Kamis, 14 Januari 2010

Dua Jam di Perpustakaan Proklamator Bung Karno

Dua Jam di Perpustakaan Proklamator Bung Karno

Jam 07.00 saya dan teman saya berangkat dari Nganjuk dengan sepeda motor menuju Blitar. Kami sengaja berangkat pagi agar tiba di Blitar tidak terlalu siang. Apalagi saat sore hari biasanya turun hujan. Di samping itu, kami sadar bahwa kami akan menempuh perjalanan selama hampir 2 jam. Maklum, Nganjuk-Blitar sekitar 70 km.

Dalam perjalanan itu, beruntung, kami mengendarai motor dengan isi silinder 160 cc. Oleh karena itu, bisa dibayangkan bagaimana pengalaman berkendara motor dengan silinder mesin tersebut dibandingkan berkendara dengan sepeda motor dengan isi silinder di bawah 160 cc.

Rabu, 6 Desember 2009 kala itu tujuan kami adalah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno (PPBK)-Kota Blitar. Saya pun belum pernah ke PPBK yang saat itu diresmikan oleh Presiden Megawati. Cerita seorang teman yang tinggal di Blitar, tidak jauh dari PPBK, pun memengaruhi saya untuk berkunjung ke PPBK. Teman saya itu adik kelas saya saat kuliah. Teman saya itu pula yang nantinya menjadi pemandu kami ke PPBK.

Kemudian, hampir jam 09.00 kami telah tiba di Blitar. Waktu itu teman saya itu menjemput kami, setelah terlebih dahulu saya menelponnya. Kami pun singgah di rumahnya. Dia pun menjamu kami di warung makan milik orang tuanya. Saat waktu menunjukkan hampir jam 10.00 kami pun bergegas ke PPBK.

Setelah kurang dari 10 menit, kami pun tiba di PPBK. Prasasti bertuliskan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno-Kota Blitar pun seakan-akan memberikan sambutan. Kemudian, dari sisi jalan bangunan PPBK itu tampak megah dengan arsitektur modern.

Saat akan memasuki area parkir, seorang satuan pengamanan (satpam) memberikan nomor parkir pada kami. Satu hal yang membuat saya agak heran, yakni di gerbang menuju area parkir itu ada sekitar tujuh orang satpam yang sedang bertugas. Bagi saya itu cukup unik untuk keamanan sebuah perpustakaan. Meskipun demikian, jika melihat standar sebuah perpustakaan nasional maka jumlah satpam itu wajar.

Kami pun segera menuju ruang tempat koleksi PPBK. Sebelumnya, kami meletakkan barang kami, tas dan jaket ke tempat penitipan yang telah disediakan. Tentu saja aturan itu umum di setiap perpustakaan, yakni barang seperti tas tidak boleh dibawa masuk ke ruang koleksi perpustakaan. Setelah itu, atas panduan teman saya itu, kami menuju lantai 1 dari 2 lantai bangunan PPBK. Persis di sisi pintu utama ini terdapat patung berukuran besar, yakni Soekarno yang tengah duduk.

Begitu kami masuk, setelah melewati pintu kaca, udara sejuk pun langsung terasa. Ruangan itu ber-pendingin udara. Di lantai 1 ini terdapat koleksi beberapa surat kabar dan sejumlah majalah. Kami tidak lama di lantai 1 ini. Setelah itu, kami menuju tangga yang menghubungkan ke lantai 2, tempat koleksi buku-buku. Waktu itu kami sempat menghubungi salah seorang petugas yang membantu kami mencari buku di rak yang terbuat dari besi. Kebetulan hari itu, sebagian buku masih akan ditata kembali di rak.

Sejak awal, saya sendiri hanya penasaran dengan keberadaan PPBK tersebut, khususnya bagaimana koleksinya. Saya juga sadar bahwa saya yang tidak berdomisili di Blitar tidak akan bisa meminjam koleksi milik PPBK. Maka dari itu, saya pun hanya berusaha melihat koleksi PPBK, khususnya buku-bukunya. Oleh karena itu, saya mengamatinya buku-bukunya dari rak satu ke rak lainnya. Selanjutnya, beberapa buku yang saya lihat, tampak di halaman depannya tertulis sumbangan dari sebuah yayasan di Jakarta.

Di sana juga ada catalog on line untuk mencari koleksi. Sebagaimana diketahui bahwa catalog tersebut memudahkan pencarian sebuah buku. Saya pun mencoba mengetikkan judul “Tesaurus Bahasa Indonesia”. Ternyata tidak ada. Teman saya pun mengatakan bahwa tidak setiap karya Pramoedya ada di catalog tersebut.

Di ruangan tersebut, saya pun merasa tidak sempat membaca di meja baca yang berkursi merah itu. Saya hanya membacanya di rak tempat saya mengambil buku dan membacanya dengan posisi badan berdiri. Saya berpikir bahwa dengan waktu yang terbatas itu, masih banyak rak-rak lain yang belum saya lihat buku-bukunya. Namun, akhirnya saat saya menulis catatan ini, saya agak menyesal mengapa saat itu saya tidak duduk sejenak di meja baca sambil membaca buku.

Setelah judul-judul buku di rak ruangan tersebut saya amati, kami bertiga pun berpindah menuju ruangan lainnya. Kami pun lewat sebuah koridor di sisi-atas patung Soekarno, sebagai penghubung dua ruangan tersebut. Saat berada di koridor, suhu pun kembali panas. Maklum, suhu udara di koridor ini tidak berpendingin udara sebagaimana di ruangan tadi. Suhu udara di koridor ini sudah menyatu dengan suhu luar ruangan.

Akan tetapi, begitu masuk ruangan maka suhu udara yang sejuk pun kembali terasa. Bahkan, di ruangan ini suhu udaranya terasa lebih dingin daripada suhu ruangan sebelumnya. Saya pun menghampiri rak yang berisikan buku-buku jenis sastra. Di rak itu saya berharap menemukan buku kepenulisan, khususnya nonfiksi. Namun, saya tidak menemukannya.

Ruangan ini agaknya berisi rak untuk buku-buku jenis sastra, teknologi, dan kesehatan. Di samping itu, buku-buku yang tergolong lama juga ditempat di rak di ruangan ini. Sementara itu, ruangan yang kami tinggalkan tadi raknya untuk buku-buku jenis filsafat, agama, ilmu sosial, ekonomi, dan politik. Ruangan ini pun lebih tenang dibandingkan dengan ruangan sebelumnya. Di ruangan sebelumnya ada suara mesin pendingin yang bersuara mendengung.

Dua ruangan di lantai dua ini, selain dihubungkan oleh koridor tadi, sebetulnya dihubungkan oleh dinding kaca. Sebagaimana diketahui bahwa sebagian bangunan PPBK, terutama dindingnya terbuat dari kaca. Memang, dinding ini sebagai pembatas, tetapi dinding kaca yang tembus pandang ini memungkinkan dapat melayangkan pandangan dari balik dinding kaca ini. Maka dari itu, pandangan mata pun menjadi lebih luas.

Kemudian, saat waktu menunjukkan sekitar jam 12.00 kami pun meninggalkan ruangan tersebut. Jadi, kurang lebih selama dua jam itu kami bertiga melihat-lihat koleksi pustaka milik PPBK. Setelah itu, kami bertiga berencana ke makam proklamator Bung Karno di sebelah barat, berdekatan dengan PPBK. Bagi saya, kunjungan ini merupakan kali kedua. Pertama kali saya ke makam Bung Karno ini adalah saat saya masih Sekolah Dasar (SD), yakni kira-kira tahun 1995.

Saat kami ke makam Bung Karno, terlihat sejumlah orang berziarah dan berdoa di depan makam. Posisi makam Bung Karno sendiri berada di tengah-tengah, sedangkan di kanan dan kirinya merupakan makam orang tua, ayah dan ibu Bung Karno. Hal yang menarik lagi di makam tersebut adalah ukiran kayu pada atap makam.

Perjalanan pun dilanjutkan ke sebelah makam, yakni pasar tempat penjualan sovenir. Misalnya, baju kaus dengan gambar Bung Karno, kemeja batik, hiasan dari kayu, dan lain sebagainya. Saya berpikir bahwa pasar itu tidaklah terlalu luas, tetapi ternyata saya salah. Pasar itu terbilang luas dan cukup untuk melelahkan kaki.

Kami pun kembali ke PPBK dan akan mengambil tas di tempat penitipan. Namun, sebelum itu, kami masuk ke museum Bung Karno. Di dalamnya terdapat beberapa barang. Misalnya jas milik Bung Karno dan puluhan foto Bung Karno. Sama seperti di ruangan PPBK, di museum ini juga dilarang memotret atau mengambil gambar.

Sementara itu, langit pun terlihat gumpalan mendung pertanda akan turun hujan dan kami pun pulang.

Klik di sini untuk ke website Perpustakaan Proklamator Bung Karno.





1 komentar:

  1. nice posting mas..
    penasaran pengen jalan2 kesana..

    BalasHapus