Senin, 20 Desember 2010

Seleksi CPNS 2010

Seleksi CPNS 2010

Oktober, November, dan Desember 2010 ini di hari tertentu, media, entah cetak maupun elektronik mewartakan perihal seleksi Calon Penerimaan Penerimaan Pegawai Negeri (CPNS). Salah satu stasiun televisi nasional pada pertengahan Oktober 2010 mewartakan tantang tes tulis CPNS pada sebuah kementerian yang dilangsungkan di sebuah stadion di ibu kota. Demikian juga di internet pun bertebaran pengumuman seputar CPNS pada bulan-bulan tersebut.

CPNS setingkat kementerian, setingkat badan, setingkat komisi, dan bentuk lembaga pemerintahan yang lain yang biasa disebut CPNS pusat dilaksanakan sekitar bulan Oktober dan November 2010. Seleksi CPNS setingkat kementerian ini tidak serentak. Misalnya antara Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kementerian Kominfo). Tes tulis Kemdiknas pada 27 Oktober 2010, sedangkan Kominfo pada 27 November 2010. Perbedaan waktu tes itu memungkinkan seseorang bisa mengikuti lebih dari satu tes pada CPNS pusat.

27 Oktober 2010 itu saya merupakan salah satu peserta dengan kualifikasi akademik S-1 Sosiologi sebagai peneliti di Kemdiknas. Sejak awal saya sudah menduga, saya tidak akan lolos dalam tes yang dilangsungkan di salah satu universitas di Tangerang itu (juga bisa dibaca pada judul Nganjuk-Jakarta). Saya akan kalah dengan mahasiswa yang lebih pintar. Dugaan itu benar setelah diumumkan hasil tesnya pada 10 November 2010 silam. Namun, saya puas dengan penyelenggaraan tes yang pendaftarannya lewat internet dan berkasnya dikirim lewat pos itu.

Tes tulis Kementerian Kominfo yang diumumkan pada 8 Desember 2010 saya juga tidak lolos. Kalah dengan mahasiswa yang lebih pintar. Paling tidak saya telah berusaha mengenali kemampuan diri saya dalam berkompetisi. Saya memang sempat kecewa. Namun, rasa tidak menyesal saya sudah bisa mengikuti tes tulis itu menggantikan rasa kekecewaan saya. Masih ada jalan lain untuk berkarier dan berkarya untuk hidup ini.

Pertengahan November 2010 sampai dengan awal Desember 2010 banyak kabupaten maupun kota membuka pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah (CPNSD). Biasanya CPNS pusat pelaksanaannya memang lebih dulu daripada CPNSD. Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Madiun, Semarang Kota, Kabupaten Lumajang, waktu tes tulisnya serentak, yakni 12 Desember 2010. Agaknya, CPNSD 2010 ini tes tulisnya memang serentak se-Indonesia. Itu pun memungkinkan seseorang tidak bisa ikut seleksi CPNSD lebih dari dua.

Khusus saya ingin mencatat 20 formasi sebagai penyuluh keluarga berencana (KB) di Kabupaten Nganjuk pada CPNSD tahun 2010 ini. 20 formasi itu untuk kualifikasi akademik S-1 Hukum, S-1 Sosial Politik (Sospol), S-1 Ekonomi, S-1 Psikologi, dan S-1 pendidikan (guru semua jurusan). Dalam bidang akademis, semua Strata 1 (S-1) itu biasa disebut dengan fakultas. Fakultas terdiri atas sejumlah jurusan maupun program studi.

S-1 Sospol sendiri ada jurusan atau program studi Sosiologi, Administrasi Negara, Administrasi Niaga, Hubungan Internasional (HI), Kesejahteraan Sosial (KS), dan Sosiatri. S-1 Ekonomi sendiri ada jurusan Studi Pembangunan, Manajemen, dan Akuntansi. Kemudian, S-1 Pendidikan (guru semua jurusan) ini terdiri atas Pendidikan Biologi, Pendidikan Matematika, Pendidikan Fisika, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Sejarah, dan lain sebagainya seperti mata pelajaran yang sederajat dengan SD, SMP, maupun SMA.

20 formasi sebagai tenaga penyuluh KB sepertinya hanya ada di Kabupaten Nganjuk. Di Surabaya Kota juga ada formasi tenaga penyuluh KB, tetapi formasinya 4. Itu khusus untuk kualifikasi akademik sosiologi. Dari sejumlah segi, misalnya perkembangan kependudukan, Surabaya Kota lebih berkembang daripada Kabupaten Nganjuk. Karena itu, 20 formasi sebagai tenaga penyuluh KB itu terbilang berlebih.

Maka dari itu, ada kemungkinan yang bisa dicatat. Pertama, panitia seleksi CPNSD Nganjuk memberi kesempatan pada lulusan dari lima fakultas dalam rumpun ilmu sosial itu untuk mendaftarkan diri. Jumlah maupun lulusan dari lima fakultas itu di perguruan tinggi negeri dan swasta adalah yang terbanyak. Sebutlah lulusan Sospol, Ekonomi, Hukum, dan pendidikan.

Kedua, Kabupaten Nganjuk dalam pemerintahan bupati sekarang, khususnya dalam seleksi CPNSD, dianggap kental dengan permainan politik uang. Mungkin jual beli itu akan terjadi pada 20 formasi sebagai penyuluh KB ini. Memang, jual beli jabatan itu tergolong curang. Namun, dalam derajat tertentu kecurangan itu sepertinya akan dikesampingkan. Tulisan “Pengharaman Jual Beli PNS” oleh salah satu demonstran pada unjuk rasa tidak akan bisa membendung praktik jual beli ini.

Layaknya dalam jual beli maka ada kesepakatan antara penjual dan pembeli. Konon, jual beli jabatan PNS untuk S-1 ini di Nganjuk ini di atas Rp 100.000.000,-. Kiranya praktik semacam ini banyak diketahui oleh masyarakat. Uang pun kembali menunjukkan kuasanya. Sepanjang kesepakatan itu tidak menyeret seseorang ke dalam penjara. Biasanya praktik jual beli ini tak lepas dari peran calo. Jika lolos maka inilah rezeki bagi penjual, pembeli, dan calo dalam praktik tersebut. Seakan-akan orang ingin mengatakan “memang inilah zamannya”. Sungguh praktik yang sulit ditolak.

Biasanya praktik jual beli ini terjadi pada jabatan-jabatan yang kurang membutuhkan kemampuan khusus. Misalnya penyuluh Keluarga Berencana (KB) ini. Katakanlah orang ber-kecerdasan sedang dianggap bisa menjalankan jabatan tersebut. Sementara itu, jabatan yang membutuhkan kemampuan khusus misalnya dokter umum maupun dokter spesialis. Jabatan ini lazimnya memang membutuhkan kecerdasan otak di atas rata-rata orang pada umumnya. Meskipun demikian, semua jabatan sama-sama berpeluang dijual belikan. Bergantung situasi dan kondisi.

Agaknya jabatan penyuluh KB sebanyak 20 ini tak akan banyak mengganggu kinerja eksekutif di Kabupaten Nganjuk. Sesuai namanya kita mungkin tahu apa yang akan dikerjakan orang yang duduk dalam jabatan tersebut. Namun, formasi itu secara langsung akan dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Artinya itu adalah uang rakyat. Formasi itu pun telah mendapat persetujuan dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) lewat surat keterangan (SK) tertulisnya.

Dalam pemberitaan koran setempat, diisukan sejumlah jabatan tertentu dalam formasi 2010 ini diisukan akan digunakan sebagai rotasi PNS setempat. Lembaga “emperan” sebagai pihak ketiga, antara lain sebagai pembuat soal, juga dimunculkan oleh koran setempat. Lembaga “emperan” itu pun diisukan bisa meloloskan nama-nama tertentu yang sebelumnya telah memesan atau membeli jabatan PNS.

Keputusan politik 20 formasi penyuluh KB yang juga menyangkut hajat hidup orang banyak ini pun wajar menempati perbandingan persaingan yang sangat ketat di antara formasi lainnya. Jumlah pendaftar pun terbanyak pada tenaga teknis. Sebagaimana itu dikemukakan oleh koran setempat, perbandingannya mencapai 1:100 lebih. Artinya, satu orang peserta harus mengalahkan 100 peserta lainnya agar bisa lolos dalam tes CPNS.

Saya juga tak ingin munafik. Saya merupakan salah satu peserta dalam memperebutkan satu bangku PNS pada penyuluh KB ini. Meskipun pada akhirnya saya tidak lolos. Itu pun sudah saya tahu sebelumnya. Mungkin tanpa praktik jual beli jabatan pun saya juga tidak lolos. Antara lain karena kecerdasan otak saya yang rendah. Namun, kasihan mereka yang seharusnya lolos tergeser oleh mereka yang membeli jabatan PNS itu. Entahlah Anda akan menilai seperti apa saya soal keikutsertaan saya dalam tes tulis CPNS ini.

Saya juga tidak ingin selamanya berpandangan sinis. Di antara seluruh pelaksanaan tes tulis CPNS di negeri ini juga ada yang murni. Setiap peserta tes CPNS pun memiliki kisah yang berbeda-beda. Ada yang berkali-kali ikut, tetapi tidak lolos. Ada yang sekali ikut dan langsung lolos. Ada yang ikut tes di luar Jawa dengan alasan kompetisinya lebih rendah. Ada juga yang lolos tes CPNS karena kualifikasi akademiknya tergolong langka sehingga peluang lolos terbuka lebar. Misalnya Kesejahteraan Sosial (KS), pendidikan bahasa Jawa, maupun dokter spesialis.

Di balik itu, betapa sangat pentingnya arti sebuah pekerjaan bagi seseorang dalam hidupnya. Status, gaji, aktifitas mengisi waktu dalam keseharian, umumnya bisa diperoleh lewat suatu pekerjaan. Bahkan, banyak orang tua lebih mempriotaskan memilih menantu yang sudah bekerja. Misalnya pekerjaan sebagai PNS.

2 komentar:

  1. yg lulus penyuluh kb siapa saja pak??

    dedy jombang

    BalasHapus
  2. Wah, mengenai itu secara lengkap bisa dibaca di Radar Nganjuk terbitan 21 Desember 2010.

    BalasHapus