Jumat, 20 Agustus 2010

Ramadan


Gambar diunggah dari sini.

Ramadan

Seorang teman pada awal puasa mengirim pesan pendek (sandek) lewat telepon seluler (ponsel) pada saya. Katanya, Ramadan ini terasa begitu cepat datangnya. Seorang teknisi sepeda motor pun mengiyakan saat saya mengatakan Ramadan kali ini terasa datang dengan cepat. Karikatur di salah satu koran pun mengutarakan, Ramadan terasa begitu cepat datang kembali. Bulan Ramadan berarti melaksanakan ibadah puasa. Dalam karikatur itu pun dikatakan, setiap bulan “kita” (rakyat kecil) sudah melaksanakan puasa (kelaparan) sehingga sudah terbiasa.

Saya pun juga merasakan tiba-tiba datang Ramadan lagi. Memang, jika dibandingkan dengan Ramadan tahun 2009, Ramadan 2010 ini maju sepuluh hari. Namun, begitu saya melihat kembali judul Puasa yang saya tulis pada Ramadan 2009 sepertinya judul itu sudah lama saya tulis. Jadi persepsi tentang Ramadan itu berkaitan dengan waktu. Waktu atau periode juga bisa bersifat relatif pada setiap orang.

Saat berada di Ramadan 2010, seseorang bisa saja mengingat momentum Ramadan 2009 silam. Misalnya, saat seseorang ditanya pada hari Sabtu, tentang cepatnya datang bulan Ramadan maka seseorang bisa merasakan Ramadan itu baru kemarin dilaksanakan. Seperti kata teknisi sebuah bengkel tadi. Padahal, penghitungan kalender untuk menentukan Ramadan ini didasarkan pada Bulan. Rentang waktu antara Ramadan 2009 dan Ramadan 2010 pun terbilang satu tahun. Dibandingkan dengan penanggalan yang didasarkan pada Matahari, penanggalan berdasarkan Bulan ini lebih cepat.

Saya sesungguhnya tidak paham betul tentang penanggalan, baik Hijriah maupun masehi. Namun, sampai periode sekarang, Ramadan datang lebih cepat. Buktinya, Ramadan 2010 ini maju sepuluh hari dari Ramadan 2009 silam. Itu jika dilihat dari penanggalan Masehi.

Saya terkadang bertanya-tanya, di sebuah televisi tertulis kata “Ramadhan” dengan “h”. Namun, di televisi lainnya tertulis kata “Ramadan” tanpa “h”. Jika saya melihat di KBBI edisi ketiga, cet. 3, 2002, tertulis “Ramadan”. Saya sendiri sengaja memakai judul Ramadan, berdasarkan KBBI. Mungkin penulisan “h” maupun tanpa “h” pada bulan ke-9 Hijriah itu bukanlah masalah.

Pada bulan Ramadhan ini pun umat Islam diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh. Berbuka puasa, sholat tarawih, khataman Al Quran setelah shalat tarawih, santap sahur maupun rangkaian ibadah lainnya adalah beberapa hal yang dilakukan berkaitan dengan Ramadan. Terkait khataman, di facebook saya pernah menulis “Maaf, bukannya saya benci dengan khataman Al Quran, tetapi volume amplifier di masjid terlalu keras. Hendaknya suaranya sedang-sedang saja.”

Di dusun tempat saya tinggal ini, menjelang puasa sejumlah anak ada yang bermain petasan. Beberapa di antaranya ada yang bermain blanggur, yakni sejenis meriam yang terbuat dari bambu. Amunisinya dari karbit. Tentu permainan itu bukanlah hakikat dari puasa yang sebenarnya. Menjelang puasa tahun lalu saya pernah mengirim pesan pendek lewat ponsel ke beberapa orang teman. Bunyinya “puasa menempa jiwa dalam jalan yang tak selamanya bertaburkan bunga. Ramadan menyemai kebaikan dalam jalan yang tak selamanya sarat keindahan.”

Selama puasa pun kita tidak makan maupun tidak minum selama lebih dari 12 jam. Pengalaman saya yang kini berusia seperempat abad ini agar kuat berpuasa maka nutrisinya hendaknya mencukupi. Sebagaimana disarankan oleh pakar kesehatan, misalnya konsumsi sayur dan buah. Tidak harus mahal. Syukur bisa empat sehat lima sempurna. Konsumsi protein hewani seperti daging sapi juga bagus seperti yang saya lakukan meskipun hanya sedikit. Mereka yang vegetarian juga bisa mengonsumsi protein nabati, misalnya dari tempe.

Kebiasaan menggosok gigi juga bagus untuk mempertahankan kesehatan mulut dan gigi. Selama Ramadan ini saya berusaha menggosok gigi sebelum tidur malam. Cara menggosok gigi pun hendaknya juga benar. Upayakan menggosok gigi pada seluruh area gigi, yakni bagian luar dan dalam, atas dan bawah gigi. Gosok gigi juga baik dilakukan setelah sahur, yakni beberapa menit mendekati imsak. Tujuannya agar setelah gosok gigi masih ada waktu untuk minum air putih.

1 komentar:

  1. Iya terasa cepat. Dulu pertama kerja juga pas bln ramadan, sekarang gak terasa sudah ramadan lagi.

    BalasHapus