Jumat, 03 September 2010

Kesadaran Ber-Tuhan

Kesadaran Ber-Tuhan

Di antara kita mungkin pernah mendengar seorang selebriti menyerahkan urusan jodohnya di tangan Allah SWT. Sejumlah teman saya juga pernah berkata bahwa hal seperti jodoh, rezeki, maupun kematian sudah ada yang mengatur. Maksudnya adalah Tuhan. Bahkan, di facebook seorang teman mengatakan, Tuhan adalah teman curhat baginya. Dengan alasan tertentu, kata “Tuhan” sengaja dipakai sebagai judul dalam tulisan ini.

Kesadaran ber-Tuhan ini berarti kesadaran seseorang maupun kelompok orang terhadap keberadaan Tuhan. Masih di facebook, seorang teman mengatakan, perhatian seseorang terhadap Tuhan itu hasil dari pemahaman akan immateri. Immateri berarti yang tidak tampak oleh mata. Tuhan tak tampak secara kasat mata. Namun, kita dapat merasakan kehadiran-Nya. Bahkan, ciptaaan-Nya jika kita mempercayai-Nya, misalnya alam dan segala isinya ini.

Tuhan dalam hal ini diposisikan sebagai kekuatan tertinggi. Di atas segala-galanya. Seperti telah ditulis di paragraf pertama, misalnya tentang kematian. Contohnya saat kita mengendarai motor menuju kebupaten lain. Jaraknya sekitar 100 km. Saat kita tiba di tempat tujuan dengan selamat mungkin di antara kita tidak begitu sadar kita bisa selamat sampai tujuan. Namun, jika kita mengalami kecelakaan di jalan yang tidak kita duga sebelumnya maka mungkin kita ingat Tuhan.

Selamat sampai tujuan atau tidak selamat sampai tujuan, anggaplah itu atas kehendak Tuhan. Barangkali kita memaknainya sebagai takdir yang telah Tuhan tentukan. Memang, manusia juga berkehendak, tetapi Tuhan juga berkehendak. Namun, kehendak Tuhan lebih besar daripada kehendak manusia. Lagi pula, seringkali manusia lebih ingat Tuhan saat mengalami suatu musibah. Inilah kiranya bahwa Tuhan itu sebagai kekuatan tertinggi.

Pembicaraan tantang Tuhan memang bisa dari banyak sisi. Saya agaknya tidak ingin berbicara mendalam tentang a-teis, teis, Tuhan di mata agama-agama, Tuhan di mata filsafat, Tuhan di mata ilmuwan, agnostik, Teori Darwin, Tuhan dalam pandangan teolog, dan lain sebagainya. Judul itu terilhami oleh beberapa orang teman saya yang menyebut tentang Tuhan. Sebagaimana ditulis atas.

Tepatnya adalah pengalaman akan ke-Tuhan-an. Pengalaman akan ke-Tuhan-an ini menandai kesadaran seseorang akan Tuhan. Uniknya, selama ini teman-teman saya yang secara terang-terangan menyebut Tuhan, sebagian besar adalah perempuan. Artinya, saat mereka kesulitan, misalnya mengerjakan skripsi, mereka mengungkapkan ke-tawakal-annya pada Tuhan.

Dalam kaitan ini, bukan berarti teman-teman saya hampir semuanya perempuan. Saya juga banyak memiliki teman laki-laki. Namun, dalam facebook (fb) maupun short message service (sms) yang saya terima, mereka yang laki-laki tidak banyak yang secara terang-terangan menyinggung Tuhan. Khususnya saat menghadapi suatu kesulitan hidup. Memang, mungkin itu juga sedikit dipengaruhi oleh frekuensi komunikasi saya lewat fb maupun sms antara laki-laki dengan perempuan.

Sejauh amatan saya, mereka yang sadar akan Tuhan memiliki nilai tersendiri, terkait pandangan hidup yang positif. Misalnya saat kesulitan mengerjakan skripsi, kesulitan dalam soal karier maupun kesulitan dalam hubungan dengan lawan jenis (jodoh). Teman-teman saya ini tergolong usia produktif, yang saya perkirakan antara usia 24 tahun sampai dengan 27 tahun.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar