Kamis, 29 Oktober 2026

Gelar yang Menunggu Dipanggil

 


Gelar yang Menunggu Dipanggil

Cerpen tentang ijazah, persaingan, dan keberanian mencari jalan di luar kampung halaman

Pagi itu, aula gedung pameran dipenuhi ribuan orang. Mereka datang membawa map, ijazah, CV, dan harapan yang dibungkus rapi dalam pakaian terbaik masing-masing. Sebagian mengenakan kemeja putih, sebagian lagi berdiri dalam antrean panjang di depan stan perusahaan.

Di antara kerumunan itu, seorang perempuan bernama Rani menggenggam map biru. Di dalamnya tersimpan ijazah sarjana, transkrip nilai, sertifikat pelatihan, dan beberapa lembar CV yang sudah berkali-kali ia cetak.

Ia datang ke bursa kerja, atau yang lebih dikenal dengan job fair, untuk kesekian kalinya.

Empat tahun lalu, Rani mengenakan toga dengan senyum yang nyaris tak muat di wajahnya. Ibunya menangis bahagia. Ayahnya menepuk bahunya berkali-kali, seolah ingin memastikan bahwa semua pengorbanan mereka akhirnya sampai pada sebuah tujuan.

Hari itu, gelar sarjana terasa seperti pintu yang baru saja terbuka.

Rani membayangkan kehidupan setelah wisuda: pekerjaan yang layak, penghasilan sendiri, membantu orang tua, dan sesekali membelikan sesuatu yang selama ini hanya bisa ia pandangi di etalase toko.

Ia tahu mencari pekerjaan membutuhkan usaha. Karena itu, ia mengikuti pelatihan, belajar membuat CV yang menarik, memperbaiki kemampuan berbicara, dan mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan.

Ia juga pernah menggantungkan harapan pada seleksi aparatur sipil negara atau ASN. Baginya, menjadi ASN bukan semata-mata soal seragam, status, atau penghasilan tetap. Ia membayangkan pekerjaan yang lebih terjamin, kesempatan mengabdi kepada masyarakat, dan kebahagiaan sederhana ketika bisa membantu orang tuanya tanpa terus-menerus memikirkan biaya hidup bulan berikutnya.

Maka, ketika pendaftaran seleksi ASN dibuka, Rani mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh.

Ia mempelajari materi tes, mengerjakan soal-soal latihan, dan menghabiskan banyak malam di depan layar komputer. Ia mengikuti informasi seleksi, membaca pengumuman, dan berusaha meyakinkan dirinya bahwa kerja keras akan membawanya lebih dekat pada cita-cita.

Namun, hasil seleksi tidak berpihak kepadanya.

Ia tidak lolos seleksi ASN di tingkat pusat. Ia mencoba lagi melalui formasi daerah, tetapi hasilnya tetap sama. Di antara ratusan pelamar yang memperebutkan sejumlah kecil formasi, namanya tidak termasuk dalam daftar peserta yang berhasil.

Ada formasi yang hanya menyediakan beberapa kursi, sementara pelamarnya datang dari berbagai daerah dengan bekal pendidikan dan persiapan yang tidak kalah serius.

Rani tidak bisa menyebut para pesaingnya tidak lebih pantas. Ia juga tidak bisa menyimpulkan dirinya tidak memiliki kemampuan hanya karena gagal memenuhi ambang persaingan pada seleksi tersebut.

Ia hanya tahu bahwa ia sudah belajar, sudah berusaha, dan tetap belum berhasil.

Yang paling berat bukanlah melihat namanya tidak tercantum dalam pengumuman. Yang paling berat adalah kembali menjelaskan kepada orang tua bahwa ia harus mencoba lagi, atau mencari jalan lain.

Setiap kali pengumuman keluar, harapan yang sudah ia bangun berhari-hari seolah harus disusun ulang dari awal.

Waktu berjalan, sedangkan kebutuhan hidup tidak pernah menunggu seseorang merasa siap.

Lamaran demi lamaran terkirim. Sebagian tidak mendapat jawaban. Sebagian lain berhenti setelah wawancara. Ada pula yang memberinya kalimat sopan tentang kandidat lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Kalimat itu selalu terdengar wajar. Tidak ada yang salah dengannya. Hanya saja, ketika diterima berkali-kali, kalimat yang sama bisa berubah menjadi pertanyaan panjang di kepala seseorang.

Kalau bukan aku yang dibutuhkan, lalu selama ini aku sedang dipersiapkan untuk apa?

Rani pernah menghitung biaya kuliahnya. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan untuk mengukur seberapa besar perjalanan yang telah ditempuhnya. Ada uang pendaftaran, biaya semester, buku, transportasi, makan, tugas-tugas, dan berbagai kebutuhan yang sering kali tak terlihat dalam hitungan resmi.

Ada pula waktu yang tak bisa dikembalikan: malam-malam mengerjakan tugas, akhir pekan yang habis untuk menyelesaikan laporan, serta tahun-tahun ketika ia memilih belajar sementara sebagian temannya sudah mulai bekerja.

Semua itu telah dibayar dengan uang, tenaga, dan kesabaran.

Tetapi ijazahnya belum juga membawanya ke tempat yang ia harapkan.

Di depan salah satu stan perusahaan, antrean mengular. Rani memperhatikan wajah-wajah di sekelilingnya. Ada seorang pemuda yang terus membaca CV-nya sendiri, seorang perempuan yang merapikan jilbab sebelum menyerahkan berkas, dan seorang laki-laki yang menelepon seseorang sambil berkata bahwa ia masih mencoba.

Mereka datang dari berbagai kota, membawa gelar yang berbeda, tetapi menghadapi pintu yang sama.

Di Jawa, terutama di kota-kota besar, persaingan terasa begitu rapat. Banyak pencari kerja berkumpul di wilayah yang sama karena di sanalah berbagai kantor perusahaan, kawasan industri, pusat perdagangan, dan lembaga pemerintahan berada. Sementara itu, jumlah orang yang membutuhkan pekerjaan terus bertambah.

Akibatnya, satu lowongan bisa diperebutkan oleh ratusan pelamar. Ada yang memiliki IPK tinggi, pengalaman magang, kemampuan bahasa asing, dan sertifikat tambahan. Ada pula yang sudah bekerja beberapa tahun, tetapi terpaksa kembali bersaing karena kehilangan pekerjaan.

Persaingan untuk menjadi ASN pun memperlihatkan kenyataan serupa. Satu formasi bisa menarik banyak pelamar, sementara jumlah orang yang diterima dibatasi oleh kebutuhan dan kuota yang tersedia. Mereka yang gagal bukan selalu orang yang malas belajar atau tidak memiliki kemampuan. Dalam persaingan yang ketat, ada banyak orang yang memenuhi syarat, tetapi hanya sebagian yang bisa memperoleh kursi.

Rani mulai memahami bahwa usaha dan hasil tidak selalu berjalan beriringan. Kerja keras memang penting, tetapi kesempatan juga memiliki peran. Dan ketika kesempatan terbatas, orang yang telah berusaha pun bisa berada di pihak yang belum terpilih.

Ia bukan tidak memiliki kemampuan. Ia hanya berada di tengah persaingan yang membuat kemampuan saja terkadang belum cukup.

Lalu, ia mulai bertanya-tanya, apakah selama ini ia terlalu sibuk mengetuk pintu yang sama?

Beberapa hari setelah job fair, Rani membuka peta Indonesia di layar telepon genggamnya. Selama kuliah, ia sering membayangkan masa depan di Jawa. Rasanya wajar. Di sinilah keluarganya tinggal, teman-temannya berkumpul, dan lingkungan yang dikenalnya sejak kecil.

Namun, peta itu memperlihatkan sesuatu yang selama ini jarang ia pikirkan dengan sungguh-sungguh: Indonesia jauh lebih luas daripada lingkaran tempat ia mencari pekerjaan.

Di Sumatra, terdapat perkebunan, industri pengolahan, pertambangan, perdagangan, transportasi, dan jasa yang membutuhkan tenaga kerja dengan beragam keterampilan. Di Kalimantan, kegiatan pertambangan, energi, perkebunan, logistik, serta pembangunan di sejumlah wilayah membuka jenis pekerjaan yang mungkin tidak banyak ia temukan di daerah asalnya.

Sulawesi memiliki peluang dalam industri pengolahan, pertambangan, pertanian, perikanan, perdagangan, dan sektor jasa. Sementara itu, berbagai daerah di Bali, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua memiliki kebutuhan tenaga kerja di bidang pariwisata, pendidikan, kesehatan, perikanan, konstruksi, dan pelayanan publik, bergantung pada kondisi serta perkembangan masing-masing daerah.

Rani mulai memahami bahwa peluang kerja tidak selalu berkumpul di tempat yang paling ramai dibicarakan.

Namun, pindah pulau bukanlah jawaban ajaib.

Di balik lowongan kerja yang mungkin lebih sesuai, ada ongkos perjalanan, biaya tempat tinggal, jarak dari keluarga, perbedaan budaya, dan lingkungan baru yang harus dipelajari. Tidak semua daerah memiliki fasilitas transportasi, layanan kesehatan, atau pilihan tempat tinggal yang sama mudahnya. Sebagian pekerjaan juga berada jauh dari pusat kota, dengan pola kerja dan kondisi lingkungan yang tidak cocok bagi semua orang.

Di daerah tertentu, upah yang ditawarkan mungkin terlihat menarik, tetapi biaya hidup, transportasi, dan kebutuhan untuk pulang ke kampung halaman dapat mengurangi penghasilan yang benar-benar bisa ditabung.

Belum lagi risiko lowongan palsu, kontrak yang tidak jelas, atau perusahaan yang meminta biaya rekrutmen dengan dalih administrasi.

Rani tahu, ia tidak boleh berpindah hanya karena putus asa. Ia harus berpindah dengan pertimbangan.

Ia mulai membandingkan lowongan berdasarkan bidang pekerjaan, gaji bersih, biaya hidup, fasilitas tempat tinggal, keamanan kerja, dan kesempatan untuk berkembang. Ia mencari informasi perusahaan sebelum mengirimkan lamaran. Ia juga memikirkan satu hal yang sebelumnya selalu ia anggap sepele: apakah ia bersedia membangun kehidupan di tempat yang belum pernah ia tinggali?

Ternyata, mencari pekerjaan bukan sekadar mencari siapa yang bersedia menerimanya. Ia juga perlu mencari tempat yang memungkinkan dirinya bertumbuh.

Suatu malam, ibunya bertanya apakah ia sudah mendapat panggilan kerja.

Rani menjawab belum.

Ia tidak ingin berbohong, tetapi juga tidak ingin membuat ibunya semakin cemas. Untuk sesaat, ia teringat wajah ayahnya saat menyerahkan toga setelah wisuda. Ada harapan yang tak pernah diucapkan, tetapi selalu terasa: setelah semua biaya dan pengorbanan itu, semoga anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik.

Rani mengerti harapan tersebut. Ia pun menginginkannya.

Ia juga mulai memahami bahwa orang tuanya tidak pernah benar-benar menuntutnya menjadi orang kaya. Mereka hanya ingin melihat pendidikan yang telah diperjuangkan bersama itu memberinya kehidupan yang lebih baik. Mereka ingin melihat anaknya mandiri, memiliki pekerjaan, dan tidak terus-menerus merasa menjadi beban keluarga.

Justru karena itulah, setiap kegagalan terasa begitu berat.

Namun, Rani mulai menyadari bahwa pendidikan tidak selalu menghasilkan buah pada musim yang sama. Ada orang yang segera mendapat pekerjaan setelah lulus. Ada yang harus menunggu berbulan-bulan, berpindah kota, berganti bidang, atau memulai dari pekerjaan yang tidak persis sesuai dengan jurusannya.

Tentu saja, keadaan itu tidak berarti sistem pendidikan dan dunia kerja boleh dibiarkan berjalan tanpa hubungan yang jelas. Lulusan membutuhkan kesempatan nyata, bukan sekadar nasihat untuk terus bersabar. Kampus, pemerintah, dan dunia usaha juga memiliki peran untuk mempertemukan keterampilan dengan kebutuhan kerja.

Seleksi ASN pun bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang sarjana. Menjadi ASN merupakan pilihan pengabdian yang terhormat, tetapi bukan berarti mereka yang tidak lolos kehilangan kesempatan untuk berkontribusi kepada masyarakat. Sebaliknya, mereka yang memilih bekerja di perusahaan, membangun usaha, menjadi pendidik, atau mengembangkan keterampilan di bidang lain juga memiliki jalan pengabdian masing-masing.

Rani tidak ingin menjadikan kalimat itu sebagai penghiburan kosong. Ia tahu, idealisme tidak bisa membayar kebutuhan sehari-hari. Ia tetap membutuhkan penghasilan, kepastian kerja, dan kesempatan untuk berkembang.

Namun, ia tidak ingin seluruh masa depannya bergantung pada satu jenis seleksi atau satu pintu penerimaan.

Ia memutuskan tidak lagi membatasi pencarian kerja hanya di Jawa. Ia mulai mempertimbangkan Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan daerah lain yang memiliki lowongan sesuai dengan kemampuan serta tujuan hidupnya.

Ia tidak menganggap meninggalkan Jawa sebagai kekalahan. Ia juga tidak menganggap bertahan di Jawa sebagai kesalahan.

Baginya, pulau hanyalah wilayah di peta. Yang lebih penting adalah apakah sebuah pekerjaan memberinya penghidupan yang layak, perlindungan yang memadai, dan kesempatan untuk menggunakan ilmu yang telah dipelajarinya.

Jika kesempatan itu datang dari tempat yang jauh, ia akan mempertimbangkannya. Jika kesempatan terbaik justru ada di dekat rumah, ia pun tidak akan merasa kurang berani karenanya.

Pagi berikutnya, Rani kembali membuka laptop. Ia memperbarui CV, mencari informasi perusahaan, dan mengirimkan lamaran ke beberapa daerah.

Tidak ada jaminan bahwa usahanya kali ini akan berhasil. Namun, ia tidak lagi memandang peta Indonesia sebagai kumpulan wilayah yang jauh dari rumah. Peta itu kini tampak seperti kumpulan kemungkinan.

Di samping laptop, ijazahnya tergeletak di dalam map biru.

Rani menatap gelar sarjana yang tercetak di sana. Selama ini, ia mengira gelar itu adalah jawaban atas pengorbanan orang tuanya, atas empat tahun kuliah, dan atas harapan bahwa pendidikan akan membuat hidupnya lebih baik.

Kini ia mulai memahami bahwa gelar tersebut bukanlah tiket yang otomatis membawanya ke sebuah pekerjaan. Ia juga bukan sekadar hiasan untuk dipajang di dinding.

Gelar itu adalah bukti bahwa ia pernah belajar menyelesaikan persoalan, mengolah informasi, menyusun argumen, dan bertahan melalui proses panjang. Semua kemampuan itu masih memiliki nilai, meskipun belum ada perusahaan yang bersedia membayarnya.

Barangkali, menjadi sarjana bukan hanya soal memperoleh pekerjaan sesuai jurusan. Barangkali, menjadi sarjana juga berarti memiliki keberanian untuk membaca kenyataan, mengakui keterbatasan, dan mencari jalan ketika jalan yang diharapkan ternyata tertutup.

Tetapi Rani tidak ingin menjadikan pemikiran itu sebagai alasan untuk memaklumi semua kesulitan. Ia tetap ingin bekerja. Ia tetap ingin mandiri. Ia ingin pendidikan yang ditempuhnya benar-benar membuka kesempatan, bukan berhenti sebagai kebanggaan saat wisuda.

Di luar jendela, matahari mulai meninggi.

Rani menekan tombol kirim pada lamaran terakhirnya. Kali ini, perusahaan yang dituju berada di sebuah kota di luar Jawa.

Ia belum tahu apakah kelak akan bekerja di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, atau tetap di tanah kelahirannya. Ia juga belum tahu kapan namanya akan dipanggil.

Namun, ia akhirnya mengerti bahwa masa depan tidak selalu menunggu di tempat seseorang memulai perjalanan.

Kadang-kadang, seseorang perlu memperluas pandangan untuk menemukan pintu yang selama ini luput dari perhatian.

Sebab, gelar sarjana tidak menjamin dunia menyediakan tempat. Tidak lolos ASN bukan bukti bahwa seluruh perjuangannya sia-sia. Dan belum diterima bekerja bukan berarti ia tidak memiliki nilai.

Mungkin, yang perlu dipertanyakan bukan hanya mengapa seorang sarjana belum mendapat pekerjaan, melainkan juga mengapa begitu banyak orang yang telah belajar bertahun-tahun harus berebut kursi yang jumlahnya begitu terbatas.

Di tengah persaingan yang semakin ketat, keberanian memang diperlukan untuk terus mencoba. Namun, keberanian juga berarti bersedia mengubah arah, mencari peluang di tempat lain, dan menilai keberhasilan dengan lebih luas tanpa mengabaikan kebutuhan akan pekerjaan yang layak.

Rani masih seorang sarjana yang menunggu dipanggil.

Tetapi kali ini, ia tidak hanya menunggu sebuah nama disebut dalam pengumuman seleksi atau sebuah perusahaan menghubunginya.

Ia sedang belajar mencari arah, sambil tetap percaya bahwa empat tahun pendidikannya tidak harus berakhir sebagai kenangan tentang sebuah toga.

Sebab, pendidikan seharusnya bukan sekadar jalan menuju pekerjaan. Pendidikan juga harus menjadi bekal untuk menemukan jalan ketika pekerjaan yang diharapkan belum kunjung datang.

 

Rabu, 28 Oktober 2026

Di Persimpangan Nasib

 


Setiap pagi, sebelum matahari meninggi, seorang lelaki sudah berdiri di pertigaan jalan. Di tangannya ada tongkat kecil. Bukan seragam, bukan peluit, bukan pula surat tugas. Ia hanya seorang relawan pengatur lalu lintas yang berharap mendapatkan uang seikhlasnya dari para pengendara.

Kulitnya legam terbakar matahari. Bajunya lusuh, sepatunya usang. Namun, tangannya tetap sigap memberi isyarat kepada kendaraan yang datang dari berbagai arah.

Kadang ia mendapat uang lima ribu rupiah. Kadang hanya senyum tipis dari pengendara. Bahkan, tak jarang ia diabaikan begitu saja.

Ia tidak pernah benar-benar bercita-cita berdiri di tengah jalan. Dulu, ia pernah bekerja di sebuah gudang. Namun, setelah kehilangan pekerjaan, lamaran demi lamaran tak kunjung membuahkan hasil. Usia, pengalaman, dan kesempatan seolah menjadi pintu-pintu yang tertutup di hadapannya.

Akhirnya, ia berdiri di sana. Bukan karena itulah pekerjaan impiannya, melainkan karena hidup tidak memberinya banyak pilihan.

Setiap pagi dan sore, seorang polisi juga bertugas di pertigaan itu. Dengan seragam dan kewenangan yang dimilikinya, polisi tersebut mengatur arus kendaraan agar tetap tertib. Keduanya berdiri di jalan yang sama, menghadapi panas yang sama, tetapi dengan keadaan hidup yang berbeda.

Lelaki itu tidak iri. Ia hanya sesekali bertanya dalam hati, mengapa sebagian orang memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang pasti, sementara sebagian lainnya harus menggantungkan harapan pada kemurahan hati orang yang melintas.

Saat matahari tepat di atas kepala, keringat membasahi punggungnya. Kendaraan terus berlalu, membawa orang-orang menuju tempat kerja, sekolah, dan berbagai tujuan. Sementara ia tetap di tempatnya, berusaha mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk dibawa pulang.

Baginya, lima ribu rupiah bukan sekadar uang receh. Di dalamnya ada harapan untuk membeli beras, membayar kebutuhan rumah, atau sekadar memastikan keluarganya bisa makan hari itu.

Ia memahami bahwa setiap orang punya kesibukan dan kesulitan masing-masing. Karena itu, ia tidak pernah memaksa siapa pun memberinya uang. Ia hanya berharap tenaganya dihargai, sekecil apa pun nilainya.

Menjelang petang, ia merapikan tongkatnya dan menghitung uang yang terkumpul. Jumlahnya tak seberapa. Namun, ia memasukkannya ke saku dengan hati-hati, seolah sedang menyimpan sesuatu yang berharga.

Besok, mungkin ia akan kembali ke tempat yang sama. Berdiri di bawah matahari, mengangkat tangan, dan berharap hari esok sedikit lebih baik daripada hari ini.

Sebab terkadang, manusia tidak sedang menjalani kehidupan yang dipilihnya. Ia hanya sedang bertahan dengan jalan yang tersedia.

Kita sering melihat seseorang dari pekerjaannya, tanpa mengetahui berapa banyak pintu yang telah diketuknya dan berapa kali harapannya ditolak.

Kita melihat seorang lelaki di persimpangan jalan, tetapi mungkin lupa bahwa di balik tongkat kecil dan tangannya yang terulur, ada seorang manusia yang memiliki harga diri, keluarga, dan mimpi yang belum selesai.

Barangkali, hidup memang seperti persimpangan. Tidak semua orang mendapatkan jalan yang lapang. Namun, setiap orang berhak memperoleh kesempatan untuk melangkah lebih jauh.

Dan sebelum menilai seseorang dari tempatnya berdiri, ada baiknya kita mengingat satu hal: tidak semua orang yang berdiri di pinggir jalan sedang menunggu belas kasihan. Sebagian hanya sedang mencari jalan pulang menuju kehidupan yang lebih layak.

Jumat, 07 Agustus 2026

LATIHAN UJIAN MADRASAH 2026 2027



LATIHAN UJIAN MADRASAH

MAN 2 NGANJUK

TAHUN AJARAN 2026/2027

 

Mata Pelajaran

: Sosiologi

Jenjang / Kelas

: Madrasah Aliyah (X, XI, XII)

Guru Mata Pelajaran

: Puguh Utomo, S.Sos.

Waktu

: 90 menit

Jumlah Soal

: 50 butir soal (Pilihan Ganda, Pilihan Ganda Kompleks, Menjodohkan)

PETUNJUK UMUM

1. Bacalah setiap soal dengan cermat sebelum menjawab.

2. Bagian A dan B dikerjakan dengan menuliskan huruf/angka jawaban pada lembar jawaban yang tersedia.

3. Bagian C (menjodohkan) dikerjakan dengan memasangkan pernyataan pada Kolom A dengan istilah yang tepat pada Kolom B.


BAGIAN A — PILIHAN GANDA BIASA (Nomor 1 s.d. 30)

Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat dengan memberi tanda pada huruf A, B, C, D, atau E!

1. Seorang peneliti mengamati tren belanja daring di kalangan remaja desa dan mengaitkannya dengan perubahan pola interaksi sosial, tanpa menilai baik atau buruknya fenomena tersebut. Ciri ilmu sosiologi yang tampak dalam sikap peneliti tersebut adalah…

A. Bersifat normatif

B. Bersifat non-etis

C. Bersifat teoretis semata

D. Bersifat spekulatif

E. Bersifat kumulatif tertutup

2. Di sebuah kampung, warga yang melanggar aturan gotong royong hanya ditegur secara lisan oleh tetua adat, sedangkan pelaku pencurian diproses melalui jalur kepolisian. Perbedaan penanganan tersebut menunjukkan adanya…

A. Tingkatan norma berdasarkan kekuatan daya ikatnya

B. Nilai dominan dalam masyarakat

C. Sosialisasi represif

D. Proses difusi kebudayaan

E. Gejala anomie

3. Seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga otoriter cenderung patuh secara berlebihan bahkan terhadap aturan yang tidak masuk akal, karena terbiasa dihukum tanpa diberi ruang berargumen. Pola sosialisasi yang diterapkan keluarga tersebut adalah…

A. Sosialisasi partisipatoris

B. Sosialisasi represif

C. Sosialisasi primer semata

D. Sosialisasi sekunder

E. Sosialisasi antisipatoris

4. Dua kelompok suporter sepak bola yang bersaing dalam pertandingan tetap saling menjaga ketertiban dan membantu evakuasi penonton saat terjadi kericuhan kecil. Bentuk interaksi sosial yang paling menonjol dalam peristiwa tersebut adalah…

A. Akomodasi

B. Asimilasi

C. Kerja sama (kooperasi)

D. Kontravensi

E. Kompetisi

5. Meningkatnya kasus tawuran pelajar di kota besar sering dianalisis para sosiolog dengan menyoroti lemahnya pengawasan keluarga dan sekolah terhadap perilaku remaja. Pendekatan yang digunakan dalam analisis tersebut adalah teori…

A. Fungsionalisme struktural

B. Interaksionisme simbolik

C. Kontrol sosial

D. Konflik

E. Pertukaran sosial

6. Masyarakat pesisir tetap melaut meski cuaca cenderung ekstrem karena aktivitas tersebut telah menjadi kebiasaan turun-temurun yang dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Menurut Peter Berger, realitas sosial semacam ini bersifat…

A. Subjektif semata

B. Objektif karena telah dieksternalisasikan dan melembaga

C. Ideal tanpa wujud nyata

D. Ilusi kolektif

E. Material tanpa makna

7. Seorang siswa menyimpulkan bahwa “semua remaja pengguna media sosial pasti mudah cemas” hanya berdasarkan pengamatan terhadap lima orang temannya. Kesalahan berpikir semacam ini dalam kajian sosiologi disebut…

A. Generalisasi berlebihan

B. Reduksionisme

C. Determinisme sosial

D. Relativisme budaya

E. Empirisme semu

8. Pemerintah desa memanfaatkan hasil pemetaan sosial untuk menentukan sasaran penerima bantuan agar tepat guna. Kegiatan tersebut menunjukkan fungsi sosiologi sebagai…

A. Penelitian

B. Perencanaan sosial/pembangunan

C. Pemecahan masalah sosial

D. Kontrol sosial

E. Evaluasi kebijakan semata

9. Sebagian generasi muda saat ini memilih menikah pada usia yang lebih matang dibandingkan generasi orang tuanya, dengan alasan mengutamakan kemapanan karier terlebih dahulu. Fenomena ini mencerminkan adanya pergeseran…

A. Norma hukum secara formal

B. Nilai material semata

C. Nilai vital dan nilai dominan dalam masyarakat

D. Struktur lembaga keluarga

E. Sanksi sosial

10. Sekelompok warga RT saling mengirim pesan di grup WhatsApp tanpa ada satu pun anggota yang menanggapi. Berdasarkan syarat terjadinya interaksi sosial, situasi tersebut…

A. Tetap tergolong interaksi sosial yang sempurna

B. Bukan interaksi sosial karena tidak terjadi umpan balik/komunikasi dua arah

C. Termasuk bentuk kontravensi

D. Merupakan kontak sosial negatif yang disengaja

E. Termasuk interaksi asosiatif

11. Seorang dokter yang juga menjabat sebagai ketua RT di lingkungan tempat tinggalnya memiliki status sosial yang secara umum dianggap tinggi di bidang kesehatan namun setara dengan warga lain dalam urusan RT. Kondisi ini menggambarkan…

A. Status symbol

B. Ketidaksesuaian status (status inconsistency)

C. Status yang diperoleh (ascribed status)

D. Mobilitas horizontal

E. Diferensiasi sosial berdasarkan profesi

12. Setelah konflik antarkelompok warga mereda, kedua belah pihak sepakat membentuk forum dialog rutin untuk membahas persoalan bersama agar tidak terulang. Tahapan yang terjadi tersebut merupakan bentuk…

A. Akomodasi sementara

B. Asimilasi budaya

C. Integrasi normatif

D. Integrasi koersif

E. Akulturasi

13. Anak seorang buruh tani berhasil menjadi pengusaha sukses berkat pendidikan tinggi dan kegigihannya membangun usaha dari nol. Faktor pendorong utama mobilitas sosial pada kasus tersebut adalah…

A. Faktor struktural masyarakat

B. Faktor individu berupa motivasi dan pendidikan

C. Faktor ekonomi keluarga yang sudah mapan

D. Faktor diskriminasi sosial

E. Faktor keberuntungan semata

14. Komunitas pecinta sepeda yang terbentuk karena kesamaan hobi dan rutin berkumpul setiap akhir pekan, dengan ikatan kekeluargaan yang erat, tergolong kelompok sosial…

A. Gemeinschaft (paguyuban)

B. Gesellschaft (patembayan)

C. In-group semata

D. Out-group

E. Kelompok referensi

15. Sebuah kebijakan pemerintah memberi ruang bagi setiap kelompok etnis untuk mempertahankan identitas budayanya masing-masing sekaligus hidup berdampingan secara damai dengan kelompok lain. Kebijakan tersebut mencerminkan prinsip…

A. Asimilasi paksa

B. Multikulturalisme

C. Segregasi sosial

D. Etnosentrisme

E. Melting pot

16. Dalam sistem kasta di suatu masyarakat tradisional, seseorang yang lahir dari kasta tertentu hampir mustahil berpindah ke kasta lain sepanjang hidupnya. Sistem stratifikasi sosial tersebut bersifat…

A. Terbuka

B. Tertutup

C. Campuran

D. Fungsional cair

E. Sementara

17. Perselisihan antara serikat buruh dan pengusaha terkait besaran upah minimum yang terus berulang setiap tahun tergolong konflik…

A. Konflik pribadi/individual

B. Konflik antarkelas sosial

C. Konflik antarras

D. Konflik antargenerasi

E. Konflik antarnegara

18. Seorang pegawai negeri dipindahtugaskan ke kota lain dengan jabatan dan gaji yang setara dengan posisi sebelumnya. Perpindahan tersebut termasuk mobilitas sosial…

A. Vertikal naik

B. Vertikal turun

C. Horizontal

D. Antargenerasi

E. Struktural

19. Ketika anggota suatu kelompok kerja mulai saling curiga akibat persaingan memperebutkan sumber daya yang terbatas, gejala tersebut menandakan menurunnya…

A. Kohesi/solidaritas kelompok

B. Diferensiasi sosial

C. Stratifikasi sosial

D. Akulturasi budaya

E. Distribusi kekuasaan formal

20. Program pertukaran pelajar antarsuku yang diselenggarakan sekolah bertujuan agar peserta didik saling mengenal budaya satu sama lain. Program tersebut dirancang untuk membangun…

A. Etnosentrisme yang sehat

B. Toleransi dan integrasi sosial

C. Segregasi budaya secara terkontrol

D. Diskriminasi positif

E. Asimilasi paksa

21. Pandemi memaksa hampir seluruh sekolah beralih ke pembelajaran daring dalam waktu singkat tanpa persiapan matang sebelumnya. Perubahan sosial tersebut tergolong perubahan…

A. Evolusi yang berlangsung bertahap

B. Revolusi yang merombak struktur masyarakat secara total

C. Cepat dan tidak direncanakan

D. Lambat dan direncanakan

E. Regres/kemunduran sosial

22. Maraknya konsumsi produk hiburan dan gaya hidup Korea (K-Pop) di kalangan remaja Indonesia merupakan salah satu dampak globalisasi dalam bidang…

A. Ekonomi

B. Politik

C. Budaya

D. Lingkungan hidup

E. Hukum

23. Akses internet berkecepatan tinggi yang hanya dapat dinikmati masyarakat perkotaan, sementara wilayah pedesaan masih tertinggal, memunculkan fenomena yang disebut…

A. Deprivasi relatif

B. Kesenjangan digital (digital divide)

C. Mobilitas sosial vertikal

D. Diferensiasi sosial

E. Anomie

24. Lembaga adat mulai kehilangan wibawanya dalam menyelesaikan sengketa tanah karena masyarakat lebih memilih menempuh jalur pengadilan formal. Gejala tersebut menunjukkan adanya…

A. Penguatan fungsi laten lembaga adat

B. Pergeseran fungsi lembaga sosial di masyarakat

C. Disorganisasi keluarga

D. Gegar budaya (culture shock)

E. Cultural lag semata

25. Seorang peneliti melakukan wawancara mendalam untuk memahami makna subjektif pelaku UMKM dalam bertahan menghadapi krisis ekonomi. Pendekatan penelitian yang digunakan peneliti tersebut adalah…

A. Kuantitatif

B. Kualitatif

C. Eksperimen laboratorium

D. Survei tertutup berskala besar

E. Studi kepustakaan murni

26. Program pelatihan keterampilan menjahit bagi ibu rumah tangga di desa tertinggal bertujuan agar mereka mampu membuka usaha secara mandiri. Kegiatan tersebut merupakan bentuk…

A. Bantuan karitatif sesaat

B. Pemberdayaan masyarakat (empowerment)

C. Proteksi sosial

D. Bantuan sosial tunai

E. Sentralisasi program

27. Teori yang memandang bahwa masyarakat berkembang secara bertahap dari kondisi sederhana menuju kondisi yang lebih maju dan kompleks disebut teori perubahan sosial…

A. Siklus

B. Linear/evolusi

C. Konflik

D. Fungsional struktural

E. Interaksionis

28. Ketimpangan yang muncul karena perbedaan akses terhadap pendidikan berkualitas antara wilayah perkotaan dan pedesaan tergolong ketimpangan sosial yang bersifat…

A. Alami dan tidak dapat diubah

B. Struktural

C. Kultural semata

D. Individual semata

E. Sementara

29. Sikap selektif dalam menerima pengaruh budaya asing dengan tetap mempertahankan jati diri dan nilai-nilai luhur bangsa disebut…

A. Westernisasi

B. Filterisasi atau selektivitas budaya

C. Homogenisasi budaya

D. Asimilasi total

E. Etnosentrisme

30. Dalam sebuah penelitian tentang pengaruh tingkat pendidikan orang tua terhadap prestasi belajar anak, variabel “tingkat pendidikan orang tua” berkedudukan sebagai variabel…

A. Terikat

B. Bebas

C. Kontrol

D. Moderator

E. Intervening


 

BAGIAN B — PILIHAN GANDA KOMPLEKS (Nomor 31 s.d. 40)

Setiap soal terdiri atas satu pernyataan pokok dan lima pernyataan pendukung. Pilihlah pernyataan yang BENAR; jawaban yang tepat dapat lebih dari satu!

31. Berikut adalah beberapa pernyataan tentang faktor pendorong mobilitas sosial. Pilihlah pernyataan yang BENAR (jawaban dapat lebih dari satu)!

1) Pendidikan tinggi membuka akses seseorang menuju jabatan/kedudukan yang lebih tinggi

2) Sistem stratifikasi tertutup mempermudah terjadinya mobilitas sosial

3) Motivasi individu untuk maju dapat mendorong terjadinya mobilitas sosial

4) Kemiskinan struktural selalu mempercepat terjadinya mobilitas sosial naik

5) Perkawinan dapat menjadi salah satu saluran mobilitas sosial

32. Berikut adalah pernyataan mengenai ciri masyarakat multikultural yang sehat. Pilihlah pernyataan yang BENAR (jawaban dapat lebih dari satu)!

1) Terdapat sikap saling menghargai antarkelompok yang berbeda

2) Satu kelompok mendominasi dan memaksakan budayanya kepada kelompok lain

3) Masyarakat terbagi berdasarkan ras/etnis namun tetap setara secara hukum

4) Konflik antarkelompok dihindari sepenuhnya tanpa perlu dialog

5) Integrasi sosial dibangun melalui konsensus atau kesepakatan bersama

33. Berikut adalah pernyataan tentang dampak positif globalisasi bagi masyarakat Indonesia. Pilihlah pernyataan yang BENAR (jawaban dapat lebih dari satu)!

1) Kemudahan akses informasi dan pendidikan bagi masyarakat luas

2) Seluruh budaya lokal otomatis hilang tergantikan budaya asing

3) Terbukanya peluang pemasaran produk lokal ke pasar dunia

4) Homogenitas budaya meningkat secara total tanpa proses seleksi

5) Percepatan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi

34. Berikut adalah pernyataan tentang peran lembaga keluarga sebagai agen sosialisasi. Pilihlah pernyataan yang BENAR (jawaban dapat lebih dari satu)!

1) Keluarga merupakan agen sosialisasi primer bagi individu

2) Pola asuh orang tua memengaruhi pembentukan kepribadian anak

3) Keluarga sama sekali tidak berperan dalam penanaman nilai dan norma

4) Disorganisasi keluarga dapat memicu munculnya masalah sosial pada anak

5) Sosialisasi dalam keluarga hanya terjadi melalui komunikasi verbal

35. Berikut adalah pernyataan tentang ciri penelitian sosial yang ilmiah. Pilihlah pernyataan yang BENAR (jawaban dapat lebih dari satu)!

1) Menggunakan metode yang sistematis dan objektif

2) Kesimpulan boleh sepenuhnya didasarkan pada opini pribadi peneliti

3) Data yang diperoleh dapat diuji dan diverifikasi ulang

4) Bersifat empiris karena didasarkan pada fakta di lapangan

5) Tidak memerlukan rumusan masalah yang jelas sejak awal

36. Berikut adalah beberapa bentuk akomodasi dalam interaksi sosial. Pilihlah pernyataan yang BENAR (jawaban dapat lebih dari satu)!

1) Mediasi, yaitu penyelesaian dengan bantuan pihak ketiga yang netral

2) Kontravensi, yaitu sikap menentang secara tersembunyi

3) Arbitrasi, yaitu penyelesaian melalui pihak ketiga yang keputusannya mengikat

4) Kompetisi, yaitu persaingan untuk mencapai tujuan yang sama

5) Kompromi, yaitu penyelesaian dengan saling mengurangi tuntutan

37. Berikut adalah faktor penyebab perubahan sosial yang berasal dari dalam masyarakat (internal). Pilihlah pernyataan yang BENAR (jawaban dapat lebih dari satu)!

1) Bertambah atau berkurangnya jumlah penduduk

2) Peperangan dengan negara lain

3) Penemuan baru (discovery dan invention)

4) Bencana alam yang berasal dari luar wilayah

5) Konflik yang terjadi di dalam masyarakat itu sendiri

38. Berikut adalah karakteristik kelompok sosial Gesellschaft (patembayan). Pilihlah pernyataan yang BENAR (jawaban dapat lebih dari satu)!

1) Hubungan antaranggota bersifat formal dan kontraktual

2) Ikatan emosional antaranggota sangat kuat dan mendalam layaknya keluarga

3) Terbentuk berdasarkan orientasi pada kepentingan atau tujuan tertentu

4) Umumnya ditemukan pada masyarakat perkotaan modern

5) Terbentuk secara alami sejak lahir tanpa melalui pilihan

39. Berikut adalah pernyataan mengenai stratifikasi sosial. Pilihlah pernyataan yang BENAR (jawaban dapat lebih dari satu)!

1) Dasar stratifikasi sosial dapat berupa kekayaan, kekuasaan, pendidikan, dan kehormatan

2) Semua masyarakat memiliki sistem stratifikasi sosial yang terbuka

3) Stratifikasi sosial dapat bersifat tertutup, terbuka, ataupun campuran

4) Stratifikasi sosial tidak pernah memengaruhi akses seseorang terhadap sumber daya

5) Status yang diperoleh melalui usaha (achieved status) dapat mengubah posisi seseorang dalam stratifikasi

40. Berikut adalah ciri upaya pemberdayaan komunitas yang efektif. Pilihlah pernyataan yang BENAR (jawaban dapat lebih dari satu)!

1) Melibatkan partisipasi aktif masyarakat sasaran dalam setiap tahapannya

2) Bersifat top-down sepenuhnya tanpa mempertimbangkan kearifan lokal

3) Berkelanjutan dan berorientasi pada kemandirian masyarakat

4) Memanfaatkan potensi dan aset lokal yang telah dimiliki masyarakat

5) Hanya berupa bantuan tunai tanpa disertai pendampingan


 

BAGIAN C — MENJODOHKAN (Nomor 41 s.d. 50)

Jodohkan pernyataan pada Kolom A dengan istilah yang paling tepat pada Kolom B dengan menuliskan huruf jawaban pada lembar jawaban! (Kolom B memuat lebih banyak pilihan daripada Kolom A.)

No

Kolom A (Pernyataan)

No

Kolom B (Istilah)

41

Seorang mahasiswa baru mempelajari aturan dan budaya organisasi kampus yang berbeda dari lingkungan sekolahnya dahulu.

a.

Sosialisasi sekunder

42

Anak seorang petani berhasil menjadi bupati melalui jenjang karier politik yang ditempuhnya.

b.

Mobilitas sosial vertikal naik

43

Masyarakat Indonesia terbagi ke dalam berbagai suku, agama, dan profesi tanpa ada yang lebih tinggi secara hierarkis.

c.

Diferensiasi sosial

44

Masyarakat mulai terbiasa menggunakan aplikasi pembayaran digital, sementara regulasi hukum yang melindungi konsumen belum menyesuaikan.

d.

Cultural lag (ketertinggalan budaya)

45

Terjadi bentrokan antarwarga kampung karena berebut lahan parkir di area pasar.

e.

Konflik horizontal

46

Dua kebudayaan yang bertemu kemudian melebur menjadi satu kebudayaan baru dan menghilangkan ciri khas budaya asal masing-masing.

f.

Asimilasi

47

Norma-norma lama dianggap tidak lagi relevan, sementara norma baru belum terbentuk, sehingga masyarakat kehilangan pedoman berperilaku.

g.

Anomie

48

Setelah melalui negosiasi panjang, dua kelompok yang berkonflik sepakat membentuk aturan bersama yang dipatuhi kedua belah pihak.

h.

Integrasi normatif

49

Seseorang menganggap budaya sukunya sendiri paling unggul dan meremehkan budaya suku lain.

i.

Etnosentrisme

50

Perubahan dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri yang berlangsung bertahap selama puluhan tahun.

j.

Perubahan sosial evolusi

 

 

k.

Ketimpangan sosial

 

 

l.

Interaksi asosiatif