Sabtu, 07 Februari 2009

Paguyuban Mitreka Satata


Paguyuban Mitreka Satata

Oleh: Puguh Utomo

Saat itu saya di bangku sekolah menengah atas (SMA) negeri 2 Nganjuk kelas III. Suatu hari SMA didatangi oleh sejumlah mahasiswa dari Universitas Jember (Unej). Mereka hendak briefing tentang dunia kampus. III IPS 3, kelas merupakan satu di antara kelas yang dimasuki. Rata-rata setiap kelas dimasuki oleh satu sampai dua orang mahasiswa. Dengan memakai jas almamater, mereka menerangkan perihal kehidupan kampus layaknya seorang guru.

Dalam satu penjelasannya, seseorang yang masuk di kelas III IPS 3 mengatakan tentang keberadaan paguyuban, yakni semacam perkumpulan mahasiswa dalam satu wilayah. Paguyuban itu biasanya ada di setiap kota tempat perguruan tinggi (PT). Selain hal itu, setiap paguyuban itu memiliki nama masing-masing. Misalnya, di Surabaya mahasiswa asal Nganjuk membentuk diri dalam paguyuban bernama Warga Bayu. Di Bandung bernama Warayang.

Sementara itu, di Jember bernama Mitreka Satata. Konon, briefing tersebut mampu memengaruhi minat siswa untuk memutuskan berkuliah ke Unej. Pada 2003 tercatat ada 16 alumnus SMAN 2 Nganjuk yang memutuskan berkuliah di Unej. Penulis merupakan satu di antara ke 16 tersebut. Kabarnya, jumlah itu merupakan tertinggi dalam sejarah SMAN 2 Nganjuk yang alumninya berkuliah di Unej. Kegiatan briefing itu pun dikoordinasi oleh paguyuban bernama Mitreka Satata.

Mitreka, mitre berarti mitra, rekan, atau teman. Satata, berasal dari bahasa sanskerta, artinya sederajat atau setara. Dengan demikian, Mitreka Satata berarti teman yang setara. Kelahiran Mitreka Satata sendiri diilhami oleh sebuah peristiwa. Saat itu ada mahasiswa asal Nganjuk yang mengalami kecelakaan. Saat itu pihak keluarga yang dari Nganjuk tidak dapat langsung mengurusi si mahasiswa yang mengalami kecelakaan. Kemudian, mengetahui hal itu akhirnya sejumlah mahasiswa asal Nganjuk waktu itu tergerak membantu si mahasiswa asal Nganjuk tersebut. Selanjutnya, sejumlah mahasiswa itu akhirnya berinisiatif membentuk paguyuban bernama Mitreka Satata. Kira-kira itulah sejarah Mitreka Satata yang saat itu diceritakan oleh salah seorang sesepuh Mitreka Satata, yang telah menjadi seorang dosen, saat acara buka puasa bersama, 8 Oktober 2005. Waktu itu, buka puasa bersama di adakan di sebuah rumah, persisnya kantor cabang suatu partai.

Mitreka Satata sendiri memiliki karakteristik layaknya sebuah paguyuban. Keanggotaannya sangat fleksibel sehingga tidak mengikat. Bahkan, lebih bersifat kekeluargaan. Hampir dapat dipastikan bahwa mitreka (untuk menyebut individu dalam Mitreka Satata) berstatus sebagai mahasiswa, khususnya yang berasal dari Kabupaten Nganjuk. Sederhananya, siapapun yang tinggal di Jember dan masih memiliki latar belakang Nganjuk maka dengan sendirinya menjadi bagian dari Mitreka Satata. Seperti disebutkan di atas, latar belakang itulah yang sebetulnya didasari oleh rasa persaudaraan, mendorong terbentuknya paguyuban. Waktu itu, sekretariatnya terletak di kawasan kampus di Jl. Kalimantan. Awalnya, sekretariat berupa bangunan yang memiliki tiga kamar itu merupakan sebuah rumah yang dikontrak oleh lima orang mahasiswa asal Nganjuk. Penghuni kontrakan itu sekaligus koordinator Mitreka Satata saat itu.

Kemudian, setelah masa kontrakan di Jl. Kalimantan habis para penghuninya berpindah ke Jl. Brantas. Mereka tetap menempati rumah kontrakan. Seiring dengan itu, rupanya sekretariat Mitreka Satata juga berpindah ke kawasan Jl. Brantas. Acara buka puasa bersama pada 2008 pun dilaksanakan di rumah kontrakan di Jl. Brantas.

Ada sejumlah kegiatan yang dilaksanakan oleh Mitreka Satata. Di antaranya, kegiatan briefing ke sejumlah sekolah di Nganjuk, seperti di atas. Selain hal itu, juga penyambutan mahasiswa baru asal Nganjuk. Itu dilakukan menjelang tahun ajaran baru, sekitar bulan Juli. Kendatipun tidak dapat menjaring seluruh mahasiswa baru asal Nganjuk, tetapi kegiatan itu merupakan wujud kepedulian seperti antara tuan rumah dan tamu. Kegiatan lainya, yakni acara buka puasa bersama. Ini biasanya juga rutin dilaksanakan sekali setahun di bulan Ramadhan. Acara buka puasa pada 8 Oktober 2005 itu sendiri dihadiri oleh sekitar 40 orang.

Adapun kegiatan lainnya, yakni les Bahasa Inggris yang diikuti oleh kurang dari sepuluh orang. Pertemuan dalam les ini, yakni sekali dalam seminggu. Saat itu, ada seorang pengajar dari sebuah lembaga kursus Bahasa Inggris yang bersedia mengajar. Namun, kegiatan yang ditempatkan di sekretariat Mitreka Satata tersebut hanya berlangsung kurang dari dua bulan.

Kemudian, Mitreka Satata juga pernah mengadakan wisata ke pantai Pasir Putih Malikan (Papuma), kawasan wisata terkenal di Jember selatan. Akan tetapi, itu pun hanya diikuti oleh sebagian orang saja. Di samping itu, sebetulnya ada sejumlah kegiatan yang coba dilaksanakan oleh Mitreka Satata. Akan tetapi, dengan segala keterbatasan akhirnya hanya kegiatan-kegiatan tertentu saja, seperti buka puasa bersama, dapat dijalankan. Bahkan, pernah juga sekitar tahun 2004 Mitreka Satata menyelenggarakan halal bil halal di rumah salah seorang mitreka di Nganjuk.

Ada sejumlah manfaat yang dapat dipetik dari Mitreka Satata. Misalnya, saat ada pertemuan maka itu dimungkinkan antarmitreka bisa saling kenal dan ini merupakan sarana bagi interaksi sosial selanjutnya. Bahkan, jalinan keakraban itu memungkinkan mitreka seperti “di rumah sendiri”. Dari segi sosiolinguistik itu ditandai misalnya kesamaan logat. Itu mengingat jarak kampung halaman mitreka beratus-ratus kilometer. Di samping itu, dengan beragamnya mitreka yang dari berbagai jurusan dan program studi memungkinkan pula saling tukar pengalaman. Kemudian, mengingat mitreka merupakan perantau sehingga di antara mitreka dapat saling membantu satu sama lain. Dalam kaitan itu, satu dua kisah menceritakan bahwa jodoh pun ditemukan dalam Mitreka Satata.

Sungguhpun demikian, itu semua berpulang pada sikap setiap mitreka terhadap Mitreka Satata. Lagi pula setiap mitreka memiliki pilihan masing-masing. Sikap itu misalnya terwujud dari kegiatan-kegiatan yang memungkinkan dijalankan dan bermanfaat bagi mitreka. Hal itu mengingat setiap mitreka juga memiliki aktifitas sendiri baik berkait dengan kuliah maupun aktifitas dalam organisasi lain. Dalam hubungan ini, interaksi sosial mitreka di Jember pun amatlah luas. Setiap mitreka memiliki keinginan untuk membaur dalam lingkup sosial yang lebih luas. Itu terlihat misalnya tempat tinggal mitreka, yakni indekos yang tidak terpusat pada satu tempat tertentu. Kenyataannya, indekos para mitreka cenderung memencar.

Selain itu, perkembangan teknologi dan informasi, misalnya telepon seluler (ponsel), pun memengaruhi sikap seseorang dalam berinteraksi sosial. Memang, asumsi ini masih cukup lemah, tetapi bisa jadi ini pun memengaruhi keberadaan paguyuban Mitreka Satata. Tentu saja bukan menyalahkan perkembangan teknologi dan informasi, tetapi ponsel misalnya, seolah memperpendek jarak dan waktu dalam berkomunikasi. Oleh karena itu, dengan perkembangan teknologi dan informasi tersebut cara berkomunikasi pada sepuluh atau dua puluh tahun silam tentu ada perbedaan dengan masa sekarang.

Mitreka Satata, apa kabar?

Puguh Utomo

(Orang Nganjuk)

Mahasiswa Program Studi Sosiologi

Universitas Jember

5 komentar:

  1. gara2 mitreka satata, Q byk mengenal teman2 dari krtsno+ngajk.supri, mon, reni,ida,eko, pguh,helmi,santi,tigar,yuan,yu2n,nora dll.
    skr gm y kbrnya?
    jd kangen ama mereka2....

    BalasHapus
  2. Terima kasih sudah mampir ke blogku. Mungkin pada "beri komentar sebagai" bisa memilih "Name" untuk ditulisi nama.

    BalasHapus
  3. Salam He eh!
    Berkaitan dengan tulisan Sdr. Puguh tentang Paguyuban Mitreka Satata, ada hal-hal yang patut dicermati, yaitu tentang angle (sudut pandang) tulisan. Angle tulisan tersebut diambil dari pengalaman pribadi penulis yang kebetulan menjadi anggota Mitreka Satata tahun 2003. Jadi, penggambaran atau pendeskripsian Mitreka Satata terbatas pada pengalaman pribadi penulis. Saran dari saya, sebaiknya penulis menambah wawaran dengan alumni Mitreka yang berada dalam kepengurusan dan keanggotaan sebalum tahun 2003. Dengan demikian, wawasan tersebut dapat digunakan untuk melengkapi tulisan yang sudah ada.
    Di samping itu, dalam Paguyuban Mitreka Satata ada salah satu ciri khas, yaitu salam pembuka: “Salam He he!”. Salam tersebut, sepengetahuan saya, selalu disertakan dalam setiap tulisan yang berkaitan dengan dengan Mitrekata Satata, baik itu brosur, surat undangan, maupun surat pemberitahuan. Dalam tulisan saudara Puguh, pada awal tulisan tidak ditulis. Saran saya, salah “he eh” tersebut ditulis untuk menunjukkan identitas Paguyuban Metreka Satata. Terlebih lagi jikalau dikaitkan dengan sosiolinguistik yang saudara tulis.
    Komentar saya lagi, mohon disertakan nama 2 pengurus Mitreka, minimal ketua umum, untuk mengingat alumni Mitreka yang sudah membesarkan dan mempertahankan Paguyuban Mitreka Satata agar tetap exist seperti paguyuban mahasiswa dari daerah lain. Terima kasih.
    Briliantoko B. Wicaksono
    Mantan Sekretaris Umum Mitreka Satata
    Periode 2002-2003

    BalasHapus
  4. wong wates yoooo 1!!!!

    BalasHapus
  5. Yoi, saya orang Wates. Dengan siapa ya...

    BalasHapus