Fenomena murid yang tidak tertib—malas mengerjakan tugas, sering tidur di kelas, dan gemar bermain gim—bukan lagi kasus individual, melainkan gejala yang semakin jamak di sekolah. Ini bukan semata soal “anak nakal” atau “anak malas”, tetapi juga soal sikap, disiplin, dan tanggung jawab yang gagal dibentuk secara konsisten.
Namun satu hal harus ditegaskan sejak awal: ketidakdisiplinan bukan kondisi yang boleh dimaklumi terus-menerus.
1. Malas Mengerjakan Tugas: Masalah Sikap, Bukan Sekadar Kemampuan
Mayoritas murid yang malas mengerjakan tugas sebenarnya mampu, tetapi tidak mau. Mereka memilih menunda, menyepelekan, atau mengabaikan tugas karena merasa tidak ada konsekuensi nyata. Ini adalah persoalan sikap mental: rendahnya rasa tanggung jawab dan komitmen.
Jika kemalasan terus ditoleransi dengan alasan “anaknya capek”, “banyak tugas”, atau “nanti juga sadar sendiri”, sekolah sedang melatih anak untuk tidak serius terhadap kewajibannya. Dunia nyata tidak bekerja dengan logika permisif semacam itu.
2. Tidur di Kelas: Bentuk Ketidakhormatan terhadap Proses Belajar
Tidur di kelas bukan hanya tanda kelelahan, tetapi juga sikap tidak menghargai guru, pelajaran, dan waktu bersama. Alasan begadang main gim, scroll media sosial, atau nongkrong malam bukan alasan yang bisa dibenarkan.
Jika murid dibiarkan tidur tanpa teguran tegas, pesan yang sampai adalah: belajar itu opsional. Padahal, disiplin waktu dan kesadaran peran adalah fondasi utama kedewasaan.
3. Kecanduan Gim: Kenyamanan Semu yang Merusak Daya Juang
Gim bukan musuh. Yang bermasalah adalah ketika gim mengalahkan kewajiban. Murid yang lebih hafal level permainan daripada materi pelajaran sedang membangun masa depan yang rapuh.
Kecanduan gim melemahkan fokus, menurunkan daya tahan mental, dan membentuk kebiasaan instan: ingin hasil cepat tanpa usaha panjang. Ini berlawanan langsung dengan nilai pendidikan.
4. Sikap Kita sebagai Pendidik: Tegas, Konsisten, dan Jelas
Pendekatan terhadap murid tidak tertib tidak cukup dengan empati tanpa batas. Remaja membutuhkan batas yang jelas, bukan pembenaran terus-menerus.
Sikap yang perlu diambil:
-
Tegur secara langsung dan terbuka, tanpa merendahkan, tetapi juga tanpa basa-basi.
-
Terapkan konsekuensi nyata, akademik maupun administratif, secara konsisten.
-
Pisahkan antara memahami latar belakang dan membenarkan perilaku. Masalah keluarga boleh dipahami, tetapi kewajiban tetap harus dijalankan.
-
Bangun kultur kelas yang serius, bukan kelas yang selalu ditoleransi pelanggarannya.
5. Pendidikan Bukan Sekadar Membuat Anak Nyaman
Kesalahan besar pendidikan hari ini adalah menyamakan “nyaman” dengan “baik”. Sekolah bukan tempat memanjakan kebiasaan buruk. Sekolah adalah ruang latihan hidup: belajar bertanggung jawab, mengelola waktu, menahan diri, dan menerima konsekuensi.
Jika murid terus dibiarkan tidak tertib, yang gagal bukan hanya muridnya, tetapi otoritas moral pendidikan itu sendiri.
6. Penutup: Ketegasan adalah Bentuk Kepedulian
Bersikap tegas bukan berarti tidak peduli. Justru ketegasan adalah bentuk kepedulian jangka panjang. Membiarkan murid malas, tidur, dan larut dalam gim tanpa kontrol adalah bentuk pengabaian yang halus.
Remaja tidak butuh guru yang selalu menyenangkan. Mereka butuh guru yang berani mengatakan: ini salah, ini tidak boleh, dan ini harus diperbaiki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar