Sabtu, 03 Oktober 2009

Perpustakaan Umum Daerah

Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Nganjuk


Perpustakaan umum daerah (Perpusda) Kabupaten Nganjuk yang terletak di Jl. Diponegoro itu bangunannya kalah megah dengan bangunan distribution outlet (distro) yang berada di seberang jalan, sebelah barat Perpusda itu. Distro yang sebagian besar menjual pakaian itu ber-arsitektur modern dengan tiga lantai, sementara Perpusda ber-arsitektur klasik dengan hanya berlantai satu.

Di samping itu, sebelah utara distro itu juga berdiri swalayan yang menjual barang kebutuhan sehari-hari. Agak ke selatan lagi juga berdiri counter handphone yang tak kalah megah. Bangunan Perpusda itu sendiri terbilang kecil. Satu hal yang membuatnya tampak menonjol adalah halaman ber-ubin yang tampak lebih luas daripada bangunannya.

Berdekatan dengan Perpusda itu, yakni di sisi timur laut juga terdapat perpustakaan keliling. Di sebelah utaranya lagi terdapat bangunan tempat orang membayar listrik. Di bandingkan dengan perpustakaan keliling dan tempat pembayaran listrik tersebut, Perpusda yang paling banyak dikunjungi. Tentu itu wajar sebab sesuai fungsinya, yakni Perpusda tersebut memiliki lebih banyak koleksi buku yang dapat dibaca di tempat maupun dipinjam oleh pengunjung. Peminjaman itu bisa dilayani setelah pengunjung menjadi anggota Perpusda. Peminjaman pun masih dilakukan dengan cara manual. Di samping itu, di Perpusda sekarang juga menyediakan dua jenis koran yang hanya bisa dibaca di tempat.

Begitu memasuki Perpusda maka seorang pengunjung perlu menulis daftar hadir. Petugas Perpusda yang kini biasanya ditempati oleh tiga siswi jenjang Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) biasanya mengingatkan pengunjung yang belum menulis daftar hadir. Sementara itu, pengunjung yang membawa barang, misalnya tas dan jaket maka perlu di taruh di rak. Tas, misalnya tidak boleh dibawa masuk ke ruang koleksi buku. Itu dilakukan demi keamanan dan menghindari kecurigaan, seperti pencurian terhadap koleksi buku milik Perpusda.

Perpusda sendiri terdiri atas tiga ruang. Dari sisi barat, ruang pertama, ada ruang untuk peminjaman yang dilayani oleh petugas, rak tempat koleksi buku khusus seperti kamus, dan rak koran. Ruangan itu pun untuk membaca koran. Di sisi barat, di balik jendela agak di sisi utara juga ada warung makan dengan bangunan semi permanen. Lewat jendela, terkadang aroma aktifitas dapur dari warung itu sampai ke ruang pertama Perpusda. Tentu saja tidak lazim dilakukan oleh pengunjung Perpusda jika membeli makan dari warung itu dan dimakan di ruangan tersebut.

Apalagi membelinya lewat jendela. Sementara itu di balik di jendela itu sudah merupakan trotoar dan jalan yang lalu lintas kendaraannya terbilang padat untuk kawasan kota Nganjuk. Apalagi dari alun-alun kota Nganjuk, posisi Perpusda itu berjarak sekitar 2 km ke arah timur.

Aktifitas yang menonjol di ruangan pertama ini adalah membaca koran. Rata-rata pada hari biasa ada lima orang yang membaca koran. Umumnya pembaca koran berasal dari kalangan remaja dan dewasa, baik laki-laki maupun perempuan. Untuk menambah kenyamanan saat membaca, khususnya di waktu suhu udara yang panas di atas plafon itu juga ada satu kipas angin.

Di ruangan itu pula biasanya juga ada sejumlah buku yang ditaruh dalam lemari kaca yang berbentuk meja. Buku itu merupakan buku koleksi terbaru Perpusda. Sebagai koleksi terbaru, buku itu umumnya belum bisa dipinjam oleh pengunjung. Baru setelah buku itu di input maka bisa dipinjam. Sebagaimana buku-buku koleksi milik Perpusda, buku-buku di dalam lemari itu telah diberi nomor kelas dan telah disampuli plastik.

Kemudian, sejak 29 Agustus 2009, ruang pertama tersebut telah diberi pendingin udara (air cold atau AC). Itu bertepatan dengan pelaksanaan puasa yang hampir satu minggu. Keberadaan alat pendingin tersebut semakin meningkatkan kenyamanan pengunjung Perpusda. Meskipun sudah ada AC, tetapi sebuah kipas angin biasanya masih difungsikan. Keberadaan AC dengan suhu udara yang sejuk mirip di pegunungan itu juga membuat suasana berbeda. Misalnya, sekarang jendela ditutup rapat. Begitu juga dengan pintu masuk Perpusda. Itu pun membuat suasana ruangan itu berbeda dibandingkan dengan sebelum dipasang AC.

Namun, sayang, AC itu hanya difungsikan selama beberapa hari. AC memang masih terpasang di ruangan pertama tersebut, tetapi AC tidak difungsikan. Keadaan ruangan itu pun kembali seperti sebelum ada AC. Misalnya, jendela di ruangan itu dibuka. Sementara itu, jika udara panas maka satu kipas angin yang menggantung di plafon dinyalakan.

