Pendahuluan
Dalam kajian sosiologi, konflik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial. Konflik muncul ketika terdapat perbedaan kepentingan, nilai, kekuasaan, atau akses terhadap sumber daya. Pada kelas XI semester 2, materi konflik mengajak peserta didik memahami bahwa konflik tidak selalu bersifat negatif, tetapi dapat menjadi pemicu perubahan sosial apabila dikelola dengan baik.
Di era globalisasi saat ini, konflik tidak hanya terjadi pada skala kecil seperti individu dan keluarga, tetapi juga meluas hingga skala nasional dan global, bahkan memunculkan kekhawatiran akan Perang Dunia III (PD III).
Konflik dalam Perspektif Sosiologi
Menurut teori sosiologi konflik (Karl Marx dan Ralf Dahrendorf), konflik muncul akibat ketimpangan kekuasaan dan sumber daya. Pihak yang dominan berusaha mempertahankan kepentingannya, sementara pihak yang lemah menuntut perubahan.
Konflik dapat terjadi dalam berbagai skala sosial, mulai dari mikro hingga makro.
1. Konflik pada Skala Individu
Pada tingkat individu, konflik sering muncul dalam bentuk:
-
Perbedaan pendapat
-
Tekanan ekonomi
-
Persaingan akademik
-
Krisis identitas generasi muda
Di Indonesia, peserta didik menghadapi konflik batin akibat:
-
Tekanan prestasi
-
Pengaruh media sosial
-
Ketimpangan akses pendidikan
Jika tidak dikelola, konflik individu dapat berkembang menjadi stres sosial dan perilaku menyimpang.
2. Konflik pada Skala Keluarga
Keluarga sebagai unit sosial terkecil juga tidak lepas dari konflik, seperti:
-
Perbedaan pola asuh
-
Tekanan ekonomi keluarga
-
Perbedaan pandangan generasi tua dan muda
Kondisi ekonomi nasional yang belum merata, naiknya harga kebutuhan pokok, serta tuntutan hidup modern turut memicu konflik dalam keluarga Indonesia. Namun, keluarga juga menjadi ruang utama resolusi konflik melalui komunikasi dan nilai keagamaan.
3. Konflik pada Skala Sekolah
Di lingkungan sekolah, konflik dapat muncul dalam bentuk:
-
Bullying
-
Perbedaan latar belakang sosial dan ekonomi
-
Konflik antar kelompok pertemanan
-
Perbedaan pandangan organisasi siswa
Madrasah memiliki peran strategis sebagai agen sosialisasi dan kontrol sosial, dengan menanamkan:
-
Nilai toleransi
-
Dialog
-
Penyelesaian konflik secara damai
Materi konflik dalam sosiologi membantu peserta didik memahami bahwa konflik harus diselesaikan dengan musyawarah dan empati, bukan kekerasan.
4. Konflik pada Skala Negara: Kondisi Indonesia
Pada tingkat negara, konflik di Indonesia masih berkaitan dengan:
-
Ketimpangan ekonomi
-
Persoalan agraria
-
Konflik kepentingan politik
-
Polarisasi akibat media sosial
Namun, Indonesia memiliki modal sosial penting berupa:
-
Pancasila
-
Bhinneka Tunggal Ika
-
Budaya musyawarah
Hal ini menjadi kekuatan Indonesia untuk mencegah konflik horizontal meluas dan menjaga stabilitas nasional di tengah situasi global yang tidak menentu.
5. Konflik Global dan Ancaman Perang Dunia III
Di tingkat global, konflik antarnegara semakin kompleks akibat:
-
Perebutan pengaruh geopolitik
-
Persaingan ekonomi global
-
Perlombaan teknologi dan militer
-
Konflik kawasan yang melibatkan negara besar
Beberapa negara yang memiliki pengaruh besar dalam dinamika global antara lain:
a. Amerika Serikat (USA)
Amerika Serikat memiliki kekuatan ekonomi, militer, dan politik global. Perannya sering muncul dalam:
-
Aliansi militer
-
Pengaruh ekonomi global
-
Intervensi politik internasional
Kepentingan USA dalam menjaga dominasinya kerap memicu ketegangan dengan negara lain.
b. Rusia
Rusia dikenal sebagai kekuatan militer besar dengan pengaruh geopolitik luas. Konflik kepentingan Rusia dengan negara Barat sering menjadi sumber ketegangan global.
c. China
China tampil sebagai kekuatan ekonomi baru dunia. Persaingan pengaruh ekonomi dan teknologi dengan Amerika Serikat menjadi salah satu potensi konflik global di abad ke-21.
d. Iran
Iran memiliki posisi strategis di kawasan Timur Tengah. Ketegangan politik dan kepentingan regional menjadikan Iran bagian dari dinamika konflik global.
Walaupun belum dapat disebut sebagai Perang Dunia III, konflik-konflik tersebut menunjukkan bahwa ketegangan global nyata dan berdampak pada negara lain, termasuk Indonesia, terutama dalam bidang ekonomi dan keamanan.
Peran Generasi Muda dalam Menghadapi Konflik Global
Peserta didik Madrasah Aliyah sebagai generasi muda memiliki peran penting:
-
Menjadi agen perdamaian
-
Bersikap kritis terhadap informasi global
-
Menolak provokasi dan hoaks
-
Menguatkan nilai kemanusiaan dan keadilan sosial
Pemahaman konflik secara sosiologis membantu generasi muda melihat konflik bukan sebagai ajang permusuhan, tetapi sebagai tantangan untuk membangun dunia yang lebih adil dan damai.
Penutup
Konflik merupakan realitas sosial yang terjadi di semua tingkat kehidupan, dari individu hingga global. Dalam konteks Indonesia dan dunia saat ini, pemahaman sosiologi konflik menjadi sangat penting agar masyarakat, khususnya peserta didik, mampu bersikap bijak, kritis, dan berorientasi pada perdamaian, bukan kekerasan.
Dengan pendidikan yang kuat, nilai kemanusiaan, dan dialog sosial, konflik dapat dikelola sebagai sarana perubahan positif, bukan jalan menuju kehancuran global.


