Minggu, 24 Oktober 2010

Ganti Plat Pikap

Ganti Plat Pikap

Judul itu hampir sama dengan judul Cetak STNK 5 Tahun yang telah saya publikasikan. Ganti plat berarti juga mencetak Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (STNK) 5 tahun. Namun, judul tersebut untuk kendaraan jenis roda dua. Sementara judul ini kendaraan jenis roda empat, yakni pikap. Prosedurnya sama, tetapi cetak STNK untuk pikap biayanya lebih mahal.

Ganti plat pikap pada Jumat, 22 Oktober 2010 ini total biayanya Rp 864.000,-. Pikap milik bapak saya itu tahun 1997 dengan silinder 1295 CC. Umumnya biaya itu berdasarkan silinder, tahun kendaraan, dan jenis kendaraan. Sementara kendaraan roda dua tahun pembuatan 2000 dengan silinder 100 CC, biaya totalnya Rp 268.000,-. Rincian ganti plat pikap ini sebagai berikut:

- Biaya foto kopi Rp 5.000,-

- Administrasi di loket cek fisik Rp 30.000,-

- Administrasi pelayanan formulir Rp 135.000,-

- HER Rp 617.000,-

- Asuransi Rp 72.000,-

- Ambil plat Rp 5.000,-

TOTAL Rp 864.000,-

Kamis, 14 Oktober 2010

Mengurus SKCK

Mengurus SKCK

Senin, 11 Oktober 2010 yang lalu saya mengurus Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK). Hari itu merupakan kali pertama saya mengurusnya. Anda mungkin tahu, saya mengurusnya sebagai salah satu syarat melamar pekerjaan. Tulisan ini ingin berbagi pengalaman bagaimana mengurus SKCK. Semua hal yang berkaitan dengan SKCK ini ada pada pihak berwenang.

Pertama, pagi hari saya mengurusnya di kantor desa tempat saya lahir. Begitu SKCK selesai diketik oleh sekretaris desa (sekdes), saya diminta menyerahkan foto ukuran 3 x 4 sebanyak 1 lembar. Sebelumnya Sekdes menanyai identitas seperti nama, tanggal dan tahun lahir, dan keperluan pembuatan SKCK itu. Begitu selesai, saya langsung ke Komando Rayon Militer (Koramil) dengan membawa SKCK dari kantor desa tadi. Di Koramil ini saya diminta SKCK yang satu lembar tadi agar diberi map.

Selesai dari Koramil saya langsung ke kantor kecamatan yang letaknya bersebelahan dengan Koramil. Di Koramil tadi saya dikenai biaya Rp 5.000,-. Baik Koramil maupun kecamatan ini SKCK tadi ditandatangani oleh pejabat berwenang. Setelah itu, saya menuju ke Kepolisian Sektor (Polsek) yang letaknya juga tidak jauh dari kantor kecamatan. Baru di Polsek ini saya diminta foto ukuran 3 x 4 sebanyak satu lembar. Saya juga dimintai foto kopi KTP dan foto kopi Kartu Keluarga (KK), masing-masing satu lembar.

Setelah SKCK dari Polsek selesai dibuat saya langsung ke Kepolisian Resor (Polres). Sebelumnya, di Polsek ini saya dikenai biaya Rp 15.000,-. Di Polsek ini map saya juga tidak diberikan sehingga saya hanya membawa satu lembar SKCK dari Polsek ke Polres. Mulai dari kantor desa sampai Polsek ini saya mengurus sendirian. Artinya, saat saya mengurusnya, tidak ada orang yang juga mengurusnya. Namun, setelah di Polres, sejumlah orang juga mengurusnya. Akan tetapi, tidak sampai antre yang panjang.

Di Polres ini saya menuju ke ruangan yang di atas pintunya terdapat tulisan PELAYANAN SKCK. SKCK yang dari Polsek tadi saya letakkan di meja petugas. Setelah itu, petugas memberi saya dua lembar formulir yang harus saya isi. Dengan pena yang saya bawa sendiri, saya mengisinya. Saya juga meminta blangko sidik jari di salah satu ruangan. Saya lupa nama ruangannnya.

Selesai mengisi formulir dan blangko tadi, saya sidik jari. Sudah ada petugas laki-laki yang membantu sidik jari. Sepuluh jari tangan harus mengenai tinta sidik jari. Di meja sidik jari itu juga ada dua lembar serbet untuk membersihkan tinta sidik jari. Kemudian, saya kembali ke ruangan tempat saya mengambil blanko sidik jari tadi. Saya agak lupa, di ruangan ini petugas meminta foto berwarna berapa lembar. Seingat saya satu lembar ukuran 3 x 4 sebanyak satu lembar.

Di Polres ini saya juga agak lupa. Namun, seingat saya, di Polres ini saya juga diminta foto kopi KTP sebanyak satu lembar dan foto kopi KK sebanyak satu lembar. Misalnya seperti foto tadi, pengurus SKCK menyiapkan foto agar dalam pengurusan SKCK itu lebih lancar. Di timur komplek Polres juga telah ada tempat foto. Namun, akan lebih baik jika kita punya foto sendiri yang sesuai.

Lalu, saya kembali ke ruangan Pelayanan SKCK. Saya harus menunggu di kursi tunggu untuk beberapa saat. Kemudian, nama saya dipanggil. Saya diminta memeriksa kembali keterangan di SKCK tersebut. Di pelayanan SKCK ini saya dikenai biaya adminstrasi sebesar Rp 15.000,-. Setelah itu saya memfoto kopi SKCK yang asli itu untuk legalisir. Legalisir ini menyesuaikan dengan yang kita perlukan.

Seluruh pengurusan SKCK itu selesai hampir tengah hari. Setelah itu, saya pulang.

Senin, 11 Oktober 2010

Judul Skripsi Sosiologi

Judul Skripsi Sosiologi

Kamis, 30 September 2010 saya meng-up date facebook saya. Bunyinya “Pada dasarnya manusia itu egois”. Seorang teman ada yang menyukai up date status itu. Beberapa menit kemudian ada adik tingkat saya dulu yang mengomentari up date status saya itu. Dia mengucapkan maaf lahir batin pada saya. 10 September 2010 lalu memang 1 Syawal 1431 H sekaligus lebaran. Antara status up date dan komentarnya itu memang tidak berkaitan. Namun, berhubung di facebook, komentar itu sah-sah saja.

Dalam komentarnya itu dia bertanya, “Mas, semester ini aku mau seminar. Tapi gak nemu judul, ada saran?”. Saya kemudian balik bertanya padanya, yakni judul yang ia punya sementara ini. Namun, dia tidak segera membalasnya. Akhirnya saya menanyainya kembali lewat short message service (sms). Dia ingin meneliti tentang mitos yang ada di masyarakat tempat ia tinggal sekarang. Dia tidak ingin melakukan penelitian lapangan. Maksudnya, dia tidak ingin meneliti di suatu tempat yang jauh dari tempatnya tinggal. Hal itu juga menyangkut waktu, tenaga, dan biaya penelitian.

Saya menyarankan padanya agar segera mengerjakan skripsinya. Tujuannya, antara lain, agar cepat lulus. Saya juga menyarankan agar judul yang ia ajukan ada bobot akademisnya. Maksudnya agar tidak sembarangan dalam menentukan judul. Tujuannya agar dosen yang smart mudah meng-acc judulnya. Saat itu dia juga meminta saran penelitian tentang mitos tadi. Saya pun menanggapi, saya tidak bisa menilai konsepnya itu. Sebab itu bergantung kesepakatan antara mahasiswa dan dosen pembimbingnya.

Jika saya menilai konsepnya tentang mitos itu tidak bernilai sosiologis maka belum tentu dosen pembimbingnya menganggap tidak bernilai sosiologis. Umumnya dosen pembimbing mengikuti mahasiswa yang dibimbingnya. Entah konsepnya atau judulnya itu baik atau jelek. Umumnya setiap mahasiswa memiliki konsep sendiri-sendiri. Syukur jika judul itu unik, kreatif, dan sosiologis. Biasanya jika judulnya itu sudah sangat jelek maka dosen pembimbing meminta mencari judul yang lain.

Judul di atas sesungguhnya melengkapi tulisan saya yang berjudul Membuat Skripsi yang Sosiologis. Juga melengkapi judul Mahasiswa Sosiologi dan Dilema Skirpsi. Keduanya sudah saya publikasikan di blog ini. Khususnya judul Membuat Skripsi yang Sosiologis, sedikit demi sedikit saya edit.

Kembali pada judul di atas. Jika saya ditanya tentang judul yang bisa diteliti oleh mahasiswa sosiologi maka saya balik bertanya kembali. Apabila seorang mahasiswa meminta judul pada saya maka saya tidak bisa memberikannya. Sejelek apapun judulnya, pasti mahasiswa memiliki judul sendiri. Lagi pula jika saya memberinya judul maka belum tentu mahasiswa mau menerimanya meskipun menurut saya itu bernilai sosiologis.

Sebetulnya melalui skripsi yang telah saya buat dan ada di rak perpustakaan, sudah bisa menjadi salah satu contoh dalam membuat skripsi. Skripsi sosiologi yang lainnya, tesis dosen sosiologi, jurnal yang ditulis oleh dosen sosiologi juga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menentukan judul skripsi sosiologi. Belum lagi contoh judul dari internet.

Apalagi misalnya mahasiswa jurusan lain membacanya maka mungkin mereka tahu itu sebagai skripsi. Jika mahasiswa Sastra Indonesia membaca judul skripsi mahasiswa sosiologi maka mungkin akan merasa asing. Demikian juga jika mahasiswa sosiologi membaca judul skripsi mahasiswa Sastra Indonesia maka mungkin juga akan merasa asing.

Dari pertanyaan adik kelas saya itu pun tampaknya Program Studi Sosiologi Universitas Jember masih meminta mahasiswa mengajukan judul. Dengan begitu, dosen dapat mengetahui arah pikiran mahasiswa dalam membuat skripsi. Umumnya judul itu tidaklah final, apalagi dalam penelitian kualitatif. Artinya, judul itu bisa saja berubah. Mahasiswa saat ditanya tentang idenya terkait akan seminar untuk skripsi, biasanya bahasanya berputar-putar, kurang jelas apa maksudnya.

Lebih jauh dari ini, judul itu merupakan bagian terkecil dari proses seseorang mengerjakan skripsi. Skripsi sesungguhnya juga bagian terkecil dari proses seseorang menjadi mahasiswa. Kita tahu, penyelesaian pengerjaan skripsi bukanlah tujuan akhir dari perjalanan hidup seseorang. Umumnya setelah seseorang mengerjakan skripsi maka masih ada tahap selanjutnya. Misalnya tes untuk masuk lapangan pekerjaan.

Sebaliknya, banyak kasus menunjukkan, kelambatan masa studi mahasiswa karena persoalan skripsi. Terkadang persoalan skripsi juga bisa menimbulkan konflik antara mahasiswa dengan dosen maupun antara mahasiswa dengan orang tuanya. Juga dilaporkan sejumlah kasus mengenai kecurangan dalam skripsi. Misalnya, penjiplakan skripsi sampai jual beli skripsi.

Orang bisa berkata apa saja mengenai skripsi. Orang terkadang memandang skripsi tidak selalu akan ditanyakan jika misalnya seseorang melamar bekerja di sebuah bank. Maka dari itu, hendaknya jangan terlalu idealis dalam mengerjakan skripsi. Sejumlah mahasiswa berpikir untuk membuat skripsi yang biasa-biasa saja. Nilai pas-pasan pun tidak jadi soal. Yang penting bisa cepat lulus.

Seseorang bisa saja beralasan dia tidak idealis dalam mengerjakan skripsi. Namun, dirinya sesungguhnya kesulitan dalam mengerjakan skripsi. Lagi-lagi itu juga menyangkut pilihan seseorang dalam mengerjakan skripsi. Sekali lagi, setiap mahasiswa memiliki pengalaman sendiri-sendiri akan skripsi. Penilaian orang terhadap skripsi pun tidak melulu pada angka atau huruf yang tertera di transkrip nilai. Ada penilaian yang tak mungkin ditulis di transkrip nilai. Penilaian itu ada dalam diri orang-orang yang mengetahui bagaimana perjuangan dalam membuat skripsi.


Selasa, 05 Oktober 2010

Pengamen

Pengamen

Di tengah pikiran yang jenuh dalam menulis, judul itu saya tulis. Kehidupan yang menjadi sumber tulisan sepertinya serba-sama untuk dituliskan. Bisa jadi itulah jalan hidup yang saya alami sampai saat ini. Jalan hidup yang monoton dan membosankan. Pada saat yang sama, judul suatu tulisan yang saya tulis di tengah kejenuhan, terkadang dikomentari. Komentar itu sungguh sangat berarti bagi saya.

Judul itu tebersit saat saya ingat bunyi genjrang-genjreng pengamen memainkan gitarnya. Persisnya saat itu Sabtu, 18 September 2010 sekitar pukul 15.00 ketika saya mengantar saudari saya di rumah paman saya, di belakang rumah saya. Saudari saya menumpang secara gratis sebuah mobil yang membawa tiga orang yang bekerja di Surabaya pada majikan kaya. Majikan itu terbilang baik, mobil yang terbilang mewah untuk ukuran orang dusun itu juga sudah ada sopir pribadi Si Majikan.

Sore itu dua orang pengamen menghampiri rumah paman saya itu untuk mengamen. Keduanya masih remaja. Seorang memainkan gitar dan satunya membawa recehan uang logam. Mereka berdua menyayikan sebuah lagu pop. Saat itu di teras rumah paman saya itu ada lima orang. Namun, dua pengamen yang mengenakan kaus dan bercelana jin selutut itu dengan percaya diri mengamen. Beberapa menit kemudian, tuan rumah memberikan uang receh, entah berapa.

Sekarang pengamen didominasi oleh kalangan remaja. Usianya kisaran 15 tahun sampai dengan 20 tahun. Di dusun saya ini, sepertinya tidak pernah ada pengeman perempuan. Pengamen umumnya adalah laki-laki. Itu pun mengesankan mereka mengamen lebih untuk kesenangan daripada sebagai mata pencaharian utama. Ibu-ibu menggosipkan uang hasil mengamen itu dibelikan rokok.

Pengamen di dusun ini memang bukan warga sini. Biasanya mereka berasal dari desa lain dan tak jarang dari kecamatan lain. Umumnya mereka datang dengan sepeda motor dan menitipkan sepeda motor di suatu rumah. Sementara itu mereka mengamen. Hal itu pun memengaruhi cara kerja mereka yang spontanitas. Maksudnya, khususnya di kawasan perumahan, begitu ada mood ingin mengamen maka mereka mengamen. Cara kerja mereka tidak terkoordinir secara rapi.

Di antara kita mungkin kurang suka dengan kehadiran pengamen di rumah kita. Misalnya kita menutup pintu, begitu mendengar ada pengamen di tetangga sebelah. Barangkali kita mengatakan maaf saat pengamen mendatangi rumah kita. Mungkin juga di antara kita merasa iba. Saat mereka memainkan musik beberapa menit kemudian kita memberikan uang receh, misalnya Rp 200,-. Uang itu terkadang juga sebagai bentuk penghargaan atas rasa percaya diri mereka dalam mengamen.

Akhir-akhir ini terkadang juga ada pengamen yang biasanya terdiri atas empat orang. Mereka memainkan musik jaranan. Anak-anak kecil biasanya mengerubungi mereka saat beraksi. Orang terkadang memberi mereka Rp 1000,-. Lebih mahal dibandingkan dengan mereka yang membawa gitar tadi. Pemberian uang itu pun biasanya melihat jumlah pengamen maupun hiburan yang mereka tawarkan.

Sampai kini, khususnya di kampung tempat saya tinggal ini, pengamen belum tergolong sebagai masalah sosial. Jika pengamen memaksakan diri mengamen sekaligus memaksa meminta maka itu bisa tergolong masalah sosial. Apalagi jika pengamen itu terlibat pencurian di rumah-rumah, juga termasuk dalam masalah sosial. Bahkan itu tergolong kejahatan.

Orang terkadang menyayangkan pekerjaan mengamen. Mengapa tidak bekerja yang lain, misalnya bekerja sebagai karyawan toko. Orang kadang-kadang juga menilai mengamen itu lebih baik daripada mencuri. Setiap orang memang memiliki pendapat sendiri-sendiri.

Pengamen memang tidak hanya ada di kawasan pemukiman warga. Entah di kawasan kota maupun desa. Di sebuah dusun yang terbilang pelosok di rumah nenek saya juga ada pengamen. Di kereta api kelas ekonomi, di bus kota, bahkan di bawah lampu lalu lintas terkadang juga ada pengamen.

Bisa jadi operasi mengamen, misalnya di bus kota itulah pengamen mendapatkan citra tertentu. Misalnya, mengamen menandai sebagai orang yang hidupnya tidak menentu. Selain bertujuan mendapatkan uang, mereka juga ingin menghibur. Meskipun sama-sama menghibur, tentu itu berbeda dengan musisi papan atas yang dari karyanya dalam industri musik bisa dijadikan sebagai gantungan nafkah.





Selasa, 21 September 2010

Nomor Gelap

Nomor Gelap

Pagi hari, 16 Agustus 2010 saya mendapat miscall dari sebuah nomor. Sayangnya, nomor tersebut tidak ada di phone book telepon seluler (ponsel) milik saya. Saya lalu menanyai siapa dia lewat short message service (sms). Sms memang terkirim, tetapi dia tidak membalasnya. Jadi, saya tidak tahu identitas orang yang miscall tersebut. Seingat saya, dalam dua bulan tarakhir ini dia dua kali menghubungi saya dengan nomor yang sama. Awalnya dia mengirim sms. Dia tahu saya, tetapi saya tidak tahu dirinya.

Memang cerita itu agak lama. Saya pun menganggap itu sebagai nomor gelap. Artinya, seseorang yang menghubungi saya lewat ponsel, tetapi dia enggan menyebut identitas dirinya. Saya hanya tahu nomor kartu dalam ponselnya yang muncul di ponsel saya. Terkadang ada miscall, tetapi di ponsel saya tertulis “nomor pribadi memanggil”. Dengan begitu, sebuah nomor tidak bisa muncul pada ponsel penerima.

Saya memiliki ponsel beserta kartunya ini pada 12 Desember 2005. Sampai sekarang saya masih memakainya. Seingat saya, selama itu telah lebih dari tiga kali menerima nomor gelap. Padahal, saya memperkirakan saya tidak akan menerima nomor gelap. Salah satu alasannya, saya sampai kini tidak pernah berbuat serupa. Selain itu, saya hanya orang biasa, bukan orang penting seperti selebriti maupun bupati.

Namun, pada dasarnya setiap orang yang memiliki ponsel beserta kartunya, berpotensi menerima nomor gelap. Terlebih jika seseorang itu telah memilikinya dalam waktu yang lama. Misalnya satu tahun. Mungkin seseorang yang mengirim nomor gelap itu bukan teman kita. Akan tetapi, dia bisa saja mendapatkan nomor kita dari teman kita. Mungkin juga dia mencatat nomor kartu ponsel kita dari suatu counter. Biasanya kita meninggalkan nomor kartu ponsel saat kita membeli pulsa.

Masih syukur selama ini pengirim nomor gelap itu masih dalam batas-batas yang wajar. Artinya, bahasanya dalam sms masih sopan. Namun, sayangnya, dia enggan menyebut identitasnya. Tentu ini bisa membuat penasaran. Malah bisa mengganggu, yakni saat miscall sehingga kurang etis. Namun, saya membiasakan diri dengan itu. Lama kelamaan dia akan lelah sehingga dia berhenti sendiri.

Mereka yang masih saja mengirim nomor gelap hendaknya menghentikan aksinya. Kasihan jika seseorang sampai berganti nomor kartu ponsel karena sering diteror oleh nomor gelap. Apalagi jika pengirim nomor gelap itu menyangkut hal-hal yang sensitif yang menggelisahkan. Misalnya, menyangkut isu SARA.

Minggu, 19 September 2010

Pendidikan Profesi Guru

Pendidikan Profesi Guru

Saya ketinggalan informasi saat saya tidak mengambil Akta Mengajar IV (A-IV). Saat itu awal 2008 sejumlah teman seangkatan saya mengambil A-IV di sebuah lembaga pendidikan swasta di Kabupaten Jember. Umumnya mereka sudah wisuda. Namun, beberapa adik tingkat saya yang belum wisuda juga ada yang mengambilnya. Saya sendiri saat itu belum wisuda.

Saat itu, awal 2008 seorang teman mengatakan isu tentang A-IV yang tidak diakui. Namun, jika A-IV tidak diakui mengapa ada lembaga pendidikan swasta yang masih menyelenggarakan. Sebuah lembaga pendidikan negeri di Jember pun tidak menyelenggarakan A-IV sejak sekitar 2003. Rupanya sejak saat itu hanya lembaga swasta yang menyelenggarakannya. Sejak 2008 dalam satu angkatan peserta A-IV tidak lebih dari 50 orang.

Teman saya itu juga mengatakan peserta A-IV sebetulnya untuk mahasiswa yang sudah lulus enam bulan sejak wisuda. Namun, buktinya sejumlah adik kelas saya tadi bisa ikut A-IV. Penyelenggara A-IV sendiri juga mendapatkan uang dari peserta A-IV. Dengan A-IV itu mereka berharap bisa menjadi guru yang Pegawai Negeri Sipil (PNS). PNS, sebuah profesi yang banyak diimpikan oleh anak negeri ini.

Akhirnya, sejak 2010 teman saya itu menjadi guru sosiologi di Kabupaten Bondowoso. Dia menggunakan ijasah sarjana sosiologi nonkependidikan dan A-IV. Dia bersyukur sebab bisa bekerja, tak jauh dari kampung halamannya, yakni Banyuwangi. Artikel tentang A-IV ini bisa dibaca di judul yang lain tentang A-IV dalam blog ini.

Kira-kira tahun 2008 itu pula bergulir wacana Pendidikan Profesi Guru (PPG). Rencananya PPG itu menggantikan A-IV. Rancangan PPG pun telah dibuat pada Juli 2008. Peserta PPG adalah lulusan program sarjana, baik yang pendidikan maupun nonkependidikan. Dalam situsnya, sebuah koran nasional pun memberitakan PPG akan dibuka pada September 2009.

Saya sendiri saat itu wisuda pada Maret 2009. Setelah membaca informasi di koran itu, saya berencana ikut PPG pada September 2009 itu. Semenjak itu saya berusaha mengikut berita PPG. Misalnya, dari internet, dari teman lewat telepon seluler (ponsel), dan dari sejumlah guru yang PNS.

Sampai September 2009 tidak ada lembaga yang menyelenggarakan PPG untuk nonkependidikan seperti saya. Kabarnya, PPG sejak 2009 itu sudah ada, tetapi untuk guru (yang PNS) Sekolah Dasar (SD) di sebuah lembaga pendidikan negeri di Surabaya. Seorang teman pun mengatakan salah satu syarat seseorang ikut PPG adalah ada rekomendasi dari pihak terkait. Pada saat yang sama, PPG pun diliputi ke-simpang-siur-an informasi, bahkan informasinya tidak jelas.

Sejak November 2010 sampai Agustus 2010 ini saya pun bertanya dengan maksud melamar lima Sekolah Menengah Atas (SMA) di Nganjuk. Namun kelimanya memiliki alasan yang bervariasi. Intinya kelimanya menolak lamaran saya. Misalnya, mungkin saya bisa menjadi Guru Tidak Tetap (GTT) atau tenaga honorer, tetapi pada tahun 2010 dan ini akhirnya hanya janji. Ada juga SMA swasta yang guru sosiologinya sudah ada meskipun guru tersebut sesungguhnya pengajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Selain itu, seorang kepala sekolah di SMA negeri mengatakan sejak tahun 2006 ada edaran agar sekolah tidak menerima GTT.

Dengan hanya modal ijasah sosiologi nonkependidikan saya sesungguhnya nekat melamar di SMA-SMA tersebut. Tujuannya terkait rekomendasi kata teman saya itu. Harapan saya dengan lamaran itu dapat diterima menjadi GTT dan bisa ikut PPG nantinya. Di dusun tempat tinggal saya, status guru cukup terpandang meskipun mereka tahu gaji GTT tergolong rendah. Potret nasib GTT yang gajinya tampak memprihatinkan yang ingin diangkat menjadi PNS seperti yang diberitakan oleh Radar Nganjuk pada Jumat, 29 Agustus 2010.

Katanya, masih banyak potensi desa maupun dusun yang bisa diberdayakan. Bayangan itu membuat saya ingin di dusun tempat lahir saya ini. Rencananya saya ingin bertani padi dan meneruskan bisnis gabah orang tua. Dua hal itu telah terwujud dan telah saya rintis. Di samping itu, saya ingin memiliki rumah baca. Namun, saat saya belum mengajar sosiologi maka ijasah sarjana saya tampak sia-sia. Saya sama saja dengan orang yang tidak kuliah di dusun saya ini. Itulah alasan pribadi saya yang mungkin naif.

Kesia-siaan itu pun sering membuat saya menyusun rencana lain. Misalnya, merantau ke Kalimantan menjadi PNS. Namun, saya pun masih dibayangi oleh sertifikat pendidik yang belum saya miliki. Sementara PPG yang menjanjikan sertifikat pendidik informasinya masih saya terima secara tidak jelas. 25 Agustus 2010 yang lalu saudari saya mengatakan, mungkin PPG untuk PNS dibuka November 2010 ini. PPG untuk yang bukan PNS masih tahun 2011.

Saudari saya itu hanya dengar-dengar saja sehingga informasi itu belum pasti. Sama hal teman saya yang katanya PPG di Jember akan di buka pada Oktober atau mungkin November 2010 ini. Jika saya amati sejak awal 2008 itu sampai sekarang di internet, banyak lulusan strata 1 khususnya yang nonkependidikan menanyakan tentang PPG. Tidak terkecuali mereka yang bertanya lewat situs resmi Departeman Pendidikan Nasional lewat direktoratnya. Namun, PPG juga masih belum jelas. Pihak berwenang sepertinya memberikan jawaban yang mengambang.

Entah apakah saya yang tidak mengikuti informasi. Namun, 2 September 2010 saya mengakses informasi mengenai PPG dari internet. Setelah membacanya, syaratnya sungguh berat bagi saya yang lulusan sosiologi nonkependidikan ini. Misalnya “Memiliki masa kerja sebagai guru minimal 5 tahun dengan usia maksimal 35 tahun pada saat mendaftar.”

Kiranya tujuan PPG adalah baik. Misalnya, meningkatkan profesionalitas guru dalam mengajar dan mendidik. Aturan-aturan dalam PPG itu pun bertujuan baik. Namun, sepertinya aturan itu menghalangi lulusan nonkependidikan untuk mengikuti PPG, yakni menjadi guru. Bisa jadi itulah bagian dari pengangguran “lulusan kuliahan”. Apalagi terpaku dengan mengharap bekerja sebagai guru di kabupaten ini. Apalagi guru PNS maka betapa mustahilnya harapan itu bisa terwujud.

Sampai Agustus 2010 ini saya yang hanya berijasah sarjana sosiologi nonkependidikan ini tidak bisa mendaftar PPG. Belum ada lembaga yang menyelenggarakannya, khususnya untuk lulusan nonkependidikan. Padahal, saya sungguh berharap bisa ikut PPG. Itu setelah rencana saya menjadi dosen telah gagal diwujudkan.

Sampai sekarang saya sepertinya masih akan menunggu PPG yang belum jelas itu. Sejak 2008 itu saya berpikir untuk tidak curang dengan membeli A-IV seperti salah seorang teman seangkatan saya yang kabarnya membelinya sehingga dia bisa menjadi guru sosiologi yang PNS.


Selasa, 14 September 2010

Lebaran Kali Ini...

Lebaran Kali Ini...

Sabtu, 4 September 2010 menjelang 10 September 2010 atau 1 Syawal 1431 H, yakni hari Hari Raya Idul Fitri dikabarkan ayah dari seorang teman meninggal dunia. Rem sepeda angin yang ditumpangi almarhum lepas dan melilit perutnya. Kemudian almarhum sempat di-rontgen, tetapi satu jam kemudian menghembuskan napas terakhir. Kakak dari seorang teman itu rencananya akan menikah pada 12 September 2010 ini. Akhirnya, pada hari itu akad nikah pun dilaksanakan di depan jenasah.

Betapa pilunya suasana pada hari itu. Suka dalam duka. Seorang ayah yang kita cintai pergi untuk selama-lamanya saat seorang anak melangsungkan pernikahan. Sedih memang, tetapi itulah kenyataanya. Garis tangan berkata lain. Sikap tabah dan ikhlas pun menjadi jalan terbaik.

Kabar pun silih berganti. Senin, 13 September 2010 seorang teman akan melangsungkan pernikahannya. Saya mengetahui kabar bahagia itu lewat undangan yang dia kirimkan melalui facebook. Saat liburan Lebaran ini tentunya sanak saudara yang jauh dapat lebih mudah berkumpul. Apalagi Lebaran juga identik dengan berkunjung maupun berkumpul dengan sanak saudara, sahabat, maupun mitra kerja.

Saya merasa sepertinya Lebaran 1430 H baru saja dilaksanakan. Tak lama kemudian tiba Lebaran 1431 H. Lebaran kali ini pun sepertinya Lebaran kemarin. Hal yang sedikit berbeda adalah pelaksanaan tahlil yang dilaksanakan usai sholat Idul Fitri, 10 September 2010. Lebaran yang jatuh pada hari Jumat ini pun secara umum dilaksanakan secara bersama-sama. Terkecuali sejumlah kelompok keagamaan yang melaksanakan 1 Syawal pada 9 September 2010, seperti yang diberitakan oleh media.

Mungkin tulisan ini tidak begitu berbobot. Namun, terlalu sia-sia jika momentum Idul Fitri yang yang jatuh pada 10 September 2010 ini dilewatkan begitu saja tanpa sebuah tulisan. Pemublikasian tulisan ini memang terlambat sebab saya tidak setiap waktu bisa pergi ke warung internet untuk online. Akan tetapi, itu tidak menjadi halangan dan tulisan ini harus dipublikasikan.

Selain itu, suasana yang berbeda dibandingkan dengan hari-hari biasa pada Idul Fitri umumnya setiap rumah punya makanan ringan yang ditaruh di toples atau tempat lainnya. Terkadang ada yang menyuguhkan minuman ringan. Anak-anak usia SD dan usia SMP biasanya membentuk kelompok terdiri atas beberapa orang. Kelompok itu berkunjung dari satu rumah ke rumah lainnya, hampir satu kampung dikunjungi.

Hampir setiap orang memakai pakaian terbaiknya saat berkunjung. Terkadang ada orang yang sekadar bersalaman saja dengan tuan rumah dan langsung pamit. Namun, ada juga yang duduk sebentar sambil menikmati makanan ringan seperti kue kering, biskuit, buah pisang maupun permen. Kunjungan itu pun sebentuk penghormatan atau memelihara tali persaudaraan terhadap orang yang dikunjungi, selain kepentingan-kepentingan tertentu.

1 Syawal itu pun hampir setiap orang berbahagia. Paling tidak potret seperti itu terjadi di dusun ini. Anak kecil biasanya mendapatkan sangu atau uang yang diberikan oleh kakek-neneknya atau saudaranya. Namun, hari itu ada kebar seorang nenek kehilangan susuknya. Beliau bolak balik menyusuri jalan. Seingatnya susuknya jatuh di jalan. Kabarnya, nenak itu juga telah menghubungi seorang paranormal dusun untuk membantu agar susuknya bisa ditemukan.

Cuaca di Lebaran hari pertama pun berubah saat pukul 14.00. Mendung hitam bergelayutan di langit. Sesekali waktu petir menggelegar. Kilatan petir pun seakan-akan membelah langit di sebelah barat. Suasana pun menjadi lebih gelap. Sekitar pukul 15.00 hujan turun dengan lebat dan halilintar pun menyambar-nyambar berkali-kali. Sekitar pukul 15.30 ada satu petir yang terdengar cukup keras. Namun, volumenya sepertinya masih dapat diterima oleh gendang telinga manusia. Syukur selama hujan lebat itu listrik tidak padam.

Cuaca pada Lebaran ini memang berbeda dengan Lebaran sebelumnya. Banyak orang mengira hujan tidak akan turun di bulan September. Namun, hujan lebat selama hampir dua jam di Lebaran hari pertama itu mengingatkan orang akan musim hujan. Lebaran hari kedua pun masih turun hujan, tetapi intensitasnya tidak seperti Lebaran hari pertama. Intensitas petir pun juga tidak seperti Lebaran di hari pertama.