Minggu, 08 Februari 2009

Membuat Skripsi yang Sosiologis (Tulisan ini masih rintisan)

Membuat Skripsi yang Sosiologis

(Tulisan ini masih rintisan)


Pendahuluan

Tulisan ini merupakan pengalaman saya selama mengerjakan skripsi dengan penelitian kancah atau lapangan dengan metode kualitatif. Penelitian yang saya lakukan pada 2007 silam itu tentang Jemaah Lil Muqorrobien: Studi tentang Warga Syathoriyah di Kelurahan Tanjunganom, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk. Penelitian itu sendiri tergolong ke dalam sosiologi agama.

Ada beberapa buku yang bisa dipakai untuk memperluas wawasan. Misalnya Pedoman Karya Penulisan Karya Ilmiah (2006) yang diterbitkan oleh Universitas Jember. Judul lain, misalnya Metode Penelitian Kualitatif: Aplikasi Praktis Pembuatan Proposal dan Laporan Penelitian (2005) oleh Hamidi; Metode Penelitian Naturalistik-Kualitatif (2003) oleh Nasution; Teori dan Paradigma Penelitian Sosial (2001) yang disunting oleh Agus Salim; Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa oleh Clifford Geertz; Vitamin T: Bagaimana Mengubah Diri lewat Membaca dan Menulis oleh Hernowo.


1. Pemilihan Judul

Skripsi juga merupakan produk, yakni produk ilmu pengetahuan. Layaknya produk maka dalam pembuatannya mau tidak mau perlu mengikuti standar sebuah produk. Dalam hal ini, mahasiswa dituntut agar skripsinya memiliki nilai akademis dan tentu saja nilai sosiologis. Pemilihan judul ini biasanya bisa menunjukan apakah suatu skripsi sudah memuat unsur sosiologis.

Nilai akademis itu seperti nilai berita bagi seorang wartawan. Misalnya fakta pertama, matahari akan terbit dari ufuk timur. Fakta kedua, akan terjadi gerhana matahari cincin selama beberapa menit. Seorang wartawan cenderung akan memilih fakta kedua. Hal itu karena fakta kedua itu memiliki nilai berita. Matahari yang terbit dari ufuk timur adalah hal umum dan tidak bernilai berita bagi seorang wartawan.

Terkadang pemilihan judul ini menjadi pekerjaan yang gampang-gampang susah. Agar gampang memilih judul maka perlu banyak membaca buku-buku penelitian, jurnal berstandar yang masih berkaitan dengan sosiologi, skripsi berstandar, tesis, disertasi, dan bacaan yang lainnya. Lebih-lebih bacaan yang bersumber dari internet. Informasi-informasi tersebut kemudian dipilah-pilah, dicocok-cocokkan. Kira-kira mana yang bisa dibuat menjadi judul.


2. Latar Belakang

Salah besar apabila dalam latar belakang ini seorang mahasiswa sebagai peneliti hanya merangkai-rangkai pendapat orang lain. Misalnya, satu paragraf dari buku A diletakkan di latar belakang; tiga paragraf dari suatu judul dalam jurnal di letakkan di latar belakang di halaman pertama; dua paragraf dari internet diletakkan di halaman dua; enam paragraf dari koran diletakkan di halaman tiga sehingga jadilah latar belakang sebanyak empat halaman tanpa sudut pandang dari peneliti sebagai penulis. Cara itu menurut hakikat menulis adalah salah.

Kartanegara (2005:190) pun menekankan perlu adanya penilaian subjektif dari penulis dan menyayangkan cara-cara pengutipan yang berlebihan. Lebih-lebih itu akan salah besar dan lebih keliru lagi jika tanpa mencantumkan sumber yang dikutip. Dalam karya ilmiah, umumnya kutip mengutip merupakan hal yang tidak bisa dihindari. Sungguhpun demikian, pengutipan ini idealnya dilakukan secara hemat.

Sudut pandang atau konstruksi pikiran peneliti sendiri sebagai penulis merupakan hal yang sangat penting. Dalam menulis, seperti yang dikatakan oleh Hernowo (2004:48), betapa pentingnya MENULISKAN PIKIRAN yang tidak lain adalah sudut pandang dari penulis sendiri. Barangkali penulis pemula akan sangat kesulitan memenuhi tuntutan itu. Bahkan, mungkin hasil tulisannya jelek, tetapi di situlah proses sejatinya. Bagaimanapun juga itulah hakikat menulis yang umumnya juga memerlukan proses tertentu.

Hal itu berlaku pula pada bagian latar belakang dan bagian lain dalam skripsi. Dengan demikian, kemampuan menulis, yakni menulis karya ilmiah merupakan syarat mutlak dalam mengerjakan skripsi. Dan lagi, karya ilmiah memiliki gaya bahasa tersendiri. Misalnya, tulisannya bersifat formal dan obyektif (Johannes dalam Ndraha, 1987:103). Dalam hubungan ini, kemampuan membaca juga memegang peranan penting. Banyak penulis berpendapat bahwa antara menulis dan membaca ibarat dua sisi mata uang.

Pola penyusunan kerangka tulisan juga bisa mengikuti dua pola. Pertama, pola alamiah yang meliputi urutan ruang dan urutan waktu; kedua, pola logis (Finoza, 2002:179-180). Pola-pola tersebut, misalnya perjalanan Kereta Api (KA) Logawa dari Jember ke Surabaya. Berdasarkan urutan ruang maka pertama kali KA akan berangkat dari Stasiun Jember. Setelah itu ke stasiun di Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, Sidoarjo, baru ke Surabaya. Demikian pula dengan urutan waktunya, yakni KA Logawa berangkat dari Jember pukul 05.00 dan tiba di Surabaya sekitar pukul 10.00.


2.1 Rumusan Masalah

Umumnya mahasiswa, termasuk pengalaman saya, kesulitan menyatakan rumusan masalah. Kesulitannya biasanya terletak pada fokus permasalahan dan mengapa rumusan masalah itu begitu penting.


2.2 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Sejumlah dosen tidak menginginkan tujuan maupun manfaat penelitian ditulis ulang. Misalnya menulis “tujuan merupakan sasaran yang ingin dicapai.” Pendefinisian ulang itu mengesankan bertele-tela meskipun itu bersifat fleksibel. Oleh karena itu, sejumlah dosen menginginkan agar langsung pada intinya, yakni apa tujuan maupun manfaat penelitian, tetapi biasanya didahului dengan satu atau dua baris sebagai pembuka.


3. Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka biasanya diawali dengan kerangka teori.


4. Metode Penelitian

Penelitian kualitatif ada delapan metode.


5. Hasil dan Pembahasan

Dalam bab hasil dan pembahasan ini biasanya di awali dengan gambaran lokasi penelitian. Biasanya subbab pada bagian ini meliputi gambaran lokasi penelitian, kehidupan religi, kehidupan politik, bidang pendidikan, dan lain sebagainya. Umumnya, subbab tersebut menyesuaikan dengan topik penelitian. Jadi, sifatnya fleksibel. Pada saat yang sama, peneliti juga menganalisis data.

Analisis data ini sebetulnya merupakan seni menginterpretasi data dalam bentuk tulisan. Dengan demikian, diperlukan seni dalam menulis ilmiah dengan metode kualitatif. Untuk analisis data, lebih mudah bisa melihat ilustrasi berikut ini. Ditemukan buah pisang, jeruk, semangka, pepaya, apel, mangga, nenas, salak, nangka, durian, dan sirsak.

Umumnya analisis penelitian kualitatif bersifat induktif, yakni penarikan kesimpulan dari hal yang khusus ke hal yang umum. Apabila di tempat penelitian peneliti menemukan buah-buahan di atas maka dapat dikelompokan ke dalam dua kelompok, seperti berikut ini. Buah-buahan yang berkulit halus: pisang, jeruk, semangka, pepaya, dan apel. Kemudian, buah-buahan yang berkulit kasar: nenas, salak, nangka, durian, dan sirsak.

Dalam hubungan ini, anggaplah buah-buahan yang berkulit halus sebagai rumusan masalah yang pertama dan buah-buahan yang berkulit kasar sebagai rumusan masalah yang kedua. Dalam hasil dan pembahasan buah seperti pisang, jeruk, semangka, pepaya, dan apel dijelaskan secara rinci. Misalnya, bagaimana warnanya, bentuknya, dan lain sebagainya. Demikian juga dengan buah-buahan yang berkulit kasar.

Memang, dalam penelitian yang sesungguhnya pengelompokan itu bisa sangat rumit. Hal itu mengingat dalam ilmu sosial fenomena di kancah umumnya begitu kompleks. Sekali lagi, bahwa analisis data ini memerlukan imajinasi peneliti dalam menginterpretasi data. Dengan demikian, kemampuan menulis (seperti halnya seluruh bagian dalam skripsi) mutlak diperlukan. Sebagaimana metode induktif tersebut sebetulnya juga dipakai oleh Clifford Geertz yang membuat tipologi agama di Jawa, yakni Santri, Abangan, dan Priyayi. Tipologi itu cukup sensasional dalam wacana akademis meskipun tipologi itu dinilai kabur.

Demi etika penelitian, informan dalam penelitian kualitatif biasanya disamarkan. Misalnya, nama asli seorang informan adalah Suprapto maka nama itu disamarkan menjadi Paidi. Dalam penelitian kualitatif, profil informan biasanya dijelaskan secara rinci. Misalnya, umurnya, pekerjaannya, riwayat pendidikan, dan lain sebagainya. Bahkan, nama tempat penelitian pun terkadang juga disamarkan. Seperti halnya Geertz yang menyamarkan lokasi penelitian dengan Mojokuto yang sesungguhnya bukan nama asli tempat penelitian.

Sekarang, Mojokuto tersebut adalah wilayah Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur (Radar Kediri Group Jawa Pos, 18 November 2006). Kemudian, Rahman (2005:2) juga menyamarkan nama sebuah desa tempat penelitian dilakukan dengan mengatakan “Lintang Kulon adalah nama sebuah desa yang terletak di sebuah wilayah kecamatan di Provinsi Jawa Tengah.” Etika itu juga bertujuan menjaga kerahasiaan informan maupun tempat penelitian.

Mengenai hasil dan pembahasan, sampai sekarang, saya sebetulnya masih bingung khususnya jika membaca sejumlah skripsi dalam Program Studi Sosiologi. Pertama, ada skripsi yang menuliskan kutipan langsung (KL) dan kutipan tidak langsung (KTL) di bagian hasil dan pembahasan. KL dan KTL ini misalnya bersumber dari buku lain. Kedua, ada skripsi yang murni hanya menuliskan hasil temuan dalam hasil dan pembahasan. Ketiga, ada yang menilai itu semua bersifat fleksibel. Boleh menulis KL maupun KTL, tetapi boleh juga tidak menuliskannya.

Saya cenderung pada yang kedua, tetapi dengan catatan. Hasil dan pembahasan merupakan murni temuan penelitian. Khususnya penelitian lapangan. Alasannya, itu untuk menjaga keasilan hasil penelitian dalam bab hasil dan pembahasan. Lagi pula, bukankah KL atau KTL itu seperti teori dan teori ini sudah ditulis pada tinjauan pustaka.

Catatannya, KL dan KTL ini adalah tuturan, ucapan, kata dari informan. Intinya berbeda dengan bab tinjauan pustaka. Jadi, segala hal yang ditemukan saat meneliti diolah dan ditulis dalam bab hasil dan pembahasan. Dengan kata lain, penulisan di bab hasil dan pembahasan ini seperti yang wartawan koran lakukan dalam menulis berita.


6. Kesimpulan dan Implikasi Teoretis

Kesimpulan ini berisi pernyataan secara padat yang menjawab rumusan masalah.


Daftar Pustaka

Hernowo. 2004. Vitamin T: Bagaimana Mengubah Diri lewat Membaca dan Menulis.

Bandung: Mizan Learning Center.


Kartanegara, Mulyadhi. 2005. Seni Mengukir Kata: Kiat-Kiat Menulis Efektif-Kreatif.

Bandung: Mizan Learning Center.


Ndraha, Taliziduhu. 1987. Disain Riset dan Teknik Penyusunan Karya Ilmiah.

Jakarta: PT Bina Aksara.


Rahman, Bustami. 2005. Menggugat Dikotomi Santri-Abangan. Jember:

Kompyawiswa Jatim.




Jemaah Lil Muqorrobien: Warga Syathoriyah di Kelurahan Tanjunganom, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk

RINGKASAN

Gerakan Tarekat dalam Agama Islam di Tanjunganom: Studi terhadap Tipologi Jemaah Lil Muqorrobien di Kelurahan Tanjunganom, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur; Puguh Utomo; 030910302003; 2008, 103 halaman; Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jember.

Penelitian ini bermula dari isu akademis berupa kebangkitan agama. Salah satu pendekatan ilmiah yang mengkaji agama, yakni sosiologi. Agama yang dimaksud dalam penelitian ini adalah Islam yang ada di Kelurahan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Tanjunganom, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, yang efektifnya dilakukan pada bulan Juni sampai Juli 2007. Di tempat itulah berkembang Tarekat Syathoriyah. Tarekat Syathoriyah tepatnya berada di sebuah pondok bernama Pondok Modern Sumber Daya At Takwa (POMOSDA). POMOSDA juga dikenal sebagai Pondok Sufi. Perlu diketahui bahwa Syathoriyah yang ada di Kelurahan Tanjunganom oleh pengikutnya disebut sebagai ilmu, sedangkan himpunan orang-orang pengamal ilmu Syathoriyah disebut dengan Jemaah Lil Muqorrobien.

Ada dua rumusan masalah dalam penelitian ini. Pertama, bagaimana karakteristik Jemaah Lil Muqorrobien di Kelurahan Tanjunganom. Kedua, bagaimana tipologi Jemaah Lil Muqorrobien di Kelurahan Tanjunganom. Seperti dikemukakan oleh Glock dan Stark (1965 dalam Rakhmat 2004:111) karakteristik tersebut dilihat dari tiga dimensi, yakni dimensi eksperiensial, dimensi ritus, dan dimensi konsekuensial atau dimensial sosial. Kemudian, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik Jemaah Lil Muqorrobien sekaligus untuk mengidentifikasi dalam gerakan keagamaan Jemaah Lil Muqorrobien tergolong tipologi yang mana.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan memakai paradigma konstruktivisme. Paradigma tersebut mengimplikasikan bahwa hasil penelitian merupakan hasil interaksi antara peneliti dengan informan. Kemudian, strategi dalam penelitian ini menggunakan fenomenologi yang memandang objek penelitian sebagai “gejala yang murni”. Informan dalam penelitian ini ada sembilan orang. Jumlah informan ditetapkan dengan menggunakan teknik snawball-ball, yakni pengumpulan data melalui wawancara-mendalam dari satu informan ke informan lainnya sampai dianggap tidak ditemukan lagi data atau informasi baru. Pengumpulan data juga dilakukan dengan pengamatan terlibat, yakni mengamati dan melibatkan diri dalam kegiatan Jemaah Lil Muqorrobien, baik yang dilakukan di pusat maupun di cabang.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Jemaah Lil Muqorrobien dalam dimensi eksperiensial memiliki karakteristik tersendiri, misalnya diwujudkan dengan keyakinan pada seorang guru washitah. Sementara itu, pada dimensi ritus dalam Jemaah Lil Muqorrobien, yang membedakan dengan umat Islam pada umumnya, antara lain, pemakaian doa qunut dalam setiap sholat lima waktu. Selain hal itu, setiap Jemaah Lil Muqorrobien juga melaksanakan puji wali kutub yang dilaksanakan secara rutin setiap Jumat Legi dan Ahad Pahing di pusatnya, yakni di Kelurahan Tanjunganom. Pada dimensi konsekuensial, penelitian ini juga menunjukkan bahwa gerakan dalam Jemaah Lil Muqorrobien tergolong tipologi reformis-modernis.

Paguyuban Mitreka Satata


Paguyuban Mitreka Satata

Oleh: Puguh Utomo

Saat itu saya di bangku sekolah menengah atas (SMA) negeri 2 Nganjuk kelas III. Suatu hari SMA didatangi oleh sejumlah mahasiswa dari Universitas Jember (Unej). Mereka hendak briefing tentang dunia kampus. III IPS 3, kelas merupakan satu di antara kelas yang dimasuki. Rata-rata setiap kelas dimasuki oleh satu sampai dua orang mahasiswa. Dengan memakai jas almamater, mereka menerangkan perihal kehidupan kampus layaknya seorang guru.

Dalam satu penjelasannya, seseorang yang masuk di kelas III IPS 3 mengatakan tentang keberadaan paguyuban, yakni semacam perkumpulan mahasiswa dalam satu wilayah. Paguyuban itu biasanya ada di setiap kota tempat perguruan tinggi (PT). Selain hal itu, setiap paguyuban itu memiliki nama masing-masing. Misalnya, di Surabaya mahasiswa asal Nganjuk membentuk diri dalam paguyuban bernama Warga Bayu. Di Bandung bernama Warayang.

Sementara itu, di Jember bernama Mitreka Satata. Konon, briefing tersebut mampu memengaruhi minat siswa untuk memutuskan berkuliah ke Unej. Pada 2003 tercatat ada 16 alumnus SMAN 2 Nganjuk yang memutuskan berkuliah di Unej. Penulis merupakan satu di antara ke 16 tersebut. Kabarnya, jumlah itu merupakan tertinggi dalam sejarah SMAN 2 Nganjuk yang alumninya berkuliah di Unej. Kegiatan briefing itu pun dikoordinasi oleh paguyuban bernama Mitreka Satata.