Bergeser ke ruang timurnya, yang dihubungkan dengan satu pintu ada ruang kedua. Di ruangan ini ada rak tempat untuk menaruh koleksi sejumlah majalah. Ruangan ini lebih sempit daripada ruang pertama. Di ruangan ini pula ada ada papan tulis yang bertuliskan kondisi statistik, seperti jumlah pengunjung dalam satuan bulan, jumlah buku yang dipinjam, dan jenis buku yang dipinjam. Di ruangan ini biasanya juga diputar radio dengan volume suara yang rendah.

Kemudian, masih dihubungkan oleh sebuah pintu, yakni ruangan ketiga ada lima rak, tempat untuk meletakkan berbagai jenis buku yang dimiliki oleh Perpusda. Agaknya koleksi Perpusda lebih banyak buku jenis pelajaran sekolah dari jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) sampai dengan Sekolah Menangah Atas (SMA) atau yang sederajat. Meskipun demikian, juga ada buku-buku jenis lain seperti buku agama, sastra, komik, dan jenis-jenis buku lainnya.

Di ruangan ketiga ini, sekarang telah dipasang AC sehingga membuat ruangan lebih sejuk. Di samping itu, dua kipas angin juga menggantung di plafon di ruangan itu. Tampaknya, dua kipas angin itu telah lebih dulu dipasang. Karena ruang ber-AC maka seluruh jendela kaca di ruangan ketiga itu pun ditutup dan merokok pun tidak diperbolehkan. Dibandingkan dengan ruangan pertama dan ruangan kedua, ruangan ketiga ini paling luas.

Di depan ketiga ruangan itulah pengunjung Perpusda biasanya memarkir kendaraannya. Umumnya jenis kendaraan seperti motor dan sepeda angin. Di depan ruangan pertama dipasang atap agar kendaraan tidak kepanasan. Selain itu juga untuk memarkir kendaraan di saat hujan. Kemudian, di depan ruangan kedua tumbuh pohon mangga yang juga dapat meneduhkan kendaraan, khususnya dari sinar matahari. Selain itu, pohon mangga itu juga berfungsi menyejukkan halaman depan ruang Perpusda tersebut.

Sampai kini pada jam kerja, Perpusda Kabupaten Nganjuk masih tetap melayani pengunjungnya. Misalnya peminjaman buku maupun tempat membaca koran. Tentu saja Perpusda masih memiliki kekurangan-kekurangan. Akan tetapi, itu sepertinya tidak menghalangi pengunjungnya untuk datang ke Perpusda. Oleh pengunjungnya, Perpusda masih menjadi harapan untuk mendapatkan informasi.


4 komentar:

  1. Menyenangkan sekali sebenarnya berkunjung ke sebuah perpustakaan. Sasana ilmu pengetahuan dan surga bagi pecinta buku.

    Sekadar catatan untuk perbaikan ke depan demi perkembangan pengetahuan masyarakat Nganjuk khususnya (pesan ini semoga diteruskan ke orang2 yang berkompeten di perpusda Nganjuk:

    1). Buku2 koleksi kelewat jadul artinya sangat2 tidak up to date dengan perkembangan perbukuan. Misalnya: untuk buku populer seperti Ayat-Ayat Cinta saja baru ada di jajaran rak buku begitu euforia filmnya sedang hangat di masyarakat. Padahal buku tsb difilmkan setelah 3-4 th setelah terbit pertama kali.

    2). Adanya sikap yang sangat konyol dari masyarakat Nganjuk (baca: pengunjung perpus) dalam memperlakukan sebuah buku, sikap yang sangat tidak beretika dalam membaca. For further information on how to make a longlife of book, please follow this link : http://adieriyanto.blogspot.com/2008/12/bersahabat-dengan-buku-sebuah-ritual.html

    3. OK. Saya tidak ada masalah dengan pelayanan manual, tapi utk pembuatan kartu anggota, mengapa harus memakan waktu yg sangat laaammmaa ;=(

    4. Koleksi buku yang 'LingkarPenaSentris' artinya kebanyakan buku2 baru yg dibeli terbitan Lingkar Pena (LP). As you know, tdk semua terbitan LP itu bermutu. Bahkan kata Koran Kompas, pengarang2 LP kebanyakan kurang dapat menyentuh sisi2 artistik dalam sebuah karya sastra. So kenapa gak beli buku2 karya Pramudya Ananta Toer, Dewi Dee Lestari, Ayu Utami etc yang notabene lebih sering dibicarakan dalam ranah budaya maupun ilmu pengetahuan. (Baca kolom Humaniora Kompas, atau PustakaLoka kompas). Di dalam pelajaran Bahasa Indonesia pun mungkin sudah dibahas, coba kamu cek, ada gak buku2 puisi Joko Pinurbo.
    Kalau alasannya dana, saya kira PEMDA Nganjuk mampu untuk membeli dan memperbaharui perpusda dengan buku2 yang relatif lebih baru dan 'bermutu'

    Ok, that's all
    nice to read it
    ;=)


    ~ Adie ~

    BalasHapus
  2. OK, terima kasih banyak Sdr. Adie atas komentarnya. Bagaimanapun juga sebuah perupustakaan memegang peran penting, khususnya terkait dengan informasi.

    BalasHapus
  3. wah lbh ajiíb klo maen game drpd baca buku he3..
    http://game-ajiiib.blogspot.com

    BalasHapus
  4. Yach setiap karya, termasuk tulisan, punya pangsa pasar sendiri-sendiri. Bagaimanapun jg manusia tak akan bisa lepas dari "karya tulis". KTP, Akta kelahiran, Undang-Undang jg bagian dari "karya tulis".

    BalasHapus