Gelar yang Menunggu Dipanggil
Cerpen
tentang ijazah, persaingan, dan keberanian mencari jalan di luar kampung
halaman
Pagi
itu, aula gedung pameran dipenuhi ribuan orang. Mereka datang membawa map,
ijazah, CV, dan harapan yang dibungkus rapi dalam pakaian terbaik
masing-masing. Sebagian mengenakan kemeja putih, sebagian lagi berdiri dalam
antrean panjang di depan stan perusahaan.
Di
antara kerumunan itu, seorang perempuan bernama Rani menggenggam map biru. Di
dalamnya tersimpan ijazah sarjana, transkrip nilai, sertifikat pelatihan, dan
beberapa lembar CV yang sudah berkali-kali ia cetak.
Ia
datang ke bursa kerja, atau yang lebih dikenal dengan job fair, untuk kesekian
kalinya.
Empat
tahun lalu, Rani mengenakan toga dengan senyum yang nyaris tak muat di wajahnya.
Ibunya menangis bahagia. Ayahnya menepuk bahunya berkali-kali, seolah ingin
memastikan bahwa semua pengorbanan mereka akhirnya sampai pada sebuah tujuan.
Hari
itu, gelar sarjana terasa seperti pintu yang baru saja terbuka.
Rani
membayangkan kehidupan setelah wisuda: pekerjaan yang layak, penghasilan
sendiri, membantu orang tua, dan sesekali membelikan sesuatu yang selama ini
hanya bisa ia pandangi di etalase toko.
Ia
tahu mencari pekerjaan membutuhkan usaha. Karena itu, ia mengikuti pelatihan,
belajar membuat CV yang menarik, memperbaiki kemampuan berbicara, dan
mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan.
Ia
juga pernah menggantungkan harapan pada seleksi aparatur sipil negara atau ASN.
Baginya, menjadi ASN bukan semata-mata soal seragam, status, atau penghasilan
tetap. Ia membayangkan pekerjaan yang lebih terjamin, kesempatan mengabdi
kepada masyarakat, dan kebahagiaan sederhana ketika bisa membantu orang tuanya
tanpa terus-menerus memikirkan biaya hidup bulan berikutnya.
Maka,
ketika pendaftaran seleksi ASN dibuka, Rani mempersiapkan diri dengan
sungguh-sungguh.
Ia
mempelajari materi tes, mengerjakan soal-soal latihan, dan menghabiskan banyak
malam di depan layar komputer. Ia mengikuti informasi seleksi, membaca
pengumuman, dan berusaha meyakinkan dirinya bahwa kerja keras akan membawanya
lebih dekat pada cita-cita.
Namun,
hasil seleksi tidak berpihak kepadanya.
Ia
tidak lolos seleksi ASN di tingkat pusat. Ia mencoba lagi melalui formasi
daerah, tetapi hasilnya tetap sama. Di antara ratusan pelamar yang
memperebutkan sejumlah kecil formasi, namanya tidak termasuk dalam daftar
peserta yang berhasil.
Ada
formasi yang hanya menyediakan beberapa kursi, sementara pelamarnya datang dari
berbagai daerah dengan bekal pendidikan dan persiapan yang tidak kalah serius.
Rani
tidak bisa menyebut para pesaingnya tidak lebih pantas. Ia juga tidak bisa
menyimpulkan dirinya tidak memiliki kemampuan hanya karena gagal memenuhi
ambang persaingan pada seleksi tersebut.
Ia
hanya tahu bahwa ia sudah belajar, sudah berusaha, dan tetap belum berhasil.
Yang
paling berat bukanlah melihat namanya tidak tercantum dalam pengumuman. Yang
paling berat adalah kembali menjelaskan kepada orang tua bahwa ia harus mencoba
lagi, atau mencari jalan lain.
Setiap
kali pengumuman keluar, harapan yang sudah ia bangun berhari-hari seolah harus
disusun ulang dari awal.
Waktu
berjalan, sedangkan kebutuhan hidup tidak pernah menunggu seseorang merasa
siap.
Lamaran
demi lamaran terkirim. Sebagian tidak mendapat jawaban. Sebagian lain berhenti
setelah wawancara. Ada pula yang memberinya kalimat sopan tentang kandidat lain
yang lebih sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Kalimat
itu selalu terdengar wajar. Tidak ada yang salah dengannya. Hanya saja, ketika
diterima berkali-kali, kalimat yang sama bisa berubah menjadi pertanyaan
panjang di kepala seseorang.
Kalau
bukan aku yang dibutuhkan, lalu selama ini aku sedang dipersiapkan untuk apa?
Rani
pernah menghitung biaya kuliahnya. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan
untuk mengukur seberapa besar perjalanan yang telah ditempuhnya. Ada uang
pendaftaran, biaya semester, buku, transportasi, makan, tugas-tugas, dan
berbagai kebutuhan yang sering kali tak terlihat dalam hitungan resmi.
Ada
pula waktu yang tak bisa dikembalikan: malam-malam mengerjakan tugas, akhir
pekan yang habis untuk menyelesaikan laporan, serta tahun-tahun ketika ia
memilih belajar sementara sebagian temannya sudah mulai bekerja.
Semua
itu telah dibayar dengan uang, tenaga, dan kesabaran.
Tetapi
ijazahnya belum juga membawanya ke tempat yang ia harapkan.
Di
depan salah satu stan perusahaan, antrean mengular. Rani memperhatikan
wajah-wajah di sekelilingnya. Ada seorang pemuda yang terus membaca CV-nya
sendiri, seorang perempuan yang merapikan jilbab sebelum menyerahkan berkas,
dan seorang laki-laki yang menelepon seseorang sambil berkata bahwa ia masih
mencoba.
Mereka
datang dari berbagai kota, membawa gelar yang berbeda, tetapi menghadapi pintu
yang sama.
Di
Jawa, terutama di kota-kota besar, persaingan terasa begitu rapat. Banyak
pencari kerja berkumpul di wilayah yang sama karena di sanalah berbagai kantor
perusahaan, kawasan industri, pusat perdagangan, dan lembaga pemerintahan
berada. Sementara itu, jumlah orang yang membutuhkan pekerjaan terus bertambah.
Akibatnya,
satu lowongan bisa diperebutkan oleh ratusan pelamar. Ada yang memiliki IPK
tinggi, pengalaman magang, kemampuan bahasa asing, dan sertifikat tambahan. Ada
pula yang sudah bekerja beberapa tahun, tetapi terpaksa kembali bersaing karena
kehilangan pekerjaan.
Persaingan
untuk menjadi ASN pun memperlihatkan kenyataan serupa. Satu formasi bisa
menarik banyak pelamar, sementara jumlah orang yang diterima dibatasi oleh
kebutuhan dan kuota yang tersedia. Mereka yang gagal bukan selalu orang yang
malas belajar atau tidak memiliki kemampuan. Dalam persaingan yang ketat, ada
banyak orang yang memenuhi syarat, tetapi hanya sebagian yang bisa memperoleh
kursi.
Rani
mulai memahami bahwa usaha dan hasil tidak selalu berjalan beriringan. Kerja
keras memang penting, tetapi kesempatan juga memiliki peran. Dan ketika
kesempatan terbatas, orang yang telah berusaha pun bisa berada di pihak yang
belum terpilih.
Ia
bukan tidak memiliki kemampuan. Ia hanya berada di tengah persaingan yang
membuat kemampuan saja terkadang belum cukup.
Lalu,
ia mulai bertanya-tanya, apakah selama ini ia terlalu sibuk mengetuk pintu yang
sama?
Beberapa
hari setelah job fair, Rani membuka peta Indonesia di layar telepon genggamnya.
Selama kuliah, ia sering membayangkan masa depan di Jawa. Rasanya wajar. Di
sinilah keluarganya tinggal, teman-temannya berkumpul, dan lingkungan yang
dikenalnya sejak kecil.
Namun,
peta itu memperlihatkan sesuatu yang selama ini jarang ia pikirkan dengan
sungguh-sungguh: Indonesia jauh lebih luas daripada lingkaran tempat ia mencari
pekerjaan.
Di
Sumatra, terdapat perkebunan, industri pengolahan, pertambangan, perdagangan,
transportasi, dan jasa yang membutuhkan tenaga kerja dengan beragam
keterampilan. Di Kalimantan, kegiatan pertambangan, energi, perkebunan,
logistik, serta pembangunan di sejumlah wilayah membuka jenis pekerjaan yang
mungkin tidak banyak ia temukan di daerah asalnya.
Sulawesi
memiliki peluang dalam industri pengolahan, pertambangan, pertanian, perikanan,
perdagangan, dan sektor jasa. Sementara itu, berbagai daerah di Bali, Nusa Tenggara,
Maluku, hingga Papua memiliki kebutuhan tenaga kerja di bidang pariwisata,
pendidikan, kesehatan, perikanan, konstruksi, dan pelayanan publik, bergantung
pada kondisi serta perkembangan masing-masing daerah.
Rani
mulai memahami bahwa peluang kerja tidak selalu berkumpul di tempat yang paling
ramai dibicarakan.
Namun,
pindah pulau bukanlah jawaban ajaib.
Di
balik lowongan kerja yang mungkin lebih sesuai, ada ongkos perjalanan, biaya
tempat tinggal, jarak dari keluarga, perbedaan budaya, dan lingkungan baru yang
harus dipelajari. Tidak semua daerah memiliki fasilitas transportasi, layanan
kesehatan, atau pilihan tempat tinggal yang sama mudahnya. Sebagian pekerjaan
juga berada jauh dari pusat kota, dengan pola kerja dan kondisi lingkungan yang
tidak cocok bagi semua orang.
Di
daerah tertentu, upah yang ditawarkan mungkin terlihat menarik, tetapi biaya
hidup, transportasi, dan kebutuhan untuk pulang ke kampung halaman dapat
mengurangi penghasilan yang benar-benar bisa ditabung.
Belum
lagi risiko lowongan palsu, kontrak yang tidak jelas, atau perusahaan yang
meminta biaya rekrutmen dengan dalih administrasi.
Rani
tahu, ia tidak boleh berpindah hanya karena putus asa. Ia harus berpindah
dengan pertimbangan.
Ia
mulai membandingkan lowongan berdasarkan bidang pekerjaan, gaji bersih, biaya
hidup, fasilitas tempat tinggal, keamanan kerja, dan kesempatan untuk
berkembang. Ia mencari informasi perusahaan sebelum mengirimkan lamaran. Ia
juga memikirkan satu hal yang sebelumnya selalu ia anggap sepele: apakah ia bersedia
membangun kehidupan di tempat yang belum pernah ia tinggali?
Ternyata,
mencari pekerjaan bukan sekadar mencari siapa yang bersedia menerimanya. Ia
juga perlu mencari tempat yang memungkinkan dirinya bertumbuh.
Suatu
malam, ibunya bertanya apakah ia sudah mendapat panggilan kerja.
Rani
menjawab belum.
Ia
tidak ingin berbohong, tetapi juga tidak ingin membuat ibunya semakin cemas.
Untuk sesaat, ia teringat wajah ayahnya saat menyerahkan toga setelah wisuda.
Ada harapan yang tak pernah diucapkan, tetapi selalu terasa: setelah semua
biaya dan pengorbanan itu, semoga anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik.
Rani
mengerti harapan tersebut. Ia pun menginginkannya.
Ia
juga mulai memahami bahwa orang tuanya tidak pernah benar-benar menuntutnya
menjadi orang kaya. Mereka hanya ingin melihat pendidikan yang telah
diperjuangkan bersama itu memberinya kehidupan yang lebih baik. Mereka ingin
melihat anaknya mandiri, memiliki pekerjaan, dan tidak terus-menerus merasa
menjadi beban keluarga.
Justru
karena itulah, setiap kegagalan terasa begitu berat.
Namun,
Rani mulai menyadari bahwa pendidikan tidak selalu menghasilkan buah pada musim
yang sama. Ada orang yang segera mendapat pekerjaan setelah lulus. Ada yang
harus menunggu berbulan-bulan, berpindah kota, berganti bidang, atau memulai
dari pekerjaan yang tidak persis sesuai dengan jurusannya.
Tentu
saja, keadaan itu tidak berarti sistem pendidikan dan dunia kerja boleh
dibiarkan berjalan tanpa hubungan yang jelas. Lulusan membutuhkan kesempatan
nyata, bukan sekadar nasihat untuk terus bersabar. Kampus, pemerintah, dan
dunia usaha juga memiliki peran untuk mempertemukan keterampilan dengan
kebutuhan kerja.
Seleksi
ASN pun bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang sarjana. Menjadi ASN
merupakan pilihan pengabdian yang terhormat, tetapi bukan berarti mereka yang
tidak lolos kehilangan kesempatan untuk berkontribusi kepada masyarakat.
Sebaliknya, mereka yang memilih bekerja di perusahaan, membangun usaha, menjadi
pendidik, atau mengembangkan keterampilan di bidang lain juga memiliki jalan
pengabdian masing-masing.
Rani
tidak ingin menjadikan kalimat itu sebagai penghiburan kosong. Ia tahu,
idealisme tidak bisa membayar kebutuhan sehari-hari. Ia tetap membutuhkan
penghasilan, kepastian kerja, dan kesempatan untuk berkembang.
Namun,
ia tidak ingin seluruh masa depannya bergantung pada satu jenis seleksi atau
satu pintu penerimaan.
Ia
memutuskan tidak lagi membatasi pencarian kerja hanya di Jawa. Ia mulai
mempertimbangkan Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan daerah lain yang memiliki
lowongan sesuai dengan kemampuan serta tujuan hidupnya.
Ia
tidak menganggap meninggalkan Jawa sebagai kekalahan. Ia juga tidak menganggap
bertahan di Jawa sebagai kesalahan.
Baginya,
pulau hanyalah wilayah di peta. Yang lebih penting adalah apakah sebuah
pekerjaan memberinya penghidupan yang layak, perlindungan yang memadai, dan
kesempatan untuk menggunakan ilmu yang telah dipelajarinya.
Jika
kesempatan itu datang dari tempat yang jauh, ia akan mempertimbangkannya. Jika
kesempatan terbaik justru ada di dekat rumah, ia pun tidak akan merasa kurang
berani karenanya.
Pagi
berikutnya, Rani kembali membuka laptop. Ia memperbarui CV, mencari informasi
perusahaan, dan mengirimkan lamaran ke beberapa daerah.
Tidak
ada jaminan bahwa usahanya kali ini akan berhasil. Namun, ia tidak lagi
memandang peta Indonesia sebagai kumpulan wilayah yang jauh dari rumah. Peta
itu kini tampak seperti kumpulan kemungkinan.
Di
samping laptop, ijazahnya tergeletak di dalam map biru.
Rani
menatap gelar sarjana yang tercetak di sana. Selama ini, ia mengira gelar itu
adalah jawaban atas pengorbanan orang tuanya, atas empat tahun kuliah, dan atas
harapan bahwa pendidikan akan membuat hidupnya lebih baik.
Kini
ia mulai memahami bahwa gelar tersebut bukanlah tiket yang otomatis membawanya
ke sebuah pekerjaan. Ia juga bukan sekadar hiasan untuk dipajang di dinding.
Gelar
itu adalah bukti bahwa ia pernah belajar menyelesaikan persoalan, mengolah
informasi, menyusun argumen, dan bertahan melalui proses panjang. Semua
kemampuan itu masih memiliki nilai, meskipun belum ada perusahaan yang bersedia
membayarnya.
Barangkali,
menjadi sarjana bukan hanya soal memperoleh pekerjaan sesuai jurusan.
Barangkali, menjadi sarjana juga berarti memiliki keberanian untuk membaca
kenyataan, mengakui keterbatasan, dan mencari jalan ketika jalan yang
diharapkan ternyata tertutup.
Tetapi
Rani tidak ingin menjadikan pemikiran itu sebagai alasan untuk memaklumi semua
kesulitan. Ia tetap ingin bekerja. Ia tetap ingin mandiri. Ia ingin pendidikan
yang ditempuhnya benar-benar membuka kesempatan, bukan berhenti sebagai
kebanggaan saat wisuda.
Di
luar jendela, matahari mulai meninggi.
Rani
menekan tombol kirim pada lamaran terakhirnya. Kali ini, perusahaan yang dituju
berada di sebuah kota di luar Jawa.
Ia
belum tahu apakah kelak akan bekerja di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, atau
tetap di tanah kelahirannya. Ia juga belum tahu kapan namanya akan dipanggil.
Namun,
ia akhirnya mengerti bahwa masa depan tidak selalu menunggu di tempat seseorang
memulai perjalanan.
Kadang-kadang,
seseorang perlu memperluas pandangan untuk menemukan pintu yang selama ini
luput dari perhatian.
Sebab,
gelar sarjana tidak menjamin dunia menyediakan tempat. Tidak lolos ASN bukan
bukti bahwa seluruh perjuangannya sia-sia. Dan belum diterima bekerja bukan
berarti ia tidak memiliki nilai.
Mungkin,
yang perlu dipertanyakan bukan hanya mengapa seorang sarjana belum mendapat
pekerjaan, melainkan juga mengapa begitu banyak orang yang telah belajar
bertahun-tahun harus berebut kursi yang jumlahnya begitu terbatas.
Di
tengah persaingan yang semakin ketat, keberanian memang diperlukan untuk terus
mencoba. Namun, keberanian juga berarti bersedia mengubah arah, mencari peluang
di tempat lain, dan menilai keberhasilan dengan lebih luas tanpa mengabaikan
kebutuhan akan pekerjaan yang layak.
Rani
masih seorang sarjana yang menunggu dipanggil.
Tetapi
kali ini, ia tidak hanya menunggu sebuah nama disebut dalam pengumuman seleksi
atau sebuah perusahaan menghubunginya.
Ia
sedang belajar mencari arah, sambil tetap percaya bahwa empat tahun
pendidikannya tidak harus berakhir sebagai kenangan tentang sebuah toga.
Sebab,
pendidikan seharusnya bukan sekadar jalan menuju pekerjaan. Pendidikan juga
harus menjadi bekal untuk menemukan jalan ketika pekerjaan yang diharapkan
belum kunjung datang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar