Sabtu, 18 Juli 2009

Tokek...Tokek...Tokek...

Tokek...Tokek...Tokek...

Oleh: Puguh Utomo

Tokek...tokek...tokek.... Begitulah bunyi hewan bernama tokek yang hidup di antara usuk dan reng di atap rumah saya. Suara tokek...tokek...yang full bass & treble itu bisa sampai tujuh kali. Sebelum berbunyi tokek...tokek...tokek..., biasanya didahului dengan suara ték...ték...ték.... Karena bunyinya tersebut maka hewan yang masih bersaudara dengan cicak itu dinamakan tokek. Nama latin hewan itu sempat saya cari di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tetapi tidak ada. Lain halnya dengan, di KBBI cicak memiliki nama latin Hemydactylus frenatus.

Entah mengapa tokek bersuara seperti itu. Saya menilai bahwa suara seperti itu merupakan kebutuhan bagi tokek. Jika ayam berkokok itu untuk berkomunikasi dengan ayam lainnya dengan saling bersahut-sahutan maka mungkin suara tokek itu juga sebagai bentuk komunikasi. Namun, jika itu sebagai komunikasi maka itu agaknya akan terbantahkan sebab tidak ada tokek lain di dekat tokek itu berada. Lagi pula, saat tokek itu bersuara, tidak ada tokek lain yang juga menyahut untuk bersuara.

Mungkin penelitian yang mendalam tentang tokek bisa menjawab itu. Akan tetapi, di negeri yang memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 ini kemungkinan besar akan sulit mendapatkan publikasi hasil penelitian yang mungkin juga aneh tersebut. Jangankan penelitian tentang tokek, penelitian tentang manusia dan segala kepentingannya yang serius pun kiranya juga belum banyak di lakukan di negeri ini. Seringkali hasil penelitian-penelitian, termasuk hasil penelitian yang “aneh”, yang dikutip oleh sejumlah media seperti koran dan radio banyak mengambil hasil penelitian dari luar negeri. Perguruan tinggi seperti universitas pun dengan segala bidang akademisnya, sampai kini masih digadang-gadang atas hasil penelitiannya yang bermanfaat untuk manusia.

Terkait dengan itu, setahu saya, ciri tokek dewasa lebih besar daripada cicak. Kulitnya kasar dan berbintik-bintik merah. Mirip seperti cicak, tokek tergolong hewan dapat merayap. Selain itu, sama seperti cicak, tokek mungkin juga doyan makan nyamuk. Jika tokek makan nyamuk maka tokek juga sebagai predator alami yang turut mengendalikan populasi nyamuk.

Tokek juga dapat merayap di medium vertikal seperti tembok. Namun, tokek jarang terlihat merayap di dinding. Dibandingkan dengan cicak, tokek merupakan hewan yang tidak banyak bergerak dan suka bersembunyi serta termasuk hewan penyendiri. Karena itu pula, cicak lebih beken dibandingkan dengan tokek. Berkenaan dengan itu, tidak ada lagu tentang tokek, tetapi ada lagu Cicak-Cicak Di Dinding yang akrab di telinga, khususnya anak-anak. Dan lagi, suara tokek, setahu saya agaknya tak digunakan sebagai nada dering pada telepon seluler (ponsel). Setahu saya, paling-paling suara kucing lebih menarik digunakan sebagai nada deringnya.

Saat saya menulis ini pada jam 20.00 (01/07/2009), sesekali waktu tokek tersebut masih bersuara. Kemungkinan besar besok-besok tokek itu juga masih akan bersuara. Memang, tokek sering bersuara di malam hari. Ini pun masih teka-teki, mengapa tokek lebih sering bersuara di malam hari. Terkadang, tengah malam pun tokek juga bersuara. Jika begitu saya hanya mengira-ngira apakah tokek tidak tidur di malam hari, tetapi menghabiskan masa tidurnya di siang hari.

Tadi setelah maghrib keponakan saya yang usianya belum genap tiga tahun ke rumah saya. Meskipun keponakan saya itu laki-laki, dia mengatakan bahwa dirinya takut dengan tokek. Saya pun bertanya padanya mengapa dia takut. Dia pun tidak menjawab. Akan tetapi, saat saya bertanya apakah sebelumnya dia pernah melihat tokek, dia menjawab bahwa dia belum pernah melihat tokek. Saat dia hendak pulang dengan ibunya, keponakan saya itu pulang dengan langkah gontai dan wajah yang gelisah karena terbayang oleh tokek. Saya pun memaklumi bahwa pengalaman anak kecil tentang dunia dan kehidupan ini relatif masih minim.

Kiranya setiap hewan bersuara untuk menunjukkan identitasnya. Seperti singa yang mengaum, anjing yang menggonggong, dan ayam yang berkokok. Suara itu pun dapat menunjukkan keberadaan hewan tersebut. Sementara itu, tokek yang bersuara itu pun juga menunjukkan keberadaan hewan tersebut. Ada sebuah mitos bahwa keberadaan tokek yang ditunjukkan dengan suaranya itu menandakan penghuni rumah akan mudah mendapatkan kesusahan. Tokek...tokek...tokek....

Puguh Utomo

Alumnus Prodi Sosiologi

FISIP, Universitas Jember

Senin, 13 Juli 2009

Alumni SMUDA Nganjuk

Alumni SMUDA Nganjuk

Oleh: Puguh Utomo

Acara perpisahan yang dikemas dalam pementasan seni pada 2003 itu menandai sekian ratus orang sudah tidak berstatus siswa atau siswi lagi. Mereka telah menjadi alumni angkatan 2003 pada SMU Negeri 2 Nganjuk. Saat menghadiri acara tersebut mereka sudah tidak berpakaian abu-abu putih lagi. Mereka berpakaian bebas, tetapi sopan. Acara perpisahan yang digelar sejak pagi tersebut, tidak setiap alumnus bisa hadir. Lagi pula, tidak ada keharusan untuk hadir. Meskipun demikian, acara perpisahan tersebut tetap dapat dilangsungkan.

Terkait dengan itu, di tengah-tengah acara sempat terjadi ketidaksepahaman antara pihak guru dengan sejumlah peserta yang akan mengisi acara perpisahan tersebut. Sejumlah guru menilai ada bagian dari sketsa yang kurang etis untuk dipentaskan. Namun, ketidaksepakatan itu dapat diredam dan tidak berimbas pada keseluruhan acara. Acara perpisahan tersebut diadakan di panggung permanen di sebelah utara aula SMU Negeri 2 Nganjuk atau populer dengan nama SMUDA Nganjuk.

Setiap tahun SMUDA Nganjuk meluluskan sekitar 300 lebih siswa-siswi dari sepuluh kelas. Kelas itu terdiri atas 5 kelas IPA, 4 kelas IPS, dan 1 kelas bahasa. Sistem akademis pada jenjang sekolah menangah memungkinkan sekolah meluluskan siswanya secara bersama-sama. Kelulusan pada 2003 itu pun mencapai 100%. Kelulusan tahun-tahun sebelumnya pun menunjukkan hal yang sama. Citra sebagai sekolah favorit pun mampu menarik banyak siswa lulusan berbagai Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk melanjutkan ke SMUDA Nganjuk.

Di satu sisi cukup sulit mengetahui penyebaran alumni SMUDA setelah mereka lulus. Artinya, sampai sekarang belum ada data kuantitatif yang menjelaskan hal itu. Selain itu, dari jumlah sekitar 300-an orang tersebut tampaknya penyebarannya sulit dipolakan. Meskipun demikian, ada asumsi untuk mengetahuinya. Di antaranya, yakni keterserapan sejumlah alumni di Perguruan Tinggi (PT) seperti universitas, institut, akademi dan di sekolah tinggi baik negeri maupun swasta, ikatan dinas maupun tidak ikatan dinas tergolong tinggi. Setidak-tidaknya itu untuk cakupan SMU di wilayah Kabupaten Nganjuk. Selebihnya, sebagian alumni langsung masuk ke dunia kerja.

Keterserapan tersebut setidak-tidaknya didukung oleh tiga hal. Pertama, rata-rata secara akademis alumni SMUDA Nganjuk cukup mumpuni. Kedua, umumnya sebagian alumni berasal dari keluarga dari lapisan menengah ke atas. Oleh karena itu, dari sisi finansial, biaya untuk pendidikan ke PT tersebut dapat tertutupi. Meskipun demikian, ada beberapa alumni yang dari sisi akademis cukup mumpuni, tetapi mengalami kesulitan dalam hal finansial. Ketiga, yakni pandangan untuk melanjutkan sekolah setelah dari jenjang SMU. Pandangan tersebut, misalnya melanjutkan sekolah juga merupakan investasi untuk masa depan.

Selama proses menempuh studi di PT itu sejumlah alumnus berkomentar tentang perubahan sudut pandang beberapa alumnus lainnya. Perubahan itu, misalnya berkaitan dengan pandangan religius pada tataran individual. Bagaimanapun juga proses psikologi seseorang akan mengalami perkembangan. Tak terkecuali pada diri individu alumni SMUDA Nganjuk. Bahkan, sedikit kasus menunjukkan bahwa di antara alumni mengarah pada proses psikologi yang negatif. Kemudian, perubahan sudut pandang itu biasanya dibandingkan selama rentang waktu tiga tahun di SMU dengan satu atau dua tahun sejak di PT.

Selain hal itu, terdapat kenyataan sosiologis pada diri alumni, yakni usia mereka relatif sama begitu mereka lulus dari SMUDA Nganjuk. Dengan usia alumni yang relatif sama maka sebetulnya ada satu kesejalanan sudut pandang pada alumni. Paling tidak kesejalanan tersebut adalah dalam menatap masa depan begitu mereka lulus dari SMUDA Nganjuk.

Kemudian, meskipun sudah alumni, tetapi dalam kesempatan tertentu diselenggarakan kegiatan reuni. Ikatan emosional yang terbentuk sejak SMU pun memprakarsai reuni tersebut. Prakarsa reuni itu pun dengan swadaya dari alumni sendiri. Sejak 2003 sampai 2009 sedikitnya telah diadakan dua kali reuni. Satu di antaranya pernah dilaksanakan di sekolah dengan gabungan beberapa angkatan, yakni pada Rabu, 17 November 2004. Sementara beberapa di antaranya diselenggarakan di salah satu rumah alumni. Itu biasanya untuk reuni satu angkatan.

Dalam satu angkatan, apabila saat mereka masih aktif sebagai siswa dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) maka tingkat kehadirannya bisa mencapai 100%. Akan tetapi, dalam reuni satu angkatan, kehadiran 100% itu mustahil. Misalnya, reuni yang diselenggarakan pada Kamis, 18 Oktober 2007, pasca hari raya Idul Fitri, di rumah salah satu alumni, yang datang tidak lebih dari 50%. Suatu saat nanti kemungkinan akan diselenggarakan reuni kembali, entah untuk satu angkatan maupun gabungan dari setiap angkatan.

Meskipun sama-sama alumni SMUDA Nganjuk, tetapi dari jumlah ratusan alumnus itu belum tentu setiap alumnus dapat saling kenal satu sama lain. Umumnya mereka sebatas tahu bahwa seseorang merupakan alumnus SMUDA Nganjuk. Namun, biasanya tidak begitu tahu, misalnya nama alumnus maupun di kelas berapa dulunya. Apalagi di SMU terdapat kelas-kelas yang membuat setiap alumnus hanya mengenal nama alumnus lainnya saat satu kelas saja.

Biarpun demikian, tidak satu kelas pun alumnus juga bisa mengenal alumnus lainnya seiring dengan luarnya pergaulan. Misalnya, seorang seorang alumnus dapat mengenal alumnus lainnya meskipun dulu tidak satu kelas, tetapi pernah satu organisasi ekstrakurikuler sekolah. Di samping itu, buku kenangan alumni SMUDA Nganjuk tahun 2003 yang diberikan pada setiap alumnus pun dapat membantu bahwa seseorang itu merupakan alumnus SMUDA Nganjuk.

Situs jejaring sosial seperti facebook (fb) pun turut dimanfaatkan sebagai sarana memelihara interaksi sosial antarsebagian alumni. Lagi pula, akses terhadap internet merupakan hal yang tidak terlalu sulit bagi sebagian alumni SMUDA Nganjuk. Dan lagi, fb pun dapat diakses melalui telepon seluler (ponsel).

Sekarang, pada 2009, sebagian alumni telah menempati posisi tertentu dalam masyarakat. Entah berkarya di sektor negeri maupun swasta, sektor publik maupun privat. Pada saat yang sama, satu generasi dari alumni 2003 SMUDA Nganjuk itu menjadi bagian dari proses regenerasi yang sedang berlangsung dalam masyarakat. Tentu saja sampai tahun 2009 ini sebagian alumni juga telah melangsungkan pernikahan. Satu dua di antaranya telah melangsungkan pernikahannya dengan sesama teman satu almamater, SMUDA Nganjuk.

Puguh Utomo

Alumnus 2003 SMUDA Nganjuk

Alumnus Prodi Sosiologi Universitas Jember

Kamis, 09 Juli 2009

Bisakah “Kata” Diukir?

“Bacaan Wajib” para Mahasiswa

Bisakah “Kata” Diukir?

(Resensi Buku)

Judul : Seni Mengukir Kata: Kiat-Kiat Menulis Efektif-Kreatif

Penulis : Mulyadhi Kartanegara

Tahun terbit : 2005

Penerbit : Mizan Learning Center (MLC)

Tebal : 331 halaman


Buku ini mungkin akan membingungkan jika tanpa ada subjudul “Kiat-Kiat Menulis Efektif-Kreatif”. Permasalahannya, yakni bagaimana “kata” bisa diukir? Bukankah yang diukir itu misalnya kayu? Namun, itulah buku yang ditulis oleh Mulyadhi Kartanegara, seorang doktor filasat lulusan Universitas Chicago. Keunikan judul itu pula yang menjadi kekhasan sejumlah buku yang diterbitkan oleh Mizan Learning Center (MLC) mengenai kiat-kiat dalam menulis. Buku berbentuk saku ini diberi kata pengantar oleh Hernowo, seorang penulis yang juga banyak menulis tentang kiat-kiat menulis. Buku-bukunya juga banyak yang diterbitkan oleh MLC. Kiranya tepat juga yang dikatakan oleh Hernowo bahwa buku ini layak menjadi “bacaan wajib” para mahasiswa.

Selain judulnya yang unik, buku yang terdiri atas empat bab ini pun ditulis dengan cara yang unik. Penulisannya menggunakan gaya buku harian dengan kata ganti orang pertama “aku”, yakni penulis sendiri. Dengan format tersebut penulis bercerita pada pembaca tentang pengalamannya dalam menulis. Oleh karena itu, kita akan membaca sebuah buku harian tentang bagaimana pengalaman Mulyadhi dalam melahirkan karya-karyanya dalam berbagai bentuk tulisan. Gaya penulisan buku harian itu juga dipertegas dengan tidak adanya daftar pustaka dalam buku ini meskipun dalam bahasannya juga mengutip beberapa tokoh. Keunikan lain dari buku ini juga ditunjukkan dengan ilustrasi karikatur seorang laki-laki yang sedang mengukir atau memahat “kata”.

Di samping itu, fisik buku ini tergolong buku saku. Itu tampak dari ukuran buku yang lebih kecil daripada buku pada umumnya. Memang, sejumlah buku terbita MLC dirancang lebih ramping. Kemudian, jika melihat isi maka di halaman tertentu banyak kutipan yang merupakan inti dari apa yang ditulis. Kutipan-kutipan itu terpisah dari teks dan ukuran hurufnya pun lebih menonjol. Tentu ini memudahkan pembaca dalam memahami dan mengingat isi terpenting dari apa yang ditulis. Lagi pula, kutipan-kutipan tersebut cukup merangsang kegairahan dalam menulis.

Menulis sebagai seni mengawali bab pertama pada buku ini. Dalam hal ini seni menulis berarti kepiawaian seorang penulis dalam menghasilkan karya berwujud tulisan. Oleh karena itu, agar seorang penulis piawai dalam menulis maka perlu ditunjang oleh misalnya motivasi dalam menulis, peran konsentrasi, sampai pada kebebasan yang harus dimiliki oleh seorang penulis.

Memang, motivasi dalam menulis, peran konsentrasi, maupun kebebasan dalam menulis merupakan hal yang umum yang menjadi modal dalam menulis. Namun, isi dari buku ini sesungguhnya merupakan arah baru dalam bidang menulis. Berdasarkan pikiran penulisnya, tulisan ini ditulis dengan apa yang senyatanya daripada apa yang seharusnya. Oleh karena itu, buku ini cocok pula bagi penulis pemula.

Adapun buku ini sebetulnya ditulis dengan pendekatan ilmiah. Itu tampak dari latar belakang penulisnya yang juga bergelut di dunia akademis, terutama filsafat. Misalnya, jenis tulisan berupa tulisan reflektif, fiksi ilmiah, dan novel filosofis. Jenis-jenis tulisan itupun merupakan pengalaman penulis sendiri. Jadi, Mulyadhi sendiri juga telah menulis jenis tulisan reflektif.

Umumnya sebagian penulis pernah mengalami kegagalan maupun kepahitan dalam menulis. Misalnya, pernah ditolak oleh penerbit sampai beberapa kali, bahkan sampai puluhan kali. Namun, itu rupanya tidak begitu diceritakan dalam buku ini. Dalam perjalanan kepenulisannya, tampaknya penulisnya tidak mengalami kendala yang berarti. Hanya diceritakan secara sedikit bahwa Mulyadhi pernah mengalami krisis kepercayaan saat mengerjakan skripsi (halaman 305), maupun menyangkut pemikiran sejumlah tokoh seperti Sigmund Freud maupun Darwin (halaman 272). Itu pun masih terkait dengan kajian filsafat yang didalami oleh penulis.

Pendekatan ilmiah itu masih dilanjutkan di bab 3, yakni seputar tulisan ilmiah. Misalnya di bab tersebut ditulis tentang risalah, skripsi, tesis master, disertasi, dan artikel ilmiah. Bab ketiga ini mulai berisi uraian untuk kalangan terbatas, seperti kalangan mahasiswa. Sekali lagi, kiranya masih jarang buku yang mengupas tentang bagaimana cara menulis, sekaligus penulis telah mengalami sendiri. Dalam kaitan ini, Mulyadhi juga telah membuat risalah, skripsi, tesis master, disertasi, dan artikel ilmiah. Oleh karena itu, contoh tulisan dalam buku ini pun selain termasuk fiksi, juga ada karya nonfiksi.

Kemudian, proses pengalaman dalam membuat jenis karya ilmiah itu diceritakan dalam buku ini. Misalnya, dikatakan “metode penyajian buku ini...naratif, yang di dalamnya aku pada dasarnya akan bercerita tentang berbagai pengalamanku dalam menulis.” Terkait dengan proses pengalaman tersebut, proses menulis pun tidak cukup satu atau dua hari saja. Dengan kata lain, prosesnya menulis perlu diasah secara terus menerus. Meskipun Mulyadhi tidak menyatakan secara tersurat bahwa proses menulis itu memerlukan waktu yang panjang, tetapi dalam karya tulisnya telah menunjukkan hal itu.

Satu hal yang juga dapat dicatat dari buku ini adalah keislamannya. Beberapa contoh jenis tulisan seperti skripsi juga tergolong dalam karya keislaman. Tentu saja itu tidak terlepas dari latar belakang pendidikan keislaman. Misalnya, salah satu karyanya yang juga dijadikan contoh, yaitu ilustrasi cover buku berjudul Menyibak Tirai Kejahilan: Pengantar Epistemologi Islam (halaman 145). Sebagai seorang penulis, Mulyadhi pun tergolong penulis produktif. Di lampiran, misalnya dalam waktu satu tahun, 2004, Mulyadhi dapat menghasilkan beberapa karya tulis, khususnya yang ilmiah.

Sebetulnya Mulyadhi pada contoh jenis tulisannya tidak hanya berbicara keislaman. Namun, juga lebih kontemporer. Itu terlihat dari sejumlah tokoh yang juga dikutip seperti Socrates (halaman 199). Pandangan kontemporer ini pun juga tak terlepas dari karekter kajian filsafat yang lebih mencari satu muara dari setiap pemikiran. Jadi, dalam buku ini juga terkandung maksud bahwa tidak ada pertentangan yang berarti antara filsafat barat dan Islam.

Di akhir bab, yakni bab keempat, diuraikan beberapa hal untuk memupuk tradisi menulis. Misalnya, peran membaca, seputar inspirasi dalam menulis, dan mengenai tulisan yang autentik. Pada dasarnya bab keempat ini merupakan lanjutan dari bab pertama. Berkaitan dengan itu, mereka yang sedang menggali potensi menulisnya, jika membaca buku ini maka akan menjadi bagian yang dari apa yang ditulis oleh Mulyadhi.


Puguh Utomo

Alumnus Prodi Sosiologi

FISIP, Universitas Jember


Selasa, 07 Juli 2009

Aku Dulu IPS

Aku Dulu IPS

Oleh: Puguh Utomo


Dalam tes intilegent quotion (IQ) pada pertengahan tahun 2000 itu aku mendapatkan skor 96. Hasil tes yang diberikan agak lama setelah pelaksanaan tes itu tertulis di selembar kertas. Tes yang dikoordinasi oleh sebuah lembaga psikologi terapan itu sendiri dilaksanakan di awal-awal aku masuk di jenjang Sekolah Menengah Umum (SMU) yang konon favorit di kabupaten Nganjuk. Tujuan utama dari tes itu, yakni mengetahui potensi diri siswa dalam hal penjurusan. Apakah seorang siswa cocok di jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), maupun jurusan bahasa. Kemudian, skor 96 itu menyarankan agar aku memilih program IPS.

Tentu saja peserta tes IQ itu tidak hanya aku saja. Setiap siswa kelas satu yang terdiri dari sembilan kelas diwajibkan mengikuti tes tersebut. Hasil tesnya pun bervariasi. Di kelas tempat aku sendiri ada yang mendapatkan skor di bawah 100, tetapi ada juga siswa yang mendapatkan skor di atas 120. Waktu itu ada seorang teman sekelas yang heran dengan skornya. Entah saat itu berapa skornya, tetapi berdasarkan skor itu disarankan agar masuk ke program IPS. Padahal, dia mampu masuk ke program IPA. Tidak hanya aku, tetapi teman-teman yang lain pun mengakui bahwa dia sangat layak untuk masuk IPA.

Ternyata itu menandai bahwa hasil tes itu merupakan prediksi. Itu karena suatu hari saat masuk kelas III, teman aku itu masuk ke jurusan IPA. Bahkan, di kemudian hari dia lolos dalam seleksi yang tahun 2003 saat itu bernama Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) di sebuah institut teknologi ternama di Indonesia.

Aku pun berbesar hati menerima saran untuk masuk ke program IPS. Maklum, nilai pelajaran eksak seperti matematika, fisika, kimia tergolong rendah, yakni 6. Angka 6 itu sesungguhnya hasil pembulatan oleh guru. Jika ditelusuri lagi maka sebetulnya bisa di bawah angka 6. Kemudian, jika dipikir-pikir lagi maka mata pelajaran biologi termasuk kelompok eksak. Namun, saat kelas 1 (sejak 2007 berubah nama menjadi kelas 10, 11, dan 12 mengikuti urutan dari kelas 6 Sekolah Dasar) nilai biologi di rapot aku selalu 7. Mungkin itu karena biologi waktu itu dominan berupa pelajaran hafalan.

Aku juga sadar bahwa aku siswa yang bodoh. Setidak-tidaknya aku menilai diri aku sendiri waktu itu seperti itu. Sekarang pun aku juga masih menilai diri aku sendiri seperti itu. Namun, nasihat bijak mengatakan bahwa jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Tidak ada siswa yang bodoh. Dalam hubungan ini, sejak kelas 1, saat ada kegiatan belajar mengajar dengan jadwal mata pelajaran matematika, fisika, dan kimia maka terasa memberatkan. Pelajaran-pelajaran tersebut tidak menyenangkan. Aku sangat kesulitan dan tidak mengerti dengan pelajaran-pelajaran tersebut. Akhirnya, setiap ulangan catur wulan nilai mata pelajaran tersebut di rapot kelas 1 tertulis angka 6 dan pernah sekali dinilai 5, sementara sebagian teman yang lain mendapatkan nilai 8.

Sebetulnya aku tidak hanya kesulitan pada mata pelajaran eksak itu saja. Mata pelajaran yang lain pun juga kesulitan. Khususnya ekonomi dan/atau akuntasi. Dengan kata lain, segala sesuatu yang berhubungan dengan angka-angka saat SMU itu maka nilainya selalu di bawah standar. Aku pun berpikir bahwa akan menjadi apa aku nantinya jika kenyataannya seperti itu! Sekali lagi bahwa mata pelajaran yang lain yang noneksak pun saya juga kesulitan. Akan tetapi, nilainya masih di atas standar, yakni 7.

Memang, di antara kelebihannya, itu sekadar penilaian semata. Artinya, penilaian itu hanya satu indikasi untuk mengetahui potensi individu. Terkait dengan itu, kiranya mengeluh saja itu bukan pilihan yang cerdas. Lagi pula, sisi-sisi kehidupan tidak sepenuhnya bergantung pada kecerdasan penalaran angka-angka tersebut. Teori pendidikan pun mengatakan bahwa setiap siswa memiliki bakat dan potensi masing-masing. Paling tidak itu akan terjadi pada satu dua individu. Tentu saja aku tidak mengklaim diri bahwa aku memiliki bakat dan potensi tersebut.

Kemudian, keadaan saat kelas 2 pun seperti kelas 1. Setiap pelajaran yang berhubungan dengan angka-angka seperti matematika, fisika, kimia, dan ekonomi/akuntasi sungguh sangat sulit saya nalar. Fisika dan kimia saya pernah dapat nilai 5 di rapot. Bahkan, saat itu seorang guru fisika berpendapat bahwa di kelasku kesenjangan daya tangkap siswa terhadap mata pelajaran fisika cukup jauh. Artinya, ada beberapa siswa yang mendapatkan nilai sangat baik, tetapi ada pula siswa yang mendapatkan nilai sangat kurang pada mata pelajaran tersebut. Aku termasuk siswa yang mendapatkan nilai kurang.

Di kelas 2 inilah kesibukanku bertambah sebab aku bergabung dengan salah satu organisasi ekstrakurikuler. Kala itu aku menjadi salah seorang pengurus. Cerita mengenai organisasi ini dapat dibaca di tulisanku dalam blog ini yang berjudul Majelis Taklim SMUDA Nganjuk. Terkadang ada perasaan minder saat aku tidak pandai dalam mata pelajaran yang berhubungan dengan angka-angka tersebut. Seperti pernah diceritakan bahwa mereka yang aktif di organisasi maka kemampuan akademis, termasuk kemampuan dalam setiap mata pelajaran seyogianya sesuai standar. Tentu itu tidak bisa aku penuhi. Namun, aku berusaha tetap menerima kemampuanku itu.

Kemudian, di penghujung kegiatan belajar mengajar (KBM), sebelum naik kelas 2, setiap siswa diberi kuesioner terkait dengan pemilihan program. Seingatku, dalam kuesioner itu hanya ada satu pertanyaan dan dua pilihan jawaban. Apakah siswa ingin masuk program IPS, IPA, ataukah bahasa. Saat itu ada seorang teman menyarankan jika ingin masuk IPS maka sebaiknya pilihan pertama IPA dan pilihan kedua IPS. Saran itu pun aku turuti dengan berharap aku bisa masuk IPS.

Akhirnya, aku pun masuk program IPS. Itu sesuai dengan saran dari hasil skor tes IQ. Di bandingkan dengan kelas 1 dan kelas 2, di kelas 3 ini aku relatif lebih ringan dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Paling tidak di kelas 3 ini tidak ada angka 6 di rapot dan di rapot dominan nilai 8. Agaknya aku sangat cocok masuk di program IPS ini. Akan tetapi, sama seperti kelas 1 dan kelas 2, pelajaran yang berkenaan dengan angka, di kelas 3 ini masih menjadi hal utama yang sangat sulit aku nalar.



Puguh Utomo

Alumnus Prodi Sosiologi

FISIP, Universitas Jember

Senin, 29 Juni 2009

Masyarakat Wates Menyambut Panen

Masyarakat Wates Menyambut Panen

Sejak pertengahan Juni 2009 ini hampir tiap hari terdengar deru mesin perontok padi-keliling. Orang-orang di Dusun Wates, Desa Balongrejo, Kecamatan Bagor, Nganjuk mengenal alat itu dengan dos. Sesekali waktu gemuruh mesin perontok padi berbahan bakar solar yang biasanya dioperasikan oleh tiga orang itu juga terdengar di malam hari. Sekitar 20 tahun silam mesin beroda tiga dan dapat digerakkan seperti mobil itu belum dikenal. Selain itu, kadang-kadang juga terdengar suara mesin selep atau mesin penggiling padi-keliling yang beroperasi hampir setiap hari tanpa mengenal musim panen. Dulu, mesin selep ini permanen sehingga orang yang ingin gabahnya digiling menjadi beras maka perlu mengangkut gabahnya ke tempat penggilingan padi.

Pada saat yang sama, kesibukan orang-orang dewasa baik perempuan maupun laki-laki pun bertambah di dusun yang mayoritas warganya berprofesi sebagai petani ini. Sekarang, masyarakat berpaham keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) dan kini dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 200 ini menyambut panen padi. Dengan umur padi yang rata-rata 100 hari atau tiga bulan lebih, panen kali ini disebut dengan juki atau panen kedua.

Panen pertama, yakni rendeng yang ditandai dengan curah hujan yang tinggi sebab bertepatan dengan musim hujan. Panen ketiga disebut dengan gadu, bersamaan dengan musim kemarau. Hasil panen di masa juki ini umumnya lebih rendah dibandingkan dengan rendeng maupun gadu. Pada masa juki pula biasanya cuaca tidak menentu dan ini berpengaruh terhadap perkembangan tanaman padi. Sementara itu, hasil penan terbanyak diperoleh saat panen gadu. Namun, panen gadu ini memerlukan biaya pemeliharaan padi yang tidak sedikit jika dibandingkan dengan masa panen lainnya.

Saat masa panen seperti sekarang, di beberapa halaman rumah warga yang telah memakai jasa perontok padi itu maka terlihat tumpukan jerami. Misalnya, tumpukan jerami terlihat di halaman rumah Pak Towo (45 tahun). Jika pemilik jerami memiliki sapi maka jerami itu disimpan di kandang untuk pakan. Jerami pun sekarang menjadi barang yang komersial. Jerami kering dalam satu bak penuh pick up bisa berharga Rp 200.000,00. Itu terkait dengan banyaknya warga yang sekarang memelihara sapi.

Kira-kira lebih dari 50 % kepala keluarga di dusun yang dikelilingi oleh pohon ini memiliki sapi yang umumnya dipelihara di belakang rumah dengan dibuatkan kandang. Bahkan, untuk pakan sapi berupa rumput, beberapa orang sampai mencarinya di dalam hutan. Rumput umumnya juga dicari di pematang sawah. Sapi sebagai binatang ternak juga sebagai aset ekonomi, selain kepemilikan sawah. Sebagai aset ekonomi, beberapa warga menjual anak sapi yang berusia kira lima bulan untuk membeli, misalnya sepeda motor.

Sementara itu, pada masa panen seperti ini di tempat-tempat tertentu di halaman rumah warga terlihat sejumlah orang laki-laki dewasa berkumpul membicarakan sesuatu. Umumnya mereka berembuk masalah pekerjaan memanen gabah. Misalnya, mereka membicarakan tentang rencana kerja esok hari untuk memanen gabah di sawah milik orang lain. Di samping itu, pertemuan itu sekaligus membagi-bagi upah hasil kerja memanen gabah yang telah mereka kerjakan. Rembukan itu berakhir begitu waktu menunjukkan kira-kira jam 20.30.

Sebagai salah satu potret masyarakat Dusun Wates dalam menyambut panen, hari ini, Sabtu, 20 Juni 2009 sawah milik Pak Wito yang juga warga Dusun Wates (60 tahun, bukan nama sebenarnya) juga panen. Hari itu, ada hal yang berbeda sebelum memotong padi, terutama jika dibandingkan dengan masa-masa panen 10 tahun silam. Biasanya sebelum padi dipotong, dilakukan acara bancakan dengan cara Jawa. Bancakan yang biasanya berisi panggang ayam, nasi, dan lauk pauk seperti gorangan tahu, mie dan sayuran itu dipimpin oleh seorang yang disebut sebagai tukang tanduk yang merangkap sebagai sesepuh dusun. Selain bertugas sebagai pemimpin upacara bancakan seorang sesepuh dusun biasanya juga dimintai petunjuk mencarikan hari dengan hitung-hitungan Jawa. Misalnya, hari untuk pernikahan. Kemudian, lafal dalam upacara yang disebut wiwit itu juga menggunakan bahasa Jawa. Selanjutnya, makanan itu lalu dimakan oleh pekerja yang akan memanen padi.

Hari itu upacara bancakan sudah tidak terlihat lagi. Hari itu makanan itu langsung dimakan oleh 15 pekerja yang hari itu memanen. Di samping itu, pemimpin upacara wiwit itu pun sudah tua dan tidak sanggup lagi untuk memimpin upacara wiwit. Generasi penggantinya pun sudah tidak ada. Panen-panen sebelumnya, biasanya upacara wiwit itu cukup dipimpin oleh salah satu pekerja santri dengan doa berbahasa Arab. Di Dusun Wates, sekarang wiwit itu tidak ada keharusan seperti upacara wiwit tahun-tahun yang lalu.

Selama kurun waktu enam tahun terakhir di dusun ini secara pelan-pelan banyak orang masuk sebagai santri, memeluk agama Islam dengan corak keagamaan khas pedesaan. Itu ditunjukkan misalnya, peningkatan jumlah orang sholat jumatan, sholat lima waktu, kegiatan yasinan, dan puasa Ramadhan. Kegiatan wisata rohani, yakni ziarah ke makam wali tertentu maupun wali songo maupun ziarah makam ke syekh tertentu belakangan ini juga agak rutin dilaksanakan setiap tahun. Lewat ziarah tersebut orang biasanya berpengharapan akan rezeki, keberhasilan-keberhasilan hidup seperti kelancaran usaha, hasil panen yang melimpah, dan lain sebagainya.

Peningkatan itu pun dipengaruhi oleh dinamika kelompok sifat paguyuban masyarakat di dusun ini. Dalam hal ini, justru peningkatan aktifitas keagamaan itu dipicu oleh khususnya konflik di antara tokoh, terutama tokoh keagamaan. Semenjak munculnya konflik terselubung di antara tokoh masyarakat yang berakar dari harga diri tersebut, Dusun Wates memiliki dua masjid. Sebelumnya, Dusun Wates hanya memiliki satu buah langgar yang juga digunakan sebagai sholat jumatan. Jadi, kini Dusun Wates memiliki tiga tempat ibadah.

Di antara masyarakat Jawa yang memegang teguh keharmonian, terkadang muncul bibit-bibit konflik sifatnya terselubung dan tak terhindarkan. Selain itu, pandangan sebagian anggota masyarakat Dusun Wates bahwa perlunya manut jaman (ikut zamannya) pun turut memengaruhi dinamika kelompok yang bersifat paguyuban ini terkait dengan aktifitas keagamaan.

Ada tiga petak sawah yang hari ini akan dipanen. Setiap petak rata-rata seluas 150 m2 (papan 150, begitu biasanya warga menyebutnya) dan terpisah dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Satu di antara tiga petak sawah itu adalah milik kedua orang tua Pak Wito. Karena sudah sangat tua dan tidak sanggup menggarap sawah maka kedua orang Pak Wito menggilir dua petak sawahnya kepada lima orang anaknya yang semuanya telah berkeluarga, termasuk Pak Wito.

Namun, sawah giliran yang digarap oleh Pak Wito itu sebetulnya tidaklah gratis. Setiap panen, Pak Wito memberikan 1/3 dari total hasil panen pada orang tuanya. Sawah giliran itu sendiri oleh Pak Wito digarap selama setahun atau tiga kali masa penen. Selanjutnya, tiba giliran saudara Pak Wito berikutnya.

Sekarang, sawah bernilai ekonomi tinggi. Dua puluh tahun yang lalu, katakanlah sebidang sawah bernilai Rp 20.000.000,- maka sekarang bisa bernilai sampai Rp 50.000.000,-. Oleh karena itu, sekarang jarang orang menjual sawah secara permanen. Beberapa orang hanya menjual sawah selama kurun waktu tertentu dengan sistem sewa. Beberapa di antaranya ada yang menjualnya dengan sistem gadai.

Seiring bertambahnya jumlah kepala keluarga maka papan untuk perumahan pun kian sempit. Beberapa lahan yang dulu berupa halaman rumah, kini telah dijadikan sebagai papan untuk perumahan. Sementara untuk keluarga yang secara ekonomi mampu, mulai menyiasati dengan rumah tingkat. Lahan yang semula persawahan pun kini mulai dijadikan papan untuk perumahan. Tercatat ada tiga rumah yang dibangun di atas lahan yang awalnya berupa sawah. Itu pun mengindikasikan perluasan wilayah dusun.

Memang, dibandingkan dengan 50 tahun silam, sekarang jumlah kepemilikan anak sudah menurun. Saat itu jumlah anak bisa mencapai enam orang. Kini, rata-rata setiap kepala keluarga memiliki dua anak. Namun, di dusun ini angka kelahiran tergolong tinggi, sedangkan angka kematian termasuk rendah. Itu terkait pula dengan usia pernikahan yang relatif muda. Rata-rata orang menikah di usia 20 tahun.

Sementara itu, untuk memanen sawahnya itu Pak Wito mempekerjakan 15 orang warga setempat yang semuanya laki-laki dewasa. Pengerjaannya sendiri dengan sistem borongan, bukan sistem harian. Dengan sistem itu Pak Wito mengupah 15 pekerja itu sebesar Rp 500.000,-. Panen sebelumnya, yakni tiga bulan yang lalu, upahnya masih Rp 450.000,-. Hari itu selain memanen padi milik Pak Wito, 15 orang itu juga memanen padi di seorang pemilik sawah yang lain dan diupahi Rp 400.000,-. Jadi, hari itu 15 orang itu mendapatkan upah Rp 900.000,-. Jika dibagi maka satu orang pekerja yang mulai bekerja sejak pagi sampai sore, mendapatkan upah kotor Rp 60.000,-. Biasanya hanya masa-masa panen seperti inilah pekerja-pekerja itu bisa mendapatkan upah seperti itu.

Dengan jumlah pekerja itu kira-kira padi dapat selesai dipotong dalam waktu lima jam. Setelah itu, padi itu diangkut dengan pick up yang disopiri oleh orang lain ke rumah keponakan Pak Wito. Di rumah keponakannya itu, padi milik Pak Wito itu akan di rontokkan dengan dos. Ongkos dos itu sendiri akan dibayarkan oleh keponakan Pak Wito, sedangkan jerami hasil dos itu menjadi milik keponakannya yang juga memelihara sapi. Pak Wito sendiri tidak memiliki sapi. Ongkos untuk dos itu sendiri Rp 135.000,-. Kemudian, dari hasil dos itu Pak Wito mendapatkan 55 sak atau karung dan setiap gabah dalam satu karung yang agak besar rata-rata berbobot 45 kg.

Petani lainnya, Pak Pardi (45 tahun) hari itu juga memanen gabahnya. Lain halnya dengan Pak Wito, Pak Pardi tidak menggunakan jasa dos. Sawah milik Pak Pardi oleh pekerjanya dipanen dengan cara alat perontok tradisional yang dalam bahasa setempat disebut dengan erek. Alat itu berkerangka kayu berbentuk persegi setinggi pundak orang dewasa itu ditutupi dengan sak. Di dalamnya terdapat roda berbentuk tabung dan bergerigi paku besar untuk merontokkan padi. Dulu roda bergerigi yang disambungkan dengan gerigi sepeda yang diikatkan dengan karet tali itu digerakkan oleh tenaga manusia dengan cara menginjak batang batang bambu.

Sekarang, mesin diesel kecil seharga Rp 800.000,- telah menggantikan tenaga manusia. Mesin itulah yang menggerakan roda bergerigi paku sebagai perontok padi. Dengan alat itu, gabah milik Pak Pardi langsung dimasukkan ke dalam karung. Selanjutnya diangkut dengan gerobak yang dijalankan dengan mesin traktor. Alat-alat itu menandai mekanisasi pertanian di dusun tersebut.

Kemudian, kini, umumnya harga gabah di tingkat petani jika dibeli oleh padagang Dusun Wates sendiri, yakni Rp 2.400,-. Jika dibeli oleh pedagang dari luar maka bisa sampai dengan Rp 2.500,-. Lazimnya pedagang dari luar tidak membeli langsung gabah dari petani sehingga tidak mematikan pedagang setempat. Pedagang luar umumnya hanya membeli dari tangan pedagang setempat. Akan tetapi, terkadang ada juga pedagang yang langsung membeli dari tangan petani. Mekanisme pasar pun berjalan, yakni petani menjual gabahnya ke pedagang luar dengan harga yang lebih tinggi.

Sebagian petani umumnya langsung menjual gabahnya karena segera membutuhkan uang. Namun, sebagian yang lain biasanya menyimpan gabahnya sampai harganya lebih tinggi. Jika harga sedang baik, kira-kira satu bulan berikutnya setelah panen harga gabah bisa mencapai Rp 3.000,-.

Pada masa panen seperti ini kesibukan Pak Wito dan istrinya (54 tahun) sebagai pedagang gabah juga meningkat. Selain sebagai petani, sudah 15 tahun terakhir Pak Wito yang lulusan Sekolah Dasar (SD) membeli gabah dari tangan petani lalu di jual kembali. Di dusun Wates ini Pak Wito merupakan satu di antara kira-kira sepuluh orang yang juga sebagai pedagang gabah. Sebagai pedagang, oleh Pak Wito terkadang gabah itu dijemur dan ditimbun untuk sementara waktu, menunggu harga gabah membaik, untuk diambil keuntungan dari harga pembelian semula. Sebagai pedagang pula, sudah tiga tahun ini Pak Wito mampu membeli mobil pick up untuk mendukung usahanya. Sebagai aset, mobil itu pun digunakan sebagai jaminan untuk meminjam uang di pegadaian di kecamatan kota.

Lewat pedagang seperti Pak Wito-lah, sebagai salah satu pintu perguliran uang di dusun tersebut. Dalam hubungan ini, Pak Wito juga sebagai orang yang meminjamkan uang dan sejumlah warga di Dusun Wates sebagai peminjamnya dengan bunga 5% setiap bulannya. Kini, di dusun ini sedikitnya ada dua orang yang aktif meminjamkan uang. Sekaligus sebagai pedagang, dalam hubungan itu biasanya seseorang yang meminjam uang ke Pak Wito biasanya juga menjual gabahnya ke Pak Wito sesuai dengan harga pasar di tingkat petani.

Seperti pertengahan Mei 2009 yang lalu sejumlah orang membutuhkan uang untuk biaya pengurusan sertifikat tanah. Sertifikat tanah kali ini merupakan kolektif dan Dusun Wates terpilih untuk pengurusan sertifikat tanah. Biaya sertifikat tanah pun bervariasi sesuai luas lahan. Ibu Saminah (55 tahun), misalnya mengeluarkan biaya Rp 4.400.000,- untuk tiga lahan miliknya. Kemudian, pada masa panen seperti inilah biasanya uang peminjaman itu dikembalikan.

Kini, petani di Dusun Wates ini telah menebar benih padi. Umumnya petani menanam benih dari satu varietas. Awal-awal penangkaran itu pula, petani juga memupuk benih. Biasanya, selama proses penangkaran itu benih diserang oleh hama kaper yang bertelur di benih. Oleh petani biasanya dilakukan penyemprotan dengan pestisida. Benih itu kira-kira akan ditangkarkan dalam waktu kira-kira 25 hari. Setelah itu, benih ditanam dan menunggu kira-kira 100 hari ke depan untuk dapat dipanen.

Rabu, 24 Juni 2009

Pasien untuk Klinik FKG

Pasien untuk Klinik FKG


Saya beruntung saat itu bisa berteman dengan mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), Universitas Jember. Pada 2003 di tempat saya indekos yang saat itu dihuni oleh hampir 30 mahasiswa tersebut, di dua bangunan indekos, enam di antaranya mahasiswa FKG. Saat itu saya merupakan satu di antara dua mahasiswa dari ilmu noneksak yang indekos di situ. Saya sendiri dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), sedangkan yang satunya lagi dari Fakultas Ekonomi (FE). Di samping itu, saat itu saya merupakan satu-satunya anak kos yang menggunakan sepeda angin untuk pergi kuliah. Sebagian besar menggunakan motor dan sebagian lagi berjalan kaki.

Sisanya berasal dari ilmu eksak seperti dari Fakultas Pertanian, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Fakultas Teknik, Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), dan Fakultas Farmasi. Dari beragam fakultas itulah saya dapat mengetahui sedikit tentang mahasiswa dari fakultas lain. Di samping itu, di indekos itu saya mengenal orang dari beragam karakter, beragam latar belakang keluarga, beragam agama, beragam etnik, dan lain sebagainya.

Khusus untuk teman-teman FKG saya sebelumnya tidak tahu jika saat mereka ada di semester akhir dan memasuki masa klinik di fakultasnya maka mereka mencari pasien untuk tugas klinik. Kebutuhan akan pasien sendiri cukup beragam. Mulai dari pasien cabut gigi, karang gigi, pasien jembatan gigi, kawat gigi, dan lain sebagainya. Perawatan oleh mahasiswa FKG terhadap pasien-pasien tersebut memang kewajiban dalam sistem akademis keprofesian kedokteran gigi.

Tulisan ini sekadar kilas balik pengalaman penulis selama tinggal satu indekos dengan mahasiswa FKG. Penulis sendiri tidak memiliki latar belakang pendidikan formal kedokteran. Oleh karena itu, tulisan ini bukan penjelasan medis. Persisnya sejak Agustus 2003 sampai Februari 2005 penulis tinggal satu indekos dan berteman dengan mahasiswa FKG. Kemudian, Februari 2005 saat penulis pindah indekos, penulis satu indekos lagi dengan mahasiswa FKG sampai Februari 2008.

Berkenaan dengan itu, hubungan antara mahasiswa FKG yang masuk klinik dengan pasiennya menarik untuk dicatat. Di satu sisi status pasien itu berbeda dengan pasien pada umumnya. Misalnya, pasien yang dalam status perawatan mahasiswa FKG maka si pasien tidak perlu mengeluarkan uang sebagaimana pasien yang datang sendiri ke praktik dokter gigi. Sementara itu, tujuan mahasiswa FKG untuk perawatan di klinik tersebut semata-mata tidak bertujuan komersial. Sungguhpun demikian, dengan keberadaan Rumah Sakit Gigi dan Mulut di FKG maka juga ada pelayanan tertentu terhadap pasien.

Saya pun pernah menjadi pasien dari seorang teman, mahasiswa FKG. Kira-kira pada awal 2004 saat itu saya menjadi pasien karang gigi. Olehnya, saya dibawa ke klinik FKG. Tepatnya di ruangan berbentuk aula dan di situ ada puluhan kursi khusus untuk pasien gigi. Sementara itu, terlihat orang-orang dengan berjas putih yang sebagian terlihat memeriksa pasien di kursi khusus tersebut. Dalam hubungan ini, sebelumnya saya tidak begitu tahu bahwa karang gigi dapat merusak gigi. Kesalahan saya, yakni tidak membiasakan diri menyikat gigi secara teratur, khususnya sebelum tidur pun turut andil dalam pembentukan karang gigi tersebut. Sejak itu saya berusaha membiasakan diri menggosok gigi, terutama sebelum tidur malam.

Pada dasarnya siapa saja bisa menjadi pasien di klinik FKG. Mahasiswa, pelajar, anak-anak, orang tua, dan lain sebagainya bisa menjadi pasien selama profil giginya sesuai untuk perawatan di klinik FKG. Meskipun demikian, beberapa hal yang patut dicatat. Umumnya mahasiswa FKG sendiri mencari pasien sesuai dengan kewajiban di klinik. Terkadang beberapa mahasiswa FKG sampai perlu mencari pasien di luar kawasan kampus. Oleh karena itu, terkadang tidak mudah untuk mendapatkan pasien untuk klinik.

Walaupun demikian, ada juga perantara pasien untuk dirawat di klinik FKG. Perantara ini bekerja mencari pasien untuk mahasiswa FKG untuk dirawat di klinik. Kira-kira tahun 2007 akhir, seorang teman, mahasiswa FKG pernah bercerita bahwa jika memakai jasa perantara maka harus keluar uang untuk perantara, bahkan mahasiswa FKG juga musti mengeluarkan uang untuk si pasien. Jika ditotal, untuk seorang perantara dan seorang pasien, mahasiswa FKG bisa mengeluarkan Rp 30.000,00 untuk sekali datang ke klinik. Tentu saja setiap calon dokter gigi ini pengalamannya berbeda-beda dalam mencari pasien maupun perawatan terhadap pasien.

Keberadaan perantara pasien pun bisa dilematis. Di satu sisi perantara bisa mencarikan pasien sesuai dengan profil yang diinginkan oleh mahasiswa FKG. Namun, perantara pun juga menginginkan imbalan atas pasien-pasien yang telah didatangkan. Dalam beberapa kasus, perantara bisa saja memengaruhi atau bahkan mungkin berkonspirasi dengan pasien untuk mendapatkan imbalan tertentu, misalnya uang, dari mahasiswa FKG. Bahkan, menurut cerita, kontrol perantara terhadap pasien bisa lebih besar daripada mahasiswa FKG sendiri. Akhirnya, yang terjadi adalah komersialisasi pasien. Di tengah-tengah pengabdian mahasiswa FKG dan tugas mulia yang diembannya, komersialisasi tersebut tentu kurang menguntungkan.

Kemudian, saat mahasiswa FKG di klinik untuk merawat pasiennya, di samping berinteraksi dengan pasien, mahasiswa FKG juga berinteraksi dengan dosen, yakni di bawah pengawasan dosen FKG. Terkait dengan itu, kedokteran dengan sasaran manusia pun memerlukan standar teknis yang ketat. Kemudian, agar proses perawatan itu berjalan lancar maka perlu ada saling kerjasama, baik antara mahasiswa FKG maupun si pasien.

Terlebih profesionalitas dari mahasiswa FKG. Dengan kata lain, perlu ada kesepakatan-kesepakatan selama perawatan di klinik tersebut. Meskipun dalam perawatannya pasien tidak membayar, tetapi terkadang pasien bisa melarikan diri. Caranya dengan cara tidak datang ke klinik lagi untuk perawatan selanjutnya, padahal perawatan belum selesai. Terkadang satu dua pasien merasa ketakutan selama perawatan di klinik tersebut.

Sebagaimana telah ditulis di atas, dalam proses perawatan itu, pasien tidak membayar biaya untuk perawatan di klinik FKG. Justru mahasiswa FKG yang membayar untuk klinik seperti sejumlah alat dan bahan yang diperlukan untuk perawatan. Alat-alat kedokteran pun harganya terbilang mahal sebab sebagian besar masih impor. Sejumlah teman-teman FKG pun mengatakan bahwa selama di klinik ini mahasiswa FKG membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Sebetulnya antara pasien dan mahasiswa FKG saling membutuhkan. Di satu sisi pasien memerlukan perawatan terhadap giginya, sedangkan mahasiswa membutuhkan pasien untuk tugas akademis sekaligus praktik langsung di klinik. Seringkali mahasiswa FKG bertanggungjawab terhadap pasiennya. Misalnya, menjemput pasien dari rumahnya atau memulangkan pasien dari klinik. Selain itu, juga tanggung jawab mahasiswa FKG selama berlangsungnya perawatan di klinik.

Senin, 15 Juni 2009

Facebook

Facebook

Oleh: Puguh Utomo

Facebook (fb). Kiranya fb itu sulit dicarikan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Apabila itu secara mentah-mentah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maka menjadi “wajah buku”. Tentu saja terjemahan itu kurang pas. Namun, fb itu tampaknya tidak perlu diterjemahkan sebab nama dari bahasa Inggris itu sudah cukup akrab khususnya bagi penggunanya. Ada gula, ada semut. Di tengah-tengah kesenjangan teknologi informasi, saat ini situs jejaring sosial yang ditemukan oleh Mark Zuckerberg itu menarik perhatian banyak orang.

22 April 2009 saya mendaftarkan diri sebagai pengguna fb. Saat itu ada seorang teman yang mengirim surat elektronik, mengajak agar bergabung dalam fb. Sebetulnya itu bukan pertama kali saya diajak oleh teman saya agar bergabung dalam situs pertemanan. Sebelumnya beberapa teman juga menyarankan agar saya masuk ke fb. Sejumlah media baik elektronik maupun cetak juga memberitakan bahwa fb sedang populer. Bahkan, fb juga digunakan oleh para para politisi bertepatan dengan kampanye dalam pemilihan umum (pemilu) 2009, khususnya pemilu legislatif. Kemudian, baru setelah saya menerima surat elektronik itu saya segera mendaftarkan diri ke situs jejaring sosial tersebut.

Di samping itu, sejak akhir November 2009 saya juga bergabung di situs jejaring sosial lainnya bernama blog. Waktu itu ada seorang teman yang juga seorang penulis membuatkan saya sebuah blog. Umumnya sejumlah penulis memanfaatkan blog ini untuk mempublikasikan gagasannya dalam bentuk tulis. Dibandingkan dengan fb, blog ini lebih sepi pengguna. Oleh karena itu, saya berniat mempertautkan isi blog dengan fb.

Antarsitus pertemanan pun juga terjadi kompetisi. Saling geser-menggeser antar situs menjadi hal yang wajar. Barangkali fb suatu saat nanti juga akan ada yang menggesernya. Bagaimana pun juga penggunaan fb juga bagian dari budaya pop yang dalam kurun waktu tertentu akan berubah. Namun, dapat dicatat bahwa kebutuhan akan hubungan sosial antara satu orang dengan orang lainnya akan senantiasa tetap. Di samping itu, pada dasarnya fb sebagai alat juga merupakan barang konsumsi. Semakin lama suatu barang dikonsumsi maka nilai kepuasannya akan semakin berkurang, terkecuali mungkin internet itu sendiri sebagai mediasi yang tampaknya nilai kepuasannya akan bertahan lama.

Sebetulnya saya sudah lama mengetahui fb lewat koran dan televisi sebagai situs jejaring sosial, sedangkan fb sendiri oleh Mark mulai dikembangkan sejak awal 2004. Namun, saya sempat menilai bahwa fb itu mirip chatting lewat internet yang dulu juga sempat populer. Saya menilai bahwa chatting itu hanya membuang-buang waktu, tenaga, dan biaya. Oleh karena itu, chatting itu merupakan pekerjaan yang sia-sia dan hanya membuat ketagihan. Sampai sekarang saya hanya sekali memakai chatting dan itu pun saya diajak oleh seorang teman pada 2003.

Kemudian, begitu saya terdaftar di fb, saya segera mencoba fasilitasnya. Pertama kali saya saya mencari pengguna fb lainnya. Itu saya lakukan dengan mengklik nama Sekolah Menengah Umum (SMU) pada profil yang telah saya tulis. Betapa tercengangnya saya sebab dalam dunia maya itu ada beberapa teman SMU yang saya kenal. Sebagian besar di antaranya telah memasang foto diri masing-masing dengan pose yang berbeda-beda.

Saya pun akhirnya mengakui bahwa fb bisa membuat ketagihan meskipun saya belum banyak tahu aplikasi yang dimiliki oleh fb. Belum ada seminggu bergabung di fb rasanya sudah ingin membuka lagi fb. Di sana saya dapat menemukan teman-teman di SMU maupun saat kuliah. Reuni pun dapat berlangsung di fb, tetapi agaknya saya sangat sulit menemukan teman-teman SMP, SD, apalagi TK. Di dalam fb itu pula, saya membaca ungkapan-ungkapan teman-teman dalam bentuk tulisan yang unik-unik.

Terkadang saya berpikir bahwa ungkapan-ungkapan itu sungguh di luar dugaan saya. Misalnya, ada seorang teman SMU yang kemudian bisa mengungkapkan pikiran yang cukup unik di fb itu. Memang, psikologi seseorang juga mengalami perkembangan dan ini pun tercermin dari setiap ungkapan dalam fb. Pandangan setelah lulus kuliah, misalnya, akan berbeda dengan pandangan saat masih duduk di bangku SMU. Akan tetapi, mengapa itu dulu tidak terjadi misalnya lewat media majalah dinding (mading) yang ada di SMU? Itu mengingat jika antara mading dan fb sama-sama media. Boleh jadi, inilah kelebihan dari internet tempat fb berkembang biak.

Di antara fasilitas yang ditawarkan oleh fb, perlakuan dari pengguna fb pun tak dapat diabaikan. Secanggih apapun fb jika tidak ada perhatian dari penggunanya, manusia, fb pun akan sia-sia. Inilah yang membuat suatu penemuan perlu menyesuaikan dengan kebutuhan aktual dari manusia. Di fb itu seseorang bisa mengungkapkan hati dan pikiran, misalnya lewat tulisan. Maka dari itu, fb itu ibarat diary on line. Di samping itu, fb juga menawarkan fasilitas seperti publikasi foto, video, dan entah apa lagi aplikasi yang ditawarkan oleh fb.

Bisa jadi dalam situs jejaring sosial yang membuat penemunya menjadi jutawan itu merupakan kenyataan simbolik yang berbeda dengan kenyataan sehari-hari dalam arti pertemuan langsung dengan tatap muka. Memang, interaksi sosial dalam dunia maya menghasilkan kesan tersendiri dibandingkan dengan interaksi sosial di dunia nyata. Terkadang ada beberapa hal yang memungkinkan dapat disampaikan di dunia maya. Akan tetapi, sulit disampaikan dalam pertemuan fisik dan sebaliknya. Berkenaan dengan itu, sekarang ada pandangan bahwa perbedaan di antara dua dunia itu amatlah tipis. Bahkan, dunia maya pun telah sanggup memperpendek ruang dan menghemat waktu serta memungkinkan terciptanya interaksi antarmanusia yang lebih rumit dan lebih cepat karena efek berantainya. Kelahiran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) bisa jadi menandai hal itu.

Kemudian, kira-kira pertengahan Mei ini muncul pemberitaan dari media khususnya dari kalangan agamawan yang mengharamkan fb. Karena pandangan itu masih bersifat lokal maka bisa jadi pandangan itu tidak mewakili pandangan seluruh agamawan. Tentu saja “pengharaman” itu tidak perlu dimaknai secara mentah-mentah. Pandangan itu mencerminkan bahwa agama masih berperan sebagai sumber moral bagi manusia.

Bagaimanapun juga fb sebagai alat, memiliki sisi positif dan bisa juga memiliki sisi negatif. Itu terungkap dari sejumlah fakta atas akibat dari penggunaan fb. Tentu sisi-sisi itu tidak bisa dilimpahkan ke penemu fb. Fb sendiri sudah mengalami massalisasi dan tidak bergerak atas kemauannya sendiri, tetapi digerakkan dari satu tangan ke tangan lainnya. Terkait dengan itu, ada beragam karakter maupun kepentingan dari setiap individu maupun kelompok atas situs jejaring sosial tersebut.

Puguh Utomo

Alumnus Prodi Sosiologi,

FISIP, Universitas Jember