Sabtu, 09 April 2011

Jangkar

Jangkar

Kata “jangkar” di Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) ada tiga arti. Artinya kata ini dalam bahasa Indonesia tergolong homonim. Salah satunya dalam bahasa Jawa, “jangkar” berarti menjangkar v, yakni “memanggil seseorang dengan nama kecilnya saja.” Kata “jangkar” ini pertama kali saya tahu pada akhir 2009 silam dari seorang penyiar radio.

Saat itu saya berpikir bukankah “jangkar” ini berarti pemberat pada kapal laut yang terbuat dari besi, bentuknya seperti mata pancing-ganda. Jangkar diturunkan ke air saat kapal berhenti di pelabuhan. “Jangkar” menurut KBBI (2002) juga berarti “akar yang bercabang-cabang di atas tanah seperti akar pada pokok pandan (bakau dsb).”

Saya merasa terlambat mengetahui kata “jangkar” justru setelah saya lulus dari perguruan tinggi. Betapa sedikitnya penguasaan kata dalam bahasa nasional negara saya sendiri. Saya sarjana sosiologi, bukan lulusan sastra Indonesia. Juga bukan sarjana pendidikan bahasa Indonesia. Namun, itu tidak bisa dijadikan alasan saya tidak tahu dengan kekayaan kosakata bahasa saya sendiri.

Di antara kita mungkin tak mengenal kata “jelaga”, “tabik”, dan “gayut”. Terkecuali kita harus mencarinya di KBBI. Kata-kata seperti itu memang tidak populer. Misalnya jarang digunakan dalam pemberitaan di koran maupun televisi. Akan tetapi, biasanya kata-kata seperti itu digunakan dalam karya sastra seperti cerita pendek, novel maupun puisi. Terkecuali kita memang hobi mengisi teka-teki sehingga mengenal istilah-istilah tersebut.

Di antara kita mungkin juga kesulitan atau malah tidak tahu menyebut benda sesuai dengan namanya. Di antara kita mungkin menyebut pelubang kertas. Padahal, dalam KBBI nama alat itu adalah perforator. Mungkin di antara kita menganggap sama antara baliho dan spenduk. Padahal, baliho dan spanduk itu memiliki perbedaan. Itu semua berkaitan dengan penguasaan dan pemakaian bahasa dalam bahasa Indonesia.

Kembali pada kata “jangkar”. Jika ada nama “Supriono” maka nama kecil kita atau nama panggilan kita mungkin adalah “Pri”. Bahkan, saking akrabnya kita biasanya memberikan nama julukan pada seseorang. Misalnya, “Kobo” karena wajahnya mirip tokoh kartun “Kobo”. Citra akan diri kita terkadang juga memengaruhi julukan yang dilekatkan pada kita.


2 komentar: