Jumat, 23 Juli 2010

Tiga Bulan Jadi Wartawan

Gambar diunggah dari sini.
-->
Tiga Bulan Jadi Wartawan
Sebetulnya saya sejak lama ingin menulis judul itu. Keinginan menulis judul itu sejak Desember 2009. Kira-kira Agustus 2009 sampai dengan Oktober 2009 saya menjadi wartawan sebuah radio swasta di kabupaten tempat saya lahir ini. Jadi, selama tiga bulan itu saya mencoba mengenal dunia jurnalistik. Setelah berhenti dari dunia jurnalistik yang singkat itu saya ingin berbagi pengalaman lewat tulisan.
Sebetulnya bukan wartawan, tetapi reporter pada sebuah radio. Memang, perbedaannya tipis. Wartawan umumnya seseorang yang secara aktif mencari berita untuk kantor berita, baik cetak maupun elektronik. Seorang wartawan terikat kontrak kerja dengan kantor tempatnya bekerja. Reporter juga seperti wartawan, tetapi agaknya tidak begitu aktif. Pemilihan kata “wartawan” itu sengaja agar sama dengan “an” pada kata “bulan”.
Ketika itu radio mengumumkan lowongan menjadi reporter freelance. Salah satu syaratnya adalah lulusan strata 1 atau sarjana berbagai jurusan. Peminat yang tertarik diminta membuat surat lamaran dan langsung wawancara. Dalam keragu-raguan, saya pun tertarik dan mengikuti apa yang diminta. Kemudian, pihak radio menelpon apakah saya masih berminat menjadi reporter. Saya pun berminat. Sebagai tindak lanjutnya, saya diminta berkumpul di kantor tempat radio siaran.
Pada hari itulah diadakan perkenalan secara sepintas tentang profil radio. Selain itu, penjelasan secara sepintas dari dua wartawan mengenai dunia jurnalis. Dunia jurnalistik pun termasuk baru bagi saya. Dunia radio juga tergolong sesuatu yang baru bagi saya. Jadi, kedatangan saya saat itu merupakan pengalaman baru bagi saya. Saya mengalami langsung bagaimana dunia radio maupun dunia jurnalis.
Dalam kesempatan itu juga dijelaskan, misalnya reportase untuk radio, gaji atau uang transportasi yang diberikan, maupun pemasaran radio dalam mendapatkan iklan. Gaji saat itu Rp 150.000,- per bulan. Tentu jumlah itu kecil, tetapi radio juga tidak mau ambil resiko dengan menggaji tinggi karyawan yang baru. Saya pun berpikir bahwa betapa susahnya mencari uang sendiri.
Saat itu ada lima orang yang berminat menjadi reporter. Agaknya hanya lima orang itulah yang berminat. Namun, hanya empat orang yang akhirnya mencoba menjadi reporter. Beberapa hari setelah perkenalan itu, dilanjutkan dengan penandatangan kontrak kerja, hitam di atas putih dengan materai Rp 6.000,-. Pasal-pasal dalam ikatan kerja itu dibuat oleh pihak radio. Lalu, sebagai jaminan kerja, pihak radio meminta ijasah asli.
Sekitar satu minggu kemudian, pihak radio membekali reporternya dengan sebuah telepon seluler (ponsel) dengan teknologi CDMA. Ponsel itu pun harus dibeli oleh para reporter dengan harga Rp 125.000,-. Ponsel itu dipakai untuk melaporkan berita oleh reporter. Kemudian, sekitar satu bulan kemudian, para reporter dibekali kartu pers sebagai tanda pengenal.
Profesi reporter sekaligus seorang jurnalis memang tidak semudah yang saya bayangkan. Misalnya, sungguh sulit mendapatkan berita. Waktu itu ada tuntutan dari pihak radio, satu reporter hendaknya melaporkan dua berita. Kesulitan yang sama juga dialami oleh tiga teman saya yang lain. Seorang jurnalis juga harus supel dengan setiap orang. Kepribadian pun harus seiring dengan bidang pekerjaan.
Agar mendapatkan berita, wartawan harus menjalin hubungan dengan pihak terkait dan pihak berwenang. Kantor polisi, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), bahkan warung kopi pun merupakan tempat-tempat mendapatkan berita. Di kantor polisi pun seorang wartawan harus familier dengan polisi, khususnya kepala polisi seperti kepala kepolisian resor (Kapolres) maupun kepala polisi sektor (Polsek).
Singkat kisah, saya hanya tiga bulan menjadi wartawan atau reporter pada sebuah radio. Secara baik-baik saya berhenti dari pekerjaan wartawan karena alasan tertentu. Selang beberapa minggu kemudian, saya mengambil ijasah asli milik saya dan mengembalikan kartu pers. 

1 komentar:

  1. jurnalis atau wartawan adalah panggilan jiwa mas....dan itu tidak bisa secara instan karena hal itu justru akan menyiksa perasaan anda.hal serupa pernah saya alami, itu manusiawi.tapi setelah saya kuliah di jurnalistik sbenarnya hal ini mengasyikan kita bisa menjadi pribadi yang berguna dengan mewartakan berita kepada mereka yang membutuhkan.sekali lagu sesuatu jika sesuai dengan kepribadian dan ditambah ilmu yang sejalan niscaya tak ada yang memberatkan bahkan sebaliknya mengasyikan

    BalasHapus