Rabu, 17 November 2010

Televisi Lokal

Televisi Lokal

Televisi lokal yang saya maksud adalah yang di Kabupaten Nganjuk dan di Kabupaten Madiun. Karena alasan merek, saya tidak menyebut nama televisinya. Dua stasiun televisi lokal itulah yang bisa saya tonton di televisi di rumah saya. Sebetulnya, di Kabupaten Kediri juga ada televisi lokal. Namun, gelombangnya tidak bisa tertangkap oleh antena televisi di rumah saya.

Kabupaten Madiun merupakan batas sebelah barat Kabupaten Nganjuk. Kabupeten Kediri merupakan batas Kabupaten Nganjuk sebelah selatan. Jarak yang relatif dekat itulah yang membuat gelombang televisi lokal di Madiun bisa tertangkap dengan mudah di Nganjuk. Berbeda dengan Madiun, daya tangkap antena televisi saya yang lemah menyebabkan siaran televisi lokal dari Kediri itu tidak bisa ditangkap.

Saya menulis artikel ini sebagai penonton televisi lokal yang awam. Saya belum pernah berkunjung ke kantor stasiun televisi di Nganjuk, di Madiun maupun di Kediri. Akhir 2009 yang lalu secara tak sengaja saya pernah bertemu dengan direktur televisi lokal di Nganjuk. Katanya, televisi lokal di Nganjuk itu saat itu dikelola oleh salah seorang dari salah satu televisi nasional.

Sebagai penonton awam, saya juga tak mengetahui bagaimana televisi lokal itu disiarkan di kantor sekaligus rumah produksinya. Apalagi izin siarnya saya juga tidak tahu. Saya juga tidak tahu sejak kapan persisnya televisi lokal itu siaran. Setahu saya kira-kira satu tahun ini televisi tersebut siaran. Namun, ke-awam-an dan ketidaktahuan saya itu tidak menghalangi saya untuk menulis artikel ini.

Saya juga bisa maklum dengan tayangan televisi lokal di Nganjuk itu. Kini, setiap hari siarannya mulai pagi sampai malam hari. Entah jam berapa. Keajegan siarannya itu merupakan nilai tersendiri untuk sebuah televisi lokal. Tentu tayangan televisi lokal juga tidak bisa persis seperti televisi nasional. Lagi pula, prioritas tayangannya adalah segmen lokal.

Saya menyaksikan siarannya lebih banyak hiburan, khususnya mulai pagi sampai sore hari. Hiburan ini didominasi oleh musik, misalnya pop, dangdut koplo, lagu-lagu Jawa, dan lain sebagainya. Pagi hari terkadang juga ada tayangan kartun untuk anak-anak. Menjelang petang, biasanya ditayangkan siaran rekaman pengajian oleh kiai lokal. Dalam hal ini, televisi lokal memiliki pangsa penonton tersendiri.

Malam hari biasanya diputar film. Tayangan itu biasanya yang saya sukai, terutama jika filmnya bagus menurut saya. Sayangnya, gambarnya seringkali terlihat buram. Mungkin karena antena televisi di rumah saya. Namun, setelah turun hujan maka gambarnya bisa lebih bening. Terkadang, ada lintasan berita seputar Nganjuk. Namun, pengemasan beritanya tampaknya belum optimal. Masih kalah dengan sebuah koran lokal yang merupakan grup atau perpanjangan tangan dari koran nasional.

Bahkan, agaknya tayangannya masih kalah dengan sebuah televisi lokal di Madiun. Televisi lokal di Madiun secara reguler ada program beritanya. Perkembangan kabupaten kiranya memengaruhinya, selain sumber daya manusianya. Secara umum, untuk ukuran kebupaten, Kabupaten Madiun lebih maju daripada Kabupaten Nganjuk. Itu juga dapat dilihat dari ke-pemerintah-an Kabupaten Madiun dan Kota Madiun.

Dalam waktu tertentu juga ada tayangan pertandingan langsung sepak bola pada salah satu liga di luar negeri. Entah bagaimana hak siar dari pertandingan itu. Mereka yang gemar menontonnya merasa senang-senang saja. Sama halnya saya juga tidak tahu bagaimana hak siar dari film-film yang ditayangkan. Saya pun maklum, sebagai bagian dari media komunikasi massa, televisi lokal ini juga telah berusaha mengikuti kode etik jurnalistik.

Umumnya televisi, tarif iklan yang tayang menjadi pemasukan. Layaknya televisi lokal, iklan pun berasal dari pemasang iklan lokal. Entah itu, rental mobil, pengobatan alternatif maupun dealer motor. Terkadang ada juga iklan yang bukan dari pemasang iklan lokal, melainkan iklan yang pernah tayang di televisi nasional.

Saya bangga di kabupaten tempat saya tinggal sekarang ini memiliki televisi lokal. Kita tahu, tidak setiap kabupaten/kota di Indonesia ini memiliki televisi lokal. Kebanggaan itu juga dirasakan oleh warga Nganjuk, khususnya saat mereka pertama kali tahu dan menontonnya. Apalagi jika televisinya itu menayangkan suatu tempat, suatu kegiatan, suatu peristiwa yang mereka kenal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar