Kamis, 29 Oktober 2026

Gelar yang Menunggu Dipanggil

 


Gelar yang Menunggu Dipanggil

Cerpen tentang ijazah, persaingan, dan keberanian mencari jalan di luar kampung halaman

Pagi itu, aula gedung pameran dipenuhi ribuan orang. Mereka datang membawa map, ijazah, CV, dan harapan yang dibungkus rapi dalam pakaian terbaik masing-masing. Sebagian mengenakan kemeja putih, sebagian lagi berdiri dalam antrean panjang di depan stan perusahaan.

Di antara kerumunan itu, seorang perempuan bernama Rani menggenggam map biru. Di dalamnya tersimpan ijazah sarjana, transkrip nilai, sertifikat pelatihan, dan beberapa lembar CV yang sudah berkali-kali ia cetak.

Ia datang ke bursa kerja, atau yang lebih dikenal dengan job fair, untuk kesekian kalinya.

Empat tahun lalu, Rani mengenakan toga dengan senyum yang nyaris tak muat di wajahnya. Ibunya menangis bahagia. Ayahnya menepuk bahunya berkali-kali, seolah ingin memastikan bahwa semua pengorbanan mereka akhirnya sampai pada sebuah tujuan.

Hari itu, gelar sarjana terasa seperti pintu yang baru saja terbuka.

Rani membayangkan kehidupan setelah wisuda: pekerjaan yang layak, penghasilan sendiri, membantu orang tua, dan sesekali membelikan sesuatu yang selama ini hanya bisa ia pandangi di etalase toko.

Ia tahu mencari pekerjaan membutuhkan usaha. Karena itu, ia mengikuti pelatihan, belajar membuat CV yang menarik, memperbaiki kemampuan berbicara, dan mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan.

Ia juga pernah menggantungkan harapan pada seleksi aparatur sipil negara atau ASN. Baginya, menjadi ASN bukan semata-mata soal seragam, status, atau penghasilan tetap. Ia membayangkan pekerjaan yang lebih terjamin, kesempatan mengabdi kepada masyarakat, dan kebahagiaan sederhana ketika bisa membantu orang tuanya tanpa terus-menerus memikirkan biaya hidup bulan berikutnya.

Maka, ketika pendaftaran seleksi ASN dibuka, Rani mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh.

Ia mempelajari materi tes, mengerjakan soal-soal latihan, dan menghabiskan banyak malam di depan layar komputer. Ia mengikuti informasi seleksi, membaca pengumuman, dan berusaha meyakinkan dirinya bahwa kerja keras akan membawanya lebih dekat pada cita-cita.

Namun, hasil seleksi tidak berpihak kepadanya.

Ia tidak lolos seleksi ASN di tingkat pusat. Ia mencoba lagi melalui formasi daerah, tetapi hasilnya tetap sama. Di antara ratusan pelamar yang memperebutkan sejumlah kecil formasi, namanya tidak termasuk dalam daftar peserta yang berhasil.

Ada formasi yang hanya menyediakan beberapa kursi, sementara pelamarnya datang dari berbagai daerah dengan bekal pendidikan dan persiapan yang tidak kalah serius.

Rani tidak bisa menyebut para pesaingnya tidak lebih pantas. Ia juga tidak bisa menyimpulkan dirinya tidak memiliki kemampuan hanya karena gagal memenuhi ambang persaingan pada seleksi tersebut.

Ia hanya tahu bahwa ia sudah belajar, sudah berusaha, dan tetap belum berhasil.

Yang paling berat bukanlah melihat namanya tidak tercantum dalam pengumuman. Yang paling berat adalah kembali menjelaskan kepada orang tua bahwa ia harus mencoba lagi, atau mencari jalan lain.

Setiap kali pengumuman keluar, harapan yang sudah ia bangun berhari-hari seolah harus disusun ulang dari awal.

Waktu berjalan, sedangkan kebutuhan hidup tidak pernah menunggu seseorang merasa siap.

Lamaran demi lamaran terkirim. Sebagian tidak mendapat jawaban. Sebagian lain berhenti setelah wawancara. Ada pula yang memberinya kalimat sopan tentang kandidat lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Kalimat itu selalu terdengar wajar. Tidak ada yang salah dengannya. Hanya saja, ketika diterima berkali-kali, kalimat yang sama bisa berubah menjadi pertanyaan panjang di kepala seseorang.

Kalau bukan aku yang dibutuhkan, lalu selama ini aku sedang dipersiapkan untuk apa?

Rani pernah menghitung biaya kuliahnya. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan untuk mengukur seberapa besar perjalanan yang telah ditempuhnya. Ada uang pendaftaran, biaya semester, buku, transportasi, makan, tugas-tugas, dan berbagai kebutuhan yang sering kali tak terlihat dalam hitungan resmi.

Ada pula waktu yang tak bisa dikembalikan: malam-malam mengerjakan tugas, akhir pekan yang habis untuk menyelesaikan laporan, serta tahun-tahun ketika ia memilih belajar sementara sebagian temannya sudah mulai bekerja.

Semua itu telah dibayar dengan uang, tenaga, dan kesabaran.

Tetapi ijazahnya belum juga membawanya ke tempat yang ia harapkan.

Di depan salah satu stan perusahaan, antrean mengular. Rani memperhatikan wajah-wajah di sekelilingnya. Ada seorang pemuda yang terus membaca CV-nya sendiri, seorang perempuan yang merapikan jilbab sebelum menyerahkan berkas, dan seorang laki-laki yang menelepon seseorang sambil berkata bahwa ia masih mencoba.

Mereka datang dari berbagai kota, membawa gelar yang berbeda, tetapi menghadapi pintu yang sama.

Di Jawa, terutama di kota-kota besar, persaingan terasa begitu rapat. Banyak pencari kerja berkumpul di wilayah yang sama karena di sanalah berbagai kantor perusahaan, kawasan industri, pusat perdagangan, dan lembaga pemerintahan berada. Sementara itu, jumlah orang yang membutuhkan pekerjaan terus bertambah.

Akibatnya, satu lowongan bisa diperebutkan oleh ratusan pelamar. Ada yang memiliki IPK tinggi, pengalaman magang, kemampuan bahasa asing, dan sertifikat tambahan. Ada pula yang sudah bekerja beberapa tahun, tetapi terpaksa kembali bersaing karena kehilangan pekerjaan.

Persaingan untuk menjadi ASN pun memperlihatkan kenyataan serupa. Satu formasi bisa menarik banyak pelamar, sementara jumlah orang yang diterima dibatasi oleh kebutuhan dan kuota yang tersedia. Mereka yang gagal bukan selalu orang yang malas belajar atau tidak memiliki kemampuan. Dalam persaingan yang ketat, ada banyak orang yang memenuhi syarat, tetapi hanya sebagian yang bisa memperoleh kursi.

Rani mulai memahami bahwa usaha dan hasil tidak selalu berjalan beriringan. Kerja keras memang penting, tetapi kesempatan juga memiliki peran. Dan ketika kesempatan terbatas, orang yang telah berusaha pun bisa berada di pihak yang belum terpilih.

Ia bukan tidak memiliki kemampuan. Ia hanya berada di tengah persaingan yang membuat kemampuan saja terkadang belum cukup.

Lalu, ia mulai bertanya-tanya, apakah selama ini ia terlalu sibuk mengetuk pintu yang sama?

Beberapa hari setelah job fair, Rani membuka peta Indonesia di layar telepon genggamnya. Selama kuliah, ia sering membayangkan masa depan di Jawa. Rasanya wajar. Di sinilah keluarganya tinggal, teman-temannya berkumpul, dan lingkungan yang dikenalnya sejak kecil.

Namun, peta itu memperlihatkan sesuatu yang selama ini jarang ia pikirkan dengan sungguh-sungguh: Indonesia jauh lebih luas daripada lingkaran tempat ia mencari pekerjaan.

Di Sumatra, terdapat perkebunan, industri pengolahan, pertambangan, perdagangan, transportasi, dan jasa yang membutuhkan tenaga kerja dengan beragam keterampilan. Di Kalimantan, kegiatan pertambangan, energi, perkebunan, logistik, serta pembangunan di sejumlah wilayah membuka jenis pekerjaan yang mungkin tidak banyak ia temukan di daerah asalnya.

Sulawesi memiliki peluang dalam industri pengolahan, pertambangan, pertanian, perikanan, perdagangan, dan sektor jasa. Sementara itu, berbagai daerah di Bali, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua memiliki kebutuhan tenaga kerja di bidang pariwisata, pendidikan, kesehatan, perikanan, konstruksi, dan pelayanan publik, bergantung pada kondisi serta perkembangan masing-masing daerah.

Rani mulai memahami bahwa peluang kerja tidak selalu berkumpul di tempat yang paling ramai dibicarakan.

Namun, pindah pulau bukanlah jawaban ajaib.

Di balik lowongan kerja yang mungkin lebih sesuai, ada ongkos perjalanan, biaya tempat tinggal, jarak dari keluarga, perbedaan budaya, dan lingkungan baru yang harus dipelajari. Tidak semua daerah memiliki fasilitas transportasi, layanan kesehatan, atau pilihan tempat tinggal yang sama mudahnya. Sebagian pekerjaan juga berada jauh dari pusat kota, dengan pola kerja dan kondisi lingkungan yang tidak cocok bagi semua orang.

Di daerah tertentu, upah yang ditawarkan mungkin terlihat menarik, tetapi biaya hidup, transportasi, dan kebutuhan untuk pulang ke kampung halaman dapat mengurangi penghasilan yang benar-benar bisa ditabung.

Belum lagi risiko lowongan palsu, kontrak yang tidak jelas, atau perusahaan yang meminta biaya rekrutmen dengan dalih administrasi.

Rani tahu, ia tidak boleh berpindah hanya karena putus asa. Ia harus berpindah dengan pertimbangan.

Ia mulai membandingkan lowongan berdasarkan bidang pekerjaan, gaji bersih, biaya hidup, fasilitas tempat tinggal, keamanan kerja, dan kesempatan untuk berkembang. Ia mencari informasi perusahaan sebelum mengirimkan lamaran. Ia juga memikirkan satu hal yang sebelumnya selalu ia anggap sepele: apakah ia bersedia membangun kehidupan di tempat yang belum pernah ia tinggali?

Ternyata, mencari pekerjaan bukan sekadar mencari siapa yang bersedia menerimanya. Ia juga perlu mencari tempat yang memungkinkan dirinya bertumbuh.

Suatu malam, ibunya bertanya apakah ia sudah mendapat panggilan kerja.

Rani menjawab belum.

Ia tidak ingin berbohong, tetapi juga tidak ingin membuat ibunya semakin cemas. Untuk sesaat, ia teringat wajah ayahnya saat menyerahkan toga setelah wisuda. Ada harapan yang tak pernah diucapkan, tetapi selalu terasa: setelah semua biaya dan pengorbanan itu, semoga anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik.

Rani mengerti harapan tersebut. Ia pun menginginkannya.

Ia juga mulai memahami bahwa orang tuanya tidak pernah benar-benar menuntutnya menjadi orang kaya. Mereka hanya ingin melihat pendidikan yang telah diperjuangkan bersama itu memberinya kehidupan yang lebih baik. Mereka ingin melihat anaknya mandiri, memiliki pekerjaan, dan tidak terus-menerus merasa menjadi beban keluarga.

Justru karena itulah, setiap kegagalan terasa begitu berat.

Namun, Rani mulai menyadari bahwa pendidikan tidak selalu menghasilkan buah pada musim yang sama. Ada orang yang segera mendapat pekerjaan setelah lulus. Ada yang harus menunggu berbulan-bulan, berpindah kota, berganti bidang, atau memulai dari pekerjaan yang tidak persis sesuai dengan jurusannya.

Tentu saja, keadaan itu tidak berarti sistem pendidikan dan dunia kerja boleh dibiarkan berjalan tanpa hubungan yang jelas. Lulusan membutuhkan kesempatan nyata, bukan sekadar nasihat untuk terus bersabar. Kampus, pemerintah, dan dunia usaha juga memiliki peran untuk mempertemukan keterampilan dengan kebutuhan kerja.

Seleksi ASN pun bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang sarjana. Menjadi ASN merupakan pilihan pengabdian yang terhormat, tetapi bukan berarti mereka yang tidak lolos kehilangan kesempatan untuk berkontribusi kepada masyarakat. Sebaliknya, mereka yang memilih bekerja di perusahaan, membangun usaha, menjadi pendidik, atau mengembangkan keterampilan di bidang lain juga memiliki jalan pengabdian masing-masing.

Rani tidak ingin menjadikan kalimat itu sebagai penghiburan kosong. Ia tahu, idealisme tidak bisa membayar kebutuhan sehari-hari. Ia tetap membutuhkan penghasilan, kepastian kerja, dan kesempatan untuk berkembang.

Namun, ia tidak ingin seluruh masa depannya bergantung pada satu jenis seleksi atau satu pintu penerimaan.

Ia memutuskan tidak lagi membatasi pencarian kerja hanya di Jawa. Ia mulai mempertimbangkan Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan daerah lain yang memiliki lowongan sesuai dengan kemampuan serta tujuan hidupnya.

Ia tidak menganggap meninggalkan Jawa sebagai kekalahan. Ia juga tidak menganggap bertahan di Jawa sebagai kesalahan.

Baginya, pulau hanyalah wilayah di peta. Yang lebih penting adalah apakah sebuah pekerjaan memberinya penghidupan yang layak, perlindungan yang memadai, dan kesempatan untuk menggunakan ilmu yang telah dipelajarinya.

Jika kesempatan itu datang dari tempat yang jauh, ia akan mempertimbangkannya. Jika kesempatan terbaik justru ada di dekat rumah, ia pun tidak akan merasa kurang berani karenanya.

Pagi berikutnya, Rani kembali membuka laptop. Ia memperbarui CV, mencari informasi perusahaan, dan mengirimkan lamaran ke beberapa daerah.

Tidak ada jaminan bahwa usahanya kali ini akan berhasil. Namun, ia tidak lagi memandang peta Indonesia sebagai kumpulan wilayah yang jauh dari rumah. Peta itu kini tampak seperti kumpulan kemungkinan.

Di samping laptop, ijazahnya tergeletak di dalam map biru.

Rani menatap gelar sarjana yang tercetak di sana. Selama ini, ia mengira gelar itu adalah jawaban atas pengorbanan orang tuanya, atas empat tahun kuliah, dan atas harapan bahwa pendidikan akan membuat hidupnya lebih baik.

Kini ia mulai memahami bahwa gelar tersebut bukanlah tiket yang otomatis membawanya ke sebuah pekerjaan. Ia juga bukan sekadar hiasan untuk dipajang di dinding.

Gelar itu adalah bukti bahwa ia pernah belajar menyelesaikan persoalan, mengolah informasi, menyusun argumen, dan bertahan melalui proses panjang. Semua kemampuan itu masih memiliki nilai, meskipun belum ada perusahaan yang bersedia membayarnya.

Barangkali, menjadi sarjana bukan hanya soal memperoleh pekerjaan sesuai jurusan. Barangkali, menjadi sarjana juga berarti memiliki keberanian untuk membaca kenyataan, mengakui keterbatasan, dan mencari jalan ketika jalan yang diharapkan ternyata tertutup.

Tetapi Rani tidak ingin menjadikan pemikiran itu sebagai alasan untuk memaklumi semua kesulitan. Ia tetap ingin bekerja. Ia tetap ingin mandiri. Ia ingin pendidikan yang ditempuhnya benar-benar membuka kesempatan, bukan berhenti sebagai kebanggaan saat wisuda.

Di luar jendela, matahari mulai meninggi.

Rani menekan tombol kirim pada lamaran terakhirnya. Kali ini, perusahaan yang dituju berada di sebuah kota di luar Jawa.

Ia belum tahu apakah kelak akan bekerja di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, atau tetap di tanah kelahirannya. Ia juga belum tahu kapan namanya akan dipanggil.

Namun, ia akhirnya mengerti bahwa masa depan tidak selalu menunggu di tempat seseorang memulai perjalanan.

Kadang-kadang, seseorang perlu memperluas pandangan untuk menemukan pintu yang selama ini luput dari perhatian.

Sebab, gelar sarjana tidak menjamin dunia menyediakan tempat. Tidak lolos ASN bukan bukti bahwa seluruh perjuangannya sia-sia. Dan belum diterima bekerja bukan berarti ia tidak memiliki nilai.

Mungkin, yang perlu dipertanyakan bukan hanya mengapa seorang sarjana belum mendapat pekerjaan, melainkan juga mengapa begitu banyak orang yang telah belajar bertahun-tahun harus berebut kursi yang jumlahnya begitu terbatas.

Di tengah persaingan yang semakin ketat, keberanian memang diperlukan untuk terus mencoba. Namun, keberanian juga berarti bersedia mengubah arah, mencari peluang di tempat lain, dan menilai keberhasilan dengan lebih luas tanpa mengabaikan kebutuhan akan pekerjaan yang layak.

Rani masih seorang sarjana yang menunggu dipanggil.

Tetapi kali ini, ia tidak hanya menunggu sebuah nama disebut dalam pengumuman seleksi atau sebuah perusahaan menghubunginya.

Ia sedang belajar mencari arah, sambil tetap percaya bahwa empat tahun pendidikannya tidak harus berakhir sebagai kenangan tentang sebuah toga.

Sebab, pendidikan seharusnya bukan sekadar jalan menuju pekerjaan. Pendidikan juga harus menjadi bekal untuk menemukan jalan ketika pekerjaan yang diharapkan belum kunjung datang.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar