Jumat, 11 Juni 2010

Dukun, Bidan dan Dokter

Dukun, Bidan dan Dokter

Saat lahir dari rahim ibu saya, proses kelahiran saya dibantu oleh seorang dukun, yakni dukun beranak. Tentu saja waktu itu saya tidak melihat seorang dukun (akrab dipanggil Mbah Dukun, seorang perempuan) yang membantu ibu kandung yang melahirkan saya pada 28 Desember 1984. Mbah Dukun sendiri sudah berpulang pada 2007 yang lalu pada usia yang cukup tua. Sepeninggal beliau, tidak ada lagi penerus dukun bayi. Lagi pula, tidak ada sekolah dukun.

Sekarang penerusnya adalah bidan desa. Artinya, sekarang di kampung saya ini persalinan dibantu oleh seorang bidan, bukan seorang dukun bayi lagi. Namun, jika dulu seorang dukun bayi biasanya juga dimintai tolong untuk memandikan bayi selama beberapa minggu, bidan tidak memandikan bayi. Tugas bidan biasanya cukup memantau perkembangan kesehatan bayi.

Di kawasan pedesaan seorang bidan biasanya sebagai rujukan awal saat orang sakit, khsususnya penyakit yang tergolong ringan. Misalnya sakit diare yang berhari-hari, demam yang berhari-hari, maupun cek kesehatan ibu hamil biasanya merujuk pada seorang bidan. Di samping biaya yang lebih murah dibandingkan dengan dokter, jarak pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) tempat bidan bertugas juga relatif dekat.

Sementara itu, umumnya di kawasan pedesaan tidak ada dokter. Umumnya dokter berada di kawasan perkotaan. Paling tidak seorang dokter berada di kawasan yang strategis. Umumnya seseorang baru pergi ke dokter untuk sakit yang agak berat seperti sakit tifus. Seperti kampung saya sendiri meskipun pedesaan, tetapi tidak termasuk kawasan pelosok. Artinya, dengan jarak sekitar 6 km maka sudah dapat ditemukan tempat dokter praktik. Baik dokter umum, dokter gigi, dan beberapa dokter spesialis seperti spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar