Jumat, 06 Agustus 2010

Kaki-ku Keseleo


Gambar diunggah dari sini.

Kaki-ku Keseleo

Kejadiannya begitu cepat. Saat itu, Senin 2 Agustus 2010 sekitar pukul 11.30 saya meninggalkan warung internet (warnet). Galon air minum yang kosong saya letakkan di depan dan saya apit. Saya lalu menghidupkan mesin motor. Begitu motor berjalan sekitar dua meter, motor menuruni trotoar jalan. Pada saat yang sama saya memindah transmisi ke gigi dua. Ternyata kaki kiri saya terpeleset atau lepas dari injakan transmisi saat akan pindah ke gigi dua.

Bagian tumit masih menyentuh gagang injakan kaki pada motor. Seketika itu juga kaki kiri saya bergesekan dengan lantai turunan trotoar sebab jaraknya dekat. Maklum, trotoar jalan lebih tinggi daripada jalan yang beraspal. Kaki kiri saya terkunci, sementara motor melaju menuruni trotoar jalan. Pergelangan kaki kiri saya pun tertekuk. Akhirnya, kaki kiri saya terkilir alias keseleo.

Rasanya sakit. Saya kaget sambil menahan sakit. Namun, rasa sakit itu tidak membuat air mata saya mengalir. Galon pun saya letakkan di samping motor dan saya berhenti di pinggir jalan, di bawah pohon. Untunglah saat itu saya memakai sandal selop. Jika tidak maka mungkin jari kaki kiri saya akan bergesekan dengan turunan trotoar. Mungkin juga saya tidak konsentrasi dalam mengendarai motor. Atau, alas sandal selop saya tergolong licin untuk injakan persneling motor yang terbuat dari besi itu.

Saya menggerak-gerakkan kaki yang keseleo itu. Terkadang saya memijit-mijitinya. Saya berharap itu tidak sakit serius. Seketika itu juga tiba-tiba saya merasa sangat haus dan lapar. Namun, masih bisa saya tahan. Beberapa meter di depan saya ada rumah sakit umum (RSU). Namun, terlalu manja jika saya ke RS hanya kerena keseleo. Saya pun mencoba menginjak gagang transmisi motor saya. Ternyata masih bisa. Saya pun melanjutkan perjalanan.

Di agen penjual air minum saya membeli air minum dalam kemasan, ukuran 600 ml. Saya juga membeli air minum galon. Namun, saya sengaja menitipkannya sebab saya akan pergi ke perpustakaan, tak jauh dari agen penjual air minum. Di agen penjual air minum itu pun saya berjalan dengan agak pincang.

Di perpustakaan, di halaman parkir, saya meminum air minum yang saya beli tadi. Beberapa saat kemudian, saya membuang plastik, tutup kemasan di tempat sampah. Setelah itu, saya masuk ke perpustakaan. Saya pun mengambil sebuah koran dan membawa botol air minum. Entah bagaimana pandangan orang-orang saat itu. Saya tidak mempedulikannya.

Saya tidak lama di perpustakaan. Setelah mengambil galon air saya pun pulang. Untunglah kaki kiri saya masih mampu menginjak persneling motor. Saat mengendarai motor itu pun saya terkadang menggerak-gerakkan kaki kiri saya. Di tengah perjalanan itu saya sempat melihat turunan trotoar yang mencelakakan saya tadi.

Setiba di rumah saya mengompres kaki kiri saya itu dengan es batu agar tidak bengkak. Beberapa saat kemudian, saya meminta ibu saya memijit-mijit kaki kiri saya itu. Kemudian beliau memberi balsem. Setelah membalsem kaki kiri saya pun sempat ditarik. Entah apakah cara ini benar. Namun, setelah itu saya merasa sakitnya malah menjadi-jadi.

Sore hari rasa sakitnya malah menggila. Saya harus menggunakan tumit kaki yang sakit itu untuk berjalan. Saya pun berjalan pincang dan harus menahan sakit di setiap langkah. Kaki pun terlihat bengkak. Menjelang maghrib saya mengompres dengan es batu untuk mengurangi sakitnya. Malam harinya saya mengolesinya dengan balsemnya. Untungnya rasa sakit itu tidak menghebat di malam hari. Keesokan paginya, rasa sakitnya sudah berkurang. Akan tetapi, sisa-sisa rasa sakit masih ada dan masih terlihat bengkak.

Saya pun kemudian berpikir, kecelakaan memang bisa menimpa siapa saja. Saya juga berpikir mengapa kemalangan itu terjadi pada saya? Padahal saya waktu itu bukan kali pertama saya menaiki motor itu. Andai saja saya bisa kembali beberapa jam maka saya tidak akan memindah transmisi motor saya di turunan trotoar itu. Atau, jika saat itu saya menginjak persneling dengan tepat. Namun, ini bukan penyesalan.

Keseleo-nya kaki kiri saya itu juga disebabkan oleh saya sendiri. Tidak tepat rasanya jika menyalahkan orang lain. Itu juga merupakan takdir atau garis dalam hidup saya yang mau tidak mau harus saya jalani. Lain kali saya akan lebih berhati-hati dan semoga ini menjani pelajaran kita bersama.

3 komentar:

  1. Salah satu cara Allah memberi ilmu kita salah satunya melalui keseleo. Ilmu sabar.

    Semoga sekarang sudah sembuh. Amin.

    BalasHapus
  2. Cek emailnya ya Mas :)

    puguhtm@yahoo.com

    BalasHapus
  3. Yap, bu. Sekarang udah sembuh meskipun kadang masih terasa sakit.

    BalasHapus