Senin, 06 Juli 2009

Aku Dulu IPS

Aku Dulu IPS

Oleh: Puguh Utomo


Dalam tes intilegent quotion (IQ) pada pertengahan tahun 2000 itu aku mendapatkan skor 96. Hasil tes yang diberikan agak lama setelah pelaksanaan tes itu tertulis di selembar kertas. Tes yang dikoordinasi oleh sebuah lembaga psikologi terapan itu sendiri dilaksanakan di awal-awal aku masuk di jenjang Sekolah Menengah Umum (SMU) yang konon favorit di kabupaten Nganjuk. Tujuan utama dari tes itu, yakni mengetahui potensi diri siswa dalam hal penjurusan. Apakah seorang siswa cocok di jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), maupun jurusan bahasa. Kemudian, skor 96 itu menyarankan agar aku memilih program IPS.

Tentu saja peserta tes IQ itu tidak hanya aku saja. Setiap siswa kelas satu yang terdiri dari sembilan kelas diwajibkan mengikuti tes tersebut. Hasil tesnya pun bervariasi. Di kelas tempat aku sendiri ada yang mendapatkan skor di bawah 100, tetapi ada juga siswa yang mendapatkan skor di atas 120. Waktu itu ada seorang teman sekelas yang heran dengan skornya. Entah saat itu berapa skornya, tetapi berdasarkan skor itu disarankan agar masuk ke program IPS. Padahal, dia mampu masuk ke program IPA. Tidak hanya aku, tetapi teman-teman yang lain pun mengakui bahwa dia sangat layak untuk masuk IPA.

Ternyata itu menandai bahwa hasil tes itu merupakan prediksi. Itu karena suatu hari saat masuk kelas III, teman aku itu masuk ke jurusan IPA. Bahkan, di kemudian hari dia lolos dalam seleksi yang tahun 2003 saat itu bernama Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) di sebuah institut teknologi ternama di Indonesia.

Aku pun berbesar hati menerima saran untuk masuk ke program IPS. Maklum, nilai pelajaran eksak seperti matematika, fisika, kimia tergolong rendah, yakni 6. Angka 6 itu sesungguhnya hasil pembulatan oleh guru. Jika ditelusuri lagi maka sebetulnya bisa di bawah angka 6. Kemudian, jika dipikir-pikir lagi maka mata pelajaran biologi termasuk kelompok eksak. Namun, saat kelas 1 (sejak 2007 berubah nama menjadi kelas 10, 11, dan 12 mengikuti urutan dari kelas 6 Sekolah Dasar) nilai biologi di rapot aku selalu 7. Mungkin itu karena biologi waktu itu dominan berupa pelajaran hafalan.

Aku juga sadar bahwa aku siswa yang bodoh. Setidak-tidaknya aku menilai diri aku sendiri waktu itu seperti itu. Sekarang pun aku juga masih menilai diri aku sendiri seperti itu. Namun, nasihat bijak mengatakan bahwa jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Tidak ada siswa yang bodoh. Dalam hubungan ini, sejak kelas 1, saat ada kegiatan belajar mengajar dengan jadwal mata pelajaran matematika, fisika, dan kimia maka terasa memberatkan. Pelajaran-pelajaran tersebut tidak menyenangkan. Aku sangat kesulitan dan tidak mengerti dengan pelajaran-pelajaran tersebut. Akhirnya, setiap ulangan catur wulan nilai mata pelajaran tersebut di rapot kelas 1 tertulis angka 6 dan pernah sekali dinilai 5, sementara sebagian teman yang lain mendapatkan nilai 8.

Sebetulnya aku tidak hanya kesulitan pada mata pelajaran eksak itu saja. Mata pelajaran yang lain pun juga kesulitan. Khususnya ekonomi dan/atau akuntasi. Dengan kata lain, segala sesuatu yang berhubungan dengan angka-angka saat SMU itu maka nilainya selalu di bawah standar. Aku pun berpikir bahwa akan menjadi apa aku nantinya jika kenyataannya seperti itu! Sekali lagi bahwa mata pelajaran yang lain yang noneksak pun saya juga kesulitan. Akan tetapi, nilainya masih di atas standar, yakni 7.

Memang, di antara kelebihannya, itu sekadar penilaian semata. Artinya, penilaian itu hanya satu indikasi untuk mengetahui potensi individu. Terkait dengan itu, kiranya mengeluh saja itu bukan pilihan yang cerdas. Lagi pula, sisi-sisi kehidupan tidak sepenuhnya bergantung pada kecerdasan penalaran angka-angka tersebut. Teori pendidikan pun mengatakan bahwa setiap siswa memiliki bakat dan potensi masing-masing. Paling tidak itu akan terjadi pada satu dua individu. Tentu saja aku tidak mengklaim diri bahwa aku memiliki bakat dan potensi tersebut.

Kemudian, keadaan saat kelas 2 pun seperti kelas 1. Setiap pelajaran yang berhubungan dengan angka-angka seperti matematika, fisika, kimia, dan ekonomi/akuntasi sungguh sangat sulit saya nalar. Fisika dan kimia saya pernah dapat nilai 5 di rapot. Bahkan, saat itu seorang guru fisika berpendapat bahwa di kelasku kesenjangan daya tangkap siswa terhadap mata pelajaran fisika cukup jauh. Artinya, ada beberapa siswa yang mendapatkan nilai sangat baik, tetapi ada pula siswa yang mendapatkan nilai sangat kurang pada mata pelajaran tersebut. Aku termasuk siswa yang mendapatkan nilai kurang.

Di kelas 2 inilah kesibukanku bertambah sebab aku bergabung dengan salah satu organisasi ekstrakurikuler. Kala itu aku menjadi salah seorang pengurus. Cerita mengenai organisasi ini dapat dibaca di tulisanku dalam blog ini yang berjudul Majelis Taklim SMUDA Nganjuk. Terkadang ada perasaan minder saat aku tidak pandai dalam mata pelajaran yang berhubungan dengan angka-angka tersebut. Seperti pernah diceritakan bahwa mereka yang aktif di organisasi maka kemampuan akademis, termasuk kemampuan dalam setiap mata pelajaran seyogianya sesuai standar. Tentu itu tidak bisa aku penuhi. Namun, aku berusaha tetap menerima kemampuanku itu.

Kemudian, di penghujung kegiatan belajar mengajar (KBM), sebelum naik kelas 2, setiap siswa diberi kuesioner terkait dengan pemilihan program. Seingatku, dalam kuesioner itu hanya ada satu pertanyaan dan dua pilihan jawaban. Apakah siswa ingin masuk program IPS, IPA, ataukah bahasa. Saat itu ada seorang teman menyarankan jika ingin masuk IPS maka sebaiknya pilihan pertama IPA dan pilihan kedua IPS. Saran itu pun aku turuti dengan berharap aku bisa masuk IPS.

Akhirnya, aku pun masuk program IPS. Itu sesuai dengan saran dari hasil skor tes IQ. Di bandingkan dengan kelas 1 dan kelas 2, di kelas 3 ini aku relatif lebih ringan dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Paling tidak di kelas 3 ini tidak ada angka 6 di rapot dan di rapot dominan nilai 8. Agaknya aku sangat cocok masuk di program IPS ini. Akan tetapi, sama seperti kelas 1 dan kelas 2, pelajaran yang berkenaan dengan angka, di kelas 3 ini masih menjadi hal utama yang sangat sulit aku nalar.



Puguh Utomo

Alumnus Prodi Sosiologi

FISIP, Universitas Jember

Tidak ada komentar:

Posting Komentar