Jumat, 17 Juli 2009

Tokek...Tokek...Tokek...

Tokek...Tokek...Tokek...

Oleh: Puguh Utomo

Tokek...tokek...tokek.... Begitulah bunyi hewan bernama tokek yang hidup di antara usuk dan reng di atap rumah saya. Suara tokek...tokek...yang full bass & treble itu bisa sampai tujuh kali. Sebelum berbunyi tokek...tokek...tokek..., biasanya didahului dengan suara ték...ték...ték.... Karena bunyinya tersebut maka hewan yang masih bersaudara dengan cicak itu dinamakan tokek. Nama latin hewan itu sempat saya cari di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tetapi tidak ada. Lain halnya dengan, di KBBI cicak memiliki nama latin Hemydactylus frenatus.

Entah mengapa tokek bersuara seperti itu. Saya menilai bahwa suara seperti itu merupakan kebutuhan bagi tokek. Jika ayam berkokok itu untuk berkomunikasi dengan ayam lainnya dengan saling bersahut-sahutan maka mungkin suara tokek itu juga sebagai bentuk komunikasi. Namun, jika itu sebagai komunikasi maka itu agaknya akan terbantahkan sebab tidak ada tokek lain di dekat tokek itu berada. Lagi pula, saat tokek itu bersuara, tidak ada tokek lain yang juga menyahut untuk bersuara.

Mungkin penelitian yang mendalam tentang tokek bisa menjawab itu. Akan tetapi, di negeri yang memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 ini kemungkinan besar akan sulit mendapatkan publikasi hasil penelitian yang mungkin juga aneh tersebut. Jangankan penelitian tentang tokek, penelitian tentang manusia dan segala kepentingannya yang serius pun kiranya juga belum banyak di lakukan di negeri ini. Seringkali hasil penelitian-penelitian, termasuk hasil penelitian yang “aneh”, yang dikutip oleh sejumlah media seperti koran dan radio banyak mengambil hasil penelitian dari luar negeri. Perguruan tinggi seperti universitas pun dengan segala bidang akademisnya, sampai kini masih digadang-gadang atas hasil penelitiannya yang bermanfaat untuk manusia.

Terkait dengan itu, setahu saya, ciri tokek dewasa lebih besar daripada cicak. Kulitnya kasar dan berbintik-bintik merah. Mirip seperti cicak, tokek tergolong hewan dapat merayap. Selain itu, sama seperti cicak, tokek mungkin juga doyan makan nyamuk. Jika tokek makan nyamuk maka tokek juga sebagai predator alami yang turut mengendalikan populasi nyamuk.

Tokek juga dapat merayap di medium vertikal seperti tembok. Namun, tokek jarang terlihat merayap di dinding. Dibandingkan dengan cicak, tokek merupakan hewan yang tidak banyak bergerak dan suka bersembunyi serta termasuk hewan penyendiri. Karena itu pula, cicak lebih beken dibandingkan dengan tokek. Berkenaan dengan itu, tidak ada lagu tentang tokek, tetapi ada lagu Cicak-Cicak Di Dinding yang akrab di telinga, khususnya anak-anak. Dan lagi, suara tokek, setahu saya agaknya tak digunakan sebagai nada dering pada telepon seluler (ponsel). Setahu saya, paling-paling suara kucing lebih menarik digunakan sebagai nada deringnya.

Saat saya menulis ini pada jam 20.00 (01/07/2009), sesekali waktu tokek tersebut masih bersuara. Kemungkinan besar besok-besok tokek itu juga masih akan bersuara. Memang, tokek sering bersuara di malam hari. Ini pun masih teka-teki, mengapa tokek lebih sering bersuara di malam hari. Terkadang, tengah malam pun tokek juga bersuara. Jika begitu saya hanya mengira-ngira apakah tokek tidak tidur di malam hari, tetapi menghabiskan masa tidurnya di siang hari.

Tadi setelah maghrib keponakan saya yang usianya belum genap tiga tahun ke rumah saya. Meskipun keponakan saya itu laki-laki, dia mengatakan bahwa dirinya takut dengan tokek. Saya pun bertanya padanya mengapa dia takut. Dia pun tidak menjawab. Akan tetapi, saat saya bertanya apakah sebelumnya dia pernah melihat tokek, dia menjawab bahwa dia belum pernah melihat tokek. Saat dia hendak pulang dengan ibunya, keponakan saya itu pulang dengan langkah gontai dan wajah yang gelisah karena terbayang oleh tokek. Saya pun memaklumi bahwa pengalaman anak kecil tentang dunia dan kehidupan ini relatif masih minim.

Kiranya setiap hewan bersuara untuk menunjukkan identitasnya. Seperti singa yang mengaum, anjing yang menggonggong, dan ayam yang berkokok. Suara itu pun dapat menunjukkan keberadaan hewan tersebut. Sementara itu, tokek yang bersuara itu pun juga menunjukkan keberadaan hewan tersebut. Ada sebuah mitos bahwa keberadaan tokek yang ditunjukkan dengan suaranya itu menandakan penghuni rumah akan mudah mendapatkan kesusahan. Tokek...tokek...tokek....

Puguh Utomo

Alumnus Prodi Sosiologi

FISIP, Universitas Jember

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar