Sabtu, 22 Februari 2014

Gunung Kelud Batuk-Batuk

Foto: tribunews.com 
Gunung Kelud Batuk-Batuk
            Menurut berita di televisi Gunung Kelud meletus pada Kamis, 13 Februari 2014 jam 23.00 lebih. Sekitar jam 00.00 saat saya ke kamar mandi terdengar dentuman berulang kali. Entah dari arah mana. Selama itu juga terdengar suara kretip-kretip. Saya tidak memeriksa keadaan di luar. Sepertinya itu gerimis dan saya tidur kembali. Begitu pagi menjelang, keadaan di luar tampak kelabu dan putih. Seakan melihat televisi hitam putih. Abu menutup genteng, menempel di dedaunan dan menutupi jalan, kurang lebih setebal 1 cm. Ternyata itu abu vulkanis Gunung Kelud yang tadi malam melatus. Gunung di perbatasan Kabupaten Kediri dan Kabupaten Blitar, Jawa Timur itu batuk-batuk.
             Lokasi tempat saya tinggal memang cukup jauh dengan Kelud. Lebih dari 70 km dan berada di Barat Daya dari Kelud. Dibandingkan dengan Solo dan Yogyakarta, tempat tinggal saya yang terletak di Nganjuk bagian utara tidak begitu parah. Angin yang membawa abu vulkanik itu utamanya mengarah ke barat. Bahkan, beritanya sampai ke Pangandaran, Jawa Barat yang letaknya ratusan kilometer dari Kelud. Bahkan, kata saudara saya itu di Yogyakarta terdapat sekolah yang diliburkan pada hari itu karena abu vulkanik.
            Pukul 05.30, Jumat 14 Februari 2014 masih tampak gerimis abu vulkanik dengan intensitas ringan. Jumat pagi, 14 Februari 2014 sepertinya belum ada satu pun televisi yang menayangkan letusan Gunung Kelud. Kecuali Metro TV di berita tertulis di bawah layar yang menyebut Kelud meletus. Erupsinya mencapai 10 km. Muntahan materialnya mencapai 200 juta meter kubik. Abu vulkanik juga sampai ke Surabaya, kota paling utara Pulau Jawa.
            Jumat 14 Februari 2014 itu saat saya berangkat mengajar jalan tampak debu oleh abu vulkanik. Jalan seperti berubah menjadi padang pasir. Debu halus menempel di pakaian. Apabila disalip oleh kendaraan lain maka debu kian beterbangan. Jarak pandang pun berkurang. Wajah pun harus ditutupi dengan sapu tangan maupun masker agar tidak kemasukan debu vulkanis.
             Di madrasah aliyah negeri tempat saya mengajar dibagikan masker gratis untuk warga sekolah. Di kelas sebagian siswa memakai masker. Saya pun sempat mengajar dengan menggunakan masker. Madrasah tidak diliburkan karena dianggap masih dalam batas kondisi aman.
            Selang seminggu pasca erupsi Kelud sisa abu vulkanis masih tampak. Sepekan itu sempat turun hujan dengan intensitas ringan maupun sedang. Abu vulkanis yang menempel di genteng pun turun dan berwarna kehitaman karena hujan. Selama itu saat siang hari rumah yang tidak memiliki plafon abu vulkanis yang halus dari genteng sewaktu-waktu bisa mengguyur rumah. Khususnya saat abu vulkanis itu diterpa oleh angin. 
            Selama sepekan lebih itu pula Kelud menjadi berita khususnya di televisi dan koran. Beritanya seputar sejarah letusan Kelud, pandangan pakar tentang Kelud, kondisi pengungsi, bandar udara yang ditutup karena abu vulkanik, dampak pasca erupsi sampai kunjungan presiden RI ke lokasi pengungsian.
             


Tidak ada komentar:

Posting Komentar