Minggu, 16 Mei 2010

Mencari Hari yang Baik


Gambar dipinjam dari sini.

Mencari Hari yang Baik

Judul di atas bukan judul sebuah lagu. Jadi, saya tidak bermaksud membuat lirik lagu. Bukan pula mencari seseorang bernama “Hari”. Judul itu terbersit secara tiba-tiba saat saya kesulitan akan memulai menulis cerita pendek (cerpen). Lagi pula, kali pertama dan kali terakhir saya menulis karya fiksi itu pada semester pertama saat kuliah. Itu pun hanya satu cerpen.

Di samping kesulitan menulis cerpen, judul di atas juga terdorong oleh cara paman saya dalam membeli motor. Paman saya yang orang Jawa dan seorang santri berpaham keagamaan NU itu membeli motor milik paman saya yang lain. Pembayaran sudah dilakukan hampir dua minggu yang lalu secara lunas. Namun, motornya baru diambil pada Rabu Kliwon, 12 Mai 2010. Padahal, begitu uang dilunasi, paman saya sudah bisa mengambil motornya. Namun, dengan alasan mencari dan menentukan hari yang baik maka motor baru diambil pada hari itu.

Baiklah, kembali pada judul itu. Judul itu terkait dengan mencari hari yang baik dalam kepercayaan orang Jawa. Misalnya mencari hari yang baik saat seseorang dikhitan, saat seseorang akan menikah, sampai mencari hari yang baik membeli sepeda motor. Momentum-momentum seperti itu dianggap sebagai keputusan yang penting dalam hidup dan sakral sehingga perlu dicari dan ditentukan hari yang dianggap baik.

Tentu masih banyak contoh-contoh momentum lainnya. Misalnya, seseorang yang akan menjadi suami istri maka hari lahir, yakni tiron-tiron-nya harus sesuai. Tiron adalah hari lahir seseorang berdasarkan kalender Jawa, yakni Wage, Kliwon, Legi, Pahing, dan Pon. Kesesuaian tiron-tiron itu sendiri dianggap memengaruhi kehidupan rumah tangga. Entah itu berkaitan dengan kelanggengan kehidupan rumah tangga, perolehan rezeki, dan lain sebagainya.

Pencarian hari pun tidak sembarangan. Biasanya pencarian hari dilakukan oleh seseorang yang dianggap mampu melakukannya. Biasanya orangnya disebut dengan dongke. Mungkin kita mengetahui buku Primbon. Buku itulah yang juga menjadi dasar dalam mencari dan menentukan hari yang baik.

Sistem kepercayaan itu umumnya masih diacu oleh kalangan tua, yakni kira-kira mereka yang lahir sebelum tahun 1980. Dalam hal ini biasanya kalangan tua-lah yang biasanya bisa mencari maupun menentukan hari yang baik. Sekali lagi bahwa ada momentum-momentum atau peristiwa-peristiwa tertentu dalam hidup seseorang. Contohnya seperti disebut di atas.

Dalam kepercayaan orang Jawa, hal-hal seperti itu perlu dibuat suatu “hitungan” tertentu. “Hitungan” inilah yang juga dipakai, misalnya untuk mencari dan menentukan hari yang baik. Pada saat yang sama, saya menghadapi dilema antara menuliskan judul di atas dengan p├ętungan atau “hitungan” dalam masyarakat Jawa.

Kembali pada tulisan ini, selama rentang waktu tersebut, kalangan tua kiranya sudah banyak mengetahui kasus yang menunjukkan kebenaran dari “hitungan” tersebut. Misalnya, pasangan suami-istri yang tiron-nya sesuai, rezeki yang diperoleh suami istri tersebut juga lancar.

Namun, apakah “hitungan” itu selamanya tepat? Mungkin Anda sudah tahu jawabannya bahwa “hitungan” itu tidak selamanya tepat. Meskipun demikian, pada beberapa kasus “hitungan” itu memang ada kebenarannya. Namun, ketidaktepatan itu tidak serta merta membuat “hitungan” ditinggalkan, sementara sebagian orang masih mempercayainya.

Sementara itu, kalangan muda umumnya sangat jarang yang bisa mencari maupun menentukan hari yang baik. Sebagian di antara mereka bahkan kurang percaya. Paling tidak itu berdasarkan pendapat dari beberapa teman-teman saya. Kekurangpercayaan di antara kalangan muda itu bukan berarti menganggap momentum-momentum seperti telah dicontohkan tadi tidak penting. Namun, dasar untuk mencari maupun menentukan hari yang baik itu oleh kalangan muda terkadang dianggap sebagai ramalan biasa, bahkan mungkin dianggap sebagai tidak masuk akal.

Bisa jadi banyak kalangan muda dalam masyarakat Jawa menyerahkan urusan pencarian dan penentuan hari yang dianggap baik ini pada kalangan tua. Lagi pula, mengenai itu tidak memunculkan konflik yang keras di antara kalangan muda dan kalangan tua dalam masyarakat Jawa.

Meskipun demikian, terkadang muncul kekhawatiran di antara kalangan tua atas sikap sebagian besar kalangan muda ini. Dengan sikap seperti itu maka lama-kelamaan banyak kalangan muda yang tidak lagi mengenal “hitungan” dalam mencari dan menentukan hari yang baik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar