Jumat, 27 Juni 2014

Pembelajaran Sosiologi Kurikulum 2013



Pembelajaran Sosiologi Kurikulum 2013
            Dalam situs you tube ada contoh pembalajaran sosiologi kurikulum 2013. Video berdurasi sekitar 10 menit itu menggunakan pendekatan saintifik dengan model jigsaw dengan judul Interaksi Sosial. Video diawali dengan siswa masuk kelas dan bersalaman dengan guru. Kemudian, guru menyampaikan materi yang akan dibahas pada saat itu. Guru kemudian mengambil dua contoh, yakni Wendi dan Bella. Ilustrasi pertama, Wendi sedang galau. Wendi lalu pergi ke belakang sekolah untuk menghilangkan kegalauannya. Ilustrasi kedua, Bella sedang rindu pada Agrif. Karena saking rindunya Bella mengambil telepon selulernya dan menghubungi Agrif. Dalam interaksi sosial, tentu saja ilustrasi yang kedua disebut dengan interaksi sosial. Ilustrasi kedua bukan interaksi sosial. Selengkapnya bisa diunduh video tersebut di you tube.
            Ada beberapa hal yang bisa dicatat lagi dari video tersebut. Pembelajaran memang memerlukan kreativitas guru. Termasuk kreatifitas pembelajaran sosiologi. Pengambilan ilustrasi tersebut merupakan bentuk dari kreativitas mengajar. Dalam video tersebut guru juga memakai media LCD. Lengkap beserta layar maupun laptop. Sekilas guru menayangkan video tentang interaksi sosial, yakni sebuah seni teater. Mungkin video itu diunduh dari you tube atau mengopi dari guru lain. Jika video itu unik maka akan menarik bagi siswa. Jadi, video itu selain bisa mendidik juga bisa menghibur. Syukur bisa mengesankan dan bermanfaat bagi siswa. Jika siswa tertawa maka itu salah satu tanda video itu menghibur.
            Dalam video itu saat siswa dibentuk kelompok-kelompok, ada satu laptop di setiap kelompok. Kini, di sekolah tertentu siswa membawa laptop ke sekolah. Kita bisa maklum karena itu pembelajaran model. Jadi, dalam video yang dibuat mirip film itu ada guru model, sekolah model, narasi, musik pengiring, dan lain sebagainya. Jadi, ada skenario yang sebelumnya disiapkan tentang apa yang perlu dilakukan saat direkam. Dalam kenyataannya pembelajaran bergantung pada keadaan masing-masing kelas. Misalnya belum tentu setiap sekolah memiliki fasilitas LCD yang memadai.
            Selama pembalajaran menggunakan model jigsaw itu juga ada sesi mengamati, menanya, mengeksplorasi, mengasosiasi dan mengomunikasikan. Hal itu sesuai dengan tuntutan kurikulum 2014. Jika suatu kelas siswanya aktif maka model pembelajaran akan berlangsung lancar. Akan tetapi, jika siswa sulit untuk aktif maka guru hendaknya bisa menyesuaikan dengan kondisi kelas. Terkadang materi yang terlalu teoritis akan menjemukkan. Misalnya yang teoritis adalah syarat interaksi sosial, yakni kontak sosial dan komunikasi sosial. Karena itu perlu diimbangi dengan materi yang praktis. Contohnya adalah pemilihan ilustrasi interaksi sosial dalam video tersebut. 
Di lingkungan kementerian agama (Kemenag) seperti di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Nganjuk tempat saya mengajar, kurikulum 2013 baru dilaksanakan pada tahun ajaran 2014/2015. Itu pun baru diterapkan pada kelas X. Berbeda dengan lembaga pendidikan di bawah kementerian pendidikan dan kebudayaan (kemendikbud) yang secara bertahap sudah diterapkan pada kelas X tahun pelajaran 2013/2014.
Awal 2013 saya juga sudah menerapkan pembalajaran memakai LCD. Waktu itu saya juga baru memiliki laptop dengan spesifikasi core i3. Sebetulnya spesifikasi laptop tersebut masih mahal bagi saya. Saat itu harganya Rp 4.100.000,-. Belum lagi jika rusak. Setelah setahun, laptop itu pernah saya serviskan karena tidak bisa masuk windows. Ongkosnya Rp 150.000,-. Apalagi harga LCD proyektor Benq MS500P+layar Rp 3 jutaan. Akan tetapi, umumnya LCD difasilitasi oleh sekolah. Saat itu saya pun tidak memakai layar, tetapi memakai papan tulis biasa untuk menampilkan gambar dari LCD.
Saat semester genap itu saya memakai media film. Judulnya CJ7. Tentu pemilihan bahan ajar, termasuk film harus sesuai nilai dan norma pengajaran. Film ini berulang kali diputar di televisi. Saya harus menyewa ke rental CD untuk mendapatkan film yang dibintangi oleh Stephen Cow itu. CD itu lalu saya kopi di laptop saya. Cerita film itu paling cocok dengan materi sosialisasi dan pembentukan kepribadian, pengendalian sosial, perilaku menyimpang. Tidak mudah memilih film yang sesuai dengan materi sosiologi. Baik itu materi kelas X, XI, maupun XII.
Siswa saya putarkan film tersebut selama dua jam pelajaran. Karena dua jam pelajaran terbatas maka harus memotong sejumlah adegan. Dalam nonton bareng itu saya meminta anak menuliskan di selembar kertas. Adegan, kata-kata, sikap manakah yang menunjukkan sosialisasi dan pembentukan kepribadian, pengendalian sosial preventif dan represif, maupun perilaku menyimpang. Kemudian, tugas itu dikumpulkan setelah selesai menyaksikan film.        
Selama menonton secara umum anak-anak cukup terhibur. Bahkan, sejumlah kelas terlihat heboh. Mereka tertawa. Ada sisi edukasi, hiburan, horor, kesedihan, maupun kekonyolan dalam film tersebut. Karena itulah mereka bisa heboh. Seakan-akan dua jam pelajaran bagi mereka terasa berlangsung cepat.
Sebetulnya variasi pembelajaran ini mirip pembelajaran bahasa Indonesia. Dalam pelajaran bahasa Indonesia ada materi meresensi film, mencari pesan sebuah karya, dan lain sebagainya. Namun, bukan berarti variasi pembelajaran sosiologi tersebut menggantikan pelajaran bahasa Indonesia. Justru setiap bidang ilmu saling melengkapi. Penyampaian materi setiap mata pelajaran pun memakai bahasa Indonesia.
Terkait variasi pembelajaran saya terkadang memakai media teka-teki silang (TTS) dengan menggunakan program eclipse crossword. Saya terkadang juga memakai media kuis cerdas cermat. Selain itu, juga disertai tebakan lucu. Misalnya apa persamaan antara gajah dan tiang listrik? Jawabannya sama-sama nggak bisa terbang. Siswa yang dapat menebak serangkaian pertanyaan akan mendapatkan sebuah permen. Penugasan mencari foto di internet juga contoh dari variasi pembelajaran. Terkadang pertemuan tertentu siswa tidak semangat dalam pembelajaran. Namun, cara-cara seperti itu kiranya bisa meredam kejenuhan pembelajaran.
Kita tahu, kurikulum apapun salah satu kuncinya adalah kreatifitas guru. Di tempat saya mengajar saya amati guru-guru cukup kreatif menggunakan media pembalajaran. Pembelajaran menggunakan media tersebut merupakan salah satu variasi dalam pembelajaran. Kemampuan guru untuk menyampaikan materi agar mudah dimengerti juga bentuk kreatifitas. Kemampuan guru menyelipkan humor di pelajaran juga bagian dari kreatifitas. Terkadang guru perlu memosisikan diri sebagai seorang pendidik, pengajar, komedian, motivator, komunikator dan peran-peran yang lain.
Barangkali kreatifitas perlu didukung hal lain misalnya profesionalitas. Jika kreatifitas berhubungan dengan kemampuan menyampaikan materi menjadi menarik dan tidak menjenuhkan, maka profesionalitas ini berhubungan dengan tanggungjawab profesi. Misalnya berusaha tepat waktu saat masuk kelas, absensi masuk kelas dan lain sebagainya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar