Minggu, 08 Mei 2011

Bagaimana Menulis Artikel?

Bagaimana Menulis Artikel?

Seorang teman pada 21 April 2011 lalu untuk kali pertama bertanya pada saya tentang bagaimana menulis sebuah artikel. Berikut ini pertanyaan yang dia lewatkan surat elektronik. “1) Sebenarnya apa inspirasi Mas ketika menuliskan sebuah artikel?; 2) Bagaimana caranya menuliskan sisi menarik dari sebuah artikel agar banyak dibaca?; 3) Bagaimana sih "prosedur" penulisan artikel?; 4) Bagaimana memilih topik yang tepat untuk blog kita?.

Teman saya itu lulus SMA tahun 2010 pada program IPS. Dia tetangga depan rumah saya. Setelah lulus dari SMA dia merantau ke Tangerang. Orang biasa menyebutnya merantau ke Jakarta. Saya pernah bertemu dengannya sekali di perpustakaan umum daerah Kabupaten Nganjuk. Selama di rumah, saya hampir tidak pernah berbincang-bincang dengannya. Lagi pula, dia juga baru tahu saya mengelola blog saat dia di luar kota.

Teman saya itu juga mengelola dua blog. Saya pernah mengunjungi salah satu blognya dan memberi komentar meskipun sedikit. Seorang bloger biasanya senang tulisannya dikomentari. Komentar itu wujud perhatian terhadap pemilik blog. Saling mengunjungi, membaca blog, mengomentari blog itu penting untuk bloger.

Saya sebetulnya tidak bisa menjawab ke empat pertanyaan tersebut. Pada dasarnya artikel adalah tulisan. Tesaurus Bahasa Indonesia (2006) juga menulis artikel antara lain satu makna dengan esai, karangan, makalah, dan tulisan. Namun, secara sempit saya menilai bentuk tulisan seperti yang di kolom opini sebuah koran itulah yang disebut artikel. Umumnya ditulis oleh seorang yang kompeten di bidangnya. Lazimnya juga disebut sebagai kolumnis.

Sementara yang saya tulis di blog itu saya anggap sebatas tulisan yang umumnya ringan. Sering saya tulis dari sudut pandang orang pertama atau “aku”. Misalnya tulisan yang saya publikasikan ini. Jadi, nilai seni dan bobot tulisan masih lebih tinggi artikel daripada tulisan. Artikel bisa memuat suatu wacana yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Karenanya dipublikasikan di koran.

Banyak teori tentang menulis. Buku tentang bagaimana menulis artikel juga banyak yang diterbitkan. Khususnya bagaimana kiat agar sebuah artikel bisa dimuat di koran. Di internet juga banyak panduan tentang bagaimana menulis. Work shop tentang kepenulisan juga memberikan arahan tentang bagaimana menulis. Saya sendiri belum bisa menulis dan dimuat di koran. Pernah satu dua kali mengirimkan, tetapi tidak dimuat. Tulisan saya hanya termuat di blog saya sendiri. Pengunjung, pembaca, maupun orang yang mengomentarinya pun sedikit.

Hendaknya teori itu juga diiringi oleh praktik, yakni menulis. Umumnya menulis ini adalah proses. Awalnya mungkin sebuah tulisan itu jelek. Namun, dalam teori menulis, lambat laun ada kemungkinan seseorang akan menemukan gaya tulisannya yang orisinal. Bahkan, siapa tahu akhirnya tulisannya bisa bermanfaat bagi banyak orang. Kebiasaan menulis itu juga memungkinkan seseorang menemukan prosedur dalam menulis artikel. Menarik tidaknya suatu tulisan umumnya juga bergantung pada pembaca. Topik tulisan dalam blog pun bisa berjalan seiring waktu selama menulis. Saya menulis tulisan ini pun terinspirasi oleh pertanyaan teman saya itu.

3 komentar:

  1. Menulis membuat bahagia. Mengurangi sesak didada. Menjadikan hisup sedikit punya makna.

    BalasHapus
  2. Ya, saya juga sependapat dengan ibu.

    BalasHapus