Senin, 04 Oktober 2010

Pengamen

Pengamen

Di tengah pikiran yang jenuh dalam menulis, judul itu saya tulis. Kehidupan yang menjadi sumber tulisan sepertinya serba-sama untuk dituliskan. Bisa jadi itulah jalan hidup yang saya alami sampai saat ini. Jalan hidup yang monoton dan membosankan. Pada saat yang sama, judul suatu tulisan yang saya tulis di tengah kejenuhan, terkadang dikomentari. Komentar itu sungguh sangat berarti bagi saya.

Judul itu tebersit saat saya ingat bunyi genjrang-genjreng pengamen memainkan gitarnya. Persisnya saat itu Sabtu, 18 September 2010 sekitar pukul 15.00 ketika saya mengantar saudari saya di rumah paman saya, di belakang rumah saya. Saudari saya menumpang secara gratis sebuah mobil yang membawa tiga orang yang bekerja di Surabaya pada majikan kaya. Majikan itu terbilang baik, mobil yang terbilang mewah untuk ukuran orang dusun itu juga sudah ada sopir pribadi Si Majikan.

Sore itu dua orang pengamen menghampiri rumah paman saya itu untuk mengamen. Keduanya masih remaja. Seorang memainkan gitar dan satunya membawa recehan uang logam. Mereka berdua menyayikan sebuah lagu pop. Saat itu di teras rumah paman saya itu ada lima orang. Namun, dua pengamen yang mengenakan kaus dan bercelana jin selutut itu dengan percaya diri mengamen. Beberapa menit kemudian, tuan rumah memberikan uang receh, entah berapa.

Sekarang pengamen didominasi oleh kalangan remaja. Usianya kisaran 15 tahun sampai dengan 20 tahun. Di dusun saya ini, sepertinya tidak pernah ada pengeman perempuan. Pengamen umumnya adalah laki-laki. Itu pun mengesankan mereka mengamen lebih untuk kesenangan daripada sebagai mata pencaharian utama. Ibu-ibu menggosipkan uang hasil mengamen itu dibelikan rokok.

Pengamen di dusun ini memang bukan warga sini. Biasanya mereka berasal dari desa lain dan tak jarang dari kecamatan lain. Umumnya mereka datang dengan sepeda motor dan menitipkan sepeda motor di suatu rumah. Sementara itu mereka mengamen. Hal itu pun memengaruhi cara kerja mereka yang spontanitas. Maksudnya, khususnya di kawasan perumahan, begitu ada mood ingin mengamen maka mereka mengamen. Cara kerja mereka tidak terkoordinir secara rapi.

Di antara kita mungkin kurang suka dengan kehadiran pengamen di rumah kita. Misalnya kita menutup pintu, begitu mendengar ada pengamen di tetangga sebelah. Barangkali kita mengatakan maaf saat pengamen mendatangi rumah kita. Mungkin juga di antara kita merasa iba. Saat mereka memainkan musik beberapa menit kemudian kita memberikan uang receh, misalnya Rp 200,-. Uang itu terkadang juga sebagai bentuk penghargaan atas rasa percaya diri mereka dalam mengamen.

Akhir-akhir ini terkadang juga ada pengamen yang biasanya terdiri atas empat orang. Mereka memainkan musik jaranan. Anak-anak kecil biasanya mengerubungi mereka saat beraksi. Orang terkadang memberi mereka Rp 1000,-. Lebih mahal dibandingkan dengan mereka yang membawa gitar tadi. Pemberian uang itu pun biasanya melihat jumlah pengamen maupun hiburan yang mereka tawarkan.

Sampai kini, khususnya di kampung tempat saya tinggal ini, pengamen belum tergolong sebagai masalah sosial. Jika pengamen memaksakan diri mengamen sekaligus memaksa meminta maka itu bisa tergolong masalah sosial. Apalagi jika pengamen itu terlibat pencurian di rumah-rumah, juga termasuk dalam masalah sosial. Bahkan itu tergolong kejahatan.

Orang terkadang menyayangkan pekerjaan mengamen. Mengapa tidak bekerja yang lain, misalnya bekerja sebagai karyawan toko. Orang kadang-kadang juga menilai mengamen itu lebih baik daripada mencuri. Setiap orang memang memiliki pendapat sendiri-sendiri.

Pengamen memang tidak hanya ada di kawasan pemukiman warga. Entah di kawasan kota maupun desa. Di sebuah dusun yang terbilang pelosok di rumah nenek saya juga ada pengamen. Di kereta api kelas ekonomi, di bus kota, bahkan di bawah lampu lalu lintas terkadang juga ada pengamen.

Bisa jadi operasi mengamen, misalnya di bus kota itulah pengamen mendapatkan citra tertentu. Misalnya, mengamen menandai sebagai orang yang hidupnya tidak menentu. Selain bertujuan mendapatkan uang, mereka juga ingin menghibur. Meskipun sama-sama menghibur, tentu itu berbeda dengan musisi papan atas yang dari karyanya dalam industri musik bisa dijadikan sebagai gantungan nafkah.





7 komentar:

  1. Pengamen juga bisa jadi milyader ... sebentar lagi Klanting (pengamen terminal Jayabaya) pasti akan menjadi milyader. Amin.
    Bakat mereka sangat luar biasa. Saya bangga pada mereka.

    BalasHapus
  2. salam kenal mas dari SMKN 1 KERTOSONO

    BalasHapus
  3. @ Bu Pita: Musisi-musisi yang berkarya dlm industri musik di Indonesia pada hakikatnya juga pengamen.

    @ Fendik. Salam kenal juga...

    Terima kasih sudah mampir di blog saya.

    BalasHapus
  4. assalamu'alaikum mas puguh, memang akhir-akhir ini banyak pemuda yang tidak sekolah menggantungkan diri denganmengamen,. apalagi di daerah saya banyak pengamen muda yang menggunakan hasil ngamen untuk minum minuman keras. mau menolak, tapi tidak enak. mau memberi, nanti malah dosa. jadi gimana?

    BalasHapus
  5. Wlkm...terima kasih sudah berkunjung di blog ini. Btw, iya terkadang dilematis juga sich.

    BalasHapus
  6. pngamen adlh smber khdpan...
    jd tlong hrgai pngamen.....!!!!!

    BalasHapus