DI ANTARA PAPAN TULIS DAN WAJAH NEGARA
Catatan seorang guru ilmu sosial tentang manusia, masyarakat, dan kekuasaan
Setiap pagi, sebelum bel sekolah berbunyi, ia selalu melewati jalan yang sama. Jalan kampung yang tidak terlalu lebar, beberapa rumah dengan pagar setengah terbuka, warung kecil di sudut gang, dan orang-orang yang memulai kesibukannya dengan rutinitas masing-masing.
Ada pedagang sayur yang mendorong gerobak. Ada buruh yang berangkat dengan sepeda motor tua. Ada seorang ibu yang mengantar anaknya ke sekolah. Ada pula orang-orang yang duduk di teras, membicarakan harga kebutuhan pokok yang kembali berubah.
Pemandangan itu sebenarnya biasa. Tidak ada yang istimewa. Namun, bagi seorang guru ilmu sosial, hal-hal biasa sering kali menyimpan persoalan yang luar biasa.
Ia tidak hanya melihat orang-orang yang sedang beraktivitas. Ia melihat struktur sosial, hubungan ekonomi, pembagian peran, perbedaan kesempatan, bahkan ketimpangan yang sering kali dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Barangkali itulah konsekuensi menjadi guru sosiologi. Pekerjaannya tidak selesai ketika buku ditutup dan papan tulis dibersihkan. Masyarakat adalah ruang kelas yang tidak pernah libur.
Namanya tidak perlu dikenal banyak orang. Ia hanya seorang guru yang setiap hari berhadapan dengan puluhan wajah remaja. Mengajar tentang interaksi sosial, stratifikasi, kelompok sosial, perubahan masyarakat, konflik, lembaga sosial, dan kekuasaan.
Ia sering menjelaskan bahwa manusia tidak pernah benar-benar hidup sendirian. Bahkan keputusan yang tampak sangat pribadi sering kali dibentuk oleh keadaan sosial di sekitarnya.
Pilihan seseorang untuk bersekolah, bekerja, menikah, membeli sesuatu, bahkan menentukan cita-cita, tidak sepenuhnya lahir dari kehendak bebas. Ada keluarga, lingkungan, pendidikan, ekonomi, budaya, dan struktur masyarakat yang ikut memengaruhinya.
Namun, semakin lama mengajar, ia justru semakin sering bertanya kepada dirinya sendiri.
Apakah dirinya benar-benar bebas?
Ia memang berdiri di depan kelas, menyampaikan materi, memberikan penilaian, dan menentukan metode pembelajaran. Tetapi ia juga terikat oleh administrasi, kurikulum, target capaian, aturan birokrasi, dan berbagai tuntutan kelembagaan.
Ia mengajarkan pentingnya berpikir kritis, sementara dalam kehidupan sehari-hari ia harus belajar menempatkan kritik pada ruang dan waktu yang tepat.
Ia mengajarkan bahwa manusia memiliki kebebasan berpikir, tetapi juga menyadari bahwa kebebasan selalu berhadapan dengan batas-batas sosial.
Di situlah ia menemukan ironi profesinya.
Seorang guru mengajarkan kebebasan berpikir di dalam sebuah sistem yang memiliki banyak aturan.
Di rumah, kehidupannya tidak jauh berbeda dari kehidupan kebanyakan orang.
Ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, tagihan yang datang secara rutin, kebutuhan pendidikan anak, biaya kesehatan, dan berbagai pengeluaran yang tidak selalu bisa ditunda.
Ia memahami bahwa kehidupan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kerja keras. Ada faktor kesempatan, modal ekonomi, jaringan sosial, akses pendidikan, dan keberuntungan yang sering kali tidak terbagi secara merata.
Ia pernah melihat seseorang bekerja sangat keras, tetapi kehidupannya berjalan lambat. Sementara orang lain memperoleh kemajuan lebih cepat karena memiliki akses dan sumber daya yang lebih baik.
Apakah yang pertama kurang berusaha?
Belum tentu.
Apakah yang kedua tidak bekerja keras?
Belum tentu juga.
Persoalannya mungkin lebih kompleks daripada sekadar rajin dan malas, pintar dan bodoh, berhasil dan gagal.
Masyarakat sering kali menyukai penjelasan sederhana untuk persoalan yang rumit. Kemiskinan dianggap akibat kemalasan. Kegagalan dianggap akibat kurangnya usaha. Keberhasilan dianggap sepenuhnya sebagai hasil kecerdasan dan kerja keras.
Padahal, tidak semua orang memulai kehidupan dari garis yang sama.
Ia teringat materi tentang stratifikasi sosial yang pernah disampaikannya kepada murid-murid. Kelas sosial bukan sekadar perbedaan jumlah uang di rekening. Ia juga berkaitan dengan kesempatan, akses, kekuasaan, pendidikan, dan kemampuan seseorang memengaruhi keputusan yang menentukan kehidupannya.
Di luar kelas, teori itu menemukan bentuknya sendiri.
Lingkungan tempat tinggalnya juga merupakan miniatur masyarakat.
Ada orang yang memiliki rumah luas dan kendaraan lebih dari satu. Ada keluarga yang masih menghitung pengeluaran harian. Ada pemuda yang berhasil melanjutkan pendidikan tinggi. Ada pula yang harus bekerja setelah menyelesaikan pendidikan menengah.
Mereka tinggal berdekatan, tetapi menjalani dunia yang berbeda.
Dalam satu lingkungan, seseorang bisa merasa cukup, sementara tetangganya merasa selalu kekurangan.
Ironisnya, ukuran keberhasilan sering kali dibangun melalui perbandingan sosial. Rumah yang dahulu dianggap nyaman tiba-tiba terasa sempit setelah melihat rumah tetangga. Kendaraan yang masih layak digunakan dianggap ketinggalan zaman setelah melihat orang lain membeli kendaraan baru.
Media sosial mempercepat semuanya.
Orang-orang tidak hanya membandingkan kehidupan dengan tetangga, tetapi juga dengan jutaan manusia yang bahkan tidak pernah mereka kenal.
Kebahagiaan perlahan menjadi sesuatu yang perlu dipertontonkan. Keberhasilan perlu diunggah. Perjalanan perlu didokumentasikan. Bahkan kesederhanaan terkadang harus dikemas sedemikian rupa agar terlihat menarik.
Ia tidak menolak kemajuan teknologi. Ia sendiri menggunakannya untuk bekerja dan memperoleh informasi. Namun, ia melihat ada sesuatu yang perlu dipertanyakan: apakah manusia sedang menggunakan teknologi untuk memperluas pengetahuan, atau justru membiarkan teknologi menentukan cara mereka memandang kehidupan?
Di tengah kemudahan mengakses informasi, kemampuan memahami persoalan justru menjadi pekerjaan yang semakin berat.
Orang bisa membaca banyak berita, tetapi belum tentu memahami peristiwa. Bisa mengikuti banyak akun, tetapi belum tentu mengenali kepentingan di balik informasi.
Pengetahuan dan kebijaksanaan ternyata bukan dua hal yang otomatis berjalan beriringan.
Sebagai guru ilmu sosial, ia juga tidak bisa mengabaikan keadaan negaranya.
Negeri ini memiliki sumber daya alam yang besar, jumlah penduduk yang melimpah, kebudayaan yang beragam, serta sejarah panjang perjuangan menuju kemerdekaan.
Tetapi pertanyaan tentang kesejahteraan masih terus muncul.
Mengapa kekayaan alam tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat? Mengapa kesempatan pendidikan belum sepenuhnya merata? Mengapa sebagian masyarakat harus berjuang lebih keras hanya untuk memperoleh pelayanan dasar yang semestinya menjadi hak mereka?
Ia tahu bahwa mengelola negara bukan pekerjaan sederhana. Ada persoalan geopolitik, anggaran, kepentingan ekonomi, hubungan internasional, persoalan demografi, serta berbagai kepentingan kelompok yang saling berkelindan.
Namun, kompleksitas tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti bertanya.
Dalam setiap rezim pemerintahan, selalu ada janji tentang masa depan. Ada program pembangunan, kebijakan ekonomi, pembenahan pendidikan, pemberantasan korupsi, dan berbagai agenda perubahan.
Pemerintahan yang sedang berkuasa tentu memiliki hak untuk menentukan arah kebijakannya melalui mandat politik yang diperoleh. Akan tetapi, mandat bukanlah cek kosong. Kekuasaan tetap membutuhkan pengawasan, kritik, dan pertanggungjawaban.
Ia memperhatikan bagaimana kebijakan pemerintah diterjemahkan menjadi kehidupan masyarakat.
Sebuah keputusan di pusat pemerintahan mungkin terlihat sebagai angka dalam dokumen anggaran. Namun, bagi masyarakat, keputusan itu bisa berarti harga kebutuhan pokok, kesempatan kerja, biaya pendidikan, akses kesehatan, atau keberlangsungan usaha kecil.
Kebijakan tidak pernah benar-benar berhenti di meja pengambil keputusan. Ia bergerak ke pasar, sekolah, rumah tangga, sawah, pabrik, dan ruang-ruang kehidupan masyarakat.
Di sana, kebijakan memperoleh wajah yang sesungguhnya.
Ia juga menyadari bahwa kritik terhadap pemerintah bukan berarti membenci negara. Sebaliknya, kepedulian terhadap negara justru menuntut keberanian untuk melihat kekurangan dan ketidakadilan.
Negara bukan milik orang-orang yang sedang berkuasa. Negara adalah ruang bersama bagi seluruh warga negaranya.
Suatu hari, ia menjelaskan tentang kekuasaan di dalam kelas.
Ia bertanya kepada murid-muridnya, mengapa seseorang bisa memerintah dan orang lain harus mengikuti?
Beberapa murid menjawab karena jabatan. Sebagian menjawab karena kekayaan. Ada yang mengatakan karena kekuatan. Jawaban-jawaban itu tidak salah.
Namun, ia kemudian menambahkan bahwa kekuasaan tidak selalu hadir dalam bentuk perintah.
Kekuasaan juga bekerja melalui aturan, kebiasaan, bahasa, standar keberhasilan, dan cara masyarakat membangun penilaian terhadap seseorang.
Seseorang bisa merasa tidak mampu bukan karena benar-benar tidak memiliki kemampuan, tetapi karena lingkungan terus-menerus membuatnya percaya bahwa dirinya tidak cukup baik.
Seseorang bisa menerima ketidakadilan bukan karena tidak menyadarinya, tetapi karena ketidakadilan itu telah berlangsung terlalu lama sehingga dianggap sebagai sesuatu yang normal.
Begitulah masyarakat bekerja. Tidak semua ketimpangan harus dipaksakan dengan kekerasan. Sebagian justru bertahan karena telah diterima sebagai kewajaran.
Ia terdiam sejenak.
Barangkali pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari kepala guru ke kepala murid. Pendidikan seharusnya membantu seseorang mengenali keadaan yang selama ini dianggap biasa, tetapi sebenarnya perlu dipertanyakan.
Menjelang sore, setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia kembali melewati jalan yang sama.
Warung kecil masih buka. Beberapa anak bermain di halaman. Seorang pedagang sedang menghitung hasil penjualannya. Di kejauhan, suara kendaraan bercampur dengan percakapan warga.
Tidak ada perubahan besar yang terlihat.
Namun, pikirannya kembali berkelana.
Ia menyadari bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari kehidupan sosial yang begitu luas. Sebagai individu, ia memiliki keterbatasan. Sebagai guru, ia tidak bisa menyelesaikan seluruh persoalan pendidikan. Sebagai warga negara, ia tidak bisa menentukan seluruh arah kebijakan. Bahkan sebagai manusia, ia tidak sepenuhnya memahami kompleksitas dunia yang terus berubah.
Tetapi apakah keterbatasan itu berarti seseorang tidak perlu melakukan apa-apa?
Ia teringat sebuah gagasan sederhana: manusia memang dibentuk oleh masyarakat, tetapi manusia juga memiliki kemampuan untuk membentuk masyarakat.
Keduanya saling memengaruhi.
Ia mungkin tidak bisa mengubah seluruh sistem pendidikan, tetapi dapat menciptakan ruang belajar yang lebih adil. Ia mungkin tidak bisa menghapus seluruh ketimpangan, tetapi dapat menghindari perlakuan diskriminatif terhadap murid-muridnya. Ia mungkin tidak memiliki kekuasaan politik, tetapi masih memiliki kesempatan untuk menyampaikan pikiran secara bertanggung jawab.
Barangkali perubahan sosial tidak selalu dimulai dari panggung besar, gedung pemerintahan, atau pidato para pemimpin.
Terkadang ia dimulai dari ruang kelas yang sederhana.
Dari seorang guru yang tidak merendahkan muridnya karena nilai matematika yang rendah. Dari seorang anak yang mulai berani mempertanyakan ketidakadilan. Dari keluarga yang tidak lagi mengukur keberhasilan hanya dengan kekayaan. Dari masyarakat yang belajar membedakan kritik dengan kebencian, serta kekuasaan dengan kebenaran.
Ia kemudian memahami satu hal yang selama ini mungkin terlupakan: manusia tidak cukup hanya diajari bagaimana menyesuaikan diri dengan masyarakat. Manusia juga perlu diajari bagaimana menilai masyarakat tempat ia hidup.
Sebab, masyarakat yang baik bukan masyarakat yang seluruh warganya selalu sepakat. Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang memberi ruang bagi perbedaan, menjaga martabat manusia, dan tidak menjadikan kekuasaan sebagai sesuatu yang kebal dari pertanyaan.
Malam mulai turun.
Besok pagi ia akan kembali ke sekolah, membuka buku, menulis beberapa kalimat di papan tulis, dan menjelaskan tentang manusia serta kehidupannya.
Mungkin murid-muridnya hanya akan mengingat sebagian materi. Mungkin sebagian lainnya akan lupa setelah ujian selesai.
Namun, ia berharap ada satu hal yang tertinggal: keberanian untuk melihat kehidupan lebih jauh daripada apa yang tampak di permukaan.
Sebab, menjadi manusia bukan hanya tentang bagaimana bertahan hidup di dalam sebuah sistem.
Lebih dari itu, manusia perlu terus bertanya: sistem seperti apa yang sedang kita bangun, siapa yang diuntungkan, siapa yang tertinggal, dan kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin kita wariskan?
Di antara papan tulis dan wajah negara, ia menemukan bahwa tugas seorang guru ilmu sosial sesungguhnya bukan sekadar menjelaskan masyarakat.
Melainkan membantu manusia memahami posisinya di dalam masyarakat, tanpa kehilangan keberanian untuk membayangkan masyarakat yang lebih baik.
Catatan pendekatan: Cerita ini merupakan nonfiksi reflektif, bukan laporan biografis tentang seseorang atau investigasi politik. Pengalaman dan situasi sosial disajikan sebagai potret kehidupan yang bersifat umum, sedangkan kritik terhadap pemerintahan diletakkan dalam kerangka pengawasan kekuasaan dan tanggung jawab warga negara.
Menurut saya, kekuatan utama naskah ini terletak pada gagasan bahwa guru bukan hanya pengajar tentang masyarakat, melainkan juga manusia yang hidup di dalam sistem sosial yang sedang diajarkannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar