Rabu, 24 Juni 2009

Pasien untuk Klinik FKG

Pasien untuk Klinik FKG


Saya beruntung saat itu bisa berteman dengan mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), Universitas Jember. Pada 2003 di tempat saya indekos yang saat itu dihuni oleh hampir 30 mahasiswa tersebut, di dua bangunan indekos, enam di antaranya mahasiswa FKG. Saat itu saya merupakan satu di antara dua mahasiswa dari ilmu noneksak yang indekos di situ. Saya sendiri dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), sedangkan yang satunya lagi dari Fakultas Ekonomi (FE). Di samping itu, saat itu saya merupakan satu-satunya anak kos yang menggunakan sepeda angin untuk pergi kuliah. Sebagian besar menggunakan motor dan sebagian lagi berjalan kaki.

Sisanya berasal dari ilmu eksak seperti dari Fakultas Pertanian, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Fakultas Teknik, Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), dan Fakultas Farmasi. Dari beragam fakultas itulah saya dapat mengetahui sedikit tentang mahasiswa dari fakultas lain. Di samping itu, di indekos itu saya mengenal orang dari beragam karakter, beragam latar belakang keluarga, beragam agama, beragam etnik, dan lain sebagainya.

Khusus untuk teman-teman FKG saya sebelumnya tidak tahu jika saat mereka ada di semester akhir dan memasuki masa klinik di fakultasnya maka mereka mencari pasien untuk tugas klinik. Kebutuhan akan pasien sendiri cukup beragam. Mulai dari pasien cabut gigi, karang gigi, pasien jembatan gigi, kawat gigi, dan lain sebagainya. Perawatan oleh mahasiswa FKG terhadap pasien-pasien tersebut memang kewajiban dalam sistem akademis keprofesian kedokteran gigi.

Tulisan ini sekadar kilas balik pengalaman penulis selama tinggal satu indekos dengan mahasiswa FKG. Penulis sendiri tidak memiliki latar belakang pendidikan formal kedokteran. Oleh karena itu, tulisan ini bukan penjelasan medis. Persisnya sejak Agustus 2003 sampai Februari 2005 penulis tinggal satu indekos dan berteman dengan mahasiswa FKG. Kemudian, Februari 2005 saat penulis pindah indekos, penulis satu indekos lagi dengan mahasiswa FKG sampai Februari 2008.

Berkenaan dengan itu, hubungan antara mahasiswa FKG yang masuk klinik dengan pasiennya menarik untuk dicatat. Di satu sisi status pasien itu berbeda dengan pasien pada umumnya. Misalnya, pasien yang dalam status perawatan mahasiswa FKG maka si pasien tidak perlu mengeluarkan uang sebagaimana pasien yang datang sendiri ke praktik dokter gigi. Sementara itu, tujuan mahasiswa FKG untuk perawatan di klinik tersebut semata-mata tidak bertujuan komersial. Sungguhpun demikian, dengan keberadaan Rumah Sakit Gigi dan Mulut di FKG maka juga ada pelayanan tertentu terhadap pasien.

Saya pun pernah menjadi pasien dari seorang teman, mahasiswa FKG. Kira-kira pada awal 2004 saat itu saya menjadi pasien karang gigi. Olehnya, saya dibawa ke klinik FKG. Tepatnya di ruangan berbentuk aula dan di situ ada puluhan kursi khusus untuk pasien gigi. Sementara itu, terlihat orang-orang dengan berjas putih yang sebagian terlihat memeriksa pasien di kursi khusus tersebut. Dalam hubungan ini, sebelumnya saya tidak begitu tahu bahwa karang gigi dapat merusak gigi. Kesalahan saya, yakni tidak membiasakan diri menyikat gigi secara teratur, khususnya sebelum tidur pun turut andil dalam pembentukan karang gigi tersebut. Sejak itu saya berusaha membiasakan diri menggosok gigi, terutama sebelum tidur malam.

Pada dasarnya siapa saja bisa menjadi pasien di klinik FKG. Mahasiswa, pelajar, anak-anak, orang tua, dan lain sebagainya bisa menjadi pasien selama profil giginya sesuai untuk perawatan di klinik FKG. Meskipun demikian, beberapa hal yang patut dicatat. Umumnya mahasiswa FKG sendiri mencari pasien sesuai dengan kewajiban di klinik. Terkadang beberapa mahasiswa FKG sampai perlu mencari pasien di luar kawasan kampus. Oleh karena itu, terkadang tidak mudah untuk mendapatkan pasien untuk klinik.

Walaupun demikian, ada juga perantara pasien untuk dirawat di klinik FKG. Perantara ini bekerja mencari pasien untuk mahasiswa FKG untuk dirawat di klinik. Kira-kira tahun 2007 akhir, seorang teman, mahasiswa FKG pernah bercerita bahwa jika memakai jasa perantara maka harus keluar uang untuk perantara, bahkan mahasiswa FKG juga musti mengeluarkan uang untuk si pasien. Jika ditotal, untuk seorang perantara dan seorang pasien, mahasiswa FKG bisa mengeluarkan Rp 30.000,00 untuk sekali datang ke klinik. Tentu saja setiap calon dokter gigi ini pengalamannya berbeda-beda dalam mencari pasien maupun perawatan terhadap pasien.

Keberadaan perantara pasien pun bisa dilematis. Di satu sisi perantara bisa mencarikan pasien sesuai dengan profil yang diinginkan oleh mahasiswa FKG. Namun, perantara pun juga menginginkan imbalan atas pasien-pasien yang telah didatangkan. Dalam beberapa kasus, perantara bisa saja memengaruhi atau bahkan mungkin berkonspirasi dengan pasien untuk mendapatkan imbalan tertentu, misalnya uang, dari mahasiswa FKG. Bahkan, menurut cerita, kontrol perantara terhadap pasien bisa lebih besar daripada mahasiswa FKG sendiri. Akhirnya, yang terjadi adalah komersialisasi pasien. Di tengah-tengah pengabdian mahasiswa FKG dan tugas mulia yang diembannya, komersialisasi tersebut tentu kurang menguntungkan.

Kemudian, saat mahasiswa FKG di klinik untuk merawat pasiennya, di samping berinteraksi dengan pasien, mahasiswa FKG juga berinteraksi dengan dosen, yakni di bawah pengawasan dosen FKG. Terkait dengan itu, kedokteran dengan sasaran manusia pun memerlukan standar teknis yang ketat. Kemudian, agar proses perawatan itu berjalan lancar maka perlu ada saling kerjasama, baik antara mahasiswa FKG maupun si pasien.

Terlebih profesionalitas dari mahasiswa FKG. Dengan kata lain, perlu ada kesepakatan-kesepakatan selama perawatan di klinik tersebut. Meskipun dalam perawatannya pasien tidak membayar, tetapi terkadang pasien bisa melarikan diri. Caranya dengan cara tidak datang ke klinik lagi untuk perawatan selanjutnya, padahal perawatan belum selesai. Terkadang satu dua pasien merasa ketakutan selama perawatan di klinik tersebut.

Sebagaimana telah ditulis di atas, dalam proses perawatan itu, pasien tidak membayar biaya untuk perawatan di klinik FKG. Justru mahasiswa FKG yang membayar untuk klinik seperti sejumlah alat dan bahan yang diperlukan untuk perawatan. Alat-alat kedokteran pun harganya terbilang mahal sebab sebagian besar masih impor. Sejumlah teman-teman FKG pun mengatakan bahwa selama di klinik ini mahasiswa FKG membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Sebetulnya antara pasien dan mahasiswa FKG saling membutuhkan. Di satu sisi pasien memerlukan perawatan terhadap giginya, sedangkan mahasiswa membutuhkan pasien untuk tugas akademis sekaligus praktik langsung di klinik. Seringkali mahasiswa FKG bertanggungjawab terhadap pasiennya. Misalnya, menjemput pasien dari rumahnya atau memulangkan pasien dari klinik. Selain itu, juga tanggung jawab mahasiswa FKG selama berlangsungnya perawatan di klinik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar