Minggu, 01 Maret 2009

Liku-Liku dalam Meneliti Masyarakat

Liku-Liku dalam Meneliti Masyarakat

(Resensi Buku untuk Mahasiswa Sosiologi, Universitas Jember)

Oleh: Puguh Utomo

Judul Buku : Aspek Manusia dalam Penelitian Masyarakat

Editor : Koentjaraningrat dan Donald K. Emmerson

Penerbit : PT Gramedia, diterbitkan untuk Yayasan Obor Indonesia, Jakarta

Tahun terbit : 1985 cetakan kedua

Tebal : 296 halaman

Buku ini berisi kumpulan pengalaman para peneliti sosial dalam meneliti masyarakat. Dengan kata lain, buku ini merupakan tulisan bersama. Dalam buku ini ada 13 peneliti sosial. Sebagian besar berasal dari bidang akademis antropologi. Sementara itu, sebagian yang lain berlatar belakang akademis ilmu politik, sosiologi, sejarah, dan beberapa peneliti sosial lainnya. Di samping itu, beberapa di antara penulis buku ini bergelar profesor. Itu dapat dilihat dari riwayat hidup para peneliti di halaman akhir. Beberapa di antaranya, yakni Koentjaraningrat, Donal K. Emmerson, M. Junus Melalatoa, Clifford Geertz, T.H. Hull dan V.J. Hull, serta para peneliti sosial lainnya.

Umumnya pengalaman-pengalaman para peneliti sosial tersebut mengisahkan tentang suka duka dalam meneliti masyarakat yang notabene penelitian lapangan. Lokasi tempat penelitian dalam buku ini pun cukup beragam. M. Junus Melalatoa, misalnya meneliti masyarakat Desa Gayo di Aceh; Clifford Geertz membandingkan tempat di Indonesia dan Maroko, dan; T.H. Hull dan V.J. Hull meneliti di pedesaan Jawa. Dari hal itu pula menunjukkan bahwa penulis dalam buku ini selain dari dalam negeri juga dari luar negeri sehingga muncul antara peneliti pribumi dan peneliti asing.

Dalam kaitan itu, setiap bab yang disajikan dalam buku ini seolah-seolah mengajak pembaca untuk berpetualang. Jika cerita petualangan biasanya ada dalam cerita fiksi maka buku ini mengajak pembacanya dalam cerita nonfiksi. Itu dikarenakan buku ini merupakan karya ilmiah. Apalagi beberapa tulisan bernuansa antropologis yang cenderung naratif. Dan lagi, setiap bab ditulis oleh penulis atau peneliti yang berbeda dan tempat yang berbeda. Pemilihan tempat pun selektif, misalnya penelitian dengan lokasi di Pulau Sawu, Nusa Tenggara Timur oleh Nico L. Kana tentang orang Sawu (hlm. 140).

Sebetulnya buku yang dieditori oleh Koentjaraningrat dan Donald K. Emmerson ini merupakan bunga rampai publikasi hasil penelitian dari peneliti-peneliti tersebut. Namun, buku ini bukan murni hasil penelitian seperti yang tersaji dalam jurnal penelitian. Justru buku ini menyajikan lebih dari itu. Selain menyajikan hasil penelitian, buku ini juga menguraikan latar balakang dan berbagai segi bagaimana peneliti-peneliti tersebut dalam meneliti dan menghasilkan penelitian. Segi tersebut antara lain liku-liku dalam meneliti. Maka dari itu, selain menguraikan hasil suatu penelitian, buku ini juga menjelaskan proses sekaligus sebagai sisi lain dari suatu penelitian.

Pada dasarnya meneliti berarti bekerja. Bekerja berarti akan ada risikonya. Demikian juga dengan meneliti masyarakat. Risikonya suatu penelitian tidak selamanya akan menemui jalan yang mulus. Dengan kata lain, penelitian juga tak luput dari liku-liku penelitian. Apalagi meneliti manusia yang hidup bermasyarakat. Sebagaimana diketahui bahwa manusia memiliki kesadaran yang memungkinkannya bereaksi terhadap sesuatu hal. Oleh karena itu, seseorang yang meneliti masyarakat maka dirinya juga menjadi bagian dari masyarakat yang ditelitinya. Begitulah kira-kira yang ingin disampaikan oleh penulis dalam buku ini.

Berkenaan dengan itu, buku ini bermaksud mengemukakan landasan filosofis penelitian, khususnya penelitian sosial. Bagaimanapun juga penelitian dengan sasaran manusia pun membutuhkan etika dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu, selain mengemukakan tentang bagaimana “seharusnya” suatu penelitian dilakukan, buku ini juga berbicara tentang bagaimana “sebaiknya” suatu penelitian dilakukan.

Meskipun peneliti-peneliti dalam buku ini tergolong peneliti senior, tetapi saat meneliti pun tak lepas dari kesulitan-kesulitan. Misalnya, Koentjaraningrat menceritakan pengalamannya sebagai partisipan pribumi dalam penelitian petani Jawa di sebuah desa (halaman 93). Koentjaraningrat sebagai peneliti pribumi ternyata tak menjamin suatu penelitian akan berjalan secara mudah. Biarpun ada kesulitan-kesulitan dalam meneliti, tetapi dalam buku ini tak disebutkan bahwa peneliti-peneliti dalam buku ini gagal dalam meneliti.

Memang, buku ini tergolong lama. Pertama kali dicetak pada 1983; cetakan kedua pada 1985. Sebuah buku biasanya memiliki usia yang lama, termasuk buku ini. Cetak ulang buku tersebut menandakan bahwa buku tersebut cukup diterima oleh pembaca. Oleh karena itu, meskipun buku ini telah terbit bertahun-tahun yang lampau tetapi isinya masih cukup aktual.

Secara umum, oleh penulisnya buku ini ditulis dengan gaya buku harian. Itu tampak dari penggunaan kata ganti orang pertama, yakni penulis sendiri. Oleh karena itu, tampak pula pergulatan batin dalam diri penulis yang berprofesi sebagai peneliti. Misalnya, dalam hubungannya dengan informan, mengurus surat ijin penelitian, maupun saat peneliti berada di tengah-tengah masyarakat yang ditelitinya. Sebagai buku yang mirip buku harian, penulis-penulis dalam buku ini menuliskan pengalamannya langsung dalam meneliti. Tentu saja pengalamannya itu berdasarkan pada kenyataan dalam penelitian.

Terkait dengan itu, meskipun buku ini berhubungan dengan penelitian, tetapi pembaca tidak akan menemukan teknik penelitian. Artinya, pembaca tidak akan menemukan paradigma-paradigma penelitian, bagaimana merumuskan masalah penelitian, teknik pengumpulan data, dan lain sebagainya sebagaimana ada dalam buku tentang teknik penelitian. Bisa jadi itu semua secara tersirat sudah ditulis oleh peneliti lewat pengalamannya langsung dalam meneliti.

Di samping itu, dalam penelitian sosial dikenal dua aliran besar, yakni penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Buku ini pun menyinggung dua aliran penelitian tersebut. Akan tetapi, agaknya itu ulasan tentang itu tidaklah banyak. Apabila sejumlah buku penelitian mengemukakan perbedaan dua aliran tersebut maka buku ini sudah meninggalkannya. Sekali lagi bahwa buku ini lebih menekankan “saat” dan “setelah” melakukan penelitian daripada “akan” melakukan penelitian.

Kemudian, terkait dengan kesetaraan jender, buku ini tak ingin bias jender. Misalnya, Hanna Papanek yang menulis dengan judul Masalah Penelitian Wanita di Jakarta (hlm. 163). Sampai saat ini isu jender juga masih hangat dalam penelitian sosial. Salah satu asumsi dari isu jender ini adalah dominannya wacana tentang tentang pria, tetapi masih sedikit yang membicarakan tentang wanita.

Di akhir bab, yakni di bab XIII, Donald K. Emmerson menyimpulkan 21 pedoman dalam penelitian masyarakat. Di antaranya, “keberhasilan penelitian sosial memerlukan perkawinan antara sifat manusiawi dengan nilai ilmiah: daya cipta seseorang serta rasanya yang peka terhadap lingkungan hendaknya dipertajam dengan ketelitian serta ketepatan yang mantap.” (hlm. 265).

Kendatipun demikian, buku ini tak bermaksud mengklaim sebagai buku yang sempurna sebagai buku penelitian sosial. Sebagaimana seorang peneliti tak akan pernah mendapatkan kebenaran akhir atas penelitiannya. Lepas dari kelemahannya, buku ini layak dijadikan referensi para peneliti, khususnya peneliti sosial.

Puguh Utomo

Alumnus Prodi Sosiologi

FISIP, Universitas Jember

Tidak ada komentar:

Posting Komentar