Sabtu, 18 Juni 2011

Sebuah Situasi di Kelas

Sebuah Situasi di Kelas

Seseorang yang berprofesi sebagai guru sukarelawan (sukwan) di sebuah sekolah dasar (SD) di sebuah kota menceritakan pengalamannya pada saya. Sebutlah namanya M. Akhir Mei 2011 lalu M seakan putus asa dengan salah satu siswanya yang bandel. Sebutlah namanya S. Saat pelajaran berlangsung, S merebut tempat pensil milik temannya. S juga mudah berkata-kata kotor. Suatu hari tanpa alasan S mengucapkan kata-kata yang tidak pantas itu pada M. M sendiri baru setengah tahun mengajar di SD tersebut.

Seakan-akan M putus asa dengan polah S. Teguran secara lisan sudah dia lakukan. Termasuk nasihatnya agar S tidak berkata-kata kotor lagi. Memanggil nama dengan keras juga sudah dilakukan M. Terkadang perilaku S itu mengganggu siswa lain, khususnya selama kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung di kelas. M sendiri tampaknya belum pernah menghukum, misalnya menyuruh S berdiri di depan kelas.

Rotasi tempat duduk juga sudah dilakukan. Tujuannya agar terjadi penyegaran penghuni kelas. Misalnya, siswa yang biasanya mengganggu siswa di sebelahnya bisa terpisah. Paling tidak rotasi itu bisa memisahkan untuk sementara waktu. Selain itu, sudut pandang mata siswa terhadap papan tulis juga tidak monoton meskipun hanya beberapa derajat.

Kemudian, dari pengakuan S, dirinya berujar jika pendukung kesebelasan sepak bola di daerahnya juga ada kata-kata seperti yang dia ungkapkan itu. Kata M, S juga memiliki saudara yang di bagian tubuhnya ditindik. Orang tua dari S menurut M tampaknya juga tidak begitu perhatian pada S.

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. S ini agaknya mencitrakan bahwa di kelas II tempat M menjadi guru kelas bisa menjadi kelas yang sulit dikelola. Memang, dalam satu kelas yang terdiri atas 30 siswa itu sekaligus ada 30 karakter yang berbeda-beda. Pada saat yang sama, katakanlah gaya belajar setiap siswa juga berbeda-beda.

M sebagai guru tentu ingin agar KBM berlangsung lancar. Terkadang saat kelas ramai dan sulit dikendalikan, M sampai memukulkan penggaris pada meja. M sendiri menyadari jika situasi ramai itu bisa saja terjadi. Termasuk M memaklumi dengan tingkah laku anak di kelas tersebut. Karenanya M ingin tetap sabar dalam menjalankan tugasnya sebagai guru.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar