Minggu, 14 Juni 2009

Facebook

Facebook

Oleh: Puguh Utomo

Facebook (fb). Kiranya fb itu sulit dicarikan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Apabila itu secara mentah-mentah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maka menjadi “wajah buku”. Tentu saja terjemahan itu kurang pas. Namun, fb itu tampaknya tidak perlu diterjemahkan sebab nama dari bahasa Inggris itu sudah cukup akrab khususnya bagi penggunanya. Ada gula, ada semut. Di tengah-tengah kesenjangan teknologi informasi, saat ini situs jejaring sosial yang ditemukan oleh Mark Zuckerberg itu menarik perhatian banyak orang.

22 April 2009 saya mendaftarkan diri sebagai pengguna fb. Saat itu ada seorang teman yang mengirim surat elektronik, mengajak agar bergabung dalam fb. Sebetulnya itu bukan pertama kali saya diajak oleh teman saya agar bergabung dalam situs pertemanan. Sebelumnya beberapa teman juga menyarankan agar saya masuk ke fb. Sejumlah media baik elektronik maupun cetak juga memberitakan bahwa fb sedang populer. Bahkan, fb juga digunakan oleh para para politisi bertepatan dengan kampanye dalam pemilihan umum (pemilu) 2009, khususnya pemilu legislatif. Kemudian, baru setelah saya menerima surat elektronik itu saya segera mendaftarkan diri ke situs jejaring sosial tersebut.

Di samping itu, sejak akhir November 2009 saya juga bergabung di situs jejaring sosial lainnya bernama blog. Waktu itu ada seorang teman yang juga seorang penulis membuatkan saya sebuah blog. Umumnya sejumlah penulis memanfaatkan blog ini untuk mempublikasikan gagasannya dalam bentuk tulis. Dibandingkan dengan fb, blog ini lebih sepi pengguna. Oleh karena itu, saya berniat mempertautkan isi blog dengan fb.

Antarsitus pertemanan pun juga terjadi kompetisi. Saling geser-menggeser antar situs menjadi hal yang wajar. Barangkali fb suatu saat nanti juga akan ada yang menggesernya. Bagaimana pun juga penggunaan fb juga bagian dari budaya pop yang dalam kurun waktu tertentu akan berubah. Namun, dapat dicatat bahwa kebutuhan akan hubungan sosial antara satu orang dengan orang lainnya akan senantiasa tetap. Di samping itu, pada dasarnya fb sebagai alat juga merupakan barang konsumsi. Semakin lama suatu barang dikonsumsi maka nilai kepuasannya akan semakin berkurang, terkecuali mungkin internet itu sendiri sebagai mediasi yang tampaknya nilai kepuasannya akan bertahan lama.

Sebetulnya saya sudah lama mengetahui fb lewat koran dan televisi sebagai situs jejaring sosial, sedangkan fb sendiri oleh Mark mulai dikembangkan sejak awal 2004. Namun, saya sempat menilai bahwa fb itu mirip chatting lewat internet yang dulu juga sempat populer. Saya menilai bahwa chatting itu hanya membuang-buang waktu, tenaga, dan biaya. Oleh karena itu, chatting itu merupakan pekerjaan yang sia-sia dan hanya membuat ketagihan. Sampai sekarang saya hanya sekali memakai chatting dan itu pun saya diajak oleh seorang teman pada 2003.

Kemudian, begitu saya terdaftar di fb, saya segera mencoba fasilitasnya. Pertama kali saya saya mencari pengguna fb lainnya. Itu saya lakukan dengan mengklik nama Sekolah Menengah Umum (SMU) pada profil yang telah saya tulis. Betapa tercengangnya saya sebab dalam dunia maya itu ada beberapa teman SMU yang saya kenal. Sebagian besar di antaranya telah memasang foto diri masing-masing dengan pose yang berbeda-beda.

Saya pun akhirnya mengakui bahwa fb bisa membuat ketagihan meskipun saya belum banyak tahu aplikasi yang dimiliki oleh fb. Belum ada seminggu bergabung di fb rasanya sudah ingin membuka lagi fb. Di sana saya dapat menemukan teman-teman di SMU maupun saat kuliah. Reuni pun dapat berlangsung di fb, tetapi agaknya saya sangat sulit menemukan teman-teman SMP, SD, apalagi TK. Di dalam fb itu pula, saya membaca ungkapan-ungkapan teman-teman dalam bentuk tulisan yang unik-unik.

Terkadang saya berpikir bahwa ungkapan-ungkapan itu sungguh di luar dugaan saya. Misalnya, ada seorang teman SMU yang kemudian bisa mengungkapkan pikiran yang cukup unik di fb itu. Memang, psikologi seseorang juga mengalami perkembangan dan ini pun tercermin dari setiap ungkapan dalam fb. Pandangan setelah lulus kuliah, misalnya, akan berbeda dengan pandangan saat masih duduk di bangku SMU. Akan tetapi, mengapa itu dulu tidak terjadi misalnya lewat media majalah dinding (mading) yang ada di SMU? Itu mengingat jika antara mading dan fb sama-sama media. Boleh jadi, inilah kelebihan dari internet tempat fb berkembang biak.

Di antara fasilitas yang ditawarkan oleh fb, perlakuan dari pengguna fb pun tak dapat diabaikan. Secanggih apapun fb jika tidak ada perhatian dari penggunanya, manusia, fb pun akan sia-sia. Inilah yang membuat suatu penemuan perlu menyesuaikan dengan kebutuhan aktual dari manusia. Di fb itu seseorang bisa mengungkapkan hati dan pikiran, misalnya lewat tulisan. Maka dari itu, fb itu ibarat diary on line. Di samping itu, fb juga menawarkan fasilitas seperti publikasi foto, video, dan entah apa lagi aplikasi yang ditawarkan oleh fb.

Bisa jadi dalam situs jejaring sosial yang membuat penemunya menjadi jutawan itu merupakan kenyataan simbolik yang berbeda dengan kenyataan sehari-hari dalam arti pertemuan langsung dengan tatap muka. Memang, interaksi sosial dalam dunia maya menghasilkan kesan tersendiri dibandingkan dengan interaksi sosial di dunia nyata. Terkadang ada beberapa hal yang memungkinkan dapat disampaikan di dunia maya. Akan tetapi, sulit disampaikan dalam pertemuan fisik dan sebaliknya. Berkenaan dengan itu, sekarang ada pandangan bahwa perbedaan di antara dua dunia itu amatlah tipis. Bahkan, dunia maya pun telah sanggup memperpendek ruang dan menghemat waktu serta memungkinkan terciptanya interaksi antarmanusia yang lebih rumit dan lebih cepat karena efek berantainya. Kelahiran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) bisa jadi menandai hal itu.

Kemudian, kira-kira pertengahan Mei ini muncul pemberitaan dari media khususnya dari kalangan agamawan yang mengharamkan fb. Karena pandangan itu masih bersifat lokal maka bisa jadi pandangan itu tidak mewakili pandangan seluruh agamawan. Tentu saja “pengharaman” itu tidak perlu dimaknai secara mentah-mentah. Pandangan itu mencerminkan bahwa agama masih berperan sebagai sumber moral bagi manusia.

Bagaimanapun juga fb sebagai alat, memiliki sisi positif dan bisa juga memiliki sisi negatif. Itu terungkap dari sejumlah fakta atas akibat dari penggunaan fb. Tentu sisi-sisi itu tidak bisa dilimpahkan ke penemu fb. Fb sendiri sudah mengalami massalisasi dan tidak bergerak atas kemauannya sendiri, tetapi digerakkan dari satu tangan ke tangan lainnya. Terkait dengan itu, ada beragam karakter maupun kepentingan dari setiap individu maupun kelompok atas situs jejaring sosial tersebut.

Puguh Utomo

Alumnus Prodi Sosiologi,

FISIP, Universitas Jember

4 komentar:

  1. From WAWAN dI Kota Jambi wah guh kayaknya DENGAN KEMAJUAN zaman kita harus ikut arus yang positif tentunya, jadi have nice day and goodluck ya??? semoga hari-hari kita semua memperoleh hasil yang terbaik,,,,eit jangan terpengaruh ama dunia yang glamour, an serba edan ini. ingat... ya???? salam buat semuanya piss....heee.heeee by wawan suprianto, S.Sos.

    BalasHapus
  2. jadikan facebook untuk media dakwah islam !

    BalasHapus
  3. Terima kasih atas semua komentar. Peace jg, Wan.

    BalasHapus
  4. Maaf, postingan kali ini paragrafnya tak tertata. Di warnet saya sudah berusaha menatanya, tetapi gagal.

    BalasHapus