Kamis, 08 April 2010

Membicarakan (Kembali) Sosiologi (2)



Gambar dipinjam dari sini

Membicarakan (Kembali) Sosiologi (2)

Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan. Ada pula yang mengatakan bahwa sosiologi itu ilmu untuk pemetaan sosial. Di samping itu, di sebuah buku (Sri dan Yusniati, 2007:3) mata pelajaran sosiologi kelas X ditulis bahwa menurut Max Weber, seorang tokoh sosiologi mengatakan “sosiologi adalah ilmu yang berusaha memberikan pengertian tentang tindakan-tindakan sosial dan penjelasannya secara kausal (timbal balik) mengenai arah dan konsekuensi dari tindakan sosial tersebut.” Itu adalah pengertian-pengertian tentang sosiologi.

Tentu saja masih banyak sederet tokoh yang dianggap sebagai tokoh sosiologi yang memiliki sudut pandang masing-masing tentang pengertian sosiologi. Tidak hanya tokoh sosiologi, tetapi setiap orang yang pernah mengenal sosiologi maka akan memiliki sudut pandang sendiri-sendiri tentang sosiologi. Lagi pula, seseorang tidak akan dihukum penjara hanya karena mengartikan sosiologi.

Umumnya orang mengenal sosiologi pada saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) atau yang sederajat. Hal itu pun terjadi pada saya saat saya duduk di bangku SMA. Saya mengetahui pengertian sosiologi lewat membaca buku mata pelajaran sosiologi. Agaknya mengetahui pengertian sosiologi, misalnya dari seorang tokoh sosiologi, itu dirasa penting sebagai cara untuk mengenal sosiologi.

Namun, mengetahui pengertian sosiologi, misalnya dari seorang tokoh sosiologi saja maka belumlah cukup. Ibarat mengenal seseorang maka tidaklah cukup hanya mengenal dari arti namanya saja. Jadi, perlu mengenal karakternya, aktifitasnya, tampilan fisiknya, dan lain sebagainya. Demikian juga dengan sosiologi maka perlu juga mengenal sifat sosiologi, ruang lingkup sosiologi, kajian sosiologi, dan seterusnya. Maka dari itu, perlu ada sebuah kenyataan sosiologis.

Terkait dengan itu, sebagai kenyataan sosiologis, ambillah contoh dua organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Tentu saja Muhammadiyah dan NU tidak dapat dilepaskan dari Islam di Indonesia.

Di antara kita mungkin pernah melihat papan di depan sebuah rumah yang bertuliskan pengurus cabang Muhammadiyah maupun pengurus cabang pengurus NU. Itu adalah bukti bahwa Muhammadiyah maupun NU itu benar-benar ada. Dalam kaitan ini, pengurusnya adalah orang-orang yang berserikat sebagaimana naluri manusia. Kemudian, secara sederhana alam pikiran Muhammadiyah maupun NU itulah yang turut memengaruhi orang-orang yang terlibat di dalamnya, misalnya dalam praktik ritual keagamaan. Contoh lainnya, misalnya bagaimana afiliasi kedua organisasi sosial keagamaan itu dalam pilihan sebuah partai politik.

Kemudian, mengapa, katakanlah orang-orang Muhammadiyah umumnya berada di kawasan perkotaan daripada di kawasan pedesaan? Sebaliknya, orang-orang NU lebih banyak berada di kawasan pedesaan? Mengapa Muhammadiyah dianggap dekat dengan partai tertentu, demikian juga dengan NU? Kemudian, bagaimana kiprah Muhammadiyah maupun NU dalam kehidupan berbangsa dan bernegara? Itu semua adalah pertanyaan sosiologis.

Sejumlah tulisan, terutama artikel di surat kabar, adalah analisis sosiologis. Namun, artikel itu pun tidak selalu ditulis oleh lulusan sosiologi pada sebuah universitas. Memang, di Indonesia ada beberapa penulis artikel yang menyebut diri sebagai sosiolog seperti Tamrin Amal Tomagola, Imam B. Prasodjo maupun Laode Ida. Akan tetapi, selebihnya beberapa nama hanya menyebut diri sebagai pengamat sosial, misalnya Hotman Siahaan.

Sementara itu, sampai kini, sosiologi masih lebih sebagai ilmu untuk pemahaman. Bukan ilmu untuk tindakan sebagaimana psikologi. Itu pun memengaruhi pamor sosiologi di industri ilmu pengetahuan. Memang, ada anasir-anasir melemahnya kekuatan intelektual di perguruan tinggi tempat sosiologi berada. Padahal, kekuatan intelektual itu sendiri cukup penting dalam sejarah perkembangan sosiologi.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar