Kamis, 05 November 2026

KETIKA CANDAAN BERUBAH MENJADI PERUNDUNGAN

 



KETIKA CANDAAN BERUBAH MENJADI PERUNDUNGAN

Mengenali Bullying, Shaming, dan Kekerasan Sosial yang Sering Tidak Kita Sadari di Sekolah

Pernahkah kita menertawakan teman karena salah menjawab pertanyaan guru? Pernahkah kita memanggil seseorang dengan nama yang sebenarnya tidak ia sukai? Atau pernahkah kita sengaja tidak mengajak seorang teman masuk dalam kelompok hanya karena ia dianggap kurang pintar, kurang gaul, atau berbeda dari yang lain?

Mungkin kita menganggapnya biasa. Sekadar bercanda. Tidak ada maksud menyakiti. Bahkan, bisa jadi kita merasa sedang menciptakan suasana akrab.

Namun, pernahkah kita berpikir bagaimana perasaan orang yang menjadi sasaran?

Di sekolah, tidak semua kekerasan datang dalam bentuk pukulan, tendangan, atau ancaman. Ada kekerasan yang tidak meninggalkan bekas pada tubuh, tetapi bisa memengaruhi kepercayaan diri, harga diri, dan hubungan sosial seseorang.

Kekerasan semacam ini sering kali berlangsung tanpa disadari oleh pelakunya.

1. Bullying: Ketika Seseorang Menjadi Sasaran Berulang

Bullying atau perundungan adalah perilaku agresif yang dilakukan secara berulang, disertai ketimpangan kekuatan atau posisi antara pelaku dan korban. Ketimpangan itu tidak selalu berupa kekuatan fisik. Bisa juga karena jumlah teman, popularitas, status sosial, pengaruh dalam kelompok, atau posisi tertentu.

Contoh yang sering terjadi di sekolah:

  • Name calling: Memanggil teman dengan julukan yang merendahkan, seperti si bodoh, si miskin, si pendek, atau sebutan lain yang membuatnya tidak nyaman.

  • Social exclusion: Sengaja mengucilkan seseorang dari kelompok pertemanan, kegiatan, atau kerja kelompok secara berulang.

  • Intimidation: Mengancam teman agar menuruti kemauan kelompok tertentu.

  • Ridicule: Menertawakan dan menjadikan kesalahan seseorang sebagai bahan hiburan bersama.

  • Cyberbullying: Menyebarkan foto, video, komentar, atau unggahan yang mempermalukan seseorang melalui media sosial atau grup percakapan.

Ada satu hal yang menarik untuk direnungkan.

Mengapa seseorang merasa berhak menentukan siapa yang pantas diterima dan siapa yang layak disingkirkan dari kelompoknya?

Bukankah sekolah merupakan tempat belajar hidup bersama, bukan tempat menentukan siapa yang paling berkuasa dalam pergaulan?

2. Shaming: Mempermalukan Orang Lain atas Identitas atau Keadaannya

Shaming adalah tindakan membuat seseorang merasa malu, rendah, atau tidak berharga karena kondisi, karakteristik, pilihan, atau sesuatu yang melekat pada dirinya.

Shaming bisa dilakukan secara sengaja maupun melalui kebiasaan yang dianggap lumrah.

Beberapa bentuknya:

a. Body shaming

Mengomentari bentuk tubuh atau penampilan seseorang secara merendahkan.

Contoh:

  • "Kamu kok gemuk sekali?"

  • "Kurus banget, seperti kurang makan."

  • "Mukamu kok banyak jerawat?"

  • "Dengan penampilan begitu, percaya diri sekali kamu?"

Persoalannya bukan sekadar komentar tentang fisik. Persoalannya adalah menjadikan tubuh orang lain sebagai bahan penilaian dan hiburan.

b. Intellectual shaming

Mempermalukan seseorang karena kemampuan akademiknya.

Contoh:

  • "Masa soal semudah itu tidak bisa?"

  • "Otakmu ke mana?"

  • "Pantas saja nilaimu selalu jelek."

  • "Kalau tidak pintar, jangan banyak bicara."

Ini sering terjadi di ruang kelas. Murid yang salah menjawab pertanyaan ditertawakan. Murid yang lambat memahami pelajaran dianggap tidak memiliki kemampuan. Bahkan, ada yang kehilangan keberanian untuk bertanya karena takut menjadi bahan tertawaan.

Padahal, sekolah seharusnya menjadi tempat paling aman untuk melakukan kesalahan dan memperbaikinya.

c. Economic shaming

Mempermalukan seseorang karena kondisi ekonomi keluarganya.

Contoh:

  • Mengejek sepatu teman yang sudah usang.

  • Menertawakan bekal makanan yang dibawa dari rumah.

  • Menganggap teman yang tidak memiliki telepon genggam terbaru sebagai orang ketinggalan zaman.

  • Menyindir seseorang karena tidak mampu ikut kegiatan yang membutuhkan biaya.

d. Social shaming

Merendahkan seseorang karena latar belakang keluarga, lingkungan tempat tinggal, pekerjaan orang tua, atau status sosialnya.

Contoh:

  • "Anak kampung, tidak tahu gaya."

  • "Orang tuamu cuma bekerja seperti itu?"

  • "Rumahmu jauh sekali, memang tidak ada sekolah yang lebih bagus?"

Tanpa disadari, komentar semacam ini membangun sekat sosial di antara murid.

Sekolah yang seharusnya mempertemukan berbagai latar belakang justru bisa menjadi tempat reproduksi perbedaan kelas sosial.

3. Nonverbal Bullying: Tidak Mengucapkan Sepatah Kata, tetapi Menyakiti

Ini salah satu bentuk yang sering luput dari perhatian.

Tidak semua perundungan menggunakan bahasa. Ada tindakan yang dilakukan melalui ekspresi, gestur, sikap, dan perlakuan sosial.

Contohnya:

  • Eye rolling: Memutar bola mata ketika seseorang berbicara, seolah-olah pendapatnya tidak pantas didengar.

  • Sneering: Menunjukkan ekspresi wajah mengejek ketika melihat teman melakukan kesalahan.

  • Silent treatment: Sengaja mendiamkan seseorang sebagai bentuk hukuman atau tekanan sosial.

  • Exclusion gesture: Menutup lingkaran pertemanan dengan sengaja ketika seseorang mendekat, sehingga ia merasa tidak diterima.

  • Mocking gestures: Menirukan cara berjalan, berbicara, atau gerakan tubuh seseorang untuk mengundang tawa.

  • Intimidating stare: Menatap seseorang dengan maksud menakut-nakuti atau menunjukkan dominasi.

Bayangkan seorang murid memasuki ruang kelas. Ketika ia mendekati kelompok tertentu, beberapa orang langsung saling berpandangan, tersenyum sinis, kemudian berpindah tempat.

Tidak ada kata kasar yang terdengar. Tidak ada perkelahian. Tetapi pesan sosialnya sangat jelas: kamu tidak diinginkan di sini.

Perilaku seperti ini bisa menjadi bagian dari perundungan apabila dilakukan berulang dan melibatkan ketimpangan kekuatan.

4. Ketika Guru Tanpa Sadar Ikut Melakukan Shaming

Persoalan ini tidak hanya terjadi di antara murid. Orang dewasa, termasuk guru, juga perlu melakukan refleksi.

Misalnya:

  • Membandingkan murid yang nilainya rendah dengan murid yang berprestasi di depan kelas.

  • Mengumumkan kelemahan akademik seseorang untuk memberikan efek jera.

  • Mengomentari kondisi keluarga murid di hadapan teman-temannya.

  • Memberi label murid sebagai bodoh, malas, nakal, atau tidak memiliki masa depan.

  • Menertawakan jawaban murid yang keliru.

  • Menggunakan kekurangan fisik atau kondisi pribadi sebagai bahan candaan.

Tentu saja guru memiliki kewenangan untuk menegur, mendisiplinkan, dan memberikan evaluasi. Namun, ada perbedaan mendasar antara mengoreksi perilaku dengan merendahkan martabat seseorang.

Kalimat "Jawabanmu belum tepat, mari kita perbaiki" berbeda dengan "Kamu memang tidak pernah bisa."

Yang pertama mengoreksi pekerjaan. Yang kedua menyerang identitas.

Pendidikan seharusnya memperbaiki perilaku tanpa menghancurkan harga diri.

5. Mengapa Kita Sering Tidak Menyadarinya?

Ada beberapa alasan mengapa perilaku perundungan dan shaming sering dianggap biasa.

Pertama, normalisasi.

Sesuatu yang dilakukan berulang-ulang akhirnya dianggap wajar. Karena sejak lama terbiasa mengejek teman, seseorang tidak lagi merasa bahwa tindakannya bermasalah.

Kedua, berlindung di balik candaan.

Ketika orang yang menjadi sasaran menunjukkan ketidaknyamanan, pelaku sering menjawab, "Bercanda saja, kok. Jangan terlalu sensitif."

Padahal, candaan tidak otomatis menjadi benar hanya karena pelakunya tertawa.

Ketiga, tekanan kelompok.

Seseorang ikut menertawakan temannya bukan karena benar-benar menganggapnya lucu, tetapi karena takut menjadi sasaran berikutnya jika tidak mengikuti kelompok.

Keempat, ketimpangan kekuasaan.

Orang yang memiliki popularitas, pengaruh, atau jumlah teman lebih banyak kadang merasa memiliki hak untuk menentukan siapa yang diterima dan siapa yang disingkirkan.

Kelima, kurangnya empati.

Kita terlalu sibuk melihat sesuatu dari sudut pandang sendiri sehingga lupa bahwa orang lain memiliki perasaan dan pengalaman yang berbeda.

6. Tidak Semua Konflik adalah Bullying

Penting juga untuk tidak mencampuradukkan semua persoalan sosial.

Dua murid yang berbeda pendapat, bertengkar sekali, atau saling mengkritik belum tentu sedang melakukan perundungan.

Konflik dapat terjadi karena perbedaan kepentingan dan kesalahpahaman. Sementara perundungan memiliki ciri berupa tindakan agresif yang berulang dan ketimpangan kekuatan.

Namun, tindakan mempermalukan atau menyakiti seseorang tetap perlu ditangani meskipun belum memenuhi seluruh unsur perundungan.

Jangan menunggu sampai sebuah perilaku menjadi kebiasaan buruk untuk mulai memperbaikinya.

7. Sekolah dan Persoalan Martabat Manusia

Pada akhirnya, persoalan perundungan bukan hanya persoalan tata tertib sekolah. Ini adalah persoalan bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya.

Kita sering berbicara tentang prestasi, kedisiplinan, kecerdasan, kompetisi, dan keberhasilan. Namun, ada satu hal yang terkadang terlupakan: apakah dalam proses mengejar semua itu kita masih menghargai martabat orang lain?

Murid yang tidak pandai matematika tetap memiliki harga diri. Murid yang berasal dari keluarga sederhana tidak lebih rendah kedudukannya. Murid yang berbeda penampilan tidak kehilangan hak untuk diterima. Murid yang pendiam tidak berarti pantas diabaikan.

Sekolah bukan panggung untuk membuktikan siapa yang paling hebat, paling kaya, paling populer, atau paling berkuasa.

Sekolah adalah ruang perjumpaan manusia dengan segala perbedaannya.

Ada yang unggul dalam akademik, ada yang memiliki kemampuan seni, ada yang terampil dalam olahraga, ada yang pandai berkomunikasi, dan ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan potensinya.

Tidak semua orang harus menjadi juara untuk layak dihargai.

Barangkali pertanyaan paling penting bukanlah seberapa sering kita menasihati murid agar tidak melakukan perundungan, melainkan seberapa jauh kita telah membangun budaya yang tidak memberi tempat bagi tindakan merendahkan manusia.

Sebab, perundungan tidak selalu dimulai dari kebencian yang besar. Terkadang ia tumbuh dari candaan kecil yang dibiarkan, julukan yang terus diulang, tatapan yang merendahkan, dan kebiasaan menertawakan kelemahan orang lain.

Dan yang paling mengkhawatirkan, suatu saat kita mungkin tidak lagi menyadari bahwa kita sedang melakukannya.

Jangan sampai sekolah menjadi tempat seseorang belajar banyak hal tentang kehidupan, tetapi justru kehilangan keyakinan bahwa dirinya berharga sebagai manusia.

Catatan penting untuk konteks pendidikan: Tulisan ini bisa digunakan sebagai bahan literasi sekolah, refleksi guru, materi penguatan karakter, atau diskusi bersama murid. Pesan utamanya bukan membuat setiap candaan dianggap perundungan, melainkan membangun kepekaan untuk membedakan humor, konflik, kritik, shaming, dan bullying.

Satu gagasan yang layak dijadikan kalimat penutup poster atau kampanye sekolah:

"Jangan mengukur lucunya sebuah candaan dari tawa pelakunya, tetapi lihat juga luka yang mungkin ditinggalkan pada orang yang menjadi sasaran."

DI ANTARA PAPAN TULIS DAN WAJAH NEGARA

 



DI ANTARA PAPAN TULIS DAN WAJAH NEGARA

Catatan seorang guru ilmu sosial tentang manusia, masyarakat, dan kekuasaan

Setiap pagi, sebelum bel sekolah berbunyi, ia selalu melewati jalan yang sama. Jalan kampung yang tidak terlalu lebar, beberapa rumah dengan pagar setengah terbuka, warung kecil di sudut gang, dan orang-orang yang memulai kesibukannya dengan rutinitas masing-masing.

Ada pedagang sayur yang mendorong gerobak. Ada buruh yang berangkat dengan sepeda motor tua. Ada seorang ibu yang mengantar anaknya ke sekolah. Ada pula orang-orang yang duduk di teras, membicarakan harga kebutuhan pokok yang kembali berubah.

Pemandangan itu sebenarnya biasa. Tidak ada yang istimewa. Namun, bagi seorang guru ilmu sosial, hal-hal biasa sering kali menyimpan persoalan yang luar biasa.

Ia tidak hanya melihat orang-orang yang sedang beraktivitas. Ia melihat struktur sosial, hubungan ekonomi, pembagian peran, perbedaan kesempatan, bahkan ketimpangan yang sering kali dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

Barangkali itulah konsekuensi menjadi guru sosiologi. Pekerjaannya tidak selesai ketika buku ditutup dan papan tulis dibersihkan. Masyarakat adalah ruang kelas yang tidak pernah libur.


Namanya tidak perlu dikenal banyak orang. Ia hanya seorang guru yang setiap hari berhadapan dengan puluhan wajah remaja. Mengajar tentang interaksi sosial, stratifikasi, kelompok sosial, perubahan masyarakat, konflik, lembaga sosial, dan kekuasaan.

Ia sering menjelaskan bahwa manusia tidak pernah benar-benar hidup sendirian. Bahkan keputusan yang tampak sangat pribadi sering kali dibentuk oleh keadaan sosial di sekitarnya.

Pilihan seseorang untuk bersekolah, bekerja, menikah, membeli sesuatu, bahkan menentukan cita-cita, tidak sepenuhnya lahir dari kehendak bebas. Ada keluarga, lingkungan, pendidikan, ekonomi, budaya, dan struktur masyarakat yang ikut memengaruhinya.

Namun, semakin lama mengajar, ia justru semakin sering bertanya kepada dirinya sendiri.

Apakah dirinya benar-benar bebas?

Ia memang berdiri di depan kelas, menyampaikan materi, memberikan penilaian, dan menentukan metode pembelajaran. Tetapi ia juga terikat oleh administrasi, kurikulum, target capaian, aturan birokrasi, dan berbagai tuntutan kelembagaan.

Ia mengajarkan pentingnya berpikir kritis, sementara dalam kehidupan sehari-hari ia harus belajar menempatkan kritik pada ruang dan waktu yang tepat.

Ia mengajarkan bahwa manusia memiliki kebebasan berpikir, tetapi juga menyadari bahwa kebebasan selalu berhadapan dengan batas-batas sosial.

Di situlah ia menemukan ironi profesinya.

Seorang guru mengajarkan kebebasan berpikir di dalam sebuah sistem yang memiliki banyak aturan.


Di rumah, kehidupannya tidak jauh berbeda dari kehidupan kebanyakan orang.

Ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, tagihan yang datang secara rutin, kebutuhan pendidikan anak, biaya kesehatan, dan berbagai pengeluaran yang tidak selalu bisa ditunda.

Ia memahami bahwa kehidupan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kerja keras. Ada faktor kesempatan, modal ekonomi, jaringan sosial, akses pendidikan, dan keberuntungan yang sering kali tidak terbagi secara merata.

Ia pernah melihat seseorang bekerja sangat keras, tetapi kehidupannya berjalan lambat. Sementara orang lain memperoleh kemajuan lebih cepat karena memiliki akses dan sumber daya yang lebih baik.

Apakah yang pertama kurang berusaha?

Belum tentu.

Apakah yang kedua tidak bekerja keras?

Belum tentu juga.

Persoalannya mungkin lebih kompleks daripada sekadar rajin dan malas, pintar dan bodoh, berhasil dan gagal.

Masyarakat sering kali menyukai penjelasan sederhana untuk persoalan yang rumit. Kemiskinan dianggap akibat kemalasan. Kegagalan dianggap akibat kurangnya usaha. Keberhasilan dianggap sepenuhnya sebagai hasil kecerdasan dan kerja keras.

Padahal, tidak semua orang memulai kehidupan dari garis yang sama.

Ia teringat materi tentang stratifikasi sosial yang pernah disampaikannya kepada murid-murid. Kelas sosial bukan sekadar perbedaan jumlah uang di rekening. Ia juga berkaitan dengan kesempatan, akses, kekuasaan, pendidikan, dan kemampuan seseorang memengaruhi keputusan yang menentukan kehidupannya.

Di luar kelas, teori itu menemukan bentuknya sendiri.


Lingkungan tempat tinggalnya juga merupakan miniatur masyarakat.

Ada orang yang memiliki rumah luas dan kendaraan lebih dari satu. Ada keluarga yang masih menghitung pengeluaran harian. Ada pemuda yang berhasil melanjutkan pendidikan tinggi. Ada pula yang harus bekerja setelah menyelesaikan pendidikan menengah.

Mereka tinggal berdekatan, tetapi menjalani dunia yang berbeda.

Dalam satu lingkungan, seseorang bisa merasa cukup, sementara tetangganya merasa selalu kekurangan.

Ironisnya, ukuran keberhasilan sering kali dibangun melalui perbandingan sosial. Rumah yang dahulu dianggap nyaman tiba-tiba terasa sempit setelah melihat rumah tetangga. Kendaraan yang masih layak digunakan dianggap ketinggalan zaman setelah melihat orang lain membeli kendaraan baru.

Media sosial mempercepat semuanya.

Orang-orang tidak hanya membandingkan kehidupan dengan tetangga, tetapi juga dengan jutaan manusia yang bahkan tidak pernah mereka kenal.

Kebahagiaan perlahan menjadi sesuatu yang perlu dipertontonkan. Keberhasilan perlu diunggah. Perjalanan perlu didokumentasikan. Bahkan kesederhanaan terkadang harus dikemas sedemikian rupa agar terlihat menarik.

Ia tidak menolak kemajuan teknologi. Ia sendiri menggunakannya untuk bekerja dan memperoleh informasi. Namun, ia melihat ada sesuatu yang perlu dipertanyakan: apakah manusia sedang menggunakan teknologi untuk memperluas pengetahuan, atau justru membiarkan teknologi menentukan cara mereka memandang kehidupan?

Di tengah kemudahan mengakses informasi, kemampuan memahami persoalan justru menjadi pekerjaan yang semakin berat.

Orang bisa membaca banyak berita, tetapi belum tentu memahami peristiwa. Bisa mengikuti banyak akun, tetapi belum tentu mengenali kepentingan di balik informasi.

Pengetahuan dan kebijaksanaan ternyata bukan dua hal yang otomatis berjalan beriringan.


Sebagai guru ilmu sosial, ia juga tidak bisa mengabaikan keadaan negaranya.

Negeri ini memiliki sumber daya alam yang besar, jumlah penduduk yang melimpah, kebudayaan yang beragam, serta sejarah panjang perjuangan menuju kemerdekaan.

Tetapi pertanyaan tentang kesejahteraan masih terus muncul.

Mengapa kekayaan alam tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat? Mengapa kesempatan pendidikan belum sepenuhnya merata? Mengapa sebagian masyarakat harus berjuang lebih keras hanya untuk memperoleh pelayanan dasar yang semestinya menjadi hak mereka?

Ia tahu bahwa mengelola negara bukan pekerjaan sederhana. Ada persoalan geopolitik, anggaran, kepentingan ekonomi, hubungan internasional, persoalan demografi, serta berbagai kepentingan kelompok yang saling berkelindan.

Namun, kompleksitas tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti bertanya.

Dalam setiap rezim pemerintahan, selalu ada janji tentang masa depan. Ada program pembangunan, kebijakan ekonomi, pembenahan pendidikan, pemberantasan korupsi, dan berbagai agenda perubahan.

Pemerintahan yang sedang berkuasa tentu memiliki hak untuk menentukan arah kebijakannya melalui mandat politik yang diperoleh. Akan tetapi, mandat bukanlah cek kosong. Kekuasaan tetap membutuhkan pengawasan, kritik, dan pertanggungjawaban.

Ia memperhatikan bagaimana kebijakan pemerintah diterjemahkan menjadi kehidupan masyarakat.

Sebuah keputusan di pusat pemerintahan mungkin terlihat sebagai angka dalam dokumen anggaran. Namun, bagi masyarakat, keputusan itu bisa berarti harga kebutuhan pokok, kesempatan kerja, biaya pendidikan, akses kesehatan, atau keberlangsungan usaha kecil.

Kebijakan tidak pernah benar-benar berhenti di meja pengambil keputusan. Ia bergerak ke pasar, sekolah, rumah tangga, sawah, pabrik, dan ruang-ruang kehidupan masyarakat.

Di sana, kebijakan memperoleh wajah yang sesungguhnya.

Ia juga menyadari bahwa kritik terhadap pemerintah bukan berarti membenci negara. Sebaliknya, kepedulian terhadap negara justru menuntut keberanian untuk melihat kekurangan dan ketidakadilan.

Negara bukan milik orang-orang yang sedang berkuasa. Negara adalah ruang bersama bagi seluruh warga negaranya.


Suatu hari, ia menjelaskan tentang kekuasaan di dalam kelas.

Ia bertanya kepada murid-muridnya, mengapa seseorang bisa memerintah dan orang lain harus mengikuti?

Beberapa murid menjawab karena jabatan. Sebagian menjawab karena kekayaan. Ada yang mengatakan karena kekuatan. Jawaban-jawaban itu tidak salah.

Namun, ia kemudian menambahkan bahwa kekuasaan tidak selalu hadir dalam bentuk perintah.

Kekuasaan juga bekerja melalui aturan, kebiasaan, bahasa, standar keberhasilan, dan cara masyarakat membangun penilaian terhadap seseorang.

Seseorang bisa merasa tidak mampu bukan karena benar-benar tidak memiliki kemampuan, tetapi karena lingkungan terus-menerus membuatnya percaya bahwa dirinya tidak cukup baik.

Seseorang bisa menerima ketidakadilan bukan karena tidak menyadarinya, tetapi karena ketidakadilan itu telah berlangsung terlalu lama sehingga dianggap sebagai sesuatu yang normal.

Begitulah masyarakat bekerja. Tidak semua ketimpangan harus dipaksakan dengan kekerasan. Sebagian justru bertahan karena telah diterima sebagai kewajaran.

Ia terdiam sejenak.

Barangkali pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari kepala guru ke kepala murid. Pendidikan seharusnya membantu seseorang mengenali keadaan yang selama ini dianggap biasa, tetapi sebenarnya perlu dipertanyakan.


Menjelang sore, setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia kembali melewati jalan yang sama.

Warung kecil masih buka. Beberapa anak bermain di halaman. Seorang pedagang sedang menghitung hasil penjualannya. Di kejauhan, suara kendaraan bercampur dengan percakapan warga.

Tidak ada perubahan besar yang terlihat.

Namun, pikirannya kembali berkelana.

Ia menyadari bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari kehidupan sosial yang begitu luas. Sebagai individu, ia memiliki keterbatasan. Sebagai guru, ia tidak bisa menyelesaikan seluruh persoalan pendidikan. Sebagai warga negara, ia tidak bisa menentukan seluruh arah kebijakan. Bahkan sebagai manusia, ia tidak sepenuhnya memahami kompleksitas dunia yang terus berubah.

Tetapi apakah keterbatasan itu berarti seseorang tidak perlu melakukan apa-apa?

Ia teringat sebuah gagasan sederhana: manusia memang dibentuk oleh masyarakat, tetapi manusia juga memiliki kemampuan untuk membentuk masyarakat.

Keduanya saling memengaruhi.

Ia mungkin tidak bisa mengubah seluruh sistem pendidikan, tetapi dapat menciptakan ruang belajar yang lebih adil. Ia mungkin tidak bisa menghapus seluruh ketimpangan, tetapi dapat menghindari perlakuan diskriminatif terhadap murid-muridnya. Ia mungkin tidak memiliki kekuasaan politik, tetapi masih memiliki kesempatan untuk menyampaikan pikiran secara bertanggung jawab.

Barangkali perubahan sosial tidak selalu dimulai dari panggung besar, gedung pemerintahan, atau pidato para pemimpin.

Terkadang ia dimulai dari ruang kelas yang sederhana.

Dari seorang guru yang tidak merendahkan muridnya karena nilai matematika yang rendah. Dari seorang anak yang mulai berani mempertanyakan ketidakadilan. Dari keluarga yang tidak lagi mengukur keberhasilan hanya dengan kekayaan. Dari masyarakat yang belajar membedakan kritik dengan kebencian, serta kekuasaan dengan kebenaran.

Ia kemudian memahami satu hal yang selama ini mungkin terlupakan: manusia tidak cukup hanya diajari bagaimana menyesuaikan diri dengan masyarakat. Manusia juga perlu diajari bagaimana menilai masyarakat tempat ia hidup.

Sebab, masyarakat yang baik bukan masyarakat yang seluruh warganya selalu sepakat. Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang memberi ruang bagi perbedaan, menjaga martabat manusia, dan tidak menjadikan kekuasaan sebagai sesuatu yang kebal dari pertanyaan.

Malam mulai turun.

Besok pagi ia akan kembali ke sekolah, membuka buku, menulis beberapa kalimat di papan tulis, dan menjelaskan tentang manusia serta kehidupannya.

Mungkin murid-muridnya hanya akan mengingat sebagian materi. Mungkin sebagian lainnya akan lupa setelah ujian selesai.

Namun, ia berharap ada satu hal yang tertinggal: keberanian untuk melihat kehidupan lebih jauh daripada apa yang tampak di permukaan.

Sebab, menjadi manusia bukan hanya tentang bagaimana bertahan hidup di dalam sebuah sistem.

Lebih dari itu, manusia perlu terus bertanya: sistem seperti apa yang sedang kita bangun, siapa yang diuntungkan, siapa yang tertinggal, dan kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin kita wariskan?

Di antara papan tulis dan wajah negara, ia menemukan bahwa tugas seorang guru ilmu sosial sesungguhnya bukan sekadar menjelaskan masyarakat.

Melainkan membantu manusia memahami posisinya di dalam masyarakat, tanpa kehilangan keberanian untuk membayangkan masyarakat yang lebih baik.

Catatan pendekatan: Cerita ini merupakan nonfiksi reflektif, bukan laporan biografis tentang seseorang atau investigasi politik. Pengalaman dan situasi sosial disajikan sebagai potret kehidupan yang bersifat umum, sedangkan kritik terhadap pemerintahan diletakkan dalam kerangka pengawasan kekuasaan dan tanggung jawab warga negara.

Menurut saya, kekuatan utama naskah ini terletak pada gagasan bahwa guru bukan hanya pengajar tentang masyarakat, melainkan juga manusia yang hidup di dalam sistem sosial yang sedang diajarkannya.

Senin, 02 November 2026

Bimbingan Belajar Kembali Bergairah: TKA Membuka Peluang, Sekaligus Menguji Kesiapan Pendidikan

 


Bimbingan Belajar Kembali Bergairah: TKA Membuka Peluang, Sekaligus Menguji Kesiapan Pendidikan

Ada fenomena menarik dalam dunia pendidikan belakangan ini. Bimbingan belajar (bimbel), yang sempat mengalami perubahan pola layanan seiring berkembangnya teknologi pembelajaran digital, kini tampak kembali mendapatkan tempat di tengah masyarakat. Lembaga bimbingan belajar, baik yang sudah memiliki nama besar maupun yang dikelola secara sederhana oleh perorangan, kembali menawarkan berbagai program pendampingan akademik. Salah satu faktor yang ikut mendorong perhatian masyarakat terhadap bimbel adalah hadirnya kembali Tes Kemampuan Akademik (TKA).

TKA bukan sekadar rangkaian tes yang harus dihadapi murid. Bagi sebagian orang tua, kehadiran TKA juga menjadi sinyal bahwa persiapan akademik perlu dilakukan secara lebih terarah. Di sinilah bimbingan belajar menemukan momentum untuk kembali berkembang.

TKA dan Kekhawatiran Orang Tua

Setiap kali muncul kebijakan atau sistem evaluasi baru dalam dunia pendidikan, biasanya muncul pula kebutuhan untuk memahami dan mempersiapkannya. Orang tua ingin anaknya memperoleh hasil terbaik, sementara murid berusaha menyesuaikan diri dengan materi, bentuk soal, serta tuntutan kemampuan yang diujikan.

TKA menjadi salah satu faktor yang mendorong kebutuhan tersebut. Murid tidak hanya dituntut memahami materi pelajaran, tetapi juga perlu terbiasa membaca soal dengan cermat, menalar informasi, menerapkan konsep, dan mengelola waktu ketika mengerjakan tes.

Bagi sebagian keluarga, mengikuti bimbel dianggap sebagai salah satu cara untuk mempersiapkan diri. Ada yang memilih lembaga terkenal dengan fasilitas lengkap dan sistem pembelajaran terstruktur. Ada pula yang memilih bimbel lokal dengan jumlah peserta terbatas, biaya lebih terjangkau, dan pendekatan yang lebih dekat dengan kebutuhan murid.

Di tengah situasi ini, bimbel bukan hanya menawarkan pelajaran tambahan. Mereka juga menawarkan rasa tenang kepada orang tua bahwa anaknya telah memperoleh pendampingan untuk menghadapi tantangan akademik.

Namun, penting untuk dipahami bahwa mengikuti bimbel bukanlah jaminan keberhasilan dalam TKA. Hasil belajar tetap dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti kualitas pembelajaran di sekolah, kebiasaan belajar, dukungan keluarga, motivasi, serta kemampuan murid memahami materi.

Dari Bimbel Bermerek hingga Les Rumahan

Jika diperhatikan, bisnis bimbingan belajar memiliki karakter yang cukup menarik. Usaha ini dapat dijalankan dalam berbagai skala, mulai dari jaringan lembaga besar yang memiliki banyak cabang hingga les privat sederhana di rumah seorang guru.

Bimbel berskala besar biasanya memiliki keunggulan berupa sistem pembelajaran yang terstruktur, bank soal, modul belajar, jadwal rutin, serta program latihan yang disusun berdasarkan kebutuhan peserta. Sebagian juga menawarkan kelas daring, simulasi tes, dan laporan perkembangan belajar.

Sementara itu, bimbel kecil memiliki daya tarik tersendiri. Kedekatan antara pengajar dan murid sering menjadi nilai tambah. Jumlah peserta yang tidak terlalu banyak memungkinkan pengajar memberikan perhatian lebih kepada murid yang mengalami kesulitan.

Ada pula guru yang membuka kelas tambahan di rumah, mahasiswa yang menawarkan les privat, atau kelompok belajar kecil yang dibentuk berdasarkan kebutuhan mata pelajaran tertentu.

Perbedaan skala tersebut menunjukkan bahwa pasar bimbingan belajar cukup beragam. Tidak semua keluarga membutuhkan layanan yang sama. Sebagian membutuhkan program intensif dengan fasilitas lengkap, sedangkan yang lain lebih memerlukan pendampingan sederhana tetapi konsisten.

Dengan demikian, peluang usaha bimbel tidak hanya menjadi milik lembaga besar. Pengajar yang memiliki kompetensi, metode yang tepat, dan kepercayaan masyarakat juga berpeluang mengembangkan layanan pendidikan secara mandiri.

Ketika Pendidikan Bertemu dengan Bisnis

Di balik meningkatnya kebutuhan terhadap bimbingan belajar, terdapat pertanyaan yang patut direnungkan: apakah bimbel hadir semata-mata untuk membantu proses belajar, ataukah momentum evaluasi pendidikan juga menjadi peluang bisnis yang menjanjikan?

Keduanya sebenarnya tidak harus dipertentangkan. Bimbingan belajar merupakan layanan pendidikan yang sah dan dapat memberikan manfaat nyata. Pengelola membutuhkan pendapatan untuk membayar tenaga pengajar, menyediakan fasilitas, menyusun materi, dan mempertahankan kualitas layanan.

Masalah muncul ketika kekhawatiran orang tua dimanfaatkan secara berlebihan. Misalnya, ketika promosi bimbel memberikan kesan bahwa murid yang tidak mengikuti kelas tambahan akan tertinggal, atau ketika keberhasilan akademik seolah-olah hanya dapat diraih melalui program berbayar.

Pendidikan tidak seharusnya dibangun di atas rasa takut. Orang tua memang perlu mempersiapkan anak menghadapi evaluasi akademik, tetapi persiapan tersebut tidak harus selalu berarti mengeluarkan biaya tambahan.

Sekolah, guru, keluarga, dan murid tetap memiliki peran penting dalam membangun kesiapan belajar. Bimbel seharusnya menjadi pelengkap yang membantu proses tersebut, bukan satu-satunya jalan menuju keberhasilan.

Apakah Bimbel Menjadi Tanda Sekolah Belum Cukup?

Ramainya bimbingan belajar juga memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar tentang penyelenggaraan pendidikan.

Jika semakin banyak keluarga merasa perlu mencari pendampingan di luar sekolah, apakah hal itu menandakan bahwa pembelajaran di sekolah belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan murid?

Pertanyaan tersebut perlu dijawab secara hati-hati. Keberadaan bimbel tidak otomatis menunjukkan bahwa sekolah gagal. Ada murid yang mengikuti les karena ingin memperdalam materi, mengejar target tertentu, atau mendapatkan kesempatan berlatih lebih banyak. Ada pula yang membutuhkan penjelasan tambahan karena kecepatan belajarnya berbeda dengan teman sekelas.

Di sisi lain, fenomena ini dapat menjadi bahan refleksi bagi sekolah. Apakah pembelajaran sudah memberikan kesempatan yang cukup bagi murid untuk memahami materi? Apakah latihan soal telah mengembangkan penalaran, bukan sekadar menghafal pola jawaban? Apakah murid yang mengalami kesulitan telah memperoleh pendampingan yang memadai?

TKA semestinya tidak hanya menjadi tantangan bagi murid, tetapi juga menjadi momentum bagi sekolah untuk mengevaluasi proses pembelajaran. Jika tuntutan evaluasi menekankan pemahaman dan penalaran, pembelajaran di kelas pun perlu semakin memberi ruang bagi kedua kemampuan tersebut.

Guru tidak harus mengubah kelas menjadi tempat latihan soal tanpa henti. Justru, pembelajaran yang kontekstual, dialogis, dan mendorong murid berpikir kritis dapat membantu membangun kemampuan yang lebih mendasar.

Jangan Sampai Kesenjangan Pendidikan Semakin Lebar

Ada persoalan lain yang tidak boleh diabaikan, yakni kemampuan ekonomi keluarga.

Murid yang keluarganya mampu membayar bimbel berpeluang memperoleh tambahan fasilitas, materi latihan, dan pendampingan. Sebaliknya, murid yang memiliki keterbatasan ekonomi mungkin hanya mengandalkan pembelajaran di sekolah serta sumber belajar yang tersedia secara gratis.

Jika persiapan menghadapi TKA semakin identik dengan kursus berbayar, muncul risiko bahwa kesempatan belajar yang lebih intensif hanya dinikmati oleh kelompok tertentu.

Karena itu, sekolah perlu memastikan bahwa seluruh murid memperoleh akses terhadap informasi, latihan, dan pendampingan yang memadai. Guru dapat memanfaatkan kelompok belajar, pembahasan soal, perpustakaan, sumber belajar digital, serta kegiatan pengayaan dan remedial.

Teknologi juga membuka kesempatan untuk memperluas akses belajar. Materi digital, latihan soal, dan simulasi tes dapat dimanfaatkan tanpa selalu mengharuskan keluarga membayar biaya kursus.

Tentu saja, akses terhadap materi saja belum cukup. Murid tetap membutuhkan arahan, umpan balik, dan kebiasaan belajar yang teratur. Di sinilah peran guru dan lingkungan sekolah menjadi sangat penting.

Bimbel yang Baik Bukan Sekadar Menjual Nilai

Di tengah persaingan usaha bimbingan belajar, kualitas layanan seharusnya menjadi pembeda utama.

Bimbel yang baik tidak hanya menjanjikan nilai tinggi, tetapi juga membantu murid mengenali kesulitan belajarnya, memahami konsep, membangun kemandirian, dan mengembangkan strategi belajar yang sesuai.

Latihan soal memang diperlukan untuk mengenali bentuk pertanyaan dan mengukur kesiapan. Namun, latihan akan kurang bermakna apabila murid hanya menghafal pola jawaban tanpa memahami alasan di baliknya.

Terlebih ketika evaluasi menuntut kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan penerapan konsep. Murid membutuhkan proses belajar yang membuatnya mampu menjawab pertanyaan baru, bukan sekadar mengulang jawaban dari soal yang pernah dikerjakan.

Pengelola bimbel pun perlu memberikan informasi yang jujur tentang program, biaya, metode, dan hasil yang dapat diharapkan. Orang tua sebaiknya memilih layanan berdasarkan kebutuhan nyata anak, bukan semata-mata karena iklan atau kekhawatiran akan tertinggal dari orang lain.

Momentum untuk Memperbaiki Ekosistem Belajar

Kehadiran TKA dan meningkatnya perhatian terhadap bimbingan belajar dapat dibaca dari dua sisi. Bagi pelaku usaha, situasi ini membuka peluang untuk menyediakan layanan pendidikan yang dibutuhkan masyarakat. Bagi dunia pendidikan, fenomena ini menjadi pengingat bahwa kebutuhan belajar murid semakin beragam.

Bimbel boleh berkembang menjadi bisnis yang menjanjikan. Namun, keberhasilannya idealnya diukur bukan hanya dari banyaknya peserta atau besarnya pendapatan, melainkan juga dari manfaat yang diberikan kepada murid.

Sekolah tetap perlu memperkuat kualitas pembelajaran. Guru perlu terus mengembangkan metode yang mendorong pemahaman dan penalaran. Orang tua perlu memberikan dukungan tanpa menambah tekanan berlebihan. Sementara itu, murid perlu memahami bahwa persiapan akademik tidak dapat digantikan hanya dengan membayar biaya kursus.

Pada akhirnya, TKA seharusnya tidak membuat pendidikan terjebak dalam perlombaan membeli tambahan jam belajar. Evaluasi akademik perlu menjadi bagian dari proses untuk mengetahui kemampuan murid dan memperbaiki pembelajaran.

Bimbingan belajar dapat menjadi mitra yang bermanfaat dalam proses tersebut. Namun, pendidikan yang bermutu tidak boleh menjadi hak istimewa mereka yang mampu membayar lebih.

Sebab, tujuan utama pendidikan bukan sekadar membuat murid mampu menjawab soal pada hari ujian, melainkan membekali mereka dengan pengetahuan, keterampilan berpikir, dan kepercayaan diri untuk menghadapi persoalan kehidupan yang jauh lebih luas.

Di Antara Angka dan Kesempatan

 


Di Antara Angka dan Kesempatan

Cerita Pendek

Namanya Raka.

Ia bukan murid yang namanya sering disebut ketika upacara penghargaan berlangsung. Bukan pula anak yang fotonya terpampang di papan prestasi sekolah. Namanya jarang muncul dalam daftar sepuluh besar. Bahkan, untuk urusan nilai matematika, ia lebih sering berusaha menyelamatkan angka daripada mengejar nilai sempurna.

Raka adalah murid biasa. Setidaknya, begitulah orang-orang menilainya.

Ia bersekolah di sebuah lembaga pendidikan yang letaknya tidak jauh dari pusat kecamatan. Bangunannya cukup sederhana. Halamannya tidak terlalu luas. Fasilitas laboratoriumnya juga tidak selengkap sekolah-sekolah yang sering menjadi kebanggaan masyarakat kota.

Orang-orang punya sebutan sendiri untuk sekolahnya.

Bukan sekolah favorit.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi memiliki kekuatan yang aneh. Seolah-olah sebuah sekolah bisa dinilai hanya dari popularitasnya. Seolah-olah anak-anak yang belajar di dalamnya sudah memiliki batas kemampuan sebelum mereka sempat membuktikan sesuatu.

Suatu sore, ketika Raka pulang bersama ibunya dari pasar, mereka bertemu dengan seorang tetangga.

"Anakmu sekarang sekolah di mana?" tanya perempuan itu.

"Di sekolah dekat kecamatan," jawab ibunya.

"Oh, di sana, ya? Kenapa tidak masuk sekolah yang lebih bagus?"

Ibunya hanya tersenyum.

"Ya, mungkin belum rezekinya," jawabnya pelan.

Perempuan itu kemudian berkata, "Kalau sekolahnya kurang bagus, nanti pengaruh juga sama kualitas anaknya."

Raka mendengar semuanya.

Ia tidak menjawab. Hanya berjalan sedikit lebih cepat.

Malamnya, kalimat itu kembali terngiang di kepalanya.

Apakah benar sekolah menentukan kualitas seseorang? Apakah anak yang belajar di sekolah yang tidak terkenal akan selalu kalah dari mereka yang bersekolah di tempat yang lebih bergengsi?

Pertanyaan itu tidak segera menemukan jawaban.


Di kelas, Raka duduk di barisan tengah dekat jendela. Ia tidak malas belajar. Ia hanya tidak selalu mampu memahami apa yang disampaikan guru.

Terutama matematika.

Angka-angka seperti memiliki dunianya sendiri. Rumus datang silih berganti. Satu persoalan belum selesai dipahami, persoalan lain sudah muncul di papan tulis.

Pada pelajaran IPA, keadaannya tidak jauh berbeda. Ia bisa mengikuti penjelasan tentang lingkungan, kehidupan, dan fenomena alam. Namun, ketika pelajaran mulai dipenuhi perhitungan, rumus, serta persoalan yang membutuhkan ketelitian matematis, pikirannya mudah tertinggal.

Nilainya tidak pernah benar-benar buruk, tetapi juga tidak cukup baik untuk membuatnya bangga.

Pada suatu hari, guru matematika membagikan hasil ulangan.

"Raka, nilaimu masih harus ditingkatkan," kata gurunya.

"Iya, Pak."

"Kamu sebenarnya bisa kalau lebih serius."

Raka mengangguk.

Ia ingin menjelaskan bahwa dirinya sudah belajar. Bahwa beberapa malam terakhir ia menghabiskan waktu mengulang materi. Bahwa ia bahkan meminta temannya mengajarinya. Namun, tetap saja ada bagian yang tidak ia pahami.

Tetapi ia memilih diam.

Di rumah, ia membuka buku matematika. Menatap beberapa soal yang belum bisa dikerjakan. Setelah beberapa menit, ia menutupnya.

Ada perasaan kecewa yang sulit dijelaskan.

Ia mulai membandingkan dirinya dengan teman-temannya. Ada yang cepat memahami rumus, ada yang selalu mendapatkan nilai tinggi, dan ada yang sudah membicarakan universitas impian.

Sementara itu, Raka masih berkutat dengan pertanyaan sederhana: apakah ia benar-benar mampu?

Kadang-kadang ia optimis. Ia merasa setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda. Tidak semua orang harus pandai berhitung untuk menjadi manusia berguna.

Namun, pada hari-hari tertentu, pikirannya berubah.

Mungkin memang dirinya tidak cukup pintar.

Mungkin masa depannya tidak akan jauh berbeda dengan keadaan sekarang.

Mungkin orang-orang yang mengatakan bahwa ia berasal dari sekolah biasa memang benar.

Di antara dua pikiran itu, Raka sering merasa lelah.


Suatu pagi, dalam pelajaran bimbingan karier, guru meminta seluruh murid menuliskan cita-cita dan rencana setelah lulus.

Kelas menjadi ramai.

Ada yang ingin menjadi dokter, insinyur, pengusaha, anggota TNI, polisi, guru, dan berbagai profesi lainnya.

Raka memandangi kertas kosong di hadapannya.

Ia ingin kuliah. Sebenarnya sudah lama keinginan itu ada. Ia ingin belajar lebih jauh, mengenal banyak hal, dan memiliki pekerjaan yang layak. Namun, keinginan itu selalu berhadapan dengan satu kenyataan: biaya.

Ayahnya bekerja sebagai buruh harian. Ibunya membantu menambah penghasilan keluarga dengan berjualan makanan kecil. Penghasilan mereka cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, meskipun harus selalu dihitung dengan cermat.

Membicarakan kuliah bukan perkara sederhana.

Biaya pendaftaran, uang kuliah, tempat tinggal, transportasi, buku, dan kebutuhan lainnya seperti membentuk tembok tinggi di hadapan Raka.

Ia pernah mendengar cerita seorang alumni yang diterima di perguruan tinggi negeri, tetapi akhirnya tidak melanjutkan karena persoalan biaya hidup.

Ia juga pernah membaca berita tentang mahasiswa yang harus bekerja sambil kuliah demi membayar kebutuhan pendidikannya.

Dari situ, Raka mulai berpikir.

Katanya, pendidikan adalah jalan untuk memperbaiki kehidupan. Katanya, setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan.

Tetapi mengapa jalan itu terasa begitu berbeda bagi setiap orang?

Bagi sebagian anak, kuliah adalah pilihan. Mereka tinggal menentukan universitas dan jurusan yang disukai.

Bagi anak-anak seperti dirinya, kuliah sering kali menjadi pertanyaan panjang: apakah mampu membayar? Apakah orang tua sanggup? Apakah ada biaya untuk bertahan hidup setelah diterima?

Ia tidak sedang menyalahkan siapa pun. Ia hanya ingin memahami mengapa kesempatan yang sama sering kali tidak benar-benar tersedia bagi semua orang.

Raka kemudian menulis satu kalimat di kertasnya.

Saya ingin kuliah, tetapi saya belum tahu apakah keadaan akan mengizinkan.


Beberapa hari kemudian, sekolah mengadakan diskusi kecil tentang masa depan pendidikan. Seorang narasumber datang untuk berbagi pengalaman. Ia berbicara tentang pentingnya prestasi akademik, kemampuan numerasi, penguasaan teknologi, dan persaingan dunia kerja.

Semua terdengar masuk akal.

Namun, ada satu kalimat yang membuat Raka terusik.

"Generasi muda harus memiliki kualitas sumber daya manusia yang tinggi. Jangan sampai kemampuan akademiknya rendah, terutama dalam matematika dan sains. Kalau kemampuan eksaktanya lemah, bagaimana kita bisa bersaing?"

Raka memahami maksud pembicara itu. Matematika dan sains memang penting. Kemampuan berpikir logis, analitis, dan memecahkan masalah dibutuhkan dalam banyak bidang kehidupan.

Tetapi ia merasa ada sesuatu yang belum lengkap.

Apakah kualitas manusia hanya ditentukan oleh kemampuan akademik?

Apakah seseorang yang tidak unggul dalam matematika otomatis memiliki kualitas sumber daya manusia yang rendah?

Bagaimana dengan anak yang pandai berkomunikasi, mampu mengorganisasi kegiatan, memiliki kepedulian sosial, terampil bekerja, kreatif, dan mampu memahami persoalan masyarakat?

Apakah semua itu tidak termasuk kualitas manusia?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar dalam pikirannya.

Saat sesi tanya jawab dibuka, Raka mengangkat tangan.

"Pak, apakah anak yang nilai matematika dan IPA-nya biasa saja bisa dianggap memiliki kualitas sumber daya manusia yang baik?"

Narasumber itu tersenyum.

"Tentu bisa. Tetapi kemampuan akademik tetap penting."

"Kalau begitu, mengapa masyarakat sering menganggap anak yang tidak pandai pelajaran eksakta sebagai anak yang kurang berkualitas?"

Ruangan mendadak lebih tenang.

"Barangkali karena masyarakat terlalu sering mengukur kemampuan seseorang dari angka-angka," jawab narasumber itu.

Raka melanjutkan pertanyaannya.

"Kalau sekolah yang tidak favorit dianggap menghasilkan anak-anak yang kurang berkualitas, bagaimana anak-anak di sekolah seperti kami bisa mendapat kesempatan untuk membuktikan kemampuan? Apalagi kalau untuk kuliah saja biayanya tidak mudah dijangkau."

Kali ini narasumber terdiam sejenak.

Ia kemudian menjawab bahwa pendidikan memang masih menghadapi persoalan ketimpangan. Ada perbedaan fasilitas, kualitas layanan, kemampuan ekonomi keluarga, dan kesempatan memperoleh pendidikan lanjutan. Semua itu perlu diperbaiki bersama.

Raka tidak mendapatkan jawaban yang mampu menyelesaikan seluruh kegelisahannya.

Namun, setidaknya ia tahu bahwa pertanyaannya bukan sesuatu yang berlebihan.


Malam itu, Raka berbicara dengan ayahnya di teras rumah.

"Ayah, menurut Ayah, Raka bisa kuliah?"

Ayahnya yang sedang memperbaiki sandal menoleh.

"Kenapa bertanya begitu?"

"Biaya kuliah mahal, Yah. Raka juga bukan anak yang pintar-pintar sekali."

Ayahnya meletakkan sandal yang sedang diperbaikinya.

"Memangnya orang pintar itu hanya yang nilainya tinggi?"

Raka tidak menjawab.

"Ayah tidak tahu nanti kamu akan jadi apa. Ayah juga tidak bisa menjanjikan uang yang banyak. Tapi selama ada kesempatan, jangan berhenti mencoba."

"Tapi kalau ternyata tidak bisa?"

"Ya, kita cari jalan lain. Hidup tidak berhenti hanya karena satu pintu tertutup."

Raka menunduk.

Ayahnya melanjutkan, "Ayah dulu tidak punya kesempatan sekolah tinggi. Bukan berarti Ayah tidak ingin. Keadaan saja yang tidak memungkinkan. Ayah tidak mau kamu mengalami hal yang sama kalau masih ada jalan yang bisa diperjuangkan."

Kalimat itu membuat Raka terdiam cukup lama.

Ia menyadari bahwa pesimismenya bukan hanya lahir dari nilai-nilai yang rendah. Ada rasa takut mengecewakan orang tua. Ada kecemasan tentang masa depan. Ada perasaan bahwa dunia sudah memiliki tempat bagi orang-orang yang lebih unggul, sementara dirinya harus puas berada di pinggir.

Namun, ia juga mulai memahami sesuatu.

Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan kemampuan pribadi. Ada persoalan yang memang harus diperbaiki oleh masyarakat dan negara.

Anak-anak tidak cukup hanya diminta bekerja keras jika kesempatan untuk berkembang tidak tersedia secara merata.

Semangat belajar memang penting, tetapi fasilitas pendidikan, biaya yang terjangkau, beasiswa yang tepat sasaran, dan sistem seleksi yang adil juga tidak kalah penting.

Menyuruh semua anak berlari tidak akan menghasilkan perlombaan yang adil jika garis awal mereka berbeda jauh.


Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa.

Raka tetap bukan murid paling pandai di kelas. Nilai matematikanya masih harus diperbaiki. Ia juga tidak mendadak menjadi anak yang memahami semua pelajaran eksakta.

Tetapi ada perubahan kecil dalam dirinya.

Ia mulai lebih berani berbicara ketika diskusi berlangsung. Ia aktif membantu kegiatan kelas. Ia mencoba menulis tentang persoalan pendidikan yang pernah dipikirkannya. Ia juga mulai mencari informasi tentang beasiswa dan berbagai kemungkinan melanjutkan pendidikan.

Tidak semua usahanya berhasil.

Beberapa kali ia menemukan persyaratan yang terasa sulit dipenuhi. Ada pula informasi yang membuatnya kembali ragu. Kadang-kadang ia masih merasa bahwa mimpinya terlalu tinggi untuk keadaan keluarganya.

Tetapi kali ini ia tidak segera menyerah pada pikirannya sendiri.

Suatu siang, seorang teman bertanya kepadanya.

"Rak, kamu nanti mau kuliah di mana?"

"Belum tahu."

"Lho, katanya ingin kuliah?"

"Iya. Ingin, tetapi belum tahu bagaimana caranya."

Temannya tertawa kecil.

"Kalau tidak punya nilai bagus, susah, Rak."

Raka tersenyum tipis.

"Mungkin memang susah. Tapi kalau dari sekarang sudah memutuskan tidak bisa, kapan kita akan mencoba?"

Temannya tidak menjawab.

Raka memandang halaman sekolah. Beberapa murid sedang duduk di bawah pohon. Ada yang membaca buku, ada yang bercanda, dan ada yang sibuk dengan telepon genggamnya.

Sekolah itu mungkin bukan sekolah favorit menurut ukuran masyarakat. Murid-muridnya mungkin tidak semuanya unggul secara akademis. Fasilitasnya mungkin masih jauh dari sempurna.

Namun, di tempat itu ada anak-anak yang memiliki mimpi, kemampuan, dan kesempatan untuk berkembang.

Mereka bukan kumpulan manusia dengan kualitas yang lebih rendah.

Mereka hanya sedang belajar dengan segala keterbatasan yang dimiliki.

Raka kemudian teringat sebuah kalimat yang pernah dibacanya:

Jangan mengukur kualitas seseorang hanya dari kemampuan yang kebetulan paling mudah diukur.

Ia tidak tahu apakah kelak akan berhasil masuk perguruan tinggi. Ia juga tidak tahu apakah suatu hari nanti bisa mengubah kehidupan keluarganya.

Ada optimisme yang ingin ia pertahankan, tetapi ada pula pesimisme yang sesekali datang tanpa diundang.

Ia adalah remaja biasa yang sedang mencoba memahami dunia yang tidak selalu memberikan kesempatan secara sama.

Sebelum pulang, Raka berhenti sejenak di depan papan pengumuman sekolah. Di sana terpampang tulisan tentang pentingnya membangun sumber daya manusia unggul.

Ia membacanya perlahan.

Kemudian, dalam hati, ia bertanya:

Jika kualitas manusia hanya diukur dari nilai matematika, siapa yang akan menghargai mereka yang memiliki kecerdasan lain?

Jika pendidikan disebut sebagai hak setiap anak, mengapa kesempatan untuk mencapainya masih begitu mahal?

Dan jika sekolah yang tidak favorit dianggap melahirkan murid yang tidak berkualitas, siapa sebenarnya yang sedang gagal: muridnya, sekolahnya, masyarakatnya, atau sistem yang belum memberikan kesempatan secara adil?

Raka berjalan meninggalkan papan pengumuman.

Besok ia masih harus menghadapi matematika. Mungkin nilainya kembali biasa saja. Mungkin ia masih akan kesulitan memahami beberapa rumus.

Tetapi ia tidak ingin lagi menganggap dirinya sebagai manusia yang gagal hanya karena tidak unggul dalam pelajaran tertentu.

Ia memang belum menjadi siapa-siapa.

Namun, ia juga belum selesai menjadi seseorang.

Dan barangkali, itulah hal yang paling sering dilupakan orang dewasa ketika menilai seorang remaja: mereka terlalu cepat menentukan kualitas seseorang, padahal perjalanan hidupnya bahkan belum dimulai sepenuhnya.

Tamat.

Catatan kekuatan cerita

Ada tiga lapisan persoalan yang sengaja dibangun dalam cerita ini:

  1. Persoalan personal: Raka mengalami konflik batin antara optimisme dan pesimisme. Ia mulai menginternalisasi stigma bahwa dirinya kurang cerdas karena tidak unggul dalam pelajaran eksakta.

  2. Persoalan sosial: Masyarakat cenderung mengukur kualitas murid berdasarkan nilai akademik, popularitas sekolah, dan prestasi yang mudah dipamerkan.

  3. Persoalan struktural: Kesempatan pendidikan tinggi tidak sepenuhnya setara karena kemampuan ekonomi keluarga, biaya kuliah, fasilitas, dan akses informasi.

Pesan utama: Anak yang tidak menonjol secara akademis bukan berarti memiliki kualitas sumber daya manusia yang rendah. Pendidikan seharusnya membuka kesempatan bagi setiap anak untuk berkembang, bukan sekadar menjadi alat untuk mengelompokkan siapa yang pintar dan siapa yang dianggap kurang pintar.

Cerita ini juga sengaja tidak memberikan akhir yang terlalu manis. Raka belum berhasil mengatasi semua persoalannya. Sebab, dalam kehidupan nyata, optimisme seseorang tidak selalu mampu menghapus keterbatasan sistem yang dihadapinya.

Kamis, 29 Oktober 2026

Gelar yang Menunggu Dipanggil

 


Gelar yang Menunggu Dipanggil

Cerpen tentang ijazah, persaingan, dan keberanian mencari jalan di luar kampung halaman

Pagi itu, aula gedung pameran dipenuhi ribuan orang. Mereka datang membawa map, ijazah, CV, dan harapan yang dibungkus rapi dalam pakaian terbaik masing-masing. Sebagian mengenakan kemeja putih, sebagian lagi berdiri dalam antrean panjang di depan stan perusahaan.

Di antara kerumunan itu, seorang perempuan bernama Rani menggenggam map biru. Di dalamnya tersimpan ijazah sarjana, transkrip nilai, sertifikat pelatihan, dan beberapa lembar CV yang sudah berkali-kali ia cetak.

Ia datang ke bursa kerja, atau yang lebih dikenal dengan job fair, untuk kesekian kalinya.

Empat tahun lalu, Rani mengenakan toga dengan senyum yang nyaris tak muat di wajahnya. Ibunya menangis bahagia. Ayahnya menepuk bahunya berkali-kali, seolah ingin memastikan bahwa semua pengorbanan mereka akhirnya sampai pada sebuah tujuan.

Hari itu, gelar sarjana terasa seperti pintu yang baru saja terbuka.

Rani membayangkan kehidupan setelah wisuda: pekerjaan yang layak, penghasilan sendiri, membantu orang tua, dan sesekali membelikan sesuatu yang selama ini hanya bisa ia pandangi di etalase toko.

Ia tahu mencari pekerjaan membutuhkan usaha. Karena itu, ia mengikuti pelatihan, belajar membuat CV yang menarik, memperbaiki kemampuan berbicara, dan mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan.

Ia juga pernah menggantungkan harapan pada seleksi aparatur sipil negara atau ASN. Baginya, menjadi ASN bukan semata-mata soal seragam, status, atau penghasilan tetap. Ia membayangkan pekerjaan yang lebih terjamin, kesempatan mengabdi kepada masyarakat, dan kebahagiaan sederhana ketika bisa membantu orang tuanya tanpa terus-menerus memikirkan biaya hidup bulan berikutnya.

Maka, ketika pendaftaran seleksi ASN dibuka, Rani mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh.

Ia mempelajari materi tes, mengerjakan soal-soal latihan, dan menghabiskan banyak malam di depan layar komputer. Ia mengikuti informasi seleksi, membaca pengumuman, dan berusaha meyakinkan dirinya bahwa kerja keras akan membawanya lebih dekat pada cita-cita.

Namun, hasil seleksi tidak berpihak kepadanya.

Ia tidak lolos seleksi ASN di tingkat pusat. Ia mencoba lagi melalui formasi daerah, tetapi hasilnya tetap sama. Di antara ratusan pelamar yang memperebutkan sejumlah kecil formasi, namanya tidak termasuk dalam daftar peserta yang berhasil.

Ada formasi yang hanya menyediakan beberapa kursi, sementara pelamarnya datang dari berbagai daerah dengan bekal pendidikan dan persiapan yang tidak kalah serius.

Rani tidak bisa menyebut para pesaingnya tidak lebih pantas. Ia juga tidak bisa menyimpulkan dirinya tidak memiliki kemampuan hanya karena gagal memenuhi ambang persaingan pada seleksi tersebut.

Ia hanya tahu bahwa ia sudah belajar, sudah berusaha, dan tetap belum berhasil.

Yang paling berat bukanlah melihat namanya tidak tercantum dalam pengumuman. Yang paling berat adalah kembali menjelaskan kepada orang tua bahwa ia harus mencoba lagi, atau mencari jalan lain.

Setiap kali pengumuman keluar, harapan yang sudah ia bangun berhari-hari seolah harus disusun ulang dari awal.

Waktu berjalan, sedangkan kebutuhan hidup tidak pernah menunggu seseorang merasa siap.

Lamaran demi lamaran terkirim. Sebagian tidak mendapat jawaban. Sebagian lain berhenti setelah wawancara. Ada pula yang memberinya kalimat sopan tentang kandidat lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Kalimat itu selalu terdengar wajar. Tidak ada yang salah dengannya. Hanya saja, ketika diterima berkali-kali, kalimat yang sama bisa berubah menjadi pertanyaan panjang di kepala seseorang.

Kalau bukan aku yang dibutuhkan, lalu selama ini aku sedang dipersiapkan untuk apa?

Rani pernah menghitung biaya kuliahnya. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan untuk mengukur seberapa besar perjalanan yang telah ditempuhnya. Ada uang pendaftaran, biaya semester, buku, transportasi, makan, tugas-tugas, dan berbagai kebutuhan yang sering kali tak terlihat dalam hitungan resmi.

Ada pula waktu yang tak bisa dikembalikan: malam-malam mengerjakan tugas, akhir pekan yang habis untuk menyelesaikan laporan, serta tahun-tahun ketika ia memilih belajar sementara sebagian temannya sudah mulai bekerja.

Semua itu telah dibayar dengan uang, tenaga, dan kesabaran.

Tetapi ijazahnya belum juga membawanya ke tempat yang ia harapkan.

Di depan salah satu stan perusahaan, antrean mengular. Rani memperhatikan wajah-wajah di sekelilingnya. Ada seorang pemuda yang terus membaca CV-nya sendiri, seorang perempuan yang merapikan jilbab sebelum menyerahkan berkas, dan seorang laki-laki yang menelepon seseorang sambil berkata bahwa ia masih mencoba.

Mereka datang dari berbagai kota, membawa gelar yang berbeda, tetapi menghadapi pintu yang sama.

Di Jawa, terutama di kota-kota besar, persaingan terasa begitu rapat. Banyak pencari kerja berkumpul di wilayah yang sama karena di sanalah berbagai kantor perusahaan, kawasan industri, pusat perdagangan, dan lembaga pemerintahan berada. Sementara itu, jumlah orang yang membutuhkan pekerjaan terus bertambah.

Akibatnya, satu lowongan bisa diperebutkan oleh ratusan pelamar. Ada yang memiliki IPK tinggi, pengalaman magang, kemampuan bahasa asing, dan sertifikat tambahan. Ada pula yang sudah bekerja beberapa tahun, tetapi terpaksa kembali bersaing karena kehilangan pekerjaan.

Persaingan untuk menjadi ASN pun memperlihatkan kenyataan serupa. Satu formasi bisa menarik banyak pelamar, sementara jumlah orang yang diterima dibatasi oleh kebutuhan dan kuota yang tersedia. Mereka yang gagal bukan selalu orang yang malas belajar atau tidak memiliki kemampuan. Dalam persaingan yang ketat, ada banyak orang yang memenuhi syarat, tetapi hanya sebagian yang bisa memperoleh kursi.

Rani mulai memahami bahwa usaha dan hasil tidak selalu berjalan beriringan. Kerja keras memang penting, tetapi kesempatan juga memiliki peran. Dan ketika kesempatan terbatas, orang yang telah berusaha pun bisa berada di pihak yang belum terpilih.

Ia bukan tidak memiliki kemampuan. Ia hanya berada di tengah persaingan yang membuat kemampuan saja terkadang belum cukup.

Lalu, ia mulai bertanya-tanya, apakah selama ini ia terlalu sibuk mengetuk pintu yang sama?

Beberapa hari setelah job fair, Rani membuka peta Indonesia di layar telepon genggamnya. Selama kuliah, ia sering membayangkan masa depan di Jawa. Rasanya wajar. Di sinilah keluarganya tinggal, teman-temannya berkumpul, dan lingkungan yang dikenalnya sejak kecil.

Namun, peta itu memperlihatkan sesuatu yang selama ini jarang ia pikirkan dengan sungguh-sungguh: Indonesia jauh lebih luas daripada lingkaran tempat ia mencari pekerjaan.

Di Sumatra, terdapat perkebunan, industri pengolahan, pertambangan, perdagangan, transportasi, dan jasa yang membutuhkan tenaga kerja dengan beragam keterampilan. Di Kalimantan, kegiatan pertambangan, energi, perkebunan, logistik, serta pembangunan di sejumlah wilayah membuka jenis pekerjaan yang mungkin tidak banyak ia temukan di daerah asalnya.

Sulawesi memiliki peluang dalam industri pengolahan, pertambangan, pertanian, perikanan, perdagangan, dan sektor jasa. Sementara itu, berbagai daerah di Bali, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua memiliki kebutuhan tenaga kerja di bidang pariwisata, pendidikan, kesehatan, perikanan, konstruksi, dan pelayanan publik, bergantung pada kondisi serta perkembangan masing-masing daerah.

Rani mulai memahami bahwa peluang kerja tidak selalu berkumpul di tempat yang paling ramai dibicarakan.

Namun, pindah pulau bukanlah jawaban ajaib.

Di balik lowongan kerja yang mungkin lebih sesuai, ada ongkos perjalanan, biaya tempat tinggal, jarak dari keluarga, perbedaan budaya, dan lingkungan baru yang harus dipelajari. Tidak semua daerah memiliki fasilitas transportasi, layanan kesehatan, atau pilihan tempat tinggal yang sama mudahnya. Sebagian pekerjaan juga berada jauh dari pusat kota, dengan pola kerja dan kondisi lingkungan yang tidak cocok bagi semua orang.

Di daerah tertentu, upah yang ditawarkan mungkin terlihat menarik, tetapi biaya hidup, transportasi, dan kebutuhan untuk pulang ke kampung halaman dapat mengurangi penghasilan yang benar-benar bisa ditabung.

Belum lagi risiko lowongan palsu, kontrak yang tidak jelas, atau perusahaan yang meminta biaya rekrutmen dengan dalih administrasi.

Rani tahu, ia tidak boleh berpindah hanya karena putus asa. Ia harus berpindah dengan pertimbangan.

Ia mulai membandingkan lowongan berdasarkan bidang pekerjaan, gaji bersih, biaya hidup, fasilitas tempat tinggal, keamanan kerja, dan kesempatan untuk berkembang. Ia mencari informasi perusahaan sebelum mengirimkan lamaran. Ia juga memikirkan satu hal yang sebelumnya selalu ia anggap sepele: apakah ia bersedia membangun kehidupan di tempat yang belum pernah ia tinggali?

Ternyata, mencari pekerjaan bukan sekadar mencari siapa yang bersedia menerimanya. Ia juga perlu mencari tempat yang memungkinkan dirinya bertumbuh.

Suatu malam, ibunya bertanya apakah ia sudah mendapat panggilan kerja.

Rani menjawab belum.

Ia tidak ingin berbohong, tetapi juga tidak ingin membuat ibunya semakin cemas. Untuk sesaat, ia teringat wajah ayahnya saat menyerahkan toga setelah wisuda. Ada harapan yang tak pernah diucapkan, tetapi selalu terasa: setelah semua biaya dan pengorbanan itu, semoga anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik.

Rani mengerti harapan tersebut. Ia pun menginginkannya.

Ia juga mulai memahami bahwa orang tuanya tidak pernah benar-benar menuntutnya menjadi orang kaya. Mereka hanya ingin melihat pendidikan yang telah diperjuangkan bersama itu memberinya kehidupan yang lebih baik. Mereka ingin melihat anaknya mandiri, memiliki pekerjaan, dan tidak terus-menerus merasa menjadi beban keluarga.

Justru karena itulah, setiap kegagalan terasa begitu berat.

Namun, Rani mulai menyadari bahwa pendidikan tidak selalu menghasilkan buah pada musim yang sama. Ada orang yang segera mendapat pekerjaan setelah lulus. Ada yang harus menunggu berbulan-bulan, berpindah kota, berganti bidang, atau memulai dari pekerjaan yang tidak persis sesuai dengan jurusannya.

Tentu saja, keadaan itu tidak berarti sistem pendidikan dan dunia kerja boleh dibiarkan berjalan tanpa hubungan yang jelas. Lulusan membutuhkan kesempatan nyata, bukan sekadar nasihat untuk terus bersabar. Kampus, pemerintah, dan dunia usaha juga memiliki peran untuk mempertemukan keterampilan dengan kebutuhan kerja.

Seleksi ASN pun bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang sarjana. Menjadi ASN merupakan pilihan pengabdian yang terhormat, tetapi bukan berarti mereka yang tidak lolos kehilangan kesempatan untuk berkontribusi kepada masyarakat. Sebaliknya, mereka yang memilih bekerja di perusahaan, membangun usaha, menjadi pendidik, atau mengembangkan keterampilan di bidang lain juga memiliki jalan pengabdian masing-masing.

Rani tidak ingin menjadikan kalimat itu sebagai penghiburan kosong. Ia tahu, idealisme tidak bisa membayar kebutuhan sehari-hari. Ia tetap membutuhkan penghasilan, kepastian kerja, dan kesempatan untuk berkembang.

Namun, ia tidak ingin seluruh masa depannya bergantung pada satu jenis seleksi atau satu pintu penerimaan.

Ia memutuskan tidak lagi membatasi pencarian kerja hanya di Jawa. Ia mulai mempertimbangkan Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan daerah lain yang memiliki lowongan sesuai dengan kemampuan serta tujuan hidupnya.

Ia tidak menganggap meninggalkan Jawa sebagai kekalahan. Ia juga tidak menganggap bertahan di Jawa sebagai kesalahan.

Baginya, pulau hanyalah wilayah di peta. Yang lebih penting adalah apakah sebuah pekerjaan memberinya penghidupan yang layak, perlindungan yang memadai, dan kesempatan untuk menggunakan ilmu yang telah dipelajarinya.

Jika kesempatan itu datang dari tempat yang jauh, ia akan mempertimbangkannya. Jika kesempatan terbaik justru ada di dekat rumah, ia pun tidak akan merasa kurang berani karenanya.

Pagi berikutnya, Rani kembali membuka laptop. Ia memperbarui CV, mencari informasi perusahaan, dan mengirimkan lamaran ke beberapa daerah.

Tidak ada jaminan bahwa usahanya kali ini akan berhasil. Namun, ia tidak lagi memandang peta Indonesia sebagai kumpulan wilayah yang jauh dari rumah. Peta itu kini tampak seperti kumpulan kemungkinan.

Di samping laptop, ijazahnya tergeletak di dalam map biru.

Rani menatap gelar sarjana yang tercetak di sana. Selama ini, ia mengira gelar itu adalah jawaban atas pengorbanan orang tuanya, atas empat tahun kuliah, dan atas harapan bahwa pendidikan akan membuat hidupnya lebih baik.

Kini ia mulai memahami bahwa gelar tersebut bukanlah tiket yang otomatis membawanya ke sebuah pekerjaan. Ia juga bukan sekadar hiasan untuk dipajang di dinding.

Gelar itu adalah bukti bahwa ia pernah belajar menyelesaikan persoalan, mengolah informasi, menyusun argumen, dan bertahan melalui proses panjang. Semua kemampuan itu masih memiliki nilai, meskipun belum ada perusahaan yang bersedia membayarnya.

Barangkali, menjadi sarjana bukan hanya soal memperoleh pekerjaan sesuai jurusan. Barangkali, menjadi sarjana juga berarti memiliki keberanian untuk membaca kenyataan, mengakui keterbatasan, dan mencari jalan ketika jalan yang diharapkan ternyata tertutup.

Tetapi Rani tidak ingin menjadikan pemikiran itu sebagai alasan untuk memaklumi semua kesulitan. Ia tetap ingin bekerja. Ia tetap ingin mandiri. Ia ingin pendidikan yang ditempuhnya benar-benar membuka kesempatan, bukan berhenti sebagai kebanggaan saat wisuda.

Di luar jendela, matahari mulai meninggi.

Rani menekan tombol kirim pada lamaran terakhirnya. Kali ini, perusahaan yang dituju berada di sebuah kota di luar Jawa.

Ia belum tahu apakah kelak akan bekerja di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, atau tetap di tanah kelahirannya. Ia juga belum tahu kapan namanya akan dipanggil.

Namun, ia akhirnya mengerti bahwa masa depan tidak selalu menunggu di tempat seseorang memulai perjalanan.

Kadang-kadang, seseorang perlu memperluas pandangan untuk menemukan pintu yang selama ini luput dari perhatian.

Sebab, gelar sarjana tidak menjamin dunia menyediakan tempat. Tidak lolos ASN bukan bukti bahwa seluruh perjuangannya sia-sia. Dan belum diterima bekerja bukan berarti ia tidak memiliki nilai.

Mungkin, yang perlu dipertanyakan bukan hanya mengapa seorang sarjana belum mendapat pekerjaan, melainkan juga mengapa begitu banyak orang yang telah belajar bertahun-tahun harus berebut kursi yang jumlahnya begitu terbatas.

Di tengah persaingan yang semakin ketat, keberanian memang diperlukan untuk terus mencoba. Namun, keberanian juga berarti bersedia mengubah arah, mencari peluang di tempat lain, dan menilai keberhasilan dengan lebih luas tanpa mengabaikan kebutuhan akan pekerjaan yang layak.

Rani masih seorang sarjana yang menunggu dipanggil.

Tetapi kali ini, ia tidak hanya menunggu sebuah nama disebut dalam pengumuman seleksi atau sebuah perusahaan menghubunginya.

Ia sedang belajar mencari arah, sambil tetap percaya bahwa empat tahun pendidikannya tidak harus berakhir sebagai kenangan tentang sebuah toga.

Sebab, pendidikan seharusnya bukan sekadar jalan menuju pekerjaan. Pendidikan juga harus menjadi bekal untuk menemukan jalan ketika pekerjaan yang diharapkan belum kunjung datang.