Senin, 31 Agustus 2009

Keseharian Mahasiswa Sosiologi

Keseharian Mahasiswa Sosiologi

Oleh: Puguh Utomo

Entah apa yang dirasakan oleh mahasiswa sosiologi saat pertama kali mengikuti kuliah di Program Studi (Prodi) Sosiologi, FISIP, Universitas Jember (Unej). Kiranya di awal-awal kuliah itu belum banyak testimoni. Sebetulnya hal-hal seperti itu mulai digali saat pengenalan kehidupan kampus, baik dari pihak fakultas maupun dari pihak prodi sendiri. Hanya saja proses tersebut relatif pendek, sedangkan testimoni tersebut memerlukan waktu yang lama, yakni selama mereka menjadi mahasiswa sosiologi.

Mungkin dalam kuliah itu mereka merasakan betapa berbedanya antara suasana saat SMU atau yang sederajat dengan suasana kuliah. Misalnya, dulu saat SMU mereka memakai seragam, sedangkan saat kuliah berpakaian bebas, tetapi sopan. Sistem akademik pun berbeda. Ada sistem kredit semester (SKS) dalam perkuliahan, sedangkan di SMU ini tidak ada. Contoh-contoh seperti inilah yang bisa jadi sebagai pengalaman baru bagi mahasiswa sosiologi di awal semester.

Jadwal perkuliahan sendiri terbagi menjadi tiga waktu, dengan durasi masing-masing 2,5 jam. Jam 06.00-08.30; 08.30-11; dan 11.00-13.30. Setiap 2,5 jam itu untuk satu mata kuliah. Akan tetapi, durasi yang 2,5 jam itu kadang-kadang tidak dimaksimalkan.

Kemudian, di semester pertama ini mereka mendapatkan sistem paket. Artinya, di semester itu setiap mahasiswa diberikan 20 SKS yang terdiri atas delapan mata kuliah. Kebanyakan mata kuliah itu merupakan mata kuliah pengantar, misalnya pengantar sosiologi. Di semester pertama ini pula kegiatan perkuliahan di dalam kelas hampir dilaksanakan setiap hari sesuai dengan jadwal. Jadwal kuliah pun terkadang bisa berubah sesuai dengan kesepakatan antara mahasiswa dengan dosen.

Di semester pertama sampai di pertengahan semester maka banyak penugasan dari dosen. Sebagai misal, mahasiswa diminta membuat makalah. Makalah ini biasanya dibuat sebagai pengganti ujian tengah semester (UTS). Selama kuliah kadang-kadang juga ada penugasan, seperti membuat makalah. Selain itu, penugasan ini bertujuan agar mahasiswa membaca, menulis, dan berdiskusi. Meskipun demikian, sebagian mata kuliah yang lain tetap dengan ujian tulis. Kemudian, untuk transparansi, nilai mata kuliah biasanya ditempel di papan pengumuman.

Begitu tiga bulan usai maka selanjutnya memasuki tiga bulan kuliah untuk menggenapi satu semester. Pergantian itu biasanya diikuti dengan pergantian dosen pengajar. Meskipun demikian, terkadang ada dosen yang mengajar secara penuh, yakni selama satu semester untuk satu mata kuliah. Perkuliahan pun seperti sebelum UTS, tetapi dengan materi lanjutan dan tentu saja materinya berbeda. Di akhir semester, kemudian diadakan ujian akhir semester (UAS) yang umumnya dengan ujian tulis.

Setelah UAS di semester ganjil berakhir, ada rentang waktu tertentu untuk pengurusan beberapa hal dan itu telah terjadwal. Oleh karena itu, selama itu sekaligus merupakan masa liburan. Rentang waktu itu di antaranya digunakan untuk pembayaran-pembayaran seperti Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) untuk semester genap, yakni bulan Januari sampai dengan Juni. Keterlambatan pembayaran ini bisa dikenai sanksi pemotongan 12 SKS.

Kemudian, slip pembayaran tersebut digunakan sebagai syarat pengambilan Formulir Konsep Rencana Studi (FKRS) dan pengambilan Lembar Hasil Studi (LHS). Baik FKRS maupun LHS ini diketahui oleh Dosen Pembimbing Akademik (DPA) yang ditandai dengan paraf DPA. Khusus mengenai LHS, salah satu salinannya dikirimkan pada wali mahasiswa. Setelah mengetahui indeks prestasi (IP) maka mahasiswa bisa memprogram mata kuliah sesuai dengan perolehan IP.

Perolehan IP itu memengaruhi jumlah SKS yang ditempuh. Misalnya, jika IP 3,00 maka mahasiswa bisa menempuh 24 SKS. Apabila IP di bawah 3,00, misalnya 2,80 maka mahasiswa hanya bisa menempuh 21 SKS. Tentu saja dengan jumlah 24 SKS itu maka semakin banyak pula mata kuliah yang bisa ditempuh. Kemudian, jika perolehan IP itu di atas 3,00 maka semakin baik dan bisa menempuh jumlah SKS secara maksimal. Inilah salah satu ciri sistem SKS yang memungkinkan adanya penjenjangan antarmahasiswa dalam pencapaian prestasi akademis.

Kemudian, aktifitas kuliah semester I sampai dengan semester IV umumnya relatif sama. Sementara itu, di semester V mulai ada mata kuliah dengan penugasan di luar kelas, yakni mata kuliah Kajian Sosial Budaya Masyarakat Pertanian. Penugasan itu antara lain sebagai persiapan untuk penulisan skripsi. Misalnya pada tahun 2006 mahasiswa yang menempuh mata kuliah itu dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok ditugasi membuat makalah sesuai dengan topik yang telah diberikan. Data dari makalah itu perlu dicari di lapangan atau lokasi tertentu.

Hal seperti itu umumnya berlangsung hingga semester VIII. Setelah semester ini mahasiswa biasanya sudah tidak masuk kelas untuk kuliah. Umumnya, mata kuliah sudah mereka tempuh dan tinggal mengerjakan skripsi. Meskipun demikian, sebagian mahasiswa masih memprogram mata kuliah yang belum ditempuh maupun mengulang beberapa mata kuliah tertentu. Kondisi ini pun dipengaruhi oleh sistem akademis, yakni SKS.

Di luar kuliah mahasiswa sosiologi pun menjalankan aktifitas sehari-hari sebagaimana umumnya. Karena sebagian mahasiswa berasal dari luar kota, bahkan luar provinsi sampai luar pulau maka mereka ini umumnya tinggal di indekos. Dengan situasi itu tentu sangat sulit untuk membawa serta keluarga dan karenanya mereka harus berpisah dengan keluarganya untuk sementara waktu. Sebagai mahasiswa indekos maka aktifitas seperti makan perlu diurus sendiri. Tentu saja ini berbeda dengan mahasiswa yang tidak indekos atau tinggal di rumah sendiri tanpa terpisah dengan keluarganya.

Terkait dengan itu, awal-awal semester biasanya mahasiswa mulai mengenali kehidupan organisasi mahasiswa. Khususnya di tingkat universitas, jumlah organisasi lebih banyak jika dibandingkan dengan tingkat SMU. Secara umum organisasi mahasiswa di kampus dibedakan menjadi dua jenis, yakni Organisasi Mahasiswa Intra Kampus (Ormik) maupun Organisasi Mahasiswa Ektra Kampus (Ormek). Khusus mengenai Ormek, bagi sebagian mahasiswa merupakan hal yang relatif baru. Itu karena Ormek relatif tidak begitu dikenal di bangku SMU. Meskipun demikian, itu tidak berarti bahwa Ormek ini sama sekali tidak diminati.

Khusus mahasiswa sosiologi yang terjun dalam organisasi maka kesehariannya agak berbeda dengan mahasiswa sosiologi yang tidak tergabung ke dalam organisasi. Sebagaimana umumnya dalam organisasi maka ada struktur organisasi, aturan-aturan tertulis organisasi maupun tidak tertulis, program kerja organisasi, dan lain sebagainya.

Maka dari itu, selain menjalani aktifitas akademis, mahasiswa yang terjun dalam organisasi atau disebut juga dengan aktifis juga sibuk di organisasi. Bahkan, karena kesibukannya, sejumlah aktifis merasakan bahwa porsi antara aktifitas akademis, dalam arti kegiatan perkuliahan, dengan aktifitas di organisasi relatif sama. Bahkan, mungkin sejumlah aktifis menghadapi tumpang tindih di antara keduanya.

Dalam lingkungan perguruan tinggi seperti universitas, antara organisasi mahasiswa dan lingkungan akademis, misalnya dalam bentuk fakultas maka juga tidak dapat saling dilepaskan. Hubungan keduanya ibarat dua sisi mata uang dan relatif independen.

Dalam pada itu, seorang mahasiswa sosiologi rata-rata memerlukan waktu empat tahun untuk menyelesaikan program sarjananya. Sebagian di antaranya membutuhkan waktu lima tahun, bahkan lebih. Selama mereka menjadi mahasiswa maka ada kewajiban-kewajiban terkait statusnya sebagai mahasiswa. Selama rentang waktu itu pula sebagian waktu, tenaga dan biaya tersita untuk kewajiban-kewajiban atas statusnya tersebut.

Puguh Utomo

Alumnus Prodi Sosiologi

FISIP, Universitas Jember

3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. weleh2 sampe keseharian mantan mahasiswa di usung jg..good
    guh mampir d blog ku yoooo
    by andra

    BalasHapus
  3. Nice Info Jangan Lupa Kunjungi Balik Blog jasabimbinganskripsisurabaya.blogspot.com/

    BalasHapus