Mitreka, mitre berarti mitra, rekan, atau teman. Satata, berasal dari bahasa sanskerta, artinya sederajat atau setara. Dengan demikian, Mitreka Satata berarti teman yang setara. Kelahiran Mitreka Satata sendiri diilhami oleh sebuah peristiwa. Saat itu ada mahasiswa asal Nganjuk yang mengalami kecelakaan. Saat itu pihak keluarga yang dari Nganjuk tidak dapat langsung mengurusi si mahasiswa yang mengalami kecelakaan. Kemudian, mengetahui hal itu akhirnya sejumlah mahasiswa asal Nganjuk waktu itu tergerak membantu si mahasiswa asal Nganjuk tersebut. Selanjutnya, sejumlah mahasiswa itu akhirnya berinisiatif membentuk paguyuban bernama Mitreka Satata. Kira-kira itulah sejarah Mitreka Satata yang saat itu diceritakan oleh salah seorang sesepuh Mitreka Satata, yang telah menjadi seorang dosen, saat acara buka puasa bersama, 8 Oktober 2005. Waktu itu, buka puasa bersama di adakan di sebuah rumah, persisnya kantor cabang suatu partai.

Mitreka Satata sendiri memiliki karakteristik layaknya sebuah paguyuban. Keanggotaannya sangat fleksibel sehingga tidak mengikat. Bahkan, lebih bersifat kekeluargaan. Hampir dapat dipastikan bahwa mitreka (untuk menyebut individu dalam Mitreka Satata) berstatus sebagai mahasiswa, khususnya yang berasal dari Kabupaten Nganjuk. Sederhananya, siapapun yang tinggal di Jember dan masih memiliki latar belakang Nganjuk maka dengan sendirinya menjadi bagian dari Mitreka Satata. Seperti disebutkan di atas, latar belakang itulah yang sebetulnya didasari oleh rasa persaudaraan, mendorong terbentuknya paguyuban. Waktu itu, sekretariatnya terletak di kawasan kampus di Jl. Kalimantan. Awalnya, sekretariat berupa bangunan yang memiliki tiga kamar itu merupakan sebuah rumah yang dikontrak oleh lima orang mahasiswa asal Nganjuk. Penghuni kontrakan itu sekaligus koordinator Mitreka Satata saat itu.

Kemudian, setelah masa kontrakan di Jl. Kalimantan habis para penghuninya berpindah ke Jl. Brantas. Mereka tetap menempati rumah kontrakan. Seiring dengan itu, rupanya sekretariat Mitreka Satata juga berpindah ke kawasan Jl. Brantas. Acara buka puasa bersama pada 2008 pun dilaksanakan di rumah kontrakan di Jl. Brantas.

Ada sejumlah kegiatan yang dilaksanakan oleh Mitreka Satata. Di antaranya, kegiatan briefing ke sejumlah sekolah di Nganjuk, seperti di atas. Selain hal itu, juga penyambutan mahasiswa baru asal Nganjuk. Itu dilakukan menjelang tahun ajaran baru, sekitar bulan Juli. Kendatipun tidak dapat menjaring seluruh mahasiswa baru asal Nganjuk, tetapi kegiatan itu merupakan wujud kepedulian seperti antara tuan rumah dan tamu. Kegiatan lainya, yakni acara buka puasa bersama. Ini biasanya juga rutin dilaksanakan sekali setahun di bulan Ramadhan. Acara buka puasa pada 8 Oktober 2005 itu sendiri dihadiri oleh sekitar 40 orang.

Adapun kegiatan lainnya, yakni les Bahasa Inggris yang diikuti oleh kurang dari sepuluh orang. Pertemuan dalam les ini, yakni sekali dalam seminggu. Saat itu, ada seorang pengajar dari sebuah lembaga kursus Bahasa Inggris yang bersedia mengajar. Namun, kegiatan yang ditempatkan di sekretariat Mitreka Satata tersebut hanya berlangsung kurang dari dua bulan.

Kemudian, Mitreka Satata juga pernah mengadakan wisata ke pantai Pasir Putih Malikan (Papuma), kawasan wisata terkenal di Jember selatan. Akan tetapi, itu pun hanya diikuti oleh sebagian orang saja. Di samping itu, sebetulnya ada sejumlah kegiatan yang coba dilaksanakan oleh Mitreka Satata. Akan tetapi, dengan segala keterbatasan akhirnya hanya kegiatan-kegiatan tertentu saja, seperti buka puasa bersama, dapat dijalankan. Bahkan, pernah juga sekitar tahun 2004 Mitreka Satata menyelenggarakan halal bil halal di rumah salah seorang mitreka di Nganjuk.

Ada sejumlah manfaat yang dapat dipetik dari Mitreka Satata. Misalnya, saat ada pertemuan maka itu dimungkinkan antarmitreka bisa saling kenal dan ini merupakan sarana bagi interaksi sosial selanjutnya. Bahkan, jalinan keakraban itu memungkinkan mitreka seperti “di rumah sendiri”. Dari segi sosiolinguistik itu ditandai misalnya kesamaan logat. Itu mengingat jarak kampung halaman mitreka beratus-ratus kilometer. Di samping itu, dengan beragamnya mitreka yang dari berbagai jurusan dan program studi memungkinkan pula saling tukar pengalaman. Kemudian, mengingat mitreka merupakan perantau sehingga di antara mitreka dapat saling membantu satu sama lain. Dalam kaitan itu, satu dua kisah menceritakan bahwa jodoh pun ditemukan dalam Mitreka Satata.

Sungguhpun demikian, itu semua berpulang pada sikap setiap mitreka terhadap Mitreka Satata. Lagi pula setiap mitreka memiliki pilihan masing-masing. Sikap itu misalnya terwujud dari kegiatan-kegiatan yang memungkinkan dijalankan dan bermanfaat bagi mitreka. Hal itu mengingat setiap mitreka juga memiliki aktifitas sendiri baik berkait dengan kuliah maupun aktifitas dalam organisasi lain. Dalam hubungan ini, interaksi sosial mitreka di Jember pun amatlah luas. Setiap mitreka memiliki keinginan untuk membaur dalam lingkup sosial yang lebih luas. Itu terlihat misalnya tempat tinggal mitreka, yakni indekos yang tidak terpusat pada satu tempat tertentu. Kenyataannya, indekos para mitreka cenderung memencar.

Selain itu, perkembangan teknologi dan informasi, misalnya telepon seluler (ponsel), pun memengaruhi sikap seseorang dalam berinteraksi sosial. Memang, asumsi ini masih cukup lemah, tetapi bisa jadi ini pun memengaruhi keberadaan paguyuban Mitreka Satata. Tentu saja bukan menyalahkan perkembangan teknologi dan informasi, tetapi ponsel misalnya, seolah memperpendek jarak dan waktu dalam berkomunikasi. Oleh karena itu, dengan perkembangan teknologi dan informasi tersebut cara berkomunikasi pada sepuluh atau dua puluh tahun silam tentu ada perbedaan dengan masa sekarang.

Mitreka Satata, apa kabar?

Puguh Utomo

(Orang Nganjuk)

Mahasiswa Program Studi Sosiologi

Universitas Jember

Kamis, 05 Februari 2009

Naik Kereta Api Nganjuk - Jember (Tahun 2003 - 2008)

-->
Naik Kereta Api Nganjuk - Jember (Tahun 2003 - 2008)

Kata “sepurberasal dari bahasa Belanda, spoor. Karena alasan tertentu dalam pengindonesiaan kata, akhirnya spoor diindonesiakan menjadi sepur. Dalam sejarahnya, kata sepur itu berkait dengan penjajahan Belanda terhadap Indonesia silam. Hal itu mengingat transportasi darat tersebut mulai dikenalkan di Indonesia sejak tahun 1864 oleh Belanda. Dalam kaitan itu, saya menjumpai rel untuk lori (gerobak yang berjalan di atas rel) di Desa Ngumpul. Desa Ngumpul terletak di sebelah barat daya dari kampung halaman saya dan berjarak kurang dari lima kilomoter. Baik kampung halaman saya maupun Desa Ngumpul masih berada dalam satu kecamatan, yakni Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.
Menurut orang-orang setempat, rel atau mereka menyebutnya lori itu merupakan peninggalan Belanda. Jadi, pembangunan sepur tidak dapat dilepaskan dari masa penjajahan Belanda. Rel untuk lori tersebut ukuran relnya lebih kecil daripada rel sepur untuk penumpang. Namun, lori yang terletak di tengah-tengah perkebunan kayu putih yang daunnya sebagai bahan baku minyak kayu putih itu sudah tidak dipakai lagi. Akan tetapi, relnya masih tetap menancap sampai sekarang. Hal itu berbeda dengan lori yang ada di sebuah wilayah di Kabupaten Lumajang seperti yang pernah saya jumpai. Di wilayah tersebut lori masih dipakai untuk mengangkut batang tanaman tebu.
Selain sepur, juga dikenal nama kereta api (KA). Media massa seperti televisi, koran, dan radio cenderung memakai kata KA. Misalnya, dalam pemberitaan arus mudik lebaran maupun kecelakaan yang menimpa transportasi massal tersebut. Namun, di wilayah Kecamatan Bagor ada sebuah perlintasan KA yang pada tiang rambunya masih tertulis sepur dan spoor. Perlintasan KA yang tak berpalang pintu dan pernah meminta nyawa tersebut berjarak sekitar lima kilometer dari kampung halaman saya. Dengan kata lain, baik spoor, sepur maupun kereta api sama saja. Hanya saja kata sepur lebih akrab di telinga orang-orang di kampung halaman saya yang notabene pedusunan.
Dulu, antara tahun 1991 sampai dengan tahun 1997, saat masih duduk di sekolah dasar (SD) saya biasanya dapat melihat sepur dari jarak sekitar empat kilometer. Dari jarak itu, KA terlihat kecil seperti ulat. Namun, dari jarak itu suaranya masih terdengar cukup jelas. Jangkauan penglihatan itu sangat memungkinkan sebab saya melihatnya dari gubuk, di hamparan sawah yang ditanami padi sehingga tidak menghalangi penglihatan. Biasanya KA melintas di pagi hari. Saat itu, saya berpikir kira-kira kapan saya bisa melakukan perjalanan dengan KA.
Kemudian, antara tahun 2003 sampai awal tahun 2008, angan-angan saya terkabul, sampai-sampai sudah tidak bisa menghitung secara pasti sudah berapa kali naik sepur dalam perjalanan Nganjuk-Jember. Perjalanan itu demi kepentingan studi akademis ke Universitas Jember. Kalau diperkirakan dalam setahun rata-rata saya mudik sebanyak tiga kali. Sementara sekarang saya sudah hampir enam tahun berada di Jember. Oleh karena itu, kira-kira saya sudah enam belas kali (pulang pergi) naik KA dalam perjalanan Nganjuk-Jember. KA yang saya naiki, yakni KA kelas ekonomi, yakni KA Sri Tanjung dan KA Logawa. Akan tetapi, KA Logawa merupakan yang sering saya naiki meskipun harga tiket Logawa Rp 23.000,00 lebih mahal Rp 2.000,00 daripada KA yang diambilkan dari nama seorang ratu pada kerajaan Blambangan dalam sejarah Kabupaten Banyuwangi tersebut.
Meskipun KA kelas ekonomi, tetapi saya merasakan ada beberapa kelebihan menggunakan jasa transportasi massal ini. Pertama, KA tidak membuat saya mabuk darat selama perjalanan Nganjuk-Jember yang memakan waktu sekitar tujuh jam itu. Berbeda dengan itu, saya biasanya pusing dan mual-mual yang merupakan gejala mabuk darat jika naik bus meskipun bus ber-AC. Di samping itu, tarif sepur untuk perjalanan Nganjuk-Jember lebih murah sekitar 50% daripada tarif bus. Bus Nganjuk-Jember ongkosnya bisa sampai Rp 50.000,00. Kemudian, meskipun ini relatif, tetapi ada anggapan bahwa naik KA lebih aman dibandingkan dengan transportasi massal yang lain.
Di samping itu, ada sejumlah ketidaknyamanan jika naik KA, khususnya kelas ekonomi. Pertama, jadwal keberangkatan KA lebih mengikat. Dan lagi, kerapkali di stasiun Nganjuk, jadwal kedatangan maupun keberangkatannya tidak sesuai dengan jadwal di papan jadwal. Misalnya, jadwal kedatangan KA Logawa untuk tujuan Jember di Stasiun Nganjuk pukul 13.45, tetapi KA Logawa bisa datang pukul 14.45. Itu pula yang membuat perjalanan dengan KA relatif lebih lama dibandingkan dengan bus. Biarpun demikian, itu rupanya dianggap hal yang wajar. Umumnya, penumpang, seperti halnya saya lebih memikirkan perjalanan tersebut bisa selamat sampai tujuan. Namun, itu berbeda dengan keberangkatan Logawa yang dari Stasiun Jember, yakni pukul 05.00 tepat. Itu pun dikarenakan Logawa telah berada di Stasiun Jember.
Kedua, untuk KA kelas ekonomi seperti Logawa terkadang ada bau anyir terlebih dari setiap kamar kecil yang terletak di setiap sambungan gerbong. Ketiga, suara KA cukup bising bagi indera pendengar. Cat di dalam KA yang kurang terang pun membuat suasana di dalam KA tampak kusam. Bahkan, celah-celah sempit pada dinding kereta bagian dalam dihuni oleh kecoa yang biasanya keluar saat malam hari. Kemudian, pada masa-masa tertentu seperti lebaran, maka selalu sesak penumpang. Suatu ketika, pada masa itu saya pernah berdiri berjam-jam di sambungan KA, sampai Stasiun Wonokromo, Surabaya. Memang, dalam KA kelas ekonomi itu penumpang tidak bisa berharap banyak mendapatkan layanan yang istimewa.
Dalam pada itu, ada pengalaman-pengalaman tersendiri setelah berkali-kali naik KA. Selama naik KA yang melewati satu stasiun ke stasiun selanjutnya, membuat saya berpikir-pikir tentang stasiun. Keadaan setiap stasiun di setiap kabupaten atau kota seakan jendela untuk melihat keadaan kabupaten tempat stasiun itu berada. Keadaan itu terlihat misalnya dari jumlah jalur kereta, jumlah kios dalam stasiun, maupun arsitektur stasiun. Misalnya, keadaan Stasiun Nganjuk seolah-olah menunjukkan bagaimana keadaan kebupaten yang digolongkan ke dalam wilayah mataraman tersebut. Demikian juga dengan keadaan Stasiun Gubeng di Kota Surabaya seakan menampakan bagaimana keadaan Kota Pahlawan tersebut.
Adapun kelas ekonomi, kelas bisnis, dan kelas eksekutif dalam KA pun mencerminkan stratifikasi sosial dalam masyarakat. Memang, pihak perseroan terbatas kereta api (PT KA) pun akan berpikir ekonomis sehingga ada kelas-kelas dalam KA meskipun masih ada ketidakjelasan antara perkeretaapian merupakan pelayanan publik atau murni bisnis. KA kelas ekonomi, misalnya harga tiketnya lebih murah dibandingkan dengan kelas bisnis, apalagi kelas eksekutif. Dengan harga tiket itu, KA kelas ekonomi, misalnya tidak menyediakan tirai untuk jendela KA seperti pada KA kelas bisnis maupun eksekutif. Kendatipun demikian, petugas stasiun yang biasanya memberitahu kedatangan maupun keberangkatan KA tidak membedakan KA kelas ekonomi, bisnis maupun eksekutif. Petugas stasiun dengan alat pengeras selalu mengatakan semua kelas KA sebagai KA ekspres.
Demikian juga pengalaman saya dengan sejumlah penumpang KA. Biasanya dalam perjalanan sekitar sepertiga hari itu saya berbincang-bincang dengan penumpang dari berbagai latar belakang. Misalnya, latar belakang mahasiswa, guru sekolah dasar (SD), pegawai toko buku, dan pelajar. Perbincangan itu biasanya dimulai dengan pertanyaan akan turun ke mana. Akan tetapi, seperti yang saya rasakan, dalam transportasi umum seperti KA, tidak semua penumpang terbuka terhadap suatu perbincangan. Akan tetapi, mereka yang lebih terbuka terhadap perbincangan biasanya menceritakan pengalaman-pengalaman hidupnya.
Di samping itu, KA pula yang menunjukan kepada saya, betapa tak sedapnya bau lumpur Lapindo yang menyembur sejak tahun 2005 di wilayah Sidoarjo. Saya menjadi salah satu saksi mata di antara jutaan saksi mata lainnya tentang keberadaan lumpur yang menenggelamkan puluhan desa tersebut. Saat KA melintas di kawasan semburan lumpur, tampak di sisi KA ketinggian tanggulnya mengalahkan tinggi atap KA. Saat terakhir saya melintasinya, tanggul penahan lumpur itu telah ditumbuhi rerumputan.
Sementara itu, KA kelas ekonomi seperti Logawa itu merupakan satu gambaran telaga kehidupan. Maklum, di sana pun terjadi perputaran modal. Di sana ada pedagang makanan, minuman, buah, alat dapur, buku, koran, tabloid, dan lain sebagainya. Ada pula pedagang peci, alat tulis, mainan anak-anak, sampai pedagang pulsa telepon seluler. Ada cleaning service, jasa persewaan bantal, sampai jasa pengharum ruangan untuk KA. Ada pengamen dan ada peminta-minta. Bahkan, terkadang ada bandit.
Puguh Utomo
Mahasiswa Program Studi Sosiologi
Universitas Jember

Jumat, 02 Januari 2009

Mahasiswa Sosiologi dan Dilema Skripsi

Mahasiswa Sosiologi dan Dilema Skripsi

Oleh: Puguh Utomo

Suatu hari, saya berada di antara kira-kira sepuluh orang mahasiswa sosiologi. Kami berkumpul di dua buah kursi panjang yang di tengahnya ada meja besar berbentuk persegi panjang. Awalnya mereka masuk ke dalam ruangan Program Studi (Prodi) Sosiologi. Akan tetapi, mereka keluar lagi dari ruangan itu. Mungkin itu disebabkan oleh terlalu banyaknya mahasiswa sosiologi. Di situ, mahasiswa-mahasiswa sosiologi tersebut duduk berjajar sembari mendengarkan ketua Program Studi Sosiologi menyeleksi judul proposal seminar.

Satu persatu judul skripsi yang ditulis di selembar kertas dan telah diberi identitas nama tersebut dibaca oleh ketua prodi. Hasilnya, sejumlah judul dinilai mirip judul skripsi milik Jurusan Kesejahteraan Sosial (KS). Intinya, judul tersebut belum bercitarasakan sosiologis sehingga judul itu dikembalikan lagi pada mahasiswa. Dengan kata lain, judul tersebut ditolak dan diminta untuk diperbaiki. Tampak guratan kesayuan di wajah mereka saat judulnya ditolak. Permasalahan ke-sosiologis-an dalam skripsi sering dijumpai di Prodi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Jember (Unej).

Suasana itu pun kembali mengingatkan saya saat duduk di semester VII. Kira-kira yang dirasakan oleh mahasiswa sosiologi itu juga seperti yang saya rasakan saat akan mempersiapkan proposal seminar, yakni tahap pembuatan skripsi. Saat itu hampir setiap hari disergap oleh rasa cemas dan bingung mengenai apa yang harus dilakukan dengan seminar proposal yang nantinya jadi skripsi. Tuntutan agar segera lulus pun tak bisa ditawar lagi.

Kiranya mahasiswa sosiologi tidak sulit menemukan skripsi karya alumni Prodi Sosiologi. Apabila di rak buku Prodi Sosiologi ada buku dengan ciri-ciri berukuran kwarto, bersampul coklat tua yang bertuliskan “Program Studi Sosiologi” maka hampir dapat dipastikan bahwa itu merupakan skripsi karya alumnus Prodi Sosiologi. Namun, mungkin koleksi tersebut tidak dipinjamkan. Meskipun demikian, mahasiswa sosiologi juga dapat menemukannya di rak perpustakaan FISIP. Selain hal itu, mahasiswa sosiologi juga dapat menemukannya di perpustakaan Unej di lantai III ruang skripsi.

Akan tetapi, sepertinya sebagian mahasiswa sosiologi sulit membuat skripsi. Sejumlah mahasiswa sosiologi memerlukan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun dalam pembuatan skripsinya. Sampai-sampai ada mahasiswa sosiologi yang hingga masa tenggang studinya habis, belum mengerjakan skripsi. Oleh karena itu, mereka pun terancam drop out (DO). Sementara itu, mereka yang mengerjakan skripsinya dengan waktu yang lama pun tidak menjamin skripsinya akan berbobot.

Berbeda dengan itu, mungkin bukan masalah sulit tidaknya mengerjakan skripsi, tetapi lebih pada kemauan dan kegigihan mahasiswa sosiologi dalam mengerjakan skripsi. Lagi pula, ada anggapan di kalangan mahasiswa sosiologi bahwa untuk dapat lulus, tidak perlu ber-otak pintar. Dan lagi, beberapa kasus menunjukan bahwa apapun hasil karya skripsi yang dibuat oleh mahasiswa sosiologi, selama memuat unsur-unsur skripsi maka sebatulnya mahasiswa sosiologi pun akan diluluskan. Inilah dilema mahasiswa sosiologi terhadap skripsi.

Skripsi, skripsi, dan skripsi. Barangkali kata itulah yang hampir setiap hari ada di pikiran mahasiswa sosiologi, khususnya mereka yang sudah di semester akhir. Satu dua orang mahasiswa sosiologi mungkin menilai skripsi bagai duri dalam daging. Oleh karena skripsi pula, mungkin di antara mahasiswa sosiologi mengalami kebingungan yang tidak biasa, penurunan konsentrasi, sulit menentukan keputusan, kekecewaan, dan lain sebagainya. Bahkan, di antara mereka mungkin pernah mengalami mimpi buruk dalam tidurnya, tersebab oleh skripsi. Gejala-gejala itu menandakan adanya sindrom skripsi.

Walaupun demikian, dalam pengerjaan skripsi, pengalaman setiap mahasiswa sosiologi sangat kasuistis. Setiap mahasiswa sosiologi memiliki alasan sendiri-sendiri terhadap skripsinya. Di samping itu, setiap mahasiswa sosiologi juga memiliki pengalaman sendiri-sendiri dengan skripsinya. Ada mahasiswa yang mengerjakan skripsinya dengan cepat. Namun, ada juga yang mengerjakan skripsi dengan lambat.

Skripsi berkaitan dengan masa studi. Semakin cepat skripsi terselesaikan maka semakin cepat pula masa studinya. Namun, karena skripsi inilah yang umumnya membuat mahasiswa sosiologi lambat dalam studinya. Berkenaan dengan itu, terkadang di kalangan mahasiswa muncul gurauan bahwa “untuk masuk ke Prodi Sosiologi cukup mudah, tetapi lulusnya sulit.” Sebetulnya sebagian besar di antara mereka menyadari bahwa skripsi perlu disiapkan sedini mungkin. Akan tetapi, selama itu sebagian mahasiswa sosiologi kesulitan memantapkan diri mengenai apa-apa yang perlu ditulis dalam skripsi. Dengan kata lain, mereka kesulitan mengimajinasi skripsi yang sosiologis. Kemalasan seringkali dijadikan alasan dalam mengerjakan skripsi.

Apa yang akan ditulis dalam skripsi seharusnya sudah terbayang oleh mahasiswa sosiologi sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Umum (SMU) atau yang sederajat. Minimal bayangan tentang skripsi itu telah disiapkan di awal-awal semester. Pada masa itu biasanya mahasiswa telah memiliki kesadaran bahwa dirinya suatu saat nanti akan mengerjakan skripsi. Apalagi, dengan semakin populernya metode kualitatif dalam penelitian sosiologi maka persiapan itu merupakan upaya yang strategis. Sebagaimana pendekatan kualitatif tersebut salah satu cirinya, yakni penguasaan terhadap sasaran penelitian. Dengan strategi itu diharapkan seorang mahasiswa sosiologi dapat menyelesaikan studinya pada semester delapan.

Akan tetapi, strategi itu nyatanya tidak selamanya berjalan mulus. Pada jenjang SMU atau yang sederajat, umumnya konsep sosiologi masih terlalu dasar. Materi penelitian pun lebih didominasi oleh pendekatan kuantitatif. Bahkan, saat mahasiswa sosiologi duduk di semester empat, seolah materi dari SMU tidak terpakai lagi di jenjang perguruan tinggi. Kemudian, saat mahasiswa duduk di awal-awal semester sebagian besar belum siap dengan apa-apa yang akan ditulis dalam skripsinya. Pada saat yang sama selama perkuliahan pun kurikulumnya cenderung terlalu membebani mahasiswa. Ironisnya kurikulum tersebut sedikit sekali yang sungguh-sungguh berkaitan dengan skripsi. Kecuali pola pengajaran dengan kurikulum yang ada sekarang terbatas lebih menyentuh aspek kognitif.

Terkait dengan itu, pembudayaan terhadap skripsi pun mengalami kendala. Misalnya, pembuatan skripsi itu kurang didukung oleh kelengkapan pustaka, khususnya dari perpustakaan. Di samping itu, kebiasaan untuk menulis ilmiah dengan metode kualitatif, membaca hasil penelitian yang berstandar, berdiskusi secara intensif seputar metode penelitian, dan kebiasaan lain yang sejenis tampaknya juga masih sangat sepi dilakukan oleh mahasiswa sosiologi.

Puguh Utomo

Alumnus Program Studi Sosiologi

FISIP, Universitas Jember

Informasi Seputar Metode Kualitatif

Informasi Seputar Metode Kualitatif
Oleh: Puguh Utomo
Di bawah ini saya mengumpulkan sejumlah informasi, pandapat dari buku dan internet seputar metode kualitatif. Tentu saja masih banyak informasi seputar metode kualitatif, sedangkan dibawah ini sekadar informasi yang menurut saya penting untuk diketahui. Semoga bisa memperluas wawasan tentang metode kualitatif.
  1. “Qualitative research is much more difficult to do well than quantitative research because the data collected are usually subjective and the main measurement tool for collecting data is the investigator himself” (Borg and Gall 1988 dalam Sugiyono, 2007:48).
  2. Menurut Salim (2001:89) metode-metode dalam penelitian kualitatif, yakni studi kasus, fenomenologi, grounded theory, etnometodologi, etnografi, dan biografi dalam pelaksanaannya dapat saling tumpang tindih. Namun, semua metode itu dapat saling melengkapi karena “metode yang satu akan dapat memperkuat, menambah dan menyempurnakan metode yang lain. Seringkali beberapa metode dipakai bersama, tetapi dalam titik minat yang relatif berbeda tergantung pada jenis masalah, lingkup kegiatan dan kerangka pemecahannya.”
  3. “Analisa kualitatif tidak memiliki rumus atau aturan absolut untuk mengolah dan menganalisis data” (Purwoko)
  4. Asumsi-Asumsi Dasar
    Untuk memulai suatu penelitian kualitatif, Creswell (1994) menyarankan agar peneliti merumuskan terlebih dahulu asumsi-asumsi dasar pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian. Hal ini dimaksudkan agar peneliti tetap konsisten dengan sejumlah aturan umum dari pendekatan kualitatif sehingga jalannya penelitian sesuai dengan tujuan penelitian dan kerangka metode yang digunakan. Beberapa asumsi dasar yang sering dijadikan acuan adalah sebagai berikut.
    1. Tidak mementingkan angka, atau kuantifikasi fenomena. Diasosiasikan dengan kumpulan dan analisa data yang berupa kata-kata atau observasi langsung terhadap tingkah laku. Jadi fokusnya adalah lebih pada interpretasi daripada kuantifikasi (Cassel & Symon, 1994; Patton, 1994).
    2. Tidak memaksakan klasifikasi awal yang kaku pada sekumpulan data (Cassel & Symon, 1994).
    3. Responden adalah partisipan yang bukan hanya sekedar obyek dari kecurigaan ilmiah. Responden mengambil sikap yang lebih proaktif dalam proses penelitian (Cassel & Symon, 1994).
    4. Sangat menerima subyektifitas, sehingga yang bernilai adalah perspektif partisipan dan interpretasinya terhadap situasi (Cassel & Symon, 1994).
    5. Memungkinkan fleksibilitas dalam proses penelitian. Respon terhadap konseptualisasi individu tentang dirinya berhubungan dengan kemungkinan untuk merumuskan hipotesa baru dan mengubah hipotesa lama sejalan dengan kemajuan penelitian. Intervensi peneliti dapat berubah-ubah sejalan dengan perubahan sifat konteks situasi (Cassel & Symon, 1994; Strauss, 1987; Taylor & Bogdan, 1984).
    6. Proses penelitian dilihat sebagai proses sosial yang sangat dipengaruhi oleh pilihan-pilihan yang diambil peneliti seiring dengan perkembangan penelitian (Cassel & Symon, 1994).
    7. Penelitian kualitatif lebih tertarik pada arti (meaning), yaitu bagaimana partisipan menghayati hidupnya, pengalamannya, dan cara mereka mengekspresikannya (Creswell. 1994; Patton 1990).
    8. Peneliti kualitatif terlibat secara aktif dalam pengumpulan data, yaitu secara fisik menemui partisipan, lingkungannya, serta institusi tempatnya berada, dalam suatu situasi yang alamiah (Creswell,1994; Cassel & Symon, 1994; Patton, 1990).
    9. Penelitian kualitatif adalah penelitian deskriptif, dimana peneliti lebih tertarik dengan proses, arti dan pemahaman tentang pengalaman serta penghayatan subyektif partisipan (Creswell, 1994; Patton, 1990) (Tambunan).
Daftar Pustaka
Salim, Agus (penyunting). 2001. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial: Dari
Denzin Guba dan Penerapannya. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Sugiyono. 2007. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV Alfabeta.
Purwoko, Bambang dalam
Puguh Utomo
Mahasiswa Program Studi Sosiologi
FISIP Universitas Jember