Rabu, 28 Oktober 2026

Di Persimpangan Nasib

 


Setiap pagi, sebelum matahari meninggi, seorang lelaki sudah berdiri di pertigaan jalan. Di tangannya ada tongkat kecil. Bukan seragam, bukan peluit, bukan pula surat tugas. Ia hanya seorang relawan pengatur lalu lintas yang berharap mendapatkan uang seikhlasnya dari para pengendara.

Kulitnya legam terbakar matahari. Bajunya lusuh, sepatunya usang. Namun, tangannya tetap sigap memberi isyarat kepada kendaraan yang datang dari berbagai arah.

Kadang ia mendapat uang lima ribu rupiah. Kadang hanya senyum tipis dari pengendara. Bahkan, tak jarang ia diabaikan begitu saja.

Ia tidak pernah benar-benar bercita-cita berdiri di tengah jalan. Dulu, ia pernah bekerja di sebuah gudang. Namun, setelah kehilangan pekerjaan, lamaran demi lamaran tak kunjung membuahkan hasil. Usia, pengalaman, dan kesempatan seolah menjadi pintu-pintu yang tertutup di hadapannya.

Akhirnya, ia berdiri di sana. Bukan karena itulah pekerjaan impiannya, melainkan karena hidup tidak memberinya banyak pilihan.

Setiap pagi dan sore, seorang polisi juga bertugas di pertigaan itu. Dengan seragam dan kewenangan yang dimilikinya, polisi tersebut mengatur arus kendaraan agar tetap tertib. Keduanya berdiri di jalan yang sama, menghadapi panas yang sama, tetapi dengan keadaan hidup yang berbeda.

Lelaki itu tidak iri. Ia hanya sesekali bertanya dalam hati, mengapa sebagian orang memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang pasti, sementara sebagian lainnya harus menggantungkan harapan pada kemurahan hati orang yang melintas.

Saat matahari tepat di atas kepala, keringat membasahi punggungnya. Kendaraan terus berlalu, membawa orang-orang menuju tempat kerja, sekolah, dan berbagai tujuan. Sementara ia tetap di tempatnya, berusaha mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk dibawa pulang.

Baginya, lima ribu rupiah bukan sekadar uang receh. Di dalamnya ada harapan untuk membeli beras, membayar kebutuhan rumah, atau sekadar memastikan keluarganya bisa makan hari itu.

Ia memahami bahwa setiap orang punya kesibukan dan kesulitan masing-masing. Karena itu, ia tidak pernah memaksa siapa pun memberinya uang. Ia hanya berharap tenaganya dihargai, sekecil apa pun nilainya.

Menjelang petang, ia merapikan tongkatnya dan menghitung uang yang terkumpul. Jumlahnya tak seberapa. Namun, ia memasukkannya ke saku dengan hati-hati, seolah sedang menyimpan sesuatu yang berharga.

Besok, mungkin ia akan kembali ke tempat yang sama. Berdiri di bawah matahari, mengangkat tangan, dan berharap hari esok sedikit lebih baik daripada hari ini.

Sebab terkadang, manusia tidak sedang menjalani kehidupan yang dipilihnya. Ia hanya sedang bertahan dengan jalan yang tersedia.

Kita sering melihat seseorang dari pekerjaannya, tanpa mengetahui berapa banyak pintu yang telah diketuknya dan berapa kali harapannya ditolak.

Kita melihat seorang lelaki di persimpangan jalan, tetapi mungkin lupa bahwa di balik tongkat kecil dan tangannya yang terulur, ada seorang manusia yang memiliki harga diri, keluarga, dan mimpi yang belum selesai.

Barangkali, hidup memang seperti persimpangan. Tidak semua orang mendapatkan jalan yang lapang. Namun, setiap orang berhak memperoleh kesempatan untuk melangkah lebih jauh.

Dan sebelum menilai seseorang dari tempatnya berdiri, ada baiknya kita mengingat satu hal: tidak semua orang yang berdiri di pinggir jalan sedang menunggu belas kasihan. Sebagian hanya sedang mencari jalan pulang menuju kehidupan yang lebih layak.