Senin, 27 Desember 2010

Dua Tahun Ngeblog

Dua Tahun Ngeblog

Saat itu awal November 2008 sekitar pukul 18.30 saya ditraktir makan oleh seorang teman di warung di pinggir jalan, dekat alun-alun Kota Jember. Di depan warung, sebelum kami hendak pulang, kami berbicara tentang blog. Teman saya yang penulis itu sudah punya blog. Katanya pembuatannya cukup mudah. Syaratnya harus punya alamat surat elektronik. Katanya pula blog itu situs yang sederhana dan gratis.

Saya tertarik dan dia bersedia membantu saya membuat blog. Kemudian, dia membuatkannya di blogspot seperti miliknya. Saat itu saya merasa senang memiliki situs sendiri dengan alamat puguh-sosiologi.blogspot.com. Blognya saya namai dunia sosiologi. Namun, awal November 2010 saya menggantinya menjadi puguh sosiologi.

Saya merasa nama depan saya itu lebih tepat. Sebagian bloger juga memakai nama mereka sendiri. Selain itu, nama itu lebih mewakili keseluruhan isi blog. Jika dunia sosiologi maka itu hanya mewakili tulisan saya tentang sosiologi. Padahal, ada tulisan tentang saya sendiri maupun tulisan yang tidak berhubungan dengan sosiologi. Kata sosiologi itu sendiri semacam merek.

Akhirnya, 29 Desember 2008 saya ngeblog. Tulisan pertama saya berjudul Ke-ber-agama-an Mahasiswa Sosiologi. Pemublikasian itu merupakan bentuk atas keinginan saya dalam menulis dan ingin menjadi penulis. Lewat tulisan itu saya juga berharap orang lain tahu siapa saya. Layaknya orang-orang kampus, saya ingin mengajak orang-orang di program studi saya berdiskusi, khususnya lewat tulisan. Sayangnya, sampai saat ini diskusi itu masih sangat sepi.

Sebelumnya, saya mengetahui tentang blog sebagai situs pribadi. Juga sebagai situs jejaring sosial. Pada 2006 saya mengenal orang Indonesia yang studi sosiologi di luar negeri yang juga memiliki blog. Namun, akhirnya beliau pindah dari blogspot. ke .com. Saya baru mengetahuinya sekitar tahun 2009.

Blog sendiri mulai populer pada awal 2000-an. Jadi, jika saya memiliki blog pada November 2008 maka saya tergolong ketinggalan. Sejumlah teman saya juga telah membuat dan mengelolanya sebelum tahun 2008. Tampilan blog mereka lebih baik dari saya. Isinya juga lebih baik. Pengunjung blognya juga lumayan banyak. Setidak-tidaknya dibandingkan dengan blog milik saya, sampai sekarang ini.

Bahkan, saya kalah dengan blog yang dikelola oleh adik kandung saya satu-satunya. Dia mengelola blognya dalam bahasa Inggris, sedangkan saya selalu memakai bahasa Indonesia. Agaknya di antara kita memiliki darah yang sama dalam hobi menulis. Publikasi tulisannya pun hampir selalu memperoleh kunjungan bloger lain berupa komentar.

Kira-kira tahun 2009 yang lalu, teman saya yang juga bloger membantu memperbaiki tampilan blog saya. Maklum, saya jarang mengutak-atik tampilannya dan lebih memperhatikan tulisan yang saya publikasikan. Misalnya, dia memberitahu cara untuk menyaring atau moderasi komentar yang masuk. Teman saya itu juga membantu membuatkan kotak pesan.

Moderasi komentar itu kiranya penting. Tujuannya untuk menghindari komentar yang tergolong tidak mengenakkan. Namun, sekarang saya baru sadar jika seseorang bisa saja menulis komentar di kolom pesan yang tidak ada moderasi komentarnya.

Saya menyadari sendiri ada sejumlah tulisan saya yang tergolong tajam. Misalnya, judul “Berorganisasi? Penting Nggak Sich?”. Dalam hal ini saya berupaya mengikuti kode etik bloger sebagaimana kode etik dalam jurnalistik. Contohnya, saya menyembunyikan identitas, misalnya nama orang. Meskipun demikian, di mana pun, kode etik itu bisa bersifat relatif.

Saya juga menyadari, tulisan saya di blog ini terbatas untuk konsumsi blog itu sendiri. Artinya, tulisan saya ini masih belum bisa menjadi sebuah buku konvensional sebagaimana impian saya selama ini. Lagi pula, perhatian orang-orang pada blog ini sangat sedikit. Sebuah artikel dari satu penulis yang rutin dimuat di koran nasional saja tidak menjadi buku. Apalagi isi blog saya yang tentu kalah dengan penulis papan atas.

Saya pun menyadari tulisan di dalam blog saya ini memiliki daya informasi yang rendah. Daya inspirasi maupun daya edukasinya pun terbilang rendah. Saya juga tergolong jarang on line. Karena itu, saya pun jarang mengunjungi blog orang lain. Padahal, dengan kunjungan blog dan meninggalkan komentar maka secara langsung mempromosikan blog yang saya kelola.

Tulisan ini memperingati dua tahun saya ngeblog. Jatuh pada 29 Desember 2010 ini. Sekaligus ini sebagai hadiah untuk saya sendiri yang berulang tahun ke-26 pada 28 Desember 2010 ini. Juga untuk menyambut tahun baru. Sebagai hobi, syukurlah selama dua tahun ini setiap bulan saya memperbarui tulisan. Sebagai hobi, saya memang tidak mendapatkan uang, tetapi saya berusaha menikmati hobi saya ini. Sekaligus ini melengkapi tulisan saya yang lain tentang saya dan blog. Tulisan ini juga menampakkan saya mengulangi lagi apa yang telah saya tulis sebelumnya.



Utang

Utang

Saya masih ingat seorang teman kos masih berutang Rp 3.000,- pada saya. Kira-kira saat itu tahun 2004. Dia meminjam uang pada saya untuk galon isi ulang yang dia beli. Bukan karena teman saya itu tidak punya uang, tetapi saat itu dia tidak punya uang kecil. Dia sempat mau membayar utangnya itu pada saya. Namun, tidak jadi. Entah apa alasannya. Seiring berjalannya hari dia tidak mengembalikan utangnya itu. Dia lupa.

Saya tidak bermaksud mengungkit utangnya. Setelah kira-kira lebih dari seminggu saat itu saya juga tidak enak menanyakannya lagi. Hitung-hitung dia pernah mentraktir 15 orang teman kosnya minum di sebuah kafe. Satu di antara yang ikut traktiran adalah saya. Traktiran itu sebagai perayaan akan ulang tahunnya. Maksud saya di sini, hendaknya jangan pernah lupa akan utang kita.

Oktober 2010 saya juga pernah berhutang Rp 20.000,- pada seorang teman. Saat itu saya ganti plat pikap di kantor Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat). Kebetulan uang saya kurang Rp 10.000,- dan saya bertemu dengan teman saya itu. Utang Rp 20.000,- itu baru bisa saya kembalikan satu minggu kemudian. Saya sempat menghubunginya lewat ponsel. Saya ingin mengembalikan uangnya, sebelum saya ke luar kota. Selama seminggu di luar kota itu saya hampir lupa dengan utang saya itu.

Sebagai pengusaha gabah, ayah saya juga pernah berutang pada suatu lembaga keuangan mikro. Sementara sekarang sudah tidak lagi. Saat ini juga masih berutang pada pegadaian dengan bunga Rp 0,9 % dengan jaminan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB). Setiap bulan mengangsur Rp 1.614.900,-. Seorang pengusaha gabah di Tulungagung juga pernah berutang Rp 7.000.000,- pada ayah saya. Waktu itu pengusaha itu membeli gabah dan uangnya sebagian belum dilunasi. Hanya memberi janji. Akhirnya, ayah saya termakan oleh kelicikan pengusaha gabah itu.

Penagihan sudah diupayakan. Namun, orang itu tidak pernah bisa ditemui lagi di rumahnya. Karena tidak tahu, jalur hukum pun tidak ditempuh. Jika menempuh jalur hukum maka juga harus keluar uang lagi. Itulah risiko berbisnis.

Akhir tahun ini, di kampung ini sedang paceklik. Padi juga baru berumur sekitar satu bulan. Tak banyak pekerjaan yang bisa dilakukan. Kebanyakan orang bekerja mencari rumput untuk pakan ternak, khususnya sapi. Sejumlah orang pun menjual sapinya. Sayangnya, harga sapi sangat merosot. Anak sapi harganya Rp 2.300.000,-. Padahal, jika sedang bagus, harganya bisa mencapai Rp 4.000.000,-.

Sejumlah orang mulai mencari utang pada rentenir kampung dengan bunga tertentu. Di kampung, rentenir ini tidak selamanya buruk. Terkadang sinetron di televisi mencitrakannya sebagai orang tak punya rasa belas kasihan. Tidak peka rasa kemanusiaannya dan suka mengancam. Rentenir kampung juga melihat profil peminjam. Tidak setiap peminjam itu bisa mengembalikan uang yang dipinjamnya.

Rentenir kampung ini juga berperan dalam peredaan uang di kampung. Orang kampung mungkin tidak berani berutang pada seorang bidan desa saat orang itu berobat. Namun, orang bisa berani menunggak utang pada seorang rentenir kampung. Ajaran agama pun mengharamkan riba atas bunga seperti yang rentenir lakukan. Namun, di sisi yang lain orang membutuhkan rentenir. Bahkan, ada rentenir yang meminjamkan uangnya tanpa jaminan, tetapi hanya dengan kepercayaan.


Pameran Buku di Kota Kecil

Pameran Buku di Kota Kecil

Senin, 6 Desember 2010 sekitar pukul 11.00 saya pergi ke pameran buku di sebuah gedung di pusat kota, Kabupaten Nganjuk. Hari itu merupakan hari pertama pemeran diselenggarakan sampai 12 Desember 2010. Saya sengaja datang di hari pertama dengan alasan persediaan buku di pemeran masih ada. Selain itu, hari pertama biasanya ramai pengunjung. Tarif parkir parkir motor di pameran yang dibayarkan di muka sebesar Rp 2.000,- pun terbilang mahal.

Pukul 11.00 saat itu pembukaan oleh bupati Nganjuk baru saja selesai dilaksanakan. Sejumlah undangan termasuk sebagian pelajar juga turut hadir dalam acara pembukaan tersebut. Rupanya hari itu pelajar di Nganjuk pulang lebih awal. Sebagian di antara mereka menyempatkan diri mampir di pameran tersebut. Mungkin, antara lain, karena keesokannya, 7 Desember 2010 libur 1 Hijriah.

Sebelumnya, penyelenggaraan pameran buku itu telah disosialisasikan. Sampai pameran itu dilangsungkan. Misalnya, spanduk dipasang disejumlah titik seperti di perempatan lampu lalu lintas. Pamfet juga disebar seperti di perpustakaan daerah Kabupaten Nganjuk. Sosialisasi juga dilakukan di sekolah-sekolah, antara lain, secara lisan. Itu dilakukan sebagai upaya pemasaran atau penjualan buku dalam pameran tersebut.

Hari pertama itu pengunjungnya terbilang ramai. Di dominasi oleh pelajar, khususnya SMP dan SMA dan yang sederajat. Itu terlihat mereka masih mengenakan seragam sekolah saat mengunjungi pameran tersebut. Di susul kalangan umum dan kalangan guru. Kalangan-kalangan seperti itulah yang biasanya menjadi konsumen buku.

Pameran buku di kota kecil di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur ini tergolong jarang. Tahun 2009 yang lalu di kota tempat lahir saya ini tidak ada pameran buku. Tentu itu berbeda dengan kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Malang, apalagi Yogyakarta. Pameran buku umumnya memang rutin digelar di kota besar atau kota yang memiliki sejumlah perguruan tinggi.

Saat itu saya sempat menduga pameran buku itu akan sepi pengunjung. Namun, dugaan saya itu keliru dengan ramainya pengunjung di hari pertama. Saat saya datang di kasir terlihat antrean orang membayar buku yang dibelinya. Bahkan, di sejumlah titik tempat buku dikerumuni oleh pengunjung. Utamanya titik yang menawarkan diskon. Bahkan, ada buku yang harganya Rp 1.000,- per buku. Khususnya untuk buku-buku tertentu.

Saya mengambil sebuah buku di tempat yang menawarkan harga Rp 1.000,- per buku. Namun, di buku itu tertera harga Rp 10.000,-. Setelah di kasir ternyata saya harus membayar Rp 10.000,-. Saya heran dengan tawaran harga maupun diskon dalam pameran tersebut. Dalam pamflet maupun spanduk diskonnya ditawarkan 15 % - 70 %. Juga ditawarkan door prize.

Sesuai yang tertulis di spanduk maupun pamflet, pameran itu terselenggara berkat kerjasasama antara salah satu toko buku sekaligus penerbit terkemuka di Indonesia dengan Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Nganjuk. Karena itu, pameran itu mirip toko buku terkemuka tersebut yang bertempat di sebuah gedung di Nganjuk. Penataan buku, buku-buku yang dipamerkan atau yang dijual, karpet merah, dan seragam karyawannya pun menunjukkan akan merek dari toko buku tersebut.

Di kabupten Nganjuk sendiri belum ada toko buku besar. Apalagi toko buku terkemuka seperti penyelenggara dalam pameran tersebut. Umumnya toko buku besar itu ada di kota besar, seperti Surabaya, Malang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta. Bahkan, Jember dan Kediri sudah ada toko buku besar. Itu mengingat Jember dan Kediri memiliki kampus.

Jika dibandingkan, Kabupaten Jember juga ada sejumlah penjual buku bekas. Mirip di kota besar seperti Surabaya dan Malang. Tidak hanya menjual buku bekas, tetapi juga buku pelajaran semua jenjang sekolah. Terkadang juga buku-buku hasil jiplakan dari buku populer seperti kamus juga bisa ditemui di penjual buku bekas. Sementara itu di Nganjuk ini belum ada jenis penjual buku seperti di Jember, Surabaya maupun Malang itu.

Di Nganjuk juga ada toko buku, tetapi toko buku kecil. Jumlahnya pun bisa dihitung dengan jari. Umumnya menjual buku pelajaran yang memang penjualannya stabil. Setahu saya hanya ada satu toko buku yang menjual buku umum di kawasan kota. Selain itu, di sebuah kecamatan di Nganjuk juga ada toko buku yang khusus menjual kitab-kitab dalam agama Islam. Keberadaan pesantren di kecamatan itu agaknya juga memengaruhi keberadaan toko buku tersebut.

Nganjuk juga memiliki kampus, antara lain dalam bentuk sekolah tinggi. Namun, tidak sebesar di Surabaya maupun Malang. Dalam hal ini, keberadaan lembaga pendidikan tinggi juga turut memengaruhi potensi sebuah kota. Kiranya inilah yang memengaruhi toko buku besar belum berani mendirikan toko di Nganjuk. Pameran itu pun juga bisa menjadi potret akan konsumen buku di Nganjuk.

Saya sempat melintas pada hari ketiga di gedung tempat pameran buku itu berlangsung. Dari sepeda motor yang terlihat, pengunjung pameran itu terbilang banyak. Kemungkinan hari terakhir, yakni 12 Desember 2010 akan lebih banyak. Apalagi, 12 Desember itu bertepatan dengan tes tulis Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah (CPNSD). Tak terkecuali tes tulis CPNSD Nganjuk yang akan berakhir tengah hari. Kemungkinan sebagian peserta CPNSF akan mengunjungi pameran yang buka mulai pagi sampai malam hari itu.

Puguh Utomo, alumnus Unej,

tinggal di Nganjuk

Selasa, 21 Desember 2010

Seleksi CPNS 2010

Seleksi CPNS 2010

Oktober, November, dan Desember 2010 ini di hari tertentu, media, entah cetak maupun elektronik mewartakan perihal seleksi Calon Penerimaan Penerimaan Pegawai Negeri (CPNS). Salah satu stasiun televisi nasional pada pertengahan Oktober 2010 mewartakan tantang tes tulis CPNS pada sebuah kementerian yang dilangsungkan di sebuah stadion di ibu kota. Demikian juga di internet pun bertebaran pengumuman seputar CPNS pada bulan-bulan tersebut.

CPNS setingkat kementerian, setingkat badan, setingkat komisi, dan bentuk lembaga pemerintahan yang lain yang biasa disebut CPNS pusat dilaksanakan sekitar bulan Oktober dan November 2010. Seleksi CPNS setingkat kementerian ini tidak serentak. Misalnya antara Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kementerian Kominfo). Tes tulis Kemdiknas pada 27 Oktober 2010, sedangkan Kominfo pada 27 November 2010. Perbedaan waktu tes itu memungkinkan seseorang bisa mengikuti lebih dari satu tes pada CPNS pusat.

27 Oktober 2010 itu saya merupakan salah satu peserta dengan kualifikasi akademik S-1 Sosiologi sebagai peneliti di Kemdiknas. Sejak awal saya sudah menduga, saya tidak akan lolos dalam tes yang dilangsungkan di salah satu universitas di Tangerang itu (juga bisa dibaca pada judul Nganjuk-Jakarta). Saya akan kalah dengan mahasiswa yang lebih pintar. Dugaan itu benar setelah diumumkan hasil tesnya pada 10 November 2010 silam. Namun, saya puas dengan penyelenggaraan tes yang pendaftarannya lewat internet dan berkasnya dikirim lewat pos itu.

Tes tulis Kementerian Kominfo yang diumumkan pada 8 Desember 2010 saya juga tidak lolos. Kalah dengan mahasiswa yang lebih pintar. Paling tidak saya telah berusaha mengenali kemampuan diri saya dalam berkompetisi. Saya memang sempat kecewa. Namun, rasa tidak menyesal saya sudah bisa mengikuti tes tulis itu menggantikan rasa kekecewaan saya. Masih ada jalan lain untuk berkarier dan berkarya untuk hidup ini.

Pertengahan November 2010 sampai dengan awal Desember 2010 banyak kabupaten maupun kota membuka pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah (CPNSD). Biasanya CPNS pusat pelaksanaannya memang lebih dulu daripada CPNSD. Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Madiun, Semarang Kota, Kabupaten Lumajang, waktu tes tulisnya serentak, yakni 12 Desember 2010. Agaknya, CPNSD 2010 ini tes tulisnya memang serentak se-Indonesia. Itu pun memungkinkan seseorang tidak bisa ikut seleksi CPNSD lebih dari dua.

Khusus saya ingin mencatat 20 formasi sebagai penyuluh keluarga berencana (KB) di Kabupaten Nganjuk pada CPNSD tahun 2010 ini. 20 formasi itu untuk kualifikasi akademik S-1 Hukum, S-1 Sosial Politik (Sospol), S-1 Ekonomi, S-1 Psikologi, dan S-1 pendidikan (guru semua jurusan). Dalam bidang akademis, semua Strata 1 (S-1) itu biasa disebut dengan fakultas. Fakultas terdiri atas sejumlah jurusan maupun program studi.

S-1 Sospol sendiri ada jurusan atau program studi Sosiologi, Administrasi Negara, Administrasi Niaga, Hubungan Internasional (HI), Kesejahteraan Sosial (KS), dan Sosiatri. S-1 Ekonomi sendiri ada jurusan Studi Pembangunan, Manajemen, dan Akuntansi. Kemudian, S-1 Pendidikan (guru semua jurusan) ini terdiri atas Pendidikan Biologi, Pendidikan Matematika, Pendidikan Fisika, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Sejarah, dan lain sebagainya seperti mata pelajaran yang sederajat dengan SD, SMP, maupun SMA.

20 formasi sebagai tenaga penyuluh KB sepertinya hanya ada di Kabupaten Nganjuk. Di Surabaya Kota juga ada formasi tenaga penyuluh KB, tetapi formasinya 4. Itu khusus untuk kualifikasi akademik sosiologi. Dari sejumlah segi, misalnya perkembangan kependudukan, Surabaya Kota lebih berkembang daripada Kabupaten Nganjuk. Karena itu, 20 formasi sebagai tenaga penyuluh KB itu terbilang berlebih.

Maka dari itu, ada kemungkinan yang bisa dicatat. Pertama, panitia seleksi CPNSD Nganjuk memberi kesempatan pada lulusan dari lima fakultas dalam rumpun ilmu sosial itu untuk mendaftarkan diri. Jumlah maupun lulusan dari lima fakultas itu di perguruan tinggi negeri dan swasta adalah yang terbanyak. Sebutlah lulusan Sospol, Ekonomi, Hukum, dan pendidikan.

Kedua, Kabupaten Nganjuk dalam pemerintahan bupati sekarang, khususnya dalam seleksi CPNSD, dianggap kental dengan permainan politik uang. Mungkin jual beli itu akan terjadi pada 20 formasi sebagai penyuluh KB ini. Memang, jual beli jabatan itu tergolong curang. Namun, dalam derajat tertentu kecurangan itu sepertinya akan dikesampingkan. Tulisan “Pengharaman Jual Beli PNS” oleh salah satu demonstran pada unjuk rasa tidak akan bisa membendung praktik jual beli ini.

Layaknya dalam jual beli maka ada kesepakatan antara penjual dan pembeli. Konon, jual beli jabatan PNS untuk S-1 ini di Nganjuk ini di atas Rp 100.000.000,-. Kiranya praktik semacam ini banyak diketahui oleh masyarakat. Uang pun kembali menunjukkan kuasanya. Sepanjang kesepakatan itu tidak menyeret seseorang ke dalam penjara. Biasanya praktik jual beli ini tak lepas dari peran calo. Jika lolos maka inilah rezeki bagi penjual, pembeli, dan calo dalam praktik tersebut. Seakan-akan orang ingin mengatakan “memang inilah zamannya”. Sungguh praktik yang sulit ditolak.

Biasanya praktik jual beli ini terjadi pada jabatan-jabatan yang kurang membutuhkan kemampuan khusus. Misalnya penyuluh Keluarga Berencana (KB) ini. Katakanlah orang ber-kecerdasan sedang dianggap bisa menjalankan jabatan tersebut. Sementara itu, jabatan yang membutuhkan kemampuan khusus misalnya dokter umum maupun dokter spesialis. Jabatan ini lazimnya memang membutuhkan kecerdasan otak di atas rata-rata orang pada umumnya. Meskipun demikian, semua jabatan sama-sama berpeluang dijual belikan. Bergantung situasi dan kondisi.

Agaknya jabatan penyuluh KB sebanyak 20 ini tak akan banyak mengganggu kinerja eksekutif di Kabupaten Nganjuk. Sesuai namanya kita mungkin tahu apa yang akan dikerjakan orang yang duduk dalam jabatan tersebut. Namun, formasi itu secara langsung akan dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Artinya itu adalah uang rakyat. Formasi itu pun telah mendapat persetujuan dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) lewat surat keterangan (SK) tertulisnya.

Dalam pemberitaan koran setempat, diisukan sejumlah jabatan tertentu dalam formasi 2010 ini diisukan akan digunakan sebagai rotasi PNS setempat. Lembaga “emperan” sebagai pihak ketiga, antara lain sebagai pembuat soal, juga dimunculkan oleh koran setempat. Lembaga “emperan” itu pun diisukan bisa meloloskan nama-nama tertentu yang sebelumnya telah memesan atau membeli jabatan PNS.

Keputusan politik 20 formasi penyuluh KB yang juga menyangkut hajat hidup orang banyak ini pun wajar menempati perbandingan persaingan yang sangat ketat di antara formasi lainnya. Jumlah pendaftar pun terbanyak pada tenaga teknis. Sebagaimana itu dikemukakan oleh koran setempat, perbandingannya mencapai 1:100 lebih. Artinya, satu orang peserta harus mengalahkan 100 peserta lainnya agar bisa lolos dalam tes CPNS.

Saya juga tak ingin munafik. Saya merupakan salah satu peserta dalam memperebutkan satu bangku PNS pada penyuluh KB ini. Meskipun pada akhirnya saya tidak lolos. Itu pun sudah saya tahu sebelumnya. Mungkin tanpa praktik jual beli jabatan pun saya juga tidak lolos. Antara lain karena kecerdasan otak saya yang rendah. Namun, kasihan mereka yang seharusnya lolos tergeser oleh mereka yang membeli jabatan PNS itu. Entahlah Anda akan menilai seperti apa saya soal keikutsertaan saya dalam tes tulis CPNS ini.

Saya juga tidak ingin selamanya berpandangan sinis. Di antara seluruh pelaksanaan tes tulis CPNS di negeri ini juga ada yang murni. Setiap peserta tes CPNS pun memiliki kisah yang berbeda-beda. Ada yang berkali-kali ikut, tetapi tidak lolos. Ada yang sekali ikut dan langsung lolos. Ada yang ikut tes di luar Jawa dengan alasan kompetisinya lebih rendah. Ada juga yang lolos tes CPNS karena kualifikasi akademiknya tergolong langka sehingga peluang lolos terbuka lebar. Misalnya Kesejahteraan Sosial (KS), pendidikan bahasa Jawa, maupun dokter spesialis.

Di balik itu, betapa sangat pentingnya arti sebuah pekerjaan bagi seseorang dalam hidupnya. Status, gaji, aktifitas mengisi waktu dalam keseharian, umumnya bisa diperoleh lewat suatu pekerjaan. Bahkan, banyak orang tua lebih mempriotaskan memilih menantu yang sudah bekerja. Misalnya pekerjaan sebagai PNS.

Rabu, 15 Desember 2010

Di Balik Skripsi-Saya

Di Balik Skripsi-Saya

Pertanyaan seseorang pada 7 Desember 2010 tentang skripsi di blog ini mengilhami saya menulis judul itu. Dia bertanya apakah judulnya sudah sosiologis. Pertanyaan ini kerap diajukan oleh mahasiswa sosiologi. Pertanyaan itu sekaligus sering menjadi masalah bagi mahasiswa sosiologi. Khususnya saat akan mengerjakan skripsi. Terkait itu, sebagai contoh saya ingin mengungkap kisah singkat di balik skripsi saya.

Saat semester VII saya juga bingung mengenai judul yang hendaknya saya ajukan. Beberapa judul telah saya ajukan pada dosen. Namun, tidak setiap judul disetujui. Di antaranya ada judul yang kadar sosiologisnya sangat rendah. Ada juga satu judul yang disetujui, tetapi saat itu mendapat reaksi yang kurang baik. Khususnya dari sasaran penelitian dalam judul saya itu. Akhirnya, saya tidak jadi meneruskannya.

Saya pun mencari inspirasi judul. Saya mencari contoh-contoh judul di internet. Saya juga mencari dari jurnal-jurnal di perpustakaan. Skripsi-skripsi yang alumni sosiologi Universitas Jember (Unej) hasilkan pun tak luput dari pencarian. Ketika itu saya berharap menemukan inspirasi judul dari koran maupun majalah. Dosen yang bersedia diajak berdiskusi juga saya temui.

Semua upaya itu di tengah-tengah bayangan masa studi. Semester VII itu saya hanya mengerjakan skripsi. Perkuliahan di kelas sudah selesai. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) juga sudah di atas 3,00. Jika dapat menyelesaikan skripsi pada semester VIII maka bisa menghemat waktu, tenaga, dan biaya studi saya. Walaupun pada akhirnya saya ujian skripsi pada semester XI.

Dalam pencarian itu saya ingat karya Weber (1864-1920) tentang The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. Dalam penelitian dan tesis tokoh sosiologi tersebut dikatakan perkembangan kapitalisme tidak terlepas dari semangat dalam nilai-nilai ajaran agama Protestan. Weber meneliti ordo dalam Protestan.

Jika Weber meneliti di Protestan, saya berpikir pada Islam. Di Islam untuk kasus Indonesia juga terjadi pada orang-orang Muhammadiyah. Namun, cakupan kajian itu terlampau luas. Akhirnya, saya menemukan aliran sufi dalam Islam. Di internet, saya mengetik kata “sufi” dan “Nganjuk”. “Nganjuk” adalah kebupaten, kampung halaman saya.

Di internet ada sebuah artikel yang menyebut keberadaan Jamaah Lil Muqorrobien di Kelurahan Tanjunganom, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk. Jamaah itu berpusat di Pondok Sufi. Saya juga menemukan artikel lain yang ditulis oleh salah seorang pengasuh sekaligus pengajar SMA di pondok tersebut. Beliau ini pula sebagai petunjuk pertama.

Singkat cerita, saya perlu waktu sekitar dua tahun sampai ujian skripsi pada 26 September 2008. Penelitian sebagai aktifitas atau pekerjaan juga diliputi oleh risiko. Dalam kemampuan diri yang terbatas, entah bagaimana mengungkapkannya. Namun, pengalaman meneliti bidang keagamaan untuk kali pertama, kejenuhan pikiran yang luar biasa dalam menulis skripsi, badai kemalasan yang sering terjadi dalam diri dalam menulis skripsi merupakan beberapa hal mengapa saya sampai butuh waktu dua tahun itu.

Sejumlah orang menilai saya terlalu idealis dalam mengerjakan skripsi. Ada pula yang sepertinya menilai saya terlalu perfeksionis. Bahkan, di antaranya menilai saya hanyut dalam penelitian tentang aliran tasawuf yang dikenal kental dengan hal-hal gaib. Mungkin juga ada yang menganggap bidang keagamaan sangat sulit untuk diteliti.

Di balik itu, umumnya sebuah penelitian yang baik, penentuan sasaran penelitian juga didasarkan atas berbagai pertimbangan. Dalam ilmu sosial, pertimbangan itu bisa berupa kaitan dengan kehidupan sosial, kaitannya dengan politik, hubungannya dengan ekonomi dari rumusan hasil penelitian itu nantinya. Itu semua mengingat jumlah anggota organisasi tersebut mencapai ribuan. Selain itu, sampai sekarang ilmu sosial, khususnya sosiologi juga masih fokus pada gerakan keagamaan.

Apalagi, fenomena organisasi keagamaan memiliki kekuatan sosial. Dalam hubungan sosial, khususnya keagamaan misalnya bagaimana hubungan sosial jamaah itu dengan organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU). Misalnya, hubungannya bersifat konflik ataukah harmonis.

Hubungannya dengan politik, misalnya bagaimana sikap politik organisasi keagamaan tersebut pada partai. Dalam bidang ekonomi, misalnya bagaimana keanggotaan organisasi keagamaan tersebut dalam kegiatan ekonomi. Dalam penelitian saya sendiri lebih fokus pada bagaimana gerakan organisasi keagamaan tersebut. Jadi, juga bergantung dari sudut pandang mana penelitian itu difokuskan.

Sifat detail merupakan sifat dari penelitian, termasuk ilmu sosiologi. Dari sisi informasi, paling tidak orang mengetahui keberadaan aliran tasawuf sebagai organisasi keagamaan. Ini berkaitan dengan sudut pandang yang khas dari sosiologi. Ketiadaan sudut pandang yang khas dari sosiologi itu pula yang mampu mengaburkan identitas sosiologi.

Saya sendiri sering mengalami betapa sulitnya memakai sudut pandang sosiologi. Saya bisa saja terjebak pada penelitian keagamaan sebagaimana dilakukan oleh kalangan perguruan tinggi berlatar belakang keagamaan. Saya juga bisa saja terjebak pada penelitian filsafat maupun teologi.

Tentu penelitian bidang sosiologi agama ini hanya salah satu fokus dari suatu penelitian sosiologi itu sendiri. Masih ada bidang yang lain. Misalnya sosiologi gender, sosiologi pendidikan, dan lain sebagainya. Suatu penelitian juga tidak terlepas dari konteks yang sedang terjadi dan menarik untuk diteliti. Jika bidang sosiologi pendidikan ada yang menarik dan memungkinkan untuk diteliti maka tidak ada salahnya diteliti.

Di balik itu pula, kita tahu di rak perpustakaan terdapat berbagai jenis judul skripsi sosiologi. Semuanya tampak setara, yakni diletakkan dalam rak yang sama. Entah itu skripsi yang tergolong baik atau tergolong jelek. Penghasil skripsi pun bisa lulus. Entah karena alasan batas waktu masa studi seorang mahasiswa atau alasan lainnya. Pada akhirnya, semua kembali pada diri kita masing-masing. Skripsi seperti apa yang akan kita buat.

Kamis, 02 Desember 2010

Menjadi TKI

Menjadi TKI

Di kampung ini, saya kenal dengan sejumlah orang yang dulu pernah menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Tetangga saya, seorang laki-laki yang sebaya dengan saya pernah dua tahun bekerja menjadi TKI di Malaysia. Tetangga saya itu lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tahun 2010 di kampung saya ini ada tiga orang laki-laki yang juga menjadi TKI di Malaysia. Dua di antaranya sudah menikah dan satu di antaranya lulusan STM.

Kabarnya mereka telah mengirimi uang pada keluarganya. Entah berapa jumlahnya dan berapa kali mereka mengirim selama mereka bekerja. Uang itu tentu sangat berharga bagi keluarga yang ditinggalkan. Uang itu juga sebagai bukti mereka telah bekerja. Bekerja dan mendapatkan uang dalam jumlah yang lebih banyak jika dibandingkan dengan bekerja di kampung halaman sendiri adalah tujuan utama TKI.

Mereka bisa bekerja juga atas jasa penyalur TKI. Tiga orang yang saya ceritakan itu bisa sampai ke Malaysia juga atas jasa penyalur TKI yang notabene adalah tetangganya sendiri. Orang yang menyalurkan TKI ini dulunya juga pernah menjadi TKI. Semakin banyak orang yang diberangkatkan maka semakin banyak pula uang yang diperoleh penyalur. Bahkan, seorang penyalur yang terbilang sukses, gajinya bisa lebih besar daripada seorang TKI.

Teman saya yang lain juga pernah menjadi TKI atau Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Hongkong. Dia, seorang perempuan, setelah lulus dari SMEA pada 1999, merantau menjadi pembantu rumah tangga. Berita dari koran yang saya baca, gaji TKI di Hongkong yang terbilang sudah mapan bisa Rp 4 juta lebih. Sepulang dari sana, dia bisa membeli tanah. Dia terbilang sukses menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW). Konon, TKW di Hongkong inilah contoh, nasib TKW itu tidak seburuk yang dibayangkan.

Memang, di beberapa tempat nasib TKI memprihatinkan, seperti yang diberitakan oleh media. Misalnya, gaji yang selama beberapa bulan tidak dibayarkan, bagian tubuh yang diseterika, bagian tubuh yang dipukuli, dan lain sebagainya. Hukum pun konon tidak selalu bisa mengganjar tipe majikan yang tidak manusiawi seperti itu.

Kisah sedih seperti itu tentu tak serta merta menyurutkan orang menjadi TKI. Kita tahu, bekerja adalah naluri manusia. Menjadi TKI pun bukanlah aib. Koruptor kelas kakaplah yang tergolong aib, bahkan melanggar hukum atas hidup ini. Malah TKI dinilai sebagai pahlawan devisa meskipun beberapa kasus, negara tidak bisa memberikan perlindungan hukum sebagaimana mestinya. Khususnya saat TKI mendapatkan masalah. Khususnya lagi TKI yang ilegal.

Ada yang mengatakan TKI itu juga sebentuk protes sosial terhadap negara. Negara tidak bisa memberikan pekerjaan yang layak di dalam negeri. Lagi pula, negara bukanlah manusia superhero yang dapat terbang tanpa sayap dan tidak mati jika ditembak. Negara adalah diri kita sendiri. Memang, menjadi TKI adalah keinginan TKI itu sendiri. Setidak-tidaknya itulah yang saya simpulkan dari media.

Sekali lagi menjadi TKI bukanlah pekerjaan yang rendah. Namun, kenyataan itu, antara lain, mungkin membuat orang berpandangan bangsa Indonesia adalah bangsa kuli. Pandangan itu juga lebih karena melihat pekerjaan TKI yang umumnya kurang prestisius. Pandangan itu pula tampaknya berkaitan dengan penilaian terhadap bangsa Indonesia, yakni antara sebagai bangsa inferior dan bangsa superior, khususnya setelah kedatangan presiden AS pada 10 November 2010 yang lalu.

Saya memang bukan seorang TKI. Telah banyak juga publikasi tentang TKI. Saya hanya ingin menulis tentang TKI dari sudut pandang saya. Saya juga sudah lama ingin menuliskannya.


Senin, 22 November 2010

Kepekaan Perasaan Penulis

Kepekaan Perasaan Penulis

Saya mengenal seorang bloger yang berprofesi sebagai guru. Beliau peka terhadap siswa-siswinya. Misalnya, beliau yang saya kenal sebagai guru sejati itu bercerita tentang konsep belajar sejumlah siswanya. Kemudian, meskipun hanya sedikit, dalam satu tulisannya beliau juga menceritakan tentang sejumlah siswanya setelah lulus dari tempatnya mengajar. Sebagai seorang bloger sekaligus penulis, tentu cerita itu dituliskannya dalam blognya.

Sesuatu yang terlintas dalam pikiran beliau, lalu diwujudkan dalam bentuk tulisan. Judul dituliskan. Kata demi kata dirangkai sampai menjadi paragraf. Akhirnya membentuk sebuah wacana. Memang, tidak ada yang sempurna, termasuk tulisan beliau. Namun, saat saya membacanya, ternyata banyak cerita maupun kisah yang bisa dituliskan di kehidupan ini. Bahkan, ada tulisan beliau yang bisa menjadi inspirasi dalam hidup dan bisa membuka wawasan akan kehidupan di dunia ini. Itulah maksud kepekaan perasaan dalam diri penulis. Kepekaan dalam arti yang positif.

Judul itu juga tidak bermaksud mengklaim perasaan seseorang yang hobi menulis itu akan selamanya peka. Mereka yang tidak hobi menulis juga bisa berperasaan peka. Dalam kaitan ini, kelebihan bahasa tulis adalah sifatnya yang detail. Saat penulis mengalami sesuatu hal, lalu menuliskannya secara berkualitas dan kita membacanya secara cermat pula maka kita menangkap maksud penulis. Sekali lagi, itulah hubungan antara penulis dengan kepekaan perasaannya.

Hakikatnya seni menulis seperti seni melukis, seni memahat, seni suara, sampai seni fotografi. Di antara seni itu tentu berbeda bentuknya. Jika dunia tempat tinggal kita ini dianggap terdapat “materi” maka “materi” itulah bahan yang kita tulis, yang kita lukis, yang kita pahat, yang kita nyanyikan, dan yang kita potret. Sebagaimana hasil dari seni-seni itu dapat kita nikmati.

Jika diumpamakan maka seperti seorang anak yang baru lahir. Jika anak tersebut sebagai “materi” kemudian diberi nama (biasanya namanya tertulis di dinding) maka nama itu untuk mengenali si anak nantinya. Sebuah tulisan juga untuk mengenali dunia tempat kita tinggal sekarang ini.

Tulisan juga merupakan salah satu media komunikasi, khususnya oleh manusia. Jika bentuk komunikasi dalam bentuk tulis, yakni di blog atau sejenisnya berkembang dalam satu komunitas misalnya satu sekolah maka betapa luar biasa hasilnya. Setidak-tidaknya saat kita bersedia menulis dan mau membacanya maka kita tahu tentang sesuatu hal. Misalnya, judul “Perpustakaan Masuk Kelas” yang ditulis oleh penulis yang saya ceritakan tadi.

Setidak-tidaknya produk tulisan dengan media sejenis situs pribadi di internet itu bisa membidik pangsa komunitas, misalnya dalam satu sekolah. Sebuah informasi maupun sebuah masalah secara tertulis bisa ditempatkan di situs. Kemudian, orang-orang yang berkepentingan terhadap isi situs yang di senantiasa diperbarui itu memberikan komentar. Akhirnya terjadi timbal balik dalam proses komunikasi.

Jika dari segi komunikasi tulis maka baik situs pribadi yang populer dengan blog dan buku adalah sejajar. Hanya saja blog umumnya dalam bentuk digital, sedangkan buku bisa dalam bentuk konvensional maupun dalam bentuk digital. Bahkan, banyak penulis mengatakan, blog merupakan media yang tepat untuk menjadi seorang penulis.

Selain itu, situs pribadi itu memiliki kelebihan sendiri. Misalnya dari sisi kedekatan penulis dengan kondisi sekolahnya maka seorang penulis akan lebih mengetahui kondisi sekolah beserta segala permasalahannya. Tentu “masalah” itu tidak akan selalu bisa didapatkan di koran nasional, koran lokal, majalah maupun buku.

Di samping itu, betapa pentingnya arus komunikasi dan informasi dalam era sekarang. Sampai-sampai di negara kita dan juga di negara lain ada kementerian komunikasi dan informasi. Di sini kuncinya adalah jaringan internet yang baik dan kesediaan pemakai internet memanfaatkan alat komunikasi ini secara baik dan benar.

Apabila internet itu sebagai alat maka alat itu rasanya tidak bisa menggantikan pemakainya. Alat lebih bersifat pasif, sedangkan pemakainya bersifat aktif. Pemakai di sini adalah kita, manusia. Penulis sebagai manusia rasanya sampai saat ini juga tidak bisa digantikan oleh alat entah itu komputer yang paling canggih sekalipun. Artinya keterlibatan manusia tidak bisa dilepaskan. Terlebih peran penulis-penulis yang antara lain peka perasaaannya.

Kamis, 18 November 2010

Televisi Lokal

Televisi Lokal

Televisi lokal yang saya maksud adalah yang di Kabupaten Nganjuk dan di Kabupaten Madiun. Karena alasan merek, saya tidak menyebut nama televisinya. Dua stasiun televisi lokal itulah yang bisa saya tonton di televisi di rumah saya. Sebetulnya, di Kabupaten Kediri juga ada televisi lokal. Namun, gelombangnya tidak bisa tertangkap oleh antena televisi di rumah saya.

Kabupaten Madiun merupakan batas sebelah barat Kabupaten Nganjuk. Kabupeten Kediri merupakan batas Kabupaten Nganjuk sebelah selatan. Jarak yang relatif dekat itulah yang membuat gelombang televisi lokal di Madiun bisa tertangkap dengan mudah di Nganjuk. Berbeda dengan Madiun, daya tangkap antena televisi saya yang lemah menyebabkan siaran televisi lokal dari Kediri itu tidak bisa ditangkap.

Saya menulis artikel ini sebagai penonton televisi lokal yang awam. Saya belum pernah berkunjung ke kantor stasiun televisi di Nganjuk, di Madiun maupun di Kediri. Akhir 2009 yang lalu secara tak sengaja saya pernah bertemu dengan direktur televisi lokal di Nganjuk. Katanya, televisi lokal di Nganjuk itu saat itu dikelola oleh salah seorang dari salah satu televisi nasional.

Sebagai penonton awam, saya juga tak mengetahui bagaimana televisi lokal itu disiarkan di kantor sekaligus rumah produksinya. Apalagi izin siarnya saya juga tidak tahu. Saya juga tidak tahu sejak kapan persisnya televisi lokal itu siaran. Setahu saya kira-kira satu tahun ini televisi tersebut siaran. Namun, ke-awam-an dan ketidaktahuan saya itu tidak menghalangi saya untuk menulis artikel ini.

Saya juga bisa maklum dengan tayangan televisi lokal di Nganjuk itu. Kini, setiap hari siarannya mulai pagi sampai malam hari. Entah jam berapa. Keajegan siarannya itu merupakan nilai tersendiri untuk sebuah televisi lokal. Tentu tayangan televisi lokal juga tidak bisa persis seperti televisi nasional. Lagi pula, prioritas tayangannya adalah segmen lokal.

Saya menyaksikan siarannya lebih banyak hiburan, khususnya mulai pagi sampai sore hari. Hiburan ini didominasi oleh musik, misalnya pop, dangdut koplo, lagu-lagu Jawa, dan lain sebagainya. Pagi hari terkadang juga ada tayangan kartun untuk anak-anak. Menjelang petang, biasanya ditayangkan siaran rekaman pengajian oleh kiai lokal. Dalam hal ini, televisi lokal memiliki pangsa penonton tersendiri.

Malam hari biasanya diputar film. Tayangan itu biasanya yang saya sukai, terutama jika filmnya bagus menurut saya. Sayangnya, gambarnya seringkali terlihat buram. Mungkin karena antena televisi di rumah saya. Namun, setelah turun hujan maka gambarnya bisa lebih bening. Terkadang, ada lintasan berita seputar Nganjuk. Namun, pengemasan beritanya tampaknya belum optimal. Masih kalah dengan sebuah koran lokal yang merupakan grup atau perpanjangan tangan dari koran nasional.

Bahkan, agaknya tayangannya masih kalah dengan sebuah televisi lokal di Madiun. Televisi lokal di Madiun secara reguler ada program beritanya. Perkembangan kabupaten kiranya memengaruhinya, selain sumber daya manusianya. Secara umum, untuk ukuran kebupaten, Kabupaten Madiun lebih maju daripada Kabupaten Nganjuk. Itu juga dapat dilihat dari ke-pemerintah-an Kabupaten Madiun dan Kota Madiun.

Dalam waktu tertentu juga ada tayangan pertandingan langsung sepak bola pada salah satu liga di luar negeri. Entah bagaimana hak siar dari pertandingan itu. Mereka yang gemar menontonnya merasa senang-senang saja. Sama halnya saya juga tidak tahu bagaimana hak siar dari film-film yang ditayangkan. Saya pun maklum, sebagai bagian dari media komunikasi massa, televisi lokal ini juga telah berusaha mengikuti kode etik jurnalistik.

Umumnya televisi, tarif iklan yang tayang menjadi pemasukan. Layaknya televisi lokal, iklan pun berasal dari pemasang iklan lokal. Entah itu, rental mobil, pengobatan alternatif maupun dealer motor. Terkadang ada juga iklan yang bukan dari pemasang iklan lokal, melainkan iklan yang pernah tayang di televisi nasional.

Saya bangga di kabupaten tempat saya tinggal sekarang ini memiliki televisi lokal. Kita tahu, tidak setiap kabupaten/kota di Indonesia ini memiliki televisi lokal. Kebanggaan itu juga dirasakan oleh warga Nganjuk, khususnya saat mereka pertama kali tahu dan menontonnya. Apalagi jika televisinya itu menayangkan suatu tempat, suatu kegiatan, suatu peristiwa yang mereka kenal.

Selasa, 09 November 2010

Kuliah di Sini atau di Sana?

Gambar diunggah dari sini.

Kuliah di Sini atau di Sana?

Maksud dari judul itu jika Anda misalnya tinggal di Nganjuk (sini) maka berkuliahlah di kampus atau lembaga pendidikan di Kabupaten Nganjuk. Khususnya jika Anda ingin kuliah pendidikan yang nantinya menjadi guru. Misalnya, program studi (prodi) atau jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Ekonomi dan lain sebagainya. Jadi, jika ingin kuliah Pendidikan Bahasa Inggris, Anda sebaiknya tidak perlu kuliah di universitas terkemuka di Indonesia. Cukup di sebuah lembaga pendidikan di Nganjuk saja. Apalagi jika rumah Anda relatif dekat dengan kampus.

Artikel ini masih bisa diperdebatkan. Bisa jadi, hal ini hanya berlaku, misalnya di Nganjuk saja. Lagi pula, saya mengambil kasus di Nganjuk. Saya sesungguhnya juga tidak melakukan penelitian yang seksama mengenai ini. Namun, mendasarkan atas pengalaman saya sendiri yang kuliah sosiologi non-kependidikan di sebuah perguruan tinggi negeri di Jember dan pergaulan saya dengan sejumlah teman yang kuliah di kampus di Nganjuk.

Kuliah di Nganjuk atau di luar kota (sana) juga merupakan pilihan. Jika Anda ingin kuliah di Jurusan Sosiologi maka Anda tidak bisa kuliah di Nganjuk. Di Nganjuk belum ada lembaga yang membuka jurusan atau program studi Sosiologi. Namun, jika Anda ingin berkuliah di pendidikan Bahasa Inggris maka di Nganjuk sudah ada.

Saya tidak perlu menyebut kampus atau lembaga pendidikan di Nganjuk. Anda mungkin sudah mengetahui sendiri. Kampus atau lembaga pendidikan itu juga merek. Sama halnya penyiar radio maupun presenter televisi tidak sembarangan menyebut merek. Kecuali jika ada kesepakatan untuk memasang iklan di radio maupun televisi. Pemasangan merek untuk di-iklan-kan juga perlu membayar.

Pilihan kuliah di daerah sendiri maupun di luar daerah ini pun berkaitan dengan waktu, tenaga, dan terutama biaya. Sekali lagi saya mengambil contoh kuliah di Jember dan kuliah di Nganjuk. Ada sejumlah teman saya yang tinggal di Nganjuk yang juga kuliah di Nganjuk. Misalnya kuliah di jurusan pendidikan matematika, pendidikan bahasa Inggris, maupun kuliah di pendidikan anak usia dini (PAUD). Anggaplah mereka ini mempertimbangkan waktu, tenaga, dan biaya.

Tiga orang teman saya itu sudah bekerja di lembaga pendidikan meskipun belum PNS. Mungkin mereka yang kuliah di Nganjuk itu sudah ada jaringan mengenai tempat kerja di Nganjuk. Kemudian, jika kuliah di Nganjuk kabarnya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) per semester saat ini sebesar Rp 1.500.000,-. Jadi, perbulannya Rp 250.000,-. Dulu saya yang kuliah di Jember dengan mengambil Program Studi Sosiologi tahun 2003, yang tergolong non-eksakta, SPP per semester Rp 500.000,- sehingga per bulannya Rp 83.333,33,-.

Memang, jika kuliah di Jember SPP-nya lebih murah daripada di Nganjuk. Namun, itu belum termasuk biaya hidup. Saya sendiri memperkirakan dalam satu bulan pada tahun 2009 bisa menghabiskan rata-rata Rp 600.000,- s/d Rp 700.000,-. Sementara jika kuliah di Nganjuk tidak sampai Rp 600.000,-. Itu karena Anda tidak perlu bayar indekos. Anda juga bisa makan di rumah sehingga Anda tidak perlu membeli di warung. Saat menjadi anak kos seperti saya dulu tahun 2009, Anda bisa mengeluarkan uang Rp 10.000,- s/d 12.000,- dalam sehari untuk tiga kali makan. Sesungguhnya biaya hidup inilah yang membuat kuliah tampak mahal dan bukan SPP nya.

Sekali lagi, ini sekadar contoh kasus dalam hitungan kasar. Setiap orang bisa berbeda-beda. Lagi pula, kebutuhan dan kemampuan setiap orang juga berbeda-beda dan juga bisa berubah-ubah. Misalnya saya memperkirakan biaya hidup per bulan rata-rata Rp 600.000,- s/d Rp 700.000,-, bagi beberapa orang bisa saja hanya Rp 500.000,- per bulan.

Jadi, jika kuliah di Nganjuk maka waktu, tenaga dan biaya Anda bisa ditujukan di kampung halaman Anda sendiri. Mungkin Anda bisa membantu sejumlah pekerjaan orang tua Anda di rumah, misalnya membersihkan rumah. Mungkin, orang tua Anda juga tidak terlalu was-was jika Anda hanya berkuliah di kampung halaman sendiri.

Saya sendiri tidak menyuruh Anda berkuliah di sini atau di sana. Saya juga tidak meminta Anda untuk berkuliah. Kuliah hanya salah satu cara di antara sekian cara dalam mengarungi kehidupan. Paling tidak tulisan ini bisa menjadi salah satu pertimbangan jika Anda ingin berkuliah. Selain itu, Anda hendaknya tidak salah jika ingin berkuliah agar tidak terlalu terjerumus. Anda hendaknya juga mengetahui profil tempat Anda akan kuliah. Termasuk jika Anda sudah lulus nantinya.

Anda sebaiknya juga pintar-pintar mengenali diri Anda sendiri dalam jalan hidup Anda. Juga lingkungan (dalam arti yang luas) tempat Anda tinggal. Tidak terkecuali saat Anda memutuskan untuk berkuliah ataukah tidak. Umumnya, saat Anda memutuskan untuk berkuliah maka itu merupakan satu keputusan penting dalam jalan hidup Anda selanjutnya.

Apabila berkuliah di luar daerah (sana), juga tak selamanya buruk. Mungkin kemandirian Anda saat menjadi anak kos bisa teruji. Sejumlah perguruan tinggi terkemuka di Indonesia juga menawarkan, fasilitas belajar seperti ketersediaan buku-buku di perpustakaan, beasiswa dan lain sebagainya. Pengalaman organisasi, jaringan organisasi dengan berbagai karakteristik umumnya ada di perguruan tinggi terkemuka. Bahkan, perguruan tinggi terkemuka masih menjadi incaran lembaga atau perusahaan tertentu.





Senin, 08 November 2010

Les

Les

Itu judul terpendek yang pernah saya tulis. Les itu satu makna dengan “bimbingan, kursus, latihan, pelajaran, tuntunan, tutorial” (Endarmoko, 2006). “Les” biasanya dipakai sebagai bahasa percakapan. Dari itu, les di sini saya artikan sebagai kegiatan guru dan murid secara bersama-sama mempelajari mata pelajaran tertentu di luar jam sekolah. Les biasanya bertempat di rumah seorang guru atau di sekolah.

Khususnya di kampung tempat tinggal saya ini, sekarang kegiatan les agak lebih ramai. Anak dari saudara sepupu saya yang kelas 4 SD, November 2010 ini sebagai bulan kedua mengikuti les di sekolahnya. Mulainya pukul 18.00 sampai dengan 19.00. Dalam seminggu masuk lima kali. Dalam sebulan les itu biayanya Rp 20.000,-. Saudara sepupu saya itu juga berujar, “daripada di rumah anaknya menjadi omelan maka disuruh les saja”.

Anaknya yang laki-laki dan tergolong aktif itu mau. Setiap berangkat dan pulang selalu diantarkan dengan motor. Jarak antara rumah dan sekolah yang masih berstatus swasta itu sekitar 1 km. Lokasi sekolahnya berada di desa sebelah. Saudara sepupu saya itu juga tidak keberatan dengan biaya Rp 20.000,- selama sebulan itu. Anaknya tetangga saya yang juga adik kelas dari anak saudara sepupu saya itu juga ikut les. Di kampung saya, hanya dua anak itu yang sekarang ikut les. Sementara anak-anak yang satu kampung dengan lokasi sekolah itu yang ikut les lebih banyak lagi.

Keikutsertaan anak dari saudara sepupu saya itu pun menunjukkan kegiatan les tidak semata-mata mempelajari dan memperdalam materi pelajaran sekolah. Di satu sisi les lebih sebagai trik menjawab soal-soal ujian. Di sisi yang lain les juga sebagai pengalih perhatian agar ada kegiatan yang bisa dilakukan oleh seorang anak. Selama anak itu mau mengikuti les. Itu pun menyiratkan sekolah juga berfungsi sebagai tempat anak-anak menghabiskan waktunya.

Anaknya tetangga sebelah rumah saya yang sekarang kelas VII Sekolah Menengah Pertama (SMP), dulu saat kelas VI SD, beberapa bulan menjelang ujian nasional juga ikut les pada seorang guru yang tinggal di desa sebelah. Setiap pertemuan selama satu jam biayanya Rp 5.000,-. Tetangga saya ini tidak ingin nilai matematika anaknya jelek. Tetangga saya ini juga sangat tidak ingin anaknya tidak lulus saat ujian nasional.

Minat les itu berbeda dengan saat saya SD dulu, antara tahun 1991-1997. Saat itu di kampung saya ini tidak ada murid yang les seperti sekarang ini. Sekarang, tahun 2010 banyak orang tua mengikutkan anaknya les. Bahkan, kegiatan les lebih intensif menjelang ujian sekolah. Khususnya saat akan menghadapi ujian akhir semester maupun ujian nasional.

Minat les itu pun dipengaruhi oleh cap lulus dan tidak lulus dalam ujian nasional. Sebagaimana adanya kebijakan lulus dan tidak lulus mulai dari jenjang SD dan yang sederajat sampai dengan SMA dan yang sederajat. Memang, prestasi akademik bisa menjadi salah satu ukuran, misalnya karier hidup seseorang. Namun, kita juga tahu dalam hidup ini, misalnya kesuksesan secara ekonomi dalam hidup tidak semata-mata diukur dari prestasi akademik.

Kamis, 04 November 2010

Nganjuk-Jakarta


Gambar diunggah dari sini.

Nganjuk-Jakarta

Di Jakarta saya melihat yang tidak saya lihat di Nganjuk. Misalnya, gedung pencakar langit yang terdiri atas puluhan lantai. Kendaraan bernama bajaj juga tidak saya temui di Nganjuk, tetapi saya jumpai di Jakarta. Di Jakarta saya juga menjumpai jalur untuk bus way yang tentu saja tidak saya temui di Nganjuk. Di Jakarta saya juga menjumpai kemacetan, tetapi tidak saya jumpai di Nganjuk. Di Jakarta, saya juga kali pertama melihat Monumen Nasional (Monas) dengan mata kapala saya sendiri.

Sebelumnya, saya hanya melihat itu semua lewat televisi. Di sana pula, saya melihat gedung pusat tiga stasiun televisi nasional. Monorel yang masih mangkrak, Jackmania, jalur three in one, joki, mobil-mobil mewah yang lalu lalang, sampai parkir mobil di lantai lima.

Dua paragraf itu mengawali tulisan di Oktober ini. Perjalanan dengan kereta bisnis dari Nganjuk ke Jakarta sejak Senin, 25 Oktober 2010 sampai dengan Minggu pagi, 31 Oktober 2010 lalu ingin saya abadikan lewat tulisan ini. Mereka yang pernah mengenal Jakarta tentu tak asing lagi dengan ibu kota negara Indonesia itu. Namun, ada kesan tersendiri untuk saya yang kala itu pertama kali ke Jakarta.

Senin sore itu bertepatan dengan waktu maghrib sebuah kereta bisnis yang akan membawa saya ke Jakarta tiba. Saya sengaja memilih kereta bisnis yang harga tiketnya Rp 140.000,-. Itu tarif untuk Senin sampai Kamis. Jumat sampai Minggu Rp 160.000,-. Kereta kelas ekonomi harga tiketnya sekitar Rp 50.000,-.

Harga karcisnya saja berbeda. Apalagi fasilitasnya. Secara umum baik kelas bisnis maupun kelas ekonomi relatif sama, tetapi ada perbedaannya. Kereta kelas bisnis lebih tetapi waktu. Waktu tempuh juga relatif lebih cepat. Di dalam kereta kelas bisnis juga lebih bersih dan tidak terlalu berbau amis. Kereta bisnis juga dipasang tirai dan kipas angin yang masih berfungsi. Tempat duduk kereta kelas bisnis juga lebih nyaman. Itu semua berbeda dengan kereta api kelas ekonomi.

Toilet kereta kelas bisnis juga lebih bersih dan tidak terlalu berbau tidak enak. Di dalam toilet juga tersedia air untuk buang air besar. Air itu dipakai saat kereta berjalan. Juga ada wastafel kecil untuk cuci muka. Toilet kereta kelas ekonomi lebih kotor, berbau, dan biasanya tidak tersedia air untuk buang air besar. Di kelas bisnis juga tidak ada satu pun pengamen. Keberadaan pedagang pun hanya ada saat kereta berhenti di stasiun. Di kelas ekonomi, pedagang hampir selalu lalu lalang meskipun kereta dalam kondisi berjalan. Di kelas ekonomi biasanya juga ada pengamen.

Seorang teman mengatakan jika ke Jakarta sebaiknya naik kereta kelas bisnis. Di samping perjalanan jauh, yakni sekitar 13 jam, saat masuk Bekasi biasanya juga sesak dengan penumpang yang berangkat bekerja. Meskipun ini relatif, tetapi konon kereta kelas bisnis lebih aman dibandingkan dengan kelas ekonomi. Artinya aman misalnya di kereta kelas bisnis hampir tak ada pencopet.

Pengalaman saya tahun 2003 saat pertama kali dari Nganjuk ke Bandung dengan kereta kelas ekonomi pun turut memengaruhi saya memilih kelas bisnis. Memang, tarif karcis bisnis lebih mahal daripada kereta kelas ekonomi. Meskipun demikian, kereta kelas ekonomi juga masih ada peminatnya. Harga karcis yang murah umumnya menjadi alasan utama.

Saya pun tiba di Stasiun Pasar Senen, hampir pukul 08.00. Molor dari jadwal seperti yang tertulis di karcis, yakni 06.36. Perjalanan Nganjuk-Jakarta selama kurang lebih 13 jam pun seakan tak terasa. Atas petunjuk dari saudara yang di Tangerang, saya naik bus jurusan Cikokol. Tanpa ponsel sebagai alat komunikasi, maka saya akan sangat kesulitan menuju rumah saudara saya di Tangerang itu. Karena itu, saya menulis nomor ponsel yang saya anggap penting jika ponsel saya hilang.

Kira-kira pukul 11.00 saya tiba di rumah saudara saya. Itu merupakan kali pertama saya ke sana. Namun, pertengahan 2010 yang lalu saudara saya itu pernah berkunjung ke rumah saya. Selepas maghrib saya diantarkan oleh saudara saya ke Ciputat yang juga masih saudara saya. Ciputat ini dekat dengan tempat ujian saya pada Rabu, 27 Oktober 2010, mulai pukul 08.00, yakni di sebuah universitas di Pamulang, Tangerang Selatan.

Ujian tertulis dalam seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di salah satu kementerian itulah yang membawa saya ke Jakarta, khususnya di Tangerang. Selain itu, saya juga ingin dolan ke rumah saudara saya yang di Tangerang maupun yang di Jakarta. Itu juga pertama kali saya mengikuti tes CPNS sebuah kementerian.

Bisa jadi, perjalanan hidup selanjutnya, terutama perjalanan karier, ditentukan oleh tes seperti itu. Memang, awalnya saya ragu dan nyali saya menciut. Untuk kualifikasi akademik sarjana sosiologi seperti saya, formasinya hanya ada satu. Sementara satu formasi itu direbutkan oleh lulusan sosiologi nonkependidikan se-Indonesia. Namun, berhubung di sana ada saudara, yakni saya bisa menginap di rumah saudara saya itu, akhirnya saya mendaftarkan diri.

Saya bersyukur, tempat ujian saya relatif dekat dengan rumah saudara saya yang di Tangerang Selatan. Tempat ujian itu sendiri ditentukan oleh panitia seleksi CPNS. Jadi, peserta tidak bisa memilih tempat ujian. Tentu saya sangat berterima kasih pada saudara-saudara yang telah membantu saya.

Pagi itu, saya tiba di tempat ujian, sekitar pukul 07.00. Di auditorium di sebuah universitas itu sudah banyak peserta yang datang. Tempat tes di auditorium ini khusus untuk peserta yang melamar di salah satu unit kerja di sebuah kementerian tadi. Sebelumnya, saya memeriksa peserta tes di unit kerja ini berjumlah 925 peserta.

Saya pun mencari tempat duduk saya. Begitu dapat, peserta lain dengan kualifikasi akademik yang sama seperti saya juga telah tiba. Saya pun menyapa salah satu peserta yang duduk di sebelah kanan saya. Dia alumnus universitas terkemuka di Indonesia. Dia yang angkatan 2000 itu sudah beberapa kali mengikuti tes sejenis itu. Saya pun sempat pesismis dan peluang saya untuk lolos dalam tes itu pun sangat kecil. Bahkan, dipastikan saya tidak akan lolos dalam tes itu.

Di sebelah kiri saya juga dari almamater yang sama dengan yang duduk di sebelah kanan saya. Dia angkatan 2005. Sementara saya angkatan 2003 dari sebuah universitas pinggiran di Pulau Jawa. Saya juga mahasiswa yang tidak pandai. Namun, saya berusaha mengerjakan tes tulis itu semampu saya.

Menjelang tengah hari, tes pun selesai dan saya mengikutinya sampai selesai. Saya sadari tes tulis tersebut sangat sulit bagi saya yang ber-IQ rendah ini. Terkadang saya berpikir, saya ikut tes itu paling tidak agar ijasah sarjana saya ada gunanya. Sorenya saya kembali ke rumah saudara saya. Saya pun menginap di malam kedua di rumah saudara saya itu.

Kamis sore, 28 Oktober 2010 saya izin pulang. Sebelum pulang ke Nganjuk, saya juga izin akan dolan di rumah saudara saya di Jakarta Selatan. Melalui saudara saya inilah pertama kali saya bisa tahu kota Jakarta seperti yang saya kemukakan di awal paragraf. Sekali lagi, saya sangat berterimakasih pada saudara-saudara saya.

Sabtu sore, saya pun balik ke Nganjuk. Awalnya saya akan naik kereta kelas ekonomi. Namun, atas bantuan saudara saya akhirnya saya naik kereta kelas bisnis. Saya tiba di Stasiun Nganjuk sekitar pukul 05.00 pada Minggu pagi, 31 Oktober 2010. Perjalanan dari Jakarta ke Nganjuk pun seolah-olah tak terasa dengan naik kereta kelas bisnis tersebut.

Minggu, 24 Oktober 2010

Ganti Plat Pikap

Ganti Plat Pikap

Judul itu hampir sama dengan judul Cetak STNK 5 Tahun yang telah saya publikasikan. Ganti plat berarti juga mencetak Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (STNK) 5 tahun. Namun, judul tersebut untuk kendaraan jenis roda dua. Sementara judul ini kendaraan jenis roda empat, yakni pikap. Prosedurnya sama, tetapi cetak STNK untuk pikap biayanya lebih mahal.

Ganti plat pikap pada Jumat, 22 Oktober 2010 ini total biayanya Rp 864.000,-. Pikap milik bapak saya itu tahun 1997 dengan silinder 1295 CC. Umumnya biaya itu berdasarkan silinder, tahun kendaraan, dan jenis kendaraan. Sementara kendaraan roda dua tahun pembuatan 2000 dengan silinder 100 CC, biaya totalnya Rp 268.000,-. Rincian ganti plat pikap ini sebagai berikut:

- Biaya foto kopi Rp 5.000,-

- Administrasi di loket cek fisik Rp 30.000,-

- Administrasi pelayanan formulir Rp 135.000,-

- HER Rp 617.000,-

- Asuransi Rp 72.000,-

- Ambil plat Rp 5.000,-

TOTAL Rp 864.000,-

Kamis, 14 Oktober 2010

Mengurus SKCK

Mengurus SKCK

Senin, 11 Oktober 2010 yang lalu saya mengurus Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK). Hari itu merupakan kali pertama saya mengurusnya. Anda mungkin tahu, saya mengurusnya sebagai salah satu syarat melamar pekerjaan. Tulisan ini ingin berbagi pengalaman bagaimana mengurus SKCK. Semua hal yang berkaitan dengan SKCK ini ada pada pihak berwenang.

Pertama, pagi hari saya mengurusnya di kantor desa tempat saya lahir. Begitu SKCK selesai diketik oleh sekretaris desa (sekdes), saya diminta menyerahkan foto ukuran 3 x 4 sebanyak 1 lembar. Sebelumnya Sekdes menanyai identitas seperti nama, tanggal dan tahun lahir, dan keperluan pembuatan SKCK itu. Begitu selesai, saya langsung ke Komando Rayon Militer (Koramil) dengan membawa SKCK dari kantor desa tadi. Di Koramil ini saya diminta SKCK yang satu lembar tadi agar diberi map.

Selesai dari Koramil saya langsung ke kantor kecamatan yang letaknya bersebelahan dengan Koramil. Di Koramil tadi saya dikenai biaya Rp 5.000,-. Baik Koramil maupun kecamatan ini SKCK tadi ditandatangani oleh pejabat berwenang. Setelah itu, saya menuju ke Kepolisian Sektor (Polsek) yang letaknya juga tidak jauh dari kantor kecamatan. Baru di Polsek ini saya diminta foto ukuran 3 x 4 sebanyak satu lembar. Saya juga dimintai foto kopi KTP dan foto kopi Kartu Keluarga (KK), masing-masing satu lembar.

Setelah SKCK dari Polsek selesai dibuat saya langsung ke Kepolisian Resor (Polres). Sebelumnya, di Polsek ini saya dikenai biaya Rp 15.000,-. Di Polsek ini map saya juga tidak diberikan sehingga saya hanya membawa satu lembar SKCK dari Polsek ke Polres. Mulai dari kantor desa sampai Polsek ini saya mengurus sendirian. Artinya, saat saya mengurusnya, tidak ada orang yang juga mengurusnya. Namun, setelah di Polres, sejumlah orang juga mengurusnya. Akan tetapi, tidak sampai antre yang panjang.

Di Polres ini saya menuju ke ruangan yang di atas pintunya terdapat tulisan PELAYANAN SKCK. SKCK yang dari Polsek tadi saya letakkan di meja petugas. Setelah itu, petugas memberi saya dua lembar formulir yang harus saya isi. Dengan pena yang saya bawa sendiri, saya mengisinya. Saya juga meminta blangko sidik jari di salah satu ruangan. Saya lupa nama ruangannnya.

Selesai mengisi formulir dan blangko tadi, saya sidik jari. Sudah ada petugas laki-laki yang membantu sidik jari. Sepuluh jari tangan harus mengenai tinta sidik jari. Di meja sidik jari itu juga ada dua lembar serbet untuk membersihkan tinta sidik jari. Kemudian, saya kembali ke ruangan tempat saya mengambil blanko sidik jari tadi. Saya agak lupa, di ruangan ini petugas meminta foto berwarna berapa lembar. Seingat saya satu lembar ukuran 3 x 4 sebanyak satu lembar.

Di Polres ini saya juga agak lupa. Namun, seingat saya, di Polres ini saya juga diminta foto kopi KTP sebanyak satu lembar dan foto kopi KK sebanyak satu lembar. Misalnya seperti foto tadi, pengurus SKCK menyiapkan foto agar dalam pengurusan SKCK itu lebih lancar. Di timur komplek Polres juga telah ada tempat foto. Namun, akan lebih baik jika kita punya foto sendiri yang sesuai.

Lalu, saya kembali ke ruangan Pelayanan SKCK. Saya harus menunggu di kursi tunggu untuk beberapa saat. Kemudian, nama saya dipanggil. Saya diminta memeriksa kembali keterangan di SKCK tersebut. Di pelayanan SKCK ini saya dikenai biaya adminstrasi sebesar Rp 15.000,-. Setelah itu saya memfoto kopi SKCK yang asli itu untuk legalisir. Legalisir ini menyesuaikan dengan yang kita perlukan.

Seluruh pengurusan SKCK itu selesai hampir tengah hari. Setelah itu, saya pulang.

Senin, 11 Oktober 2010

Judul Skripsi Sosiologi

Judul Skripsi Sosiologi

Kamis, 30 September 2010 saya meng-up date facebook saya. Bunyinya “Pada dasarnya manusia itu egois”. Seorang teman ada yang menyukai up date status itu. Beberapa menit kemudian ada adik tingkat saya dulu yang mengomentari up date status saya itu. Dia mengucapkan maaf lahir batin pada saya. 10 September 2010 lalu memang 1 Syawal 1431 H sekaligus lebaran. Antara status up date dan komentarnya itu memang tidak berkaitan. Namun, berhubung di facebook, komentar itu sah-sah saja.

Dalam komentarnya itu dia bertanya, “Mas, semester ini aku mau seminar. Tapi gak nemu judul, ada saran?”. Saya kemudian balik bertanya padanya, yakni judul yang ia punya sementara ini. Namun, dia tidak segera membalasnya. Akhirnya saya menanyainya kembali lewat short message service (sms). Dia ingin meneliti tentang mitos yang ada di masyarakat tempat ia tinggal sekarang. Dia tidak ingin melakukan penelitian lapangan. Maksudnya, dia tidak ingin meneliti di suatu tempat yang jauh dari tempatnya tinggal. Hal itu juga menyangkut waktu, tenaga, dan biaya penelitian.

Saya menyarankan padanya agar segera mengerjakan skripsinya. Tujuannya, antara lain, agar cepat lulus. Saya juga menyarankan agar judul yang ia ajukan ada bobot akademisnya. Maksudnya agar tidak sembarangan dalam menentukan judul. Tujuannya agar dosen yang smart mudah meng-acc judulnya. Saat itu dia juga meminta saran penelitian tentang mitos tadi. Saya pun menanggapi, saya tidak bisa menilai konsepnya itu. Sebab itu bergantung kesepakatan antara mahasiswa dan dosen pembimbingnya.

Jika saya menilai konsepnya tentang mitos itu tidak bernilai sosiologis maka belum tentu dosen pembimbingnya menganggap tidak bernilai sosiologis. Umumnya dosen pembimbing mengikuti mahasiswa yang dibimbingnya. Entah konsepnya atau judulnya itu baik atau jelek. Umumnya setiap mahasiswa memiliki konsep sendiri-sendiri. Syukur jika judul itu unik, kreatif, dan sosiologis. Biasanya jika judulnya itu sudah sangat jelek maka dosen pembimbing meminta mencari judul yang lain.

Judul di atas sesungguhnya melengkapi tulisan saya yang berjudul Membuat Skripsi yang Sosiologis. Juga melengkapi judul Mahasiswa Sosiologi dan Dilema Skirpsi. Keduanya sudah saya publikasikan di blog ini. Khususnya judul Membuat Skripsi yang Sosiologis, sedikit demi sedikit saya edit.

Kembali pada judul di atas. Jika saya ditanya tentang judul yang bisa diteliti oleh mahasiswa sosiologi maka saya balik bertanya kembali. Apabila seorang mahasiswa meminta judul pada saya maka saya tidak bisa memberikannya. Sejelek apapun judulnya, pasti mahasiswa memiliki judul sendiri. Lagi pula jika saya memberinya judul maka belum tentu mahasiswa mau menerimanya meskipun menurut saya itu bernilai sosiologis.

Sebetulnya melalui skripsi yang telah saya buat dan ada di rak perpustakaan, sudah bisa menjadi salah satu contoh dalam membuat skripsi. Skripsi sosiologi yang lainnya, tesis dosen sosiologi, jurnal yang ditulis oleh dosen sosiologi juga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menentukan judul skripsi sosiologi. Belum lagi contoh judul dari internet.

Apalagi misalnya mahasiswa jurusan lain membacanya maka mungkin mereka tahu itu sebagai skripsi. Jika mahasiswa Sastra Indonesia membaca judul skripsi mahasiswa sosiologi maka mungkin akan merasa asing. Demikian juga jika mahasiswa sosiologi membaca judul skripsi mahasiswa Sastra Indonesia maka mungkin juga akan merasa asing.

Dari pertanyaan adik kelas saya itu pun tampaknya Program Studi Sosiologi Universitas Jember masih meminta mahasiswa mengajukan judul. Dengan begitu, dosen dapat mengetahui arah pikiran mahasiswa dalam membuat skripsi. Umumnya judul itu tidaklah final, apalagi dalam penelitian kualitatif. Artinya, judul itu bisa saja berubah. Mahasiswa saat ditanya tentang idenya terkait akan seminar untuk skripsi, biasanya bahasanya berputar-putar, kurang jelas apa maksudnya.

Lebih jauh dari ini, judul itu merupakan bagian terkecil dari proses seseorang mengerjakan skripsi. Skripsi sesungguhnya juga bagian terkecil dari proses seseorang menjadi mahasiswa. Kita tahu, penyelesaian pengerjaan skripsi bukanlah tujuan akhir dari perjalanan hidup seseorang. Umumnya setelah seseorang mengerjakan skripsi maka masih ada tahap selanjutnya. Misalnya tes untuk masuk lapangan pekerjaan.

Sebaliknya, banyak kasus menunjukkan, kelambatan masa studi mahasiswa karena persoalan skripsi. Terkadang persoalan skripsi juga bisa menimbulkan konflik antara mahasiswa dengan dosen maupun antara mahasiswa dengan orang tuanya. Juga dilaporkan sejumlah kasus mengenai kecurangan dalam skripsi. Misalnya, penjiplakan skripsi sampai jual beli skripsi.

Orang bisa berkata apa saja mengenai skripsi. Orang terkadang memandang skripsi tidak selalu akan ditanyakan jika misalnya seseorang melamar bekerja di sebuah bank. Maka dari itu, hendaknya jangan terlalu idealis dalam mengerjakan skripsi. Sejumlah mahasiswa berpikir untuk membuat skripsi yang biasa-biasa saja. Nilai pas-pasan pun tidak jadi soal. Yang penting bisa cepat lulus.

Seseorang bisa saja beralasan dia tidak idealis dalam mengerjakan skripsi. Namun, dirinya sesungguhnya kesulitan dalam mengerjakan skripsi. Lagi-lagi itu juga menyangkut pilihan seseorang dalam mengerjakan skripsi. Sekali lagi, setiap mahasiswa memiliki pengalaman sendiri-sendiri akan skripsi. Penilaian orang terhadap skripsi pun tidak melulu pada angka atau huruf yang tertera di transkrip nilai. Ada penilaian yang tak mungkin ditulis di transkrip nilai. Penilaian itu ada dalam diri orang-orang yang mengetahui bagaimana perjuangan dalam membuat skripsi.


Selasa, 05 Oktober 2010

Pengamen

Pengamen

Di tengah pikiran yang jenuh dalam menulis, judul itu saya tulis. Kehidupan yang menjadi sumber tulisan sepertinya serba-sama untuk dituliskan. Bisa jadi itulah jalan hidup yang saya alami sampai saat ini. Jalan hidup yang monoton dan membosankan. Pada saat yang sama, judul suatu tulisan yang saya tulis di tengah kejenuhan, terkadang dikomentari. Komentar itu sungguh sangat berarti bagi saya.

Judul itu tebersit saat saya ingat bunyi genjrang-genjreng pengamen memainkan gitarnya. Persisnya saat itu Sabtu, 18 September 2010 sekitar pukul 15.00 ketika saya mengantar saudari saya di rumah paman saya, di belakang rumah saya. Saudari saya menumpang secara gratis sebuah mobil yang membawa tiga orang yang bekerja di Surabaya pada majikan kaya. Majikan itu terbilang baik, mobil yang terbilang mewah untuk ukuran orang dusun itu juga sudah ada sopir pribadi Si Majikan.

Sore itu dua orang pengamen menghampiri rumah paman saya itu untuk mengamen. Keduanya masih remaja. Seorang memainkan gitar dan satunya membawa recehan uang logam. Mereka berdua menyayikan sebuah lagu pop. Saat itu di teras rumah paman saya itu ada lima orang. Namun, dua pengamen yang mengenakan kaus dan bercelana jin selutut itu dengan percaya diri mengamen. Beberapa menit kemudian, tuan rumah memberikan uang receh, entah berapa.

Sekarang pengamen didominasi oleh kalangan remaja. Usianya kisaran 15 tahun sampai dengan 20 tahun. Di dusun saya ini, sepertinya tidak pernah ada pengeman perempuan. Pengamen umumnya adalah laki-laki. Itu pun mengesankan mereka mengamen lebih untuk kesenangan daripada sebagai mata pencaharian utama. Ibu-ibu menggosipkan uang hasil mengamen itu dibelikan rokok.

Pengamen di dusun ini memang bukan warga sini. Biasanya mereka berasal dari desa lain dan tak jarang dari kecamatan lain. Umumnya mereka datang dengan sepeda motor dan menitipkan sepeda motor di suatu rumah. Sementara itu mereka mengamen. Hal itu pun memengaruhi cara kerja mereka yang spontanitas. Maksudnya, khususnya di kawasan perumahan, begitu ada mood ingin mengamen maka mereka mengamen. Cara kerja mereka tidak terkoordinir secara rapi.

Di antara kita mungkin kurang suka dengan kehadiran pengamen di rumah kita. Misalnya kita menutup pintu, begitu mendengar ada pengamen di tetangga sebelah. Barangkali kita mengatakan maaf saat pengamen mendatangi rumah kita. Mungkin juga di antara kita merasa iba. Saat mereka memainkan musik beberapa menit kemudian kita memberikan uang receh, misalnya Rp 200,-. Uang itu terkadang juga sebagai bentuk penghargaan atas rasa percaya diri mereka dalam mengamen.

Akhir-akhir ini terkadang juga ada pengamen yang biasanya terdiri atas empat orang. Mereka memainkan musik jaranan. Anak-anak kecil biasanya mengerubungi mereka saat beraksi. Orang terkadang memberi mereka Rp 1000,-. Lebih mahal dibandingkan dengan mereka yang membawa gitar tadi. Pemberian uang itu pun biasanya melihat jumlah pengamen maupun hiburan yang mereka tawarkan.

Sampai kini, khususnya di kampung tempat saya tinggal ini, pengamen belum tergolong sebagai masalah sosial. Jika pengamen memaksakan diri mengamen sekaligus memaksa meminta maka itu bisa tergolong masalah sosial. Apalagi jika pengamen itu terlibat pencurian di rumah-rumah, juga termasuk dalam masalah sosial. Bahkan itu tergolong kejahatan.

Orang terkadang menyayangkan pekerjaan mengamen. Mengapa tidak bekerja yang lain, misalnya bekerja sebagai karyawan toko. Orang kadang-kadang juga menilai mengamen itu lebih baik daripada mencuri. Setiap orang memang memiliki pendapat sendiri-sendiri.

Pengamen memang tidak hanya ada di kawasan pemukiman warga. Entah di kawasan kota maupun desa. Di sebuah dusun yang terbilang pelosok di rumah nenek saya juga ada pengamen. Di kereta api kelas ekonomi, di bus kota, bahkan di bawah lampu lalu lintas terkadang juga ada pengamen.

Bisa jadi operasi mengamen, misalnya di bus kota itulah pengamen mendapatkan citra tertentu. Misalnya, mengamen menandai sebagai orang yang hidupnya tidak menentu. Selain bertujuan mendapatkan uang, mereka juga ingin menghibur. Meskipun sama-sama menghibur, tentu itu berbeda dengan musisi papan atas yang dari karyanya dalam industri musik bisa dijadikan sebagai gantungan nafkah.





Selasa, 21 September 2010

Nomor Gelap

Nomor Gelap

Pagi hari, 16 Agustus 2010 saya mendapat miscall dari sebuah nomor. Sayangnya, nomor tersebut tidak ada di phone book telepon seluler (ponsel) milik saya. Saya lalu menanyai siapa dia lewat short message service (sms). Sms memang terkirim, tetapi dia tidak membalasnya. Jadi, saya tidak tahu identitas orang yang miscall tersebut. Seingat saya, dalam dua bulan tarakhir ini dia dua kali menghubungi saya dengan nomor yang sama. Awalnya dia mengirim sms. Dia tahu saya, tetapi saya tidak tahu dirinya.

Memang cerita itu agak lama. Saya pun menganggap itu sebagai nomor gelap. Artinya, seseorang yang menghubungi saya lewat ponsel, tetapi dia enggan menyebut identitas dirinya. Saya hanya tahu nomor kartu dalam ponselnya yang muncul di ponsel saya. Terkadang ada miscall, tetapi di ponsel saya tertulis “nomor pribadi memanggil”. Dengan begitu, sebuah nomor tidak bisa muncul pada ponsel penerima.

Saya memiliki ponsel beserta kartunya ini pada 12 Desember 2005. Sampai sekarang saya masih memakainya. Seingat saya, selama itu telah lebih dari tiga kali menerima nomor gelap. Padahal, saya memperkirakan saya tidak akan menerima nomor gelap. Salah satu alasannya, saya sampai kini tidak pernah berbuat serupa. Selain itu, saya hanya orang biasa, bukan orang penting seperti selebriti maupun bupati.

Namun, pada dasarnya setiap orang yang memiliki ponsel beserta kartunya, berpotensi menerima nomor gelap. Terlebih jika seseorang itu telah memilikinya dalam waktu yang lama. Misalnya satu tahun. Mungkin seseorang yang mengirim nomor gelap itu bukan teman kita. Akan tetapi, dia bisa saja mendapatkan nomor kita dari teman kita. Mungkin juga dia mencatat nomor kartu ponsel kita dari suatu counter. Biasanya kita meninggalkan nomor kartu ponsel saat kita membeli pulsa.

Masih syukur selama ini pengirim nomor gelap itu masih dalam batas-batas yang wajar. Artinya, bahasanya dalam sms masih sopan. Namun, sayangnya, dia enggan menyebut identitasnya. Tentu ini bisa membuat penasaran. Malah bisa mengganggu, yakni saat miscall sehingga kurang etis. Namun, saya membiasakan diri dengan itu. Lama kelamaan dia akan lelah sehingga dia berhenti sendiri.

Mereka yang masih saja mengirim nomor gelap hendaknya menghentikan aksinya. Kasihan jika seseorang sampai berganti nomor kartu ponsel karena sering diteror oleh nomor gelap. Apalagi jika pengirim nomor gelap itu menyangkut hal-hal yang sensitif yang menggelisahkan. Misalnya, menyangkut isu SARA.