Senin, 29 Desember 2008

Keber-agama-an Mahasiswa Sosiologi

Keber-agama-an Mahasiswa Sosiologi

Kehidupan mahasiswa yang sedikit banyak berbeda dengan kehidupan pra-mahasiswa ditengarai memengaruhi keberagamaan mahasiswa. Terlebih kehidupan yang dialami oleh mahasiswa perantau. Oleh karena itu, di samping kebutuhan manusia akan agama, maka agaknya menarik membicarakan keberagamaan mahasiswa sosiologi atau perihal mahasiswa sosiologi dalam memeluk agamanya. Pada sisi tertentu, kemenarikannya justru terletak pada interaksi keberagamaan mahasiswa sosiologi yang sepertinya “datar-datar” saja, beragama sebagaimana umumnya. Bahkan, kecenderungannya beragama dengan corak humanistis. Dalam kaitan ini, kecendrungan tersebut dapat diamati sebab keberagamaan tersebut ada dalam kenyataan keseharian.

Tulisan ini pun hanya berpretensi menyelami keberagamaan generasi 2003, yakni selama mereka menjadi mahasiswa sosiologi. Dalam hubungan ini, tulisan ini tidak berpretensi menilai keimanan mahasiswa generasi ketiga dalam Program Studi Sosiologi Universitas Jember tersebut.

Pada dasarnya cukup sulit membicarakan keberagamaan. Hal itu karena fenomena keberagamaan tidak semata-mata gejala sosiologis maupun gejala psikologis. Dalam hubungan ini, terdapat segi rohaniah dalam keberagamaan, di luar gejala-gejala tersebut. Namun, dengan mengikuti pendapat Glock dan Stark (1965), keberagamaan dapat dilihat dari lima dimensi, yakni dimensi ideologi, dimensi intelektual, dimensi eksperiensial, dimensi ritus dan dimensi konsekuensial atau dimensi sosial. Dalam dimensi-dimensi itu, pada dasarnya saling bertalian antara satu dimensi dengan dimensi lainnya. Sementara itu, kelima dimensi tadi dalam tulisan ini lebih dimaknai secara bebas. Selain hal itu, agar lebih jelas, pemaknaan kelima dimensi tadi disertai dengan sejumlah contoh.

Pertama, dari dimensi ideologi. Ideologi di sini sebutlah sebagai pandangan yang didasari atas struktur etis agama. Dalam hubungan ini, segala hal harus didasarkan pada nilai-nilai keagamaan. Memang, ini tidak sungguh-sungguh terjadi, yakni mendasarkan, misalnya, Program Studi Sosiologi pada agama. Apabila pendasaran tersebut sungguh-sungguh terjadi, maka akan dinilai menyalahi keberadaan Program Studi Sosiologi sebagai bidang akademis, lembaga akademis. Akan tetapi, hal ini tidak berarti antara lembaga akademis dan nilai-nilai keagamaan saling bertentangan secara diametral. Sejalan dengan itu, pada bagian lain, tataran konseptual memunculkan wacana peng-agama-an pada sosiologi sebagai ilmu sosial. Kendati demikian, oleh mahasiswa sosiologi hal ini masih ditempatkan di ruang sunyi.

Sejalan dengan itu, sejumlah mahasiswa sosiologi yang mengambil topik skripsi tentang agama pun sebetulnya tergolong penempatan ideologi. Namun, dalam kaitan ini bukan penempatan ideologi yang sebenar-benarnya. Buktinya, tidak ada kecurigaan-kecurigaan maksud-maksud tertentu di balik pengambilan topik tersebut, disamping masih sedikitnya mahasiswa yang mengambil tentang topik tersebut. Pengambilan topik skripsi tersebut, khususnya pada tataran teoretis, menunjukkan bahwa tidak ada posisi yang sungguh-sungguh bertentangan antara sosiologi dan agama. Akan tetapi, faktanya, mahasiswa sosiologi yang meneliti tentang agama dalam pendekatannya dituntut agar bercorak sosiologis, profan, sehingga akhirnya antara sosiologi dan agama terjadi pergesekan.

Lebih lanjut pada dimensi ini, amat kentara pemakaian simbol-simbol religi seperti jilbab sebagai bagian dari busana muslimah oleh kalangan mahasiswi. Namun, seketika itu ada pertautan antara tuntunan beragama, simbol, dan fungsi dari yang disebut tadi, sedangkan hal ini tidaklah dilarang. Contoh lain yakni pemberian mata kuliah pendidikan agama di semester awal, keberadaan musala, peringatan hari besar keagamaan, dan lain sebagainya. Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa ada penyesuaian-penyesuaian, kompromi-kompromi yang stabil dalam dimensi ideologi tersebut.

Dimensi kedua, yakni dimensi intelektual. Dimensi ini menandai ketertarikan mahasiswa sosiologi dalam mempelajari agamanya. Pada saat yang sama, sebetulnya ada pergulatan batin pada mahasiswa sosiologi, yakni antara mempelajari agamanya dengan mempelajari sosiologi. Keduanya sama-sama memiliki “teori”. Titik ini mengisyaratkan bahwa sosiologi merupakan agama, “agama baru”, yang mendapat pengesahan dan terlembagakan dalam Program Studi Sosiologi.

Biarpun demikian, sosiologi rupanya tidak dapat menggantikan agama dalam pengertian yang sesungguhnya. Sebaliknya, agama pun sepertinya tidak dapat menggantikan posisi sosiologi sebagai sains. Selanjutnya, mempelajari agama merupakan tanggungjawab pribadi, sedangkan mempelajari sosiologi merupakan tanggungjawab yang mengikat mahasiswa sosiologi yang semata-mata karena statusnya mahasiswa sosiologi.

Dalam hal ini, lembaga tempat mahasiswa sosiologi berkuliah tidak mewajibkan mahasiswa sosiologi untuk mempelajari, menghafal dalil-dalil maupun firman yang dimiliki oleh agamanya. Apalagi keharusan menjalankan struktur etis agamanya. Mahasiswa sosiologi justru dituntut mengerti tentang sosiologi. Lagi pula, tidaklah jadi soal beragama atau tidak beragama.

Sesuai dengan itu, perlu dicatat bahwa sosiologi sebagai metode, hal itu tidak menggiring pada jalur pengikisan nilai-nilai keagamaan. Dengan kata lain, tidak mengantarkan pada tempat kekafiran. Sebagaimana telah ditulis di atas bahwa tidak adanya posisi yang sungguh-sungguh bertentangan, juga memungkinkan tiadanya pertentangan-pertentangan yang tajam dalam keberagamaan ini. Oleh karena itu, isu ada tidaknya pengikisan nilai-nilai keagamaan pun tidak muncul ke permukaan.

Terkait dengan hal itu, organisasi intra maupun organisasi ekstra kampus yang berbasis agama sebetulnya dapat dimasuki oleh mahasiswa sosiologi dalam pemenuhan dimensi intelektual ini. Perlu diketahui bahwa organisasi-organisasi tersebut sebetulnya memiliki kekuatan untuk menghimpun. Akan tetapi, kenyataannya tidak semua mahasiswa sosiologi terhimpun ke dalam organisasi intra maupun ekstra kampus yang berbasis agama. Tentu saja hal ini bukan sebentuk ketidakpercayaan terhadap organisasi yang berbasis agama tersebut. Patut dicatat bahwa pemenuhan dimensi tersebut tidak hanya diperoleh dari organisasi-organisasi yang disebut itu tadi.

Sungguhpun demikian, keberadaan organisasi intra maupun organisasi ekstra kampus masih tetap mengorganisasikan keberagamaan kalangan mahasiswa. Hal tersebut menjadikan organisasi, khususnya organisasi ekstra sebagai kelompok strategis yang berperan dalam perubahan, dalam momen-momen tertentu. Sebetulnya peran ini sekaligus menandai dimensi konsekuensial keberagamaan seperti akan ditulis di akhir tulisan ini.

Adapun dimensi ketiga, yakni dimensi eksperiensial bermakna pengalaman dalam beragama. Pada dimensi ini, sejumlah mahasiswa mulai mengalami, atau setidak-tidaknya menanyakan keberagamaannya selama ini, sedangkan pertanyaan-pertanyaan itu kian bergelayutan saat akhir-akhir semester. Meskipun demikian, mahasiswa sosiologi masih menemukan manfaat pemenuhan batiniah saat dan/atau setelah menjalankan ajaran-ajaran agamanya. Oleh karena itu, tahap ini sangat memungkinkan mahasiswa sosiologi untuk mengulangi, antara lain, pelaksanaan ritus. Kemudian, dalam dimensi yang lebih jauh, pengalaman-pengalaman keberagamaan ini tidak memunculkan fenomena pindah agama.

Dan lagi, dimensi keempat, yakni dimensi ritualistik menandai serangkaian ritus keagamaan yang dilakukan mahasiswa sosiologi. Umumnya, ritual yang dilakukan sebagaimana umat pada umumnya. Memang, pelaksanaan ritual ini amat pribadi, tetapi dapat dikatakan bahwa tidak ada bentuk-bentuk ritus yang “menyempal”. Apabila akar sosial pra-mahasiswa sosiologi memengaruhi keberagamaannya, maka meskipun sebagian mahasiswa sosiologi telah terpisah dengan akar sosialnya (kampung halamannya), bentuk-bentuk ritual masih tetap dilaksanakan. Lagi pula, tempat tinggalnya yang baru mengakomodasi pelaksanaan ritus, sehingga turut memelihara pelaksanaan-pelaksanaan ritus. Misalnya, keberadaan masjid tempat melakukan sholat jumat bagi yang muslim.

Kiranya ada sejumlah contoh lain seputar pemeliharaan pelaksanaan ritus yang berarti pula pemeliharaan memori kolektif keberagamaan ini. Ambillah contoh yang ada di sekeliling mahasiswa sosiologi, seperti acara buka puasa bersama yang mereka koordinir, musik religi yang mereka dengarkan, suara azan maupun acara kerohanian yang disiarkan oleh televisi maupun radio, tulisan hari-hari besar keagamaan di kelender, atau apapun yang mudah diakses yang berkaitan dengan keagamaan juga turut memelihara memori kolektif keberagamaan ini.

Kemudian, dimensi yang terakhir, yakni dimensi konsekuensial atau dimensi sosial. Dimensi ini merupakan implikasi dari keberagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Keyakinan bahwa agama memiliki sisi yang mulia, maka dimensi ini sering dikaitkan dengan sebuah pandangan hidup, dalam hal ini sebagai semangat belajar. Akan tetapi, kedua hubungan itu agaknya belum begitu menonjol di kalangan mahasiswa sosiologi. Memang, masih terlalu dini apabila mendasarkan dimensi ini hanya pada etos belajar. Jadi, setiap dari kita yang beragama-lah yang perlu merenungi hal-hal seperti itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar