Selasa, 04 Januari 2011

Cinta dan Trauma

Cinta dan Trauma

Dalam situsnya, sebuah koran menulis tentang sejumlah sikap atau reaksi pria pasca penolakan. Penolakan dalam arti wanita menolak cinta si pria. Saat si pria menyatakan cinta atau “menembak” si wanita, lalu si wanita menolaknya maka seorang pria bisa bereaksi dengan berbagai cara. Dalam situs itu ditulis, saat ditolak cintanya, seorang pria bisa saja jaga jarak, berubah benci, pindah ke lain hati, maju terus, dan friend forever. Reaksi ini juga berkaitan dengan sikap saat si pria patah hati.

Bentuk reaksi penolakan itu sebetulnya juga bisa terjadi pada wanita. Mengingat baik pria maupun wanita sama-sama berkedudukan sebagai manusia. Di antara kita mungkin juga pernah tahu wanita yang lebih dulu menyatakan cinta. Lagi pula, sekarang kiranya juga tak tabu lagi jika wanita menyatakan sinyal cinta lebih dulu. Dari sisi jender, wanita juga berkesempatan seperti pria. Jika demikian maka pria juga bisa menolak pernyataan cinta wanita.

Memang, banyak kasus wanita menolak pria yang menginginkannya menjadi kekasih maupun istri. Dengan kata lain, lebih banyak pria yang “menembak” wanita. Hal itu menggiring anggapan akan naluri pria yang lebih ekspresif dalam menyatakan cinta. Di bandingkan dengan wanita, banyaknya pria yang mengonfirmasi seorang wanita yang cantik di facebook juga mengindikasikan pria masih menerapkan politik cinta yang “agresif” terhadap wanita.

Bentuk-bentuk reaksi itu tidak mutlak. Di antara lima reaksi itu kemungkinan juga masih ada reaksi lainnya. Misalnya, mencoba upaya berbahaya dengan mengancam bunuh diri. Sifat pikiran manusia yang melompat-lompat juga memungkinkan seorang pria bersikap benci, tetapi pada saat yang sama juga friend forever.

Tampaknya sikap antara pria dan wanita itu juga dipengaruhi oleh keadaan biologis keduanya. Misalnya, pria memiliki hormon testosteron, sedangkan perempuan memiliki hormon estrogen. Wanita bisa mengandung, sedangkan pria tidak bisa mengandung. Keadaan itu juga memengaruhi anggapan terhadap pria dan wanita. Termasuk cara keduanya dalam memandang cinta.

Berbicara cinta memang tidak ada habisnya. Industri musik masih menjual tema-tema cinta. Sering kali cinta dikaitkan dengan hubungan asmara antara pria dan wanita. Itu betul, tetapi cinta juga universal. Seorang ibu yang menyuapi anaknya yang masih kecil juga wujud cinta. Seorang anak yang memandikan ayahnya yang sudah tua renta juga bentuk cinta.

Serupa tetapi tak sama. Setiap orang bisa memiliki cinta. Namun, pengalaman cinta setiap orang bisa berbeda-beda. Di antaranya orang bisa trauma karena cinta. Orang bisa tertekan karena berurusan dengan perasaan manusia yang satu ini. Seorang gadis yang mengganti nomor ponselnya terkadang sebagai bentuk trauma kerena teror cinta yang diterimanya. Pengalaman pertama cinta seseorang yang sebelumnya buruk mungkin juga bisa membuat seseorang itu trauma dengan cinta. Hendaknya ini bisa disadari oleh sang pecinta.

Intinya, cinta yang dialami oleh manusia itu memiliki banyak sisi. Cinta bisa membuat seseorang bersemangat dalam menjalani hari-hari. Dalam bekerja dan beraktifitas. Namun, cinta juga bisa membuat hidup seseorang terpuruk. Cinta adalah kehidupan itu sendiri. Entah cinta itu di tolak ataupun diterima. Entah menimbulkan trauma atau tidak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar