Setiap pagi, sebelum matahari meninggi, seorang lelaki sudah berdiri di pertigaan jalan. Di tangannya ada tongkat kecil. Bukan seragam, bukan peluit, bukan pula surat tugas. Ia hanya seorang relawan pengatur lalu lintas yang berharap mendapatkan uang seikhlasnya dari para pengendara.
Kulitnya legam terbakar matahari.
Bajunya lusuh, sepatunya usang. Namun, tangannya tetap sigap memberi isyarat
kepada kendaraan yang datang dari berbagai arah.
Kadang ia mendapat uang lima ribu
rupiah. Kadang hanya senyum tipis dari pengendara. Bahkan, tak jarang ia
diabaikan begitu saja.
Ia tidak pernah benar-benar
bercita-cita berdiri di tengah jalan. Dulu, ia pernah bekerja di sebuah gudang.
Namun, setelah kehilangan pekerjaan, lamaran demi lamaran tak kunjung
membuahkan hasil. Usia, pengalaman, dan kesempatan seolah menjadi pintu-pintu
yang tertutup di hadapannya.
Akhirnya, ia berdiri di sana. Bukan
karena itulah pekerjaan impiannya, melainkan karena hidup tidak memberinya
banyak pilihan.
Setiap pagi dan sore, seorang polisi
juga bertugas di pertigaan itu. Dengan seragam dan kewenangan yang dimilikinya,
polisi tersebut mengatur arus kendaraan agar tetap tertib. Keduanya berdiri di
jalan yang sama, menghadapi panas yang sama, tetapi dengan keadaan hidup yang
berbeda.
Lelaki itu tidak iri. Ia hanya
sesekali bertanya dalam hati, mengapa sebagian orang memiliki pekerjaan dengan
penghasilan yang pasti, sementara sebagian lainnya harus menggantungkan harapan
pada kemurahan hati orang yang melintas.
Saat matahari tepat di atas kepala,
keringat membasahi punggungnya. Kendaraan terus berlalu, membawa orang-orang
menuju tempat kerja, sekolah, dan berbagai tujuan. Sementara ia tetap di
tempatnya, berusaha mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk dibawa pulang.
Baginya, lima ribu rupiah bukan sekadar
uang receh. Di dalamnya ada harapan untuk membeli beras, membayar kebutuhan
rumah, atau sekadar memastikan keluarganya bisa makan hari itu.
Ia memahami bahwa setiap orang punya
kesibukan dan kesulitan masing-masing. Karena itu, ia tidak pernah memaksa
siapa pun memberinya uang. Ia hanya berharap tenaganya dihargai, sekecil apa
pun nilainya.
Menjelang petang, ia merapikan
tongkatnya dan menghitung uang yang terkumpul. Jumlahnya tak seberapa. Namun,
ia memasukkannya ke saku dengan hati-hati, seolah sedang menyimpan sesuatu yang
berharga.
Besok, mungkin ia akan kembali ke
tempat yang sama. Berdiri di bawah matahari, mengangkat tangan, dan berharap
hari esok sedikit lebih baik daripada hari ini.
Sebab terkadang, manusia tidak
sedang menjalani kehidupan yang dipilihnya. Ia hanya sedang bertahan dengan
jalan yang tersedia.
Kita sering melihat seseorang dari
pekerjaannya, tanpa mengetahui berapa banyak pintu yang telah diketuknya dan
berapa kali harapannya ditolak.
Kita melihat seorang lelaki di
persimpangan jalan, tetapi mungkin lupa bahwa di balik tongkat kecil dan
tangannya yang terulur, ada seorang manusia yang memiliki harga diri, keluarga,
dan mimpi yang belum selesai.
Barangkali, hidup memang seperti
persimpangan. Tidak semua orang mendapatkan jalan yang lapang. Namun, setiap
orang berhak memperoleh kesempatan untuk melangkah lebih jauh.
Dan sebelum menilai seseorang dari
tempatnya berdiri, ada baiknya kita mengingat satu hal: tidak semua orang
yang berdiri di pinggir jalan sedang menunggu belas kasihan. Sebagian hanya
sedang mencari jalan pulang menuju kehidupan yang lebih layak.
