Kamis, 29 Desember 2011

Perpanjangan SIM C

Perpanjangan SIM C
Selasa, 27 Desember 2011 saya mengurus perpanjangan SIM C di kepolisian resor (Polres) Nganjuk. Saya tiba sekitar pukul 07.30. Dengan datang pagi, saya berharap tidak antre terlalu lama. Begitu saya memarkir sepeda motor, saya diminta oleh seorang bapak yang memarkir motornya dekat motor saya. Beliau meminta agar bersama-sama dalam perpanjangan SIM ini. Orang yang tidak terbiasa dalam pengurusan SIM memang bisa merasa bingung.
Setelah membayar parkir Rp 1.000,- saya langsung menuju foto kopi. Saya berusaha mengingat-ingat perpanjangan SIM sebelumnya. Perpanjangan ini merupakan kali kedua. Kali pertama perpanjangan tahun 2006. Seperti halnya saat saya ke tempat foto kopi. Di tempat foto kopi ini KTP dan SIM lama difoto kopi. Kalau tidak salah rangkap satu. Saya juga diberi wadah SIM. Di tempat foto kopi ini saya membayar Rp 6.000,-.
Kemudian, saya menuju loket untuk mengambil map. Perpanjangan kali ini memang berbeda dibandingkan dengan perpanjangan, misalnya tahun 2009 silam. Perbedaannya misalnya meja pengambilan map. Setelah mendapatkan map saya menuju ruangan tempat mengambil blangko sidik jari. Setelah mengisi blangko lalu menghubungi petugas yang membantu sidik jari. Dalam pengisian ini saya sengaja membawa pena sendiri untuk memperlancar pengisian.
Begitu selesai saya kembali ke ruangan tempat mengambil blangko tadi. Di ruangan ini pula saya mengumpulkan foto berwarna 3 x 4 dua lembar. Saya memang sudah menyiapkan foto dari rumah. Sebab untuk foto mendadak di sana perlu biaya Rp 15.000,-. Letak studio fotonya di seberang jalan komplek Polres. Begitu map distempel telah sidik jari saya langsung menuju loket pembayaran seperti kata petugas di ruangan ini.
Dalam hati saya bertanya, apakah tidak perlu cek kesehatan. Ternyata petugas di loket pembayaran meminta saya agar cek kesehatan terlebih dahulu. Dokter yang memberikan surat keterangan sehat terletak di seberang jalan. Bersebelahan dengan studio foto. Jika sepi biasanya cek kesehatan ini paling lama butuh waktu 20 menit. Namun, hari itu saya berdiri kurang lebih satu jam sebab saking banyaknya orang yang mengantre. Map dari loket pembayaran tadi dipakai sebagai tanda antrean. Surat keterangan sehat ini sebagai salah satu syarat kelengkapan administrasi. Katanya itu terkait libur Natal dan cuti Natal pada Senin. Terlebih itu hari pertama di minggu akhir Desember. Konon, hari Sabtu lebih sepi pengantre daripada hari kerja lainnya.
Begitu mendapatkan surat keterangan sehat saya langsung ke loket pembayaran. SIM lama juga disertakan dalam map. Setelah menunggu beberapa saat nama saya dipanggil. Saya membayar Rp 75.000,- untuk biaya perpanjangan itu. Lalu saya diberi nomor antrean yang tercetak secara elektronik. oleh petugas disebelahnya. Saat itu nomor antrean saya 134. Pada saat yang sama, nomor yang dilayani saat itu baru antrean nomor 100.
Pemanggilan nomor antrean dilakukan mesin pemanggil. Begitu nomor antrean saya dipanggil, saya menuju ruang foto untuk SIM. Rata-rata di ruangan ini dipanggil empat sampai enam orang. Begitu difoto, saya menunggu SIM saya dicetak. Beberapa menit kemudian, SIM dicetak. Saya pun langsung meninggalkan Polres sekitar pukul 11.00. Saat saya masuk tadi dan saat saya keluar saya melewati gerbang yang baru bagi saya. Begitu saya meninggalkan Polres masih tampak orang mengantre untuk mendapatkan surat keterangan sehat.


Senin, 26 Desember 2011

Kamus Kecil

Abduksi adalah penalaran untuk merumuskan hipotesis berupa pernyataan
umum yang kemungkinan kebenarannya masih perlu diuji coba.
Misalnya diketahui bahwa semua pohon mangga di kebun Pak Amat adalah
mangga jenis manalagi. Di dapur Pak Amat ada banyak buah mangga dan
semuanya berjenis manalagi. Ada kemungkinan besar bahwa mangga-mangga
itu dipetik dari kebun Pak Amat sendiri (Sudarminta, 2002:39).
Agnostik n orang yang berpandangan bahwa kebenaran tertinggi (msl Tuhan)
tidak dapat diketahui dan mungkin tidak akan diketahui (KBBI)
Agnostisisme n Sos paham yang mempertahankan pendapat bahwa manusia itu
kekurangan informasi atau kemampuan rasional untuk membuat pertimbangan
tentang kebenaran tertinggi (KBBI)
Aksiologi n kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia
Anotasi n catatan yang dibuat oleh pengarang atau orang lain untuk menerangkan,
mengomentari, atau mengkritik teks karya sastra atau bahan tertulis lain
Antropologi pengaruh norma, nilai dan kepercayaan pada kesehatan jiwa,
pengaruh keluarga, pernikahan, perceraian, struktur keluarga, fungsi
keluarga, gangguan keluarga, umpanya keluarga yang berantakan,
yang aneh, terpecah belah, yang mempunyai cara berkomunikasi yang
kasar, keluarga yang berkekurangan psikologik, umpamanya
ketidakmatangan yang hebat, retardasi mental, kegagalan orang tua
untuk menjadi contoh, ayah atau ibu yang masih terlalu bergantung pada
orang tuanya sendiri atau menuntut prestasi yang berlebihan (Maramis,
1980:23-24).
Apokrifa n 1 yang diragukan keasliannya; tidak dapat dipercaya (tt asal usul naskah);
2 bagian-bagian Al kitab yang diakui Gereja Katolik, tetapi tidak diakui oleh
Gereja Protestan dan Yahudi
Apostasi n keingkaran terhadap agama (KBBI)
Apostolik a berhubungan dengan atau berdasarkan ajaran para rasul (KBBI)
Apriori a berpraanggapan sebelum mengetahui (melihat, menyelidiki, dsb)
keadaan yang sebenarnya (KBBI)
Begitu cak segera setelah
Bermanjau v bertandang (tt anak laki-laki ke rumah gadis)
Bioritme n teori yang berdasar pada pendapat ilmiah bahwa di tubuh manusia
sejak lahir sudah tersimpul tiga macam siklus (ritme) yang bekerja secara aktif sampai saat meninggal, yaitu siklus fisik, siklus emosional, dan siklus intelektual (KBBI).
Coercion kb. (penggunaan) paksaan, kekerasan (Hasan Shadily dan Jhon Echols)
Keadaan atau syarat yang sangat diperlukan (yang sangat mutlak) Conditio sine qua non
Daya rasa atau emosionalitas; salah satu komponen temperamen disamping
daya gerak (mobilitas) dan daya hidup (vitalitas); kemampuan
merasakan sesuatu, kemampuan menyatakan perasaan secara spontan;
mungkin terbuka, hangat atau tertutup, dingin (Maramis, 2004: 728).
Daya hidup atau vitalitas; salah satu komponen temperamen disamping daya
gerak (mobilitas) dan daya rasa (emosionalitas); kegairahan hidup dan
berusaha, bertindak serta berbuat sesuatu; mungkin tinggi atau rendah
(Maramis, 2004: 728).
Deifikasi n pendewaan (KBBI).
Deisme n pandangan hidup atau ajaran yang mengakui adanya Tuhan sbg
pencipta alam semesta, tetapi tidak mengakui agama krn ajarannya
didasarkan atas keyakinannya pada akal dan kenyataan hidup (KBBI).
Deisme merupakan suatu aliran yang mengakui adanya pencipta terhadap alam
semesta ini. Akan tetapi setelah alam semesta selesai diciptakan, Tuhan
menyerahkan dunia pada nasibnya sendiri (Charris, 1997: 11).
Delirium n gangguan mental yang ditandai oleh ilusi, halusinasi, ketegangan otak,
dan kegelisahan fisik (KBBI)
Dereistik bentuk pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan, logika atau
pengalaman, masih dalam batas-batas normal, tetapi sering disamakan
dengan nonrealistik otistik (Lih. Nonrealistik dan otisme) (Maramis, 2004:
730).
Demensia suatu keadaan sindroma otak organik yang menahun karena dengan
terutama penurunan intelegensi disamping gangguan sifat kepribadian,
gangguan pertimbangan dan juga afek; karena kerusakan jaringan otak yang
ireversibel (kalau delirium itu reversibel) (Maramis, 2004: 729).
Disensus n situasi sosial yang memperlihatkan terjadinya ketidaksepakatan
mengenai penerapan nilai-nilai tertentu (KBBI).
Diskresi n kebebasan mengambil keputusan sendiri dalam setiap situasi
yang dihadapi
Disorganisasi perorangan suatu kondisi dalam hal seseorang tidak mampu
berfungsi secara efektif karena adanya kebimbangan yang biasanya
karena orang tersebut mendapatkan dua standar perilaku yang
bertentangan. Keadaan ini dapat bersifat sementara atau transisional, tetapi dapat juga tertanam lama di dalam jiwa seorang individu (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984:14)
Disorganization, personal suatu kondisi merosotnya kemampuan seseorang untuk
menyerasikan diri dengan pola perilaku yang dianut (disorganisasi pribadi)—
Soekanto—.
Disorganization, social berkurangnya pengaruh kekuatan norma-norma terhadap
warga-warga masyarakat (disorganisasi sosial)—Soekanto—.
Disorganisasi atau disintegrasi suatu disorganisasi atau disintegrasi mungkin dapat
dirumuskan sebagai suatu proses berpudarnya norma-norma dan nilai-nilai
dalam masyarakat, karena perubahan-perubahan yang terjadi pada lembaga-
lembaga masyarakat (Soekanto)
Dispersi n pergerakan untuk perpindahan individual, terutama untuk mendiami
lingkungan baru.
Disposotio n Bio pembawaan mudah mendapat suatu penyakit
Ecumenical yang berhubungan dengan gereja Kristen
Eidetik a Psi berkenaan dengan kemampuan melihat kembali secara
jelas hal-hal yang dialami pada masa lampau
Eksoterik pengetahuan yang boleh diketahui atau dimengerti oleh siapa saja
Ekolalia n dorongan yang kuat tidak terkendalikan dari penderita
gangguan jiwa untuk meniru ucapan atau perbuatan yang
dilakukan orang lain; kelatahan
Elusif a 1 sukar dipahami atau diartikan; 2 sukar diidentifikasi (KBBI).
Emanasi pancaran (Ensiklopedia Islam, 1994. 75. Ciri-ciri umum tasawuf)
Emotif a 1 berkenaan dgn (berhubungan dengan) emosi; 2 bersifat menimbulkan
(membangkitkan) emosi;
Epikuris n orang yang mempunyai paham bahwa kenikmatan rohaniah lebih
tinggi daripada kenikmatan jasmaniah (KBBI)
Epistemologi n cabang ilmu filsafat tentang dasar-dasar dan batas-batas ilmu
pengetahuan
Esensi n hakikat; inti; hal yang pokok; -- pertikaian antara kedua tokoh itu ialah
pertentangan ideologi (KBBI).
Esoteric hanya diketahui dan dipahami oleh beberapa orang tertentu saja.
Esoteris bersifat khusus (rahasia, terbatas).
Eksaltasi n 1 keriangan spiritual; 2 peningkatan suasana hati secara abnormal;
keriangan yang kuat (KBBI)
Ekskursi n 1 perjalanan untuk bersenang-senang; piknik; darmawisata; 2
penyimpangan dr arah yang pasti;
Eklektik a bersifat memilih yang terbaik dari berbagai sumber (tt orang, gaya,
metode) (KBBI).
Ekskursif a ditandai dengan adanya penyimpangan
Ekualitas n kesamaan status, hak, dan kewajiban yg dimiliki oleh sesama
anggota masyarakat, kelompok tertentu, atau sebuah keluarga (KBBI)
Ekumenisme n usaha untuk mendapatkan kembali persatuan penuh semua orang
yang beriman Kristen (KBBI).
Evokatif a mampu menggugah rasa
Exegesis kb. Penjelasan penafsiran
Eksegesis n penjelasan atau penafsiran teks, msl kitab suci agama (KBBI)
Extradition penyerahan tawanan (ektradisi)
Flegmatis a bertemperamen lamban, tidak mudah terangsang, dan mempunyai
kebiasaan yang sukar diubah (KBBI).
Gnosis pengetahuan religius (Ensiklopedia Islam, 1994. 75. Ciri-ciri umum tasawuf)
Fenomenologi yang khas dari fenomenologi adalah bahwa gejala-gejala yang
hendak diselidiki itu haruslah berupa gejala yang “murni” atau “asli”.
Artinya, gejala tersebut jangan dicampurbarukan dengan gejala lain
yang tidak berhubungan, atau diintervensi oleh interpretasi-interpretasi
lain yang berasal dari kebudayaan, kepercayaan, atau bahkan dari ilmu
pengetahuan yang telah kita miliki tentang gejala tersebut. Ini sesuai
dengan tujuan dari fenomenologi itu sendiri, yakni “kembali pada
realitasnya sendiri” (zu den sachen selbst). Realitas yang dimaksud tidak
lain adalah gejala pertama, murni, dan asli (Abidin, 2002:7).
Fenomenologi adalah metode yang bisa membantu kita untuk mendekati
gejala sebagaimana kita menghayati, menghidupi, atau mengalami gejala
itu secara sebenarnya (Abidin, 2002:69) Abidin, Zainal (Penyunting).
2002. Analisis Eksistensial untuk Psikologi dan Psikiatri. PT Refika
Aditama: Bandung.
Frame of Reference latar belakang dari dorongan (stimuli) yang mempengaruhi
kelakuan pandangan seseorang dalam keadaan tertentu (Vredenbregt,
1984:138).
Friksi n 1. pergeseran yang menimbulkan perbedaan pendapat; 2 perpecahan
Heuristik jalan yang dilalui menuju ilmu
Heuristis n Ling bersangkutan dengan prosedur analitis yang dimulai dengan
perkiraan yang tepat dan mengecek ulang sebelum memberi kepastian (KBBI)
Ilmu jiwa atau psikologi menambah pengertian tentang persepsi, kognisi (hal
berpikir dan memecahkan masalah), ingatan, pelbagai teori tentang
belajar, motivasi dan komunikasi antarmanusia (Maramis, 1980:23)
Insubordinasi n 1 perlawanan atau pemberontakan terhadap atasan dl hubungan
dinas, msl awak kapal melawan nakhoda ; 2 keadaan membangkang atau tidak
tunduk pada perintah; 3 Pol pembangkangan; pendurhakaan; ketidaktaatan;
ketidakpatuhan (KBBI).
Hibridisasi n persilangan dari populasi yang berbeda
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002, Balai Pustaka)
Imanen a berada dl kesadaran atau dl akal budi—pikiran—(KBBI).
Immanent tetap ada
Imprecision kb ketidaksamaan, ketidaktepatan
Impresionisme n aliran dalam seni lukis, seni sastra, dan seni musik yang lebih
mengutamakan pemberian kesan atau pengaruh terhadap perasaan
daripada kenyataan atau keadaan sebenarnya (KBBI)
Infantilisasi n proses, cara, perbuatan membuat seseorang menjadi seperti kanak-
kanak (KBBI).
Insubordinasi n 1 perlawanan atau pemberontakan terhadap atasan dalam
hubungan dinas, misal awak kapal melawan nakhoda; 2 keadaan
membangkang atau tidak tunduk pada perintah; 3 Pol pembangkangan,
pendurhakaan, ketidaktaatan, ketidakpatuhan (KBBI)
Integumen n 1 sesuatu yang meliputi atau melapisi; 2 Bio lapisan terluar bakal biji
yang akan berkembang menjadi selaput biji (KBBI)
inversi n 1 pembalikan posisi, arah, susunan, dsb; 2 Ling pembalikan susunan
bagian kalimat yang berbeda dari susunan yang lazim (msl ia makan roti
menjadi makan roti ia); 3 Dok sungsang; 4 nafsu birahi thd kelamin
sejenis (KBBI)
Kebatinan atau aliran kebatinan; suatu pandangan hidup dengan cara-cara tertentu
untuk hidup; dinamakan juga aliran kepercayaan; bukan agama (Maramis,
2004:745)
Kemat n kemampuan adikodrati (KBBI).
Kerahiban atau monastisisme
Kinetika n cabang pengetahuan dinamika tt pengaruh suatu gaya pada gerakan
benda; ilmu gerak (KBBI)
Klenik kegiatan perdukunan (pengobatan dsb) dengan cara yang sangat rahasia
dan tidak masuk akal, tetapi dipercayai oleh banyak orang.
Kohabitasi n perihal tinggal serumah tanpa ikatan perkawinan
Konstruk hasil abstraksi terhadap gejala-gejala yang dikonstruksikan
dalam pikiran belaka
(Kamus Sosiologi, Prof. Dr. Soerjono Soekanto, S.H.,M.A.,
Cet. Ketiga Agustus 1993)
Koinsidensi, kejadian yang kebetulan. Hal terjadinya peristiwa dalam waktu yang
sama
Kataklisme n 1. banjir besar; 2. hura-hura hebat;
3. perubahan sosiopolitik yang membawa petaka (cataclysmic).
Katalisator n 1 kim katalis; 2 seseorang atau sesuatu yang menyebabkan
terjadinya perubahan dan menimbulkan kejadian baru atau
mempercepat suatu peristiwa.
Konflik perbedaan-perbedaan pendapat yang berkembang dalam masyarakat
dan perbedaan itu diakui sebagai sistem nilai yang harus dikembangkan
(Radikalisme Kaum Pinggiran: Studi Tentang Issue, Strategi dan Dampak
Gerakan. Drs. Zaiyardam Zubir, M. Hum. Proyek Peningkatan Penelitian
Pendidikan Tinggi Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi
Depertemen Pendidikan Nasional 2002).
Konvergensi n 1 keadaan menuju satu titik pertemuan; memusat; (KBBI).
Mantiki a berdasarkan pikiran (bukan berdasarkan emosi); logis
Melankolia n kelainan jiwa yang ditandai oleh keadaan depresi dan ketidakaktifan
fisik
Melankolis a dl keadaan pembawaan lamban, pendiam, murung, sayu; sedih;
muram
Maqamat tangga, stasion, tempat pemberhentian sementara, digunakan untuk
menunjukkan pada tangga yang harus dilalui oleh orang yang ingin menjadi
sufi (Nata, 1995:206).
Nerosa suatu gangguan jiwa yang ditandai oleh kecemasan. Kecemasan itu
dapat dirasakan dan diexpresikan secara langsung atau dapat diubah
(dikonversikan), di-salah-pindakahkan atau diwujudkan pada tubuh.
Meskipun nerosa tidak menunjukkan disintegrasi kepribadian atau
distorsi kenyataan (realitas) yang nyata, tetapi dapat juga cukup hebat
sehingga mengganggu seseorang berfungsi sehari-hari; dahulu
dinamakan psikonerosa. Dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu nerosa
cemas, histerik, fobik, obsesif-kompulsif, depresif, nerastenik,
depersonalisasi dan hipokondrik. (Maramis, 2004: 755).
Neurosis n Dok penyakit saraf yang berhubungan dengan fungsinya tanpa ada
kerusakan organik pada bagian susunan saraf (spt histeri, depresi, fobi);
psikoneurosis
Neurotik a Dok ada gangguan pd urat saraf; dl keadaan sakit saraf (KBBI)
Nomotetis ilmu yang bertujuan memperkembangkan teori-teori umum
(Vredenbregt, 1984:138). Vredenbregt, Jacob. 1984. Metode dan Teknik
Penelitian Masyarakat (Cet. VI). PT Gramedia: Jakarta.
Obstruksi 1 sumbatan, rintangan (cairan yg tidak dapat mengalir atau bergerak
dl saluran, spt adanya batu dl empadu, adanya lumpur dl pipa air); 2 Pol
penghambatan yang dilakukan oleh golongan politik tertentu untuk
menghalangi diterimanya suatu undang-undang atau peraturan oleh
Dewan Perwakilan Rakyat (KBBI)
Obskurantisme kecenderungan secara umum untuk menentang penelitian,
pembaruan atau kemajuan ilmu pengetahuan.-J-D. (Mudhofir)
Ontologi n cabang ilmu filsafat yang berkaitan dengan atau yang berhubungan
dengan hakekat hidup
Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu)
Parafrase U. penguraian kembali isi sebuah kalimat atau penggalan teks;
penjelasan maksud suatu teks dengan kata-kata yang berbeda dari kata-
kata teks itu (Rozak (dkk.), 1994:146) Kamus Istilah Sastra
Parafrase penguraian kembali isi sebuah kalimat atau penggalan teks.
Penguraian kembali ini biasanya menggunakan kata-kata lain, dan
maksudnya memperjelas (Sudjiman e.d., 1984:56)
Patron Client pola hubungan antara atasan dengan bawahan. Pola ini bersifat atasan
melindungi bawahan. (Radikalisme Kaum Pinggiran: Studi Tentang Issue, Strategi dan Dampak Gerakan. Drs. Zaiyardam Zubir, M. Hum. Proyek Peningkatan Penelitian Pendidikan Tinggi Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Depertemen Pendidikan Nasional 2002).
Pembaharuan ide, cara, dsb. Aggiornamento
Perseverasi n kemampuan berpegang teguh pada suatu pokok ajaran tertentu
ketika berpikir atau menafsirkan sesuatu ataupun ketika mengamat-
amati (KBBI).
Predestinasi n ketentuan Tuhan; yang sudah lebih dahulu ditentukan oleh
Tuhan; takdir (KBBI)
Predisposisi n 1 kecenderungan khusus ke arah suatu keadaan atau perkembangan
tertentu; 2 kecenderungan untuk menerima atau menolak sesuatu berdasarkan
pengalaman dan norma yang dimilikinya (KBBI).
Premis n 1 apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan kemudian;
pemikiran; alasan; 2 asumsi; 3 kalimat atau proposisi yang dijadikan
dasar penarikan kesimpulan di dalam logika (KBII).
Proforma a untuk pantas-pantas atau untuk basa-basi sekedar mengikuti tata
cara yang berlaku (KBBI).
Proliferasi n Bio 1 pembiakan yg subur; 2 perbanyakan bentuk yang sama,
terutama sel dan kista yg abnormal (KBBI, 2002)
Polarisasi n pembagian atas dua bagian (kelompok orang yang berkepentingan, dsb)
yang berlawanan.
Reshuffle perubahan susunan (of a cabinet)
Retardasi n perlambatan pembaharuan (sebagai lawan akselerasi); --mental
gangguan perkembangan inteligensi, disebabkan oleh gangguan sejal dl
kandungan sampai masa perkembangan dini sekitar lima tahun (Balai Pustaka,
2002:953)
Retreatisme Sos proses yang terjadi apabila nilai-nilai yang berlaku tidak dapat
dicapai melalui cara yang telah melembaga, tetapi warga masyarakat
mempunyai kepercayaan yang mendalam sehingga mereka tidak mau
menyimpang dari kaidah yang telah melambaga
Retrogresi n 1 kemunduran; 2 pemburukkan; penurunan
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002, Balai Pustaka)
Revivalisme, bagi umat Kristen, merupakan kebangkitan rohani yang dalam kehidupan sehari-hari lebih lazim disebut kebangunan rohani. Revival sendiri berarti kebangkitan. Revivalisme merupakan suatu bentuk kehidupan beragama dan peribadahan yang mengutamakan usaha untuk membangkitkan semangat kerohanian melalui khotbah dengan dukungan suasana ibadah yang menunjang, termasuk paduan suara gereja, orkestra, dll. Yang menjadi sasaran di dalam kebangunan rohani adalah hati, bukan otak (Ensiklopedi Nasional Indonesia. 1990. Ensiklopedi Nasional Indonesia (Cet. I). PT Adi Pustaka: Jakarta.
Revivalism 1 : the spirit or kind of religion or the methods characteristic of religious revivals 2: a tendency or desire to revive or restore (Babcock G., 1996:1994) Babcock G., Philip (Ed.). 1996. Webster’s Third New International Dictionary of the Language Unabridged. G. & C. Merriam Company: Springfield, Massachussetts, U.S.A.

Sinektika n teori atau sistem tentang pernyataan persoalan dan pemecahannya
berdasarkan pemikiran kreatif dengan menerapkan analogi dan majas dalam
pertemuan atau diskusi tidak formal di antara sejumlah kecil peserta dari
berbagai bidang keahlian. KBBI.
Segregasi n pemisahan (suatu golongan dari golongan lainnya); pengasingan;
pengucilan.
Seketika adv saat itu juga; waktu yang tidak lama (KBBI)
Sirr hati nuraninya (Ibn Abi Ishaq Muhammad ibn Ibrahim Ibn Ya’qub Al-Bukhari
Al-Kalabadzi. Cet. V. 1995. Al-Ta’aruf li-Madzhabi Ahl Al-Tashawwuf.
Penerbit Mizan. Bandung. Hlm. 27)
Skisma n perpecahan dl agama (KBBI)
Skisma, yaitu perpecahan di antara pemeluk setia (Jurnal Ilmu Sosial, LIPI)
Skizofrenia suatu psikosa fungsional dengan gangguan utama pada proses
berpikir serta disharmoni (perpecahan, keretakan) antara proses berpikir, afek/emosi, kemauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataan, terutama karena waham dan halusinasi; asosiasi terbagi-bagi sehingga timbul inkoherensi, afek dan emosi menjadi inadequat, psikomotor menunjukan penarikan diri, ambivalensi dan perilaku bizar. Jenis-jenis : simplex, hebefrenik, katatonik, paranoid, episoda skizofrenia akut, skizo-afektif, residual dan skizofrenia anak (Maramis, 2004: 766)
Sofistikis bersifat pemikiran yang mendalam (Nata, 1995:207)
Sosiologi pengetahuan atau ilmu tt sifat, perilaku, dan perkembangan
masyarakat; ilmu tt struktur sosial, proses sosial, dan perubahannya
(KBBI)
Sosiologi “Sociology is the study of social proces revealed in the continuity of
group life” (Bogardus dalam Susanto, 1986: 50). Susanto, Astrid S. 1986.
Filsafat Komunikasi. Penerbit Binacipta: Bandung.
Sociology studi ilmiah; organized community
Sosiologi “the study of the social processes which function through social groups in
the developing and naturing of personalities” (Bogardus dalam Susanto,
1986:51).
Sosiologi pengaruh faktor-faktor sosial terhadap kesehatan dan gangguan jiwa,
seperti struktur dari fungsi sosial, perubahan sosial, interaksi individu
dan kelompok serta interaksi antar-kelompok (Maramis, 1980:23).
Substansi n 1 watak yang sebenarnya dr sesuatu; isi; pokok; inti; 2 unsur; zat:
pembakaran terjadi sebagai hasil persenyawaan sebuah – dgn oksigen; dl
konferensi akan dihimpun – masalah yang akan kita bicarakan dl
pertemuan tingkat tinggi mendatang; 3 kekayaan; 4 harta: pikiran itu
merupakan – yg tidak kelihatan; (KBBI).
Subversi n gerakan dl usaha atau rencana menjatuhkan kekuasaan yang sah dengan
menggunakan cara di luar undang-undang (KBBI)
Sufisme n nama umum bagi berbagai aliran sufi dl agama Islam (KBBI)
Sufisme suatu gerakan klasik mistisisme dan reaksi atas legalisme dan kekakuan
ortodoks. Sufisme merupakan suatu sekte yang berusaha mencapai hubungan
yang lebih dekat dengan Tuhan. Hal ini dilakukan dengan pengamatan yang
hati-hati atas kaidah-kaidah keagamaan. - H.H.T.
Suluk1 n 1 jalan ke arah kesempurnaan batin; tasawuf; tarekat; mistik 2 pengasingan
diri; khalwat.
Suluk1 Jw n nyanyian (tembang) dalang yang dilakukan ketika akan melakukan suatu
adegan (babak) dalam pertunjukan wayang.
Susila Budi Dharma (Subud)
Tarekat satariah tarekat Syekh As-Syatari yang di Indonesia dikembangkan oleh
syekh Abdul Rauf (Kamus Bahasa Indonesia)
Tarantisme n Dok penyakit histeria yang menyebabkan penderita menari-nari
(KBBI).
Tawassul memohon kepada Allah melalui orang yang diyakini memiliki derajat
kemuliaan
Tasawuf n ajaran (cara dsb) untuk mengenal dan mendekatkan diri kpd Allah
sehingga memperolah hubungan langsung secara sadar dng-Nya (KBBI)
Tipologi berarti suatu cara menggolong-golongkan sejumlah orang yang dipandang
memiliki tipe yang hampir bersamaan (Sujanto, Agus (et.al). 2004. Psikologi
Kepribadian. Bumi Aksara: Jakarta. Hlm. 19).
Tipologi ilmu watak tentang bagian manusia dalam golongan-golongan menurut
corak watak masing-masing (KBBI)
typology ty.pol.o.gy …d: study and esp. analysis or division of humanity in terms of social types =management relations (Bobcock, 1966:247).
Tipologi: salah satu metode yang digunakan ahli sosiologi untuk mengklasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya, kemudian dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. Pendekatan ini sering digunakan untuk memahami ilmu-ilmu manusia, dan dapat digunakan dalam ilmu perbandingan agama (Tholchah, et.al., 2003:214). Tholchah H., Muhammad et.al. 2003. Metodologi Penelitian Kualitatif: Tinjauan Teoritis dan Praktis. Lembaga Penelitian Universitas Islam Malang kerjasama dengan Visipress: Surabaya.
Tariqat aliran dalam tasawuf, perkumpulan para pengamal ajaran tasawuf, organisasi
tasawuf, terdapat guru, murid, wirid dan seterusnya (Nata, 1995:207)
Teleologi n teori atau ajaran bahwa semua kejadian (setiap gejala) terarah pada
suatu tujuan (KBBI)
Sebab yang sebanarnya vera causa
Wahdat al-wujud kesatuan eksistensi (Kazemi M., Ahmad. 2005. Kehadiran
Tasawuf-Persia dalam Literatur Nusantara (Malaysia-Indonesia) dalam
majalah Islamia VOL II NO.3/Desember 2005. hlm. 105).
Waham n keyakinan atau pikiran yang salah karena bertentangan dengan dunia nyata
serta dibangun atas unsur yang tidak berdasarkan logika; sangka; curiga
(KBBI).
Waham suatu gangguan isi pikiran; sebuah keyakinan yang tidak sesuai dengan
kenyataan; diwarnai oleh latar belakang kebudayaan serta inteligensi orang itu.
Terdapat bermacam-macam waham yang dinamai sesuai dengan keyakinan
itu, umpamanya: waham paranoid, kejaran, sindiran, hubungan, dosa,
nihilistik, kebesaran dan sebagainya (Maramis, 2004: 770).
Wasilah mediator atau perantara.

Selasa, 16 Agustus 2011

Dari Dalam Nurani

Dari Dalam Nurani

Tengah hari, Selasa, 29 2011 di telpon seluler (ponsel) milik saya ada pesan pendek (sandek). Bunyinya “Ikuti sayembara menulis di catatan facebook (fb) tentang Nurani Soyomukti. Berhadiah 23 buku Karya Nurani Soyomukti.” Pengirim sandek itu Nurani Soyomukti sendiri. Jika Mas Nurani ini tidak mengirim sandek, mungkin saya tidak tahu jika ada sayembara itu. Lagi pula, saya jarang on line. Juga jarang kunjungi fb miliknya. Namun, di fb saya ada grup Pembaca Buku Nurani.

Kira-kira semester IV saat kuliah di Program Studi (Prodi) Sosiologi saya mengenal Nurani. Saya angkatan 2003, sedangkan Mas Nurani di Hubungan Internasional (HI) angkatan 1999. Kami di fakultas yang sama. Kalau tidak salah saat itu dia menjadi narasumber dalam sebuah diskusi kecil di kampus. Saya mengenal Nurani sebagai sebagai aktivis salah satu organisasi mahasiswa ekstra kampus (Ormek). Juga berperan dalam demonstrasi mahasiswa dengan mengusung isu tertentu.

Lalu secara lebih akrab saya mengenal Nurani akhir tahun 2009 di akhir masa studi saya. Pertama kali tahu kamar kosnya, di dalamnya terdapat lebih dari 100 judul buku. Dia juga memiliki kliping. Misalnya seputar topik sosial, politik maupun ekonomi. Termasuk artikelnya yang dimuat di koran.

Pada saat itulah saya mengenal Nurani sebagai seorang penulis. Beberapa buku yang dia tulis dan diterbitkan oleh penerbit membuktikan dirinya seorang penulis. Entah berapa judul buku yang dia tulis dan telah diterbitkan. Sebelumnya saya hanya mengenal Nurani sebagai penulis artikel pada kolom opini di koran.

Nurani pula yang saat itu membuatkan saya sebuah blog. Sebelumnya, saya memang memiliki tulisan sederhana. Namun, itu belum pernah saya taruh di tempat umum seperti blog. Pergaulan sesama orang yang hobi menulis itu terkadang juga mendorong saya mengerjakan hobi menulis.

Saya akui. Daya tahan menulis seorang Nurani luar biasa. Saya kalah dengannya. Buktinya dari buku yang telah telah dia tulis dan telah diterbitkan. Produktifitasnya juga tampak di catatan fbnya. Beberapa di antaranya menuai setuju dan tidak setuju. Misalnya tulisannya tentang “Makhluk Parasit itu Bernama PNS”.

Sebagai aktivis gerakan, tulisannya seputar demokrasi, radikalisasi, revolusi dan lain sebagainya. Topik-topik itu pun menandai pandangan-pandangan “kiri”. Pandangan kiri ini secara sederhana berarti individu atau kelompok yang menyuarakan ideologi kiri. Karl Marx yang idenya dikenal dengan Marxisme dekat dengan ideologi kiri ini.

Ideologi kiri ini dikenal sekuler, bersifat duniawi. Karenanya ideologi kiri ini sering berbeda pandangan dengan agamais. Biasanya ideologi kiri ini berdasar pada filsafat materialisme. Sesuatu itu didasarkan atas materi. Sebagaimana itu pandangan Marxisme. Marxisme ini juga berkaitan dengan sosialisme.

Karenanya hampir pada setiap tulisannya, Nurani menyelipkan filsafat materialisme. Dalam salah satu bukunya yang mencoba mengikuti tren, yakni yang mengulas tentang cinta, sepertinya juga tak luput dari pandangan-pandangan dari filsafat materalisme. Sampai pandangan yang sering diulang-ulang itu terkadang membuat orang bosan.

Filsafat materialisme ini memang bisa menggoda. Misalnya, sesuatu itu terdiri dari materi. Jika materi itu bekerja secara terus menerus maka materi itu akan habis. Pada tahap tertentu filsafat itu mengabaikan peran Tuhan. Misalnya jika materi itu adalah manusia. Ciptaan manusia yang baru bisa jadi bukan karena peran Tuhan. Namun, itu terjadi karena bekerjanya materi itu sendiri. Contoh lagi, jika suatu revolusi benar-benar dijalankan maka tidak ada lagi orang kaya dan tidak ada lagi orang miskin. Setiap orang mendapatkan haknya secara sama.

Terkadang pandangan itu dinilai khayal. Mungkin jika memang tiba saatnya pandangan itu bisa menjadi tren. Sebagaimana ramai-ramainya tentang Marxisme itu. Kasus Indonesia adalah keberadaan partai komunis. Walaupun setiap filsafat maupun setiap ideologi juga bisa bersifat seperti halnya filsafat materialisme maupun ideologi lainnya.

Itulah Nurani dari satu sisi. Dia mencoba bereskpresi dalam dari dalam dirinya. Dari dalam dia sebagai Nurani. Sebagaimana sosok manusia biasa juga tak luput dari permasalahan kemanusiaannya. Tentang cinta, keluarga, teman, kuliahnya dan lain sebagainya. Namun, saat Nurani berekspresi dalam bentuk tulis dan kita membacanya mungkin kita akan merasakan tulisan itu melampaui apa yang kita rasakan jika melihat Nurani langsung. Barangkali itulah sifat dari sebuah tulisan.

Akhirnya, menanggapi sandek itu seperti menulis kata pengantar untuk biografi Nurani Soyomukti. Lagi pula saya sebagai teman yang sama-sama hobi menulis, tak ingin melewatkan sayembara ini. Bukan semata-mata karena hadiahnya, melainkan perasaan sebagai sesama orang yang hobi berekspresi dalam bentuk tulis.

Kamis, 23 Juni 2011

Bergantung Pada Orangnya

Bergantung Pada Orangnya

Apakah seorang sarjana akan lebih kaya daripada lulusan SMA? Apakah lulusan IPA akan senantiasa sukses daripada lulusan IPS maupun bahasa? Apakah orang yang kaya itu selalu bahagia? Apakah orang yang miskin itu selalu tidak bahagia? Kiranya masih banyak sederet pertanyaan-pertanyaan maupun pernyataan-pernyataan lainnya.

Mungkin di antara kita pernah terlibat perbincangan seputar satu atau dua yang berkaitan dengan pertanyaan di atas. Saya sendiri pernah terlibat dalam perbincangan berkait dengan pertanyaan pertama di atas. Dalam perbincangan itu muncul pernyataan “bergantung pada orangnya”.

Pada akhirnya memang bergantung pada orang sebagai pelaku. “Pelaku” ini kita anggap sebagai “dia”. Artinya pula jika kita menilai sesuatu kita juga perlu menilainya dari sudut pandang mana. Misalnya pertanyaan apakah seseorang sarjana akan lebih kaya daripada lulusan SMA? Barangkali kita tahu jawabannya. Mungkin kita mendasarkan pada orang-orang di sekitar kita. Ada seorang sarjana, tetapi kekayaannya kalah dengan lulusan SMA. Ada juga seorang sarjana yang kekayaannya melebihi kekayaan seorang lulusan SMA.

Seseorang kaya hanya dengan lulus SMA karena mungkin orang tuanya kaya. Seseorang bisa mengelola kekayaan dari orang tuanya bersama pasangan hidupnya. Misalnya lulusan SMA itu diserahi toko serba ada oleh orang tuanya. Sementara ada lulusan sarjana yang hanya mengandalkan dia diterima menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) walaupun pada akhirnya dia tidak bisa menjadi PNS. PNS nyatanya hanya impian bagi si sarjana.

Pertanyaan-pertanyaan di atas sebetulnya sebuah dramatisasi. Kita memang sah-sah saja saat dihadapkan pada sesuatu, lalu kita berkata “bergantung pada orangnya”. Namun, kita juga perlu ingat, dalam kasus-kasus tertentu dalam memandang sesuatu itu hendaknya juga melihatnya tidak hanya dari si pelaku semata.

Minggu, 19 Juni 2011

Sebuah Situasi di Kelas

Sebuah Situasi di Kelas

Seseorang yang berprofesi sebagai guru sukarelawan (sukwan) di sebuah sekolah dasar (SD) di sebuah kota menceritakan pengalamannya pada saya. Sebutlah namanya M. Akhir Mei 2011 lalu M seakan putus asa dengan salah satu siswanya yang bandel. Sebutlah namanya S. Saat pelajaran berlangsung, S merebut tempat pensil milik temannya. S juga mudah berkata-kata kotor. Suatu hari tanpa alasan S mengucapkan kata-kata yang tidak pantas itu pada M. M sendiri baru setengah tahun mengajar di SD tersebut.

Seakan-akan M putus asa dengan polah S. Teguran secara lisan sudah dia lakukan. Termasuk nasihatnya agar S tidak berkata-kata kotor lagi. Memanggil nama dengan keras juga sudah dilakukan M. Terkadang perilaku S itu mengganggu siswa lain, khususnya selama kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung di kelas. M sendiri tampaknya belum pernah menghukum, misalnya menyuruh S berdiri di depan kelas.

Rotasi tempat duduk juga sudah dilakukan. Tujuannya agar terjadi penyegaran penghuni kelas. Misalnya, siswa yang biasanya mengganggu siswa di sebelahnya bisa terpisah. Paling tidak rotasi itu bisa memisahkan untuk sementara waktu. Selain itu, sudut pandang mata siswa terhadap papan tulis juga tidak monoton meskipun hanya beberapa derajat.

Kemudian, dari pengakuan S, dirinya berujar jika pendukung kesebelasan sepak bola di daerahnya juga ada kata-kata seperti yang dia ungkapkan itu. Kata M, S juga memiliki saudara yang di bagian tubuhnya ditindik. Orang tua dari S menurut M tampaknya juga tidak begitu perhatian pada S.

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. S ini agaknya mencitrakan bahwa di kelas II tempat M menjadi guru kelas bisa menjadi kelas yang sulit dikelola. Memang, dalam satu kelas yang terdiri atas 30 siswa itu sekaligus ada 30 karakter yang berbeda-beda. Pada saat yang sama, katakanlah gaya belajar setiap siswa juga berbeda-beda.

M sebagai guru tentu ingin agar KBM berlangsung lancar. Terkadang saat kelas ramai dan sulit dikendalikan, M sampai memukulkan penggaris pada meja. M sendiri menyadari jika situasi ramai itu bisa saja terjadi. Termasuk M memaklumi dengan tingkah laku anak di kelas tersebut. Karenanya M ingin tetap sabar dalam menjalankan tugasnya sebagai guru.


Rabu, 08 Juni 2011

Buku di Malang Tempoe Doeloe

Buku di Malang Tempoe Doeloe

Karena sebuah alasan, Sabtu, 21 Mei 2011 saat itu saya pergi ke Malang. Saya berangkat dari rumah, Nganjuk, pukul 08.00 dengan mengendarai sepeda motor dengan silinder 110 cc. Saya tiba di salah satu kabupaten di Jawa Timur itu pukul 11.45, di sebuah tempat di kawasan kampus. Perjalanan melewati Kecamatan Pare, Kediri, dan Pujon, Malang itu merupakan kali pertama bagi saya. Jika melihat atlas maka rute itu menembus kompleks pegunungan Anjasmoro dan pegunungan Kawi. Jalan beraspal yang berkelak kelok, tebing di sisi jalan, dan aroma hutan pegunungan pun menjadi pemandangan yang khas.

Sabtu itu pula, sekitar pukul 13.00, agenda selama di Malang adalah mengunjungi Malang Tempoe Doeloe (MTD). MTD ini mirip bazar, tetapi dengan nuansa zaman dulu. Misalnya bangunan stan, pakaian yang dikenakan, sebuah motor juga satu dua mobil yang dipamerkan, serba mengesankan zaman dulu. Kebanyakan stan menyajikan makanan, minuman yang mengingatkan saat masa kecil. Misalnya gulali. Jadi, makanan di stan itu juga dijual. Selain itu, juga ada stan yang menawarkan hasil kerajinan. Misalnya wayang.

Awalnya, saya bertanya-tanya dalam hati apakah di MTD ini ada stan yang menjual buku, khususnya buku-buku lama. Akhirnya ada juga sebuah stan yang khusus menjual buku-buku terbitan lama. Selain buku juga ada majalah yang juga terbitan lama. Misalnya terbitan sebelum tahun 1995. Semua bacaan itu dijual.

Saya terkesan dengan stan khusus yang menyediakan buku maupun majalah terbitan lama ini. Ada sejumlah buku jenis pemikiran. Misalnya pemikiran intelektual Muhammadiyah. Ada juga karya sastra berjudul Karier dan Jodoh karya La Rose. Entah semuanya terbitan kapan, yang jelas diterbitkan sebelum tahun 2000. Sepertinya pemilik stan itu sengaja membidik pembaca dari kalangan mahasiswa dan umum.

Saya juga heran dengan diri saya sendiri. Dulu sewaktu masih menjadi mahasiswa, khususnya rentang antara tahun 2007 sampai 2008 terkadang saya tidak bisa menahan untuk tidak membeli buku terbitan lama yang menarik saya. Misalnya buku berjudul Sinonim (1989) oleh Soedjito, terbitan Sinar Baru Bandung. Saat itu kalau tidak salah harganya Rp 15.000,-. Namun, 21 Mei 2011 itu saya tertarik dengan judul Karier dan Jodoh karya La Rose itu. Akan tetapi, saya tidak ingin membelinya. Bahkan, menanyakan berapa harganya pada penjual pun saya enggan. Akhirnya setelah itu saya menyesal mengapa saya tidak menanyakan harganya.

Gagal Panen

Gagal Panen

Daun tanaman padi milik Pak Tomo (60 tahun) yang berumur sekitar 65 hari itu mengering karena wereng coklat (7/06/2011). Tanaman padi di sawah milik Pak Rakidi (56 tahun) malah lebih buruk lagi. Semua daunnya mengering menjadi jerami. Hampir dapat dipastikan tanaman padi milik Pak Tomo akan seperti milik Pak Rakidi. Tanaman padi mengering dan akhirnya mati. Tinggal menunggu hitungan hari. Hama wereng coklat juga mengganas di sawah milik petani lainnya.

Dipastikan pula pada musim tanam April-Juni 2011 ini sawah di Dusun Wates, Desa Balongrejo, Kecamatan Bagor, Nganjuk, akan puso, gagal panen. Masa tanam antara April-Juni dalam sejarahnya memang tidak menguntungkan. Namun, agaknya lebih dari dua puluh tahun terakhir ini tingkat kerusakannya tidak seperti masa tanam kali ini. Benar-benar parah.

Padahal, dengan umur seperti itu padi bisa dipanen sekitar satu bulan lagi. Awal Juni 2011 ini adalah saat panen. Selama itu pula, para petani bisa rugi ratusan ribu sampai puluhan juta. Bahkan, untuk lingkup satu dusun saja seperti Dusun Wates itu, kerugian bisa mencapai 100 juta lebih. Pada panen yang lalu Pak Tomo bisa mendapatkan uang Rp 12 juta. Namun, dengan situasi sekarang, lebih buruk lagi sawah tidak menghasilkan Rp 1,- pun.

Sebelum ada wereng, tanaman padi yang kebanyakan dari varietas Bagendit itu tumbuh subur. Konon, kerusakan tanaman padi dari varietas Membramo lebih cepat dibandingkan dengan Bagendit. Para petani sangat berharap mereka dapat memanennya. Maklum, pada panen sebelumnya kuantitas padi juga merosot. Bulir padi banyak yang kosong, tetapi petani masih bisa memanen.

Namun, sudah beberapa minggu ini hama wereng menggila. Hama wereng, yakni sejenis hewan yang bisa terbang dan ukurannya kurang lebih seperti biji jambu biji itu makan tak pernah kenyang. Hewan yang berwarna hitam kecoklatan ini jumlahnya ribuan. Menempel pada daun, batang, hampir pada seluruh tanaman. Perkembangbiakannya juga cepat. Karenanya, sepanjang mata mamandang dalam waktu 24 jam bisa mengeringkan daun tanaman padi di sawah. Tanaman menjadi jerami, tetapi masih menancap di tanah.

Ada cerita yang beredar di kalangan petani. Daun tanaman padi yang kering itu jika diberikan pada sapi maka sapi bisa mati. Karenanya, tidak ada satu pun petani yang berani memberikannya pada sapinya. Petani memilih mencari rumput di pematang untuk pakan ternaknya.

Pada minggu kedua di bulan Juni 2011 ini, ada pula salah seorang petani yang telah membakar sedikit tanaman padinya di sawah. Ada juga sebagian petani yang membiarkan tanaman padinya diporakporandakan oleh wereng. Selama itu ada pula petani yang masih berusaha menyelamatkan tanaman padinya dari serbuan wereng yang ganas.

Caranya dengan menyemprotkan pestisida dengan alat semprot tangan. Seperti yang dilakukan oleh Puguh (27 tahun). Sejak masa tanam, yaitu awal April 2011 lalu Puguh telah memakai berbagai jenis merek pestisida. Sejak itu sampai sekarang Puguh telah kurang lebih empat kali menyemprot. Dalam keadaan normal Puguh menyemprot sawah milik ayahnya itu sekitar 9 tangki.

Pada minggu kedua di bulan Juni 2011 ini sawah yang diserang wereng disemprot sebanyak 4 tangki. Sebelum diserang cukup 2 tangki. Dengan volume itu Puguh berharap wereng bisa mati. Namun, sehari setelah disemprot wereng masih saja belum mati. Kalaupun mati maka masih ada telur wereng yang menggantikan wereng yang sudah mati.

Satu dua petani lainnya pun seakan kehilangan cara. Ada petani yang mencampur pestisida dengan deterjen yang biasa dipakai untuk mencuci baju. Ada pula yang mencampurnya dengan merek untuk pelembut atau pewangi pakaian. Bahkan, ada petani yang mencampurnya dengan solar ataupun oli dengan dosis tertentu. Ada juga salah seorang petani yang menyemprot tanaman padinya dengan cairan yang biasanya dipakai sebagai obat nyamuk. Deterjen, solar, maupun oli ini sebetulnya tak lazim untuk menyemprot tanaman padi.

Satu dua petani juga berusaha lewat supranatural. Ada yang meminta bantuan orang pintar. Caranya orang tersebut mengelilingi tanaman padi saat malam hari. Orang itu tidak tidur selama satu malam. Di setiap sudut petak sawah diberi batang daun pisang yang sudah kering. Beberapa petani juga memberi sesajen berupa karak atau bekas nasi yang dijemur dengan lauk balur yang sebelumnya telah diberi doa. Namun, upaya itu tak mampu menghalau wereng yang tidak punya belas kasihan.

Dampak dari kegagalan panen kali ini memang besar. Dalam jangka sekitar empat bulan ke depan keganasan hama wereng ini membuat sapi tidak bisa makan jerami. Secara umum petani bisa-bisa menunggak membayar utang dari pupuk yang dibeli dari kelompok tani. Mereka terancam tidak bisa membayar utangnya. Lagi pula, dalam keadaan tanaman subur, modal untuk pemeliharaan tanaman padi sejak awal sampai panen rata-rata 40 % dari total hasil panen. Belum lagi beban biaya untuk menanam padi selanjutnya.

Pada pertengahan minggu kedua di bulan Juni 2011 ini sedikit petani mulai memanen padinya, lebih awal. Padahal, normalnya padi baru bisa dipanen kurang dari satu bulan lagi. Dengan hasil yang sedikit itu mereka berharap hasilnya bisa dimakan. Sambil berharap masa tanam selanjutnya tidak seburuk seperti sekarang ini.

Sabtu, 14 Mei 2011

Guru Jegog (menempeleng) Siswa

Guru Jegog (menempeleng) Siswa

Kasihan siswa itu. Kamis, sore hari, 12 Mei 2011 dalam program berita, sebuah stasiun televisi menayangkan guru yang menempeleng seorang siswa, laki-laki. Ibu guru yang tampak sudah berumur itu jegog atau jegug berulang kali seorang siswa saat mengerjakan ujian nasional (UN) di sebuah Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB). Keesokan pagi harinya sebuah stasiun televisi lainnya juga menayangkan peristiwa penggamparan tersebut. Saya berusaha mencari arsip berita itu di internet, tetapi tidak menemukan.

Dalam Kamus Jawa-Indonesia (2004) karya Purwadi, jegog atau jegug ini berarti di tekan kepalanya. Orang Jawa tentu tahu arti istilah jegog. Saya sebetulnya kesulitan mencari padanan kata jegog ini. Akan tetapi, jegog itu agaknya satu makna dengan tampar, tempeleng, dan pukul. Namun, tampar biasanya memukul pipi dengan telapak tangan.

Kemudian, demi etika jurnalistik, kamera menyamarkan tapak tangan kanan si guru saat menekan-nekan kepala si siswa. Wajah dan kepala siswa yang di-jegog itu juga disamarkan. Namun, pemirsa tentu tahu, tangan si guru membentur-benturkan kepala siswa berulang kali. Si guru tidak disamarkan. Saat membentur-benturkan kepala, si guru juga membentak-bentak siswa yang duduk di bangkunya, belakang kelas tersebut.

Guru tampak kesal karena siswa tersebut tampak sulit menuliskan biodata di kertas lembar jawaban saat UN. Dalam berita di televisi itu juga dikatakan siswa tersebut awalnya terlambat masuk kelas saat UN. Saat diperlakukan seperti itu, siswa tersebut diam saja. Kameramen televisi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam tayangan itu juga disebutkan siswa tersebut tergolong tuna rungu. Karenanya bersekolah di SDLB.

Entah bagaimana kenyataan yang sesungguhnya. Mungkin si guru berwatak mudah marah. Selama menjalankan profesinya mungkin sang guru terbiasa dengan gaya mengajar kemarahan. Terkadang memang ada tipe guru seperti itu. Dari raut wajah siswa yang di-jegog-nya tidak tampak dia siswa yang bandel.

Kadang-kadang memang tidak mudah mengendalikan amarah. Khususnya saat menghadapi siswa dengan berbagai sikap, kepribadian, penampilan fisik dan latar belakang hidupnya. Saat guru mengabsen dan ada siswa yang acungkan tangan dengan tangan kiri maka mungkin guru bisa marah. Sikap siswa itu tentu tidak sopan. Marah adalah sifat dan sebetulnya bisa dikendalikan.

Namun, bagaimanapun juga tindakan guru itu tidak terpuji. Tidak pantas dilakukan oleh seorang guru. Pemirsa yang menyaksikannya akan banyak yang menyayangkan tindakan guru tersebut. Tindakannya termasuk kekerasan dalam bentuk fisik maupun verbal. Kekerasan fisik bisa menimbulkan luka fisik. Kekerasan verbal atau kekerasan dalam bentuk kata-kata kasar bisa menyisakan luka batin.

Secara pribadi saya kasihan dengan siswa itu. Saya juga menyesalkan atas tindakan guru tersebut. Kejadian yang ditayangkan televisi itu menjadi pelajaran bagi pemirsanya. Tindakan seperti itu salah. Guru yang tidak disamarkan dalam tayangan itu pun sebagai bentuk sanksi atas tindakannya yang keliru.