalam blog saya yang berjudul &lt;i&gt;Membicarakan Kembali Sosiologi&lt;/i&gt;. Tulisan kedua berjudul &lt;i&gt;LDII di Kawasan Pedesaan&lt;/i&gt;. Tulisan itu sebagai contoh dalam mengenal sosiologi.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Siswa diajak belajar dari kenyataan hidup yang lebih realistis yang dekat dan ada dalam lingkungannya. Misalnya keberadaan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) itu sebagai kenyataan sosiologis. Dengan membaca tulisan itu juga diharapkan bisa menginspirasi siswa dalam belajar mengungkapkan pikiran lewat tulisan. Jadi, alur belajarnya dari hal yang khusus (misalnya judul tadi) ke hal yang umum (materi yang ditulis dibuku). Lagi pula, materi yang ditulis di buku terkesan membosankan.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Blog itu juga sebagai alat komunikasi antara guru dengan siswa. Jadi, pembelajaran tidak melulu berlangsung di dalam kelas. Dalam waktu 24 jam lewat blog, lewat internet siswa juga bisa bertanya, khususnya seputar sosiologi. Namun, juga tidak tertutup kemungkinan bertanya yang lain. Misalnya, pengalaman atau masalah yang dialami siswa. Setidak-tidaknya guru sebagai pendengar yang baik meskipun tidak punya solusi atas masalah yang dialami siswa.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-318949356674797658?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/318949356674797658/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/05/metode-belajar-sosiologi-di-kelas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/318949356674797658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/318949356674797658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/05/metode-belajar-sosiologi-di-kelas.html' title='Metode Belajar Sosiologi di Kelas'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-1406132514851172982</id><published>2011-05-13T22:20:00.000-07:00</published><updated>2011-05-13T22:32:26.355-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peristiwa'/><title type='text'>Guru Jegog (menempeleng) Siswa</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Guru &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;&lt;i&gt;Jegog&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt; (menempeleng) Siswa&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kasihan siswa itu. Kamis, sore hari, 12 Mei 2011 dalam program berita, sebuah stasiun televisi menayangkan guru yang menempeleng seorang siswa, laki-laki. Ibu guru yang tampak sudah berumur itu &lt;i&gt;jegog&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;jegug&lt;/i&gt; berulang kali seorang siswa saat mengerjakan ujian nasional (UN) di sebuah Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB). Keesokan pagi harinya sebuah stasiun televisi lainnya juga menayangkan peristiwa penggamparan tersebut. Saya berusaha mencari arsip berita itu di internet, tetapi tidak menemukan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dalam Kamus Jawa-Indonesia (2004) karya Purwadi, &lt;i&gt;jegog&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;jegug&lt;/i&gt; ini berarti di tekan kepalanya. Orang Jawa tentu tahu arti istilah &lt;i&gt;jegog&lt;/i&gt;. Saya sebetulnya kesulitan mencari padanan kata &lt;i&gt;jegog&lt;/i&gt; ini. Akan tetapi, &lt;i&gt;jegog&lt;/i&gt; itu agaknya satu makna dengan tampar, tempeleng, dan pukul. Namun, tampar biasanya memukul pipi dengan telapak tangan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kemudian, demi etika jurnalistik, kamera menyamarkan tapak tangan kanan si guru saat menekan-nekan kepala si siswa. Wajah dan kepala siswa yang di-&lt;i&gt;jegog&lt;/i&gt; itu juga disamarkan. Namun, pemirsa tentu tahu, tangan si guru membentur-benturkan kepala siswa berulang kali. Si guru tidak disamarkan. Saat membentur-benturkan kepala, si guru juga membentak-bentak siswa yang duduk di bangkunya, belakang kelas tersebut.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Guru tampak kesal karena siswa tersebut tampak sulit menuliskan biodata di kertas lembar jawaban saat UN. Dalam berita di televisi itu juga dikatakan siswa tersebut awalnya terlambat masuk kelas saat UN. Saat diperlakukan seperti itu, siswa tersebut diam saja. Kameramen televisi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam tayangan itu juga disebutkan siswa tersebut tergolong tuna rungu. Karenanya bersekolah di SDLB.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Entah bagaimana kenyataan yang sesungguhnya. Mungkin si guru berwatak mudah marah. Selama menjalankan profesinya mungkin sang guru terbiasa dengan gaya mengajar kemarahan. Terkadang memang ada tipe guru seperti itu. Dari raut wajah siswa yang di-&lt;i&gt;jegog&lt;/i&gt;-nya tidak tampak dia siswa yang bandel.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kadang-kadang memang tidak mudah mengendalikan amarah. Khususnya saat menghadapi siswa dengan berbagai sikap, kepribadian, penampilan fisik dan latar belakang hidupnya. Saat guru mengabsen dan ada siswa yang acungkan tangan dengan tangan kiri maka mungkin guru bisa marah. Sikap siswa itu tentu tidak sopan. Marah adalah sifat dan sebetulnya bisa dikendalikan.   &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Namun, bagaimanapun juga tindakan guru itu tidak terpuji. Tidak pantas dilakukan oleh seorang guru. Pemirsa yang menyaksikannya akan banyak yang menyayangkan tindakan guru tersebut. Tindakannya termasuk kekerasan dalam bentuk fisik maupun verbal. Kekerasan fisik bisa menimbulkan luka fisik. Kekerasan verbal atau kekerasan dalam bentuk kata-kata kasar bisa menyisakan luka batin.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Secara pribadi saya kasihan dengan siswa itu. Saya juga menyesalkan atas tindakan guru tersebut. Kejadian yang ditayangkan televisi itu menjadi pelajaran bagi pemirsanya. Tindakan seperti itu salah. Guru yang tidak disamarkan dalam tayangan itu pun sebagai bentuk sanksi atas tindakannya yang keliru.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-1406132514851172982?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/1406132514851172982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/05/guru-jegog-menempeleng-siswa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/1406132514851172982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/1406132514851172982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/05/guru-jegog-menempeleng-siswa.html' title='Guru Jegog (menempeleng) Siswa'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-3172907488684844965</id><published>2011-05-11T19:29:00.000-07:00</published><updated>2011-05-13T13:38:03.637-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Topik lainnya'/><title type='text'>Lebih Baik Tidak Bersekolah?</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Lebih Baik Tidak Bersekolah?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Tetangga saya di dusun, tidak menyekolahkan anaknya yang laki-laki ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dia yang anak pertama dari dua bersaudara itu cukup disekolahkan sampai Sekolah Dasar (SD). Dia lulus SD tahun 2009 silam. Setelah lulus aktifitasnya antara lain mencari rumput untuk pakan sapinya. Terkadang juga membantu ayahnya di sawah.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sebetulnya orang tuanya bisa menyekolahkan anaknya ke SMP. Jaraknya sekitar 1 km dari rumahnya. Namun, mungkin orang tuanya berpikir, sekolah di jenjang menengah pertama itu buang-buang uang. Lagi pula setelah lulus SMP maka masih harus meneruskan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) atau yang sederajat. Lagi pula, jika lulus dari SMP, tidak ada jaminan dapat pekerjaan. Lowongan kerja di kota sebagai karyawan toko pun umumnya mensyaratkan lulusan SMA.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Ada data. Di Kabupaten Kediri (&lt;i&gt;Radar Kediri&lt;/i&gt;, 2 Mei 2011) pada tahun 2010, dari 24.000 siswa lulusan SD, 22.400 (93,24%) siswa meneruskan ke jenjang SMP. Lalu 1.600 (6,58%) siswa tidak melanjutkan ke SMP. Dalam tulisan di koran tersebut, pola pikir dan kemiskinan dianggap sebagai faktor utama bersekolah itu cukup sampai SD.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Tahun 2002 saat saya SMA, saya pernah satu kelas dengan teman yang tergolong pandai di kelas. Maret 2011 lalu lewat sms saat saya bertanya pekerjaannya dia menjawab dia jadi kuli. Menurut informasi, dia karyawan toko. Pendidikan terakhirnya SMA dari SMA yang dianggap favorit di lingkup kabupaten. Saat SMA saya berpikir paling tidak dia akan kuliah di sekolah tinggi ikatan dinas dan menjadi PNS. Namun, kenyataan berkata lain.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Teman SMA saya yang juga tergolong pandai di kelas sudah beberapa tahun ini bekerja di perusahaan multinasional yang bergerak di bidang pertambangan minyak. Setelah lulus dari SMA dia kuliah di institut terkemuka di negara ini. Gajinya lebih besar daripada gaji seorang bupati. Saya bisa memaklumi dia saat ini jika melihat sosoknya saat SMA.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Teman SMA saya juga ada yang menjadi guru. Mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK) sampai jenjang perguruan tinggi. Mereka semua lulusan perguruan tinggi (PT). Masih tentang teman SMA saya. Beberapa di antaranya ada yang bekerja di bank, kantor pemerintah kecamatan, kantor pemerintah kabupaten, sampai kantor pemerintah pusat, yakni tingkat kementerian yang lembaga sejenisnya. Sekali lagi mereka semua lulusan PT, entah di akademi, sekolah tinggi, universitas, maupun institut.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Paparan tersebut berhubungan dengan sekolah. Dalam arti tertentu bersekolah itu pilihan. Orang menganggap bersekolah cukup sampai SD saja itu bisa jadi bentuk ketidakpercayaan pada sekolah. Lagi pula jika sekolah tinggi-tinggi, saat ini terkadang perlu menyogok dengan uang agar mendapat jabatan atau pekerjaan. Bapak dari anak tetangga saya itu mungkin tahu tentang praktik itu. Bisa jadi pula pemerintah menganggap bersekolah cukup sampai SD maka pemerintah negara ini bisa malu dengan negara tetangga. Potret akan warga negaranya yang berpendidikan rendah.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-3172907488684844965?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/3172907488684844965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/05/lebih-baik-tidak-bersekolah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/3172907488684844965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/3172907488684844965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/05/lebih-baik-tidak-bersekolah.html' title='Lebih Baik Tidak Bersekolah?'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-4200449651911690085</id><published>2011-05-08T21:05:00.000-07:00</published><updated>2011-06-07T21:33:59.922-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mengenai Menulis'/><title type='text'>Bagaimana Menulis Artikel?</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bagaimana Menulis Artikel?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Seorang teman pada 21 April 2011 lalu untuk kali pertama bertanya pada saya tentang bagaimana menulis sebuah artikel. Berikut ini pertanyaan yang dia lewatkan surat elektronik. “1) Sebenarnya apa inspirasi Mas ketika menuliskan sebuah artikel?; 2) Bagaimana caranya menuliskan sisi menarik dari sebuah artikel agar banyak dibaca?; 3) Bagaimana &lt;i&gt;sih&lt;/i&gt; "prosedur" penulisan artikel?; 4) Bagaimana memilih topik yang tepat untuk blog kita?.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Teman saya itu lulus SMA tahun 2010 pada program IPS. Dia tetangga depan rumah saya. Setelah lulus dari SMA dia merantau ke Tangerang. Orang biasa menyebutnya merantau ke Jakarta. Saya pernah bertemu dengannya sekali di perpustakaan umum daerah Kabupaten Nganjuk. Selama di rumah, saya hampir tidak pernah berbincang-bincang dengannya. Lagi pula, dia juga baru tahu saya mengelola blog saat dia di luar kota.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Teman saya itu juga mengelola dua blog. Saya pernah mengunjungi salah satu blognya dan memberi komentar meskipun sedikit. Seorang bloger biasanya senang tulisannya dikomentari. Komentar itu wujud perhatian terhadap pemilik blog. Saling mengunjungi, membaca blog, mengomentari blog itu penting untuk bloger.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya sebetulnya tidak bisa menjawab ke empat pertanyaan tersebut. Pada dasarnya artikel adalah tulisan. Tesaurus Bahasa Indonesia (2006) juga menulis artikel antara lain satu makna dengan esai, karangan, makalah, dan tulisan. Namun, secara sempit saya menilai bentuk tulisan seperti yang di kolom opini sebuah koran itulah yang disebut artikel. Umumnya ditulis oleh seorang yang kompeten di bidangnya. Lazimnya juga disebut sebagai kolumnis.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sementara yang saya tulis di blog itu saya anggap sebatas tulisan yang umumnya ringan. Sering saya tulis dari sudut pandang orang pertama atau “aku”. Misalnya tulisan yang saya publikasikan ini. Jadi, nilai seni dan bobot tulisan masih lebih tinggi artikel daripada tulisan. Artikel bisa memuat suatu wacana yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Karenanya dipublikasikan di koran.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Banyak teori tentang menulis. Buku tentang bagaimana menulis artikel juga banyak yang diterbitkan. Khususnya bagaimana kiat agar sebuah artikel bisa dimuat di koran. Di internet juga banyak panduan tentang bagaimana menulis. &lt;i&gt;Work shop&lt;/i&gt; tentang kepenulisan juga memberikan arahan tentang bagaimana menulis. Saya sendiri belum bisa menulis dan dimuat di koran. Pernah satu dua kali mengirimkan, tetapi tidak dimuat. Tulisan saya hanya termuat di blog saya sendiri. Pengunjung, pembaca, maupun orang yang mengomentarinya pun sedikit.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Hendaknya teori itu juga diiringi oleh praktik, yakni menulis. Umumnya menulis ini adalah proses. Awalnya mungkin sebuah tulisan itu jelek. Namun, dalam teori menulis, lambat laun ada kemungkinan seseorang akan menemukan gaya tulisannya yang orisinal. Bahkan, siapa tahu akhirnya tulisannya bisa bermanfaat bagi banyak orang. Kebiasaan menulis itu juga memungkinkan seseorang menemukan prosedur dalam menulis artikel. Menarik tidaknya suatu tulisan umumnya juga bergantung pada pembaca. Topik tulisan dalam blog pun bisa berjalan seiring waktu selama menulis. Saya menulis tulisan ini pun terinspirasi oleh pertanyaan teman saya itu.  &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-4200449651911690085?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/4200449651911690085/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/05/bagaimana-menulis-artikel.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/4200449651911690085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/4200449651911690085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/05/bagaimana-menulis-artikel.html' title='Bagaimana Menulis Artikel?'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-7574286364060733881</id><published>2011-04-29T18:52:00.000-07:00</published><updated>2011-04-29T19:12:34.942-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Mengelola Sekolah Secara Profesional</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-G8OZETLRfco/Tbtv9fEmSqI/AAAAAAAAAE8/z0nSg3tEKjg/s1600/24042011304.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-G8OZETLRfco/Tbtv9fEmSqI/AAAAAAAAAE8/z0nSg3tEKjg/s200/24042011304.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5601193663668832930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="western" style="margin-left: 1in; text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Mengelola Sekolah Secara Profesional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;Judul buku  : Sekolahnya Manusia: Sekolah Berbasis &lt;i&gt;Multiple Intelligences&lt;/i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;di Indonesia&lt;/div&gt; &lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Penulis   : Munif Chatib&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Tebal   : xxiv + 188 halaman&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Penerbit  : Kaifa, Bandung&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Tahun terbit  : Cet. VII, April 2010&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya meminjam buku dengan judul yang provokatif itu di perpustakaan daerah Kabupaten Nganjuk, Sabtu, 23 April 2011. Awalnya saya berpikir itu buku baru, terbitan April 2011. Saya pun mengambil buku itu dari lemari etalase di perpustakaan. Jadi, perpustakaan juga baru mengeluarkannya untuk bisa dipinjam pada tanggal tersebut. Empat hari setelah saya pinjam, saya baru tahu buku itu terbit April 2010 silam. Saat saya mulai meresensinya.   &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya tahu setiap periode tertentu perpustakaan daerah itu menambah koleksinya. Misalnya buku-buku diperoleh dengan membeli di toko buku di Surabaya. Buku yang dibeli tidak semuanya baru. Lagi pula tidak semua buku yang baru akan dibeli. Namun, pengalaman meminjam buku pada hari Sabtu itu membuat saya berpikir, betapa terlambatnya saya terhadap akses buku di kabupaten yang tidak besar ini.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Secara umum buku berisi testimoni dari penulisnya yang bekerja di lembaga pendidikan di Yayasan Islam Malik Ibrahim (YIMI), Gresik, Jawa Timur. Status yayasan itu menandai lembaga pendidikan itu berstatus swasta. Juga lembaga itu berlatar belakang keislaman. YIMI itu pun mengingatkan saya pada lembaga pendidikan bernama Baitul Izzah di Nganjuk yang saat ini memiliki Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu (TKIT), Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) dan SMP Baitul Izzah.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Baitul Izzah sendiri merupakan &lt;i&gt;laboratory school&lt;/i&gt; dari Universitas Negeri Malang (UM). Saat ini di Kabupaten Nganjuk, SDIT Baitul Izzah dikenal favorit untuk jenjang SD meskipun Baitul Izzah berstatus swasta. Karenanya biaya sekolah di Baitul Izzah dikenal lebih tinggi daripada jenjang sekolah yang sama yang berstatus negeri. Namun, dengan biaya itu Baitul Izzah juga dikenal profesional dalam mengelola sekolah. Salah satu bukti adalah nilai siswa dalam ujian nasional (UN) yang di atas rata-rata. Katakanlah dalam lingkup kabupaten.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Namun, saya tidak tahu apakah di Baitul Izzah juga menerapkan sistem berbasis &lt;i&gt;multiple intelligences&lt;/i&gt; atau kecerdasan majemuk. Namun, baik Baitul Izzah maupun YIMI sebagai lembaga pendidikan swasta-keislaman tampaknya lebih leluasa menjalankan sistem yang lebih efektif sehingga hasilnya juga baik. Itu jika dibandingkan dengan lembaga pendidikan dengan jenjang yang sama yang berstatus negeri.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Lagi pula, antara satu SD dengan SD lainnya juga berbeda. Jika metode berbasis kecerdasan mejemuk ini diterapkan di suatu SD maka belum tentu hasilnya juga akan baik. Itu bisa disebabkan oleh kesiapan guru maupun dukungan dari semua pihak. Barangkali inilah kelemahan dari kelebihan metode tersebut.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di balik metode itu tentu ada &lt;i&gt;pentolan&lt;/i&gt; atau penggerak, misalnya guru, kepala sekolah, maupun peran penting pihak lain. Sumber daya manusia yang ada itu, siap bersama-sama dan mampu, serius dengan pekerjaannya. Teori dan praktik betul-betul dijalankan. Hal yang detail dan memang penting dalam penyelenggaraan pendidikan turut diperhatikan. Contohnya dalam membuat rencana pembelajaran (hlm. 150).  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Hal yang mengagumkan adalah proses pembelajaran dengan siswa yang saat masuk sekolah dianggap siswa-siswa bodoh dan bermasalah. Dalam metode kecerdasan majemuk semua siswa dianggap cerdas. Dengan begitu maka hasilnya, siswa yang lulus juga akan baik. Inilah yang disebut dengan “the best process” (hlm.91).  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Apabila saya katakan sebuah metode dalam sistem, sistem pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk ini sangat memperhatikan kecerdasan yang dimiliki oleh setiap siswa. Siswa sebagai individu memiliki kecerdasan yang unik. Antara satu siswa dengan siswa lainnya memiliki gaya belajar sendiri-sendiri. Kuncinya adalah pengenalan diri. Misalnya bagaimana interaksi antara guru dengan siswa bernama Bela kelas 2 SD yang awalnya dikenal sebagai pembuat masalah menjadi pembuat prestasi (hlm. 15). Itu juga tidak tidak lepas dari ketelatenan seorang guru.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dalam perkembangan belajar usia SD agaknya lebih mudah siswa itu “dibentuk”. Testimoni dalam buku ini pun hanya menceritakan keberhasilan metode itu di jenjang SD. Belum menceritakan keberhasilan metode di jenjang SMA yang mungkin usia perkembangan belajarnya sudah terlambat untuk dibentuk.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Metode kecerdasan majemuk ini kiranya juga mendukung dalam konsep belajar sepanjang hayat. Artinya, belajar itu tidak melulu dari balik tembok ruang kelas, tetapi manusia juga bisa belajar dari kehidupan ini secara lebih luas. Lagi pula, jenjang pendidikan tidak sampai pada SD, tetapi juga SMP, SMA dan seterusnya. Jadi, selama manusia itu hidup, manusia hendaknya senantiasa belajar.  &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-7574286364060733881?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/7574286364060733881/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/04/mengelola-sekolah-secara-profesional.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/7574286364060733881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/7574286364060733881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/04/mengelola-sekolah-secara-profesional.html' title='Mengelola Sekolah Secara Profesional'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-G8OZETLRfco/Tbtv9fEmSqI/AAAAAAAAAE8/z0nSg3tEKjg/s72-c/24042011304.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-5831196707520583593</id><published>2011-04-26T21:48:00.000-07:00</published><updated>2011-04-26T21:50:02.144-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Harapanku</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Harapanku&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Harapanku  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Kesetiaanku ada di hatimu&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Sayangnya hatimu tidak menerimaku&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Agaknya di hatimu&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Ada hati lain selain aku&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Singgah di hatimu&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Harapanku  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Seiring waktu&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Berbahagialah dirimu&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Dengan pilihan hatimu (Selasa, 19 April 2011)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-5831196707520583593?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/5831196707520583593/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/04/harapanku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/5831196707520583593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/5831196707520583593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/04/harapanku.html' title='Harapanku'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-3156086228952233667</id><published>2011-04-22T20:21:00.000-07:00</published><updated>2011-04-29T19:09:01.463-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Sosiologi'/><title type='text'>Mengenai Soal-Soal Ujian Sosiologi</title><content type='html'>&lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt; &lt;span style="font-size:180%;"&gt;Mengenai Soal-Soal Ujian Sosiologi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya mendapatkan nilai 7.08 pada mata pelajaran sosiologi dalam ujian akhir pada Mei 2003 silam. Saat itu sosiologi belum di-UN-kan. Dalam penilaian kualitatif angka itu tergolong baik. Dari nilai secara keseluruhan saya dinyatakan lulus. Waktu itu sudah diberlakukan kelulusan dan ketidaklulusan. Jika sekarang ada peraturan nilai minimal 5.50 agar bisa lulus maka khusus untuk nilai mata pelajaran sosiologi itu sudah memenuhi syarat minimal.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya mendapatkan nilai itu sesuai aturan. Saya mengerjakan sendiri dan tidak mencontek. Juga tidak meminta bantuan jawaban dari teman. Panitia ujian nasional pun memasukkan nilai apa adanya. Namun, sayang, khusus untuk mata pelajaran Tata Negara saya sempat meminta bantuan jawaban teman saya yang ber-IQ cemerlang.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Ini tidak patut ditiru sebab tergolong curang. Saya sempat menyalin jawaban saya sendiri dengan jawaban milik teman saya dengan tipe-X. Namun, pada akhirnya saya hanya mendapatkan nilai 7.77 untuk Tata Negara. Saya merasa bersalah telah berbuat buruk. Dalam hati saya sering diliputi rasa bersalah pada guru yang mengajar mata pelajaran Tata Negara.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Secara sinis terkadang saya berpikir belajar sosiologi adalah mendapatkan nilai yang bagus saat ujian, khususnya ujian nasional (UN). Hal yang sama tampaknya berlaku untuk mata pelajaran lainnya. Tipe soal ujian pun berbeda antara UN dan soal ujian seleksi masuk perguruan tinggi (PT). Jadi, nilai UN pun seakan-akan tidak berguna. Jika ingin masuk di PT harus bisa mengerjakan soal-soal ujian yang berbeda dengan UN.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Tampaknya ini juga berlaku pada kuliah yang menurut aturan ditempuh dalam beberapa tahun. Namun, pada akhirnya adalah skripsi yang dibuat dan lulus tepat waktu. Setelah itu boleh memegang satu lembar ijasah dan satu lembar transkrip nilai yang kemudian dilegalisir untuk melamar kerja.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Belum sampai di situ, lulusan PT yang ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) entah di daerah atau di pusat harus bersaing dengan lulusan PT lainnya. Berbahagialah mereka yang ber-IQ encer sehingga dapat lolos dalam tes PNS. Beruntung pula mereka yang memang bernasib baik dan memilih takdirnya. Namun, ratusan bahkan mungkin ribuan lulusan PT yang tidak lolos tes harus mencari jalan lain.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kian ketatnya persaingan, tawar menawar jual beli jabatan PNS pun terjadi. Dalam kasus tertentu, kalau ingin menjadi PNS, seseorang tidak perlu harus bisa mengerjakan soal-soal PNS. Dengan kemampuan diri yang bisa diterima, asalkan punya uang berjuta-juta maka seseorang bisa menjadi PNS.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Berbahagia pula-lah mereka yang tidak termasuk dalam ungkapan ke-sinis-an itu. Kenyataannya hidup itu tidak selamanya berjalan pada satu sisi. Satu dua contoh membuktikan kesejahteraan ekonomi tidak selalu dicapai oleh jebolan kampus. Teman saya bisa sejahtera dengan menjadi &lt;i&gt;kamituwo&lt;/i&gt; atau perangkat desa pada sebuah dusun. Teman saya itu tidak bergelar sarjana. Namun, dulu sempat mengenyam bangku kuliah meskipun akhirnya tidak diteruskan karena telah menjadi &lt;i&gt;kamituwo&lt;/i&gt;.   &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kembali pada judul ini judul di atas. Judul ini kelanjutan dari judul &lt;i&gt;Sosiologi di Sekolah dan di Perguruan Tinggi&lt;/i&gt;. Dalam judul itu saya sedikit berbicara mengenai soal-soal ujian sosiologi. Saya menulisnya dari sudut filsafat soal-soal ujian sosiologi. Jadi, saya tidak membuat soal-soal sosiologi. Namun, di blog ini ada salah satu kategori tulisan, yakni &lt;i&gt;Prediksi Soal UN 2009 Sosiologi dan Pembahasannya&lt;/i&gt;.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya mendapatkan prediksi soal UN 2009 itu dari www.banksoal.sebarin.com. Saya lalu menjawabnya disertai dengan pembahasannya. Acuan saya, buku pelajaran sosiologi. Namun, hanya beberapa soal saja yang saya bahas. Terkadang pikiran diliputi oleh rasa malas yang menghebat. Saya juga menjawab sejumlah soal pilihan ganda dengan jawaban sebanyak lima opsi itu dengan nalar. Jadi tidak melulu mengacu pada buku pelajaran sosiologi.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Namun, ada soal yang belum terjawab karena saya kesulitan menjawabnya. Seringkali saya ragu-ragu apakah jawaban saya itu benar atau tidak. Saat saya kuliah di Program Studi Sosiologi non-kependidikan saya hampir tidak mempelajari soal-soal sosiologi untuk SMA/MA. Dimungkinkan pula siswa bisa lebih pandai dalam menjawab soal-soal sosiologi daripada guru sosiologi.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Upaya saya itu juga bertujuan agar siswa terbiasa menjawab soal-soal ujian sosiologi. Khususnya jika siswa menghadapi UN. Tentu siswa juga bisa mempelajarinya dari buku berisi soal-soal persiapan ujian beserta pembahasannya yang dijual di toko-toko buku. Selain itu, upaya itu juga sebagai pembelajaran saya mengenai soal-soal ujian sosiologi.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Namun, sifat dari ilmu sosial yang relatif, ada sebagian soal yang bisa memunculkan perbedaan pendapat. Antara satu orang dengan orang lain. Karenanya, masih langka, bahkan mungkin belum ada peserta UN yang mendapatkan nilai 10.00 untuk mata pelajaran sosiologi. Berbeda dengan mata pelajaran matematika sebagai ilmu yang pasti. Jadi, wajar jika ada siswa yang mendapatkan nilai sempurna, 10.00 pada mata pelajaran matematika.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Karenanya baik pertanyaan maupun pilihan jawaban hendaknya se-logis mungkin. Kalimat dalam pertanyaan tidak dibuat asal-asalan agar bisa dinalar. Demikian juga dengan opsi-opsi jawaban jika soal berbentuk pilihan ganda. Umumnya opsi jawaban sebanyak lima. Antara satu opsi dengan opsi lainnya tampak sama-sama benar. Padahal, hanya satu opsi yang diminta yang dianggap benar. Misalnya contoh soal dari buku berjudul &lt;i&gt;Manusia dan Masyarakat: Pelajaran Sosiologi untuk SMA/MA,&lt;/i&gt; oleh Niniek Sri Wahyuni dan Yusniati, Ganeca Exact, tahun 2007, no. 8, halaman 19 berikut ini.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 0.75in; text-indent: -0.25in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;i&gt;8. Kemiskinan, gelandangan, pengemis, dan pengangguran merupakan masalah sosial dalam klasifikasi ...&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;  &lt;i&gt;Masalah masyarakat&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;  &lt;i&gt;Masalah ekonomi&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;  &lt;i&gt;Masalah biologis&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;  &lt;i&gt;Masalah psikologis&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;  &lt;i&gt;Masalah kebudayaan&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Mungkin kita bingung memilih antara jawaban A (masalah masyarakat) dan jawaban B (masalah ekonomi). Jika melihat uraian di halaman 13 pada buku tersebut, jawabannya adalah B (masalah ekonomi). Dengan demikian, jawabannya adalah B karena buku juga menjelaskan begitu.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Perhatikan juga contoh soal nomor 8, halaman 104 pada buku Sosiologi SMA/MA untuk kelas X, oleh Idianto Muin, terbitan Erlangga, 2006, berikut ini.&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-left: 0.51in; text-indent: -0.01in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;i&gt;8. Proses ketika orang per-orangan atau sekelompok manusia mula-mula saling bertentangan, lalu saling mengadakan penyesuaian diri untuk mengatasi ketegangan-ketegangan, disebut ...&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;  &lt;i&gt;Kerja sama&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;  &lt;i&gt;Akomodasi&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;  &lt;i&gt;Akulturasi&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;  &lt;i&gt;Kompetisi&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;  &lt;i&gt;Asimilasi&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Jika kita mencari jawabannya di bab &lt;i&gt;Interaksi Sosial dalam Dinamika Kehidupan Sosial&lt;/i&gt;, khususnya di bab &lt;i&gt;Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial&lt;/i&gt; maka jawaban yang benar adalah B (Akomodasi). Sekali lagi, kuncinya adalah membaca buku. Dengan kata lain, tes tulis seperti itu memerlukan kemampuan kognitif. Padahal, dalam sebuah pendapat, penilaian hasil belajar yang utuh juga mencakup penilaian afektif dan psikomotorik.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di satu sisi, kemampuan kognitif atau kemampuan pemahaman ini dianggap sangat penting. Tes tulis seperti ujian sosiologi, ujian tulis CPNS maupun ujian tulis yang lain umumnya memerlukan kemampuan kognitif yang andal. Afektif atau sikap dan psikomotorik atau tindakan terkadang dianggap sudah melekat di dalam diri setiap siswa. Padahal, mencontek itu adalah curang dan buruk dari segi penilaian afektif maupun psikomotorik.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Terkait penilaian, nilai kebaikan, nilai kebenaran, nilai moral, nilai kepantasan, dan nilai-nilai yang lain dianggap sudah melekat pada diri individu. Dalam kasus video asusila yang dilakukan oleh siswa yang terlanjur beredar lewat ponsel, tergolong dalam pelanggaran berat dari sisi penilaian psikomotorik. Juga secara hukum meskipun secara kognitif siswa bisa mengerjakan soal-soal sosiologi dengan baik. Umumnya jika kemampuan kognitif baik maka kemampuan afektif dan psikomotorik juga baik meskipun itu dengan catatan.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Jadi disayangkan jika sekolah hanya mirip bimbingan belajar yang lebih menekankan aspek kognitif. Tentu saya tidak bermaksud merendahkan bimbingan belajar. Hanya demi hakikat belajar maka kelemahan-kelemahan itu hendaknya disadari untuk dicarikan solusi.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kemudian, sepintas terkadang beberapa soal ujian sosiologi mirip soal ujian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Terkadang juga berbau seperti antropologi, psikologi, hukum, politik, bahkan ekonomi. Khusus antropologi akhirnya diintegrasikan ke dalam sosiologi. Akibatnya mata pelajaran antropologi ditiadakan. Kalau tidak salah peniadaan itu mulai tahun 2006.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Soal dengan jawaban B (Akomodasi) itu juga wujud dari politik kurikulum pendidikan. Ingat, negara juga punya kepentingan terhadap pendidikan. Negara menginginkan warganya tertib. Namun, dalam lingkup negara, sebuah konflik, sebuah ketegangan pasti terjadi. Misalnya, konflik dalam wujud kerusuhan di Situbondo pada 10 Oktober 1996 silam.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dalam soal itu, individu dalam kelompok yang sedang bersitegang hendaknya saling mengakomodasi, yakni menyesuaikan diri dari persoalan agar bisa keluar dari ketegangan, dari suatu konflik tersebut. Umumnya konsep sosiologi memang banyak diserap dari bahasa Inggris. Seperti halnya akomodasi.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Lewat soal itu negara ingin menanamkan konsep dalam pikiran generasi mudanya. Jika terjadi konflik maka hendaknya bisa menyesuaikan diri untuk dimusyawarahkan, dicari jalan keluarnya. Namun, terkadang negara pun bisa memicu eskalasi sebuah konflik. Ulasan mengenai negara ini bisa dibaca pada sumber lain.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-3156086228952233667?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/3156086228952233667/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/04/mengenai-soal-soal-ujian-sosiologi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/3156086228952233667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/3156086228952233667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/04/mengenai-soal-soal-ujian-sosiologi.html' title='Mengenai Soal-Soal Ujian Sosiologi'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-928638608086070964</id><published>2011-04-18T20:13:00.001-07:00</published><updated>2011-04-18T20:13:50.516-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Purnama</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Purnama&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Di langit tergambar&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Purnama bersinar&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Bintang berjajar&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Angin berkejar-kejar&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Dalam musim yang samar (Senin, 18 April 2011)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-928638608086070964?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/928638608086070964/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/04/purnama.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/928638608086070964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/928638608086070964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/04/purnama.html' title='Purnama'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-4142163025185777815</id><published>2011-04-18T20:12:00.000-07:00</published><updated>2011-04-18T20:13:09.117-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Hujan Rintik-Rintik</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Hujan Rintik-Rintik&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Hujan rintik&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Berbisik-bisik&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Bertitik-titik&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Cantik&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Menutup hari yang terik (Sabtu, 16 April 2011)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-4142163025185777815?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/4142163025185777815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/04/hujan-rintik-rintik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/4142163025185777815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/4142163025185777815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/04/hujan-rintik-rintik.html' title='Hujan Rintik-Rintik'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-8540109938915175276</id><published>2011-04-18T20:01:00.000-07:00</published><updated>2011-04-18T20:12:15.282-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Mendung</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Mendung &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Di bawah langit yang mendung&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Terdengar senandung&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Alunan yang tak terbendung&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Menghampiri hati yang relung (Senin, 11 April 2011)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-8540109938915175276?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/8540109938915175276/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/04/mendung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/8540109938915175276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/8540109938915175276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/04/mendung.html' title='Mendung'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-8426359697417093265</id><published>2011-04-09T19:42:00.000-07:00</published><updated>2011-04-09T19:43:16.504-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Topik lainnya'/><title type='text'>Jangkar</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Jangkar&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kata “jangkar” di Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) ada tiga arti. Artinya kata ini dalam bahasa Indonesia tergolong homonim. Salah satunya dalam bahasa Jawa, “jangkar” berarti &lt;i&gt;menjangkar v&lt;/i&gt;, yakni “memanggil seseorang dengan nama kecilnya saja.” Kata “jangkar” ini pertama kali saya tahu pada akhir 2009 silam dari seorang penyiar radio.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saat itu saya berpikir bukankah “jangkar” ini berarti pemberat pada kapal laut yang terbuat dari besi, bentuknya seperti mata pancing-ganda. Jangkar diturunkan ke air saat kapal berhenti di pelabuhan. “Jangkar” menurut KBBI (2002) juga berarti “akar yang bercabang-cabang di atas tanah seperti akar pada pokok pandan (bakau dsb).”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya merasa terlambat mengetahui kata “jangkar” justru setelah saya lulus dari perguruan tinggi. Betapa sedikitnya penguasaan kata dalam bahasa nasional negara saya sendiri. Saya sarjana sosiologi, bukan lulusan sastra Indonesia. Juga bukan sarjana pendidikan bahasa Indonesia. Namun, itu tidak bisa dijadikan alasan saya tidak tahu dengan kekayaan kosakata bahasa saya sendiri.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di antara kita mungkin tak mengenal kata “jelaga”, “tabik”, dan “gayut”. Terkecuali kita harus mencarinya di KBBI. Kata-kata seperti itu memang tidak populer. Misalnya jarang digunakan dalam pemberitaan di koran maupun televisi. Akan tetapi, biasanya kata-kata seperti itu digunakan dalam karya sastra seperti cerita pendek, novel maupun puisi. Terkecuali kita memang hobi mengisi teka-teki sehingga mengenal istilah-istilah tersebut.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di antara kita mungkin juga kesulitan atau malah tidak tahu menyebut benda sesuai dengan namanya. Di antara kita mungkin menyebut pelubang kertas. Padahal, dalam KBBI nama alat itu adalah perforator. Mungkin di antara kita menganggap sama antara baliho dan spenduk. Padahal, baliho dan spanduk itu memiliki perbedaan. Itu semua berkaitan dengan penguasaan dan pemakaian bahasa dalam bahasa Indonesia.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kembali pada kata “jangkar”. Jika ada nama “Supriono” maka nama kecil kita atau nama panggilan kita mungkin adalah “Pri”. Bahkan, saking akrabnya kita biasanya memberikan nama julukan pada seseorang. Misalnya, “Kobo” karena wajahnya mirip tokoh kartun “Kobo”. Citra akan diri kita terkadang juga memengaruhi julukan yang dilekatkan pada kita.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-8426359697417093265?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/8426359697417093265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/04/jangkar.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/8426359697417093265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/8426359697417093265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/04/jangkar.html' title='Jangkar'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-2001823533564120431</id><published>2011-03-30T21:57:00.000-07:00</published><updated>2011-03-30T21:58:51.328-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita dari Dusunku'/><title type='text'>Varietas Padi</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Varietas Padi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Musim tanam padi pada Maret-Juni 2011 ini banyak petani di Nganjuk, khususnya di Dusun Wates, Desa Balongrejo, Kecamatan Bagor, menanam padi varietas atau jenis Situ Bagendit. Di antara petani memakai Situ Bagendit SS asal Banyuwangi. Petani membelinya kisaran Rp 75.000,- sampai Rp 80.000,- per saknya atau per 10 kg di kios pengecer. Harga di setiap pengecer bisa berbeda.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Ada juga petani yang menanam varietas Bagendit asal Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang harganya lebih murah. Selisih beberapa ribu daripada yang asal Banyuwangi. Terkadang asal benih padi turut memengaruhi petani dalam menentukan pilihan. Misalnya petani lebih menyukai padi varietas Memberamo asal Boyolali.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya pun mencoba mencari kelebihan dan kelemahan dari varietes Bagendit di internet. Saya menemukan deskripsi tentang varietas padi dalam format pdf terbitan &lt;span style="color:#000000;"&gt;Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian (2009). Entah apakah informasi mengenai varietas padi sebatas itu. Saya pun menulis ini berdasarkan pengalaman petani di kampung saya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pencarian itu pun terkait varietes Bagendit yang ditanam pada musim tanam Maret-Juni atau masa &lt;i&gt;juki&lt;/i&gt; kali ini. Pada masa &lt;i&gt;juki&lt;/i&gt; 2010 lalu banyak tanaman padi terkena hama sundep. Namun, sejumlah petani yang menanam varietas Bagendit terhindar dari hama sundep. Akan tetapi, hasil produksi varietes Bagendit ini dinilai tidak sebanyak varietas Memberamo.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Konon hama sundep yang ditandai dengan mengeringnya daun tanaman padi ini juga dipengaruhi oleh waktu tanam. Petani yang memulai menanam awal banyak yang terkena sundep. Akhirnya, pada masa panen, kualitas dan kuantitas padi pun menurun drastis. Rata-rata turun 50 %, bahkan lebih. Namun, di tempat lain dengan masa tanam yang sama tidak begitu terpengaruh oleh hama sundep ini. Kemungkinan itu juga dipengaruhi oleh daya dukung tanah.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Masa&lt;i&gt; labuh&lt;/i&gt; yang lalu banyak petani khususnya di Dusun Wates, Desa Balongrejo, Kecamatan Bagor, Nganjuk yang menanam varietas Ciherang. Saat akan panen, yakni batang mulai menahan bulir padi maka varietas ini dikenal tidak mudah roboh meski hujan lebat dengan angin kencang. Karenanya pada masa &lt;i&gt;labuh&lt;/i&gt; atau masa tanam padi pada November 2010 sampai Februari 2011 yang lalu banyak petani yang menanam varietas ini. Antara bulan itu terjadi musim penghujan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Berbeda dengan varietas Ciherang, varietas Memberamo mudah roboh saat hujan dengan angin kencang. Karenanya pada masa tanam Juli sampai dengan Oktober atau masa &lt;i&gt;gadu&lt;/i&gt;, banyak petani menanam varietas ini. Di antara bulan itu memasuki musim kemarau. Dengan demikian, hujan lebat yang biasanya dengan angin kencang dimungkinkan tidak terjadi.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Setiap varietas memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Misalnya nasi dari varietas Memberamo ini memang lebih pulen dibandingkan dengan dengan varietas Ciherang. Bentuk bulir padi dari varietas Memberamo ini juga lebih bulat dibandingkan dengan Ciherang. Selain itu, kuantitas produksi padi lebih banyak dari varietas Memberamo dibandingkan dengan Ciherang. Karenanya penelitian dan pengembangan varietas yang unggulan mengingat padi sebagai makanan pokok orang Indonesia hendaknya tidak henti-hentinya dilakukan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Varietas memang memiliki kelebihan dan kelemahan masing. Faktor cuaca terkadang turut memengaruhi. Misalnya pada tahun 2010 yang lalu secara umum Indonesia hampir tidak ada musim kemarau. Hujan terus turun sepanjang bulan di tahun 2010. Termasuk yang terjadi di Nganjuk. Namun, pertengahan tahun 2010 sempat tidak turun hujan selama beberapa minggu. Mungkin orang menduga itu sebagai pertanda musim kemarau.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Namun, kenyataannya itu tadi, hujan turun sepanjang bulan di tahun 2010. Terkadang, bahkan seringkali iklim tidak bisa diduga. Perhitungan petani yang menanam varietas Memberamo pada masa tanam Juli s/d Oktober 2010 silam meleset. Saat padi akan dipanen beberapa hari lagi, hujan turun dengan lebat dengan angin kencang. Banyak tanaman padi dari varietas Memberamo yang roboh. Tanaman padi yang roboh ini pun memengaruhi kenaikan upah pekerja yang memotong padi. Tanaman padi yang roboh pemotongannya lebih lama.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Ciherang, Memberamo, dan yang baru-baru ini dipakai oleh petani, yakni Bagendit adalah beberapa varietas padi. Masih ada varietas padi yang lain yang juga memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Misalnya ada varietas Cimelati yang nasinya berbau wangi. Juga ada varietas Way Apo, IR 64, dan puluhan varietas padi yang lainnya.  &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-2001823533564120431?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/2001823533564120431/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/03/varietas-padi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/2001823533564120431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/2001823533564120431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/03/varietas-padi.html' title='Varietas Padi'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-4077140040155417454</id><published>2011-03-05T20:07:00.000-08:00</published><updated>2011-03-05T20:09:14.323-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Analisis Sosiologi'/><title type='text'>De-konstruksi</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;De-konstruksi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dalam KBBI (2002) belum ada istilah de-konstruksi. Namun, di KBBI 2002 ada istilah degenerasi. Dari kata “generasi” kemudian diberi awalan de-. Demikian juga dengan de-konstruksi dari kata “konstruksi” dengan awalan de-. Mungkin kita juga mengenal deregulasi, demiliterisasi, dan desentralisasi. Tiga kata itu sama-sama berawalan de-.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dari sisi konteks, awalan de- itu bisa berarti perubahan. Entah itu penafsiran kembali, kemunduran, pembatasan, dan lain sebagainya. Misalnya deregulasi ini adalah istilah ekonomi yang menurut KBBI (2002) berarti “kegiatan atau proses menghapuskan pembatasan dan peraturan.”  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dalam tulisan ini dekonstruksi dimaknai sebagai penafsiran kembali. Intinya ada suatu perubahan. Contohnya di televisi program berita itu merupakan hasil kerja jurnalistik yang objektif. Namun, kemudian ada program berita, tetapi berita itu diplesetkan untuk kepentingan tawa atau komedi. Berita yang umumnya terkesan serius bisa dikomedikan atau diparodikan menjadi kepentingan hiburan. Mengundang gelak tawa.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Istilah dekonstruksi sendiri dikenalkan oleh filsuf Derrida. Jadi, istilah dekonstruksi ini tidak asing lagi dalam dunia filsafat. Saya berusaha mencari kliping koran milik saya mengenai pikiran Derrida tentang dekonstruksi ini. Akan tetapi, saya tidak menemukannya. Dengan demikian, penafsiran saya tentang dekonstruksi ini cenderung bebas.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Lagi pula, “kebebasan”, khususnya dalam pencarian kebenaran itu adalah satu sifat filsafat. Tentu saja kebebasan yang tidak asal-asalan dan tidak sembrono serta bisa dipertanggungjawabkan. Kebebasan yang sesuai dengan hakikat kebebasan itu sendiri dalam berfilsafat meskipun terkadang kebebasan itu relatif.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Mungkin kita lebih mengenal konstruksi dalam bidang bangunan. Misalnya konstruksi rumah terdiri atas pondasi, lantai, tiang, dinding, atap, dan seterusnya. Lagi pula, konstruksi juga berarti arsitektur, desain. Namun, konstruksi juga berarti penafsiran, interpretasi. Umumnya satu kata memang bisa digunakan untuk konteks yang berbeda.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kembali lagi pada dekonstruksi terkait dalam filsafat juga dunia sosial. Judul “dekonstruksi” ini pun terinspirasi, misalnya program berita televisi yang telah ditulis di atas. Salah satu sifat filsafat adalah menyeluruh. Jadi, program di televisi pun bisa difilsafatkan. Khususnya dalam filsafat, kiranya kurang keren jika dekonstruksi ini dipilihkan kata “plesetan”. Namun, dalam surat kabar nasional setiap hari Minggu ada kolom komodifikasi, yakni ulasan mengenai pergeseran akan makna benda, istilah, simbol dan lain sebagainya. Dalam linguistik pun dikenal pergeseran atau perubahan makna. Ini pun menunjukkan bagaimana sifat perubahan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Terkait dengan dekonstruksi, ambillah contoh lagi tentang acara televisi yang memarodikan superhero-superhero. Barangkali kita tahu acara tersebut. Sosok super hero dikonstruksikan berkemampuan super, bisa menghindar atau kebal dari peluru, biasanya mengalami mutasi gen ternyata bisa diparodikan atau di-dekonstruksikan kocak tidak seperti superhero yang ada di film. Akhirnya hasil dekonstruksi bisa menjadi komoditas hiburan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Contoh program televisi itu juga tak lepas dari televisi itu sendiri sebagai salah satu alat komunikasi massa. Demikian juga dengan film yang biasanya dalam format &lt;i&gt;cassette disc&lt;/i&gt; (CD). CD juga sebagai komunikasi massa. Dalam CD, superhero dikonstruksikan serius dan menolong orang lain. Namun, televisi mengemasnya atau men-dekonstruksinya dalam sinetron komedi. Dalam hal ini televisi juga sebagai alat konstruksi pikiran masyarakat atau konstruksi sosial.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Jika mengambil contoh program di televisi maka masih banyak lagi. Kita ketahui juga dalam kajian ilmu komunikasi, paling tidak ada realitas simbolis yang dibentuk oleh televisi itu sendiri, realitas subyektif (pemirsa televisi), dan realitas obyektif (fakta yang sesungguhnya). Pemirsa televisi juga memiliki kesadarannya sendiri. Itu mengingatkan bagaimana proses konstruksi maupun dekonstruksi oleh televisi.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Konstruksi maupun dekonstruksi juga tidak hanya terjadi di televisi. Dekonstruksi juga dipakai untuk menginterpretasi makna teks dari suatu kitab suci. Dekonstruksi ini tampaknya juga beriringan dengan posmodernisme. Satu hal yang saya ingat dari posmodernisme ini adalah “tidak ada kebenaran, yang ada adalah kebenaran-kebenaran.” Agaknya aliran-aliran “sempalan” dalam agama yang “mungkin” dinilai tidak menjadi bagian dari “kebenaran” itu tergolong dalam “kebenaran-kebenaran”.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pandangan yang terakhir mengenai “kebenaran-kebenaran” itu memang bisa dilematis. Jika dikaitkan dengan agama maka itu bisa sangat sensitif. Sejarah telah berbicara, bidang keagamaan dalam beberapa kasus memunculkan konflik sosial. Juga bisa memunculkan kegelisahan maupun keterguncangan dalam masyarakat. Artinya kebenaran itu tak semata-mata kebanaran. Pada akhirnya kebenaran harus berhadapan dengan konsensus atau kesepakatan masyarakat yang bersangkutan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Berbeda jika misalnya bahasa nasional di Indonesia adalah bahasa Indonesia. Lalu ada bahasa Madura, bahasa Jawa, Bahasa Sunda, dan lain sebagainya. Jika bahasa Indonesia merupakan kebenaran, tetapi juga tidak memungkiri kebenaran-kebanaran bahasa-bahasa tadi.  &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-4077140040155417454?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/4077140040155417454/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/03/de-konstruksi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/4077140040155417454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/4077140040155417454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/03/de-konstruksi.html' title='De-konstruksi'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-5087991589953864595</id><published>2011-02-25T19:58:00.000-08:00</published><updated>2011-02-25T19:59:24.210-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peristiwa'/><title type='text'>Perjumpaan Tak Terduga</title><content type='html'>&lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt; &lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Perjumpaan Tak Terduga&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Rabu, 16 Februari 2011, malam hari, seorang teman mengirimi saya sms. Dia bertemu dengan seorang teman dan suaminya di apotek. Teman saya itu sendiri bersama istri dan anaknya yang masih bayi. Tentu saja perjumpaan di apotek itu sebelum dia mengirim sms. Dalam perjumpaan itu teman saya itu tidak sempat tegur sapa. Hanya sempat saling pandang saja. Dia memberitahu saya perjumpaan yang tak terduga itu sebab dulu kami teman SMA. Selain itu, meskipun tinggal dalam satu kabupaten, tetapi teman saya itu sudah lama tidak berjumpa.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Perjumpaan tak terduga memang bisa terjadi. Entah di apotek, di resepsi pernikahan, di stasiun, di terminal, di perpustakaan, di SPBU, di jalan, di seminar dan lain sebagainya. Artinya, secara tak terduga, tanpa sebelumnya kita berjanji untuk bertemu, kita bertemu dengan teman, saudara, guru, mitra kerja, atau bahkan mantan kekasih di tempat-tempat seperti itu. Jika di dunia maya maka kita juga bisa bertemu di situs-situs jejaring sosial yang sampai kini masih populer.&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Secara tak terduga saya juga pernah bertemu dengan seorang teman di stasiun. Kamis sempat ngobrol sebentar. Saat itu dia hendak ke Yogyakarta untuk menyelesaikan kuliahnya. Kami dulu adalah teman SMA, tetapi tidak pernah satu kelas. Karena kaitan organisasi di sekolah saat itu maka kami bisa kenal.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya pun yakin. Di antara Anda, khususnya se-usia saya juga pernah mengalami perjumpaan tak terduga. Mungkin secara tak terduga Anda pernah bertemu dengan teman Anda saat naik kereta api. Mungkin pula Anda bertemu dengan guru Anda di sebuah rumah sakit.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Perjumpaan tak terduga memang biasa terjadi. Namun, terkadang perjumpaan itu terasa istimewa. Biasanya perjumpaan tak terduga itu menjadi pengalaman tak terlupakan. Apalagi jika perjumpaan tak terduga itu jarang terjadi. Nostalgia kecil pun bisa terjadi.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-5087991589953864595?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/5087991589953864595/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/02/perjumpaan-tak-terduga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/5087991589953864595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/5087991589953864595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/02/perjumpaan-tak-terduga.html' title='Perjumpaan Tak Terduga'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-1560671357393767268</id><published>2011-02-15T18:14:00.000-08:00</published><updated>2011-02-15T18:15:13.970-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peristiwa'/><title type='text'>Bank itu Tak Menyediakan Koran</title><content type='html'>&lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt; &lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Bank itu Tak Menyediakan Koran&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Umumnya Anda akan mudah menjumpai koran di perpustakaan. Jika Anda hobi membaca, khususnya koran, dan tempat tinggal Anda dekat dengan perpustakaan umum. Anda mungkin akan membacanya di perpustakaan. Apalagi jika Anda memiliki waktu luang pergi ke perpustakaan. Anda tidak ingin berlangganan koran, sementara Anda sangat ingin membaca koran. Terlebih Anda sekadar ingin menikmati suasana perpustakaan.   &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Begitu juga dengan perpustakaan di lembaga pendidikan seperti sekolah maupun perguruan tinggi. Umumnya kita juga mudah menjumpai koran di sana. Mungkin di tempat kerja Anda juga berlangganan koran. Di kios-kios biasanya juga menjual koran. Namun, jika ingin membacanya berarti Anda harus membelinya.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Mungkin Anda juga pernah ke rumah sakit dan Anda juga menjumpai koran di sana. Sambil menunggu, Anda bisa membaca koran. Jika Anda hobi membaca atau jika Anda ingin mendapatkan informasi tertentu, Anda bisa membacanya. Mungkin Anda sekadar ingin melihat gambar-gambar di koran itu. Biasanya rumah sakit menyediakan koran terbaru dan terbitan beberapa hari terakhir.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Namun, mungkin Anda jarang atau bahkan tidak pernah menjumpai sebuah bank yang menyediakan koran untuk dibaca. Di sebuah bank yang biasanya saya men-transfer uang untuk saudari saya yang kuliah di luar kota menyediakan koran untuk dibaca. Koran ini bisa dibaca oleh nasabah sambil mengantre untuk dilayani oleh &lt;i&gt;teller&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;customer service&lt;/i&gt;. Ada dua nama koran di sana. Akan tetapi, Kamis, 10 Februari 2011, bank itu sudah tidak lagi menyediakan koran yang bisa dibaca oleh nasabah. Padahal, sekitar satu bulan yang lalu saat saya transfer di bank itu masih menyediakan koran.&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;     Saya sempat menanyakannya pada seorang satuan pengamanan (satpam) bank tersebut. Katanya “dulu pernah ada kejadian, tetapi di luar. Semuanya membaca koran.” Jawabannya memang kurang masuk akal. Saya juga tidak menanyakannya lagi alasannya pada satpam tersebut. Lagi pula dari jawabannya, satpam itu sepertinya ingin menutupi sesuatu.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Akan tetapi, saya akhirnya menduga apakah kejadian itu berupa perampokan. Namun, dugaan saya itu tidak beralasan sebab selama ini tidak ada berita bank itu dirampok. Namun, mungkin ada nasabah yang membaca koran, kemudian nasabah itu tidak memperhatikan saat mesin pemanggil menyebut nomor antreannya. Dengan demikian, itu menghambat layanan oleh &lt;i&gt;teller&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;customer service&lt;/i&gt;.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Secara pribadi, saya menyukai layanan bank tersebut. Salah satunya adalah menyediakan koran yang bisa dibaca. Namun, kini tidak lagi. Juru parkirnya pun ramah. Saat ramai, terkadang juru parkir membantu nasabah yang hendak pergi. Satpam juga ramah membuka pintu bank. Seringkali menanyakan nasabah apakah ada yang bisa dibantu.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Nomor antreannya pun elektronik. Tinggal pencet tombol akan ke &lt;i&gt;teller&lt;/i&gt; ataukah ke &lt;i&gt;customer service&lt;/i&gt;. Ruangannya pun berpendingin udara. &lt;i&gt;Teller&lt;/i&gt; dan bagian &lt;i&gt;customer service&lt;/i&gt; juga ramah. Wajahnya pun cantik. Seringkali seorang di &lt;i&gt;customer service&lt;/i&gt; berdiri dari tempat duduk sambil menyapa “selamat siang” atau “ada yang bisa dibantu” saat ada nasabah baru. Sebagai nasabah, saya pun percaya dengan bank itu terkait dengan kebeadaan uang saya.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saat di bank, entah pikiran saya ke mana-mana. Kiranya tidak pantas jika menanyakan apakah salah seorang &lt;i&gt;teller&lt;/i&gt; itu memiliki &lt;i&gt;facebook&lt;/i&gt;. Itu adalah persoalan pribadi sehingga itu hendaknya tidak ditanyakan. Apabila ditanyakan pun maka kemungkinan besar &lt;i&gt;teller&lt;/i&gt; tidak akan memberikannya jika memang punya &lt;i&gt;facebook&lt;/i&gt;. Berbeda jika misalnya bertanya tentang jumlah minimal uang yang bisa ditransfer. Kemungkinan besar itu akan dijawab oleh &lt;i&gt;teller&lt;/i&gt;. Semua itu sebagai layanan dari pihak bank.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Bank sebagai tempatnya uang dalam jumlah yang banyak juga ber-risiko dirampok. Karena itu, bank memakai jasa keamanan baik dari satpam maupun kepolisian. Dengan bentuk yang berbeda, misalnya perampokan sebuah bank seperti yang ada di film juga bisa terjadi di dunia nyata. Orang yang bekerja di bank tentu menyadari ini.   &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pikiran saya yang ke mana-mana pun berlanjut sampai saat saya mengendarai motor, hendak pulang. Dulu seorang teman pernah berujar, setiap orang hendaknya bisa menyelesaikan masalah dirinya sendiri. “Diri sendiri” inilah kata kuncinya. Pengertian “diri sendiri” ini bukan egois. “Diri sendiri” ini dalam banyak hal memengaruhi dan dipengaruhi oleh “diri” itu sendiri.   &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Misalnya, saat saya mengendarai motor dan konsentrasi pikiran saya menurun, bahkan hilang maka kemungkinan saya bisa saja celaka di jalan. Dalam derajat tertentu, diri saya sendiri menjadi penentu keselamatan atas diri saya sendiri. Kiranya ini juga berlaku untuk Anda.  &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-1560671357393767268?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/1560671357393767268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/02/bank-itu-tak-menyediakan-koran.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/1560671357393767268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/1560671357393767268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/02/bank-itu-tak-menyediakan-koran.html' title='Bank itu Tak Menyediakan Koran'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-363850507761556186</id><published>2011-02-08T19:21:00.000-08:00</published><updated>2011-07-02T20:24:27.089-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mengenai Menulis'/><title type='text'>Pengeditan</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pengeditan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; “&lt;i&gt;Kesan pertama itu pula yang menarik bagi pembaca, terutama &lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;mereka yang&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt; pecinta metode kualitatif&lt;/i&gt;.” Kata yang di-garis-bawah-i itu sebetulnya tidak perlu ditulis sebab sia-sia. “&lt;i&gt;pecinta metode kualitatif&lt;/i&gt;” itu sudah cukup menjelaskan kalimat tersebut. Kelimat tersebut ada dalam kalimat pertama paragraf ke-6 dalam judul &lt;i&gt;Menggayakan Laporan Penelitian Metode Kualitatif&lt;/i&gt;. Kata yang di-garis-bawah-i itu hanyalah salah satu contohnya. Masih banyak kata dalam kalimat yang perlu di-sunting atau di-edit.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saat menulis biasanya kita sudah yakin dengan tulisan kita. Saat menulis biasanya kita merasa redaksional sudah tidak pas. Tidak ada kata yang tertulis secara keliru. Kalimat juga tertulis secara efektif, logis, dan seterusnya. Namun, sebagai penulis bisa jadi saat kita membaca kembali tulisan kita sendiri maka kemungkinan akan ada yang perlu di-edit. Seperti yang saya alami itu. Karenanya setiap penulis sekaligus editor bagi dirinya sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Tidak ada yang sempurna. Termasuk tulisan kita. Mungkin kita menilai tulisan kita sudah baik. Namun, belum tentu orang lain menilai baik. Apalagi penilaian dari seorang editor yang terlatih. Terkadang kita sendiri menilai tulisan kita jelek. Akan tetapi, mendapatkan tanggapan yang baik dari pembaca. Karena itu, seringkali nasib tulisan memang ada di tangan pembaca.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Biasanya ketepatan redaksional, ke-efektif-an kalimat, ke-logis-an kalimat, kesatuan wacana, dan seterusnya itu dapat dicapai oleh penulis-penulis yang andal. Tujuan seperti ketepatan redaksional itu agar sebuah tulisan itu enak dibaca maupun mudah dipahami maksudnya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Intinya sebuah kalimat hendaknya perlu dilihat dari berbagai sisi. Lagi pula sebuah tulisan memiliki pangsa pembaca sendiri-sendiri. Misalnya sebuah esai sudah memenuhi pengeditan yang bagus. Entah ketepatan redaksional, ke-efektif-an kalimat, ke-logis-an kalimat, dan kesatuan wacana. Namun, idenya jelek maka “rasa” dari esai itu juga kurang “enak”. Begitu juga misalnya saya menilai suatu esai itu bagus. Namun, belum tentu Anda menilainya bagus.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Akhirnya, seni menulis pun tak luput dari relatifitas. Namun, tulisan yang sudah berbentuk buku, dimuat di koran, di majalah, di tabloid bisa menjadi ajang pembuktian akan pengakuan sebuah tulisan. Karenanya sebuah buku, koran, majalah, tabloid umumnya memiliki editor.  &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-363850507761556186?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/363850507761556186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/02/pengeditan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/363850507761556186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/363850507761556186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/02/pengeditan.html' title='Pengeditan'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-7906485480016793569</id><published>2011-02-04T18:19:00.000-08:00</published><updated>2011-02-04T18:21:03.884-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>Seleksi</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Seleksi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Seleksi ini satu makna dengan pemilahan, pemilihan, atau penyaringan. Seleksi di-Indonesia-kan dari bahasa Inggris, “&lt;i&gt;selection&lt;/i&gt;”. Awalan &lt;i&gt;pe&lt;/i&gt;- dan akhiran -&lt;i&gt;an&lt;/i&gt; dalam bahasa Indonesia menyatakan proses. Dengan demikian, seleksi juga bermakna proses. Meskipun satu makna, tetapi penggunaan kata-kata itu menyesuaikan konteks. Kita tahu “seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil”, “pemilahan sampah”, “pemilihan kepala daerah”, “penyaringan ampas tahu” adalah beberapa contohnya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Secara sederhana seleksi berarti menentukan yang terbaik, di antara yang terbaik. Dalam suatu perlombaan biasanya menggunakan pernyataan itu. Tujuannya agar ada kesetaraan “di antara yang terbaik” itu. Umumnya yang terbaik itu pula yang dinginkan oleh manusia. Biasanya yang terbaik itu berbuah kebahagiaan. Kebahagiaan biasanya ingin dicapai oleh manusia. Di dunia maupun di akherat.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Hampir dalam setiap bidang ada seleksi. Sebagaimana telah dicontohkan di akhir paragraf pertama tadi. Dalam birokrasi ada seleksi pegawai baru. Misalnya lewat seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Biasanya lewat administrasi, serangkaian tes tulis dan tes wawancara. Di bidang pekerjaan swasta pun ada sistem seleksi. Bahkan, mereka yang akan menikah umumnya juga menyeleksi calon suami maupun calon istri.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Seleksi ini memang penting. Begitu pentingnya suatu seleksi, bisa menelan biaya yang besar. Misalnya pemilihan presiden. Bahkan, dalam sebuah seleksi ada kemungkinan akan kecurangan. Saya ingat dengan perkataan dosen saya tentang seleksi ini. Misalnya untuk mencegah korupsi maka sistem seleksi ini harus benar-benar bisa menyeleksi orang-orang yang tepat. Bahkan terkadang juga melihat jejak perjalanan hidup orang tersebut.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dalam birokrasi dikenal slogan &lt;i&gt;right men in the right place&lt;/i&gt;. Orang yang tepat atau benar hendaknya berada di tempat atau jabatan yang tepat pula. Dengan kata lain, sumber daya manusia (SDM) yang ada perlu diatur sebaik-baiknya demi pencapaian yang maksimal. Pengaturan SDM ini juga kiranya juga bisa dipakai untuk mengatur “yang terbaik” yang tidak lolos dalam seleksi.  &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-7906485480016793569?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/7906485480016793569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/02/seleksi.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/7906485480016793569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/7906485480016793569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/02/seleksi.html' title='Seleksi'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-4061289133410604920</id><published>2011-01-20T17:26:00.000-08:00</published><updated>2011-01-20T17:35:08.623-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Topik lainnya'/><title type='text'>Kecelakaan di Jalan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://wartakota.co.id/upload/photo/2010/03/13/3a9b0654940c79213ee2ffe50993158e.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 233px; height: 198px;" src="http://wartakota.co.id/upload/photo/2010/03/13/3a9b0654940c79213ee2ffe50993158e.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.2  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt;&lt;/style&gt;Gambar diunggah dari &lt;a href="http://wartakota.co.id/read/news/26407"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Kecelakaan di Jalan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya sering tertarik mengikuti berita tentang kronologi kecelakaan di media. Khususnya kecelakaan motor maupun mobil di jalan. Mengingat saya juga pengendara motor juga pengendara roda empat jenis pikap. Bukan berarti saya senang dengan peristiwa kecelakaan. Namun, dari berita-berita kecelakaan itu saya dapat belajar agar terhindar dari kecelakaan yang serupa.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Jika mencari di mesin pencari di internet maka banyak tips untuk menghindari kecelakaan. Misalnya dikatakan, banyak kasus kecelakaan, baik roda dua maupun roda empat terjadi saat pengendara menyalip. Karena itu, sebelum menyalip kendaraan lain agar memastikan tidak ada kendaraan dari arah yang berlawanan. Intinya pengendara harus hati-hati.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Seringkali dikatakan kecelakaan bisa disebabkan oleh kondisi kendaraan, kondisi jalan, kondisi cuaca, dan keadaan pengendara sendiri. Boleh jadi kita sebagai pengendara sudah memperhitungkan berbagai kondisi tersebut. Akan tetapi, pengendara yang lain belum tentu memperhatikannya. Karenanya pengendara lain juga bisa mencelakai diri kita. Jadi, kasus demi kasus kecelakaan tidak disebabkan oleh satu faktor saja.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Terkadang sudah hati-hati, tetapi nasib juga berkata lain sebagaimana faktor lain itu tadi. Artinya, pengendara sudah berhati-hati. Risiko kecelakaan juga dimungkinkan kecil terjadi. Namun, kecelakaan toh akhirnya terjadi. Entah kendaraan lecet, pengendara mengalami rasa sakit karena luka, pengendara trauma, bahkan nyawa sampai melayang. Namun, ini bukan berarti ke-hati-hati-an itu tidak diperlukan.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pada dasarnya setiap pengendara harus berkesadaran. Maksudnya, pengendara sendiri harus sadar agar dirinya tidak celaka saat berkendara. Misalnya, pengetahuan rambu-rambu lalu lintas seperti jangan menerobos lampu lalu lintas saat lampu sedang merah. Juga pengendara tidak dalam keadaan mabuk maupun mengantuk saat mengendarai kendaraan. Kondisi kendaraan seperti keadaan rem hendaknya juga diperhatikan oleh seorang pengendara.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di balik itu, kita memang mudah menemukan kiat agar terhindar dari kecelakaan di jalan. Namun, tampaknya masih sulit menemukan tulisan yang mengulas kiat saat terjadi kecelakaan. Dalam kasus tertentu saat kita mengalami kecelakaan di jalan dan kita tidak sadarkan diri, barang seperti dompet kita bisa dijarah orang. Dalam kasus tertentu pula, orang bisa memukuli dan menghajar secara beramai-ramai pada pengendara yang menabrak orang lain. Terkadang dua orang yang terlibat dalam kecelakaan bisa saling adu mulut.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di antara kita mungkin juga tidak begitu tahu bagaimana prosedur kepolisian lalu lintas dalam menangani kasus kecelakaan. Dalam pemberitaan media, kendaraan yang menabarak bisa ditahan oleh kepolisian. Mungkin di antara kita juga pernah mengalami kita membayar uang tertentu pada polisi atas kecelakaan yang kita alami. Karena itu, terkadang suatu kasus kecelakaan tidak dibawa sampai pada kepolisian. Cukup lewat kesepakatan di antara dua pihak yang terlibat dalam kecelakaan.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di antara kasus kecelakaan adalah tabrak lari. Seorang pengendara, entah roda empat maupun roda dua menabrak pengendara lainnya dan langsung melarikan diri. Umumnya pengendara yang kabur ini panik dan takut. Jika dia tidak melarikan diri maka dia harus bertanggung jawab. Biasanya dalam bentuk uang.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Agaknya pengendara yang kabur ini sering luput dari media. Media sering memberitakan waktu, tempat, dan kronologi kecelakaan saja. Namun, bisa jadi pelaku tabrak lari ini memang tidak bisa ditemukan. Katanya, jika pengendara roda empat menabrak pengendara roda dua maka pengendara roda empat harus bertanggungjawab meskipun kesalahannya pada pengendara roda dua.   &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-4061289133410604920?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/4061289133410604920/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/01/kecelakaan-di-jalan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/4061289133410604920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/4061289133410604920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/01/kecelakaan-di-jalan.html' title='Kecelakaan di Jalan'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-8087847430086713135</id><published>2011-01-11T20:08:00.000-08:00</published><updated>2011-01-20T17:22:26.817-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Topik lainnya'/><title type='text'>Indekos</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.2  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt; &lt;span style="font-size:180%;"&gt;Indekos&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Lewat judul itu saya ingin berbagi pengalaman saat saya indekos antara Juni 2003 sampai dengan Mei 2009. Selama enam tahun itu, saya pernah indekos. Indekos adalah keharusan sebab tidak mungkin jika kuliah di Jember, saya pulang pergi Nganjuk-Jember setiap hari. Pengalaman ini boleh jadi biasa-biasa saja. Mungkin juga terkesan saya mengungkit-ungkit masa lalu yang hendaknya tidak perlu dituliskan. Namun, saya ingin menuliskannya.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dalam percakapan, kita biasanya memakai kata “kos”. Akan tetapi, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBB, 2002) tertulis “indekos”. Namun, sebuah surat kabar lebih memakai kata “kos-kosan”. Indekos merupakan bentuk menyewa tempat. Umumnya kamar tidur dalam jangka waktu tertentu. Biasanya jangka waktunya lama. Beberapa bulan atau beberapa tahun. Jadi berbeda dengan sewa kamar hotel. Kontrak juga seperti kos, tetapi biasanya yang dikontrak itu sebuah rumah.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Ada lagi asrama. Asrama biasanya milik sebuah lembaga. Umumnya milik kampus. Saat saya kuliah dulu juga ada sejumlah teman-teman yang mondok, yakni berada di sebuah pesantren. Juga dikenal dengan pesantren pelajar dan mahasiswa. Sementara itu, sebagian kecil mahasiswa ikut saudaranya. Di antara semua sistem itu, sistem indekos ini pula yang terbanyak jumlahnya saat saya kuliah dulu.&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Namun, saya ingin bercerita tentang indekos saja. Saat itu, Juni 2003 saya dicarikan indekos dengan sewa kamar Rp 100.000,- per bulan. Untuk bulan Juni itu pemilik indekos meminta uang muka jika ingin menempati indekos itu. Saat itu saya memberikan uang Rp 100.000,- untuk bulan Juni meskipun belum menempatinya. Jumlah itu sebetulnya terserah saya. Kegiatan untuk mahasiswa baru sendiri dimulai Juli 2003.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Uang muka itu oleh pemilik kos sebagai bukti saya sungguh-sungguh menempati indekos itu. Jika saya tidak memberi uang muka, pemilik kos bisa saja memberikan kamar pada orang lain yang mencari setelah saya. Selain itu, pemilik kos juga tidak mau rugi.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saat saya menempati bulan Juli, beberapa hari setelah saya tempati, seingat saya pemilik kos meminta membayar untuk lima bulan ke depan. Sebelumnya pemilik kos tidak memberitahu cara pembayaran seperti itu. Pembayaran seperti ini sebetulnya merugikan saya. Jika dalam dua bulan ke depan misalkan saya tidak kerasan dan ingin pindah maka saya tidak bisa.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Akhirnya saya menuruti pemilik indekos. Juli 2003 itu, saya tinggal di tempat yang baru. Orang-orang yang baru, entah asal daerahnya, jurusan kuliahnya, dan lain sebagainya. Di antara mereka ada yang dari Trenggalek (Jawa Timur), Kudus (Jawa Tengah), Bangkalan (Madura), Surabaya, Malang (Jawa Timur), Tuban (Jawa Timur), Sleman (Jawa Tengah), Kalimantan dan lain sebagainya.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Layaknya anak kos, banyak suka duka yang dialami. Sukanya misalnya jika ada salah seorang teman kos yang merayakan ulang tahunnya dengan acara traktiran. Dukanya, misalnya harus antre saat mandi. Terkadang saat sore, air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) tidak mengalir dengan deras. Baru mengalir menjelang maghrib.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Konflik dan masalah bisa muncul di mana saja dan kapan saja. Tak terkecuali dalam lingkungan indekos. Misalnya, konflik sesama anak kos menyangkut sifat setiap anak kos. Bisa juga konflik antara anak kos dan pemilik kos, misalnya menyangkut tanggal pembayaran sewa kos. Kiranya konflik itu menjadi hal biasa yang terjadi dalam lingkungan indekos.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Tempat kos juga menyangkut kecocokan atau kepuasan anak kos. Pertengahan 2004 saya pindah untuk pertama kalinya dari indekos. Alasannya, antara lain, di indekos yang lama tidak boleh membawa komputer. Air PDAM yang saat sore terkadang hanya mengalir kecil juga menjadi salah satu alasan kepindahan saya.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di indekos yang baru, saya sempat pindah kamar sebanyak tiga kali. Alasannya, kepindahan saya itu bertepatan dengan renovasi indekos. Di indekos yang baru ini saya tidak harus membayar sewa kamar untuk lima bulan ke depan. Cukup membayar satu bulan pertama. Seingat saya saat itu satu bulan Rp 100.000,- per bulan untuk yang membawa komputer. Umumnya, setiap pemilik indekos punya aturan sendiri terkait dengan tempat indekos.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di indekos yang baru ini saya memang lebih leluasa sebagai anak kos. Misalnya, dibolehkan membawa komputer. Namun, kira-kira pada awal 2007 saya pindah lagi. Alasan utamanya, daya listrik yang 900 watt di indekos ini tidak kuat untuk penghuni 20 orang sehingga sering padam. Apalagi saat itu ada tiga komputer.&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Baik kepindahan pertama maupun kepindahan kedua ini sama-sama berat. Artinya, terkadang berat meninggalkan teman-teman kos yang sudah lama berteman. Di samping itu, kepindahan kos ini juga harus memindah barang-barang. Misalnya, satu unit komputer, puluhan buku, pakaian, kertas, dan lain sebagainya. Kepindahan yang kedua ini saya delapan kali bolak-balik naik motor untuk mengangkut barang.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya pindah ke indekos yang baru yang berpenghuni tiga orang, termasuk saya. Jaraknya sekitar 2 km dari indekos yang lama. Dua orang itu sudah bekerja. Syukurlah di indekos yang kali ketiga saya pindah ini saya dapat leluasa memakai komputer. Tanpa sering terjadi pemadaman. Di indekos ini pun saya juga cukup membayar bulan pertama saat saya baru menempati.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Suasana kos yang hening, jendela di sisi utara kamar yang menghadap pekarangan, dan ibu kos yang baik membuat saya betah tinggal di indekos itu, sampai saya lulus kuliah dan tidak kos lagi. Air PDAM pun mengalir dengan lancar. Mandi pun tidak perlu antre lagi. Meskipun demikian, kakus yang hanya terbuat dari semen kurang menyenangkan.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-8087847430086713135?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/8087847430086713135/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/01/indekos.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/8087847430086713135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/8087847430086713135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/01/indekos.html' title='Indekos'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-5183289759835880094</id><published>2011-01-09T20:00:00.000-08:00</published><updated>2011-01-09T20:01:02.411-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Topik lainnya'/><title type='text'>Gambaran Pekerjaan</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.2  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt; &lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Gambaran Pekerjaan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Akhir Desember 2010 yang lalu di sebuah warung internet (warnet) langganan saya ada sebuah pamflet. Pamflet yang berisi tentang lowongan pekerjaan itu dipasang di dinding depan warnet. Perusahaan itu mencari lulusan diploma. Saya lupa diploma berapa. Juga mencari lulusan sarjana (S-1) semua jurusan. Gajinya pun terbilang tinggi, mencapai Rp 2 juta.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Perusahaan itu tengah membuka cabang di banyak kabupaten di Jawa Timur. Perusahaan yang kantor pusatnya di Surabaya itu bergerak di bidang &lt;i&gt;development&lt;/i&gt; dan jasa. Dalam pamflet itu juga tertulis “&lt;i&gt;development&lt;/i&gt;”. Jika di-Indonesia-kan menjadi “perkembangan”.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya sempat bertanya pada saudari saya. Perusahaan itu bergerak dalam bidang apa. Saya memintanya mencari di internet. Namun, dia tidak menemukannya. Dia menduga perusahaan itu mencari orang-orang untuk bekerja pada sebuah tempat. Saya juga mencari di internet, juga tidak menemukannya. Saya juga bertanya pada sejumlah teman saya. Namun, mereka tidak tahu. Mereka juga tidak tahu tentang nama perusahaan tersebut.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kamis, 6 Januari 2011 saya mengirim SMS pada teman saya yang bekerja pada sebuah bank nasional. Saya bertanya padanya apakah dia memiliki informasi mengenai pekerjaan di bidang pemasaran pada sebuah penerbit. Dia juga tak tahu. Dia meminta saya mencari jobdes (&lt;i&gt;job description&lt;/i&gt;) di internet. &lt;i&gt;Jobdes&lt;/i&gt; atau gambaran pekerjaan. Namun, saya tidak menemukannya di internet.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Memang, umumnya seseorang dianggap sudah tahu gambaran pekerjaan sebelum dirinya memilih pekerjaan itu. Misalnya pekerjaan menjadi wartawan yang tugasnya mencari, menyeleksi, dan memberitakan kepada masyarakat. Seorang guru tugas atau gambaran kerjanya mengajar di kelas, menulis, memberi teladan pada muridnya, dan lain sebagainya.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Jadi, gambaran pekerjaan ini tidak perlu diuraikan. Apalagi secara rinci. Seseorang dianggap bisa menyesuaikan diri dengan suatu pekerjaan. Terlebih pekerjaan-pekerjaan yang memiliki reputasi yang baik dan sudah umum diketahui oleh masyarakat. Entah itu swasta maupun negeri. Namun, terkadang profil tempat kerja yang ber-reputasi baik ini seleksi pekerjanya juga ketat. Misalnya, seleksi CPNS pada kementerian.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Lagi pula, seseorang akan mengetahui sendiri saat dirinya sudah bekerja. Bisa-bisa seseorang yang ingin mengetahui gambaran suatu pekerjaan dinilai terlalu pilih-pilih. Intinya gambaran pekerjaan itu bisa jadi satu bagian saja dari dunia pekerjaan.&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di sisi yang lain, tidak setiap orang mengetahui gambaran sebuah pekerjaan. Sekali lagi, dalam proses kehidupannya pengalaman setiap orang tentang karier atau pekerjaan bisa berbeda-beda. Antara keterdesakan dengan ketulusan mencintai pekerjaan bisa campur aduk. Gambaran setiap pekerjaan juga bisa berbeda-beda. Boleh jadi, seseorang belum mengetahui gambaran sebuah pekerjaan. Namun, saat seseorang itu telah bekerja dan mengetahui pekerjaannya tidak seperti yang diharapkan. Boleh jadi akhirnya tidak betah dan berhenti.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Gambaran pekerjaan ini misalnya aktifitas yang dilakukan pada jam kerja. Juga tugas-tugas yang dilakukan di luar jam kerja. Sistem gaji, jumlah gaji yang diterima, jenjang karier ke depan, bonus, dan lain sebagainya. Selain itu, sanksi sampai pada cuti kerja. Juga antara kesesuaian pekerjaan dengan kepribadian. Idealnya gambaran pekerjaan itu juga bisa dipertanggungjawabkan. Tujuannya agar tidak menjerumuskan seseorang yang ingin bekerja. Juga itu sebagai aturan bagi seseorang yang ingin bekerja.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya mungkin kurang tahu. Terkadang saya membayangkan ada buku yang mengurai secara lebih rinci mengenai gambaran suatu pekerjaan, dari berbagai jenis pekerjaan. Misalnya, bagaimana seorang wartawan koran bisa mendapatkan berita secara aktual. Suka dukanya dan lain sebagainya. Informasi mengenai itu memang ada, tetapi sepertinya masih tercecer. Tentu saja di sini bukan gambaran bekerja sebagai spesialis pencuri motor yang pelakunya bisa dipenjara.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Jika gambaran pekerjaan, misalnya tidak ditemukan di internet maka ikatan alumni, jaringan teman dan kenalan, serta saudara juga efektif untuk mengetahui gambaran suatu pekerjaan. Dalam dunia pekerjaan terkadang juga tak lepas dari jaringan seperti itu. Bahkan, mungkin persekongkolan. Sifat dasar egoisme maupun keadaan yang tidak memungkinkan pun terkadang cenderung membuat seseorang menyembunyikan informasi lowongan pekerjaan.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Seringkali diperlukan ke-aktif-an dari diri kita sendiri. Jika seorang teman mungkin pelit akan informasi lowongan pekerjaan maka kita bisa bertanya pada teman yang lain. Jika seorang teman enggan berapa gaji yang dia terima maka mungkin juga bisa bertanya pada teman yang lain yang lebih terbuka berbicara mengenai gaji yang diperoleh. Umumnya orang ingin mengetahui gaji yang diterima seseorang. Namun, di sisi yang lain orang yang bersangkutan merasa enggan untuk mengakui gaji yang diperoleh.  &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-5183289759835880094?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/5183289759835880094/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/01/gambaran-pekerjaan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/5183289759835880094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/5183289759835880094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/01/gambaran-pekerjaan.html' title='Gambaran Pekerjaan'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-7710844618318995312</id><published>2011-01-04T20:06:00.000-08:00</published><updated>2011-01-04T20:08:25.108-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>Cinta dan Trauma</title><content type='html'>&lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt; &lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Cinta dan Trauma&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dalam situsnya, sebuah koran menulis tentang sejumlah sikap atau reaksi pria pasca penolakan. Penolakan dalam arti wanita menolak cinta si pria. Saat si pria menyatakan cinta atau “menembak” si wanita, lalu si wanita menolaknya maka seorang pria bisa bereaksi dengan berbagai cara. Dalam situs itu ditulis, saat ditolak cintanya, seorang pria bisa saja jaga jarak, berubah benci, pindah ke lain hati, maju terus, dan &lt;i&gt;friend forever&lt;/i&gt;. Reaksi ini juga berkaitan dengan sikap saat si pria patah hati.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Bentuk reaksi penolakan itu sebetulnya juga bisa terjadi pada wanita. Mengingat baik pria maupun wanita sama-sama berkedudukan sebagai manusia. Di antara kita mungkin juga pernah tahu wanita yang lebih dulu menyatakan cinta. Lagi pula, sekarang kiranya juga tak tabu lagi jika wanita menyatakan sinyal cinta lebih dulu. Dari sisi jender, wanita juga berkesempatan seperti pria. Jika demikian maka pria juga bisa menolak pernyataan cinta wanita.&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Memang, banyak kasus wanita menolak pria yang menginginkannya menjadi kekasih maupun istri. Dengan kata lain, lebih banyak pria yang “menembak” wanita. Hal itu menggiring anggapan akan naluri pria yang lebih ekspresif dalam menyatakan cinta. Di bandingkan dengan wanita, banyaknya pria yang mengonfirmasi seorang wanita yang cantik di &lt;i&gt;facebook&lt;/i&gt; juga mengindikasikan pria masih menerapkan politik cinta yang “agresif” terhadap wanita.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Bentuk-bentuk reaksi itu tidak mutlak. Di antara lima reaksi itu kemungkinan juga masih ada reaksi lainnya. Misalnya, mencoba upaya berbahaya dengan mengancam bunuh diri. Sifat pikiran manusia yang melompat-lompat juga memungkinkan seorang pria bersikap benci, tetapi pada saat yang sama juga &lt;i&gt;friend forever&lt;/i&gt;.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Tampaknya sikap antara pria dan wanita itu juga dipengaruhi oleh keadaan biologis keduanya. Misalnya, pria memiliki hormon testosteron, sedangkan perempuan memiliki hormon estrogen. Wanita bisa mengandung, sedangkan pria tidak bisa mengandung. Keadaan itu juga memengaruhi anggapan terhadap pria dan wanita. Termasuk cara keduanya dalam memandang cinta.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Berbicara cinta memang tidak ada habisnya. Industri musik masih menjual tema-tema cinta. Sering kali cinta dikaitkan dengan hubungan asmara antara pria dan wanita. Itu betul, tetapi cinta juga universal. Seorang ibu yang menyuapi anaknya yang masih kecil juga wujud cinta. Seorang anak yang memandikan ayahnya yang sudah tua renta juga bentuk cinta.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Serupa tetapi tak sama. Setiap orang bisa memiliki cinta. Namun, pengalaman cinta setiap orang bisa berbeda-beda. Di antaranya orang bisa trauma karena cinta. Orang bisa tertekan karena berurusan dengan perasaan manusia yang satu ini. Seorang gadis yang mengganti nomor ponselnya terkadang sebagai bentuk trauma kerena teror cinta yang diterimanya. Pengalaman pertama cinta seseorang yang sebelumnya buruk mungkin juga bisa membuat seseorang itu trauma dengan cinta. Hendaknya ini bisa disadari oleh sang pecinta.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Intinya, cinta yang dialami oleh manusia itu memiliki banyak sisi. Cinta bisa membuat seseorang bersemangat dalam menjalani hari-hari. Dalam bekerja dan beraktifitas. Namun, cinta juga bisa membuat hidup seseorang terpuruk. Cinta adalah kehidupan itu sendiri. Entah cinta itu di tolak ataupun diterima. Entah menimbulkan trauma atau tidak.  &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-7710844618318995312?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/7710844618318995312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/01/cinta-dan-trauma.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/7710844618318995312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/7710844618318995312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/01/cinta-dan-trauma.html' title='Cinta dan Trauma'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-905622717804451041</id><published>2011-01-01T22:33:00.000-08:00</published><updated>2011-01-01T22:38:57.021-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Perjalanan'/><title type='text'>Ngetos</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.2  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt; &lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Ngetos&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kamis, 30 Desember 2010, pukul 21.00 saya diajak oleh teman saya ke temannya di Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk. Dia dulu kakak tingkat saya saat kuliah. Temannya yang tinggal di Ngetos ini juga kakak tingkat saya saat kuliah. Kunjungan ke Ngetos ini memang tidak saya rencanakan. Awalnya, saya hanya menemui teman saya ini di sebuah warung, dekat pasar, di Kecamatan Nganjuk.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Mulanya teman yang mengajak saya ini waktu tempuhnya sekitar 15 menit dari tempat kami berangkat. Namun, akhirnya sampai 45 menit. Kami tiba pukul 21.45. Di tengah perjalanan itu saya sempat hampir putus asa ingin kembali pulang. Akan tetapi, saya tidak bisa. Saya sudah tidak tahu jalan pulang. Mau tidak mau saya musti mengikuti motor teman saya itu.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Bayangkan, jalan menuju ke rumah teman saya itu melewati tanjakan. Terkadang, jalannya menurun di sertai kelokan. Dalam sorot lampu motor, terkadang juga melewati areal hutan. Itu tampak dari kanan kiri jalan yang ditumbuhi oleh pohon besar. Maklum, wilayah Ngetos berada di lereng pegunungan Wilis. Malam itu pun gerimis. Lagi pula, ini merupakan kali pertama saya pergi ke wilayah Ngetos.&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sesampai di rumah teman saya itu suhu udara terbilang dingin. Katanya Desa Blongko, Kecamatan Ngetos itu berada di ketinggian 8.000 dpl. Kaki pun terasa dingin. Pintu yang terbuka seakan menjadi pendingin udara alami. Air yang berasal dari sumber air setempat yang ada di bak mandi terasa seperti es. Secangkir teh panas, lumpia, dan buah pisang menjadi teman dalam dingin.   &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pukul 23.00 saya baru bisa tidur. Pada malam selarut itu saya tidak bisa pulang dan harus menginap. Udara dingin pun semakin menghebat. Celana panjang, kaus lengan panjang, dan berselimutkan jaket pun rasanya tidak mampu menghalau rasa dingin. Namun, dingin itu masih tergolong sedang dan tidak sampai membuat hipotermia.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Menjelang subuh sempat gerimis. Sampai pukul 06.00 masih turun gerimis. Saya pun bergegas ke halaman rumah. Waktu itu saya mengobrol dengan keponakan teman saya itu. Untuk ketiga kalinya saya melihat pohon kopi. Untuk pertama kalinya saya juga melihat pohon cengkih dan pohon manggis. Kedua pohon itu tinggi dan besar. Keponakan teman saya itulah yang memberitahu.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pukul 07.00 saya pun pamit pulang. Dalam perjalanan pulang itu saya sempat bertanya tiga kali pada orang tentang jalan menuju ke Kecamatan Nganjuk. Berbeda saat berangkat, dalam perjalanan pulang ini saya dapat menyaksikan pemandangan pegunungan. Ada lembah kecil yang ditanami padi. Karena memiliki kemiringan tertentu dan baru saja turun gerimis, air pun bisa keluar dari jalan yang berlubang.  &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-905622717804451041?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/905622717804451041/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/01/ngetos.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/905622717804451041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/905622717804451041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2011/01/ngetos.html' title='Ngetos'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-7111758291331704586</id><published>2010-12-26T19:24:00.001-08:00</published><updated>2010-12-26T19:24:44.316-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Aku'/><title type='text'>Dua Tahun Ngeblog</title><content type='html'>&lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt; &lt;span style="font-size:180%;"&gt;Dua Tahun &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;i&gt;Ngeblog&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saat itu awal November 2008 sekitar pukul 18.30 saya ditraktir makan oleh seorang teman di warung di pinggir jalan, dekat alun-alun Kota Jember. Di depan warung, sebelum kami hendak pulang, kami berbicara tentang blog. Teman saya yang penulis itu sudah punya blog. Katanya pembuatannya cukup mudah. Syaratnya harus punya alamat surat elektronik. Katanya pula blog itu situs yang sederhana dan gratis.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya tertarik dan dia bersedia membantu saya membuat blog. Kemudian, dia membuatkannya di &lt;i&gt;blogspot&lt;/i&gt; seperti miliknya. Saat itu saya merasa senang memiliki situs sendiri dengan alamat &lt;i&gt;puguh-sosiologi.blogspot.com&lt;/i&gt;. Blognya saya namai &lt;i&gt;dunia sosiologi&lt;/i&gt;. Namun, awal November 2010 saya menggantinya menjadi &lt;i&gt;puguh sosiologi&lt;/i&gt;.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya merasa nama depan saya itu lebih tepat. Sebagian bloger juga  memakai nama mereka sendiri. Selain itu, nama itu lebih mewakili keseluruhan isi blog. Jika &lt;i&gt;dunia sosiologi&lt;/i&gt; maka itu hanya mewakili tulisan saya tentang sosiologi. Padahal, ada tulisan tentang saya sendiri maupun tulisan yang tidak berhubungan dengan sosiologi. Kata &lt;i&gt;sosiologi&lt;/i&gt; itu sendiri semacam merek.   &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Akhirnya, 29 Desember 2008 saya &lt;i&gt;ngeblog&lt;/i&gt;. Tulisan pertama saya berjudul &lt;i&gt;Ke-ber-agama-an Mahasiswa Sosiologi&lt;/i&gt;. Pemublikasian itu merupakan bentuk atas keinginan saya dalam menulis dan ingin menjadi penulis. Lewat tulisan itu saya juga berharap orang lain tahu siapa saya. Layaknya orang-orang kampus, saya ingin mengajak orang-orang di program studi saya berdiskusi, khususnya lewat tulisan. Sayangnya, sampai saat ini diskusi itu masih sangat sepi.&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sebelumnya, saya mengetahui tentang blog sebagai situs pribadi. Juga sebagai situs jejaring sosial. Pada 2006 saya mengenal orang Indonesia yang studi sosiologi di luar negeri yang juga memiliki blog. Namun, akhirnya beliau pindah dari &lt;i&gt;blogspot&lt;/i&gt;. ke &lt;i&gt;.com&lt;/i&gt;. Saya baru mengetahuinya sekitar tahun 2009.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Blog sendiri mulai populer pada awal 2000-an. Jadi, jika saya memiliki blog pada November 2008 maka saya tergolong ketinggalan. Sejumlah teman saya juga telah membuat dan mengelolanya sebelum tahun 2008. Tampilan blog mereka lebih baik dari saya. Isinya juga lebih baik. Pengunjung blognya juga lumayan banyak. Setidak-tidaknya dibandingkan dengan blog milik saya, sampai sekarang ini.&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Bahkan, saya kalah dengan blog yang dikelola oleh adik kandung saya satu-satunya. Dia mengelola blognya dalam bahasa Inggris, sedangkan saya selalu memakai bahasa Indonesia. Agaknya di antara kita memiliki darah yang sama dalam hobi menulis. Publikasi tulisannya pun hampir selalu memperoleh kunjungan bloger lain berupa komentar.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kira-kira tahun 2009 yang lalu, teman saya yang juga bloger membantu memperbaiki tampilan blog saya. Maklum, saya jarang mengutak-atik tampilannya dan lebih memperhatikan tulisan yang saya publikasikan. Misalnya, dia memberitahu cara untuk menyaring atau moderasi komentar yang masuk. Teman saya itu juga membantu membuatkan kotak pesan.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Moderasi komentar itu kiranya penting. Tujuannya untuk menghindari komentar yang tergolong tidak mengenakkan. Namun, sekarang saya baru sadar jika seseorang bisa saja menulis komentar di kolom pesan yang tidak ada moderasi komentarnya.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya menyadari sendiri ada sejumlah tulisan saya yang tergolong tajam. Misalnya, judul “Berorganisasi? Penting &lt;i&gt;Nggak Sich&lt;/i&gt;?”. Dalam hal ini saya berupaya mengikuti kode etik bloger sebagaimana kode etik dalam jurnalistik. Contohnya, saya menyembunyikan identitas, misalnya nama orang. Meskipun demikian, di mana pun, kode etik itu bisa bersifat relatif.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya juga menyadari, tulisan saya di blog ini terbatas untuk konsumsi blog itu sendiri. Artinya, tulisan saya ini masih belum bisa menjadi sebuah buku konvensional sebagaimana impian saya selama ini. Lagi pula, perhatian orang-orang pada blog ini sangat sedikit. Sebuah artikel dari satu penulis yang rutin dimuat di koran nasional saja tidak menjadi buku. Apalagi isi blog saya yang tentu kalah dengan penulis papan atas.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya pun menyadari tulisan di dalam blog saya ini memiliki daya informasi yang rendah. Daya inspirasi maupun daya edukasinya pun terbilang rendah. Saya juga tergolong jarang &lt;i&gt;on line&lt;/i&gt;. Karena itu, saya pun jarang mengunjungi blog orang lain. Padahal, dengan kunjungan blog dan meninggalkan komentar maka secara langsung mempromosikan blog yang saya kelola.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Tulisan ini memperingati dua tahun saya ngeblog. Jatuh pada 29 Desember 2010 ini. Sekaligus ini sebagai hadiah untuk saya sendiri yang berulang tahun ke-26 pada 28 Desember 2010 ini. Juga untuk menyambut tahun baru. Sebagai hobi, syukurlah selama dua tahun ini setiap bulan saya memperbarui tulisan. Sebagai hobi, saya memang tidak mendapatkan uang, tetapi saya berusaha menikmati hobi saya ini. Sekaligus ini melengkapi tulisan saya yang lain tentang saya dan blog. Tulisan ini juga menampakkan saya mengulangi lagi apa yang telah saya tulis sebelumnya.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;   &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-7111758291331704586?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/7111758291331704586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/12/dua-tahun-ngeblog.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/7111758291331704586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/7111758291331704586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/12/dua-tahun-ngeblog.html' title='Dua Tahun Ngeblog'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-5445226463426383276</id><published>2010-12-26T19:19:00.000-08:00</published><updated>2010-12-26T19:22:02.052-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita dari Dusunku'/><title type='text'>Utang</title><content type='html'>&lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt; &lt;span style="font-size:180%;"&gt;Utang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya masih ingat seorang teman kos masih berutang Rp 3.000,- pada saya. Kira-kira saat itu tahun 2004. Dia meminjam uang pada saya untuk galon isi ulang yang dia beli. Bukan karena teman saya itu tidak punya uang, tetapi saat itu dia tidak punya uang kecil. Dia sempat mau membayar utangnya itu pada saya. Namun, tidak jadi. Entah apa alasannya. Seiring berjalannya hari dia tidak mengembalikan utangnya itu. Dia lupa.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya tidak bermaksud mengungkit utangnya. Setelah kira-kira lebih dari seminggu saat itu saya juga tidak enak menanyakannya lagi. Hitung-hitung dia pernah mentraktir 15 orang teman kosnya minum di sebuah kafe. Satu di antara yang ikut traktiran adalah saya. Traktiran itu sebagai perayaan akan ulang tahunnya. Maksud saya di sini, hendaknya jangan pernah lupa akan utang kita.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Oktober 2010 saya juga pernah berhutang Rp 20.000,- pada seorang teman. Saat itu saya ganti plat pikap di kantor Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat). Kebetulan uang saya kurang Rp 10.000,- dan saya bertemu dengan teman saya itu. Utang Rp 20.000,- itu baru bisa saya kembalikan satu minggu kemudian. Saya sempat menghubunginya lewat ponsel. Saya ingin mengembalikan uangnya, sebelum saya ke luar kota. Selama seminggu di luar kota itu saya hampir lupa dengan utang saya itu.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sebagai pengusaha gabah, ayah saya juga pernah berutang pada suatu lembaga keuangan mikro. Sementara sekarang sudah tidak lagi. Saat ini juga masih berutang pada pegadaian dengan bunga Rp 0,9 % dengan jaminan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB). Setiap bulan mengangsur Rp 1.614.900,-. Seorang pengusaha gabah di Tulungagung juga pernah berutang Rp 7.000.000,- pada ayah saya. Waktu itu pengusaha itu membeli gabah dan uangnya sebagian belum dilunasi. Hanya memberi janji. Akhirnya, ayah saya termakan oleh kelicikan pengusaha gabah itu.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Penagihan sudah diupayakan. Namun, orang itu tidak pernah bisa ditemui lagi di rumahnya. Karena tidak tahu, jalur hukum pun tidak ditempuh. Jika menempuh jalur hukum maka juga harus keluar uang lagi. Itulah risiko berbisnis.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Akhir tahun ini, di kampung ini sedang paceklik. Padi juga baru berumur sekitar satu bulan. Tak banyak pekerjaan yang bisa dilakukan. Kebanyakan orang bekerja mencari rumput untuk pakan ternak, khususnya sapi. Sejumlah orang pun menjual sapinya. Sayangnya, harga sapi sangat merosot. Anak sapi harganya Rp 2.300.000,-. Padahal, jika sedang bagus, harganya bisa mencapai Rp 4.000.000,-.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sejumlah orang mulai mencari utang pada rentenir kampung dengan bunga tertentu. Di kampung, rentenir ini tidak selamanya buruk. Terkadang sinetron di televisi mencitrakannya sebagai orang tak punya rasa belas kasihan. Tidak peka rasa kemanusiaannya dan suka mengancam. Rentenir kampung juga melihat profil peminjam. Tidak setiap peminjam itu bisa mengembalikan uang yang dipinjamnya.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Rentenir kampung ini juga berperan dalam peredaan uang di kampung. Orang kampung mungkin tidak berani berutang pada seorang bidan desa saat orang itu berobat. Namun, orang bisa berani menunggak utang pada seorang rentenir kampung. Ajaran agama pun mengharamkan riba atas bunga seperti yang rentenir lakukan. Namun, di sisi yang lain orang membutuhkan rentenir. Bahkan, ada rentenir yang meminjamkan uangnya tanpa jaminan, tetapi hanya dengan kepercayaan.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-5445226463426383276?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/5445226463426383276/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/12/utang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/5445226463426383276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/5445226463426383276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/12/utang.html' title='Utang'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-1916911638851442734</id><published>2010-12-26T19:15:00.000-08:00</published><updated>2010-12-26T19:19:40.986-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seputar Nganjuk'/><title type='text'>Pameran Buku di Kota Kecil</title><content type='html'>&lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt; &lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Pameran Buku di Kota Kecil&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Senin, 6 Desember 2010 sekitar pukul 11.00 saya pergi ke pameran buku di sebuah gedung di pusat kota, Kabupaten Nganjuk. Hari itu merupakan hari pertama pemeran diselenggarakan sampai 12 Desember 2010. Saya sengaja datang di hari pertama dengan alasan persediaan buku di pemeran masih ada. Selain itu, hari pertama biasanya ramai pengunjung. Tarif parkir parkir motor di pameran yang dibayarkan di muka sebesar Rp 2.000,- pun terbilang mahal.&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pukul 11.00 saat itu pembukaan oleh bupati Nganjuk baru saja selesai dilaksanakan. Sejumlah undangan termasuk sebagian pelajar juga turut hadir dalam acara pembukaan tersebut. Rupanya hari itu pelajar di Nganjuk pulang lebih awal. Sebagian di antara mereka menyempatkan diri mampir di pameran tersebut. Mungkin, antara lain, karena keesokannya, 7 Desember 2010 libur 1 Hijriah.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sebelumnya, penyelenggaraan pameran buku itu telah disosialisasikan. Sampai pameran itu dilangsungkan. Misalnya, spanduk dipasang disejumlah titik seperti di perempatan lampu lalu lintas. Pamfet juga disebar seperti di perpustakaan daerah Kabupaten Nganjuk. Sosialisasi juga dilakukan di sekolah-sekolah, antara lain, secara lisan. Itu dilakukan sebagai upaya pemasaran atau penjualan buku dalam pameran tersebut.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Hari pertama itu pengunjungnya terbilang ramai. Di dominasi oleh pelajar, khususnya SMP dan SMA dan yang sederajat. Itu terlihat mereka masih mengenakan seragam sekolah saat mengunjungi pameran tersebut. Di susul kalangan umum dan kalangan guru. Kalangan-kalangan seperti itulah yang biasanya menjadi konsumen buku.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pameran buku di kota kecil di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur ini tergolong jarang. Tahun 2009 yang lalu di kota tempat lahir saya ini tidak ada pameran buku. Tentu itu berbeda dengan kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Malang, apalagi Yogyakarta. Pameran buku umumnya memang rutin digelar di kota besar atau kota yang memiliki sejumlah perguruan tinggi.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saat itu saya sempat menduga pameran buku itu akan sepi pengunjung. Namun, dugaan saya itu keliru dengan ramainya pengunjung di hari pertama. Saat saya datang di kasir terlihat antrean orang membayar buku yang dibelinya. Bahkan, di sejumlah titik tempat buku dikerumuni oleh pengunjung. Utamanya titik yang menawarkan diskon. Bahkan, ada buku yang harganya Rp 1.000,- per buku. Khususnya untuk buku-buku tertentu.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya mengambil sebuah buku di tempat yang menawarkan harga Rp 1.000,- per buku. Namun, di buku itu tertera harga Rp 10.000,-. Setelah di kasir ternyata saya harus membayar Rp 10.000,-. Saya heran dengan tawaran harga maupun diskon dalam pameran tersebut. Dalam pamflet maupun spanduk diskonnya ditawarkan 15 % - 70 %. Juga ditawarkan &lt;i&gt;door prize&lt;/i&gt;.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sesuai yang tertulis di spanduk maupun pamflet, pameran itu terselenggara berkat kerjasasama antara salah satu toko buku sekaligus penerbit terkemuka di Indonesia dengan Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Nganjuk. Karena itu, pameran itu mirip toko buku terkemuka tersebut yang bertempat di sebuah gedung di Nganjuk. Penataan buku, buku-buku yang dipamerkan atau yang dijual, karpet merah, dan seragam karyawannya pun menunjukkan akan merek dari toko buku tersebut.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di kabupten Nganjuk sendiri belum ada toko buku besar. Apalagi toko buku terkemuka seperti penyelenggara dalam pameran tersebut. Umumnya toko buku besar itu ada di kota besar, seperti Surabaya, Malang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta. Bahkan, Jember dan Kediri sudah ada toko buku besar. Itu mengingat Jember dan Kediri memiliki kampus.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Jika dibandingkan, Kabupaten Jember juga ada sejumlah penjual buku bekas. Mirip di kota besar seperti Surabaya dan Malang. Tidak hanya menjual buku bekas, tetapi juga buku pelajaran semua jenjang sekolah. Terkadang juga buku-buku hasil jiplakan dari buku populer seperti kamus juga bisa ditemui di penjual buku bekas. Sementara itu di Nganjuk ini belum ada jenis penjual buku seperti di Jember, Surabaya maupun Malang itu.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di Nganjuk juga ada toko buku, tetapi toko buku kecil. Jumlahnya pun bisa dihitung dengan jari. Umumnya menjual buku pelajaran yang memang penjualannya stabil. Setahu saya hanya ada satu toko buku yang menjual buku umum di kawasan kota. Selain itu, di sebuah kecamatan di Nganjuk juga ada toko buku yang khusus menjual kitab-kitab dalam agama Islam. Keberadaan pesantren di kecamatan itu agaknya juga memengaruhi keberadaan toko buku tersebut.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Nganjuk juga memiliki kampus, antara lain dalam bentuk sekolah tinggi. Namun, tidak sebesar di Surabaya maupun Malang. Dalam hal ini, keberadaan lembaga pendidikan tinggi juga turut memengaruhi potensi sebuah kota. Kiranya inilah yang memengaruhi toko buku besar belum berani mendirikan toko di Nganjuk. Pameran itu pun juga bisa menjadi potret akan konsumen buku di Nganjuk.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya sempat melintas pada hari ketiga di gedung tempat pameran buku itu berlangsung. Dari sepeda motor yang terlihat, pengunjung pameran itu terbilang banyak. Kemungkinan hari terakhir, yakni 12 Desember 2010 akan lebih banyak. Apalagi, 12 Desember itu bertepatan dengan tes tulis Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah (CPNSD). Tak terkecuali tes tulis CPNSD Nganjuk yang akan berakhir tengah hari. Kemungkinan sebagian peserta CPNSF akan mengunjungi pameran yang buka mulai pagi sampai malam hari itu.   &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="RIGHT"&gt; Puguh Utomo, alumnus Unej,  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="RIGHT"&gt; tinggal di Nganjuk&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-1916911638851442734?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/1916911638851442734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/12/pameran-buku-di-kota-kecil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/1916911638851442734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/1916911638851442734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/12/pameran-buku-di-kota-kecil.html' title='Pameran Buku di Kota Kecil'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-7649381168853684838</id><published>2010-12-20T18:57:00.000-08:00</published><updated>2010-12-20T19:01:49.427-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seputar Nganjuk'/><title type='text'>Seleksi CPNS 2010</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Seleksi CPNS 2010&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Oktober, November, dan Desember 2010 ini di hari tertentu, media, entah cetak maupun elektronik mewartakan perihal seleksi Calon Penerimaan Penerimaan Pegawai Negeri (CPNS). Salah satu stasiun televisi nasional pada pertengahan Oktober 2010 mewartakan tantang tes tulis CPNS pada sebuah kementerian yang dilangsungkan di sebuah stadion di ibu kota. Demikian juga di internet pun bertebaran pengumuman seputar CPNS pada bulan-bulan tersebut.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; CPNS setingkat kementerian, setingkat badan, setingkat komisi, dan bentuk lembaga pemerintahan yang lain yang biasa disebut CPNS pusat dilaksanakan sekitar bulan Oktober dan November 2010. Seleksi CPNS setingkat kementerian ini tidak serentak. Misalnya antara Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kementerian Kominfo). Tes tulis Kemdiknas pada 27 Oktober 2010, sedangkan Kominfo pada 27 November 2010. Perbedaan waktu tes itu memungkinkan seseorang bisa mengikuti lebih dari satu tes pada CPNS pusat.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; 27 Oktober 2010 itu saya merupakan salah satu peserta dengan kualifikasi akademik S-1 Sosiologi sebagai peneliti di Kemdiknas. Sejak awal saya sudah menduga, saya tidak akan lolos dalam tes yang dilangsungkan di salah satu universitas di Tangerang itu (juga bisa dibaca pada judul &lt;i&gt;Nganjuk-Jakarta&lt;/i&gt;). Saya akan kalah dengan mahasiswa yang lebih pintar. Dugaan itu benar setelah diumumkan hasil tesnya pada 10 November 2010 silam. Namun, saya puas dengan penyelenggaraan tes yang pendaftarannya lewat internet dan berkasnya dikirim lewat pos itu.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Tes tulis Kementerian Kominfo yang diumumkan pada 8 Desember 2010 saya juga tidak lolos. Kalah dengan mahasiswa yang lebih pintar. Paling tidak saya telah berusaha mengenali kemampuan diri saya dalam berkompetisi. Saya memang sempat kecewa. Namun, rasa tidak menyesal saya sudah bisa mengikuti tes tulis itu menggantikan rasa kekecewaan saya. Masih ada jalan lain untuk berkarier dan berkarya untuk hidup ini.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pertengahan November 2010 sampai dengan awal Desember 2010 banyak kabupaten maupun kota membuka pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah (CPNSD). Biasanya CPNS pusat pelaksanaannya memang lebih dulu daripada CPNSD. Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Madiun, Semarang Kota, Kabupaten Lumajang, waktu tes tulisnya serentak, yakni 12 Desember 2010. Agaknya, CPNSD 2010 ini tes tulisnya memang serentak se-Indonesia. Itu pun memungkinkan seseorang tidak bisa ikut seleksi CPNSD lebih dari dua.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;  Khusus saya ingin mencatat 20 formasi sebagai penyuluh keluarga berencana (KB) di Kabupaten Nganjuk pada CPNSD tahun 2010 ini. 20 formasi itu untuk kualifikasi akademik S-1 Hukum, S-1 Sosial Politik (Sospol), S-1 Ekonomi, S-1 Psikologi, dan S-1 pendidikan (guru semua jurusan). Dalam bidang akademis, semua Strata 1 (S-1) itu biasa disebut dengan fakultas. Fakultas terdiri atas sejumlah jurusan maupun program studi.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; S-1 Sospol sendiri ada jurusan atau program studi Sosiologi, Administrasi Negara, Administrasi Niaga, Hubungan Internasional (HI), Kesejahteraan Sosial (KS), dan Sosiatri. S-1 Ekonomi sendiri ada jurusan Studi Pembangunan, Manajemen, dan Akuntansi. Kemudian, S-1 Pendidikan (guru semua jurusan) ini terdiri atas Pendidikan Biologi, Pendidikan Matematika, Pendidikan Fisika, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Sejarah, dan lain sebagainya seperti mata pelajaran yang sederajat dengan SD, SMP, maupun SMA.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; 20 formasi sebagai tenaga penyuluh KB sepertinya hanya ada di Kabupaten Nganjuk. Di Surabaya Kota juga ada formasi tenaga penyuluh KB, tetapi formasinya 4. Itu khusus untuk kualifikasi akademik sosiologi. Dari sejumlah segi, misalnya perkembangan kependudukan, Surabaya Kota lebih berkembang daripada Kabupaten Nganjuk. Karena itu, 20 formasi sebagai tenaga penyuluh KB itu terbilang berlebih.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Maka dari itu, ada kemungkinan yang bisa dicatat. Pertama, panitia seleksi CPNSD Nganjuk memberi kesempatan pada lulusan dari lima fakultas dalam rumpun ilmu sosial itu untuk mendaftarkan diri. Jumlah maupun lulusan dari lima fakultas itu di perguruan tinggi negeri dan swasta adalah yang terbanyak. Sebutlah lulusan Sospol, Ekonomi, Hukum, dan pendidikan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kedua, Kabupaten Nganjuk dalam pemerintahan bupati sekarang, khususnya dalam seleksi CPNSD, dianggap kental dengan permainan politik uang. Mungkin jual beli itu akan terjadi pada 20 formasi sebagai penyuluh KB ini. Memang, jual beli jabatan itu tergolong curang. Namun, dalam derajat tertentu kecurangan itu sepertinya akan dikesampingkan. Tulisan “Pengharaman Jual Beli PNS” oleh salah satu demonstran pada unjuk rasa tidak akan bisa membendung praktik jual beli ini.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Layaknya dalam jual beli maka ada kesepakatan antara penjual dan pembeli. Konon, jual beli jabatan PNS untuk S-1 ini di Nganjuk ini di atas Rp 100.000.000,-. Kiranya praktik semacam ini banyak diketahui oleh masyarakat. Uang pun kembali menunjukkan kuasanya. Sepanjang kesepakatan itu tidak menyeret seseorang ke dalam penjara. Biasanya praktik jual beli ini tak lepas dari peran calo. Jika lolos maka inilah rezeki bagi penjual, pembeli, dan calo dalam praktik tersebut. Seakan-akan orang ingin mengatakan “memang inilah zamannya”. Sungguh praktik yang sulit ditolak.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Biasanya praktik jual beli ini terjadi pada jabatan-jabatan yang kurang membutuhkan kemampuan khusus. Misalnya penyuluh Keluarga Berencana (KB) ini. Katakanlah orang ber-kecerdasan sedang dianggap bisa menjalankan jabatan tersebut. Sementara itu, jabatan yang membutuhkan kemampuan khusus misalnya dokter umum maupun dokter spesialis. Jabatan ini lazimnya memang membutuhkan kecerdasan otak di atas rata-rata orang pada umumnya. Meskipun demikian, semua jabatan sama-sama berpeluang dijual belikan. Bergantung situasi dan kondisi.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Agaknya jabatan penyuluh KB sebanyak 20 ini tak akan banyak mengganggu kinerja eksekutif di Kabupaten Nganjuk. Sesuai namanya kita mungkin tahu apa yang akan dikerjakan orang yang duduk dalam jabatan tersebut. Namun, formasi itu secara langsung akan dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Artinya itu adalah uang rakyat. Formasi itu pun telah mendapat persetujuan dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) lewat surat keterangan (SK) tertulisnya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dalam pemberitaan koran setempat, diisukan sejumlah jabatan tertentu dalam formasi 2010 ini diisukan akan digunakan sebagai rotasi PNS setempat. Lembaga “emperan” sebagai pihak ketiga, antara lain sebagai pembuat soal, juga dimunculkan oleh koran setempat. Lembaga “emperan” itu pun diisukan bisa meloloskan nama-nama tertentu yang sebelumnya telah memesan atau membeli jabatan PNS.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Keputusan politik 20 formasi penyuluh KB yang juga menyangkut hajat hidup orang banyak ini pun wajar menempati perbandingan persaingan yang sangat ketat di antara formasi lainnya. Jumlah pendaftar pun terbanyak pada tenaga teknis. Sebagaimana itu dikemukakan oleh koran setempat, perbandingannya mencapai 1:100 lebih. Artinya, satu orang peserta harus mengalahkan 100 peserta lainnya agar bisa lolos dalam tes CPNS.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya juga tak ingin munafik. Saya merupakan salah satu peserta dalam memperebutkan satu bangku PNS pada penyuluh KB  ini. Meskipun pada akhirnya saya tidak lolos. Itu pun sudah saya tahu sebelumnya. Mungkin tanpa praktik jual beli jabatan pun saya juga tidak lolos. Antara lain karena kecerdasan otak saya yang rendah. Namun, kasihan mereka yang seharusnya lolos tergeser oleh mereka yang membeli jabatan PNS itu. Entahlah Anda akan menilai seperti apa saya soal keikutsertaan saya dalam tes tulis CPNS ini.   &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya juga tidak ingin selamanya berpandangan sinis. Di antara seluruh pelaksanaan tes tulis CPNS di negeri ini juga ada yang murni. Setiap peserta tes CPNS pun memiliki kisah yang berbeda-beda. Ada yang berkali-kali ikut, tetapi tidak lolos. Ada yang sekali ikut dan langsung lolos. Ada yang ikut tes di luar Jawa dengan alasan kompetisinya lebih rendah. Ada juga yang lolos tes CPNS karena kualifikasi akademiknya tergolong langka sehingga peluang lolos terbuka lebar. Misalnya Kesejahteraan Sosial (KS), pendidikan bahasa Jawa, maupun dokter spesialis.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di balik itu, betapa sangat pentingnya arti sebuah pekerjaan bagi seseorang dalam hidupnya. Status, gaji, aktifitas mengisi waktu dalam keseharian, umumnya bisa diperoleh lewat suatu pekerjaan. Bahkan, banyak orang tua lebih mempriotaskan memilih menantu yang sudah bekerja. Misalnya pekerjaan sebagai PNS.  &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-7649381168853684838?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/7649381168853684838/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/12/seleksi-cpns-2010.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/7649381168853684838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/7649381168853684838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/12/seleksi-cpns-2010.html' title='Seleksi CPNS 2010'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-2751591168425712890</id><published>2010-12-14T19:20:00.000-08:00</published><updated>2010-12-14T19:22:11.607-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Sosiologi'/><title type='text'>Di Balik Skripsi-Saya</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.2  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt; &lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Di Balik Skripsi-Saya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pertanyaan seseorang pada 7 Desember 2010 tentang skripsi di blog ini mengilhami saya menulis judul itu. Dia bertanya apakah judulnya sudah sosiologis. Pertanyaan ini kerap diajukan oleh mahasiswa sosiologi. Pertanyaan itu sekaligus sering menjadi masalah bagi mahasiswa sosiologi. Khususnya saat akan mengerjakan skripsi. Terkait itu, sebagai contoh saya ingin mengungkap kisah singkat di balik skripsi saya.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saat semester VII saya juga bingung mengenai judul yang hendaknya saya ajukan. Beberapa judul telah saya ajukan pada dosen. Namun, tidak setiap judul disetujui. Di antaranya ada judul yang kadar sosiologisnya sangat rendah. Ada juga satu judul yang disetujui, tetapi saat itu mendapat reaksi yang kurang baik. Khususnya dari sasaran penelitian dalam judul saya itu. Akhirnya, saya tidak jadi meneruskannya.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya pun mencari inspirasi judul. Saya mencari contoh-contoh judul di internet. Saya juga mencari dari jurnal-jurnal di perpustakaan. Skripsi-skripsi yang alumni sosiologi Universitas Jember (Unej) hasilkan pun tak luput dari pencarian. Ketika itu saya berharap menemukan inspirasi judul dari koran maupun majalah. Dosen yang bersedia diajak berdiskusi juga saya temui.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Semua upaya itu di tengah-tengah bayangan masa studi. Semester VII itu saya hanya mengerjakan skripsi. Perkuliahan di kelas sudah selesai. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) juga sudah di atas 3,00. Jika dapat menyelesaikan skripsi pada semester VIII maka bisa menghemat waktu, tenaga, dan biaya studi saya. Walaupun pada akhirnya saya ujian skripsi pada semester XI.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dalam pencarian itu saya ingat karya Weber (1864-1920) tentang &lt;i&gt;The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism&lt;/i&gt;. Dalam penelitian dan tesis tokoh sosiologi tersebut dikatakan perkembangan kapitalisme tidak terlepas dari semangat dalam nilai-nilai ajaran agama Protestan. Weber meneliti ordo dalam Protestan.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Jika Weber meneliti di Protestan, saya berpikir pada Islam. Di Islam untuk kasus Indonesia juga terjadi pada orang-orang Muhammadiyah. Namun, cakupan kajian itu terlampau luas. Akhirnya, saya menemukan aliran sufi dalam Islam. Di internet, saya mengetik kata “sufi” dan “Nganjuk”. “Nganjuk” adalah kebupaten, kampung halaman saya.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di internet ada sebuah artikel yang menyebut keberadaan &lt;i&gt;Jamaah Lil Muqorrobien&lt;/i&gt; di Kelurahan Tanjunganom, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk. Jamaah itu berpusat di Pondok Sufi. Saya juga menemukan artikel lain yang ditulis oleh salah seorang pengasuh sekaligus pengajar SMA di pondok tersebut. Beliau ini pula sebagai petunjuk pertama.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Singkat cerita, saya perlu waktu sekitar dua tahun sampai ujian skripsi pada 26 September 2008. Penelitian sebagai aktifitas atau pekerjaan juga diliputi oleh risiko. Dalam kemampuan diri yang terbatas, entah bagaimana mengungkapkannya. Namun, pengalaman meneliti bidang keagamaan untuk kali pertama, kejenuhan pikiran yang luar biasa dalam menulis skripsi, badai kemalasan yang sering terjadi dalam diri dalam menulis skripsi merupakan beberapa hal mengapa saya sampai butuh waktu dua tahun itu.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sejumlah orang menilai saya terlalu idealis dalam mengerjakan skripsi. Ada pula yang sepertinya menilai saya terlalu perfeksionis. Bahkan, di antaranya menilai saya hanyut dalam penelitian tentang aliran tasawuf yang dikenal kental dengan hal-hal gaib. Mungkin juga ada yang menganggap bidang keagamaan sangat sulit untuk diteliti.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;  Di balik itu, umumnya sebuah penelitian yang baik, penentuan sasaran penelitian juga didasarkan atas berbagai pertimbangan. Dalam ilmu sosial, pertimbangan itu bisa berupa kaitan dengan kehidupan sosial, kaitannya dengan politik, hubungannya dengan ekonomi dari rumusan hasil penelitian itu nantinya. Itu semua mengingat jumlah anggota organisasi tersebut mencapai ribuan. Selain itu, sampai sekarang ilmu sosial, khususnya sosiologi juga masih fokus pada gerakan keagamaan.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Apalagi, fenomena organisasi keagamaan memiliki kekuatan sosial. Dalam hubungan sosial, khususnya keagamaan misalnya bagaimana hubungan sosial jamaah itu dengan organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU). Misalnya, hubungannya bersifat konflik ataukah harmonis.&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Hubungannya dengan politik, misalnya bagaimana sikap politik organisasi keagamaan tersebut pada partai. Dalam bidang ekonomi, misalnya bagaimana keanggotaan organisasi keagamaan tersebut dalam kegiatan ekonomi. Dalam penelitian saya sendiri lebih fokus pada bagaimana gerakan organisasi keagamaan tersebut. Jadi, juga bergantung dari sudut pandang mana penelitian itu difokuskan.&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sifat detail merupakan sifat dari penelitian, termasuk ilmu sosiologi. Dari sisi informasi, paling tidak orang mengetahui keberadaan aliran tasawuf sebagai organisasi keagamaan. Ini berkaitan dengan sudut pandang yang khas dari sosiologi. Ketiadaan sudut pandang yang khas dari sosiologi itu pula yang mampu mengaburkan identitas sosiologi.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya sendiri sering mengalami betapa sulitnya memakai sudut pandang sosiologi. Saya bisa saja terjebak pada penelitian keagamaan sebagaimana dilakukan oleh kalangan perguruan tinggi berlatar belakang keagamaan. Saya juga bisa saja terjebak pada penelitian filsafat maupun teologi.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Tentu penelitian bidang sosiologi agama ini hanya salah satu fokus dari suatu penelitian sosiologi itu sendiri. Masih ada bidang yang lain. Misalnya sosiologi gender, sosiologi pendidikan, dan lain sebagainya. Suatu penelitian juga tidak terlepas dari konteks yang sedang terjadi dan menarik untuk diteliti. Jika bidang sosiologi pendidikan ada yang menarik dan memungkinkan untuk diteliti maka tidak ada salahnya diteliti.   &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di balik itu pula, kita tahu di rak perpustakaan terdapat berbagai jenis judul skripsi sosiologi. Semuanya tampak setara, yakni diletakkan dalam rak yang sama. Entah itu skripsi yang tergolong baik atau tergolong jelek. Penghasil skripsi pun bisa lulus. Entah karena alasan batas waktu masa studi seorang mahasiswa atau alasan lainnya. Pada akhirnya, semua kembali pada diri kita masing-masing. Skripsi seperti apa yang akan kita buat.  &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-2751591168425712890?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/2751591168425712890/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/12/di-balik-skripsi-saya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/2751591168425712890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/2751591168425712890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/12/di-balik-skripsi-saya.html' title='Di Balik Skripsi-Saya'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-8813956285222794522</id><published>2010-12-02T01:52:00.000-08:00</published><updated>2010-12-02T01:53:50.287-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita dari Dusunku'/><title type='text'>Menjadi TKI</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.2  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt; &lt;span style="font-size:180%;"&gt;Menjadi TKI&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di kampung ini, saya kenal dengan sejumlah orang yang dulu pernah menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Tetangga saya, seorang laki-laki yang sebaya dengan saya pernah dua tahun bekerja menjadi TKI di Malaysia. Tetangga saya itu lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tahun 2010 di kampung saya ini ada tiga orang laki-laki yang juga menjadi TKI di Malaysia. Dua di antaranya sudah menikah dan satu di antaranya lulusan STM.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kabarnya mereka telah mengirimi uang pada keluarganya. Entah berapa jumlahnya dan berapa kali mereka mengirim selama mereka bekerja. Uang itu tentu sangat berharga bagi keluarga yang ditinggalkan. Uang itu juga sebagai bukti mereka telah bekerja. Bekerja dan mendapatkan uang dalam jumlah yang lebih banyak jika dibandingkan dengan bekerja di kampung halaman sendiri adalah tujuan utama TKI.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Mereka bisa bekerja juga atas jasa penyalur TKI. Tiga orang yang saya ceritakan itu bisa sampai ke Malaysia juga atas jasa penyalur TKI yang notabene adalah tetangganya sendiri. Orang yang menyalurkan TKI ini dulunya juga pernah menjadi TKI. Semakin banyak orang yang diberangkatkan maka semakin banyak pula uang yang diperoleh penyalur. Bahkan, seorang penyalur yang terbilang sukses, gajinya bisa lebih besar daripada seorang TKI.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Teman saya yang lain juga pernah menjadi TKI atau Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Hongkong. Dia, seorang perempuan, setelah lulus dari SMEA pada 1999, merantau menjadi pembantu rumah tangga. Berita dari koran yang saya baca, gaji TKI di Hongkong yang terbilang sudah mapan bisa Rp 4 juta lebih. Sepulang dari sana, dia bisa membeli tanah. Dia terbilang sukses menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW). Konon, TKW di Hongkong inilah contoh, nasib TKW itu tidak seburuk yang dibayangkan. &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Memang, di beberapa tempat nasib TKI memprihatinkan, seperti yang diberitakan oleh media. Misalnya, gaji yang selama beberapa bulan tidak dibayarkan, bagian tubuh yang diseterika, bagian tubuh yang dipukuli, dan lain sebagainya. Hukum pun konon tidak selalu bisa mengganjar tipe majikan yang tidak manusiawi seperti itu.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kisah sedih seperti itu tentu tak serta merta menyurutkan orang menjadi TKI. Kita tahu, bekerja adalah naluri manusia. Menjadi TKI pun bukanlah aib. Koruptor kelas kakaplah yang tergolong aib, bahkan melanggar hukum atas hidup ini. Malah TKI dinilai sebagai pahlawan devisa meskipun beberapa kasus, negara tidak bisa memberikan perlindungan hukum sebagaimana mestinya. Khususnya saat TKI mendapatkan masalah. Khususnya lagi TKI yang ilegal.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Ada yang mengatakan TKI itu juga sebentuk protes sosial terhadap negara. Negara tidak bisa memberikan pekerjaan yang layak di dalam negeri. Lagi pula, negara bukanlah manusia superhero yang dapat terbang tanpa sayap dan tidak mati jika ditembak. Negara adalah diri kita sendiri. Memang, menjadi TKI adalah keinginan TKI itu sendiri. Setidak-tidaknya itulah yang saya simpulkan dari media.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sekali lagi menjadi TKI bukanlah pekerjaan yang rendah. Namun, kenyataan itu, antara lain, mungkin membuat orang berpandangan bangsa Indonesia adalah bangsa kuli. Pandangan itu juga lebih karena melihat pekerjaan TKI yang umumnya kurang prestisius. Pandangan itu pula tampaknya berkaitan dengan penilaian terhadap bangsa Indonesia, yakni antara sebagai bangsa inferior dan bangsa superior, khususnya setelah kedatangan presiden AS pada 10 November 2010 yang lalu.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya memang bukan seorang TKI. Telah banyak juga publikasi tentang TKI. Saya hanya ingin menulis tentang TKI dari sudut pandang saya. Saya juga sudah lama ingin menuliskannya.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-8813956285222794522?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/8813956285222794522/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/12/menjadi-tki.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/8813956285222794522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/8813956285222794522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/12/menjadi-tki.html' title='Menjadi TKI'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-8351344435122972861</id><published>2010-11-22T00:09:00.000-08:00</published><updated>2011-06-07T21:37:35.394-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mengenai Menulis'/><title type='text'>Kepekaan Perasaan Penulis</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kepekaan Perasaan Penulis&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya mengenal seorang bloger yang berprofesi sebagai guru. Beliau peka terhadap siswa-siswinya. Misalnya, beliau yang saya kenal sebagai guru sejati itu bercerita tentang konsep belajar sejumlah siswanya. Kemudian, meskipun hanya sedikit, dalam satu tulisannya beliau juga menceritakan tentang sejumlah siswanya setelah lulus dari tempatnya mengajar. Sebagai seorang bloger sekaligus penulis, tentu cerita itu dituliskannya dalam blognya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sesuatu yang terlintas dalam pikiran beliau, lalu diwujudkan dalam bentuk tulisan. Judul dituliskan. Kata demi kata dirangkai sampai menjadi paragraf. Akhirnya membentuk sebuah wacana. Memang, tidak ada yang sempurna, termasuk tulisan beliau. Namun, saat saya membacanya, ternyata banyak cerita maupun kisah yang bisa dituliskan di kehidupan ini. Bahkan, ada tulisan beliau yang bisa menjadi inspirasi dalam hidup dan bisa membuka wawasan akan kehidupan di dunia ini. Itulah maksud kepekaan perasaan dalam diri penulis. Kepekaan dalam arti yang positif.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Judul itu juga tidak bermaksud mengklaim perasaan seseorang yang hobi menulis itu akan selamanya peka. Mereka yang tidak hobi menulis juga bisa berperasaan peka. Dalam kaitan ini, kelebihan bahasa tulis adalah sifatnya yang detail. Saat penulis mengalami sesuatu hal, lalu menuliskannya secara berkualitas dan kita membacanya secara cermat pula maka kita menangkap maksud penulis. Sekali lagi, itulah hubungan antara penulis dengan kepekaan perasaannya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Hakikatnya seni menulis seperti seni melukis, seni memahat, seni suara, sampai seni fotografi. Di antara seni itu tentu berbeda bentuknya. Jika dunia tempat tinggal kita ini dianggap terdapat “materi” maka “materi” itulah bahan yang kita tulis, yang kita lukis, yang kita pahat, yang kita nyanyikan, dan yang kita potret. Sebagaimana hasil dari seni-seni itu dapat kita nikmati.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Jika diumpamakan maka seperti seorang anak yang baru lahir. Jika anak tersebut sebagai “materi” kemudian diberi nama (biasanya namanya tertulis di dinding) maka nama itu untuk mengenali si anak nantinya. Sebuah tulisan juga untuk mengenali dunia tempat kita tinggal sekarang ini.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Tulisan juga merupakan salah satu media komunikasi, khususnya oleh manusia. Jika bentuk komunikasi dalam bentuk tulis, yakni di blog atau sejenisnya berkembang dalam satu komunitas misalnya satu sekolah maka betapa luar biasa hasilnya. Setidak-tidaknya saat kita bersedia menulis dan mau membacanya maka kita tahu tentang sesuatu hal. Misalnya, judul “Perpustakaan Masuk Kelas” yang ditulis oleh penulis yang saya ceritakan tadi.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Setidak-tidaknya produk tulisan dengan media sejenis situs pribadi di internet itu bisa membidik pangsa komunitas, misalnya dalam satu sekolah. Sebuah informasi maupun sebuah masalah secara tertulis bisa ditempatkan di situs. Kemudian, orang-orang yang berkepentingan terhadap isi situs yang di senantiasa diperbarui itu memberikan komentar. Akhirnya terjadi timbal balik dalam proses komunikasi.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Jika dari segi komunikasi tulis maka baik situs pribadi yang populer dengan blog dan buku adalah sejajar. Hanya saja blog umumnya dalam bentuk digital, sedangkan buku bisa dalam bentuk konvensional maupun dalam bentuk digital. Bahkan, banyak penulis mengatakan, blog merupakan media yang tepat untuk menjadi seorang penulis.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Selain itu, situs pribadi itu memiliki kelebihan sendiri. Misalnya dari sisi kedekatan penulis dengan kondisi sekolahnya maka seorang penulis akan lebih mengetahui kondisi sekolah beserta segala permasalahannya. Tentu “masalah” itu tidak akan selalu bisa didapatkan di koran nasional, koran lokal, majalah maupun buku.   &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di samping itu, betapa pentingnya arus komunikasi dan informasi dalam era sekarang. Sampai-sampai di negara kita dan juga di negara lain ada kementerian komunikasi dan informasi. Di sini kuncinya adalah jaringan internet yang baik dan kesediaan pemakai internet memanfaatkan alat komunikasi ini secara baik dan benar.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Apabila internet itu sebagai alat maka alat itu rasanya tidak bisa menggantikan pemakainya. Alat lebih bersifat pasif, sedangkan pemakainya bersifat aktif. Pemakai di sini adalah kita, manusia. Penulis sebagai manusia rasanya sampai saat ini juga tidak bisa digantikan oleh alat entah itu komputer yang paling canggih sekalipun. Artinya keterlibatan manusia tidak bisa dilepaskan. Terlebih peran penulis-penulis yang antara lain peka perasaaannya.  &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-8351344435122972861?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/8351344435122972861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/11/kepekaan-perasaan-penulis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/8351344435122972861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/8351344435122972861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/11/kepekaan-perasaan-penulis.html' title='Kepekaan Perasaan Penulis'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-7255778657686607938</id><published>2010-11-17T19:12:00.000-08:00</published><updated>2010-11-22T21:17:38.785-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seputar Nganjuk'/><title type='text'>Televisi Lokal</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUSER01%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-no-proof:yes;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:4.0cm 3.0cm 3.0cm 4.0cm; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%;" lang="IN"&gt;Televisi Lokal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Televisi lokal yang saya maksud adalah yang di Kabupaten Nganjuk dan di Kabupaten Madiun. Karena alasan merek, saya tidak menyebut nama televisinya. Dua stasiun televisi lokal itulah yang bisa saya tonton di televisi di rumah saya. Sebetulnya, di Kabupaten Kediri juga ada televisi lokal. Namun, gelombangnya tidak bisa tertangkap oleh antena televisi di rumah saya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kabupaten Madiun merupakan batas sebelah barat Kabupaten Nganjuk. Kabupeten Kediri merupakan batas Kabupaten Nganjuk sebelah selatan. Jarak yang relatif dekat itulah yang membuat gelombang televisi lokal di Madiun bisa tertangkap dengan mudah di Nganjuk. Berbeda dengan Madiun, daya tangkap antena televisi saya yang lemah menyebabkan siaran televisi lokal dari Kediri itu tidak bisa ditangkap. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya menulis artikel ini sebagai penonton televisi lokal yang awam. Saya belum pernah berkunjung ke kantor stasiun televisi di Nganjuk, di Madiun maupun di Kediri. Akhir 2009 yang lalu secara tak sengaja saya pernah bertemu dengan direktur televisi lokal di Nganjuk. Katanya, televisi lokal di Nganjuk itu saat itu dikelola oleh salah seorang dari salah satu televisi nasional. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebagai penonton awam, saya juga tak mengetahui bagaimana televisi lokal itu disiarkan di kantor sekaligus rumah produksinya. Apalagi izin siarnya saya juga tidak tahu. Saya juga tidak tahu sejak kapan persisnya televisi lokal itu siaran. Setahu saya kira-kira satu tahun ini televisi tersebut siaran. Namun, ke-awam-an dan ketidaktahuan saya itu tidak menghalangi saya untuk menulis artikel ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya juga bisa maklum dengan tayangan televisi lokal di Nganjuk itu. Kini, setiap hari siarannya mulai pagi sampai malam hari. Entah jam berapa. Keajegan siarannya itu merupakan nilai tersendiri untuk sebuah televisi lokal. Tentu tayangan televisi lokal juga tidak bisa persis seperti televisi nasional. Lagi pula, prioritas tayangannya adalah segmen lokal. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya menyaksikan siarannya lebih banyak hiburan, khususnya mulai pagi sampai sore hari. Hiburan ini didominasi oleh musik, misalnya pop, dangdut koplo, lagu-lagu Jawa, dan lain sebagainya. Pagi hari terkadang juga ada tayangan kartun untuk anak-anak. Menjelang petang, biasanya ditayangkan siaran rekaman pengajian oleh kiai lokal. Dalam hal ini, televisi lokal memiliki pangsa penonton tersendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Malam hari biasanya diputar film. Tayangan itu biasanya yang saya sukai, terutama jika filmnya bagus menurut saya. Sayangnya, gambarnya seringkali terlihat buram. Mungkin karena antena televisi di rumah saya. Namun, setelah turun hujan maka gambarnya bisa lebih bening. Terkadang, ada lintasan berita seputar Nganjuk. Namun, pengemasan beritanya tampaknya belum optimal. Masih kalah dengan sebuah koran lokal yang merupakan grup atau perpanjangan tangan dari koran nasional. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bahkan, agaknya tayangannya masih kalah dengan sebuah televisi lokal di Madiun. Televisi lokal di Madiun secara reguler ada program beritanya. Perkembangan kabupaten kiranya memengaruhinya, selain sumber daya manusianya. Secara umum, untuk ukuran kebupaten, Kabupaten Madiun lebih maju daripada Kabupaten Nganjuk. Itu juga dapat dilihat dari ke-pemerintah-an Kabupaten Madiun dan Kota Madiun. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam waktu tertentu juga ada tayangan pertandingan langsung sepak bola pada salah satu liga di luar negeri. Entah bagaimana hak siar dari pertandingan itu. Mereka yang gemar menontonnya merasa senang-senang saja. Sama halnya saya juga tidak tahu bagaimana hak siar dari film-film yang ditayangkan. Saya pun maklum, sebagai bagian dari media komunikasi massa, televisi lokal ini juga telah berusaha mengikuti kode etik jurnalistik. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Umumnya televisi, tarif iklan yang tayang menjadi pemasukan. Layaknya televisi lokal, iklan pun berasal dari pemasang iklan lokal. Entah itu, rental mobil, pengobatan alternatif maupun &lt;i style=""&gt;dealer&lt;/i&gt; motor. Terkadang ada juga iklan yang bukan dari pemasang iklan lokal, melainkan iklan yang pernah tayang di televisi nasional. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya bangga di kabupaten tempat saya tinggal sekarang ini memiliki televisi lokal. Kita tahu, tidak setiap kabupaten/kota di Indonesia ini memiliki televisi lokal. Kebanggaan itu juga dirasakan oleh warga Nganjuk, khususnya saat mereka pertama kali tahu dan menontonnya. Apalagi jika televisinya itu menayangkan suatu tempat, suatu kegiatan, suatu peristiwa yang mereka kenal. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-7255778657686607938?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/7255778657686607938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/11/televisi-lokal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/7255778657686607938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/7255778657686607938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/11/televisi-lokal.html' title='Televisi Lokal'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-3656801401150637875</id><published>2010-11-08T19:50:00.000-08:00</published><updated>2010-11-08T20:04:11.101-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seputar Nganjuk'/><title type='text'>Kuliah di Sini atau di Sana?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ_NvLpyIyDYka_syaiMEGNvMzQk2VlxoNDl5TN8x-EdI9To8Y&amp;amp;t=1&amp;amp;usg=__wIM8hcZWSnca92pwuellT4Cwl0o="&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 197px; height: 256px;" src="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ_NvLpyIyDYka_syaiMEGNvMzQk2VlxoNDl5TN8x-EdI9To8Y&amp;amp;t=1&amp;amp;usg=__wIM8hcZWSnca92pwuellT4Cwl0o=" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Gambar diunggah dari &lt;a href="http://adityasetyawan.wordpress.com/2009/09/02/kalender-akademik-jadwal-kuliah-dosen-mk-smt-ganjil-jurusan-kebidanan-poltekkes-surakarta-ta-20092010/"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--Gam&lt;/style&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Kuliah di Sini atau di Sana?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Maksud dari judul itu jika Anda misalnya tinggal di Nganjuk (sini) maka berkuliahlah di kampus atau lembaga pendidikan di Kabupaten Nganjuk. Khususnya jika Anda ingin kuliah pendidikan yang nantinya menjadi guru. Misalnya, program studi (prodi) atau jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Ekonomi dan lain sebagainya. Jadi, jika ingin kuliah Pendidikan Bahasa Inggris, Anda sebaiknya tidak perlu kuliah di universitas terkemuka di Indonesia. Cukup di sebuah lembaga pendidikan di Nganjuk saja. Apalagi jika rumah Anda relatif dekat dengan kampus.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Artikel ini masih bisa diperdebatkan. Bisa jadi, hal ini hanya berlaku, misalnya di Nganjuk saja. Lagi pula, saya mengambil kasus di Nganjuk. Saya sesungguhnya juga tidak melakukan penelitian yang seksama mengenai ini. Namun, mendasarkan atas pengalaman saya sendiri yang kuliah sosiologi non-kependidikan di sebuah perguruan tinggi negeri di Jember dan pergaulan saya dengan sejumlah teman yang kuliah di kampus di Nganjuk.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kuliah di Nganjuk atau di luar kota (sana) juga merupakan pilihan. Jika Anda ingin kuliah di Jurusan Sosiologi maka Anda tidak bisa kuliah di Nganjuk. Di Nganjuk belum ada lembaga yang membuka jurusan atau program studi Sosiologi. Namun, jika Anda ingin berkuliah di pendidikan Bahasa Inggris maka di Nganjuk sudah ada.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya tidak perlu menyebut kampus atau lembaga pendidikan di Nganjuk. Anda mungkin sudah mengetahui sendiri. Kampus atau lembaga pendidikan itu juga merek. Sama halnya penyiar radio maupun presenter televisi tidak sembarangan menyebut merek. Kecuali jika ada kesepakatan untuk memasang iklan di radio maupun televisi. Pemasangan merek untuk di-iklan-kan juga perlu membayar.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pilihan kuliah di daerah sendiri maupun di luar daerah ini pun berkaitan dengan waktu, tenaga, dan terutama biaya. Sekali lagi saya mengambil contoh kuliah di Jember dan kuliah di Nganjuk. Ada sejumlah teman saya yang tinggal di Nganjuk yang juga kuliah di Nganjuk. Misalnya kuliah di jurusan pendidikan matematika, pendidikan bahasa Inggris, maupun kuliah di pendidikan anak usia dini (PAUD). Anggaplah mereka ini mempertimbangkan waktu, tenaga, dan biaya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Tiga orang teman saya itu sudah bekerja di lembaga pendidikan meskipun belum PNS. Mungkin mereka yang kuliah di Nganjuk itu sudah ada jaringan mengenai tempat kerja di Nganjuk. Kemudian, jika kuliah di Nganjuk kabarnya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) per semester saat ini sebesar Rp 1.500.000,-. Jadi, perbulannya Rp 250.000,-. Dulu saya yang kuliah di Jember dengan mengambil Program Studi Sosiologi tahun 2003, yang tergolong non-eksakta, SPP per semester Rp 500.000,- sehingga per bulannya Rp 83.333,33,-.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Memang, jika kuliah di Jember SPP-nya lebih murah daripada di Nganjuk. Namun, itu belum termasuk biaya hidup. Saya sendiri memperkirakan dalam satu bulan pada tahun 2009 bisa menghabiskan rata-rata Rp 600.000,- s/d Rp 700.000,-. Sementara jika kuliah di Nganjuk tidak sampai Rp 600.000,-. Itu karena Anda tidak perlu bayar indekos. Anda juga bisa makan di rumah sehingga Anda tidak perlu membeli di warung. Saat menjadi anak kos seperti saya dulu tahun 2009, Anda bisa mengeluarkan uang Rp 10.000,- s/d 12.000,- dalam sehari untuk tiga kali makan. Sesungguhnya biaya hidup inilah yang membuat kuliah tampak mahal dan bukan SPP nya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sekali lagi, ini sekadar contoh kasus dalam hitungan kasar. Setiap orang bisa berbeda-beda. Lagi pula, kebutuhan dan kemampuan setiap orang juga berbeda-beda dan juga bisa berubah-ubah. Misalnya saya memperkirakan biaya hidup per bulan rata-rata Rp 600.000,- s/d Rp 700.000,-, bagi beberapa orang bisa saja hanya Rp 500.000,- per bulan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Jadi, jika kuliah di Nganjuk maka waktu, tenaga dan biaya Anda bisa ditujukan di kampung halaman Anda sendiri. Mungkin Anda bisa membantu sejumlah pekerjaan orang tua Anda di rumah, misalnya membersihkan rumah. Mungkin, orang tua Anda juga tidak terlalu was-was jika Anda hanya berkuliah di kampung halaman sendiri.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya sendiri tidak menyuruh Anda berkuliah di sini atau di sana. Saya juga tidak meminta Anda untuk berkuliah. Kuliah hanya salah satu cara di antara sekian cara dalam mengarungi kehidupan. Paling tidak tulisan ini bisa menjadi salah satu pertimbangan jika Anda ingin berkuliah. Selain itu, Anda hendaknya tidak salah jika ingin berkuliah agar tidak terlalu terjerumus. Anda hendaknya juga mengetahui profil tempat Anda akan kuliah. Termasuk jika Anda sudah lulus nantinya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Anda sebaiknya juga pintar-pintar mengenali diri Anda sendiri dalam jalan hidup Anda. Juga lingkungan (dalam arti yang luas) tempat Anda tinggal. Tidak terkecuali saat Anda memutuskan untuk berkuliah ataukah tidak. Umumnya, saat Anda memutuskan untuk berkuliah maka itu merupakan satu keputusan penting dalam jalan hidup Anda selanjutnya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Apabila berkuliah di luar daerah (sana), juga tak selamanya buruk. Mungkin kemandirian Anda saat menjadi anak kos bisa teruji. Sejumlah perguruan tinggi terkemuka di Indonesia juga menawarkan, fasilitas belajar seperti ketersediaan buku-buku di perpustakaan, beasiswa dan lain sebagainya. Pengalaman organisasi, jaringan organisasi dengan berbagai karakteristik umumnya ada di perguruan tinggi terkemuka. Bahkan, perguruan tinggi terkemuka masih menjadi incaran lembaga atau perusahaan tertentu.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-3656801401150637875?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/3656801401150637875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/11/kuliah-di-sini-atau-di-sana.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/3656801401150637875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/3656801401150637875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/11/kuliah-di-sini-atau-di-sana.html' title='Kuliah di Sini atau di Sana?'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-6151039953079888617</id><published>2010-11-07T18:35:00.000-08:00</published><updated>2010-11-07T18:38:49.807-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita dari Dusunku'/><title type='text'>Les</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.2  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt; &lt;span style="font-size:180%;"&gt;Les&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Itu judul terpendek yang pernah saya tulis. Les itu satu makna dengan “bimbingan, kursus, latihan, pelajaran, tuntunan, tutorial” (Endarmoko, 2006). “Les” biasanya dipakai sebagai bahasa percakapan. Dari itu, les di sini saya artikan sebagai kegiatan guru dan murid secara bersama-sama mempelajari mata pelajaran tertentu di luar jam sekolah. Les biasanya bertempat di rumah seorang guru atau di sekolah.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Khususnya di kampung tempat tinggal saya ini, sekarang kegiatan les agak lebih ramai. Anak dari saudara sepupu saya yang kelas 4 SD, November 2010 ini sebagai bulan kedua mengikuti les di sekolahnya. Mulainya pukul 18.00 sampai dengan 19.00. Dalam seminggu masuk lima kali. Dalam sebulan les itu biayanya Rp 20.000,-. Saudara sepupu saya itu juga berujar, “daripada di rumah anaknya menjadi omelan maka disuruh les saja”.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Anaknya yang laki-laki dan tergolong aktif itu mau. Setiap berangkat dan pulang selalu diantarkan dengan motor. Jarak antara rumah dan sekolah yang masih berstatus swasta itu sekitar 1 km. Lokasi sekolahnya berada di desa sebelah. Saudara sepupu saya itu juga tidak keberatan dengan biaya Rp 20.000,- selama sebulan itu. Anaknya tetangga saya yang juga adik kelas dari anak saudara sepupu saya itu juga ikut les. Di kampung saya, hanya dua anak itu yang sekarang ikut les. Sementara anak-anak yang satu kampung dengan lokasi sekolah itu yang ikut les lebih banyak lagi.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Keikutsertaan anak dari saudara sepupu saya itu pun menunjukkan kegiatan les tidak semata-mata mempelajari dan memperdalam materi pelajaran sekolah. Di satu sisi les lebih sebagai trik menjawab soal-soal ujian. Di sisi yang lain les juga sebagai pengalih perhatian agar ada kegiatan yang bisa dilakukan oleh seorang anak. Selama anak itu mau mengikuti les. Itu pun menyiratkan sekolah juga berfungsi sebagai tempat anak-anak menghabiskan waktunya.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Anaknya tetangga sebelah rumah saya yang sekarang kelas VII Sekolah Menengah Pertama (SMP), dulu saat kelas VI SD, beberapa bulan menjelang ujian nasional juga ikut les pada seorang guru yang tinggal di desa sebelah. Setiap pertemuan selama satu jam biayanya Rp 5.000,-. Tetangga saya ini tidak ingin nilai matematika anaknya jelek. Tetangga saya ini juga sangat tidak ingin anaknya tidak lulus saat ujian nasional.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Minat les itu berbeda dengan saat saya SD dulu, antara tahun 1991-1997. Saat itu di kampung saya ini tidak ada murid yang les seperti sekarang ini. Sekarang, tahun 2010 banyak orang tua mengikutkan anaknya les. Bahkan, kegiatan les lebih intensif menjelang ujian sekolah. Khususnya saat akan menghadapi ujian akhir semester maupun ujian nasional.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Minat les itu pun dipengaruhi oleh cap lulus dan tidak lulus dalam ujian nasional. Sebagaimana adanya kebijakan lulus dan tidak lulus mulai dari jenjang SD dan yang sederajat sampai dengan SMA dan yang sederajat. Memang, prestasi akademik bisa menjadi salah satu ukuran, misalnya karier hidup seseorang. Namun, kita juga tahu dalam hidup ini, misalnya kesuksesan secara ekonomi dalam hidup tidak semata-mata diukur dari prestasi akademik.  &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-6151039953079888617?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/6151039953079888617/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/11/les.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/6151039953079888617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/6151039953079888617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/11/les.html' title='Les'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-2037046905872049324</id><published>2010-11-03T20:55:00.000-07:00</published><updated>2010-11-03T21:13:55.481-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Perjalanan'/><title type='text'>Nganjuk-Jakarta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQO4cj8prRK-ckfaxOeq7Fw6DGiI7ghkMp4M59qfEHaZOgKBEA&amp;amp;t=1&amp;amp;usg=__qUBPJ6gJnUqAQMi5IIljHTsIGJg="&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 187px; height: 270px;" src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQO4cj8prRK-ckfaxOeq7Fw6DGiI7ghkMp4M59qfEHaZOgKBEA&amp;amp;t=1&amp;amp;usg=__qUBPJ6gJnUqAQMi5IIljHTsIGJg=" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; Gambar diunggah dari &lt;a href="http://pesatnews.com/2010/07/17/berita-daerah/izin-penggunaan-taman-monas-bakal-diperketat/"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Nganjuk-Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di Jakarta saya melihat yang tidak saya lihat di Nganjuk. Misalnya, gedung pencakar langit yang terdiri atas puluhan lantai. Kendaraan bernama bajaj juga tidak saya temui di Nganjuk, tetapi saya jumpai di Jakarta. Di Jakarta saya juga menjumpai jalur untuk &lt;i&gt;bus way&lt;/i&gt; yang tentu saja tidak saya temui di Nganjuk. Di Jakarta saya juga menjumpai kemacetan, tetapi tidak saya jumpai di Nganjuk. Di Jakarta, saya juga kali pertama melihat Monumen Nasional (Monas) dengan mata kapala saya sendiri.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sebelumnya, saya hanya melihat itu semua lewat televisi. Di sana pula, saya melihat gedung pusat tiga stasiun televisi nasional. Monorel yang masih mangkrak, Jackmania, jalur &lt;i&gt;three in one&lt;/i&gt;, joki, mobil-mobil mewah yang lalu lalang, sampai parkir mobil di lantai lima.   &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dua paragraf itu mengawali tulisan di Oktober ini. Perjalanan dengan kereta bisnis dari Nganjuk ke Jakarta sejak Senin, 25 Oktober 2010 sampai dengan Minggu pagi, 31 Oktober 2010 lalu ingin saya abadikan lewat tulisan ini. Mereka yang pernah mengenal Jakarta tentu tak asing lagi dengan ibu kota negara Indonesia itu. Namun, ada kesan tersendiri untuk saya yang kala itu pertama kali ke Jakarta.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Senin sore itu bertepatan dengan waktu maghrib sebuah kereta bisnis yang akan membawa saya ke Jakarta tiba. Saya sengaja memilih kereta bisnis yang harga tiketnya Rp 140.000,-. Itu tarif untuk Senin sampai Kamis. Jumat sampai Minggu Rp 160.000,-. Kereta kelas ekonomi harga tiketnya sekitar Rp 50.000,-.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Harga karcisnya saja berbeda. Apalagi fasilitasnya. Secara umum baik kelas bisnis maupun kelas ekonomi relatif sama, tetapi ada perbedaannya. Kereta kelas bisnis lebih tetapi waktu. Waktu tempuh juga relatif lebih cepat. Di dalam kereta kelas bisnis juga lebih bersih dan tidak terlalu berbau amis. Kereta bisnis juga dipasang tirai dan kipas angin yang masih berfungsi. Tempat duduk kereta kelas bisnis juga lebih nyaman. Itu semua berbeda dengan kereta api kelas ekonomi.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Toilet kereta kelas bisnis juga lebih bersih dan tidak terlalu berbau tidak enak. Di dalam toilet juga tersedia air untuk buang air besar. Air itu dipakai saat kereta berjalan. Juga ada wastafel kecil untuk cuci muka. Toilet kereta kelas ekonomi lebih kotor, berbau, dan biasanya tidak tersedia air untuk buang air besar. Di kelas bisnis juga tidak ada satu pun pengamen. Keberadaan pedagang pun hanya ada saat kereta berhenti di stasiun. Di kelas ekonomi, pedagang hampir selalu lalu lalang meskipun kereta dalam kondisi berjalan. Di kelas ekonomi biasanya juga ada pengamen.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Seorang teman mengatakan jika ke Jakarta sebaiknya naik kereta kelas bisnis. Di samping perjalanan jauh, yakni sekitar 13 jam, saat masuk Bekasi biasanya juga sesak dengan penumpang yang berangkat bekerja. Meskipun ini relatif, tetapi konon kereta kelas bisnis lebih aman dibandingkan dengan kelas ekonomi. Artinya aman misalnya di kereta kelas bisnis hampir tak ada pencopet.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pengalaman saya tahun 2003 saat pertama kali dari Nganjuk ke Bandung dengan kereta kelas ekonomi pun turut memengaruhi saya memilih kelas bisnis. Memang, tarif karcis bisnis lebih mahal daripada kereta kelas ekonomi. Meskipun demikian, kereta kelas ekonomi juga masih ada peminatnya. Harga karcis yang murah umumnya menjadi alasan utama.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya pun tiba di Stasiun Pasar Senen, hampir pukul 08.00. Molor dari jadwal seperti yang tertulis di karcis, yakni 06.36. Perjalanan Nganjuk-Jakarta selama kurang lebih 13 jam pun seakan tak terasa. Atas petunjuk dari saudara yang di Tangerang, saya naik bus jurusan Cikokol. Tanpa ponsel sebagai alat komunikasi, maka saya akan sangat kesulitan menuju rumah saudara saya di Tangerang itu. Karena itu, saya menulis nomor ponsel yang saya anggap penting jika ponsel saya hilang.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kira-kira pukul 11.00 saya tiba di rumah saudara saya. Itu merupakan kali pertama saya ke sana. Namun, pertengahan 2010 yang lalu saudara saya itu pernah berkunjung ke rumah saya. Selepas maghrib saya diantarkan oleh saudara saya ke Ciputat yang juga masih saudara saya. Ciputat ini dekat dengan tempat ujian saya pada Rabu, 27 Oktober 2010, mulai pukul 08.00, yakni di sebuah universitas di Pamulang, Tangerang Selatan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Ujian tertulis dalam seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di salah satu kementerian itulah yang membawa saya ke Jakarta, khususnya di Tangerang. Selain itu, saya juga ingin dolan ke rumah saudara saya yang di Tangerang maupun yang di Jakarta. Itu juga pertama kali saya mengikuti tes CPNS sebuah kementerian.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Bisa jadi, perjalanan hidup selanjutnya, terutama perjalanan karier, ditentukan oleh tes seperti itu. Memang, awalnya saya ragu dan nyali saya menciut. Untuk kualifikasi akademik sarjana sosiologi seperti saya, formasinya hanya ada satu. Sementara satu formasi itu direbutkan oleh lulusan sosiologi nonkependidikan se-Indonesia. Namun, berhubung di sana ada saudara, yakni saya bisa menginap di rumah saudara saya itu, akhirnya saya mendaftarkan diri.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya bersyukur, tempat ujian saya relatif dekat dengan rumah saudara saya yang di Tangerang Selatan. Tempat ujian itu sendiri ditentukan oleh panitia seleksi CPNS. Jadi, peserta tidak bisa memilih tempat ujian. Tentu saya sangat berterima kasih pada saudara-saudara yang telah membantu saya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pagi itu, saya tiba di tempat ujian, sekitar pukul 07.00. Di auditorium di sebuah universitas itu sudah banyak peserta yang datang. Tempat tes di auditorium ini khusus untuk peserta yang melamar di salah satu unit kerja di sebuah kementerian tadi. Sebelumnya, saya memeriksa peserta tes di unit kerja ini berjumlah 925 peserta.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya pun mencari tempat duduk saya. Begitu dapat, peserta lain dengan kualifikasi akademik yang sama seperti saya juga telah tiba. Saya pun menyapa salah satu peserta yang duduk di sebelah kanan saya. Dia alumnus universitas terkemuka di Indonesia. Dia yang angkatan 2000 itu sudah beberapa kali mengikuti tes sejenis itu. Saya pun sempat pesismis dan peluang saya untuk lolos dalam tes itu pun sangat kecil. Bahkan, dipastikan saya tidak akan lolos dalam tes itu.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di sebelah kiri saya juga dari almamater yang sama dengan yang duduk di sebelah kanan saya. Dia angkatan 2005. Sementara saya angkatan 2003 dari sebuah universitas pinggiran di Pulau Jawa. Saya juga mahasiswa yang tidak pandai. Namun, saya berusaha mengerjakan tes tulis itu semampu saya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Menjelang tengah hari, tes pun selesai dan saya mengikutinya sampai selesai. Saya sadari tes tulis tersebut sangat sulit bagi saya yang ber-IQ rendah ini. Terkadang saya berpikir, saya ikut tes itu paling tidak agar ijasah sarjana saya ada gunanya. Sorenya saya kembali ke rumah saudara saya. Saya pun menginap di malam kedua di rumah saudara saya itu.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kamis sore, 28 Oktober 2010 saya izin pulang. Sebelum pulang ke Nganjuk, saya juga izin akan dolan di rumah saudara saya di Jakarta Selatan. Melalui saudara saya inilah pertama kali saya bisa tahu kota Jakarta seperti yang saya kemukakan di awal paragraf. Sekali lagi, saya sangat berterimakasih pada saudara-saudara saya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sabtu sore, saya pun balik ke Nganjuk. Awalnya saya akan naik kereta kelas ekonomi. Namun, atas bantuan saudara saya akhirnya saya naik kereta kelas bisnis. Saya tiba di Stasiun Nganjuk sekitar pukul 05.00 pada Minggu pagi, 31 Oktober 2010. Perjalanan dari Jakarta ke Nganjuk pun seolah-olah tak terasa dengan naik kereta kelas bisnis tersebut.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;   &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-2037046905872049324?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/2037046905872049324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/11/nganjuk-jakarta.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/2037046905872049324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/2037046905872049324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/11/nganjuk-jakarta.html' title='Nganjuk-Jakarta'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-5592687350810907928</id><published>2010-10-23T21:23:00.000-07:00</published><updated>2010-10-23T21:27:15.561-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seputar Nganjuk'/><title type='text'>Ganti Plat Pikap</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.2  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt; &lt;span style="font-size:180%;"&gt;Ganti Plat Pikap&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Judul itu hampir sama dengan judul &lt;i&gt;Cetak STNK 5 Tahun&lt;/i&gt; yang telah saya publikasikan. Ganti plat berarti juga mencetak Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (STNK) 5 tahun. Namun, judul tersebut untuk kendaraan jenis roda dua. Sementara judul ini kendaraan jenis roda empat, yakni pikap. Prosedurnya sama, tetapi cetak STNK untuk pikap biayanya lebih mahal.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Ganti plat pikap pada Jumat, 22 Oktober 2010 ini total biayanya Rp 864.000,-. Pikap milik bapak saya itu tahun 1997 dengan silinder 1295 CC. Umumnya biaya itu berdasarkan silinder, tahun kendaraan, dan jenis kendaraan. Sementara kendaraan roda dua tahun pembuatan 2000 dengan silinder 100 CC, biaya totalnya Rp 268.000,-. Rincian ganti plat pikap ini sebagai berikut:  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; - Biaya foto kopi                                                 Rp       5.000,-&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; - Administrasi di loket cek fisik                       Rp   30.000,-&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; - Administrasi pelayanan formulir                 Rp 135.000,-&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; - HER                                                                  					Rp 617.000,-&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; - Asuransi                                                           				Rp     72.000,-&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; - Ambil plat                                                        Rp         5.000,-&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;    TOTAL                                                              				Rp 864.000,-&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-5592687350810907928?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/5592687350810907928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/10/ganti-plat-pikap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/5592687350810907928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/5592687350810907928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/10/ganti-plat-pikap.html' title='Ganti Plat Pikap'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-5236970664757634584</id><published>2010-10-13T19:50:00.000-07:00</published><updated>2010-10-13T20:02:41.168-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seputar Nganjuk'/><title type='text'>Mengurus SKCK</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Mengurus SKCK&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Senin, 11 Oktober 2010 yang lalu saya mengurus Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK). Hari itu merupakan kali pertama saya mengurusnya. Anda mungkin tahu, saya mengurusnya sebagai salah satu syarat melamar pekerjaan. Tulisan ini ingin berbagi pengalaman bagaimana mengurus SKCK. Semua hal yang berkaitan dengan SKCK ini ada pada pihak berwenang.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pertama, pagi hari saya mengurusnya di kantor desa tempat saya lahir. Begitu SKCK selesai diketik oleh sekretaris desa (sekdes), saya diminta menyerahkan foto ukuran 3 x 4 sebanyak 1 lembar. Sebelumnya Sekdes menanyai identitas seperti nama, tanggal dan tahun lahir, dan keperluan pembuatan SKCK itu. Begitu selesai, saya langsung ke Komando Rayon Militer (Koramil) dengan membawa SKCK dari kantor desa tadi. Di Koramil ini saya diminta SKCK yang satu lembar tadi agar diberi map.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Selesai dari Koramil saya langsung ke kantor kecamatan yang letaknya bersebelahan dengan Koramil. Di Koramil tadi saya dikenai biaya Rp 5.000,-. Baik Koramil maupun kecamatan ini SKCK tadi ditandatangani oleh pejabat berwenang. Setelah itu, saya menuju ke Kepolisian Sektor (Polsek) yang letaknya juga tidak jauh dari kantor kecamatan. Baru di Polsek ini saya diminta foto ukuran 3 x 4 sebanyak satu lembar. Saya juga dimintai foto kopi KTP dan foto kopi Kartu Keluarga (KK), masing-masing satu lembar.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Setelah SKCK dari Polsek selesai dibuat saya langsung ke Kepolisian Resor (Polres). Sebelumnya, di Polsek ini saya dikenai biaya Rp 15.000,-. Di Polsek ini map saya juga tidak diberikan sehingga saya hanya membawa satu lembar SKCK dari Polsek ke Polres. Mulai dari kantor desa sampai Polsek ini saya mengurus sendirian. Artinya, saat saya mengurusnya, tidak ada orang yang juga mengurusnya. Namun, setelah di Polres, sejumlah orang juga mengurusnya. Akan tetapi, tidak sampai antre yang panjang.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di Polres ini saya menuju ke ruangan yang di atas pintunya terdapat tulisan PELAYANAN SKCK. SKCK yang dari Polsek tadi saya letakkan di meja petugas. Setelah itu, petugas memberi saya dua lembar formulir yang harus saya isi. Dengan pena yang saya bawa sendiri, saya mengisinya. Saya juga meminta blangko sidik jari di salah satu ruangan. Saya lupa nama ruangannnya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Selesai mengisi formulir dan blangko tadi, saya sidik jari. Sudah ada petugas laki-laki yang membantu sidik jari. Sepuluh jari tangan harus mengenai tinta sidik jari. Di meja sidik jari itu juga ada dua lembar serbet untuk membersihkan tinta sidik jari. Kemudian, saya kembali ke ruangan tempat saya mengambil blanko sidik jari tadi. Saya agak lupa, di ruangan ini petugas meminta foto berwarna berapa lembar. Seingat saya satu lembar ukuran 3 x 4 sebanyak satu lembar.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di Polres ini saya juga agak lupa. Namun, seingat saya, di Polres ini saya juga diminta foto kopi KTP sebanyak satu lembar dan foto kopi KK sebanyak satu lembar. Misalnya seperti foto tadi, pengurus SKCK menyiapkan foto agar dalam pengurusan SKCK itu lebih lancar. Di timur komplek Polres juga telah ada tempat foto. Namun, akan lebih baik jika kita punya foto sendiri yang sesuai.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Lalu, saya kembali ke ruangan Pelayanan SKCK. Saya harus menunggu di kursi tunggu untuk beberapa saat. Kemudian, nama saya dipanggil. Saya diminta memeriksa kembali keterangan di SKCK tersebut. Di pelayanan SKCK ini saya dikenai biaya adminstrasi sebesar Rp 15.000,-. Setelah itu saya memfoto kopi SKCK yang asli itu untuk legalisir. Legalisir ini menyesuaikan dengan yang kita perlukan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Seluruh pengurusan SKCK itu selesai hampir tengah hari. Setelah itu, saya pulang.   &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-5236970664757634584?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/5236970664757634584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/10/mengurus-skck.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/5236970664757634584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/5236970664757634584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/10/mengurus-skck.html' title='Mengurus SKCK'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-4676097575321499595</id><published>2010-10-11T05:57:00.000-07:00</published><updated>2010-10-11T06:13:23.898-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Sosiologi'/><title type='text'>Judul Skripsi Sosiologi</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.2  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt; &lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Judul Skripsi Sosiologi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kamis, 30 September 2010 saya meng-&lt;i&gt;up date facebook&lt;/i&gt; saya. Bunyinya “Pada dasarnya manusia itu egois”. Seorang teman ada yang menyukai &lt;i&gt;up date&lt;/i&gt; status itu. Beberapa menit kemudian ada adik tingkat saya dulu yang mengomentari &lt;i&gt;up date&lt;/i&gt; status saya itu. Dia mengucapkan maaf lahir batin pada saya. 10 September 2010 lalu memang 1 Syawal 1431 H sekaligus lebaran. Antara status &lt;i&gt;up date&lt;/i&gt; dan komentarnya itu memang tidak berkaitan. Namun, berhubung di &lt;i&gt;facebook&lt;/i&gt;, komentar itu sah-sah saja.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dalam komentarnya itu dia bertanya, “Mas, semester ini aku mau seminar. &lt;i&gt;Tapi&lt;/i&gt; &lt;i&gt;gak&lt;/i&gt; &lt;i&gt;nemu&lt;/i&gt; judul, ada saran?”. Saya kemudian balik bertanya padanya, yakni judul yang ia punya sementara ini. Namun, dia tidak segera membalasnya. Akhirnya saya menanyainya kembali lewat &lt;i&gt;short message service&lt;/i&gt; (sms). Dia ingin meneliti tentang mitos yang ada di masyarakat tempat ia tinggal sekarang. Dia tidak ingin melakukan penelitian lapangan. Maksudnya, dia tidak ingin meneliti di suatu tempat yang jauh dari tempatnya tinggal. Hal itu juga menyangkut waktu, tenaga, dan biaya penelitian. &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya menyarankan padanya agar segera mengerjakan skripsinya. Tujuannya, antara lain, agar cepat lulus. Saya juga menyarankan agar judul yang ia ajukan ada bobot akademisnya. Maksudnya agar tidak sembarangan dalam menentukan judul. Tujuannya agar dosen yang &lt;i&gt;smart&lt;/i&gt; mudah meng-&lt;i&gt;acc&lt;/i&gt; judulnya. Saat itu dia juga meminta saran penelitian tentang mitos tadi. Saya pun menanggapi, saya tidak bisa menilai konsepnya itu. Sebab itu bergantung kesepakatan antara mahasiswa dan dosen pembimbingnya.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Jika saya menilai konsepnya tentang mitos itu tidak bernilai sosiologis maka belum tentu dosen pembimbingnya menganggap tidak bernilai sosiologis. Umumnya dosen pembimbing mengikuti mahasiswa yang dibimbingnya. Entah konsepnya atau judulnya itu baik atau jelek. Umumnya setiap mahasiswa memiliki konsep sendiri-sendiri. Syukur jika judul itu unik, kreatif, dan sosiologis. Biasanya jika judulnya itu sudah sangat jelek maka dosen pembimbing meminta mencari judul yang lain.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Judul di atas sesungguhnya melengkapi tulisan saya yang berjudul &lt;i&gt;Membuat Skripsi yang Sosiologis&lt;/i&gt;. Juga melengkapi judul &lt;i&gt;Mahasiswa Sosiologi dan Dilema Skirpsi&lt;/i&gt;. Keduanya sudah saya publikasikan di blog ini. Khususnya judul &lt;i&gt;Membuat Skripsi yang Sosiologis&lt;/i&gt;, sedikit demi sedikit saya edit.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kembali pada judul di atas. Jika saya ditanya tentang judul yang bisa diteliti oleh mahasiswa sosiologi maka saya balik bertanya kembali. Apabila seorang mahasiswa meminta judul pada saya maka saya tidak bisa memberikannya. Sejelek apapun judulnya, pasti mahasiswa memiliki judul sendiri. Lagi pula jika saya memberinya judul maka belum tentu mahasiswa mau menerimanya meskipun menurut saya itu bernilai sosiologis.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sebetulnya melalui skripsi yang telah saya buat dan ada di rak perpustakaan, sudah bisa menjadi salah satu contoh dalam membuat skripsi. Skripsi sosiologi yang lainnya, tesis dosen sosiologi, jurnal yang ditulis oleh dosen sosiologi juga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menentukan judul skripsi sosiologi. Belum lagi contoh judul dari internet.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Apalagi misalnya mahasiswa jurusan lain membacanya maka mungkin mereka tahu itu sebagai skripsi. Jika mahasiswa Sastra Indonesia membaca judul skripsi mahasiswa sosiologi maka mungkin akan merasa asing. Demikian juga jika mahasiswa sosiologi membaca judul skripsi mahasiswa Sastra Indonesia maka mungkin juga akan merasa asing.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dari pertanyaan adik kelas saya itu pun tampaknya Program Studi Sosiologi Universitas Jember masih meminta mahasiswa mengajukan judul. Dengan begitu, dosen dapat mengetahui arah pikiran mahasiswa dalam membuat skripsi. Umumnya judul itu tidaklah final, apalagi dalam penelitian kualitatif. Artinya, judul itu bisa saja berubah. Mahasiswa saat ditanya tentang idenya terkait akan seminar untuk skripsi, biasanya bahasanya berputar-putar, kurang jelas apa maksudnya.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Lebih jauh dari ini, judul itu merupakan bagian terkecil dari proses seseorang mengerjakan skripsi. Skripsi sesungguhnya juga bagian terkecil dari proses seseorang menjadi mahasiswa. Kita tahu, penyelesaian pengerjaan skripsi bukanlah tujuan akhir dari perjalanan hidup seseorang. Umumnya setelah seseorang mengerjakan skripsi maka masih ada tahap selanjutnya. Misalnya tes untuk masuk lapangan pekerjaan.   &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sebaliknya, banyak kasus menunjukkan, kelambatan masa studi mahasiswa karena persoalan skripsi. Terkadang persoalan skripsi juga bisa menimbulkan konflik antara mahasiswa dengan dosen maupun antara mahasiswa dengan orang tuanya. Juga dilaporkan sejumlah kasus mengenai kecurangan dalam skripsi. Misalnya, penjiplakan skripsi sampai jual beli skripsi.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Orang bisa berkata apa saja mengenai skripsi. Orang terkadang memandang skripsi tidak selalu akan ditanyakan jika misalnya seseorang melamar bekerja di sebuah bank. Maka dari itu, hendaknya jangan terlalu idealis dalam mengerjakan skripsi. Sejumlah mahasiswa berpikir untuk membuat skripsi yang biasa-biasa saja. Nilai pas-pasan pun tidak jadi soal. Yang penting bisa cepat lulus.&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Seseorang bisa saja beralasan dia tidak idealis dalam mengerjakan skripsi. Namun, dirinya sesungguhnya kesulitan dalam mengerjakan skripsi. Lagi-lagi itu juga menyangkut pilihan seseorang dalam mengerjakan skripsi. Sekali lagi, setiap mahasiswa memiliki pengalaman sendiri-sendiri akan skripsi. Penilaian orang terhadap skripsi pun tidak melulu pada angka atau huruf yang tertera di transkrip nilai. Ada penilaian yang tak mungkin ditulis di transkrip nilai. Penilaian itu ada dalam diri orang-orang yang mengetahui bagaimana perjuangan dalam membuat skripsi.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-4676097575321499595?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/4676097575321499595/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/10/judul-skripsi-sosiologi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/4676097575321499595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/4676097575321499595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/10/judul-skripsi-sosiologi.html' title='Judul Skripsi Sosiologi'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-3020197475643137194</id><published>2010-10-04T21:13:00.000-07:00</published><updated>2010-10-04T21:41:10.947-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peristiwa'/><title type='text'>Pengamen</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Pengamen&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di tengah pikiran yang jenuh dalam menulis, judul itu saya tulis. Kehidupan yang menjadi sumber tulisan sepertinya serba-sama untuk dituliskan. Bisa jadi itulah jalan hidup yang saya alami sampai saat ini. Jalan hidup yang monoton dan membosankan. Pada saat yang sama, judul suatu tulisan yang saya tulis di tengah kejenuhan, terkadang dikomentari. Komentar itu sungguh sangat berarti bagi saya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Judul itu tebersit saat saya ingat bunyi genjrang-genjreng pengamen memainkan gitarnya. Persisnya saat itu Sabtu, 18 September 2010 sekitar pukul 15.00 ketika saya mengantar saudari saya di rumah paman saya, di belakang rumah saya. Saudari saya menumpang secara gratis sebuah mobil yang membawa tiga orang yang bekerja di Surabaya pada majikan kaya. Majikan itu terbilang baik, mobil yang terbilang mewah untuk ukuran orang dusun itu juga sudah ada sopir pribadi Si Majikan. &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sore itu dua orang pengamen menghampiri rumah paman saya itu untuk mengamen. Keduanya masih remaja. Seorang memainkan gitar dan satunya membawa recehan uang logam. Mereka berdua menyayikan sebuah lagu pop. Saat itu di teras rumah paman saya itu ada lima orang. Namun, dua pengamen yang mengenakan kaus dan bercelana jin selutut itu dengan percaya diri mengamen. Beberapa menit kemudian, tuan rumah memberikan uang receh, entah berapa.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sekarang pengamen didominasi oleh kalangan remaja. Usianya kisaran 15 tahun sampai dengan 20 tahun. Di dusun saya ini, sepertinya tidak pernah ada pengeman perempuan. Pengamen umumnya adalah laki-laki. Itu pun mengesankan mereka mengamen lebih untuk kesenangan daripada sebagai mata pencaharian utama. Ibu-ibu menggosipkan uang hasil mengamen itu dibelikan rokok.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pengamen di dusun ini memang bukan warga sini. Biasanya mereka berasal dari desa lain dan tak jarang dari kecamatan lain. Umumnya mereka datang dengan sepeda motor dan menitipkan sepeda motor di suatu rumah. Sementara itu mereka mengamen. Hal itu pun memengaruhi cara kerja mereka yang spontanitas. Maksudnya, khususnya di kawasan perumahan, begitu ada &lt;i&gt;mood&lt;/i&gt; ingin mengamen maka mereka mengamen. Cara kerja mereka tidak terkoordinir secara rapi.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di antara kita mungkin kurang suka dengan kehadiran pengamen di rumah kita. Misalnya kita menutup pintu, begitu mendengar ada pengamen di tetangga sebelah. Barangkali kita mengatakan maaf saat pengamen mendatangi rumah kita. Mungkin juga di antara kita merasa iba. Saat mereka memainkan musik beberapa menit kemudian kita memberikan uang receh, misalnya Rp 200,-. Uang itu terkadang juga sebagai bentuk penghargaan atas rasa percaya diri mereka dalam mengamen.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Akhir-akhir ini terkadang juga ada pengamen yang biasanya terdiri atas empat orang. Mereka memainkan musik jaranan. Anak-anak kecil biasanya mengerubungi mereka saat beraksi. Orang terkadang memberi mereka Rp 1000,-. Lebih mahal dibandingkan dengan mereka yang membawa gitar tadi. Pemberian uang itu pun biasanya melihat jumlah pengamen maupun hiburan yang mereka tawarkan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;  Sampai kini, khususnya di kampung tempat saya tinggal ini, pengamen belum tergolong sebagai masalah sosial. Jika pengamen memaksakan diri mengamen sekaligus memaksa meminta maka itu bisa tergolong masalah sosial. Apalagi jika pengamen itu terlibat pencurian di rumah-rumah, juga termasuk dalam masalah sosial. Bahkan itu tergolong kejahatan.   &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Orang terkadang menyayangkan pekerjaan mengamen. Mengapa tidak bekerja yang lain, misalnya bekerja sebagai karyawan toko. Orang kadang-kadang juga menilai mengamen itu lebih baik daripada mencuri. Setiap orang memang memiliki pendapat sendiri-sendiri.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pengamen memang tidak hanya ada di kawasan pemukiman warga. Entah di kawasan kota maupun desa. Di sebuah dusun yang terbilang pelosok di rumah nenek saya juga ada pengamen. Di kereta api kelas ekonomi, di bus kota, bahkan di bawah lampu lalu lintas terkadang juga ada pengamen.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Bisa jadi operasi mengamen, misalnya di bus kota itulah pengamen mendapatkan citra tertentu. Misalnya, mengamen menandai sebagai orang yang hidupnya tidak menentu. Selain bertujuan mendapatkan uang, mereka juga ingin menghibur. Meskipun sama-sama menghibur, tentu itu berbeda dengan musisi papan atas yang dari karyanya dalam industri musik bisa dijadikan sebagai gantungan nafkah.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-3020197475643137194?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/3020197475643137194/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/10/pengamen.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/3020197475643137194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/3020197475643137194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/10/pengamen.html' title='Pengamen'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-1884722454913678552</id><published>2010-09-20T20:37:00.001-07:00</published><updated>2010-09-20T20:37:54.792-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Aku'/><title type='text'>Nomor Gelap</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.2  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt; &lt;span style="font-size:180%;"&gt;Nomor Gelap&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pagi hari, 16 Agustus 2010 saya mendapat &lt;i&gt;miscall&lt;/i&gt; dari sebuah nomor. Sayangnya, nomor tersebut tidak ada di &lt;i&gt;phone book&lt;/i&gt; telepon seluler (ponsel) milik saya. Saya lalu menanyai siapa dia lewat &lt;i&gt;short message service&lt;/i&gt; (sms). Sms memang terkirim, tetapi dia tidak membalasnya. Jadi, saya tidak tahu identitas orang yang miscall tersebut. Seingat saya, dalam dua bulan tarakhir ini dia dua kali menghubungi saya dengan nomor yang sama. Awalnya dia mengirim sms. Dia tahu saya, tetapi saya tidak tahu dirinya.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Memang cerita itu agak lama. Saya pun menganggap itu sebagai nomor gelap. Artinya, seseorang yang menghubungi saya lewat ponsel, tetapi dia enggan menyebut identitas dirinya. Saya hanya tahu nomor kartu dalam ponselnya yang muncul di ponsel saya. Terkadang ada &lt;i&gt;miscall&lt;/i&gt;, tetapi di ponsel saya tertulis “nomor pribadi memanggil”. Dengan begitu, sebuah nomor tidak bisa muncul pada ponsel penerima.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya memiliki ponsel beserta kartunya ini pada 12 Desember 2005. Sampai sekarang saya masih memakainya. Seingat saya, selama itu telah lebih dari tiga kali menerima nomor gelap. Padahal, saya memperkirakan saya tidak akan menerima nomor gelap. Salah satu alasannya, saya sampai kini tidak pernah berbuat serupa. Selain itu, saya hanya orang biasa, bukan orang penting seperti selebriti maupun bupati.   &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Namun, pada dasarnya setiap orang yang memiliki ponsel beserta kartunya, berpotensi menerima nomor gelap. Terlebih jika seseorang itu telah memilikinya dalam waktu yang lama. Misalnya satu tahun. Mungkin seseorang yang mengirim nomor gelap itu bukan teman kita. Akan tetapi, dia bisa saja mendapatkan nomor kita dari teman kita. Mungkin juga dia mencatat nomor kartu ponsel kita dari suatu &lt;i&gt;counter&lt;/i&gt;. Biasanya kita meninggalkan nomor kartu ponsel saat kita membeli pulsa.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Masih syukur selama ini pengirim nomor gelap itu masih dalam batas-batas yang wajar. Artinya, bahasanya dalam sms masih sopan. Namun, sayangnya, dia enggan menyebut identitasnya. Tentu ini bisa membuat penasaran. Malah bisa mengganggu, yakni saat &lt;i&gt;miscall&lt;/i&gt; sehingga kurang etis. Namun, saya membiasakan diri dengan itu. Lama kelamaan dia akan lelah sehingga dia berhenti sendiri.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Mereka yang masih saja mengirim nomor gelap hendaknya menghentikan aksinya. Kasihan jika seseorang sampai berganti nomor kartu ponsel karena sering diteror oleh nomor gelap. Apalagi jika pengirim nomor gelap itu menyangkut hal-hal yang sensitif yang menggelisahkan. Misalnya, menyangkut isu SARA.  &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-1884722454913678552?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/1884722454913678552/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/09/nomor-gelap.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/1884722454913678552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/1884722454913678552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/09/nomor-gelap.html' title='Nomor Gelap'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-1718300579402262351</id><published>2010-09-18T21:30:00.000-07:00</published><updated>2010-09-18T21:35:02.266-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Topik lainnya'/><title type='text'>Pendidikan Profesi Guru</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.2  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt; &lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Pendidikan Profesi Guru&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya ketinggalan informasi saat saya tidak mengambil Akta Mengajar IV (A-IV). Saat itu awal 2008 sejumlah teman seangkatan saya mengambil A-IV di sebuah lembaga pendidikan swasta di Kabupaten Jember. Umumnya mereka sudah wisuda. Namun, beberapa adik tingkat saya yang belum wisuda juga ada yang mengambilnya. Saya sendiri saat itu belum wisuda.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saat itu, awal 2008 seorang teman mengatakan isu tentang A-IV yang tidak diakui. Namun, jika A-IV tidak diakui mengapa ada lembaga pendidikan swasta yang masih menyelenggarakan. Sebuah lembaga pendidikan negeri di Jember pun tidak menyelenggarakan A-IV sejak sekitar 2003. Rupanya sejak saat itu hanya lembaga swasta yang menyelenggarakannya. Sejak 2008 dalam satu angkatan peserta A-IV tidak lebih dari 50 orang.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Teman saya itu juga mengatakan peserta A-IV sebetulnya untuk mahasiswa yang sudah lulus enam bulan sejak wisuda. Namun, buktinya sejumlah adik kelas saya tadi bisa ikut A-IV. Penyelenggara A-IV sendiri juga mendapatkan uang dari peserta A-IV. Dengan A-IV itu mereka berharap bisa menjadi guru yang Pegawai Negeri Sipil (PNS). PNS, sebuah profesi yang banyak diimpikan oleh anak negeri ini.   &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Akhirnya, sejak 2010 teman saya itu menjadi guru sosiologi di Kabupaten Bondowoso. Dia menggunakan ijasah sarjana sosiologi nonkependidikan dan A-IV. Dia bersyukur sebab bisa bekerja, tak jauh dari kampung halamannya, yakni Banyuwangi. Artikel tentang A-IV ini bisa dibaca di judul yang lain tentang A-IV dalam &lt;i&gt;blog&lt;/i&gt; ini.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kira-kira tahun 2008 itu pula bergulir wacana Pendidikan Profesi Guru (PPG). Rencananya PPG itu menggantikan A-IV. Rancangan PPG pun telah dibuat pada Juli 2008. Peserta PPG adalah lulusan program sarjana, baik yang pendidikan maupun nonkependidikan. Dalam situsnya, sebuah koran nasional pun memberitakan PPG akan dibuka pada September 2009.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya sendiri saat itu wisuda pada Maret 2009. Setelah membaca informasi di koran itu, saya berencana ikut PPG pada September 2009 itu. Semenjak itu saya berusaha mengikut berita PPG. Misalnya, dari internet, dari teman lewat telepon seluler (ponsel), dan dari sejumlah guru yang PNS.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sampai September 2009 tidak ada lembaga yang menyelenggarakan PPG untuk nonkependidikan seperti saya. Kabarnya, PPG sejak 2009 itu sudah ada, tetapi untuk guru (yang PNS) Sekolah Dasar (SD) di sebuah lembaga pendidikan negeri di Surabaya. Seorang teman pun mengatakan salah satu syarat seseorang ikut PPG adalah ada rekomendasi dari pihak terkait. Pada saat yang sama, PPG pun diliputi ke-simpang-siur-an informasi, bahkan informasinya tidak jelas.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sejak November 2010 sampai Agustus 2010 ini saya pun bertanya dengan maksud melamar lima Sekolah Menengah Atas (SMA) di Nganjuk. Namun kelimanya memiliki alasan yang bervariasi. Intinya kelimanya menolak lamaran saya. Misalnya, mungkin saya bisa menjadi Guru Tidak Tetap (GTT) atau tenaga honorer, tetapi pada tahun 2010 dan ini akhirnya hanya janji. Ada juga SMA swasta yang guru sosiologinya sudah ada meskipun guru tersebut sesungguhnya pengajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Selain itu, seorang kepala sekolah di SMA negeri mengatakan sejak tahun 2006 ada edaran agar sekolah tidak menerima GTT.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dengan hanya modal ijasah sosiologi nonkependidikan saya sesungguhnya nekat melamar di SMA-SMA tersebut. Tujuannya terkait rekomendasi kata teman saya itu. Harapan saya dengan lamaran itu dapat diterima menjadi GTT dan bisa ikut PPG nantinya. Di dusun tempat tinggal saya, status guru cukup terpandang meskipun mereka tahu gaji GTT tergolong rendah. Potret nasib GTT yang gajinya tampak memprihatinkan yang ingin diangkat menjadi PNS seperti yang diberitakan oleh Radar Nganjuk pada Jumat, 29 Agustus 2010.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Katanya, masih banyak potensi desa maupun dusun yang bisa diberdayakan. Bayangan itu membuat saya ingin di dusun tempat lahir saya ini. Rencananya saya ingin bertani padi dan meneruskan bisnis gabah orang tua. Dua hal itu telah terwujud dan telah saya rintis. Di samping itu, saya ingin memiliki rumah baca. Namun, saat saya belum mengajar sosiologi maka ijasah sarjana saya tampak sia-sia. Saya sama saja dengan orang yang tidak kuliah di dusun saya ini. Itulah alasan pribadi saya yang mungkin naif.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kesia-siaan itu pun sering membuat saya menyusun rencana lain. Misalnya, merantau ke Kalimantan menjadi PNS. Namun, saya pun masih dibayangi oleh sertifikat pendidik yang belum saya miliki. Sementara PPG yang menjanjikan sertifikat pendidik informasinya masih saya terima secara tidak jelas. 25 Agustus 2010 yang lalu saudari saya mengatakan, mungkin PPG untuk PNS dibuka November 2010 ini. PPG untuk yang bukan PNS masih tahun 2011.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saudari saya itu hanya dengar-dengar saja sehingga informasi itu belum pasti. Sama hal teman saya yang katanya PPG di Jember akan di buka pada Oktober atau mungkin November 2010 ini. Jika saya amati sejak awal 2008 itu sampai sekarang di internet, banyak lulusan strata 1 khususnya yang nonkependidikan menanyakan tentang PPG. Tidak terkecuali mereka yang bertanya lewat situs resmi Departeman Pendidikan Nasional lewat direktoratnya. Namun, PPG juga masih belum jelas. Pihak berwenang sepertinya memberikan jawaban yang mengambang. &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Entah apakah saya yang tidak mengikuti informasi. Namun, 2 September 2010 saya mengakses informasi mengenai PPG dari internet. Setelah membacanya, syaratnya sungguh berat bagi saya yang lulusan sosiologi nonkependidikan ini. Misalnya “Memiliki masa kerja sebagai guru minimal 5 tahun dengan usia maksimal 35 tahun pada saat mendaftar.” &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kiranya tujuan PPG adalah baik. Misalnya, meningkatkan profesionalitas guru dalam mengajar dan mendidik. Aturan-aturan dalam PPG itu pun bertujuan baik. Namun, sepertinya aturan itu menghalangi lulusan nonkependidikan untuk mengikuti PPG, yakni menjadi guru. Bisa jadi itulah bagian dari pengangguran “lulusan kuliahan”. Apalagi terpaku dengan mengharap bekerja sebagai guru di kabupaten ini. Apalagi guru PNS maka betapa mustahilnya harapan itu bisa terwujud.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sampai Agustus 2010 ini saya yang hanya berijasah sarjana sosiologi nonkependidikan ini tidak bisa mendaftar PPG. Belum ada lembaga yang menyelenggarakannya, khususnya untuk lulusan nonkependidikan. Padahal, saya sungguh berharap bisa ikut PPG. Itu setelah rencana saya menjadi dosen telah gagal diwujudkan.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sampai sekarang saya sepertinya masih akan menunggu PPG yang belum jelas itu. Sejak 2008 itu saya berpikir untuk tidak curang dengan membeli A-IV seperti salah seorang teman seangkatan saya yang kabarnya membelinya sehingga dia bisa menjadi guru sosiologi yang PNS.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-1718300579402262351?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/1718300579402262351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/09/pendidikan-profesi-guru.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/1718300579402262351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/1718300579402262351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/09/pendidikan-profesi-guru.html' title='Pendidikan Profesi Guru'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-3683242809184586577</id><published>2010-09-13T18:31:00.000-07:00</published><updated>2010-09-13T18:56:13.412-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peristiwa'/><title type='text'>Lebaran Kali Ini...</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Lebaran Kali Ini...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sabtu, 4 September 2010 menjelang 10 September 2010 atau 1 Syawal 1431 H, yakni hari Hari Raya Idul Fitri dikabarkan ayah dari seorang teman meninggal dunia. Rem sepeda angin yang ditumpangi almarhum lepas dan melilit perutnya. Kemudian almarhum sempat di-rontgen, tetapi satu jam kemudian menghembuskan napas terakhir. Kakak dari seorang teman itu rencananya akan menikah pada 12 September 2010 ini. Akhirnya, pada hari itu akad nikah pun dilaksanakan di depan jenasah. &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Betapa pilunya suasana pada hari itu. Suka dalam duka. Seorang ayah yang kita cintai pergi untuk selama-lamanya saat seorang anak melangsungkan pernikahan. Sedih memang, tetapi itulah kenyataanya. Garis tangan berkata lain. Sikap tabah dan ikhlas pun menjadi jalan terbaik.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kabar pun silih berganti. Senin, 13 September 2010 seorang teman akan melangsungkan pernikahannya. Saya mengetahui kabar bahagia itu lewat undangan yang dia kirimkan melalui &lt;i&gt;facebook&lt;/i&gt;. Saat liburan Lebaran ini tentunya sanak saudara yang jauh dapat lebih mudah berkumpul. Apalagi Lebaran juga identik dengan berkunjung maupun berkumpul dengan sanak saudara, sahabat, maupun mitra kerja.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya merasa sepertinya Lebaran 1430 H baru saja dilaksanakan. Tak lama kemudian tiba Lebaran 1431 H. Lebaran kali ini pun sepertinya Lebaran kemarin. Hal yang sedikit berbeda adalah pelaksanaan tahlil yang dilaksanakan usai sholat Idul Fitri, 10 September 2010. Lebaran yang jatuh pada hari Jumat ini pun secara umum dilaksanakan secara bersama-sama. Terkecuali sejumlah kelompok keagamaan yang melaksanakan 1 Syawal pada 9 September 2010, seperti yang diberitakan oleh media.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Mungkin tulisan ini tidak begitu berbobot. Namun, terlalu sia-sia jika momentum Idul Fitri yang yang jatuh pada 10 September 2010 ini dilewatkan begitu saja tanpa sebuah tulisan. Pemublikasian tulisan ini memang terlambat sebab saya tidak setiap waktu bisa pergi ke warung internet untuk &lt;i&gt;online&lt;/i&gt;. Akan tetapi, itu tidak menjadi halangan dan tulisan ini harus dipublikasikan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Selain itu, suasana yang berbeda dibandingkan dengan hari-hari biasa pada Idul Fitri umumnya setiap rumah punya makanan ringan yang ditaruh di toples atau tempat lainnya. Terkadang ada yang menyuguhkan minuman ringan. Anak-anak usia SD dan usia SMP biasanya membentuk kelompok terdiri atas beberapa orang. Kelompok itu berkunjung dari satu rumah ke rumah lainnya, hampir satu kampung dikunjungi.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Hampir setiap orang memakai pakaian terbaiknya saat berkunjung. Terkadang ada orang yang sekadar bersalaman saja dengan tuan rumah dan langsung pamit. Namun, ada juga yang duduk sebentar sambil menikmati makanan ringan seperti kue kering, biskuit, buah pisang maupun permen. Kunjungan itu pun sebentuk penghormatan atau memelihara tali persaudaraan terhadap orang yang dikunjungi, selain kepentingan-kepentingan tertentu.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; 1 Syawal itu pun hampir setiap orang berbahagia. Paling tidak potret seperti itu terjadi di dusun ini. Anak kecil biasanya mendapatkan &lt;i&gt;sangu&lt;/i&gt; atau uang yang diberikan oleh kakek-neneknya atau saudaranya. Namun, hari itu ada kebar seorang nenek kehilangan susuknya. Beliau bolak balik menyusuri jalan. Seingatnya susuknya jatuh di jalan. Kabarnya, nenak itu juga telah menghubungi seorang paranormal dusun untuk membantu agar susuknya bisa ditemukan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Cuaca di Lebaran hari pertama pun berubah saat pukul 14.00. Mendung hitam bergelayutan di langit. Sesekali waktu petir menggelegar. Kilatan petir pun seakan-akan membelah langit di sebelah barat. Suasana pun menjadi lebih gelap. Sekitar pukul 15.00 hujan turun dengan lebat dan halilintar pun menyambar-nyambar berkali-kali. Sekitar pukul 15.30 ada satu petir yang terdengar cukup keras. Namun, volumenya sepertinya masih dapat diterima oleh gendang telinga manusia. Syukur selama hujan lebat itu listrik tidak padam.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Cuaca pada Lebaran ini memang berbeda dengan Lebaran sebelumnya. Banyak orang mengira hujan tidak akan turun di bulan September. Namun, hujan lebat selama hampir dua jam di Lebaran hari pertama itu mengingatkan orang akan musim hujan. Lebaran hari kedua pun masih turun hujan, tetapi intensitasnya tidak seperti Lebaran hari pertama. Intensitas petir pun juga tidak seperti Lebaran di hari pertama.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-3683242809184586577?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/3683242809184586577/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/09/lebaran-kali-ini.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/3683242809184586577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/3683242809184586577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/09/lebaran-kali-ini.html' title='Lebaran Kali Ini...'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-3643282571758238973</id><published>2010-09-03T19:56:00.000-07:00</published><updated>2010-09-03T19:57:23.543-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>Kesadaran Ber-Tuhan</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.2  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt; &lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kesadaran Ber-Tuhan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di antara kita mungkin pernah mendengar seorang selebriti menyerahkan urusan jodohnya di tangan Allah SWT. Sejumlah teman saya juga pernah berkata bahwa hal seperti jodoh, rezeki, maupun kematian sudah ada yang mengatur. Maksudnya adalah Tuhan. Bahkan, di &lt;i&gt;facebook&lt;/i&gt; seorang teman mengatakan, Tuhan adalah teman &lt;i&gt;curhat&lt;/i&gt; baginya. Dengan alasan tertentu, kata “Tuhan” sengaja dipakai sebagai judul dalam tulisan ini.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kesadaran ber-Tuhan ini berarti kesadaran seseorang maupun kelompok orang terhadap keberadaan Tuhan. Masih di &lt;i&gt;facebook&lt;/i&gt;, seorang teman mengatakan, perhatian seseorang terhadap Tuhan itu hasil dari pemahaman akan immateri. Immateri berarti yang tidak tampak oleh mata. Tuhan tak tampak secara kasat mata. Namun, kita dapat merasakan kehadiran-Nya. Bahkan, ciptaaan-Nya jika kita mempercayai-Nya, misalnya alam dan segala isinya ini.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Tuhan dalam hal ini diposisikan sebagai kekuatan tertinggi. Di atas segala-galanya. Seperti telah ditulis di paragraf pertama, misalnya tentang kematian. Contohnya saat kita mengendarai motor menuju kebupaten lain. Jaraknya sekitar 100 km. Saat kita tiba di tempat tujuan dengan selamat mungkin di antara kita tidak begitu sadar kita bisa selamat sampai tujuan. Namun, jika kita mengalami kecelakaan di jalan yang tidak kita duga sebelumnya maka mungkin kita ingat Tuhan.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Selamat sampai tujuan atau tidak selamat sampai tujuan, anggaplah itu atas kehendak Tuhan. Barangkali kita memaknainya sebagai takdir yang telah Tuhan tentukan. Memang, manusia juga berkehendak, tetapi Tuhan juga berkehendak. Namun, kehendak Tuhan lebih besar daripada kehendak manusia. Lagi pula, seringkali manusia lebih ingat Tuhan saat mengalami suatu musibah. Inilah kiranya bahwa Tuhan itu sebagai kekuatan tertinggi.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pembicaraan tantang Tuhan memang bisa dari banyak sisi. Saya agaknya tidak ingin berbicara mendalam tentang a-teis, teis, Tuhan di mata agama-agama, Tuhan di mata filsafat, Tuhan di mata ilmuwan, agnostik, Teori Darwin, Tuhan dalam pandangan teolog, dan lain sebagainya. Judul itu terilhami oleh beberapa orang teman saya yang menyebut tentang Tuhan. Sebagaimana ditulis atas.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Tepatnya adalah pengalaman akan ke-Tuhan-an. Pengalaman akan ke-Tuhan-an ini menandai kesadaran seseorang akan Tuhan. Uniknya, selama ini teman-teman saya yang secara terang-terangan menyebut Tuhan, sebagian besar adalah perempuan. Artinya, saat mereka kesulitan, misalnya mengerjakan skripsi, mereka mengungkapkan ke-tawakal-annya pada Tuhan.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dalam kaitan ini, bukan berarti teman-teman saya hampir semuanya perempuan. Saya juga banyak memiliki teman laki-laki. Namun, dalam &lt;i&gt;facebook&lt;/i&gt; (fb) maupun &lt;i&gt;short message service&lt;/i&gt; (sms) yang saya terima, mereka yang laki-laki tidak banyak yang secara terang-terangan menyinggung Tuhan. Khususnya saat menghadapi suatu kesulitan hidup. Memang, mungkin itu juga sedikit dipengaruhi oleh frekuensi komunikasi saya lewat fb maupun sms antara laki-laki dengan perempuan.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sejauh amatan saya, mereka yang sadar akan Tuhan memiliki nilai tersendiri, terkait pandangan hidup yang positif. Misalnya saat kesulitan mengerjakan skripsi, kesulitan dalam soal karier maupun kesulitan dalam hubungan dengan lawan jenis (jodoh). Teman-teman saya ini tergolong usia produktif, yang saya perkirakan antara usia 24 tahun sampai dengan 27 tahun.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-3643282571758238973?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/3643282571758238973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/09/kesadaran-ber-tuhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/3643282571758238973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/3643282571758238973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/09/kesadaran-ber-tuhan.html' title='Kesadaran Ber-Tuhan'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-6629089522874223350</id><published>2010-09-01T19:21:00.000-07:00</published><updated>2010-09-01T19:28:37.432-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peristiwa'/><title type='text'>Kecelakaan</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Kecelakaan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Peristiwa ini telah lama terjadi. Saya hanya ingat peristiwa kecelakaan itu terjadi saat saya kelas 3 Sekolah Menengah Atas (SMA), yakni tahun 2003. Saat itu setelah sholat dhuhur. Di sebuah masjid di komplek perumahan nasional (Perumnas) hendak pulang bersama dengan teman yang saya bonceng dengan motor milik saya. Saat melewati perempatan, saya tidak menengok ke kiri maupun ke kanan. Saya hanya melihat ke depan, ke arah selatan, yakni jalan yang akan saya lalui. Inilah kesalahan saya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Entahlah, seakan-akan saat itu saya tidak konsentrasi dalam mengendarai motor di jalan. Pada saat yang sama, dari arah barat muncul sepeda motor dengan laju yang cukup cepat. Sebelum sampai di titik perempatan, pandangan terhalangi oleh bangunan rumah. Terkecuali pengendara berhenti terlebih dahulu sebelum melewati titik perempatan dan memastikan tidak ada kendaraan yang melintas. Namun, itu tidak saya lakukan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Begitu pengendara itu tahu saya &lt;i&gt;nyelonong&lt;/i&gt;, pengendara motor yang seorang laki-laki yang masih muda itu kaget. Dia langsung mengerem mendadak dan banting setir. Motornya tidak menabarak motor saya. Dia jatuh ke kanan, tetapi dia masih sadar dan tidak mengalami luka. Saya sempat berhenti sebentar dan sempat berniat melarikan diri karena katakutan. Kelalaian saya telah membuat orang itu celaka. Teman yang saya bonceng turun dan menghampiri orang yang jatuh tadi.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya pun akhirnya turun dari motor. Orang itu pun menanyakan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) dan Surat Izin Mengemudi (SIM) milik saya. Kemudian, kami bertiga menuju ke sebuah bengkel, tak jauh dari tempat kejadian. Motor orang itu pun masih dapat dijalankan. Rupanya, orang itu tidak percaya dengan bengkel dan hendak pergi ke tempat kerjanya, sambil menahan STNK dan SIM milik saya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pelajaran pertama bagi saya, yakni tentang penahanan STNK maupun SIM saat terjadi kecelakaan. Saya pun juga belajar dari teman saya itu. Jika terjadi kecelakaan hendaknya tidak melarikan diri. Namun, terkadang orang melarikan diri dan tidak mau bertanggungjawab. Saya pernah mengalaminya. Motor saya ditabrak dan orang yang menabrak melarikan diri.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kadang-kadang, seperti yang di tayangkan oleh televisi, terjadi penghakiman massa. Misalnya dengan merusak bus yang menabrak seorang pengendara sepeda motor hingga tewas. Hendaknya, aksi anarkis itu kita hindari. Jika negara kita negara hukum dan kita mempercayainya sebaiknya serahkan, misalnya sopir bus pada polisi agar diproses secara hukum.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kembali pada cerita saya itu. Orang yang menahan STNK dan SIM milik saya itu pun akhirnya segera meninggalkan bengkel dengan membawa motornya. Sebelumnya orang itu secara lisan agar ke rumahnya sore nanti untuk mengurus peristiwa kecelakaan ini. Penahanan STNK dan SIM ini pun sebagai pelajaran saya saat terjadi suatu kecelakaan. Fungsi surat itu sebagai jaminan agar orang mempertanggungjawabkan atas suatu peristiwa kecelakaan. Waktu itu pun tidak sampai melibatkan polisi.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;   &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-6629089522874223350?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/6629089522874223350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/09/kecelakaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/6629089522874223350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/6629089522874223350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/09/kecelakaan.html' title='Kecelakaan'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-6559794473029244615</id><published>2010-08-25T19:53:00.000-07:00</published><updated>2010-09-01T19:36:23.938-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peristiwa'/><title type='text'>Pelangi di Bulan Suci</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://u.kaskus.us/3/m5rznuvh.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 281px; height: 293px;" src="http://u.kaskus.us/3/m5rznuvh.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.2  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; Gambar diunggah dari &lt;a href="http://archive.kaskus.us/thread/3749791"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Pelangi di Bulan Suci&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Senin (23/08/2010), sore hari sekitar jam 16.45, saat saya selesai menyemprot tanaman padi dengan pestisida, terlihat pelangi di kaki langit. Saya tidak sengaja melihatnya, tetapi begitu menatap langit di sebelah tenggara, terlihat warna merah, kuning, hijau, biru yang sedang melengkung ke arah utara. Itulah pelangi. Mungkin jika sore itu saya tidak ke sawah maka saya tidak bisa melihatnya.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kiranya itu peristiwa alam di kala senja itu langka. Munculnya di bulan suci, Ramadan, bertepatan dengan hari ke-13 pelaksanaan puasa. Tentu tidak setiap periode Ramadan muncul lukisan alam yang indah itu. Lelah dan rasa pegal di punggung karena beban alat penyemprot pestisida pun seakan-akan sirna ketika menyaksikan ciptaan Sang Khalik tersebut.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Hari itu, sejak pagi Sang Surya memang tidak bersinar dengan kuat. Pagi sampai tengah hari terasa sejuk. Baru sekitar pukul 13.30 Matahari menampakkan sinarnya secara penuh. Kemudian sinarnya meredup menjelang sore hari. Agaknya itulah tanda-tanda kemunculan Si Bianglala itu.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saat spektrum warna di langit itu muncul, langit di sebelah timur, khususnya di tenggara terlihat mendung yang gelap. Sementara langit di barat tampak cerah, tidak mendung. Matahari pun menampakkan dirinya. Kemunculan pelangi pun karena pembiasan sinar matahari oleh titik-titik hujan.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Mendung yang gelap itu pun menunjukkan, kawasan di timur kabupaten ini baru saja turun hujan. Titik-titik hujannya disinari oleh Matahari dari sebelah barat. Beberapa saat setelah pelangi itu menghilang, langit di atas tempat tinggal saya pun turun gerimis. Namun, hanya beberapa menit.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Konon, pelangi itu adalah seekor Ular Naga raksasa yang sedang minum di suatu tempat. Begitulah cerita dari orang sepuh yang saya dengar saat saya kanak-kanak. Saat itu saya percaya saja. Bentuknya memang seperti ular yang kepalanya sedang minum di suatu tempat. Tak salah jika orang Makassar menyebutnya Ular Mengiang. Orang Jawa menamakannya Keluwung.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Keesokannya, Selasa (24/08/2010), sekitar pukul 03.00 turun gerimis. Menjelang pagi, gerimis pun berhenti dan pagi hari terlihat cerah. Sampai tengah hari Matahari bersinar dengan kuat. Menjelang sore hari di langit kabupaten ini tampak mendung. Persisnya saat hampir pukul 15.00 hujan turun dengan lebat. Sampai pukul 17.00 hujan gerimis masih tampak.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Suhu udara malam hari pun terasa lebih dingin daripada hari-hari sebelumnya. Sejumlah orang memakai jaket saat melaksanakan sholat tarawih. Hujan yang turun dengan lebat di sore hari itu pun agak langka. Apalagi bulan Agustus biasanya sudah kemarau dan tidak turun hujan. Apalagi hujan itu turun di bulan suci, Ramadan. Namun, sayangnya setelah turun hujan itu pelangi tidak menampakkan diri lagi.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-6559794473029244615?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/6559794473029244615/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/08/gambar-diunggah-dari-sini.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/6559794473029244615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/6559794473029244615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/08/gambar-diunggah-dari-sini.html' title='Pelangi di Bulan Suci'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-2545279285430028102</id><published>2010-08-20T19:41:00.000-07:00</published><updated>2010-08-20T19:56:58.771-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peristiwa'/><title type='text'>Ramadan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="data:image/jpeg;base64,/9j/4AAQSkZJRgABAQAAAQABAAD/2wCEAAkGBhQQEBUUExQUFBQWGBoUFRUVFRUVFBQUFxgVFRQYFRcXHSYeFxkkHRQUIC8gIycpLCwsFR4xNTAqNSYrLCkBCQoKDgwOGg8PFCwcHBwpKSkpKSkpKSwpKSksKSkpKSkpKSkpLCkpKSkpKSkuLCkpKSkpKSkpLCkpKSkpKSkpKf/AABEIAIUAxAMBIgACEQEDEQH/xAAcAAAABwEBAAAAAAAAAAAAAAAAAQIDBAYHBQj/xABAEAACAQIEAwYDBgQDCAMAAAABAhEAAwQSITEFQVEGBxMiYYEycZFCYqGx0fAUI1LBFYLhFjRDU2Rzo7IIJTP/xAAZAQADAQEBAAAAAAAAAAAAAAAAAQIEAwX/xAAjEQEBAAICAgEEAwAAAAAAAAAAAQIRAzEhQRIEIjJRE3Gx/9oADAMBAAIRAxEAPwDMaFCacsqpnMSNNPnXoIN0KFCgFW4kZpjnG8ULsScu06TvFJoUA/hMC95sttSzbADLJJ2AkiT6DWjscPuXCQlt2IOUhVYsDqSMoEzoadwLZgFAJYEtvAA0zMx6CF5aRpvXa4jxVfDdtDcuYi7dQwIJK27a3PkD4pHqFOsVO6Fcu4dlnMpUgwQdCD0IOo96bqzcFwthwgxFwsbilgJkoQYtrnY+VWBaeWq+sQX4bb/izb0W2nmf+YDKiCQCdmJZUHQt0Bo2HKewQASIBgiSBIMwYmYMHXbSkV1sTbW5irzFwVTO8gDK2SAiIp0KzlUDTyiTEGk4fhSth3vNcCkSVQRLagAgbhZP0Qxyk+QcsCimusnC7YwxvOxmPKqwBnJK21JIMnyu508qqo3fTlZv1py7CVguF3b+lpC52EZZJ00WSMx1Ggk604/BrkAojsI8xCHykGCCNxBB1iNDSjhgLa5gQ0soAKGTCECNWU+cagHcdNJ3EcZ4t7JmVXuOni3juPhBEjXKGDO0HVmjkJXnYcNrZG8exB/EfKk11/8ACbbXlU3YBXMxaCyKczANr8eQKxHIvlqDxGwqXMqMXACy2kFiAzZY3AmJ9PWiZA3YvlDIg6Eaid6aoUKegFGsTrtRUKdBd8AMcpkcjQuWGUAkaNqPUUijLf6UgKhRg+lCmB3GliQNzoBy9K6GH4SRpcW4GJAVAApO5LMWByqI2gkyPh3qDYvlHVxoVMjkQeoPXmPWutwzjS2TbyJDC4ruxVZaCDoBzMQSd9QAJaZoQeIYLwSVYMr6eU5SB1GYRqNtBpHsIdSOIIRdYMWJkyXnMxnVmnmTJ96j050EzAYIOGJJ5KqqAWd22AOwGhk68hHOpOL4QLKTcLBpK5I1DBcwkga7rOgiY3mDwnHMpDMpuMseGpaLSkRllZ1A0hYEkDMdwWsVxBbrIWSQobMxPmd3ZnLE9JIAHQdSaVBizg/5RuuYXNkUCAXbQvryVQVkkbso56NXLoKwFiCTm5xJIBPv/oKfxeI8QIAMotpkUdNSzHTmWJJPy6U9jsZ4uQBQqooVVAEAAKJPUyGljqZphz1tmJ6c4996PwtJjbfoJEan98+tdG7eRltqqsMs5vMTmPliF9CGPrngaCp12yHtLbtWXkGc5J1ELAy7akMffTSlctdnpwPD/fT59KkcPwZuXFVQpJM+b4YHmJf7oAJPoDzFd5uE3ntJbFvKFknqzEkyxidso6DL61KtcIvrZNtbYBYEM2kmTJn/ACqqx0B/qNT/ACT9jSs4u8rAIkhFLEcgxMeYryJAA1J0CjTWWcRhwIhg0iffpXZfsvfH2DRLw25Yh9Q2o0GqzzHruPflR85+xo3b4azhQrMzBFd3ACraUjOAXgs2RdW6QQJionFeHrZY25JdSAREaEBoYbBgSoKgmDM12cPx8WSuW2zDMrXi5Oa4qmfDElsq6mZJJISYCiuPbVEKMPMAwLITuARoT60/JIdu0pViWgjYR8Unl03/AB+dND9/3/vXS4rxE4gqzCMqxHLMSWY+kkn2EVIxHGk8I20sx5cmZjLx5Vn55VM+txvSmHF/f79aKujwji38OSQoLGDm5jLJEf58rHrkA5mmMDivDcsVzGCB1BaAWB65cwnkSDVAd3Ci2qF5LOucKCBlUyELGDqYmP6eeoiL+VT3xq3LrXbgzEsGCfYYSPJp8KgAKI5Ac6TxPihvlSdMqgRpEklmaBpqWJjkIA0ApbCFQrqcT4nbuWkREKZDzglgEVAWPM6Ex9/0rnXbDLBI31FGwVdVSfLMRz60KaoUtA5dRREGTGvoaQrEGRoRqI6/Ol4e/kaQAeWonekEzTB5r4bMXlnManX60xRqKcVaASiU4qUtErocL4Q99gFBjrSt0EK1ZLGAJNWXgvYe7fIkECr92U7uwoDOP1rQMHgEtLCgCsef1Fv4r+Kg8G7rlUAtA+dWnB9j7Fv7M13aOs9tvdNCt8GsrsgpR4dbH2FqWaSwqPjDQm4daO6CouJ7L2H+zFdHLTlsGjQ0pHFe7S3cBKgflVC453dXLRJUGK3RtKTcsq4ggGumPJnj7GnmDEcPZGysIO1Rr9jKSDGnSt77Sdg7d5SVAnXSsj7QdmHw7HQx8tq18XNM/FRYreTXWk34LEqIHSpDW6aZK0pMUIp+3ZBmTGmnrUemB0CZ505ay65p20jrTdIJOHwBdZDKOUEwaOos0KWr+wANOXr5dpMTtoI2psVNVbebnlj8ad8AeHW35ZzH+qNKSq60QWpuDwJuOFG5pbk8g/wfgzYhwANOdbX2R7HJYQMw1qL2G7KC0gdhV4rzuXkvJdenSQAIoGkE0qo/oxzRg0g0eaKAXRCiD1zOO8aTDLbLtHiXUtDbdjFMOpNJmmqOaQJajU0oik5akzs1yOO9n0xKHQZvzrqhaUBRYTz52q7LNhnJA8tV17S5Jk5p1EaR1mvRfaXgK4i2dPNB96w7tFwQYdiNZn2j51s4eX5fbl2izSuMtMutS2WmXStaTeHC5hnJA5kfhTZHSnUbKdp0pqjQGI/YoUVCmC7Yp+2k6c6Qi1ItEggjQilQk4bD6wdPnWn9jezCMVfckf3rNcGhuXBzJOtb12OwAt2QYjSsn1GXjSsXfs2gqgDQDSoHaDjdvBYd711gqqNJ+0x+ED1JrptWZ9+TW/4G1nLj+csZZgjXNPtWbDHfhVq7dmuMpjMLavIQc6iYOzR5gfUV1SKzTuLvWzg7q22uGLkkMDlWVX4esmZrTKrKauhDZoopWWo+PxYtWrlw6hEZ465QT/aphuB2y7cWOGp5zmusDktruTyJ/pX1+lYF2i7V4nHuGv3C2X4FAyovyUfnvULjnHrmMxD37plnMjoq/ZVegAqCjjqK3Yccx9OGVvTU+7rvSe0y4fGPmtnypdPxIeQc819eVbQhBE7jkRqPb0ryOGHUVs3ct2wa7nwd1ixRc9okyco0ZPbeuXLxa8xWOXprAFCgBQIrNp1FVevdsrC8QXB5xnKEnXQPpkQ/eInSrBXnHG4jDJxl2Ny+Ixch1zFguZNpEzOf8KvDD5bK16Ry1n/eH2bDoWA9fetAtGRUPimF8S2y1y/G7noPNXgANDkgCZjf0qHcSrN2u4d4V86bmq8616eGUyksRUR1pgip9sLJzTEaR1qG4q/ZEUKFCmEtBUvDBdcwJ00jr61HQVItrSDudksLnvj0rfuHWsltR6Vi3d9Zm9W3ptXn893m6QCazvv1uxw5F/qvL+AatErJu/7iIFnD2obVzcmDlgAiJ/q1pcf5wXp1e5K8Bw150C3m3P3VrQsRiFtqWchVG5OgFecuGdqms8GvWrTFXOIUnQgMjDZW6ygJ9K1LtR2juDhFi/KnxFXxejzaZoHSWAq88L8kyrzjcWtq21xzCIpZj0UCSax1++hb2KcPbK4V7bWRrLDNIFwj32pvj3b1OJYRw182JtXALKkCXUW8quftAnN00rJL2GZSwmY5jUH1B/e1dOPik7K0V/yuyhgQCQCBoYMSKNZ6/hTnhrO2u9Ln0rTtz2YLkb6+1WrsD2ot8Pe7iGGa7kNqyoMQzfEzdAAKrhI6Uy6TEbRRZuHt6d7ve29viOHAmL1sAXVO+0Zx1Bj2OlWk4lc+TMM8ZsvPLMTHzrzf3c3blgviBfFqbN2B5SxZSkBgepaQR0NaeOONdxWCuBlzvbtK7KPiFy60qOklJrJlx6rpK0EsJjmRI68v1rztxq7PaF2/6tR9GWr7xnjd5O01i14jeF4XwBSdCrFhA3kqNfQVk+P44jcUe/5sv8T4nwnNlzz8PWPyp8eOtllXqekvScPeDorCYYBhOhgiRS2rLYtkXebw/K5I6zWcOtbL3m4aUmOVZBdtEAEiAdjWv6e/bqpqE6VHdanYm2AdDNRHrUlGIoUs0KYTLa1JtptSPLlEA5uc7U/4xIA5Dap2a69gLWW/Eg6jWtkWsS7A3YvfStrVtBXn8s+9cLUVkvf9e/lYVetx2+ix/etaSsU/+QD3BdwwIHh5WKmdS8jOCPpT4p9xZdKvh2H+BXhp/vdvp/yzP5Veu8W5m7O4U9fB/wDQ/pWZ4d3bhl0MgyC/bIedc5VhljpArQu2FsDsxhMugm2dydSGB3rRe4iMfsPqaFu8ZpVtdaMW9a7oG2/tUZ73SpLDX2phsLSPEqy0mnA0LTFtCGE/vSpCbU/QorV3NVk7vcUx4nhVlo8VNJMaTGnv+dVtd6sXduscVwv/AHh+RqL0TS+K4sf7V2QSBltqu/MpcMfiKy17k8RY9cST/wCSKvnaO+P9qAQqkpkgHYsLRIJ9/wAqzKziXN8OFljczROhYtP0moxn+Kr10u1A0zgmZraFwFcqCygyFaNRPOniKx11UrvHH8r2rF7pMRO2w6VsXeVehCPSsedDvGnWtH0/RVEcUyGggkT6U+4pi7WtJi9qxIEelCgRQpaJMQVJSmbNqQSCNNdabs4rzAHY7ejc1PrStOLX2YuZLitI1MQNxFbfgrua2p9v0rzdhuIFbpCnVYjoTuVn2rV+Edurf8DmVvPKgD+l8wkN8hmMfd9ax8887XGho1Yz3/XJu4QdFc/in6VpfGeKfw9sM1xbYMKLjRAflmHNSdD0mvPfbzj4xeMu3R6ArMhWAAbKeYkSDzn0o4e9pyHZj/Cr3UYi1HTVLgPz/wBauXH7k9l8LJk+IOeu7iBWWG4cvpv6Ur+KYjLJgfZkwOcx7n61osm4iUiyNTQsgBxz11ExI+dFaYn99KLxvN89PfpV7JKxDhnJVcqnZd49JqO29EjHNFKZt4plCQuo9/ypwppFIFzSSdKQl6fSlbAXaWDodKsvdsP/ALXDSf8Aiz7AVWEuwGnl+VC1faZBgjXQwR0NLxfBtD7bsF4/ddhADAjWJi2IPymapPD/AP8ARD95SfqKjvfZm1JJjcmTTXjGdP2aJNQdvY1lwVBG1KZo3rFe7TvJsYWxbw+IuMku7M7AkAEeUTrzq88Z7Y27qkYW9beEz3HkPbVToikAyXY8gQYBNYs8dOuN2r3eRjpJHX8qzLGY0oADGUkKQeU8x9KVxnjxcm4nkOrNZY+RtfsdD8oOu3OuTexYvhBtLQRzXRon98q78fjHRJ15oknSOdQkcsM8eXYdT61Fu4nxRbtk9Tc+S7/lUiwxaW2B0A+6Nvrqa7fLYHQpp8SoPxD60KvcSVexLW4M5gTEH9aLiawMwMHLn+TLsfppQoVyyUh4fHtcldi0Sw3+0596cscZuWgQpgRnAkwrMApIE+h+tFQrn3QVxHtLicc84i61yNBJ8qjoqjQewrm7N85n5rzoUKMei9jtXSxE/IemgoXDlOnXL8wRQoVRXshnK6Dbn+FOXdBPUT8iNooUKChJuEaDmBrTlptY5GhQoF6JD7DlofoJj60d5YUHrr79aFCgQyHJAJ5kz7a07e8oXq3PoaFCp9GLxD8UyR+pFBRp+9zQoUwR4xbTpS8Ni2RpViDIJgkTJ09xQoUgcfiL3IUnnmn7UgAb0QxBU27g3JJYciwMT+NChSUXY1e5yzMF+QY6xUvH3zmW2PKDuRvQoV0w6BxcEoFChQq9QP/Z"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 196px; height: 133px;" src="data:image/jpeg;base64,/9j/4AAQSkZJRgABAQAAAQABAAD/2wCEAAkGBhQQEBUUExQUFBQWGBoUFRUVFRUVFBQUFxgVFRQYFRcXHSYeFxkkHRQUIC8gIycpLCwsFR4xNTAqNSYrLCkBCQoKDgwOGg8PFCwcHBwpKSkpKSkpKSwpKSksKSkpKSkpKSkpLCkpKSkpKSkuLCkpKSkpKSkpLCkpKSkpKSkpKf/AABEIAIUAxAMBIgACEQEDEQH/xAAcAAAABwEBAAAAAAAAAAAAAAAAAQIDBAYHBQj/xABAEAACAQIEAwYDBgQDCAMAAAABAhEAAwQSITEFQVEGBxMiYYEycZFCYqGx0fAUI1LBFYLhFjRDU2Rzo7IIJTP/xAAZAQADAQEBAAAAAAAAAAAAAAAAAQIEAwX/xAAjEQEBAAICAgEEAwAAAAAAAAAAAQIRAzEhQRIEIjJRE3Gx/9oADAMBAAIRAxEAPwDMaFCacsqpnMSNNPnXoIN0KFCgFW4kZpjnG8ULsScu06TvFJoUA/hMC95sttSzbADLJJ2AkiT6DWjscPuXCQlt2IOUhVYsDqSMoEzoadwLZgFAJYEtvAA0zMx6CF5aRpvXa4jxVfDdtDcuYi7dQwIJK27a3PkD4pHqFOsVO6Fcu4dlnMpUgwQdCD0IOo96bqzcFwthwgxFwsbilgJkoQYtrnY+VWBaeWq+sQX4bb/izb0W2nmf+YDKiCQCdmJZUHQt0Bo2HKewQASIBgiSBIMwYmYMHXbSkV1sTbW5irzFwVTO8gDK2SAiIp0KzlUDTyiTEGk4fhSth3vNcCkSVQRLagAgbhZP0Qxyk+QcsCimusnC7YwxvOxmPKqwBnJK21JIMnyu508qqo3fTlZv1py7CVguF3b+lpC52EZZJ00WSMx1Ggk604/BrkAojsI8xCHykGCCNxBB1iNDSjhgLa5gQ0soAKGTCECNWU+cagHcdNJ3EcZ4t7JmVXuOni3juPhBEjXKGDO0HVmjkJXnYcNrZG8exB/EfKk11/8ACbbXlU3YBXMxaCyKczANr8eQKxHIvlqDxGwqXMqMXACy2kFiAzZY3AmJ9PWiZA3YvlDIg6Eaid6aoUKegFGsTrtRUKdBd8AMcpkcjQuWGUAkaNqPUUijLf6UgKhRg+lCmB3GliQNzoBy9K6GH4SRpcW4GJAVAApO5LMWByqI2gkyPh3qDYvlHVxoVMjkQeoPXmPWutwzjS2TbyJDC4ruxVZaCDoBzMQSd9QAJaZoQeIYLwSVYMr6eU5SB1GYRqNtBpHsIdSOIIRdYMWJkyXnMxnVmnmTJ96j050EzAYIOGJJ5KqqAWd22AOwGhk68hHOpOL4QLKTcLBpK5I1DBcwkga7rOgiY3mDwnHMpDMpuMseGpaLSkRllZ1A0hYEkDMdwWsVxBbrIWSQobMxPmd3ZnLE9JIAHQdSaVBizg/5RuuYXNkUCAXbQvryVQVkkbso56NXLoKwFiCTm5xJIBPv/oKfxeI8QIAMotpkUdNSzHTmWJJPy6U9jsZ4uQBQqooVVAEAAKJPUyGljqZphz1tmJ6c4996PwtJjbfoJEan98+tdG7eRltqqsMs5vMTmPliF9CGPrngaCp12yHtLbtWXkGc5J1ELAy7akMffTSlctdnpwPD/fT59KkcPwZuXFVQpJM+b4YHmJf7oAJPoDzFd5uE3ntJbFvKFknqzEkyxidso6DL61KtcIvrZNtbYBYEM2kmTJn/ACqqx0B/qNT/ACT9jSs4u8rAIkhFLEcgxMeYryJAA1J0CjTWWcRhwIhg0iffpXZfsvfH2DRLw25Yh9Q2o0GqzzHruPflR85+xo3b4azhQrMzBFd3ACraUjOAXgs2RdW6QQJionFeHrZY25JdSAREaEBoYbBgSoKgmDM12cPx8WSuW2zDMrXi5Oa4qmfDElsq6mZJJISYCiuPbVEKMPMAwLITuARoT60/JIdu0pViWgjYR8Unl03/AB+dND9/3/vXS4rxE4gqzCMqxHLMSWY+kkn2EVIxHGk8I20sx5cmZjLx5Vn55VM+txvSmHF/f79aKujwji38OSQoLGDm5jLJEf58rHrkA5mmMDivDcsVzGCB1BaAWB65cwnkSDVAd3Ci2qF5LOucKCBlUyELGDqYmP6eeoiL+VT3xq3LrXbgzEsGCfYYSPJp8KgAKI5Ac6TxPihvlSdMqgRpEklmaBpqWJjkIA0ApbCFQrqcT4nbuWkREKZDzglgEVAWPM6Ex9/0rnXbDLBI31FGwVdVSfLMRz60KaoUtA5dRREGTGvoaQrEGRoRqI6/Ol4e/kaQAeWonekEzTB5r4bMXlnManX60xRqKcVaASiU4qUtErocL4Q99gFBjrSt0EK1ZLGAJNWXgvYe7fIkECr92U7uwoDOP1rQMHgEtLCgCsef1Fv4r+Kg8G7rlUAtA+dWnB9j7Fv7M13aOs9tvdNCt8GsrsgpR4dbH2FqWaSwqPjDQm4daO6CouJ7L2H+zFdHLTlsGjQ0pHFe7S3cBKgflVC453dXLRJUGK3RtKTcsq4ggGumPJnj7GnmDEcPZGysIO1Rr9jKSDGnSt77Sdg7d5SVAnXSsj7QdmHw7HQx8tq18XNM/FRYreTXWk34LEqIHSpDW6aZK0pMUIp+3ZBmTGmnrUemB0CZ505ay65p20jrTdIJOHwBdZDKOUEwaOos0KWr+wANOXr5dpMTtoI2psVNVbebnlj8ad8AeHW35ZzH+qNKSq60QWpuDwJuOFG5pbk8g/wfgzYhwANOdbX2R7HJYQMw1qL2G7KC0gdhV4rzuXkvJdenSQAIoGkE0qo/oxzRg0g0eaKAXRCiD1zOO8aTDLbLtHiXUtDbdjFMOpNJmmqOaQJajU0oik5akzs1yOO9n0xKHQZvzrqhaUBRYTz52q7LNhnJA8tV17S5Jk5p1EaR1mvRfaXgK4i2dPNB96w7tFwQYdiNZn2j51s4eX5fbl2izSuMtMutS2WmXStaTeHC5hnJA5kfhTZHSnUbKdp0pqjQGI/YoUVCmC7Yp+2k6c6Qi1ItEggjQilQk4bD6wdPnWn9jezCMVfckf3rNcGhuXBzJOtb12OwAt2QYjSsn1GXjSsXfs2gqgDQDSoHaDjdvBYd711gqqNJ+0x+ED1JrptWZ9+TW/4G1nLj+csZZgjXNPtWbDHfhVq7dmuMpjMLavIQc6iYOzR5gfUV1SKzTuLvWzg7q22uGLkkMDlWVX4esmZrTKrKauhDZoopWWo+PxYtWrlw6hEZ465QT/aphuB2y7cWOGp5zmusDktruTyJ/pX1+lYF2i7V4nHuGv3C2X4FAyovyUfnvULjnHrmMxD37plnMjoq/ZVegAqCjjqK3Yccx9OGVvTU+7rvSe0y4fGPmtnypdPxIeQc819eVbQhBE7jkRqPb0ryOGHUVs3ct2wa7nwd1ixRc9okyco0ZPbeuXLxa8xWOXprAFCgBQIrNp1FVevdsrC8QXB5xnKEnXQPpkQ/eInSrBXnHG4jDJxl2Ny+Ixch1zFguZNpEzOf8KvDD5bK16Ry1n/eH2bDoWA9fetAtGRUPimF8S2y1y/G7noPNXgANDkgCZjf0qHcSrN2u4d4V86bmq8616eGUyksRUR1pgip9sLJzTEaR1qG4q/ZEUKFCmEtBUvDBdcwJ00jr61HQVItrSDudksLnvj0rfuHWsltR6Vi3d9Zm9W3ptXn893m6QCazvv1uxw5F/qvL+AatErJu/7iIFnD2obVzcmDlgAiJ/q1pcf5wXp1e5K8Bw150C3m3P3VrQsRiFtqWchVG5OgFecuGdqms8GvWrTFXOIUnQgMjDZW6ygJ9K1LtR2juDhFi/KnxFXxejzaZoHSWAq88L8kyrzjcWtq21xzCIpZj0UCSax1++hb2KcPbK4V7bWRrLDNIFwj32pvj3b1OJYRw182JtXALKkCXUW8quftAnN00rJL2GZSwmY5jUH1B/e1dOPik7K0V/yuyhgQCQCBoYMSKNZ6/hTnhrO2u9Ln0rTtz2YLkb6+1WrsD2ot8Pe7iGGa7kNqyoMQzfEzdAAKrhI6Uy6TEbRRZuHt6d7ve29viOHAmL1sAXVO+0Zx1Bj2OlWk4lc+TMM8ZsvPLMTHzrzf3c3blgviBfFqbN2B5SxZSkBgepaQR0NaeOONdxWCuBlzvbtK7KPiFy60qOklJrJlx6rpK0EsJjmRI68v1rztxq7PaF2/6tR9GWr7xnjd5O01i14jeF4XwBSdCrFhA3kqNfQVk+P44jcUe/5sv8T4nwnNlzz8PWPyp8eOtllXqekvScPeDorCYYBhOhgiRS2rLYtkXebw/K5I6zWcOtbL3m4aUmOVZBdtEAEiAdjWv6e/bqpqE6VHdanYm2AdDNRHrUlGIoUs0KYTLa1JtptSPLlEA5uc7U/4xIA5Dap2a69gLWW/Eg6jWtkWsS7A3YvfStrVtBXn8s+9cLUVkvf9e/lYVetx2+ix/etaSsU/+QD3BdwwIHh5WKmdS8jOCPpT4p9xZdKvh2H+BXhp/vdvp/yzP5Veu8W5m7O4U9fB/wDQ/pWZ4d3bhl0MgyC/bIedc5VhljpArQu2FsDsxhMugm2dydSGB3rRe4iMfsPqaFu8ZpVtdaMW9a7oG2/tUZ73SpLDX2phsLSPEqy0mnA0LTFtCGE/vSpCbU/QorV3NVk7vcUx4nhVlo8VNJMaTGnv+dVtd6sXduscVwv/AHh+RqL0TS+K4sf7V2QSBltqu/MpcMfiKy17k8RY9cST/wCSKvnaO+P9qAQqkpkgHYsLRIJ9/wAqzKziXN8OFljczROhYtP0moxn+Kr10u1A0zgmZraFwFcqCygyFaNRPOniKx11UrvHH8r2rF7pMRO2w6VsXeVehCPSsedDvGnWtH0/RVEcUyGggkT6U+4pi7WtJi9qxIEelCgRQpaJMQVJSmbNqQSCNNdabs4rzAHY7ejc1PrStOLX2YuZLitI1MQNxFbfgrua2p9v0rzdhuIFbpCnVYjoTuVn2rV+Edurf8DmVvPKgD+l8wkN8hmMfd9ax8887XGho1Yz3/XJu4QdFc/in6VpfGeKfw9sM1xbYMKLjRAflmHNSdD0mvPfbzj4xeMu3R6ArMhWAAbKeYkSDzn0o4e9pyHZj/Cr3UYi1HTVLgPz/wBauXH7k9l8LJk+IOeu7iBWWG4cvpv6Ur+KYjLJgfZkwOcx7n61osm4iUiyNTQsgBxz11ExI+dFaYn99KLxvN89PfpV7JKxDhnJVcqnZd49JqO29EjHNFKZt4plCQuo9/ypwppFIFzSSdKQl6fSlbAXaWDodKsvdsP/ALXDSf8Aiz7AVWEuwGnl+VC1faZBgjXQwR0NLxfBtD7bsF4/ddhADAjWJi2IPymapPD/AP8ARD95SfqKjvfZm1JJjcmTTXjGdP2aJNQdvY1lwVBG1KZo3rFe7TvJsYWxbw+IuMku7M7AkAEeUTrzq88Z7Y27qkYW9beEz3HkPbVToikAyXY8gQYBNYs8dOuN2r3eRjpJHX8qzLGY0oADGUkKQeU8x9KVxnjxcm4nkOrNZY+RtfsdD8oOu3OuTexYvhBtLQRzXRon98q78fjHRJ15oknSOdQkcsM8eXYdT61Fu4nxRbtk9Tc+S7/lUiwxaW2B0A+6Nvrqa7fLYHQpp8SoPxD60KvcSVexLW4M5gTEH9aLiawMwMHLn+TLsfppQoVyyUh4fHtcldi0Sw3+0596cscZuWgQpgRnAkwrMApIE+h+tFQrn3QVxHtLicc84i61yNBJ8qjoqjQewrm7N85n5rzoUKMei9jtXSxE/IemgoXDlOnXL8wRQoVRXshnK6Dbn+FOXdBPUT8iNooUKChJuEaDmBrTlptY5GhQoF6JD7DlofoJj60d5YUHrr79aFCgQyHJAJ5kz7a07e8oXq3PoaFCp9GLxD8UyR+pFBRp+9zQoUwR4xbTpS8Ni2RpViDIJgkTJ09xQoUgcfiL3IUnnmn7UgAb0QxBU27g3JJYciwMT+NChSUXY1e5yzMF+QY6xUvH3zmW2PKDuRvQoV0w6BxcEoFChQq9QP/Z" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; Gambar diunggah dari &lt;a href="http://hum-by.blog.friendster.com/"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Ramadan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Seorang teman pada awal puasa mengirim pesan pendek (sandek) lewat telepon seluler (ponsel) pada saya. Katanya, Ramadan ini terasa begitu cepat datangnya. Seorang teknisi sepeda motor pun mengiyakan saat saya mengatakan Ramadan kali ini terasa datang dengan cepat. Karikatur di salah satu koran pun mengutarakan, Ramadan terasa begitu cepat datang kembali. Bulan Ramadan berarti melaksanakan ibadah puasa. Dalam karikatur itu pun dikatakan, setiap bulan “kita” (rakyat kecil) sudah melaksanakan puasa (kelaparan) sehingga sudah terbiasa.   &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya pun juga merasakan tiba-tiba datang Ramadan lagi. Memang, jika dibandingkan dengan Ramadan tahun 2009, Ramadan 2010 ini maju sepuluh hari. Namun, begitu saya melihat kembali judul &lt;i&gt;Puasa&lt;/i&gt; yang saya tulis pada Ramadan 2009 sepertinya judul itu sudah lama saya tulis. Jadi persepsi tentang Ramadan itu berkaitan dengan waktu. Waktu atau periode juga bisa bersifat relatif pada setiap orang.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saat berada di Ramadan 2010, seseorang bisa saja mengingat momentum Ramadan 2009 silam. Misalnya, saat seseorang ditanya pada hari Sabtu, tentang cepatnya datang bulan Ramadan maka seseorang bisa merasakan Ramadan itu baru kemarin dilaksanakan. Seperti kata teknisi sebuah bengkel tadi. Padahal, penghitungan kalender untuk menentukan Ramadan ini didasarkan pada Bulan. Rentang waktu antara Ramadan 2009 dan Ramadan 2010 pun terbilang satu tahun. Dibandingkan dengan penanggalan yang didasarkan pada Matahari, penanggalan berdasarkan Bulan ini lebih cepat.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya sesungguhnya tidak paham betul tentang penanggalan, baik Hijriah maupun masehi. Namun, sampai periode sekarang, Ramadan datang lebih cepat. Buktinya, Ramadan 2010 ini maju sepuluh hari dari Ramadan 2009 silam. Itu jika dilihat dari penanggalan Masehi.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya terkadang bertanya-tanya, di sebuah televisi tertulis kata “Ramadhan” dengan “h”. Namun, di televisi lainnya tertulis kata “Ramadan” tanpa “h”. Jika saya melihat di KBBI edisi ketiga, cet. 3, 2002, tertulis “Ramadan”. Saya sendiri sengaja memakai judul Ramadan, berdasarkan KBBI. Mungkin penulisan “h” maupun tanpa “h” pada bulan ke-9 Hijriah itu bukanlah masalah.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pada bulan Ramadhan ini pun umat Islam diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh. Berbuka puasa, sholat tarawih, khataman Al Quran setelah shalat tarawih, santap sahur maupun rangkaian ibadah lainnya adalah beberapa hal yang dilakukan berkaitan dengan Ramadan. Terkait khataman, di &lt;i&gt;facebook&lt;/i&gt; saya pernah menulis “Maaf, bukannya saya benci dengan khataman Al Quran, tetapi volume amplifier di masjid terlalu keras. Hendaknya suaranya sedang-sedang saja.”  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di dusun tempat saya tinggal ini, menjelang puasa sejumlah anak ada yang bermain petasan. Beberapa di antaranya ada yang bermain &lt;i&gt;blanggur&lt;/i&gt;, yakni sejenis meriam yang terbuat dari bambu. Amunisinya dari karbit. Tentu permainan itu bukanlah hakikat dari puasa yang sebenarnya. Menjelang puasa tahun lalu saya pernah mengirim pesan pendek lewat ponsel ke beberapa orang teman. Bunyinya “puasa menempa jiwa dalam jalan yang tak selamanya bertaburkan bunga. Ramadan menyemai kebaikan dalam jalan yang tak selamanya sarat keindahan.”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Selama puasa pun kita tidak makan maupun tidak minum selama lebih dari 12 jam. Pengalaman saya yang kini berusia seperempat abad ini agar kuat berpuasa maka nutrisinya hendaknya mencukupi. Sebagaimana disarankan oleh pakar kesehatan, misalnya konsumsi sayur dan buah. Tidak harus mahal. Syukur bisa empat sehat lima sempurna. Konsumsi protein hewani seperti daging sapi juga bagus seperti yang saya lakukan meskipun hanya sedikit. Mereka yang vegetarian juga bisa mengonsumsi protein nabati, misalnya dari tempe.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kebiasaan menggosok gigi juga bagus untuk mempertahankan kesehatan mulut dan gigi. Selama Ramadan ini saya berusaha menggosok gigi sebelum tidur malam. Cara menggosok gigi pun hendaknya juga benar. Upayakan menggosok gigi pada seluruh area gigi, yakni bagian luar dan dalam, atas dan bawah gigi. Gosok gigi juga baik dilakukan setelah sahur, yakni beberapa menit mendekati imsak. Tujuannya agar setelah gosok gigi masih ada waktu untuk minum air putih.  &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-2545279285430028102?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/2545279285430028102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/08/ramadan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/2545279285430028102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/2545279285430028102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/08/ramadan.html' title='Ramadan'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-1403688920457129525</id><published>2010-08-17T19:05:00.000-07:00</published><updated>2010-11-07T18:40:37.595-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Aku'/><title type='text'>Blogging Ini Sia-Sia?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://demamblog.com/wp-content/uploads/2009/12/blogging.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 206px; height: 139px;" src="http://demamblog.com/wp-content/uploads/2009/12/blogging.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.2  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt;&lt;/style&gt;Gambar diunggah dari &lt;a href="http://demamblog.com/2009/12/"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.2  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p class="western" style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt; &lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;i&gt;Blogging&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt; Ini Sia-Sia? &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Malam hari, Rabu, 28 Juli 2010 kedua orang tua saya menyinggung tentang kebiasaan saya ke warung internet (warnet) dan perpustakaan. Ibu-bapak saya mengatakan dua kebiasaan itu sia-sia, tidak menghasilkan uang. Nanti jika sudah berumah tangga sebaiknya kebiasaan itu ditinggalkan. Mertua dan istri bisa marah-marah karena kebiasaan itu. Orang tua saya itu belum pernah membuka internet.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Menurut mereka, internet itu hanya untuk pelajar maupun mahasiswa. Saat tidak menjadi pelajar maupun mahasiswa maka sebaiknya tidak pergi ke warnet. Ke warung internet hanya buang-buang waktu, tenaga, dan uang. Meskipun melarang saya keras secara kata, tetapi mereka tidak keras secara perbuatan.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kedua orang tua saya lebih berbicara “hasil”. Sementara saya berbicara “proses”. Hal itu memengaruhi perbedaan pandang antara saya dan kedua orang tua saya. Menurut orang tua saya, “hasil” ini berarti menghasilkan uang. Sementara “proses” menurut saya itu menjadi bagian dari keinginan saya yang sudah satu tahun lebih ini belum terwujud, yakni menjadi guru sosiologi di Nganjuk. “Proses” berarti belum menghasilkan uang. Saya menyadari pandangan orang tua saya itu.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya berpikir, status guru sosiologi itu mungkin bisa memudahkan saya dalam membaca koran maupun memanfaatkan internet. Membaca koran inilah salah satu alasan utama saya pergi ke perpustakaan, selain meminjam buku. Umumnya lembaga pendidikan berlangganan koran. Jika saya membaca koran di internet maka saya akan membayar tarif internet. Sementara jika saya membaca koran di perpustakaan maka saya tidak perlu bayar. Paling-paling saya mengeluarkan sedikit uang untuk bensin motor.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya merasa tidak bisa menulis, tanpa membaca, misalnya koran. Saya merasa membaca koran merupakan kebutuhan bagi saya. Terkadang saya menemukan informasi baru di koran. Koran yang juga merupakan tulisan itu secara tidak langsung dapat memengaruhi alam bawah sadar saya dalam menulis.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kemudian, jika menjadi guru sosiologi, &lt;i&gt;blog&lt;/i&gt; itu menjadi media saya dalam berkomunikasi. Entah dengan siswa, sesama guru, wali murid atau siapa pun dalam jejaring sosial di dunia maya. Mungkin jika siswa saya sudah lulus maka internet dapat dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi yang baik. Seiring bertambahnya pengguna internet, syukur bisa seperti popularitasnya “keong racun” meskipun hanya sesaat.    &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Selain itu, &lt;i&gt;blogging&lt;/i&gt; ini saya niatkan menjadi upaya saya menjadi penulis. Namun, sampai sekarang saya tidak begitu tahu apa sebaiknya yang saya tulis. Tulisan saya tidak seperti Andrea Hirata dengan tulisan sains-fiksinya. Bukan juga seperti buku hariannya Ahmad Wahib yang “bergolak”. Bukan pula seperti &lt;i&gt;blog&lt;/i&gt;-nya Raditya Dika yang banyol atau penulis-penulis yang tenar lainnya. Saya hanya ingin menikmati kebiasaan atau hobi saya dalam menulis.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya &lt;i&gt;blogging&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;ngeblog&lt;/i&gt; sejak akhir 2008. Semenjak itu sampai Agustus 2010 ini saya berusaha rutin mempublikasikan tulisan atau artikel setiap bulannya. Setiap bulannya rata-rata ada tiga sampai empat artikel. Saya biasanya mempublikasikan artikel saya itu setiap seminggu sekali. Jadi, setidak-tidaknya saya pergi ke warnet seminggu sekali. Akan tetapi, rata-rata saya seminggu dua kali, sesuai kebutuhan. Satu kali ke warnet biasanya saya mengambil paket dua jam dengan tarif saat ini Rp 5.000,-.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Maklum, di warnet itu saya tidak semata-mata mempublikasikan tulisan. Terkadang saya mengunduh lagu dalam format mp3. Sesungguhnya pengunduhan itu tergolong ilegal sebab melanggar hak cipta. Namun, mudah saja mengunduh lagu di internet sebab ada situs yang menyediakannya. Lagi pula jika membeli dalam bentuk kaset maka akan lebih mahal dan tidak praktis. Selain itu, saya juga tidak memperbanyak lagu yang saya unduh untuk tujuan komersial.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; &lt;i&gt;Blogging&lt;/i&gt; sendiri bermakna luas. Artinya, tidak melulu pada karya tulis. Kiat-kiat dalam dunia &lt;i&gt;software&lt;/i&gt; maupun &lt;i&gt;hardware&lt;/i&gt; dalam komputer juga tergolong &lt;i&gt;blogging&lt;/i&gt;. Setidak-tidaknya &lt;i&gt;blogging&lt;/i&gt; itu seorang &lt;i&gt;blogger&lt;/i&gt; menyuguhkan sesuatu yang baru, yang orisinil di dunia maya dalam batas-batas tertentu, tidak melanggar hukum.   &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya pun sadar, produk dari seni tulis (tulisan di blog, buku, koran, dsb) ini masih kalah populer dengan, misalnya produk seni suara yang dihasilkan oleh musisi-musisi Indonesia. Produk dari seni tulis oleh penduduk di negara ini masih dianggap sebagai hal yang jelimet dan kalah menghibur dengan nyanyian.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya sesungguhnya malu menulis atau &lt;i&gt;curhat&lt;/i&gt; seperti ini. Tulisan saya cenderung tentang sedih yang saya alami. Isinya hal-hal yang pesimis. Namun, saya merasa &lt;i&gt;curhat&lt;/i&gt; seperti ini masih dalam batas-batas yang wajar. Dalam teori menulis sebagai terapi mungkin kebiasaan saya ini bagus. Namun, dari segi ketegaran diri maka saya hendaknya mengikuti seperti saran-saran, misalnya dari buku motivasi maupun buku seri penyejuk hati seperti &lt;i&gt;Jangan Bersedih&lt;/i&gt; (2004). Namun, terkadang betapa sulitnya suatu masalah saat kita mengalami sendiri.  &lt;/p&gt; &lt;p class="western" style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-1403688920457129525?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/1403688920457129525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/08/blogging-ini-sia-sia.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/1403688920457129525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/1403688920457129525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/08/blogging-ini-sia-sia.html' title='Blogging Ini Sia-Sia?'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-929696010041214005</id><published>2010-08-13T22:33:00.000-07:00</published><updated>2010-08-13T22:40:27.679-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seputar Nganjuk'/><title type='text'>Cetak STNK 5 Tahun</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://serpong.info/samsat/images/stnk2.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 311px; height: 212px;" src="http://serpong.info/samsat/images/stnk2.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt;&lt;/style&gt;Gambar diunggah dari &lt;a href="http://serpong.info/samsat/?pilih=hal&amp;amp;id=28"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Cetak STNK 5 Tahun&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Senin, 8 Agustus 2010 saya bersama ibu saya pergi ke kantor Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) di kabupaten ini. Tujuannya untuk cetak Surat Tanda Kendaraan Bermotor (STNK) untuk jenis dan model sepeda motor. Motor yang dibuat tahun 2000 ini sendiri isi silindernya 100 CC. Saya tiba di Samsat sekitar pukul 08.30. Saya pun sengaja mengajak ibu saya sebab STNK itu atas nama ibu saya. Jika tidak mengajak ibu saya maka saya perlu membuat surat kuasa yang ditandatangani di atas materai oleh ibu saya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;  Begitu saya datang, saya langsung menuju cek fisik kendaraan. Namun, begitu saya bertanya pada seorang pemandu, hendaknya menuju tempat foto kopi terlebih dahulu. Sebetulnya pihak Samsat telah membuat papan, terkait alur pengurusan surat-surat kendaraan bermotor. Namun, orang-orang tidak terbiasa membaca papan pemberitahuan seperti itu.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya kemudian membawa motor saya di parkir sebab dekat dengan foto kopi (fk). Saya heran sebab saat saya parkir, saya tidak dikenai karcis oleh petugas parkir. Di tempat fk ini saya menyerahkan Buku Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB), Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik ibu saya, dan STNK.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Karyawan di fk ini kemudian memberikan plastik tempat STNK dan map rangkap dua. Di fk saya membayar Rp 5.000,-. Setelah itu, BPKB, KTP, STNK itu foto kopi. Tentu saja karyawan di fk itu sudah tahu berapa rangkap yang akan difoto kopi. Setelah itu, saya kembali lagi ke cek fisik kendaraan. Saat saya akan mengambil motor, petugas parkir bertanya pada saya apakah saya akan cek fisik. Petugas itu tahu dari map yang saya bawa. Waktu itu pun petugas tidak menarik uang parkir.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di tempat cek fisik ini setiap kendaraan di gosok nomor seri mesinnya. Letak nomor seri mesin pun berbeda pada setiap merek kendaraan. Untuk merek kendaraan tertentu maka harus membuka tutup, khususnya di bagian mesin. Karena  pemilik kendaraan yang cek fisik tidak hanya satu maka setiap pemilik kendaraan harus antre. Maklum, cek fisik kendaraan ini dalam lingkup kabupaten. Jadi, pemilik kendaraan yang STNK nya jatuh tempo pada Agustus 2010 maka umumnya mereka mengurus pada Agustus 2010.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Ada kejadian yang saya ingat di cek fisik kendaraan ini. Saat itu dua petugas yang menggosok nomor seri mesin. Di samping saya ada seorang gadis berwajah artis. Salah satu petugas, yakni seorang laki-laki mengatakan pada si gadis agar “membuka” dulu. Maksudnya, adalah petugas harus membuka tutup di bagian mesin untuk menggosok nomor seri mesin. Namun, kata “membuka” itu cenderung bernada pelecehan secara kata-kata atau verbal pada si gadis. Namun, si gadis diam saja.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Selesai di gosok, saya menyerahkan map yang saya bawa ke loket cek fisik. Ada beberapa orang yang juga antre di situ. Begitu nama saya dipanggil, saya perlu membayar Rp 20.000,-. Setelah itu, saya pun memarkir motor saya di tempat parkir. Baru di tempat parkir ini juru parkir memberikan karcis parkir dan dibayarkan nanti saat akan mengambil motor atau saat akan pulang.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dengan mambawa map tadi, saya langsung menuju seorang pemandu. Saya bertanya, saya ingin ganti plat dan saya harus menuju ke lokat mana. Oleh pemandu saya diminta antre di loket sebelah kanan. Inilah fungsi pemandu. Di loket ini ada dua antrean. Antrean di kiri untuk HER motor dan antrean di sebelah kanan untuk cetak STNK 5 tahun. Tentu saja di loket sebelah kanan ini juga untuk balik nama dan pengurusan lain-lain terkait dengan kepemilikan kendaraan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pada saat antre itu saya sempat mencatat jam buka Samsat. Senin sampai dengan Kamis buka pukul 07.30-13.00. Jumat dan Sabtu buka pukul 07.30-12.00. Waktu antre itu pun saya sempat mengeluh dalam hati. Saat itu tiba-tiba ada seorang bapak yang bertanya dirinya mau balik nama, di depan saya dalam antrean. Saat itu kurang lebih ada 12 pengantre di loket sebelah kanan ini. Dia sudah sejak pagi berada di Samsat. Dua orang pengantre di antrean sebelah kanan ini pun menanggapi maksud bapak itu.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Herannya bapak itu malah tetap berada di situ dan tidak mengantre di belakangnya. Rupanya bapak itu hanya ingin menerabas dan tidak mau antre di belakang. Kemudian, salah satu orang yang menanggapi pembicaraan bapak tadi persis berada di belakang saya saat mengantre. Dengan wajah tanpa perasaan bersalah, tiba-tiba dia berada di depan saya. Dia telah mendahului antrean saya. Di tambah bapak tadi.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya pun hanya mengeluh dalam hati seperti orang tak berdaya. Saya tidak mengata-ngatai dua orang itu. Mungkin inilah wajah masyarakat saya. Lagi pula, saya berpikir positif, tidak setiap orang seperti dua orang yang saya ceritakan ini. Jika ada maka semoga jumlah sedikit. Begitu giliran, saya dimintai KTP milik saya. Maklum, STNK itu atas nama ibu saya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di loket pengambilan formulir ini saya membayar Rp 90.000,-. KTP saya pun dikembalikan lagi. Saya lalu kembali bertanya pada pemandu. Saya diminta mengisi formulir dari loket tadi. Untungnya saat itu pemandu masih memiliki pena untuk menulis. Saya pun lupa membawa pena sendiri. Di akhir isian ada tanda tangan pemohon. Saya pun meminta ibu saya menandatanganinya. Setelah itu, saya masuk ke tempat pembayaran setelah sebelumnya saya bertanya pada pemandu.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sebetulnya, cetak STNK ini diurus oleh nama yang tercetak di STNK. Jika tidak maka saya seharusnya membuat surat kuasa yang ditandangani oleh ibu saya dengan materai seperti saya tulis di awal paragraf. Namun, petugas hanya meminta KTP saya untuk dicocokkan. Alamatnya sama persis dengan di KTP milik ibu saya. Jadi, jika saya tidak mengajak ibu saya maka sebetulnya cetak STNK itu bisa dilakukan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pembuatan surat kuasa maupun petugas yang menanyai KTP milik saya itu pun tampaknya bertujuan agar pemilik STNK itu jelas. Artinya, saya bukan calo pengurus cetak STNK 5 tahun. Selain itu untuk membuktikan bahwa saya bukan pencuri motor yang saya urus ini.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Map saya kumpulkan di meja. Beberapa menit kemudian nama ibu saya dipanggil. Saya pun menuju meja tersebut. Petugas memberikan KTP dan kuitansi pembayaran di loket cetak STNK 5 tahun. Saya pun diberitahu, BPKB baru bisa diambil sepuluh hari lagi.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya pun harus menunggu lagi. Beberapa menit kemudian, nama ibu saya dan alamat desanya dipanggil. Saya pun bergegas menuju salah satu kasir. Di sinilah saya membayar Rp 152.000,-. Jumlah itu untuk pajak. Lengkapnya yakni Bukti Pembayaran Pajak Daerah PKB/BBN-KB dan SWDKLLJ. Biasanya juga disebut HER. Jadi, cetak STNK 5 tahun ini dengan sendirinya berarti juga HER.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Setelah itu saya masih menunggu STNK yang baru. Begitu saya menunjukkan bukti HER di salah satu loket, STNK masih belum dicetak. Saya pun menunggu di tempat duduk. Beberapa saat kemudian, nama ibu saya dipanggil. Saya pun menuju loket pengambilan STNK yang baru. Di loket ini sudah tidak membayar lagi. Petugas pun meminta saya mengambil plat di sisi barat musola.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Loket yang dimaksud adalah tempat mencetak Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) atau juga disebut dengan plat motor. Di loket ini STNK dikumpulkan sebagai nomor antrean. Semua tahapan umumnya harus antre, tak terkecuali di loket ini. Sampai akhirnya nama ibu saya dipanggil. Saya masuk loket dan diminta tanda tangan sebagai bukti telah mengambil TNKB. Di loket TNKB ini pun tidak ditarik biaya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Setelah TNKB diberikan maka selesailah cetak STNK 5 tahun. Namun, saat di loket TNKB itu saya sempat bertanya yang juga cetak STNK 5 tahun. BPKB beliau sudah diberikan, sedangkan saya tidak. Saya pun kembali bertanya pada seorang petugas saat saya mengumpulkan map dan memberikan KTP ibu saya. Katanya, ada penyesuaian nomor sehingga BPKB milik ibu saya ini baru bisa diambil sepuluh hari lagi.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kemudian, saya kembali di loket pengambilan BPKB. Di loket ini ada pemberitahuan secara tertulis. Pengambilan BPKB harus dengan KTP asli dan STNK asli. Sementara itu, Senin 8 Agustus 2010 STNK beserta motornya akan dibawa oleh adik saya ke Surabaya, selesai cetak STNK 5 tahun. Adik saya kuliah di Surabaya. Saya pun diminta memfoto kopi STNK itu di tempat foto kopi. Foto kopi STNK pun ditandatangani oleh petugas sebagai bukti saat mengambil BPKB.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya pun mengambil motor di tempat parkir. Tarif parkir sebesar Rp 1000,- pun saya bayar. Saat itu jarum jam menunjuk angka 11.05. Saya langsung pulang, tetapi sempat mampir di warung makan membeli sayur. Saya tiba di rumah sekitar pukul 11.30. Di rumah saya menghitung cetak STNK dengan spesifikasi motor seperti itu menelan biaya Rp 268.000,-. Biaya itu sudah termasuk tarif parkir.  &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-929696010041214005?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/929696010041214005/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/08/cetak-stnk-5-tahun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/929696010041214005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/929696010041214005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/08/cetak-stnk-5-tahun.html' title='Cetak STNK 5 Tahun'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-2316611523321439210</id><published>2010-08-06T20:53:00.000-07:00</published><updated>2010-08-06T21:09:40.589-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peristiwa'/><title type='text'>Kaki-ku Keseleo</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.wikimu.com/Common/NewsImage.ashx?id=7289"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 160px;" src="http://www.wikimu.com/Common/NewsImage.ashx?id=7289" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; Gambar diunggah dari &lt;a href="http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=7289"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Kaki-ku Keseleo&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Kejadiannya begitu cepat. Saat itu, Senin 2 Agustus 2010 sekitar pukul 11.30 saya meninggalkan warung internet (warnet). Galon air minum yang kosong saya letakkan di depan dan saya apit. Saya lalu menghidupkan mesin motor. Begitu motor berjalan sekitar dua meter, motor menuruni trotoar jalan. Pada saat yang sama saya memindah transmisi ke gigi dua. Ternyata kaki kiri saya terpeleset atau lepas dari injakan transmisi saat akan pindah ke gigi dua.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Bagian tumit masih menyentuh gagang injakan kaki pada motor. Seketika itu juga kaki kiri saya bergesekan dengan lantai turunan trotoar sebab jaraknya dekat. Maklum, trotoar jalan lebih tinggi daripada jalan yang beraspal. Kaki kiri saya terkunci, sementara motor melaju menuruni trotoar jalan. Pergelangan kaki kiri saya pun tertekuk. Akhirnya, kaki kiri saya terkilir alias keseleo.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Rasanya sakit. Saya kaget sambil menahan sakit. Namun, rasa sakit itu tidak membuat air mata saya mengalir. Galon pun saya letakkan di samping motor dan saya berhenti di pinggir jalan, di bawah pohon. Untunglah saat itu saya memakai sandal selop. Jika tidak maka mungkin jari kaki kiri saya akan bergesekan dengan turunan trotoar. Mungkin juga saya tidak konsentrasi dalam mengendarai motor. Atau, alas sandal selop saya tergolong licin untuk injakan persneling motor yang terbuat dari besi itu.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Saya menggerak-gerakkan kaki yang keseleo itu. Terkadang saya memijit-mijitinya. Saya berharap itu tidak sakit serius. Seketika itu juga tiba-tiba saya merasa sangat haus dan lapar. Namun, masih bisa saya tahan. Beberapa meter di depan saya ada rumah sakit umum (RSU). Namun, terlalu manja jika saya ke RS hanya kerena keseleo. Saya pun mencoba menginjak gagang transmisi motor saya. Ternyata masih bisa. Saya pun melanjutkan perjalanan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Di agen penjual air minum saya membeli air minum dalam kemasan, ukuran 600 ml. Saya juga membeli air minum galon. Namun, saya sengaja menitipkannya sebab saya akan pergi ke perpustakaan, tak jauh dari agen penjual air minum. Di agen penjual air minum itu pun saya berjalan dengan agak pincang.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Di perpustakaan, di halaman parkir, saya meminum air minum yang saya beli tadi. Beberapa saat kemudian, saya membuang plastik, tutup kemasan di tempat sampah. Setelah itu, saya masuk ke perpustakaan. Saya pun mengambil sebuah koran dan membawa botol air minum. Entah bagaimana pandangan orang-orang saat itu. Saya tidak mempedulikannya. &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Saya tidak lama di perpustakaan. Setelah mengambil galon air saya pun pulang. Untunglah kaki kiri saya masih mampu menginjak persneling motor. Saat mengendarai motor itu pun saya terkadang menggerak-gerakkan kaki kiri saya. Di tengah perjalanan itu saya sempat melihat turunan trotoar yang mencelakakan saya tadi.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Setiba di rumah saya mengompres kaki kiri saya itu dengan es batu agar tidak bengkak. Beberapa saat kemudian, saya meminta ibu saya memijit-mijit kaki kiri saya itu. Kemudian beliau memberi balsem. Setelah membalsem kaki kiri saya pun sempat ditarik. Entah apakah cara ini benar. Namun, setelah itu saya merasa sakitnya malah menjadi-jadi.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Sore hari rasa sakitnya malah menggila. Saya harus menggunakan tumit kaki yang sakit itu untuk berjalan. Saya pun berjalan pincang dan harus menahan sakit di setiap langkah. Kaki pun terlihat bengkak. Menjelang maghrib saya mengompres dengan es batu untuk mengurangi sakitnya. Malam harinya saya mengolesinya dengan balsemnya. Untungnya rasa sakit itu tidak menghebat di malam hari. Keesokan paginya, rasa sakitnya sudah berkurang. Akan tetapi, sisa-sisa rasa sakit masih ada dan masih terlihat bengkak.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Saya pun kemudian berpikir, kecelakaan memang bisa menimpa siapa saja. Saya juga berpikir mengapa kemalangan itu terjadi pada saya? Padahal saya waktu itu bukan kali pertama saya menaiki motor itu. Andai saja saya bisa kembali beberapa jam maka saya tidak akan memindah transmisi motor saya di turunan trotoar itu. Atau, jika saat itu saya menginjak persneling dengan tepat. Namun, ini bukan penyesalan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Keseleo-nya kaki kiri saya itu juga disebabkan oleh saya sendiri. Tidak tepat rasanya jika menyalahkan orang lain. Itu juga merupakan takdir atau garis dalam hidup saya yang mau tidak mau harus saya jalani. Lain kali saya akan lebih berhati-hati dan semoga ini menjani pelajaran kita bersama.&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-2316611523321439210?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/2316611523321439210/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/08/kaki-ku-keseleo.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/2316611523321439210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/2316611523321439210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/08/kaki-ku-keseleo.html' title='Kaki-ku Keseleo'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-3522438595389899055</id><published>2010-08-01T19:43:00.000-07:00</published><updated>2010-08-01T20:24:20.097-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Analisis Sosiologi'/><title type='text'>Sistem yang Menjerumuskan?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.dinarislam.com/wp-content/uploads/2010/03/sistem-barter.gif"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 226px; height: 202px;" src="http://www.dinarislam.com/wp-content/uploads/2010/03/sistem-barter.gif" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; Gambar diunggah dari &lt;a href="http://www.dinarislam.com/tag/perak"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Sistem yang Menjerumuskan? &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Judul itu terilhami saat saya membaca sebuah artikel pada sebuah kolom opini di sebuah koran nasional. Namun, dalam artikel itu tiga kata itu bukan judul. Tiga kata itu terkait dengan sistem yang menjerumuskan sehingga ada celah untuk melakukan korupsi. Tiga kata itu terletak di sebuah paragraf di akhir artikel. Saya sudah tidak lagi bisa melacak judul dan kapan artikel itu diterbitkan. Saya pun merasa tercerahkan saat membaca tiga kata itu meski tiga kata itu bukan hal baru.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Maksudnya, dalam sosiologi ada teori sistem. Dalam aliran teori itu, masyarakat dilihat sebagai sebuah sistem. Katakanlah sistem ini ibarat sepeda yang dikayuh oleh pengendaranya. Kita tahu sepeda terdiri atas bagian-bagian seperti setang, sadel, rem, dan lain sebagainya. Terkait sistem, sebuah sepeda dapat berjalan karena memiliki dua roda. Roda itu digerakkan oleh sepasang pedal yang dikayuh oleh pengendaranya. Rangkaian rantai menghubungkan pedal dengan roda belakang. Saat roda belakang bergerak maka roda depan ikut bergerak. Begitu seterusnya.   &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Namun, saat seseorang mengendarai sepeda dengan kecepatan tertentu dan tidak memerhatikan bahwa remnya rusak maka seseorang itu bisa celaka. Karena itu, ada sub-sistem yang rusak pada sepeda, yakni sistem remnya. Dengan kata lain, kerusakan sistem rem itu bisa menjerumuskan pengendara sepeda. Ini hanya perumpamaan saja. Terlebih pada sebuah sistem seperti sistem sosial pada sebuah negara hal ini sungguh sangat komplek.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Lewat tulisan ini saya juga ingin mengukui sekaligus ini sebagai contoh. Saya tergolong bukan warga negara Indonesia (WNI) yang baik. 10 Mei 2010 yang lalu yang mengurus SIM A dengan memakai jasa oknum. Dengan Rp 320.000,- saya mendapatkan SIM A dalam waktu tiga hari. SIM A milik saya itu pun sah dan asli. Pengurusan SIM dengan cara terselubung seperti ini pun sudah menjadi rahasia umum. Paling tidak orang-orang di kampung halaman saya ini tahu.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sebelum mengurusnya saya bertanya pada sejumlah orang tentang pengurusan SIM A. Dua orang yang sebelumnya telah mengurus SIM A dengan cara “titip”, menyarankan agar juga “titip”. Satu orang lagi secara tersirat juga menyarankan agar “titip”. Satu orang lagi, memilih netral. Kesimpulan saya, pengurusan SIM A lebih mudah “titip” daripada mengurus sesuai prosedur.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Prosedurnya SIM harus diurus bukan dengan cara “titip”. Dengan “titip” itu pencari SIM memang tidak mengikuti serangkaian tes seperti tes kesehatan, tes tulis, dan tes mengemudi. Jika lulus serangkaian tes itu, biaya pengurusan SIM sesuai prosedur memang lebih murah. Namun, konon, misalnya tes tulis itu tidak mudah. Banyak orang yang tidak lolos saat tes tulis.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sosialisasi tes seperti tes tulis pun agaknya kurang maksimal. Materi apa yang diujikan, bagaimana mengerjakan soal-soal tes, kiranya tak banyak disosialisasikan. Sebagian orang yang tidak lolos pada tes itu pun memengaruhi pencari SIM untuk mengurus SIM dengan cara “titip”. Meskipun agak mahal, tetapi ada jaminan mendapatkan SIM. Artinya pula, sistem seperti itu menjerumuskan orang untuk mengurus SIM dengan cara “titip”.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sebagai perbandingan, baca juga tulisan saya yang lain berjudul &lt;i&gt;Mengurus SIM C &lt;/i&gt;di arsip Juli 2010. Agaknya sejak tanggal 25 Mei 2010 para pencari SIM tidak bisa “titip” lagi. Artinya, cara “suap” kiranya sudah tidak bisa lagi dilakukan. Dalam tulisan itu pula, saya ceritakan betapa tidak mudahnya mengurus SIM C.   &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Contoh kedua, masih tentang diri saya. Dulu saat masa orientasi siswa baru di Sekolah Menengah Atas (SMA) setiap siswa diberi beberapa lembar kertas. Isinya berupa daftar nama-nama kakak kelas, yakni yang aktif di organisasi ekstrakurikuler. Setiap nama dalam daftar itu harus dimintakan tanda tangan oleh siswa baru. Tujuannya agar siswa baru mengenal kakak kelasnya. Namun, juga terkesan “meng-orientasi” siswa baru.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dalam waktu sekian hari yang notabene waktunya terbatas, setiap siswa baru idealnya harus mendapatkan tanda tangan dari kakak kelas. Jika tidak akan ada sanksi meskipun sanksinya belum ditentukan. Sementara itu mustahil bisa mendapatkan semua tanda tangan sebanyak nama yang ada di daftar. Sanksi itu pun memunculkan ketakutan dalam diri sebagian siswa baru. Salah satunya saya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Maklum, usia masuk jenjang SMA, individu cenderung polos. Dalam sistem seperti itu, memungkinkan terjadi pemalsuan tanda tangan, sementara tidak ada antisipasi terhadap pemalsuan ini. Lagi pula, tidak ada penjelasan mengenai tanda tangan itu jauh-jauh hari sebelumnya. Misalnya, siswa hendaknya tidak memalsukan tanda tangan. Alasannya tindakan itu tidak benar alias curang atau tidak jujur. Saat itu ada satu teman saya yang tahu saya memalsukan beberapa tanda tangan. Teman saya itu juga memalsukan tanda tangan seperti saya. Dalam hati nurani saya merasa bahwa itu tidak benar. Namun, berhubung akan sanksi maka akhirnya saya memalsukannya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Akhirnya, beberapa hari sejak tanda tangan itu diberlakukan, sejumlah guru masuk ke setiap kelas. Guru meminta agar yang merasa memalsukan tanda tangan berkumpul di lapangan basket. Kira-kira ada 15 siswa yang mengaku memalsukan tanda tangan, salah satunya adalah saya. Itu pun atas ajakan dari teman saya tadi dan ini sebagai wujud kejujuran dan tanggung jawab. Seingat saya yang mengaku saat itu semuanya adalah laki-laki. Saat itu pun ada dua guru yang membimbing dan menyesalkan perbuatan tersebut.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Contoh lainnya adalah teman saya. Cerita ini pun saya dengar dari teman saya yang lain. Ceritanya, sebelum tes pegawai negeri sipil (PNS) tahun 2008 di sebuah kabupaten, teman saya ini masih lulusan nonkependidikan. Padahal, dia akan mengisi formasi kependidikan. Agar dapat mengisinya, dia memerlukan akta mengajar IV (A-IV). Begitu lulus dia belum memiliki A-IV.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Akhirnya, dia “membeli” A-IV pada sebuah perguruan tinggi swasta. Pengurusan A-IV itu pun memerlukan waktu sekitar dua minggu. Padahal, aturannya A-IV ditempuh dalam waktu dua semester. Sejak awal, penerapan A-IV pun tak luput dari perdebatan. “Membeli” A-IV tanpa menempuh perkuliahan jelas curang. A-IV itu sendiri sangat penting bagi karier teman saya itu. A-IV pun diakui dan sah. Dia pun lolos dalam tes PNS di sebuah kabupaten.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Lembaga tempat dia memperoleh gelar sarjana nonkependidikan kiranya tak banyak memberi perhatian terkait dengan A-IV ini. Jurusan nonkependidikan dalam bidang akademis noneksak pun terkesan kehilangan orientasi akan kejelasan lulusan setelah lulus. Antara lulusan nonkependidikan dan kependidikan pun tak luput dari saling tuding. Misalnya, kemampuan lulusan antara nonkependidikan dengan lulusan kependidikan dalam mengajar di sekolah. Sekali lagi, sedikit perhatian mengenai A-IV ini pun dapat menggoda seseorang, bahkan menjerumuskan seseorang untuk berbuat curang.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kecurangan itu dinilai dari kesepakatan yang terwujud dalam peraturan. Misalnya, peraturan tentang A-IV itu harus ditempuh dalam jangka waktu tertentu. Jelasnya, bukan dalam waktu dua minggu. Kecurangan atau pelanggaran itu pun dapat memunculkan kecemburuan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Membicarakan negara sebagai sebuah sistem organisasi, sosiologi memandang bahwa organisasi harus memiliki sistem yang baik. Dalam hal ini faktor kepemimpinan menjadi ujung tombak utama. Sama halnya dengan si pengendara sepeda tadi sebagai ujung tombak dalam menjalankan sistem bernama sepeda. Jadi, dalam dua contoh tadi adalah kepemimpinan yang sekaligus memegang wewenang dalam lembaga kepolisian maupun lembaga pendidikan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dalam kaitan ini, individu hendaknya memiliki kesadaran atas sistem tempat individu tinggal. Misalnya, dalam contoh pemalsuan tanda tangan di atas hendaknya diikuti antisipasi agar siswa tidak memalsukan tanda tangan. Jadi, bukan malah mengancam dan menakut-nakuti siswa dengan sanksi yang belum jelas. Akhirnya bisa menjerumuskan siswa sebagai individu memalsukan tanda tangan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Demikian juga dengan pandangan psikologi. Setiap individu pada dasarnya bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Agak berbeda dengan sosiologi, psikologi biasanya menyeru pada individu dalam suatu sistem. Kerapuhan jiwa individu hendaknya dijauhi. Tujuannya agar sistem itu berjalan ideal dan dapat diandalkan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dalam kaitan ini, seburuk apapun sistem atau sebagus apapun sistem, individu haruslah tegar menjalani sistem tersebut. Individu harus memulai dan mengubah dari dirinya sendiri menjadi individu yang tangguh sebelum mengubah sistem di luar dirinya. Pada saat yang sama, sebetulnya individu juga sebagai sistem yang berjalan mekanis. Namun, dalam ruang lingkup individu sebagai satu tubuh.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dalam kaitan ini pula, seseorang yang ingin mendapatkan SIM C tidak boleh “titip”. Sama halnya, seseorang yang ingin memperolah A-IV hendaknya juga tidak membeli A-IV yang jadi dalam waktu dua minggu.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Meskipun demikian, suatu sistem sangat mungkin memiliki kelemahan. Bagaimanapun juga kelemahan sistem itu perlu diminimalisasi. Tujuannya agar kelemahan itu tidak merusak sistem. Jika sebuah sistem yang rusak maka yang rugi juga kita sendiri. Jika kita tidak rugi maka yang akan menanggung ruginya adalah anak cucu kita, generasi kita yang akan datang. Terkecuali jika kita memang menginginkan sistem itu berjalan seperti itu.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-3522438595389899055?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/3522438595389899055/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/08/sistem-yang-menjerumuskan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/3522438595389899055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/3522438595389899055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/08/sistem-yang-menjerumuskan.html' title='Sistem yang Menjerumuskan?'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-5811820360806094630</id><published>2010-07-23T20:23:00.000-07:00</published><updated>2010-07-23T20:43:19.695-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Aku'/><title type='text'>Tiga Bulan Jadi Wartawan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.primaironline.com/images_content/20091108WARTAWAN%20TEROR.jpeg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 297px; height: 175px;" src="http://www.primaironline.com/images_content/20091108WARTAWAN%20TEROR.jpeg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Gambar diunggah dari &lt;a href="http://www.primaironline.com/berita/sosial/pwi-ratifikasi-kompetensi-wartawan"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Tiga Bulan Jadi Wartawan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sebetulnya saya sejak lama ingin menulis judul itu. Keinginan menulis judul itu sejak Desember 2009. Kira-kira Agustus 2009 sampai dengan Oktober 2009 saya menjadi wartawan sebuah radio swasta di kabupaten tempat saya lahir ini. Jadi, selama tiga bulan itu saya mencoba mengenal dunia jurnalistik. Setelah berhenti dari dunia jurnalistik yang singkat itu saya ingin berbagi pengalaman lewat tulisan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sebetulnya bukan wartawan, tetapi reporter pada sebuah radio. Memang, perbedaannya tipis. Wartawan umumnya seseorang yang secara aktif mencari berita untuk kantor berita, baik cetak maupun elektronik. Seorang wartawan terikat kontrak kerja dengan kantor tempatnya bekerja. Reporter juga seperti wartawan, tetapi agaknya tidak begitu aktif. Pemilihan kata “wartawan” itu sengaja agar sama dengan “an” pada kata “bulan”.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Ketika itu radio mengumumkan lowongan menjadi reporter &lt;i&gt;freelance&lt;/i&gt;. Salah satu syaratnya adalah lulusan strata 1 atau sarjana berbagai jurusan. Peminat yang tertarik diminta membuat surat lamaran dan langsung wawancara. Dalam keragu-raguan, saya pun tertarik dan mengikuti apa yang diminta. Kemudian, pihak radio menelpon apakah saya masih berminat menjadi reporter. Saya pun berminat. Sebagai tindak lanjutnya, saya diminta berkumpul di kantor tempat radio siaran.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Pada hari itulah diadakan perkenalan secara sepintas tentang profil radio. Selain itu, penjelasan secara sepintas dari dua wartawan mengenai dunia jurnalis.  Dunia jurnalistik pun termasuk baru bagi saya. Dunia radio juga tergolong sesuatu yang baru bagi saya. Jadi, kedatangan saya saat itu merupakan pengalaman baru bagi saya. Saya mengalami langsung bagaimana dunia radio maupun dunia jurnalis.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dalam kesempatan itu juga dijelaskan, misalnya reportase untuk radio, gaji atau uang transportasi yang diberikan, maupun pemasaran radio dalam mendapatkan iklan. Gaji saat itu Rp 150.000,- per bulan. Tentu jumlah itu kecil, tetapi radio juga tidak mau ambil resiko dengan menggaji tinggi karyawan yang baru. Saya pun berpikir bahwa betapa susahnya mencari uang sendiri.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saat itu ada lima orang yang berminat menjadi reporter. Agaknya hanya lima orang itulah yang berminat. Namun, hanya empat orang yang akhirnya mencoba menjadi reporter. Beberapa hari setelah perkenalan itu, dilanjutkan dengan penandatangan kontrak kerja, hitam di atas putih dengan materai Rp 6.000,-. Pasal-pasal dalam ikatan kerja itu dibuat oleh pihak radio. Lalu, sebagai jaminan kerja, pihak radio meminta ijasah asli.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sekitar satu minggu kemudian, pihak radio membekali reporternya dengan sebuah telepon seluler (ponsel) dengan teknologi CDMA. Ponsel itu pun harus dibeli oleh para reporter dengan harga Rp 125.000,-. Ponsel itu dipakai untuk melaporkan berita oleh reporter. Kemudian, sekitar satu bulan kemudian, para reporter dibekali kartu pers sebagai tanda pengenal.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Profesi reporter sekaligus seorang jurnalis memang tidak semudah yang saya bayangkan. Misalnya, sungguh sulit mendapatkan berita. Waktu itu ada tuntutan dari pihak radio, satu reporter hendaknya melaporkan dua berita. Kesulitan yang sama juga dialami oleh tiga teman saya yang lain. Seorang jurnalis juga harus supel dengan setiap orang. Kepribadian pun harus seiring dengan bidang pekerjaan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Agar mendapatkan berita, wartawan harus menjalin hubungan dengan pihak terkait dan pihak berwenang. Kantor polisi, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), bahkan warung kopi pun merupakan tempat-tempat mendapatkan berita. Di kantor polisi pun seorang wartawan harus familier dengan polisi, khususnya kepala polisi seperti kepala kepolisian resor (Kapolres) maupun kepala polisi sektor (Polsek).  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Singkat kisah, saya hanya tiga bulan menjadi wartawan atau reporter pada sebuah radio. Secara baik-baik saya berhenti dari pekerjaan wartawan karena merasa tidak betah menjalani profesi itu. Selang beberapa minggu kemudian, saya mengambil ijasah asli milik saya dan mengembalikan kartu pers. Setelah itu, saya yang sarjana sosiologi yang nonkependidikan ini memasukkan lamaran agar menjadi guru sosiologi dengan status guru tidak tetap (GTT). Namun, akhirnya ditolak oleh pihak sekolah. Alasannya sudah ada guru yang mengajarkan sosiologi.  &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-5811820360806094630?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/5811820360806094630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/07/tiga-bulan-jadi-wartawan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/5811820360806094630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/5811820360806094630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/07/tiga-bulan-jadi-wartawan.html' title='Tiga Bulan Jadi Wartawan'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-1058293435753422515</id><published>2010-07-20T21:05:00.000-07:00</published><updated>2010-07-20T21:09:57.031-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita dari Dusunku'/><title type='text'>Polusi Suara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://greenpack.rec.org/noise/reducing_noise_pollution/images/06-06.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 218px; height: 209px;" src="http://greenpack.rec.org/noise/reducing_noise_pollution/images/06-06.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } Gam&lt;/style&gt;Gambar diunggah dari &lt;a href="http://zack26.multiply.com/journal"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;Polusi Suara&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saat menulis artikel ini, Sabtu, 17 Juli 2010 di tetangga sebelah sedang ada hajatan khitanan anaknya. Dari rumah saya jaraknya sekitar 100 meter. Dalam hajatan itu tetangga saya menyewa &lt;i&gt;sound system&lt;/i&gt;. Tujuannya agar hajatan itu lebih hidup dan semarak. Pemilik dan teknisi &lt;i&gt;sound system &lt;/i&gt;itu juga tetangga sebelah rumah saya. &lt;i&gt;Sound system&lt;/i&gt; itu berbunyi sejak pagi tadi sekitar pukul 09.00. Biasanya berakhir sampai hampir tengah malam.   &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Apa kaitan itu dengan polusi suara? Kaitannya adalah volume atau suara &lt;i&gt;sound system&lt;/i&gt; itu yang tergolong berlebihan. Padahal, sebaiknya suara &lt;i&gt;sound system&lt;/i&gt; sedang-sedang saja. Suara yang keras itu cukup mengganggu indera pendengar saya. Mungkin itu perasaan saya saja. Namun, ibu saya terkadang juga mengeluh dengan suara &lt;i&gt;sound system&lt;/i&gt; seperti itu.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Suara &lt;i&gt;sound system&lt;/i&gt; seperti itu bukan kali pertama. Saat ada hajatan maka lazim terdengar suara &lt;i&gt;sound system &lt;/i&gt;yang didominasi oleh musik dangdut kontemporer, tembang Jawa-kontemporer, dan qosidah kontemporer. Memang, orang yang punya hajat, baik itu khitanan maupun pernikahan tidak setiap hari. Namun, begitu ada hajat, apalagi dekat dengan rumah saya dan volume &lt;i&gt;sound system &lt;/i&gt;terlalu keras maka itu merupakan polusi suara bagi saya.   &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Seperti diketahui bahwa polusi tidak hanya terjadi pada udara. Misalnya akibat dari kendaraan bermotor yang mengotori udara. Namun, juga ada polusi suara, polusi tanah, polusi air laut, dan lain sebagainya. Dalam kaitan ini definisi polusi mengikuti konteksnya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya sendiri hanya berani mengungkapkan lewat tulisan ini dan pada keluarga saya. Saya tidak berani menyampaikan langsung pada tetangga saya yang memiliki &lt;i&gt;sound system &lt;/i&gt;itu. Saya merasa tidak enak. Lagi pula, agaknya suara &lt;i&gt;sound system &lt;/i&gt;yang saya ungkapkan itu tidak menjadi masalah bagi warga di dusun saya ini. Seandainya mereka mempermasalahkannya maka hanya disimpan di dalam hati saja.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Mungkin juga suasana perdusunan yang agak sunyi sehingga suara &lt;i&gt;sound system &lt;/i&gt;terdengar begitu keras. Mungkin juga saya kurang suka dengan aliran musik yang diputar. Saya sendiri sesekali waktu, terutama saat menulis suka mendengarkan musik. Aliran pop, pop rock, maupun pop alternatif. Itu pun terkadang saya juga jenuh sebab mendengarkan musik yang itu-itu saja. Dalam hal ini saya barangkali juga memicu polusi suara di rumah ini.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kemudian, Minggu, 18 Juli 2010 sejak pagi hari sampai saya menulis paragraf ini pada pukul 16.09 juga terdengar &lt;i&gt;system &lt;/i&gt;di tetangga saya. Sejak pagi itu, dilakukan khataman Al Quran. Saya tetap menghargai kesucian ibadah khataman. Namun, saya merasa volume terbilang keras. Jaraknya sekitar 50 meter dari rumah saya. Memang, kegiatan khataman tidak setiap hari dilakukan. Namun, jika ada khataman maka suaranya terbilang keras.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Belum lagi suara huler keliling yang menggiling gabah menjadi beras. Maupun suara perontok padi saat panen. Mesin-mesin itu seperti pabrik yang berjalan. Memang, agaknya bunyi-bunyi mesin itu tidak bisa dihindari. Belum ada alat peredam agar suara mesin seperti huler tidak terlalu berisik.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Selain itu, juga suara adzan yang berkumandang. Sekali lagi, saya tetap menghormati orang yang beribadah. Akan tetapi, saya merasakan bahwa volume &lt;i&gt;sound &lt;/i&gt;itu terlalu keras bagi saya. Karena itu, saya berpikir bahwa itu kiranya tergolong berlebihan. Sikap berlebihan pun tidak dianjurkan oleh agama.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Di dusun saya ini ada tiga tempat ibadah. Ketiganya rutin mengumandangkan adzan lima kali sehari. Suatu hari saudara sepupu saya yang rumahnya berdekatan dengan masjid, merendahkan volume &lt;i&gt;amplifier&lt;/i&gt; di masjid. Namun, beberapa hati kemudian volume itu dikembalikan lagi mendekati volume maksimal.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-1058293435753422515?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/1058293435753422515/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/07/polusi-suara.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/1058293435753422515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/1058293435753422515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/07/polusi-suara.html' title='Polusi Suara'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-6508325990349504268</id><published>2010-07-20T19:44:00.000-07:00</published><updated>2010-07-20T19:54:20.634-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peristiwa'/><title type='text'>Kematian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:swye6NvXi6l8mM::&amp;amp;t=1&amp;amp;usg=__5katMpyBnUmVwighd60WIHjQas8="&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 162px; height: 204px;" src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:swye6NvXi6l8mM::&amp;amp;t=1&amp;amp;usg=__5katMpyBnUmVwighd60WIHjQas8=" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; Gambar diunggah dari &lt;a href="http://www.google.co.id/imglanding?q=kematian+foto&amp;amp;imgurl=http://www.batikjambi.com/wp-content/uploads/2009/10/kematian.jpg&amp;amp;imgrefurl=http://www.batikjambi.com/sudah-siapkah-kita-menghadapi-kematian/&amp;amp;h=500&amp;amp;w=335&amp;amp;sz=41&amp;amp;tbnid=swye6NvXi6l8mM:&amp;amp;tbnh=130&amp;amp;tbnw=87&amp;amp;prev=/images%3Fq%3Dkematian%252Bfoto&amp;amp;usg=__oKkElIEZCx1GB2yN8Wr9X3W-L0E=&amp;amp;sa=X&amp;amp;ei=bl9GTNGXD4LCvQPf2dzDAg&amp;amp;ved=0CBwQ9QEwAw&amp;amp;start=0#tbnid=swye6NvXi6l8mM&amp;amp;start=4"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Kematian&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sejak awal Juli 2010 ini, khususnya selepas maghrib di rumah kakek-nenek saya agak ramai. Anak-anak dari kakek-nenek saya, para menantu, para cucu, dan cicit biasanya berkumpul di sana. Di sana kami biasanya ngobrol, membicarakan hal yang terkadang remeh temeh. Alasan kami datang ke rumah kakek-nenek adalah kakek saya sudah tua. Umurnya lebih dari 80 tahun. Sekarang kakek sedang sakit karena memang sudah tua. Dan, sepertinya kakek kami akan tutup usia.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;  Tentu kami tidak mengharapkan kakek akan segera tutup usia. Namun, jika melihat keadaannya sekarang maka takdir jualah yang menentukan. Kakek sudah tidak dapat berjalan. Hanya dapat berbaring di tempat tidur. Ingatannya pun berkurang drastis. Terkadang kakek juga tidak mau makan. Selama dalam kondisi itu, anak-anak dari kakek dan sejumlah menantu bergiliran merawat kakek. Misalnya, membersihkan badan kakek dengan air secukupnya, sehari sekali.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Nenek sendiri juga sudah tua. Namun, masih dapat berjalan dan ingatannya masih kuat. Hanya sekarang nenek tidak bisa memasak sendiri. Salah seorang dari anaknya nenek biasanya mengiriminya makanan berupa nasi beserta lauk pauk.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dalam konteks tertentu kita memilih kata yang tepat. Tak terkecuali dengan kata “tutup usia” identik dengan “tewas”, “berpulang”, “meninggal”, “gugur”, “mati” dan lain sebagainya. Judul ini pun sengaja memakai kata “mati” yang mudah dikenal. Memang, biasanya kata “mati” ini berkenaan dengan hewan. Misalnya, “Ayam yang mati”. Selain kata “mati”, karena nilai rasa, di antara kata yang disebut itu berkenaan dengan manusia. Misalnya, “Pengendara sepeda motor itu tewas terlindas truk”.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Selasa, 29 Juni 2010 kemarin diberitakan Kerata Api (KA) Logawa kelas ekonomi anjlok dan terguling di sekitar perbatasan Saradan, Madiun dan Wilangan, Nganjuk. Disebutkan enam orang tewas dan puluhan luka-luka. Wilangan merupakan tetangga dari Bagor, kecamatan saya. Dulu saat masih kuliah saya biasa menaiki Logawa Nganjuk-Jember dan sebaliknya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kemudian, Minggu pagi, 11 Juli 2010 terjadi kecelakaan maut. Bus pariwisata vs bus pariwisata. Dalam kecelakaan yang terjadi di Desa Petak, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk itu, diwartakan tiga orang tewas dan sejumlah orang terluka. Saya sendiri hanya menyaksikan berita itu di televisi dan membacanya di koran. Saya tidak melihat langsung tempat kecelakaan meskipun berada di kecamatan tempat tinggal saya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Sementara itu, di program televisi rasanya hampir tiap hari disuguhi berita ketewasan. Tewas karena ledakan tabung gas elpiji; tewas karena kebakaran; tewas karena terbunuh; tewas karena terseret arus banjir; dan lain sebagainya. Tentu saja dalam lingkup negara Indonesia yang penduduknya sekian juta ini peristiwa itu mungkin saja terjadi.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Peristiwa-peristiwa itulah yang akhirnya saya menuliskan judul &lt;i&gt;Kematian&lt;/i&gt;. Salah seorang &lt;i&gt;facebooker&lt;/i&gt; mengatakan, kematian itu merupakan suatu kepastian, khususnya bagi yang bernyawa. Namun, kapan kematian akan terjadi, itu merupakan suatu misteri. Kecuali kasus bunuh diri yang dilakukan oleh manusia. Kiranya belum ada laporan hewan membunuh dirinya sendiri seperti kasus-kasus yang pernah dilakukan oleh manusia.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dalam kecelakaan Logawa dan kecelakaan antar dua bus pariwisata itu sempat membuat saya berpikir bagaimana jika saya menjadi bagian dari penumpang alat transportasi itu? Bagaimana jika saya menjadi korban atas kecelakaan itu? Jika jari tangan yang tertusuk jarum saja terasa sakit maka bagaimana rasa sakit yang dialami korban baik yang luka-luka maupun yang meninggal?    &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Seingat saya Imam Syafei pernah berkata pada muridnya, sesuatu yang paling dekat dengan kita adalah kematian. Jadi, bukan orang tua, kekasih, istri, suami dan lain sebagainya. Dalam kasus kecelakaan itu tentu ada benarnya. Kematian yang sebetulnya tidak dikehendaki, tetapi terjadi. Dalam hal ini juga berlaku “manusia merencanakan, tetapi Tuhan yang memutuskan”.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kemudian, jika diibaratkan, hidup merupakan sebuah perjalanan. Sebuah perjalanan itu memerlukan pemberhentian. Dalam kaitan ini, pemberhentian adalah kematian. Hampir selalu sebuah kematian menghadirkan kesedihan. Entah itu kematian yang dikehendaki maupun tidak dikehendaki. Bahkan, kematian atas kehendak-Nya pun juga bisa meninggalkan kesedihan.   &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8286888699660129104-6508325990349504268?l=puguh-sosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/feeds/6508325990349504268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/07/kematian.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/6508325990349504268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8286888699660129104/posts/default/6508325990349504268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puguh-sosiologi.blogspot.com/2010/07/kematian.html' title='Kematian'/><author><name>Puguh Utomo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05647931935173048990</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_UzhI2DCNYi0/TTuPYuBt_UI/AAAAAAAAAEQ/5sp5tcfmii0/s220/Kemeja%2Bhitam%2Btersenyum.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8286888699660129104.post-5268928109195937929</id><published>2010-07-16T19:56:00.000-07:00</published><updated>2010-07-16T20:15:33.799-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seputar Nganjuk'/><title type='text'>Kopi Darat-Blogger Nganjuk</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="CENTER"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kopi Darat-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;Blogger&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Nganjuk&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) saya tidak menemukan istilah kopi darat. Namun, jika diterjemahkan kopi darat adalah suatu istilah yang identik dengan pertemuan langsung dalam dunia nyata. Tujuannya membicarakan sesuatu hal. Mengapa dunia nyata? Karena pertemuan juga bisa lewat dunia maya, misalnya &lt;i&gt;facebook&lt;/i&gt;. Selain istilah “dunia maya” salah satu koran nasional, &lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt;, memperkenalkan istilah “siber”. Pengindonesiaan dari kata bahasa Inggris, yakni &lt;i&gt;cyber&lt;/i&gt;.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Kamis, 15 Juli 2010 kemarin &lt;i&gt;blogger&lt;/i&gt; Nganjuk menyelenggarakan kopi darat dan musyawarah di Sekolah Tinggi Teknik (STT) Pondok Modern Sumber Daya At-Takwa (POMOSDA) di Kelurahan Tanjunganom, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk. Kopi darat dan musyawarah antar &lt;i&gt;blogger&lt;/i&gt; Nganjuk itu sendiri tidak lepas dari ekstra kurikuler ICT SMA Negeri 1 Kertosono (SMAKER), Kabupaten Nganjuk bekerjasama dengan STT POMOSDA.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Awalnya, undangan telah dibuat dan dipublikasikan lewat situs &lt;a href="http://kotaangin.com/"&gt;http://kotaangin.com/&lt;/a&gt;. Situs itulah wadah untuk &lt;i&gt;blogger&lt;/i&gt; Nganjuk. Saya sendiri mengetahui undangan itu dari salah seorang teman saya yang juga &lt;i&gt;blogger&lt;/i&gt; asal Nganjuk. Sehari sebelumnya saya menghubungi dan bertanya pada teman saya itu lewat &lt;i&gt;facebook &lt;/i&gt;tentang keberadaan &lt;i&gt;blogger&lt;/i&gt; Nganjuk.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Acara dijadwalkan pukul 13.00 di lantai 2 STT POMOSDA. Namun, acara molor sampai pukul 14.30. Memang, sebelumnya sebagian teman-teman ICT SMAKER maupun teman POMOSDA sudah datang pada pukul 13.00. Bahkan, sebagian di antara mereka sudah datang sebelum pukul 13.00. Saya sendiri saat itu datang sekitar pukul 13.10.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="JUSTIFY"&gt; Saya sendiri baru kali pertama menghadiri acara pertemuan antar &lt;i&gt;blogger&lt;/i&gt;. Dengan laju kendaraan 60 saya menempuh waktu sekitar 30 menit, sampai di tempat acara. Ke
