Rabu, 04 Februari 2009

Pengalaman dengan Sepur

Pengalaman dengan Sepur

Oleh: Puguh Utomo

Kata “sepur berasal dari bahasa Belanda, spoor. Karena alasan tertentu dalam pengindonesiaan kata, akhirnya spoor diindonesiakan menjadi sepur. Dalam sejarahnya, kata sepur itu berkait dengan penjajahan Belanda terhadap Indonesia silam. Hal itu mengingat transportasi darat tersebut mulai dikenalkan di Indonesia sejak tahun 1864 oleh Belanda. Dalam kaitan itu, saya menjumpai rel untuk lori (gerobak yang berjalan di atas rel) di Desa Ngumpul. Desa Ngumpul terletak di sebelah barat daya dari kampung halaman saya dan berjarak kurang dari lima kilomoter. Baik kampung halaman saya maupun Desa Ngumpul masih berada dalam satu kecamatan, yakni Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Menurut orang-orang setempat, rel atau mereka menyebutnya lori itu merupakan peninggalan Belanda. Jadi, pembangunan sepur tidak dapat dilepaskan dari masa penjajahan Belanda. Rel untuk lori tersebut ukuran relnya lebih kecil daripada rel sepur untuk penumpang. Namun, lori yang terletak di tengah-tengah perkebunan kayu putih yang daunnya sebagai bahan baku minyak kayu putih itu sudah tidak dipakai lagi. Akan tetapi, relnya masih tetap menancap sampai sekarang. Hal itu berbeda dengan lori yang ada di sebuah wilayah di Kabupaten Lumajang seperti yang pernah saya jumpai. Di wilayah tersebut lori masih dipakai untuk mengangkut batang tanaman tebu.

Selain sepur, juga dikenal nama kereta api (KA). Media massa seperti televisi, koran, dan radio cenderung memakai kata KA. Misalnya, dalam pemberitaan arus mudik lebaran maupun kecelakaan yang menimpa transportasi massal tersebut. Namun, di wilayah Kecamatan Bagor ada sebuah perlintasan KA yang pada tiang rambunya masih tertulis sepur dan spoor. Perlintasan KA yang tak berpalang pintu dan pernah meminta nyawa tersebut berjarak sekitar lima kilometer dari kampung halaman saya. Dengan kata lain, baik spoor, sepur maupun kereta api sama saja. Hanya saja kata sepur lebih akrab di telinga orang-orang di kampung halaman saya yang notabene pedusunan.

Dulu, antara tahun 1991 sampai dengan tahun 1997, saat masih duduk di sekolah dasar (SD) saya biasanya dapat melihat sepur dari jarak sekitar empat kilometer. Dari jarak itu, KA terlihat kecil seperti ulat. Namun, dari jarak itu suaranya masih terdengar cukup jelas. Jangkauan penglihatan itu sangat memungkinkan sebab saya melihatnya dari gubuk, di hamparan sawah yang ditanami padi sehingga tidak menghalangi penglihatan. Biasanya KA melintas di pagi hari. Saat itu, saya berpikir kira-kira kapan saya bisa melakukan perjalanan dengan KA.

Kemudian, antara tahun 2003 sampai awal tahun 2008, angan-angan saya terkabul, sampai-sampai sudah tidak bisa menghitung secara pasti sudah berapa kali naik sepur dalam perjalanan Nganjuk-Jember. Perjalanan itu demi kepentingan studi akademis ke Universitas Jember. Kalau diperkirakan dalam setahun rata-rata saya mudik sebanyak tiga kali. Sementara sekarang saya sudah hampir enam tahun berada di Jember. Oleh karena itu, kira-kira saya sudah enam belas kali (pulang pergi) naik KA dalam perjalanan Nganjuk-Jember. KA yang saya naiki, yakni KA kelas ekonomi, yakni KA Sri Tanjung dan KA Logawa. Akan tetapi, KA Logawa merupakan yang sering saya naiki meskipun harga tiket Logawa Rp 23.000,00 lebih mahal Rp 2.000,00 daripada KA yang diambilkan dari nama seorang ratu pada kerajaan Blambangan dalam sejarah Kabupaten Banyuwangi tersebut.

Meskipun KA kelas ekonomi, tetapi saya merasakan ada beberapa kelebihan menggunakan jasa transportasi massal ini. Pertama, KA tidak membuat saya mabuk darat selama perjalanan Nganjuk-Jember yang memakan waktu sekitar tujuh jam itu. Berbeda dengan itu, saya biasanya pusing dan mual-mual yang merupakan gejala mabuk darat jika naik bus meskipun bus ber-AC. Di samping itu, tarif sepur untuk perjalanan Nganjuk-Jember lebih murah sekitar 50% daripada tarif bus. Bus Nganjuk-Jember ongkosnya bisa sampai Rp 50.000,00. Kemudian, meskipun ini relatif, tetapi ada anggapan bahwa naik KA lebih aman dibandingkan dengan transportasi massal yang lain.

Di samping itu, ada sejumlah ketidaknyamanan jika naik KA, khususnya kelas ekonomi. Pertama, jadwal keberangkatan KA lebih mengikat. Dan lagi, kerapkali di stasiun Nganjuk, jadwal kedatangan maupun keberangkatannya tidak sesuai dengan jadwal di papan jadwal. Misalnya, jadwal kedatangan KA Logawa untuk tujuan Jember di Stasiun Nganjuk pukul 13.45, tetapi KA Logawa bisa datang pukul 14.45. Itu pula yang membuat perjalanan dengan KA relatif lebih lama dibandingkan dengan bus. Biarpun demikian, itu rupanya dianggap hal yang wajar. Umumnya, penumpang, seperti halnya saya lebih memikirkan perjalanan tersebut bisa selamat sampai tujuan. Namun, itu berbeda dengan keberangkatan Logawa yang dari Stasiun Jember, yakni pukul 05.00 tepat. Itu pun dikarenakan Logawa telah berada di Stasiun Jember.

Kedua, untuk KA kelas ekonomi seperti Logawa terkadang ada bau anyir terlebih dari setiap kamar kecil yang terletak di setiap sambungan gerbong. Ketiga, suara KA cukup bising bagi indera pendengar. Cat di dalam KA yang kurang terang pun membuat suasana di dalam KA tampak kusam. Bahkan, celah-celah sempit pada dinding kereta bagian dalam dihuni oleh kecoa yang biasanya keluar saat malam hari. Kemudian, pada masa-masa tertentu seperti lebaran, maka selalu sesak penumpang. Suatu ketika, pada masa itu saya pernah berdiri berjam-jam di sambungan KA, sampai Stasiun Wonokromo, Surabaya. Memang, dalam KA kelas ekonomi itu penumpang tidak bisa berharap banyak mendapatkan layanan yang istimewa.

Dalam pada itu, ada pengalaman-pengalaman tersendiri setelah berkali-kali naik KA. Selama naik KA yang melewati satu stasiun ke stasiun selanjutnya, membuat saya berpikir-pikir tentang stasiun. Keadaan setiap stasiun di setiap kabupaten atau kota seakan jendela untuk melihat keadaan kabupaten tempat stasiun itu berada. Keadaan itu terlihat misalnya dari jumlah jalur kereta, jumlah kios dalam stasiun, maupun arsitektur stasiun. Misalnya, keadaan Stasiun Nganjuk seolah-olah menunjukkan bagaimana keadaan kebupaten yang digolongkan ke dalam wilayah mataraman tersebut. Demikian juga dengan keadaan Stasiun Gubeng di Kota Surabaya seakan menampakan bagaimana keadaan Kota Pahlawan tersebut.

Adapun kelas ekonomi, kelas bisnis, dan kelas eksekutif dalam KA pun mencerminkan stratifikasi sosial dalam masyarakat. Memang, pihak perseroan terbatas kereta api (PT KA) pun akan berpikir ekonomis sehingga ada kelas-kelas dalam KA meskipun masih ada ketidakjelasan antara perkeretaapian merupakan pelayanan publik atau murni bisnis. KA kelas ekonomi, misalnya harga tiketnya lebih murah dibandingkan dengan kelas bisnis, apalagi kelas eksekutif. Dengan harga tiket itu, KA kelas ekonomi, misalnya tidak menyediakan tirai untuk jendela KA seperti pada KA kelas bisnis maupun eksekutif. Kendatipun demikian, petugas stasiun yang biasanya memberitahu kedatangan maupun keberangkatan KA tidak membedakan KA kelas ekonomi, bisnis maupun eksekutif. Petugas stasiun dengan alat pengeras selalu mengatakan semua kelas KA sebagai KA ekspres.

Demikian juga pengalaman saya dengan sejumlah penumpang KA. Biasanya dalam perjalanan sekitar sepertiga hari itu saya berbincang-bincang dengan penumpang dari berbagai latar belakang. Misalnya, latar belakang mahasiswa, guru sekolah dasar (SD), pegawai toko buku, dan pelajar. Perbincangan itu biasanya dimulai dengan pertanyaan akan turun ke mana. Akan tetapi, seperti yang saya rasakan, dalam transportasi umum seperti KA, tidak semua penumpang terbuka terhadap suatu perbincangan. Akan tetapi, mereka yang lebih terbuka terhadap perbincangan biasanya menceritakan pengalaman-pengalaman hidupnya.

Di samping itu, KA pula yang menunjukan kepada saya, betapa tak sedapnya bau lumpur Lapindo yang menyembur sejak tahun 2005 di wilayah Sidoarjo. Saya menjadi salah satu saksi mata di antara jutaan saksi mata lainnya tentang keberadaan lumpur yang menenggelamkan puluhan desa tersebut. Saat KA melintas di kawasan semburan lumpur, tampak di sisi KA ketinggian tanggulnya mengalahkan tinggi atap KA. Saat terakhir saya melintasinya, tanggul penahan lumpur itu telah ditumbuhi rerumputan.

Sementara itu, KA kelas ekonomi seperti Logawa itu merupakan satu gambaran telaga kehidupan. Maklum, di sana pun terjadi perputaran modal. Di sana ada pedagang makanan, minuman, buah, alat dapur, buku, koran, tabloid, dan lain sebagainya. Ada pula pedagang peci, alat tulis, mainan anak-anak, sampai pedagang pulsa telepon seluler. Ada cleaning service, jasa persewaan bantal, sampai jasa pengharum ruangan untuk KA. Ada pengamen dan ada peminta-minta. Bahkan, terkadang ada bandit.

Puguh Utomo

Mahasiswa Program Studi Sosiologi

Universitas Jember

2 komentar:

  1. bagaimana klo kt Penulis" diganti dengan "saya"
    kyaknya kok gk nyaman...
    cm usul :)

    BalasHapus
  2. Terima kasih atas komentarnya. Dalam karya ilmiah, kata "penulis" biasanya cenderung dipakai daripada kata "saya". Oleh karena itu, saya lebih memilih kata itu. Memang, saya sadar bahwa pengulangan kata "penulis" membuat tulisan itu membosankan. Sekali lagi, terima kasih banyak atas komentarnya dan akan saya pertimbangkan.

    BalasHapus