KETIKA CANDAAN BERUBAH MENJADI PERUNDUNGAN
Mengenali Bullying, Shaming, dan Kekerasan Sosial yang Sering Tidak Kita Sadari di Sekolah
Pernahkah kita menertawakan teman karena salah menjawab pertanyaan guru? Pernahkah kita memanggil seseorang dengan nama yang sebenarnya tidak ia sukai? Atau pernahkah kita sengaja tidak mengajak seorang teman masuk dalam kelompok hanya karena ia dianggap kurang pintar, kurang gaul, atau berbeda dari yang lain?
Mungkin kita menganggapnya biasa. Sekadar bercanda. Tidak ada maksud menyakiti. Bahkan, bisa jadi kita merasa sedang menciptakan suasana akrab.
Namun, pernahkah kita berpikir bagaimana perasaan orang yang menjadi sasaran?
Di sekolah, tidak semua kekerasan datang dalam bentuk pukulan, tendangan, atau ancaman. Ada kekerasan yang tidak meninggalkan bekas pada tubuh, tetapi bisa memengaruhi kepercayaan diri, harga diri, dan hubungan sosial seseorang.
Kekerasan semacam ini sering kali berlangsung tanpa disadari oleh pelakunya.
1. Bullying: Ketika Seseorang Menjadi Sasaran Berulang
Bullying atau perundungan adalah perilaku agresif yang dilakukan secara berulang, disertai ketimpangan kekuatan atau posisi antara pelaku dan korban. Ketimpangan itu tidak selalu berupa kekuatan fisik. Bisa juga karena jumlah teman, popularitas, status sosial, pengaruh dalam kelompok, atau posisi tertentu.
Contoh yang sering terjadi di sekolah:
Name calling: Memanggil teman dengan julukan yang merendahkan, seperti si bodoh, si miskin, si pendek, atau sebutan lain yang membuatnya tidak nyaman.
Social exclusion: Sengaja mengucilkan seseorang dari kelompok pertemanan, kegiatan, atau kerja kelompok secara berulang.
Intimidation: Mengancam teman agar menuruti kemauan kelompok tertentu.
Ridicule: Menertawakan dan menjadikan kesalahan seseorang sebagai bahan hiburan bersama.
Cyberbullying: Menyebarkan foto, video, komentar, atau unggahan yang mempermalukan seseorang melalui media sosial atau grup percakapan.
Ada satu hal yang menarik untuk direnungkan.
Mengapa seseorang merasa berhak menentukan siapa yang pantas diterima dan siapa yang layak disingkirkan dari kelompoknya?
Bukankah sekolah merupakan tempat belajar hidup bersama, bukan tempat menentukan siapa yang paling berkuasa dalam pergaulan?
2. Shaming: Mempermalukan Orang Lain atas Identitas atau Keadaannya
Shaming adalah tindakan membuat seseorang merasa malu, rendah, atau tidak berharga karena kondisi, karakteristik, pilihan, atau sesuatu yang melekat pada dirinya.
Shaming bisa dilakukan secara sengaja maupun melalui kebiasaan yang dianggap lumrah.
Beberapa bentuknya:
a. Body shaming
Mengomentari bentuk tubuh atau penampilan seseorang secara merendahkan.
Contoh:
"Kamu kok gemuk sekali?"
"Kurus banget, seperti kurang makan."
"Mukamu kok banyak jerawat?"
"Dengan penampilan begitu, percaya diri sekali kamu?"
Persoalannya bukan sekadar komentar tentang fisik. Persoalannya adalah menjadikan tubuh orang lain sebagai bahan penilaian dan hiburan.
b. Intellectual shaming
Mempermalukan seseorang karena kemampuan akademiknya.
Contoh:
"Masa soal semudah itu tidak bisa?"
"Otakmu ke mana?"
"Pantas saja nilaimu selalu jelek."
"Kalau tidak pintar, jangan banyak bicara."
Ini sering terjadi di ruang kelas. Murid yang salah menjawab pertanyaan ditertawakan. Murid yang lambat memahami pelajaran dianggap tidak memiliki kemampuan. Bahkan, ada yang kehilangan keberanian untuk bertanya karena takut menjadi bahan tertawaan.
Padahal, sekolah seharusnya menjadi tempat paling aman untuk melakukan kesalahan dan memperbaikinya.
c. Economic shaming
Mempermalukan seseorang karena kondisi ekonomi keluarganya.
Contoh:
Mengejek sepatu teman yang sudah usang.
Menertawakan bekal makanan yang dibawa dari rumah.
Menganggap teman yang tidak memiliki telepon genggam terbaru sebagai orang ketinggalan zaman.
Menyindir seseorang karena tidak mampu ikut kegiatan yang membutuhkan biaya.
d. Social shaming
Merendahkan seseorang karena latar belakang keluarga, lingkungan tempat tinggal, pekerjaan orang tua, atau status sosialnya.
Contoh:
"Anak kampung, tidak tahu gaya."
"Orang tuamu cuma bekerja seperti itu?"
"Rumahmu jauh sekali, memang tidak ada sekolah yang lebih bagus?"
Tanpa disadari, komentar semacam ini membangun sekat sosial di antara murid.
Sekolah yang seharusnya mempertemukan berbagai latar belakang justru bisa menjadi tempat reproduksi perbedaan kelas sosial.
3. Nonverbal Bullying: Tidak Mengucapkan Sepatah Kata, tetapi Menyakiti
Ini salah satu bentuk yang sering luput dari perhatian.
Tidak semua perundungan menggunakan bahasa. Ada tindakan yang dilakukan melalui ekspresi, gestur, sikap, dan perlakuan sosial.
Contohnya:
Eye rolling: Memutar bola mata ketika seseorang berbicara, seolah-olah pendapatnya tidak pantas didengar.
Sneering: Menunjukkan ekspresi wajah mengejek ketika melihat teman melakukan kesalahan.
Silent treatment: Sengaja mendiamkan seseorang sebagai bentuk hukuman atau tekanan sosial.
Exclusion gesture: Menutup lingkaran pertemanan dengan sengaja ketika seseorang mendekat, sehingga ia merasa tidak diterima.
Mocking gestures: Menirukan cara berjalan, berbicara, atau gerakan tubuh seseorang untuk mengundang tawa.
Intimidating stare: Menatap seseorang dengan maksud menakut-nakuti atau menunjukkan dominasi.
Bayangkan seorang murid memasuki ruang kelas. Ketika ia mendekati kelompok tertentu, beberapa orang langsung saling berpandangan, tersenyum sinis, kemudian berpindah tempat.
Tidak ada kata kasar yang terdengar. Tidak ada perkelahian. Tetapi pesan sosialnya sangat jelas: kamu tidak diinginkan di sini.
Perilaku seperti ini bisa menjadi bagian dari perundungan apabila dilakukan berulang dan melibatkan ketimpangan kekuatan.
4. Ketika Guru Tanpa Sadar Ikut Melakukan Shaming
Persoalan ini tidak hanya terjadi di antara murid. Orang dewasa, termasuk guru, juga perlu melakukan refleksi.
Misalnya:
Membandingkan murid yang nilainya rendah dengan murid yang berprestasi di depan kelas.
Mengumumkan kelemahan akademik seseorang untuk memberikan efek jera.
Mengomentari kondisi keluarga murid di hadapan teman-temannya.
Memberi label murid sebagai bodoh, malas, nakal, atau tidak memiliki masa depan.
Menertawakan jawaban murid yang keliru.
Menggunakan kekurangan fisik atau kondisi pribadi sebagai bahan candaan.
Tentu saja guru memiliki kewenangan untuk menegur, mendisiplinkan, dan memberikan evaluasi. Namun, ada perbedaan mendasar antara mengoreksi perilaku dengan merendahkan martabat seseorang.
Kalimat "Jawabanmu belum tepat, mari kita perbaiki" berbeda dengan "Kamu memang tidak pernah bisa."
Yang pertama mengoreksi pekerjaan. Yang kedua menyerang identitas.
Pendidikan seharusnya memperbaiki perilaku tanpa menghancurkan harga diri.
5. Mengapa Kita Sering Tidak Menyadarinya?
Ada beberapa alasan mengapa perilaku perundungan dan shaming sering dianggap biasa.
Pertama, normalisasi.
Sesuatu yang dilakukan berulang-ulang akhirnya dianggap wajar. Karena sejak lama terbiasa mengejek teman, seseorang tidak lagi merasa bahwa tindakannya bermasalah.
Kedua, berlindung di balik candaan.
Ketika orang yang menjadi sasaran menunjukkan ketidaknyamanan, pelaku sering menjawab, "Bercanda saja, kok. Jangan terlalu sensitif."
Padahal, candaan tidak otomatis menjadi benar hanya karena pelakunya tertawa.
Ketiga, tekanan kelompok.
Seseorang ikut menertawakan temannya bukan karena benar-benar menganggapnya lucu, tetapi karena takut menjadi sasaran berikutnya jika tidak mengikuti kelompok.
Keempat, ketimpangan kekuasaan.
Orang yang memiliki popularitas, pengaruh, atau jumlah teman lebih banyak kadang merasa memiliki hak untuk menentukan siapa yang diterima dan siapa yang disingkirkan.
Kelima, kurangnya empati.
Kita terlalu sibuk melihat sesuatu dari sudut pandang sendiri sehingga lupa bahwa orang lain memiliki perasaan dan pengalaman yang berbeda.
6. Tidak Semua Konflik adalah Bullying
Penting juga untuk tidak mencampuradukkan semua persoalan sosial.
Dua murid yang berbeda pendapat, bertengkar sekali, atau saling mengkritik belum tentu sedang melakukan perundungan.
Konflik dapat terjadi karena perbedaan kepentingan dan kesalahpahaman. Sementara perundungan memiliki ciri berupa tindakan agresif yang berulang dan ketimpangan kekuatan.
Namun, tindakan mempermalukan atau menyakiti seseorang tetap perlu ditangani meskipun belum memenuhi seluruh unsur perundungan.
Jangan menunggu sampai sebuah perilaku menjadi kebiasaan buruk untuk mulai memperbaikinya.
7. Sekolah dan Persoalan Martabat Manusia
Pada akhirnya, persoalan perundungan bukan hanya persoalan tata tertib sekolah. Ini adalah persoalan bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya.
Kita sering berbicara tentang prestasi, kedisiplinan, kecerdasan, kompetisi, dan keberhasilan. Namun, ada satu hal yang terkadang terlupakan: apakah dalam proses mengejar semua itu kita masih menghargai martabat orang lain?
Murid yang tidak pandai matematika tetap memiliki harga diri. Murid yang berasal dari keluarga sederhana tidak lebih rendah kedudukannya. Murid yang berbeda penampilan tidak kehilangan hak untuk diterima. Murid yang pendiam tidak berarti pantas diabaikan.
Sekolah bukan panggung untuk membuktikan siapa yang paling hebat, paling kaya, paling populer, atau paling berkuasa.
Sekolah adalah ruang perjumpaan manusia dengan segala perbedaannya.
Ada yang unggul dalam akademik, ada yang memiliki kemampuan seni, ada yang terampil dalam olahraga, ada yang pandai berkomunikasi, dan ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan potensinya.
Tidak semua orang harus menjadi juara untuk layak dihargai.
Barangkali pertanyaan paling penting bukanlah seberapa sering kita menasihati murid agar tidak melakukan perundungan, melainkan seberapa jauh kita telah membangun budaya yang tidak memberi tempat bagi tindakan merendahkan manusia.
Sebab, perundungan tidak selalu dimulai dari kebencian yang besar. Terkadang ia tumbuh dari candaan kecil yang dibiarkan, julukan yang terus diulang, tatapan yang merendahkan, dan kebiasaan menertawakan kelemahan orang lain.
Dan yang paling mengkhawatirkan, suatu saat kita mungkin tidak lagi menyadari bahwa kita sedang melakukannya.
Jangan sampai sekolah menjadi tempat seseorang belajar banyak hal tentang kehidupan, tetapi justru kehilangan keyakinan bahwa dirinya berharga sebagai manusia.
Catatan penting untuk konteks pendidikan: Tulisan ini bisa digunakan sebagai bahan literasi sekolah, refleksi guru, materi penguatan karakter, atau diskusi bersama murid. Pesan utamanya bukan membuat setiap candaan dianggap perundungan, melainkan membangun kepekaan untuk membedakan humor, konflik, kritik, shaming, dan bullying.
Satu gagasan yang layak dijadikan kalimat penutup poster atau kampanye sekolah:
"Jangan mengukur lucunya sebuah candaan dari tawa pelakunya, tetapi lihat juga luka yang mungkin ditinggalkan pada orang yang menjadi sasaran."




